Roh Kudus (XI) a. Oknum/Pribadi Allah yang ke-tiga (hubungannya dengan Bapa dan Yesus Kristus; trinitas) b. Fungsi dan peranannya bagi manusia, tugas Gereja, Alkitab dan pekabaran Injil c. Roh Kudus & Suara Hati; samakah?
Roh Kudus (XI)
a. Oknum/Pribadi Allah yang ke-tiga (hubungannya dengan Bapa dan
Yesus Kristus; trinitas)
b. Fungsi dan peranannya bagi manusia,
tugas Gereja, Alkitab dan pekabaran Injil
c. Roh Kudus & Suara Hati; samakah?
I.
Pendahuluan
Roh Kudus bukanlah istilah yang asing
bagi orang-orang Kristen karena istilah ini terdapat di Alkitab dan juga sudah
sering diikrarkan untuk menyatakan atau mengaku iman percaya yang merupakan isi
dari pengakuan iman rasuli bagiannya ketiga “Aku percaya kepada Roh Kudus”. Tentu
banyak orang yang tahu istilah ini tetapi tidak banyak yang mengerti mengenai apa
hubungan Roh Kudus dengan Bapa dan dengan Yesus Kristus? Apa fungsi dan
peranannya bagi manusia, bagi tugas Gereja, bagi Alkitab dan bagi pekabaran Injil?
Apakah Roh Kudus sama dengan Suara hati? Pertanyaan ini akan dijawab dalam
tulisan ini. Semoga bermanfaat dan semakin memperkuat iman percaya kita semua.
II.
Pembahasan
2.1.
Oknum/ Pribadi Allah yang ke-tiga
Allah telah menyatakan diri sebagai
Allah yang Esa (satu Zat atau Hakikat yang tunggal) yang didalam-Nya ada tiga
Pribadi yang berlainan sifat dan pekerjaannya.[1]
Allah Tritunggal ini tetap satu Allah, dan harmonis dalam semua pekerjaan-Nya.[2] Hanya
satu Allah yang hidup dan sejati yang eksis dalam tiga Pribadi yaitu Bapa,
Anak, dan Roh Kudus. “Bapa” tidak mempunyai arti tanpa “Anak”, “Anak tidak
mempunyai arti tanpa “Bapa”, dan “Roh” tidak mempunyai arti tanpa “Bapa dan
Anak”.[3] Pengakuan
Iman Reformasi mengaku dalam pasal 8 yang berbunyi “...ketiga-Nya satu dalam
kebenaran dan dalam kekuatan, dalam kebaikan dan dalam kemurahan.[4]
Kata “roh” dalam Alkitab berasal dari
bahasa Ibrani “ruah” dan Yunani “pneuma” yang secara harafiah
berarti angin, nafas, udara atau sesuatu yang hidup tetapi tanpa daging artinya
tidak dapat dilihat tetapi dapat dirasakan kehadirannya. Hal ini digambarkan
seperti angin yang menggoyangkan pohon. Jadi, dari contoh tersebut dapat dipahami
bahwa roh adalah energi, kekuatan atau kekuasaan yang tidak dapat dilihat,
tetapi yang efektif untuk melakukan atau menggerakkan sesuatu, baik di tingkat
kelihatan maupun yang tidak kelihatan.[5]
Pengertian oknum Roh Kudus dan pekerjaannya hanya dapat diketahui berdasarkan
dari mana Ia berasal dan bagaimana sifatnya.
Dalam Perjanjian Lama, Nabi Yesaya
menjelaskan bahwa Allah lebih dari satu pribadi (Yes.48:16; 63:10). Ada juga
rujukan terhadap Roh Allah sebagai “Dia” di mana Allah berkata dan bertindak di
dunia (Kej. 1:2; Ayb. 33:4; Mi.3:8; Za. 7:12) dan yang paling jelas menyatakan
tentang Trinitas ada dalam Yesaya 48:16 yang berbunyi “Dan sekarang Tuhan Allah
mengutus Aku dengan Roh-Nya.[6]
Tuhan Yesus Kristus adalah oknum yang
paling jelas mengajarkan sifat dari Roh Kudus. Dalam Injil Yohanes, Yesus
membandingkan pelayanan dari Roh Kudus yang akan tiba dengan pelayanan-Nya
sendiri “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang
Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh
Kebenaran (Yoh. 14:16-17a).[7] Yesus
juga menyatakan bahwa Allah adalah Roh (Yoh. 4:24). Hal ini mengartikan bahwa Roh
Kudus sepenuhnya Ilahi dan Allah tidak dapat didefinisikan dalam
kategori-kategori jasmani.[8]
Allah yang roh itu bukanlah “sesuatu”, melainkan Ia adalah Roh yang berpribadi,
Ia sungguh hidup dan berfirman dan bertindak.[9] Ia
memiliki unsur utama dalam kepribadian-Nya yaitu akal (1Kor. 2:11), perasaan
(Rm. 8:27; 15:30), dan kehendak (1Kor. 12:11).[10] Pemahaman
tentang Roh Kudus ini didukung oleh fakta bahwa atribut-atribut yang
jelas-jelas ilahi diperhitungkan kepada-Nya seperti kekekalan (Ibr. 9:14),
mahahadir (Mzm. 139:7-10), mahatahu (1Kor. 2:10-11), mahakuasa (Luk. 1:35) dan
lain-lain.[11]
Roh Kudus adalah nama untuk kehadiran Allah di dalam dunia. Roh Kudus bukan
sesuatu yang mandiri, yang berada di samping Allah. Ia adalah Allah sendiri
karena Ia kadang-kadang disebut Roh Allah atau Roh Kristus. Roh Kudus sebagai
Kasih Allah yang mencari dan menyelamatkan manusia yang berdosa. Ia bukan saja
hadir dan bertindak di dalam manusia, tetapi juga di dalam dunia.[12]
Roh Kudus mempunyai sifat-sifat
Allah:[13]
-
Dia
adalah kekal (Ibr. 9:14) bersama dengan Allah di dalam penciptaan (Kej. 1:2)
-
Mengetahui
apa yang Allah ketahui (1Kor. 2:10-11).
-
Dia
menggunakan kuasa Allah (Luk.1:35; Kis. 1:8; Mi. 3:8; Hak. 14:6).
-
Membaptiskan
di dalam nama-Nya (Mat. 28:19-20).
-
Dia
berada di mana-mana sebagaimana Allah (Mzm. 139:7-9).
-
Dia
adalah kudus, Roh kekudusan (Rm. 1:4); Roh Anugerah (Ibr. 10:29); Roh Kebenaran
(Yoh. 14:17; 16:13); Roh Hikmat (Yes. 11:2).
Roh Kudus mengerjakan
hal-hal seperti yang Allah kerjakan:
-
Dalam
Penciptaan (Kej. 1:2; Ayb. 33:4; Mzm. 104:30).
-
Memberi
hidup (Kej. 2:7; Rm. 8:11; Yoh. 3:5; 6:63; Gal. 6:8)
-
Pengilhaman
nubuat (2Ptr. 1:21).
-
Mengerjakan
mukjizat (Mat. 12:28; 1Kor. 12:9,11).
Setiap Pribadi dalam Tritunggal
memiliki peran yang berbeda. Karya keselamatan dalam pengertian tertentu
merupakan pekerjaan dari ketiga pribadi Allah Tritunggal. Namun, pelaksanaannya
ada peran yang berbeda yang dikerjakan oleh Bapa, Anak, dan Roh Kudus:[14]
-
Bapa
memprakarsai penciptaan dan penebusan.
-
Anak
menebus ciptaan.
-
Roh
Kudus melahirbarukan dan menguduskan dalam rangka mengaplikasikan penebusan
kepada orang-orang percaya.
Roh Kudus berhubungan dengan Bapa dan
Anak sebagai pribadi dan sebagai kesatuan dan setara yang tampak dalam ekonomi
keselamatan atau dalam sejarah karya keselamatan.[15]
Hal ini terlihat dari formula baptisan yaitu membaptis di dalam nama Bapa, Anak
dan Roh Kudus (Mat. 28:19), dalam berkat rasuli yang berbunyi “Kasih karunia
Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu
sekalian” (2Kor. 13:13), dan dalam tugas-Nya sebagai pembina gereja (1Kor.
12:4-6 bdk. 1Ptr. 1:1-2; Yud. 20,21). Pada saat pembaptisan Yesus (Mat.
3:16-17), sang Anak dibaptis, Roh Allah turun seperti burung merpati, serta
Bapa mengucapkan kata-kata pujian tentang sang Anak.[16]
Yesus mengatakan bahwa mukjizat-Nya diadakan dalam oleh kuasa Roh Allah (Luk.
24:49).[17]
Hubungan antara Roh dengan Yesus sang Kristus, juga ditandai gerak timbal balik
bahwa Roh mengatar kita kepada Yesus, dan Yesus memberikan Roh kepada Kita.[18] Tiga
oknum ke-Allahan berhubungan satu dengan yang lain dalam keselarasan yang
sempurna. Boettner mengatakan “jika tidak ada trinitas maka tidak akan ada
penjelmaan, tidak ada penebusan objektif, dan karena itu tidak ada
penyelamatan; karena tidak akan ada oknum yang mampu bertindak sebagai
pengantara antara Allah dan manusia”.[19]
Ke-Tritunggalan Allah dinyatakan hanya karena kasih-Nya yang begitu besar untuk
menyelamatkan manusia (Lih. Yoh. 3:16).[20]
2.2.
Fungsi dan peranan bagi
A.
Manusia
Ruakh dan pneuma yang diterjemahkan
sebagai nafas kehidupan atau kehidupan. Roh berperan penting dalam penciptaan.
Kejadian menyiratkan bahwa Roh mengerami ciptaan (Kej. 1:2) sehingga seluruh
penciptaan tergantung pada Roh kehidupan (Mzm. 104:30). Apabila ayat-ayat dalam
Alkitab tentang Roh dibaca dengan baik maka akan memberikan kesan bahwa
Allah-lah yang oleh kehadiran-Nya di dalam manusia yang memberikan kepadanya
nafas dan kehidupan.[21] Roh
Kudus jugalah yang mengambil nafas manusia kembali. Roh Kudus adalah Roh damai
sejahtera dan menghasilkan buah damai sejahtera. Damai sejahtera menunjukkan
keinginan dan kebutuhan terdalam hati manusia. Hal itu merupakan ukuran
kepuasan terbesar dalam kehidupan. Roh Kudus
mendiami orang percaya berfungsi juga sebagai materai Allah, tetapi hal ini
tidak mengubah Roh Kudus menjadi suatu yang bukan pribadi. Roh Kuduslah yang
mencari dan menyelamatkan manusia yang berdosa. Ia bekerja dalam hidup dan hati
manusia. Peran Roh Kudus dalam memberikan kehidupan diungkapkan dalam Yohanes
6:36. Ia membuat manusia berseru “Ya Abba, ya Bapa” dari dalam lubuk hatinya (Rm.
8:15; Gal. 4:6), dan membuat manusia terbuka bagi sang Putra dengan
mengingatkan kita akan semuanya yang telah dikatakan Yesus Kristus.
B.
Tugas Gereja
Roh adalah pemberian Allah yang
menciptakan gereja di dunia. Gereja sebagai ciptaan Roh Kudus adalah
persekutuan dan lembaga yang di mana kedua aspek ini sama esensialnya. Roh
Kudus menjadi jiwa bagi Gereja. Kesaksian mengatakan bahwa Roh Kudus
menggunakan pelayanan atau jabatan sebagai alatnya. Roh kudus memberikan
karunia kepada manusia seperti dalam Efesus 4:11-12: “Dan Kristuslah yang
memberikan baik rasul-rasul, maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil,
maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar untuk memperlengkapi orang-orang
Kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus”. Dan Kisah
20:28: Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah
yang ditetapkan oleh roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan Jemaat
Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri. Oleh karena itu, tidak
ada gereja yang sejati kecuali Roh Kudus hidup dalam anggotanya. Orang-orang
percaya akan melayani dalam kuasa Roh (Rm. 7:6). Kehidupan Roh memberikan
keinginan dan kemampuan kepada mereka untuk melakukan perintah Allah. Dapat
dilihat bahwa Roh Kudus berperang penting dalam pelayanan. Paulus menekankan
bahwa Roh Kudus adalah pribadi yang memberikan hikmat, pengetahuan, iman, atau
kesembuhan (1Kor. 12:9-10). Roh memberikan karunia rohani kepada orang-orang
percaya untuk membangun gereja. Karunia bukanlah manifestasi keterampilan dan
kemampuan dan talenta manusia, melainkan “pernyataan Roh” untuk menguatkan
gereja (1Kor. 12:7). Roh Kudus berkenan memakai pelayanan gereja seperti
kebaktian, pemberitaan firman, pelayanan baptisan, perayaan perjamuan dan
lain-lain sebagai alat-Nya. Roh Kudus berperan untuk menyemangati dan
menyegarkan gereja supaya iman bertambah di dalamnya.
C.
Alkitab
Alkitab adalah alat utama yang
digunakan oleh gereja dalam ajarannya. Alkitab yang dipakai oleh gereja-gereja
yang diterbitkan melalui doa yang sungguh-sungguh yang dikerjakan oleh tim
penerjemah. Namun keberhasilan penerjemahan bukanlah hasil dari kemampuan
mereka. Tetapi karena bimbingan Roh Kudus atas mereka. Keberhasilan tersebut
tidak lepas dari peran roh kudus dalam pewahyuan dan pengilhaman. Ryrie
menjelaskan bahwa wahyu adalah pernyataan sesuatu yang sebelumnya tidak
diketahui. Sedangkan pengilhaman menurutnya adalah firman Allah yang tertulis
yaitu Alkitab yang merupakan hasil akhir dari pewahyuan yang melibatkan Allah
sebagai sumber, orang-orang yang dipakai Tuhan sebagai penulis manusia dan Roh
Kudus satu-satunya sebagai penulis Ilahi.[22]
Wahyu berasal dari Tuhan Allah dan diberikan kepada penulis manusia melalui
ilham. Dapat dilihat bahwa manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menulis
Alkitab.
Para Rasul memberitakan Injil tidak
hanya dengan cara lisan/verbal tetapi juga dengan tulisan-tulisan sehingga
setelah zaman para rasul selesai, gereja mengganti perannya dengan menggunakan
Alkitab yaitu kumpulan tulisan-tulisan atau surat-surat yang dituliskan oleh
mereka.[23] Penulis
Alkitab sebenarnya adalah Roh Kudus. Roh Kudus mendorong dan menggerakkan
manusia (Nabi dan para Rasul) untuk melakukannya (2Ptr. 1:21). Dalam Markus
12:36 Tuhan Yesus menyungguhkan bahwa Daud menulis kitab Mazmur dengan pimpinan
Roh Kudus. Petrus dan Paulus menyatakan hal yang sama (Kis. 1:16-20; 4:24, 25;
28:25; 16). Dalam 2 Timotius 3:16 dikatakan bahwa Tuhan Allah mengilhamkan
firman-Nya yang sekarang kita miliki dalam bentuk tertulis yaitu Alkitab.
D.
Pekabaran Injil
Yesus menjamin para murid bahwa Roh
Kudus akan turun atas mereka, dan mereka akan menyebarkan Injil sampai ke ujung
bumi (Kis. 1:8). Perkataan Yesus digenapi pada hari Pentakosta. Kita mulai
dengan Roh dan nubuat di mana Roh bekerja sehingga orang-orang menyampaikan
firman Allah. Roh adalah konselor, penolong, pembela, dan guru. Roh adalah Roh
nubuat yang melaluinya orang-orang menyampaikan firman Allah. Roh turun ke atas
orang-orang supaya mereka menyampaikan firman Allah, baik dalam ucapan nubuat
yang diucapkan maupun firman kitab suci yang tertulis.[24]
Setelah murid-murid berdoa, mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka
memberitakan firman Allah dengan berani (Kis. 4:31). Sekali lagi, pemenuhan Roh
menuntun pada pemberitaan firman Allah memberikan kesaksian tentang apa yang
telah dikerjakan Allah dalam Kristus. Roh nubuat memimpin gereja ketika ia
memberitakan kabar baik tentang Yesus Kristus ke seluruh dunia. Roh mengarahkan
umat-Nya untuk menggenapi sejarah penebusan, dalam perluasan Injil melampaui
batas-batas umat Yahudi. Ia menjadi sarana untuk mengarahkan utusan-utusan-Nya
ke tempat-tempat tertentu. Roh berfungsi sebagai jaksa penuntut, yang
meyakinkan dunia bahwa ia berdosa berkaitan dengan posisi mereka terhadap
Yesus. Jadi, kesaksian para murid akan dibuat efektif berdasarkan kesaksian Roh
Kudus melalui mereka (bdk. Yoh.15:26-27). Dia bersaksi, berbicara, meyakinkan,
menyatakan, mengajar dan membantu para murid mengingat. Dialah parakletos yang
dijanjikan Yesus kepada para pengikut-Nya. Peran Roh kudus bukanlah menarik
perhatian kepada diri-Nya sendiri, melainkan kepada Anak. Pekerjaan Roh Kudus
dalam pelayanan dan menyatakan kebenaran berpusat pada Kristus. Artinya bahwa
Roh Kudus memampukan para murid Yesus untuk memahami hal-hal yang ingin
dikatakan Yesus historis kepada mereka. Dia menuntun mereka ke dalam kebenaran
tentang Yesus karena Yesus adalah kebenaran. (Yoh. 14:6). Paulus melakukan
pelayanannya dengan kuasa Roh dengan tanda-tanda dan mukjizat, tetapi kuasa
rohani semacam itu adalah untuk pelayanan Injil Kristus, sehingga Injil diberitakan
di tempat-tempat di mana nama Kristus belum dikenal (Rm. 15:19-21). Roh
Kuduslah yang menggunakan orang-orang percaya sebagai alat untuk
memproklamirkan syalom yang merupakan Injil Kerajaan Allah kepada bangsa-bangsa
di dunia.[25]
2.3. Roh Kudus & Suara Hati samakah?
Roh Kudus adalah Allah yang datang kepada manusia dari luar
diri manusia yang menyatakan diri-Nya serta bertindak atasnya.[26] Roh
Kuduslah yang mencari dan menyelamatkan manusia yang berdosa. Ia datang dari
luar masuk ke dalam manusia sehingga menjadi Allah di dalam kita. Ia bekerja
dalam hidup dan hati manusia. Tidaklah mengherankan bahwa manusia cenderung
mencampur-baurkan pekerjaan roh Kudus dengan perasaan-perasaan batinnya
sendiri, dengan hati nuraninya ataupun suara hatinya.
Roh Kudus adalah Allah yang menjadi satu dengan kita, Roh
kudus “diam” dalam diri manusia (Rm. 8:9,11; 1Kor 3:16; 6:9; 2Kor 6:16). Ia
menjadi panjar atau jaminan tentang keselamatan yang dijanjikan (2Kor. 1:22;
5:5; Ef. 1:14) dan sekaligus memberikan kesaksian bahwa kita adalah anak-anak
Allah (Rm. 8:16). Segala sesuatu diselidiki-Nya bagi kita dan di dalam kita. Ia
berdoa bagi kita, namun doa itu adalah doa kita sendiri (Rm. 8:26). Oleh Roh
Kudus, kasih Allah dicurahkan ke dalam hati kita (Rm. 5:5). Kelahiran kembali
serta pembaruan manusia adalah pekerjaan Roh (Yoh. 3:3,8). Kepada orang-orang
beriman dikaruniakan Roh Kudus dan sungguh Ia ada di dalam kita (Yoh. 14:17; 2
Tim. 1:7). Orang-orang beriman mempunyai Roh itu (2Kor. 4:13). Itulah sebabnya
kita menjadi anak-anak Allah yang boleh menyebut Allah itu “Bapa”, oleh sebab
percaya kepada Yesus Kristus (Rm. 8:15, Gal. 4:6).
Menerima Roh Kudus bukan berarti bahwa kita sama seperti
Allah dan Roh Kudus adalah miliki kita atau bukanlah menjadi milik manusia itu
sendiri. Manusia tidak berkuasa atas Roh Kudus tetapi sebaliknya. Di dalam diri
manusia, Roh Kudus melawan diri dan hati manusia karena diri dan hati manusia
takluk kepada dosa (Rm. 7:14). Hal inilah yang membuat manusia diingatkan untuk
tidak mendukakan Roh Kudus (Ef. 4:30) dan supaya tidak berdosa terhadap-Nya
(Kis. 5:3). Roh berkuasa dan berwibawa yang memberi pimpinan dan pengajaran
(Yoh. 14:26; 16:13; 2Kor 3:17). Pimpinan itu bersifat konkrit dan mutlak (Kis.
8:29; 10:19; 13:2). Namun terkadang kemauan manusia memberontak akan pimpinan
dari Roh Kudus termasuk melawan dengan yang disebut-sebut dengan niat baik
(Kis. 16:6). Roh Kudus adalah Penglipur
atau parakletos yang datang dari Allah untuk memberikan nasihat dan
penghiburan kepada kita (Yoh. 14:16).[27]
Manusia telah berada di bawah pengaruh dosa. Termasuk hatinya
telah di isi oleh dosa. Dosa bukan hanya perlakuan praktis tetapi juga
perlakuan rohaniah yang menolak dengan sadar anugerah Allah. Manusia
mengeraskan hatinya sehingga Roh Kudus dihinakannya dan menyebut pekerjaan roh
jahat (Mrk. 3:30). Tetapi barang siapa memandang kepada Yesus Kristus, dan
mendapati bahwa ia tak boleh kuatir, kalau-kalau ia sudah melakukan “dosa
terhadap Roh Kudus: yang tak dapat diampuni itu. Sebab bila orang memandang
kepada Yesus, sambil memohon pengampunan, maka justru hal itu membuktikan bahwa
Roh Kudus sungguh sedang bekerja di dalam hatinya. Dalam Roma 2, Paulus
mengatakan bahwa Tuhan memberikan Hukum Taurat kepada Israel dengan dua loh
batu sedangkan bagi non-Israel diberikan di dalam hati mereka yakni suara hati
yang memberitahukan sesuatu hal baik atau tidak. Dalam Roma 3, dijelaskan bahwa
suara hati itu tidak dapat menyelamatkan manusia tetapi sebaliknya semakin
membuat manusia itu berdosa.[28]
III. Kesimpulan
Roh Kudus oknum ketiga dari
Tritunggal Allah. Roh Kudus adalah Allah yang bekerja dan berperan dalam
penciptaan dan karya penyelamatan manusia. Roh Kudus berhubungan dalam
pekerjaan Allah dan Yesus Kristus dalam
penyelamatan manusia. Roh Kudus hidup berdampingan dengan manusia supaya
genaplah apa yang telah dinyatakan oleh Yesus yaitu menjadi penolong bagi
murid-murid-Nya. Ia berfungsi sebagai materai dan sebagai satu-satunya tolak
ukur bagi manusia, gereja, Alkitab dan pengkabaran Injil. Ia berperan sebagai Allah,
penolong, pembimbing, pewahyu, pengarah dan pembaharu bagi manusia, Gereja,
Alkitab, dan pekabaran Injil bahkan lebih dari pada itu semua. Roh Kudus hadir
di dalam manusia. Hal itu bukan berarti bahwa Roh Kudus sama dengan suara hati
manusia. Kedua hal tersebut adalah sesuatu yang tidak dapat disamakan dan
memang sangat berbeda. Roh Kudus adalah milik Allah dan merupakan Allah
sendiri. Ia Kudus. Sedangkan hati manusia adalah berdosa. Kehendaknya bukanlah
kehendak Allah tetapi kehendak sendiri yang tidak sama dengan kehendak Allah.
DAFTAR PUSTAKA
Abineno, J.L. Ch. Pokok-pokok Penting dari Iman Kristen. Jakarta:
BPK-GM, 2018.
Abineno, J.L. Ch. Roh Kudus dan Pekerjaan-Nya. Jakarta: BPK-GM,
2016.
Arrington, French L. Doktrin Kristen: Perspektif Pentakosta.
Yogyakarta: Andi, 2015.
Boersema, Jan A. Groen, Jakob P. D. dkk. Berteologi Abad XXI.
Surabaya: Literatur Perkantas, 2015.
Boice, J.M. Dasar-dasar Iman Kristen. Surabaya: Momentum, 2015.
Boland, B.J. Intisari Iman Kristen. Jakarta: BPK-GM, 2014.
Dister, Nico S. Teologi Trinitas. Yogyakarta: Kanisius, 2012.
Erickson, Milars J. Teologi Kristen. Malang: Gandum Mas, 2004.
Guthire, Donald. Teologi Perjanjian Baru: Allah, Manusia, Kristus.
Jakarta: BPK-GM, 2018.
Niftrik, G.C. van & Boland, B.J. Dogmatika Masa Kini. Jakarta:
BPK-GM, 2017.
Schreiner, Thomas R. New Testament Theology. Yogyakarta: Andi,
2015.
Situmorang, Jonar T.H. Teologi Proper. Yogyakarta: Andi, 2015.
Sizemore, Denver. 25 Pelajaran Tentang Doktrin Kristen.
Yogyakarta: LATM, 2008.
Tamarol, Frans P. Tritunggal Tuhan Yang Maha Esa. Yogyakarta:
Andi, 2019.
Thiessen, Henry C. Teologi Sistematika. Malang: Gandum Mas, 1993.
[1] Jan A. Boersema, Jakob P. D. Groen, dkk. Berteologi
Abad XXI (Surabaya: Literatur Perkantas, 2015), 540.
[2] Boersema, dkk. Berteologi Abad XXI, 540.
[3] Boersema, dkk. Berteologi Abad XXI, 545.
[4] Boersema, dkk. Berteologi Abad XXI, 540.
[5] Jan A. Boersema, Jakob P. D. Groen, dkk. Berteologi
Abad XXI (Surabaya: Literatur Perkantas, 2015), 543.
[6] French L. Arrington, Doktrin Kristen: Perspektif
Pentakosta (Yogyakarta: Andi, 2015), 94.
[7] J.M Boice, Dasar-dasar Iman Kristen (Surabaya:
Momentum, 2015),118.
[8] Donald Guthire, Teologi Perjanjian Baru: Allah,
Manusia, Kristus (Jakarta: BPK-GM, 2018), 61.
[9] B.J. Boland, Intisari Iman Kristen (Jakarta:
BPK-GM, 2014), 19.
[10] Henry C. Thiessen, Teologi Sistematika (Malang:
Gandum Mas, 1993), 148.
[11] Boice, Dasar-dasar
Iman Kristen, 118.
[12] J.L. Ch. Abineno, Pokok-pokok Penting dari Iman
Kristen (Jakarta: BPK-GM, 2018), 144.
[13] Denver Sizemore, 25 Pelajaran Tentang Doktrin
Kristen (Yogyakarta: LATM, 2008), 146-147.
[14] Jonar T.H Situmorang, Teologi Proper (Yogyakarta:
Andi, 2015), 264.
[15]
(Perbaikan) Penjelasan Dosen Pengampu. Senin, 20 November 2023.
[16] Milars J. Erickson, Teologi Kristen (Malang:
Gandum Mas, 2004), 529.
[17] Milars J. Erickson, Teologi Kristen (Malang:
Gandum Mas, 2004), 529.
[18] Nico S. Dister, Teologi Trinitas (Yogyakarta:
Kanisius, 2012), 206.
[19] Henry C. Thiessen, Teologi Sistematika (Malang:
Gandum Mas, 1993), 152.
[20]
(Perbaikan) Penjelasan Dosen Pengampu. Senin, 20 November 2023.
[21] J.L. Ch. Abineno, Pokok-pokok Penting dari Iman
Kristen (Jakarta: BPK-GM, 2018), 138.
[22] Frans P. Tamarol, Tritunggal Tuhan Yang Maha Esa (Yogyakarta:
Andi, 2019), 111.
[23]
(Perbaikan) Penjelasan Dosen Pengampu. Senin, 20 November 2023.
[24] Thomas R. Schreiner, New Testament Theology (Yogyakarta:
Andi, 2015), 307.
[25] J.L. Ch. Abineno, Roh Kudus dan Pekerjaan-Nya (Jakarta:
BPK-GM, 2016), 49.
[26] G.C. van Niftrik & B.J Boland, Dogmatika Masa
Kini (Jakarta: BPK-GM, 2017), 334.
[27] G.C. van Niftrik & B.J Boland, Dogmatika Masa
Kini (Jakarta: BPK-GM, 2017), 340.
[28]
(Perbaikan) Penjelasan Dosen Pengampu. Senin, 20 November 2023.
Comments
Post a Comment