Teologi PL: ARTI DAN MAKNA FORMULASI BERKAT MENURUT KITAB BILANGAN

 ARTI DAN MAKNA FORMULASI BERKAT MENURUT KITAB BILANGAN

I.             Pendahuluan

Bangsa Israel adalah bangsa yang dipilih Allah untuk menjadi milik-Nya. Dalam kitab bilangan, bangsa Israel memperoleh perlakukan secara khusus di hadapan Allah yaitu menerima berkat yang disediakan oleh Allah secara langsung kepada mereka. Berkat tersebut disampaikan untuk dijadikan berkat atas umat-Nya melalui imam. Maka dengan berkat tersebut pastinya Israel mendapatkan perhatian khusus di hadapan Allah. Pada tulisan ini, penulis ditugaskan untuk mencari arti dan makna dari formulasi berkat pada kitab bilangan dan berikut penjelasan arti dan makna dari formulasi berkat menurut kitab Bilangan.

 

II.          Pembahasan

2.1.     Pengertian Formulasi Berkat

Menurut KBBI, formulasi berasal dari kata formula yang artinya susunan atau bentuk tetap.[1] Makna tersebut sama dengan kata perumusan berasal dari kata adalah rumus. Dalam sebuah formula terdapat di dalamnya unsur-unsur yang berbeda dimana unsur-unsur tersebut disusun dengan baik sehingga menjadi satu kesatuan yang baik dan sempurna dengan menerapkan aturan atau rumus-rumus yang sudah ditetapkan di dalamnya sehingga menjadi satu bagian yang saling berkaitan dan tak terpisahkan. Formula yang dimaksudkan adalah seperangkat bentuk kata untuk digunakan dalam suatu upacara atau ritual yang dalam pembahasan ini adalah berkat.

Berkat berasal dari bahasa Ibrani yaitu בְּרָכָה (berãkãh) dari kata בָּרַךְ (bàràk)  yang berarti berkat, keuntungan, kedamaian, kebahagiaan dan segala yang baik. Kedua kata ini diaplikasikan secara atau sebagai pengalaman yang holistik, utuh, dan menyeluruh pada kondisi manusia dan alam ciptaan Allah. Ada beberapa bentuk kata dalam Alkitab yang digunakan untuk kata berkat yaitu: בָּרַךְ (bàràk), אֶשֶׁר ('ešer), εὐλογέω, dan μακαρίζω. Dalam kitab Perjanjian Lama formula berkat terdapat pada Bilangan 6:22-23 dan Mazmur 118: 26. Dalam Perjanjian Baru ialah 2 Korintus 13:13.  Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan empat definisi dari berkat. Pertama, karunia Tuhan yang membawa kebaikan dalam hidup manusia. Kedua, doa restu dan pengaruh baik (dari orang-orang yang dihormati). Ketiga, makanan dan lain sebagainya yang dibawa pulang sehabis kenduri. Keempat, mendatangkan kebaikan; bermanfaat; berkah.[2] Menurut Kuyper, berkat adalah suatu permohonan berkat dengan cara mendoakan (bermohon) berkat Tuhan bagi jemaat.[3]

Dalam Perjanjian Lama, berkat adalah pemberian Allah yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dapat dikatakan bahwa berkat yang diberikan oleh Allah merupakan semacam energi bagi bumi dan segala isinya untuk tetap dan masih memiliki kehidupan di dalamnya (lih. Kej. 1:22, 28, 2:3, 5:2). Santoso & Pontjoharyo mengatakan bahwa berkat tidak dapat diterima oleh manusia dengan usahanya, tetapi berkat ada bagi setiap orang apabila Tuhan yang berinisiatif memberikannya.[4] Berkat dan anugerah adalah dua istilah yang berbeda. Menurut Lee, berkat adalah untuk kelangsungan hidup sedangkan anugerah adalah untuk menggenapi maksud atau tujuan Allah.[5]

Jadi, dari penjelasan di atas, penulis memahami bahwa formulasi berkat adalah rumusan atau cara yang di dalamnya sudah yang tersusun dan terbentuk sekaligus menjadi isi dari berkat yang dimaksudkan dan telah ditetapkan untuk disampaikan termasuk unsur-unsur di dalamnya. Berkat yang dimaksud dalam tulisan ini adalah berkat yang secara khusus harus disampaikan oleh imam yaitu Harun dari Allah (Yahweh) kepada umat Allah Israel dalam kitab Bilangan 6:24-26.[6]

 

2.2.     Pengantar Kitab Bilangan

Allah sang Pencipta “Yahweh” menyatakan diri-Nya kepada Israel. Ia adalah Allah yang murah hati yang melakukan karya pembebasan terhadap bangsa-Nya Israel dari perbudakan Mesir dengan memilih Musa sebagai pemimpin di tengah-tengah bangsa-Nya itu untuk pergi ke tanah yang telah dijanjikan oleh Allah. Kitab Keluaran dan imamat adalah kisah perjalanan Israel dan dilanjutkan kitab Bilangan. Kitab ini memiliki judul yang diambil dari kata-kata dalam ayat pertama yaitu “Di padang gurun (Sinai) yang memang sesuai dengan isinya yang menceritakan bahwa Israel telah keluar dari Mesir dan tiba di padang gurun Sinai. Nama “Bilangan” yang digunakan untuk menyebut kitab ini untuk menggambarkan ciri khasnya. Hal ini dikarenakan dalam kitab ini banyak daftar-daftar yang menyebutkan jumlah angka yang dicatat yaitu jumlah penduduk Israel yang dicatat berdasarkan suku (Bil. 1:20-43; 45-46).[7] Kitab ini adalah salah satu kitab taurat atau pentateukh yang dituliskan untuk menceritakan kisah pemerintahan Allah dan panggilan orang-orang Israel untuk menjadi bangsa pilihan-Nya yang berada di antara Mesir dan tanah perjanjian yaitu Sinai.[8] Dalam Kitab ini, umat yang dibebaskan oleh Allah dibentuk menjadi pasukan-Nya. Pasukan ini ada dan dibentuk untuk berperang dalam bertahan dan merebut wilayah kekuasaan yang diberikan oleh Allah sehingga Allah bisa mendapatkan tumpuan di bumi untuk membangun kerajaan dan tempat kediaman-Nya.[9] Allah menyertai bangsa-Nya sekaligus pasukan bagi-Nya. Kespesialan bangsa Israel di mata Allah membuat Allah memberikan dan menetapkan berkat kepada mereka yaitu dengan memerintahkan Musa untuk berbicara kepada para imam yaitu Harun dan anak-anaknya supaya memberkati mereka yaitu bangsa Israel.

 

2.3.     Makna dan Arti Berkat Imam dalam Bilangan 6:24-26

Ay 24. TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau

Makna dari “memberkati” adalah Allah mencurahkan dan mendukung kekuatan atau proses dalam kehidupan seperti dalam pertumbuhan, perkembangan, penghasilan, kesuburan dan kemakmuran (lih. Kej. 24:4-36).[10] Dalam hal ini, Allah memberikan umat-Nya (bangsa Israel) berupa materi yang baik seperti panen yang berlimpah, ternak yang subur baik yang kecil dan besar, cuaca yang sesuai musim, kemenangan dan militer yang kuat, keturunan dan lainnya (Lih. Ul. 28:1-14).[11] Dengan hal-hal seperti itu TUHAN akan memberkati umat-Nya. Tentu pemberian berupa materi dari Allah adalah pengertian yang sempit. Memberkati merupakan sumber janji Allah yang akan memberkati dan membuat nama Israel masyhur (Kej. 12:2); menyertai dan memberkati Israel (Kej. 26:3). Umat Kristen memahami hal ini bukan hanya untuk pemenuhan kebutuhan jasmani tetapi juga kebutuhan rohani.

“Melindungi” merupakan buah dari berkat. Makna dari kata “Melindungi” bukan sekedar melindungi dari kemalangan atau kehilangan materi. Yahweh menjaga mereka yang berarti Dia akan menjaga mereka dari hasil panen yang buruk, ternak yang berpenyakit, cuaca buruk, dan kekalahan dalam pertempuran, terhindar dari ancaman dan serangan musuh.[12] Pemeliharaan ilahi akan melindungi mereka sepenuhnya. Tetapi yang lebih khusus yaitu menjaga umat-Nya dari segalanya termasuk kejahatan dan penderitaan yang akan datang menimpa mereka.[13] Kata pemeliharaan merujuk baik pada penjagaan Allah dan kuasa-Nya atas Israel (Mzm. 103:19).[14] Allah tidak tidur dan terlelap (Mzm. 121:4) dan semua orang percaya dipelihara dalam kekuatan Allah.[15]

Ay 25. TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia

“Menyinari dengan wajah-Nya” merujuk pada sinar matahari yang menerangi bumi yaitu Sinar yang membuat nyaman dan yang memperbaharui muka bumi.[16] Pernyataan ini menandakan bahwa kasih Yahweh, kekudusan-Nya dan perhatian-Nya hadir dan ada bagi umat-Nya (bangsa Israel) dengan persetujuan-Nya. Yahweh “menyinari” berarti Allah dengan senang dan bermurah hati. Hingga dengan wajah-Nya berpaling kepada umat-Nya sehingga wajah umat-Nya bersinar dengan pantulan-Nya. Allah berkehendak atas Israel. Hal ini juga mengartikan bahwa kekudusan Allah dan terang-Nya disediakan bagi umat-Nya sehingga memperoleh damai sejahtera yaitu kebahagiaan, keutuhan, dan kesempurnaan menyeluruh. Wajah yang bersinar adalah tanda kesenangan, dan jika itu ditujukan kepada orang lain, itu menandakan kebaikan baginya (Mzm. 31:16; 80:3, 7, 19). Mengangkat wajah atau raut wajah adalah ungkapan yang jika digunakan pada laki-laki, menyiratkan bahwa tidak ada tindakan yang dilakukan yang dapat memutuskan ikatan persahabatan antara manusia dengan manusia lainnya atau antara manusia dengan Tuhan (2 Sam. 2:22; Ayb. 22 :26). Manusia tidak memiliki kebahagiaan dalam hidupnya apabila kasih Allah tidak ada padanya dan tidak akan ada ketenangan apabila manusia tidak mengalami kasih Allah

“kasih karunia” menunjukkan bahwa umat Israel mendapatkan dan mengalami rahmat dan pengampunan dosa yang merupakan kebaikan dari kodrat ilahi (lih. Kel. 33:19; 34:6; Bil. 24:18; Ul. 5:9-10). Kemurahan-Nya dan kebaikan hati-Nya kepada umat-Nya agar hidup menjadi lebih berkemurahan dan lebih anggun seperti yang dikatakan oleh Paulus di kitab Filipi 4:23 “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus menyertai rohmu”.[17] Kasih Karunia diperoleh Paulus untuk mengetahui rahasia Kristus (Ef. 3:2-4) dan ia menjadi pelayan Injil hanya oleh kasih karunia Allah (Ef. 3:7).[18] Perjanjian yang telah Allah buat ditetapkan melalui kasih karunia Allah. Kasih karunia menjadi salah satu cara Allah untuk memerintah atas segala hal di dunia (providence: pemeliharaan) termasuk Israel.

Ay 26. TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.

Dalam New Internasional Version, wajah Allah dalam ayat ini tidak disebut dengan his face tetapi his countenance (Ibrani: פָּנָיו dari kata פָּנִים (pànîm)) berbeda dengan ayat 25. Wajah dalam countenance berarti penampilan yang ditunjukkan yang mencakup ekspresi, suasana hati, dan sikap secara keseluruhan. Kata ini sering digunakan untuk menggambarkan keadaan emosi seseorang atau cara seseorang menampilkan diri kepada orang lain. Sedangkan wajah dalam face mengacu pada bagian depan kepala, termasuk dahi, mata, hidung, mulut, dan dagu. Ini adalah struktur fisik yang menampung organ-organ indera dan digunakan untuk komunikasi dan ekspresi.[19] Cara penyebutan ini mengartikan kehadiran, ekspresi, hati dan perhatian-Nya yang lebih kuat dan lebih inklusif dari pada face. Countenance merujuk pada senyuman seorang ayah kepada anaknya atau seseorang yang tersenyum pada temannya yang ia senangi. Hal ini dapat berarti mengesankan roh-Nya yang senantiasa menyertai dan selalu hadir, sangat mengasihi dan mencintai Israel atau umat-Nya. Allah memberi jaminan bahwa Ia berkenan dan menerima Israel secara istimewa, maka ini akan memberikan sukacita (Mzm. 4:8-9).

Pengertian “damai” adalah kumpulan dari tindakan memberkati dalam Mazmur 29:11 Allah memberkati umat-Nya dengan sejahtera. Makna dari “damai sejahtera” merupakan kedamaian yang positif yaitu kedamaian hati dan pikiran melalui Dia yang adalah Pangeran Damai.[20] Ini lebih dari sekedar tidak adanya perselisihan, melainkan mengekspresikan hal-hal positif kesejahteraan dan keamanan seseorang yang pikirannya tertuju pada Tuhan. Israel diberi keadaan yang penuh dengan kebebasan dari peperangan dan kekacauan; mendapat kebahagiaan dan keselarasan sehingga seseorang dapat merasakan perkembangan yang bebas dalam hidupnya termasuk segala sesuatu yang baik yang bersama-sama menghasilkan kebahagiaan yang utuh. Damai sejahtera berarti keselamatan yang menjadi milik mereka yang hidup selaras dengan kehendak Allah (lih.  Mzm. 34:15; Yes 32:17). Tujuan dari kehidupan Yesus adalah memberikan damai sejahtera (Yoh. 14:27; 16:33; 20:19, 21, 26).

Doa berkat pada ayat 24-26 dimulai dengan kalimat yang menyatakan bahwa Tuhan berbicara kepada Musa. Berkat melalui imam yang dipandang sebagai berkat Tuhan yang diberikan melalui Musa (lih. Ul. 10:8; 12:5). Penyebutan secara khusus pada imamat Harun pada ayat 23 menunjukkan tugas para imam yang utama dalam Bait suci adalah memberikan berkat yang merupakan sumber hidup bagi Israel yang berasal dari Yahwe (Mzm. 115:12-15; 118:26; 129:8; 134:3). Kekuatan hidup yang diberikan dengan tumpangan tangan imam yang membuat janji-janji hidup, sehingga melalui umat Israel berkat Allah mengalir di dunia.[21] Dengan berkat ini, umat diberkati secara menyeluruh. Imam meletakkan nama ilahi atas orang Israel dan memproklamirkan bahwa bangsa Israel adalah bangsa kepunyaan Allah atau milik Allah sepenuhnya. Umat Israel adalah anak Yahweh, suatu bangsa yang merupakan keluarga Allah.[22] Israel adalah suatu keluarga yang dibentuk, diselamatkan, dan dilindungi oleh Allah yaitu “Bapa” keluarga ini. Umat Israel telah dimateraikan dalam nama Allah yang mengadakan hubungan akrab dan mereka memiliki kepastian dalam memperoleh berkat-berkat dari Allah sehingga Allah memelihara mereka selalu.[23] Israel juga dapat disebut sebagai anak-anak Allah sebab mereka berkenan di hadapan Allah (lih. Mat. 5:9).[24] Nama Yahweh disebut dan dilibatkan. Allah mengizinkan para imam untuk menggunakan nama-Nya dalam memberkati umat, dan untuk memberkati mereka sebagai umat-Nya yang dipanggil dengan nama-Nya. Dengan mengucap nama Yahweh sebanyak tiga kali, berkat itu menghasilkan buah karena nama itu adalah nama sang penguasa (Pantokrator).[25] Ini mencakup semua berkat yang dapat mereka ucapkan atas umat, untuk menandai mereka sebagai umat kesayangan Allah, umat yang dipilih dan dikasihi-Nya. Nama Allah atas mereka adalah kehormatan mereka, penghiburan mereka, keamanan mereka dan pembela mereka. “Nama-Mu diserukan di atas kami; janganlah tinggalkan kami” (Yer. 14:9) dan “maka Aku akan memberkati mereka” (Bil. 6:27). Ide teologis serupa diungkapkan tentang Israel adalah milik Allah sama dengan pemikiran eklesiologis yaitu gereja sebagai tubuh Kristus. Yesus adalah Imam besar yang membawa berkat bagi dunia (Kis. 3:26). Hal terakhir yang dilakukan Yesus di bumi adalah memberkati murid-murid-Nya dengan tangan terangkat (Luk. 24:50-51).

 

2.4.     Doa Berkat Sebagai Tindakan dan Kebiasaaan orang Kristen

Berkat disebut juga sebagai doa berkat. Karena berkat adalah permohonan akan perhatian Tuhan. Istilah doa memiliki dua pengertian yaitu pengertian luas dan pengertian sempit. Dalam pengertian luas, doa mengacu pada sikap dasar orang-orang Kristen terhadap Allah dan hubungannya secara pribadi dengan Allah. Seluruh kehidupan orang Kristen dapat digambarkan sebagai kehidupan doa. Kehidupan doa tersebut diwujudkan melalui perintah Paulus untuk berdoa terus-menerus tanpa berhenti. Pertumbuhan dalam kehidupan doa melibatkan tingkat keintiman yang berbeda-beda dengan Allah. Sama seperti hubungan manusia yang bertumbuh menuju tingkat yang lebih besar dalam kasih, kepercayaan, komitmen, dan sebagainya, hubungan dengan Allah tumbuh secara serupa para penulis rohani membedakan tingkat doa yang berbeda sebagai tanda tingkat kedekatan hubungan dengan Allah yang berbeda. Dalam menjalin hubungan dengan Allah, komunikasi menjadi suatu langkah awal dan menjadi tindakan yang diharuskan untuk tetap dilakukan. Dalam komunikasi pada hakekatnya terjadi proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang (komunikator[26]) kepada Tuhan. Dengan kata lain, dengan komunikasi gagasan atau informasi yang dari Allah terkait pikiran dan perasaan-Nya disampaikan kepada manusia sebagai komunikan.[27] Jadi, pertumbuhan dalam kehidupan Kristen dapat dijelaskan secara luas dalam lingkung pertumbuhan dalam doa. Sedangkan dalam pengertian sempit, doa mengacu pada tindakan secara spesifik dalam persekutuan dengan Allah. Praktik merasakan kehadiran Allah mencakup tindakan khusus mengingat hadirat Allah dan kebiasaan tinggal di dalam hadirat Allah.[28] Doa secara hakiki adalah respons manusia terhadap firman Allah. Berdoa sangat membantu mengembangkan kebiasaan berdoa dan menjamin bahwa kebiasaan itu tidak berubah menjadi kegiatan yang formal.

2.5.     Berkat isi dari Perjanjian

Berkat-berkat rohani perjanjian anugerah menjadi semakin nyata dalam perjanjian dengan Abraham dari pada dalam masa-masa sebelumnya. Penjelasan Alkitab yang baik dari perjanjian Abraham tercantum dalam Roma 3 dan 4, dan Galatia 3. Dalam kaitan dengan kisah yang kita baca dalam kitab Kejadian, maka pasal-pasal tersebut mengajarkan bahwa Abraham diterima dalam pembenaran perjanjian itu, termasuk juga pengampunan dosa dan diangkat menjadi anggota keluarga Allah, dan juga anugerah Roh Kudus atas penyucian dan kemuliaan kekal.[29]          

 

2.6.     Melalui Berkat Allah diberitakan

Pada mulanya, manusia tidak mengenal Allah. Oleh sebab itulah manusia berusaha untuk menjadi seperti Allah. Manusia mengenali Allah melalui hubungan komunikasi yang dibangun oleh Allah yaitu Firman-Nya kepada manusia. Firman Allah yang dinyatakan bukanlah karena usaha manusia untuk memperolehnya. Manusia tidak akan pernah memperoleh firman Allah dengan usahanya tetapi karena kasih-Nya yang besar itu. Firman Allah datang menghinggapi manusia untuk menyatakan kebenaran tentang sang pemberi firman tersebut. Aristoteles menyebutkan bahwa ada 3 unsur dalam komunikasi yang dapat menemukan siapa Allah yaitu:[30]

a.      Siapa yang berbicara

b.     Apa yang dibicarakan

c.      Siapa yang mendengarkan

Dalam Perjanjian Lama nama-nama El dan Elohim merupakan nama yang biasa bagi Allah. Nama Shadai atau El-Shadai yang dipakai oleh para tetua menggaris bawahi kekuasaan Allah untuk membantu pada waktu-waktu genting. Nama Elyon dan Adonai menunjukkan pada keagungan Allah. Nama Elyon sering diterjemahkan sebagai “Allah yang Maha Tinggi”. Nama Adonai sebenarnya merupakan gelar dan biasanya diterjemahkan sebagai “Tuanku, nama ini menggambarkan Allah sebagai penguasa di atas semua manusia. Nama Yahweh dinyatakan pada Musa sebagai nama Allah dalam ikatan perjanjian.[31] Allah berinisiatif untuk memberitahukan pada manusia bahwa Ia adalah Allah manusia dan seluruh semesta yang merupakan sang pencipta. Sejak dari Kitab Kejadian, Allah memberitahukan manusia akan ciptaan-Nya dan pemeliharaan-Nya (Lih. Kej. 1-3). Pernyataan yang berbunyi “pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” Sikap Allah yang pengasih dan kudus diperlihatkan kepada Nuh sebagai orang yang berkenan dihadapan-Nya (Kej. 6:8). Allah adalah pengasih dan pengampun, sehingga Ia tidak membalaskan segala dosa-dosa (Lih. Kej. 8:21) tetapi Ia mengadakan perjanjian yang kudus bersama manusia itu yaitu Nuh (Lih. Kej. 6:18; 9:9,11), Abraham, Ishak, dan Yakub serta keturunannya (lih. Kej.15:18;17:2,21;Kel. 2:24, dll).

Paulus adalah seorang penganut monoteisme yang teguh yang mengatakan bahwa hanya ada dan hanya dapat ada satu Allah (Rm 3:30; 1Kor 8:4, 6; Gal. 3:20; Ef. 4:6; 1Tim. 1:17; 2:5). Allah yang Esa itu dia pandang sebagai Bapa bangsanya (Rm. 1:7; 1Kor 1:3; 2Kor 1:2-3; Gal 1:3-4; Ef. 4:6; 5:20; Flp. 1:2; 1Tim. 1:2; 2Tim. 1:2; Tit. 1:4), dan Bapa tersebut jelas adalah Allah yang Mahaagung. Segala kekayaan, hikmat dan pengetahuan yang dalam adalah milik-Nya (Rm. 11:33). Kadang-kadang Paulus lebih suka menghubungkan kekuatan dan hikmat itu dengan Kristus, tetapi kekuatan dan hikmat itu tetap milik Allah (1Kor. 1:24; bdk. 2:5, 7). Kekuatan yang dengannya Kristus hidup berasal dari Allah (2Kor. 13:4) dan kekuatan melimpah yang dimiliki oleh orang-orang Kristen untuk hidup berasal dari Allah (2Kor. 4:7; 6:7; 13:4; 2Kor. 1:8). Dari sisi lain, semua kekuasaan dan kewibawaan dalam negara sipil berasal dari Allah (Rm. 13:1-7). Paulus tertarik pada macam-macam kuasa dan pada kenyataan bahwa akhirnya hanya Allah yang memberikan kuasa tersebut (apa pun macamnya).

Tahu tentang Allah tidak berarti mengenal Allah. Mengenal Allah berarti memiliki hubungan yang akrab dan intim dengan Allah. Hubungan yang akrab dan intim yang dimaksudkan digambarkan seperti hubungan antara suami dan istri (lih. Kej. 4:1,17,25) yang kuat dan kokoh dan setia (lih. Yer 31:34). Hal ini menunjukkan bahwa mengenal Allah ialah melakukan segala kehendak-Nya dan tidak bercela dihadapan-Nya seperti Nuh dan Musa yang terpilih bagi-Nya.

Melalui berkat ciri-ciri Allah yang disebut juga ciri khas Ilahi diungkapkan yaitu:

a.      Allah adalah roh dan tidak mempunyai tubuh (Kel. 15:11; Mzm. 96:4-6; Yer.23-24).

b.     Allah merdeka dan berdiri sendiri yang mengartikan bahwa Ia tidak bergantung pada segala apapun di luar diri-Nya (Mzm. 84:8; Yes. 40:18;  Kis. 15:25; 1Kor. 15:27-28).

c.      Allah tidak berubah (Mzm. 90:2; 1Tim. 1:17).

d.     Allah senantiasa ada (immanent) dan tidak terkena batas (transcendent) dan berada di semua tempat (omnipresent) (1Raj. 8:27; Yes.66:1; Mzm. 139:7-10; Kis. 7:48-49).

e.      Allah serba tahu (1Raj. 8:39; Mzm. 139:1-16; Kis.15:18).

f.       Allah Mahakuasa (Kej. 18:14; Yer.32:27; Mat.3:9; 26:53)

g.     Allah berdaulat yang artinya bahwa tidak ada yang terjadi tanpa kehendak-Nya (Ayb.42:2; Mat. 19:26).

h.     Allah bijaksana artinya bahwa Allah dapat memilih cara yang terbaik untuk mencapai maksud-Nya (Rm. 11:13; Rm. 14:7-8; Ef.1:11-12; Kol.1:16).

i.       Allah baik (Mzm. 36:6; Mzm. 104:21; Mat. 6:26; Kis. 14:17).

j.       Allah sayang, pengampun, panjang sabar, suci, adil dan benar (Rm.5:8; Rm 9:15; 9:22; Kel. 15:11; Mzm. 7:11;119:137; Bil. 23:19; 1Kor. 1:9).

 

A.          Kehadiran Allah

Bangsa Israel adalah bangsa yang dipantau oleh Allah.[32] Dalam Bilangan 9:15-16 kemah suci menjadi tempat Allah hadir dan membimbing Israel yang dimana kemah itu dihinggapi oleh awan. Setiap kali awan itu naik dari atas kemah itu, hal itu menandakan bahwa orang Israel boleh melanjutkan perjalanan mereka. Tetapi apabila awan itu diam di atas kemah suci maka orang Israel harus berhenti dan berkemah. Namun bukan hanya itu saja, Allah dalam Bilangan 12:6-8 dengan sangat jelas berbicara langsung dan menyatakan kehadiran-Nya kepada bangsa Israel.

 

B.           Allah Memelihara

Pemeliharaan Allah adalah perhatian-Nya yang terus menurus dan kuasa-Nya yang mutlak atas seluruh ciptaan-Nya demi kemuliaan-Nya dan kebaikan umat-Nya.[33] Masa di padang gurun merupakan pelajaran terus-menerus tentang kehadiran Allah dan juga tentang pemeliharaan-Nya yang tak putus-putusnya terhadap kebutuhan umat-Nya. Allah memberikan “manna” dan “burung puyuh” sebagai makanan bagi bangsa-Nya (Kel. 16) dan diulangi dalam Bilangan 11. Pemberian makanan ini berlangsung hingga mereka sampai pada tanah perjanjian yaitu Kanaan (Yos. 5:12). Pemeliharaan Allah bukanlah sekedar makanan bagi mereka tetapi juga apa yang mereka pakai tidak menjadi buruk dan kaki mereka tidak bengkak selama perjalanan empat puluh tahun (Ul. 8:3-4).[34]

 

C.          Allah Penyabar

Kesabaran Allah adalah keberhasilan bangsa Israel sampai kepada tanah perjanjian. Sejak mereka terpanggil dan hingga sampai di Sinai dapat dikatakan adalah karena kesabaran Allah saja. Bukan hanya kesabaran kepada bangsa Israel tetapi juga kepada Musa hamba-Nya. Kitab Bilangan adalah kitab yang penuh dengan keluhan dan sungut-sungut bangsa Israel seolah-olah mereka lupa akan kejamnya penderitaan di Mesir (Bil. 11:1). Ketika Allah memberikan mereka makanan burung puyuh mereka bersungut-sungut. Yang paling membuat Allah marah adalah ketika mereka meremehkan Allah dan ingin kembali ke Mesir dengan pemimpin baru sebagai pelindung mereka setelah mendengar para pengintai Israel yang melihat para raksasa dan kota-kota berkubu. Hal inilah yang membuat sebagian bangsa Israel tidak memasuki tanah perjanjian itu. Namun Allah tidak menyimpan amarah-Nya tetapi tetap menjalankan rencana keselamatan bangsa-Nya.

 

2.7.     Berkat memperkenalkan siapa itu Manusia

Manusia adalah ciptaan yang memiliki kedudukan tertinggi dari segala ciptaan. Disebut berkedudukan tertinggi karena mendapat perlakuan khusus dari Allah yaitu diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya (Kej. 1:26) dan diberi kuasa untuk memelihara ciptaan lainnya (Kej. 1:28; 2:19). Louis Berkhof mengatakan bahwa makna dari gambar dan rupa Allah mencakup:[35]

1.     Gambar  dan  rupa  Allah terkandung  di  dalamnya  bahwa  manusia memiliki  apa yang disebut  dengan  kebenaran  asali.  Hal  ini  mencakup  hal  pengetahuan yang benar, kebenaran dan kesucian di dalam dirinya.

2.     Gambar   dan   rupa   Allah   mengacu   pada   elemen-elemen   yang   menjadi   natur konstitusional   manusia   seperti   kekuatan   intelektual,   perasaan   natural   dan kebebasan moral.

3.     Gambar  dan  rupa  Allah  mengacu  pada  kerohanian  manusia.  Manusia  bukan  saja terdiri    dari    tubuh    jasmani    akan    tetapi    juga    memiliki    kerohanian    yang memungkinkan manusia berhubungan dengan Allah.

Manusia  dipilih  dan  diciptakan  Allah  bagi  diri-Nya.  Allah  memilih  manusia bahkan sebelum dunia dijadikan. Dia menginginkan manusia untuk hidup kudus dan tak bercacat  dihadapan-Nya  dengan  kasih.  Dengan  demikian Allah  menciptakan  manusia untuk  kemuliaan-Nya,  yaitu  memuliakan  nama-Nya  (Ef. 1:4,  Yes. 43:7). Oleh karena itu hal yang perlu dipahami bahwa tujuan Allah menciptakan manusia, yaitu bagi kemuliaan-Nya. Manusia  adalah  ciptaan-Nya,  milik-Nya yang  ditujukan  untuk  hidup  di  dalam  ketentuan-Nya  bagi  kemuliaan  Allah sendiri. Meskipun demikian, Allah tidak menjadikan manusia sebagai budak, Dia  menciptakan  manusia  dalam  kasih  dan  Ia  mengasihi  manusia  milik-Nya itu. Allah menginginkan  manusia hidup suci seperti halnya Dia  adalah Allah yang  suci,  supaya  manusia  dapat  hidup  bersama-sama  dengan  Dia,  hidup dalam persekutuan yang penuh kasih dengan Dia yang adalah Kasih. Allah telah memerintahkan manusia melakukan apa yang baik karena itu manusia harus memiliki kemampuan untuk melaksanakannya. Namun Alkitab mencatat bahwa manusia telah melanggar perintah Allah dan berdosa. Sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, manusia diusir dari taman Eden yang disediakan baginya. Manusia dituntut untuk hidup mandiri atas dosa-dosanya, manusia menjadi fana atas pelanggarannya.

Allah tidak berorientasi pada dosa manusia tetapi apa yang disebut dengan relasi antara sang pemimpin dengan umat-Nya. Inilah ketentuan Allah bagi manusia, supaya manusia yang adalah milik Allah bisa menjalankan kehidupannya menurut  aturan  Allah. Dari  awal manusia diciptakan Tuhan sudah memberikan ketentuan bagi manusia yaitu melaksanakan amanat kebudayaan dan ada peraturan yang tidak boleh dilanggar manusia supaya manusia hidup untuk kemuliaan Tuhan.  Inilah  tujuan  Allah;  Dia  menciptakan  manusia  bagi  kemuliaan-Nya,  karena  Dia adalah  pencipta  manusia, Dia  berkuasa  atas  kita  buatan  dan  milik-Nya  (band  Kol. 1:16, Yoh. 1:3).

 

III.      Refleksi Teologis

Berkat adalah karunia Tuhan yang membawa kebaikan dalam hidup manusia. Berkat merupakan inisiatif Allah dalam memelihara seluruh ciptaan-Nya. Dalam Alkitab, Allah banyak memberikan berkat baik secara langsung maupun melalui para pelayan-Nya. Allah memberikan berkat secara langsung dapat dilihat seperti Allah kepada Abraham (Kej. 12:2). Allah memberkati Abraham supaya Abraham menjadi bangsa yang besar, membuat namanya masyhur dan ia akan menjadi berkat. Allah memulai kehendak-Nya melalui Abraham. Berkat berlangsung sejak Allah menyebutkannya dan berfirman untuk itu. Ketaatan dan kesetiaan Abraham karena takut kepada-Nya membuatnya semakin disenangi oleh Allah dan Allah berkenan atasnya dan keluarganya. Kesetiaan dan ketaatan Abraham tampak jelas ketika Allah menginginkan Ishak untuk dikurbankan dan Abraham melakukan seperti apa yang difirmankan kepadanya. Berkat yang lain juga diberikan kepada Abraham yaitu membuat keturunannya sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunannya akan menduduki kota-kota musuhnya (Kej. 22: 16-17).

Berkat yang disampaikan oleh Allah kepada Abraham berlangsung hingga pada keturunannya yaitu bangsa Israel yang tercatat hingga pada kitab Bilangan yang dipimpin oleh Musa. Bangsa Israel dalam kitab Bilangan adalah berkat itu sendiri yaitu semakin banyaknya jumlah penduduk Israel yang disebut keturunan Abraham. Hingga dalam kitab Bilangan Allah secara khusus memberikan berkat juga kepada bangsa Israel untuk menyertai mereka hingga menjadi bangsa yang besar di tanah yang dijanjikan oleh Allah. Demikianlah kuasa berkat menyertai Abraham hingga menjadi bangsa yang besar dalam pemeliharaan Allah dalam perjalanan Israel ke tanah yang dijanjikan oleh Allah.

Sebagai umat atau jemaat yang diberkati oleh Allah, setiap orang harus taat dan setia kepada-Nya. Karena kehidupan hanya berasal dari Dia yang menciptakan. Allah memelihara umat dan gereja-Nya untuk menjadi berkat bagi semua bangsa. Allah memperhatikan dan memerintah atas umat-Nya dan pandangan-Nya tidak dialihkan kepada bangsa lain. Untuk itu setiap orang harus menyatakan kasih kepada Allah dan menjadi pelayan-pelayan Allah untuk memuliakan Dia yang berkuasa dan pencipta langit dan bumi. Gereja harus mengandalkan nama Tuhan Yesus Kristus sebagai penggenapan dari berkat-berkat Allah sebelumnya kepada pendahulu atau para nabi terdahulu.

 

IV.       Kesimpulan

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa:

1.     Berkat adalah karunia Tuhan yang membawa kebaikan dalam hidup manusia.

2.     Dalam berkat Allah memberikan umat-Nya (bangsa Israel) berupa materi yang baik seperti panen yang berlimpah, ternak yang subur baik yang kecil dan besar, cuaca yang sesuai musim, kemenangan dan militer yang kuat, keturunan dan lainnya.

3.     Dalam berkat Allah menjaga mereka (umat-Nya) yang berarti Dia akan menjaga mereka dari hasil panen yang buruk, ternak yang berpenyakit, cuaca buruk, dan kekalahan dalam pertempuran, terhindar dari ancaman dan serangan musuh.

4.     Dalam berkat dinyatakan bahwa kekudusan Allah dan terang-Nya disediakan bagi umat-Nya sehingga memperoleh damai sejahtera yaitu kebahagiaan, keutuhan, dan kesempurnaan menyeluruh.

5.     Umat Allah mendapatkan “kasih karunia” yang menunjukkan bahwa umat Israel mendapatkan dan mengalami rahmat dan pengampunan dosa yang merupakan kebaikan dari kodrat ilahi.

6.     Melalui berkat Allah, Israel diberi keadaan yang penuh dengan kebebasan dari peperangan dan kekacauan; mendapat kebahagiaan dan keselarasan sehingga seseorang dapat merasakan perkembangan yang bebas dalam hidupnya termasuk segala sesuatu yang baik yang bersama-sama menghasilkan kebahagiaan yang utuh.

7.     Berkat adalah pertumbuhan dalam kehidupan Kristen dapat dijelaskan secara luas dalam lingkung pertumbuhan dalam doa. Sedangkan dalam pengertian sempit, doa mengacu pada tindakan secara spesifik dalam persekutuan dengan Allah.

8.     Berkat akan ada dan akan selalu ada terhadap orang yang telah diberkati.

9.     Melalui berkat Allah diberitakan sebagai penguasa dan pencipta langit dan bumi.

10. Melalui berkat Manusia diberitahu bahwa manusia adalah makhluk yang fana yang selalu membutuhkan Allah dalam proses kehidupannya bahkan sampai kematiannya.

11. Jemaat atau umat Allah harus menyatakan kasih kepada Allah dan menjadi pelayan-pelayan Allah untuk memuliakan Dia yang berkuasa dan pencipta langit dan bumi. 

DAFTAR PUSTAKA

A.          Buku

Abineno, J.L. Ch. Unsur-unsur Liturgika. Jakarta: BPK-GM, 2019.

Abingdon, The Interpreter’s Bibble: A Commentary in Twelve Volumes. USA: Parthenon, 1980.

Berends, Bill. Teologi Dasar. Jakarta: Suara Harapan Bangsa, 2013.

Bergant, Dianne. & Karris, Robert J. Tafsir Alkitab Perjanjian Lama. Yogyakarta: Kanisius, 2002.

Berkhof, Louis Teologi Sistematika 2 Doktrin Manusia. Surabaya: Momentum, 2020.

Berkhof, Louis. Teologi Sistematika. Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1999.

Boice, James M. Dasar-dasar Iman Kristen. Surabaya: Momentum, 2015.

Bridges, Jerry. Berserah Kepada Tuhan. Jakarta: BPK-GM, 2000.

Chan, Simon. Spiritual Theology 2: Studi Sistematis kehidupan Kristen. Yogyakarta: ANDI, 2002.

Dister, Nico S. Teologi Sistematika 2. Yogyakarta: Kanisius, 2004.

Hafiet, Cangara. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Grafindo Persada, 2007.

Henry, Matthew. Tafsiran Matthew Henry: Kitab Bilangan – Ulangan. Surabaya: Momentum, 2019.

Kaiser, Walter C. Teologi Perjanjian Lama. Yogyakarta: Gandum Mas, 2020.

Lasor, W.S dkk. Pengantar Perjanjian Lama 1: Taurat dan Sejarah. Jakarta: BPK-GM, 2020.

Lee, Witness Pelajaran- Hayat Bilangan. Jakarta: Yasperin, 2020.

Lee, Witness Pelajaran- Hayat Kejadian. Jakarta: Yasperin, 2021.

Nee, Watchman. Kekuatan Pemeliharaan Allah. Yogyakarta: Yasperin, 2020.

Park, Abraham. Pemeliharaan yang Misterius dan Ajaib. Jakarta: Grasindo, 2013.

Purnomo, Albertus. dkk. Taurat Tuhan Sempurna. DIY: Kanisius, 2023.

Sabdono, Erastus. Hidup Di Hadapan Allah. Jakarta: Surya Jaya Printing, 2020.

Santoso, Benny. & Pontjoharyo, Wiyono. All About Money. Yogyakarta: ANDI, 2003.

Saragih, Jahenos. Berteologi Melalui Komunikasi. Jakarta: Suara Gereja Kristiani Yang Esa Peduli Bangsa, 2009.

Simanjuntak, A. Tafsiran Alkitab Masa Kini 1: Kejadian – Ester. DKI Jakarta: IKAPI, 1980.

Situmorang, Jonar. Kamus Alkitab dan Teologi. Yogyakarta: Andi, 2016.

 

B.           Website

https://kbbi.web.id/berkat diakses pada Selasa, 10 Oktober 2023 pukul 16.02.

https://kbbi.web.id/formula diakses pada Selasa, 10 Oktober 2023 pukul 13.40.

https://thecontentauthority.com/blog/countenance-vs-face Diakses pada Rabu, 25 Oktober 2023 pukul 16.21 WIB.



[1] https://kbbi.web.id/formula diakses pada Selasa, 10 Oktober 2023 pukul 13.40.

[2] https://kbbi.web.id/berkat diakses pada Selasa, 10 Oktober 2023 pukul 16.02.

[3] J.L. Ch. Abineno, Unsur-unsur Liturgika (Jakarta: BPK-GM, 2019), 120.

[4] Benny Santoso & Wiyono Pontjoharyo, All About Money (Yogyakarta: ANDI, 2003), 38.

[5] Witness Lee, Pelajaran- Hayat Kejadian (Jakarta: Yasperin, 2021), 45.

[6] Albertus Purnomo, dkk. Taurat Tuhan Sempurna (DIY: Kanisius, 2023), 404.

[7] W.S Lasor, dkk. Pengantar Perjanjian Lama 1: Taurat dan Sejarah (Jakarta: BPK-GM, 2020), 231-235.

[8] Abingdon, The Interpreter’s Bibble: A Commentary in Twelve Volumes (USA: Parthenon, 1980),137.

[9] Witness Lee, Pelajaran- Hayat Bilangan (Jakarta: Yasperin, 2020), 132.

[10] Dianne Bergant & Robert J. Karris, Tafsir Alkitab Perjanjian Lama (Yogyakarta: Kanisius, 2002), 160.

[11] A. Simanjuntak, Tafsiran Alkitab Masa Kini 1: Kejadian – Ester (DKI Jakarta: IKAPI, 1980), 248.

[12] A. Simanjuntak, Tafsiran Alkitab Masa Kini 1: Kejadian – Ester (DKI Jakarta: IKAPI, 1980), 248-249.

[13] Abingdon, The Interpreter’s Bibble: A Commentary in Twelve Volumes (USA: Parthenon, 1980), 173.

[14] Bill Berends, Teologi Dasar (Jakarta: Suara Harapan Bangsa, 2013), 68-72.

[15] Matthew Henry, Tafsiran Matthew Henry: Kitab Bilangan – Ulangan (Surabaya: Momentum, 2019), 78.

[16] Matthew Henry, Tafsiran Matthew Henry: Kitab Bilangan – Ulangan (Surabaya: Momentum, 2019), 77.

[17] Abingdon, The Interpreter’s Bibble: A Commentary in Twelve Volumes (USA: Parthenon, 1980), 174.

[18] Abraham Park, Pemeliharaan yang Misterius dan Ajaib (Jakarta: Grasindo, 2013), 20.

[19] https://thecontentauthority.com/blog/countenance-vs-face Diakses pada Rabu, 25 Oktober 2023 pukul 16.21 WIB.

[20] Abingdon, The Interpreter’s Bibble: A Commentary in Twelve Volumes (USA: Parthenon, 1980), 175.

[21] Dianne Bergant & Robert J. Karris, Tafsir Alkitab Perjanjian Lama (Yogyakarta: Kanisius, 2002), 160.

[22] Walter C. Kaiser, Teologi Perjanjian Lama (Yogyakarta: Gandum Mas, 2020), 139.

[23] James M. Boice, Dasar-dasar Iman Kristen (Surabaya: Momentum, 2015), 196.

[24] Jonar Situmorang, Kamus Alkitab dan Teologi (Yogyakarta: Andi, 2016), 25.

[25] Nico S. Dister, Teologi Sistematika 2 (Yogyakarta: Kanisius, 2004), 50.

[26] Dalam konteks Perjanjian Lama, Allah adalah komunikator (Lih. Kej. 3:90-24; 6:9-22) sedangkan dalam Perjanjian Baru, Yesus adalah komunikator (pembicara) yang ulung dengan kata-kata Ia mengajarkan dan melukiskan watak manusia  dalam cerita-cerita-Nya.

[27] Jahenos Saragih, Berteologi Melalui Komunikasi (Jakarta: Suara Gereja Kristiani Yang Esa Peduli Bangsa, 2009), 9.

[28] Simon Chan, Spiritual Theology 2: Studi Sistematis kehidupan Kristen (Yogyakarta: ANDI, 2002), 10-11.

[29] Louis Berkhof, Teologi Sistematika 2 Doktrin Manusia (Surabaya: Momentum, 2020), 251.

[30] Cangara Hafiet, Pengantar Ilmu Komunikasi (Jakarta: Grafindo Persada, 2007), 22.

[31] Bill Berends, Teologi Dasar (Jakarta: Suara Harapan Bangsa, 2013), 36.

[32] Erastus Sabdono, Hidup Di Hadapan Allah (Jakarta: Surya Jaya Printing, 2020), 156.

[33] Jerry Bridges, Berserah Kepada Tuhan (Jakarta: BPK-GM, 2000), 17.

[34] Watchman Nee, Kekuatan Pemeliharaan Allah (Yogyakarta: Yasperin, 2020), 51-52.

[35] Louis Berkhof, Teologi Sistematika (Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1999), 46.

Comments

Popular posts from this blog

TAFSIRAN KITAB 1 TESALONIKA 3:1-13 MENGGUNAKAN METODE KANONIKAL