TAFSIRAN KITAB 1 TESALONIKA 3:1-13 MENGGUNAKAN METODE KANONIKAL
TAFSIRAN KITAB 1 TESALONIKA 3:1-13 MENGGUNAKAN METODE KANONIKAL
Disusun
untuk memenuhi tugas
|
Mata
Kuliah Kelas |
:
Hermeneutik PB II :
IIA/ Teologi |
|
Dosen
Pengampu |
:
Dr. Batara Sihombing |
I.
Pendahuluan
Alkitab merupakan kumpulan atau gabungan dari
dokumen-dokumen baik itu sejarah, surat, dan kesaksian pada Nabi dan Para Rasul
yang hidup bersama Allah dan Yesus Kristus. Dokumen-dokumen tersebut disatukan
atau dikanonisasi pada tahun 397 M sehingga menjadi sebuah Alkitab masa kini.
Di dalam Alkitab terdapat banyak hal yang belum dapat dimengerti atau diterima
oleh akal sehat manusia bahkan para
pengikutnya hingga sekarang ini.
Dalam memahami atau mengerti isi atau
pesan-pesan yang terdapat dalam Alkitab, maka para ahli merumuskan sebuah
metode pendekatan untuk menggali dan mencari tahu pesan-pesan yang terdapat di
dalamnya. Metode Kanonikal adalah salah satu metode pendekatan untuk memahami
kitab. Metode ini memandang bahwa Alkitab dipandang sebagai suatu kesatuan.
Dalam tafsiran ini, penafsir menggunakan metode Kanonikal dalam memahami dan
menjelaskan atau menafsirkan kitab 1 Tesalonika 3:1-13.
II.
Metode Kanonikal
2.1. Pengertian
Kanonikal
Kanonikal berasal dari bahasa Ibrani “qaneh”
yang artinya gelagah atau batang Pepirus sejenis tanaman serai. Gelagah
dipakai sebagai tongkat pengukuran atau garis yang lurus, maka kata “kanon”
dapat diartikan juga sebagai ukuran atau buluh pengukur (1 Raj. 14:15).[1] Metode Kanonik atau
disebut juga Kritik Kanon adalah salah satu pendekatan yang digunakan untuk
menafsir teks Alkitab.[2] Metode ini memperhatikan teks secara
menyeluruh dan memandang Alkitab sebagai suatu kesatuan yang utuh.[3]
2.2.
Latar Belakang
Penggunaan Kritik Historis (sejarah) dalam
menafsirkan Alkitab sudah tidak sesuai dengan budaya-budaya asing di luar
Alkitab. Karena kritik Historis terlalu menganalisis dan menggali sejarah-sejarah
di belakang kitab tetapi meninggalkan makna dalam kitab tersebut. Sejarah yang
digali tidak menggunakan kitab secara keseluruhan tetapi hanya berada dalam
kitab tersebut sehingga hal-hal kecil diperhatikan, sedangkan Alkitab secara
keseluruhan dihiraukan.[4]
Kritik Kanonikal mulai dikembangkan
sebagai metode dalam menafsirkan Alkitab sejak sekitar 1970an oleh Brevard S.
Childs. Lahirnya pendekatan baru ini disebabkan karena rasa tidak puas terhadap
pendekatan yang dilakukan dengan metode Historis. Hal terpenting yang menjadi
prinsip dari metode Kanonikal adalah bahwa firman Allah memiliki hubungan yang
mengikat umat-Nya, persekutuan yang dibentuk Allah sendiri dalam sejarah.
Melalui Alkitab, Allah menyatakan diri-Nya kepada umat-Nya.[5] Childs menekankan bahwa
eksegese teologis harus dikembangkan dalam ruang hermeneutik yang berhubungan
secara dialektis yaitu:
1. Teks
yang tinggal dibaca dalam terang kesaksian PL.
2. PL
dibaca dalam terang PB dan PB dibaca dalam terang PL.
3. PL
dibaca dengan terang pernyataan teologinya sendiri dan PB dibaca dengan terang
pernyataan teologinya sendiri.
2.3. Tujuan
Kanonikal
Metode pendekatan ini ditujukan untuk
melakukan penafsiran Alkitab dengan lebih baik. Metode ini berusaha untuk
memperoleh dan menggali pesan-pesa dan kebenaran-kebenaran dari Alkitab seperti
yang dimaksudkan oleh penulis kitab. Metode ini memandang Alkitab sebagai suatu
kesatuan yang saling berhubungan dan melengkapi. Metode ini mencoba untuk
menempatkan setiap teks dalam rencana Allah dengan tujuan supaya firman-Nya
sampai kepada penjelasan kitab Suci yang sesuai dengan masa sekarang
(kontekstualisasi teks).[6]
2.4.
Langkah-langkah Pendekatan
Tahapan dalam pendekatan Kanonikal yaitu
teks dibaca dengan teks lain dan pembaca menganggap bahwa teks berkaitan dengan
masa sekarang dan teks merupakan kesaksian tentang Allah.[7]
2.5.
Kelebihan Kanonikal
Adapun kelebihan dari metode pendekatan
Kanonikal adalah sebagai berikut:
1. Alkitab
dipandang sebagai firman Allah dan pembentukan sejarahnya sebagai pekerjaan
Allah dan karya-Nya melalui umat-Nya, sehingga Alkitab dipandang berhubungan
dan berkaitan dengan teks-teks Kitab lain dalam Alkitab.
2. Teks
dapat dilihat secara utuh. Karena dalam menafsir, tidak ada lagi pembatas teks
tertentu dalam menemukan makna teks.
2.6. Kekurangan
Kanonikal
Adapun kekurangan dari metode pendekatan
ini adalah:
1. Sejarah
Kitab tidak diutamakan.
2. Adanya
perbedaan kanon antara kitab Kristen
sehingga metode ini bersifat subyektifitas dan realitas.
III.
Pengantar Kitab 1 Tesalonika
3.1. Pengertian
Kitab
Kitab 1 Tesalonika adalah salah satu surat
Paulus dari dua surat yang ditujukan ke jemaat di Tesalonika. Alamat surat
tersebut digunakan untuk menamai kitab tersebut. Kota Tesalonika adalah kota
pelabuhan dan kota Provinsi Makedonia, termasuk wilayah jajahan Romawi. Kota
ini pernah dikunjungi oleh Paulus dan Silas dalam misinya yang kedua (Kis.
17:1).[8]
3.2.
Latar Belakang Kitab
Orang-orang Kristen di Tesalonika telah
begitu baik memenuhi tanggung jawabnya. (1 Tes. 1:1-10). Tetapi ada beberapa
masalah di dalam jemaat yaitu adanya serangan oleh orang-orang Yahudi salah
satunya adalah Gnostisisme, adanya kasus percabulan, kegagalan menghormati
pemimpin-pemimpin jemaat, masalah pemahaman eskatologis dan perasaan ingin tahu
bagaimana keadaan orang Kristen yang meninggal.[9] Melihat keadaan ini Paulus
menulis guna memberikan mereka semangat menghadapi kesulitan-kesulitan serta
bimbingan langsung mengenai masalah-masalah khusus yang ada di Tesalonika ini.
Sehingga surat ini tersimpan dalam perjanjian baru sebagai surat 1 Tesalonika.[10]
3.3.
Penulis, Waktu dan Tempat Penulisan
Surat ini ditulis tidak lama sesudah
Paulus berada di Akhaya pada perjalanan kedua.[11] Surat ini ditulis atas
nama Paulus, Silwanus, dan Timotius. Tetapi yang menulis sesungguhnya ialah
Paulus, kendati digabungkannya kedua teman-temannya itu dengan dirinya, yang
baru turut dengan dia dalam pekerjaan penginjilan di Tesalonika. Surat ini diyakini
ditulis kira-kira tahun 52.[12] Jika dipandang dari
pandangan Brotosudarmo, satu-satunya petunjuk dalam Alkitab ada pada Kisah Para
Rasul 17:2 dan 18:2 yaitu pada peristiwa keluarnya perintah dari Kaisar
Claudius untuk mengusir orang Yahudi dari Roma yang terjadi pada 49 M.
Brotosudarmo
memuat sebuah simpulan terkait penulisan tahun penulisan surat ini:[13]
a. Apabila
2 Tesalonika menyusul 1 Tesalonika, tempat dan waktunya adalah sekitar 50 M
atau permulaan tahun 51 M.
b. Apabila
2 Tesalonika bersamaan dengan 1 Tesalonika, berarti: pertama, Paulus terpaksa
meninggalkan Tesalonika dalam kesedihan; Kedua, di Berea orang Tesalonika
membawa berita, lalu Paulus berminat menulis karena tidak dapat pergi ke
Tesalonika; Ketiga, Paulus mendadak meninggalkan Berea menuju Athena. Dari sini
ada rencana untuk kembali ke Tesalonika tetapi tidak jadi; Keempat, Timotius
disuruh membawa atau mengantarkan surat; Kelima, Silas melayani di Berea.
Dalam perbedaan pandangan penulisan kitab
ini, Penafsir mengambil sikap dan menyimpulkan bahwa penulisan kitab 1
Tesalonika ialah pada tahun 49 M. Karena penjelasan lebih rinci dan dasar yang
kuat dari Kisah Para Rasul 17:2 dan 18:2 oleh Brotosudarmo.
3.4.
Maksud dan Tujuan Penulisan[14]
Adapun maksud dan tujuan ditulisnya Surat Tesalonika
adalah:
a. Untuk
menghibur atau menguatkan jemaat dalam kesengsaraannya.
b. Untuk
menjelaskan persoalan yang meragukan tentang kedatangan Tuhan Yesus yang kedua
kalinya.
c. Menasehati
jemaat untuk hidup damai.
3.5. Struktur
Kitab[15]
|
I. |
Ucapan
Salam |
1:1 |
|
II. |
Keadaan
Jemaat |
1:2-10 |
|
|
Sifat
Jemaat |
1:3 |
|
|
Pemilihan
Jemaat |
1:4-7 |
|
|
Reputasi
Jemaat |
1:8-10 |
|
III. |
Hubungan
Apostilik dengan Jemaat |
2:1-3:13 |
|
|
Pembinaan
Paulus atas jemaat |
2:1-12 |
|
|
Penerimaan
Paulus oleh jemaat |
2:13-16 |
|
|
Keprihatinan
Paulus bagi jemaat |
2:17-3:10 |
|
|
Doa
Paulus bagi jemaat |
3:11-13 |
|
IV. |
Persoalan
di dalam jemaat |
4:1-5:11 |
|
|
Persoalan
marolitas Seksual |
4:1-8 |
|
|
Persoalan
tingkah laku sosial |
4:9-12 |
|
|
Persoalan
tentang kematian |
4:13-18 |
|
|
Persoalan
tentang zaman ke masa |
5:1-11 |
|
V. |
Penutup:
Nasihat dan Salam |
5:12-28 |
IV.
Sitz Im Leben
4.1. Ekonomi
Keadaan dunia di abad pertama tidak
memiliki banyak perbedaan dengan masa sekarang. Orang kaya, orang miskin, orang
baik, orang jahat, majikan dan budak hidup saling berdampingan. Pembagian kelas
dalam masyarakat banyak dikendalikan oleh kewajiban hukum agama yang berlaku
untuk setiap pengikutnya.[16]
4.2.
Budaya
Yudaisme
adalah kelompok alim-ulama, yang sebagian besar terdiri dari keluarga para imam
dan tokoh para rabi. Masyarakat sama-sama terikat dalam tanggung jawab pada
Allah untuk mematuhi hukum-hukum-Nya maka secara moral mereka adalah sederajat.[17]
4.3.
Politik
Kota Tesalonika adalah kota pelabuhan dan
kota Provinsi Makedonia, termasuk wilayah jajahan Romawi. Kota ini dibangun
untuk menghormati istri Cassender yang telah meninggal dunia. Kota ini pada
awalnya bernama Tesalonike lalu berubah menjadi Tesaloniki dan akhirnya menjadi
Saloniki. Penduduk kota ini berjumlah sekitar 100.000 jiwa termasuk orang
Yunani, Yahudi dan Romawi. Pada tahun 146, kota ini adalah kediaman Gubernur
Makedonia sehingga dapat dikatakan bahwa kota ini adalah kota yang besar dan
ramai penduduknya.[18]
4.4.
Agama
Orang Yahudi di Tesalonika mempunyai rumah
ibadah sendiri yang disebut dengan sinagoge dan anggota dalam sinagoge tersebut
juga ada yang bukan orang Yahudi. Disana juga terdapat kepercayaan atau aliran
Gnostisisme yang akan mengguncangkan iman para pengikut Kristus. [19]
V.
Analisa Teks
5.1. Perbandingan
Bahasa
Adapun jenis terjemahan teks yang akan
diperbandingkan oleh penafsir adalah LAI 2023 (Lembaga Alkitab Indonesia), BDE 2010
(Bibel Dohot Ende), NIV 2011 (New Internasional Version) dan NTG (New Testament
Greek).
Ayat
1
|
LAI |
:
kami mengambil keputusan |
|
BDE |
:
denggan do dirohanami (baik dihati kami) |
|
NIV |
:
we thought (kami pikir) |
|
NTG |
:
εὐδοκήσαμεν (kami setuju) |
|
Keputusan |
:
tidak ada yang mendekati NTG. |
Ayat
2
|
LAI |
:
rekan sekerja |
|
BDE |
:
naposo ni (pelayan) |
|
NIV |
:
co-worker (teman sekerja) |
|
NTG |
:
συνεργὸν
(kaki
tangan) |
|
Keputusan |
:
tidak ada yang mendekati NTG. |
Ayat
3
|
LAI |
:
digoyahkan |
|
BDE |
:
diunggilhon (dijatuhkan) |
|
NIV |
:
unsettled (gelisah) |
|
NTG |
:
σαίνεσθαι (digoyahkan) |
|
Keputusan |
:
yang mendekati NTG adalah LAI. |
Ayat
4
|
LAI |
:
kesusahan |
|
BDE |
:
haporsuhon (kemiskinan) |
|
NIV |
:
persecuted (dianiaya) |
|
NTG |
:
θλίβεσθαι (penderitaan) |
|
Keputusan |
:
tidak ada yang mendekati NTG. |
Ayat
5
|
LAI |
:
dicobai |
|
BDE |
:
diunjuni (dicobai) |
|
NIV |
:
tempted (tergoda) |
|
NTG |
:
ἐπείρασεν
(dicobai) |
|
Keputusan |
:
yang mendekati NTG adalah LAI dan BDE. |
Ayat
6
|
LAI |
:
imanmu |
|
BDE |
:
haporseaonmuna (imanmu) |
|
NIV |
:
faith (iman) |
|
NTG |
:
πίστιν (iman) |
|
Keputusan |
:
yang mendekati NTG adalah NIV. |
Ayat
7
|
LAI |
:
terhibur |
|
BDE |
:
tarapul (terhibur) |
|
NIV |
:
encouraged (termotivasi) |
|
NTG |
:
παρεκλήθημεν
(termotivasi) |
|
Keputusan |
:
yang mendekati NTG adalah NIV. |
Ayat
8
|
LAI |
:
hidup kembali |
|
BDE |
:
mangolu (hidup) |
|
NIV |
:
live (hidup) |
|
NTG |
:
ζῶμεν (kita hidup) |
|
Keputusan |
:
tidak ada yang mendekati NTG.
|
Ayat
9
|
LAI |
:
persembahkan |
|
BDE |
:
tarlehon (dapat diberi) |
|
NIV |
:
thank (syukur) |
|
NTG |
:
εὐχαριστίαν (persembahkan) |
|
Keputusan |
:
yang mendekati NTG adalah LAI. |
Ayat
10
|
LAI |
:
menambahkan |
|
BDE |
:
patingkosonnami (kami membenarkan) |
|
NIV |
:
supplay (tambahkan) |
|
NTG |
:
καταρτίσαι
(menambahkan) |
|
Keputusan |
:
yang mendekati NTG adalah LAI. |
Ayat
11
|
LAI |
:
jalan |
|
BDE |
:
langkanami (langkah kami) |
|
NIV |
:
the way (jalan) |
|
NTG |
:
ὁδὸν (jalan) |
|
Keputusan |
:
yang mendekati NTG adalah LAI dan NIV. |
Ayat
12
|
LAI |
:
berkelimpahan |
|
BDE |
:
digohi (dipenuhi) |
|
NIV |
:
overflow (berlimpah) |
|
NTG |
:
περισσεύσαι
(berlimpah) |
|
Keputusan |
:
yang mendekati NTG adalah NIV. |
Ayat
13
|
LAI |
:
menguatkan |
|
BDE |
:
patoguhon (menguatkan) |
|
NIV |
:
strengthen (memperkuat) |
|
NTG |
:
στηρίξαι
(menguatkan) |
|
Keputusan |
:
yang mendekati NTG adalah LAI. |
5.2.
Kritik Aparatus
Keputusan:
Penafsir
menerima aparatus yang berbunyi διάκονον καὶ συνεργὸν τοῦ θεοῦ ἐν τῷ εὐαγγελίῳ
τοῦ Χριστοῦ yang artinya “pelayan dan rekan Allah dalam Injil Kristus”
karena memperjelas teks sehingga memudahkan penafsir dalam memahami makna teks.
5.3.
Terjemahan Akhir
Ayat
1
Jadi,
karena kami tidak dapat tahan lagi, kami setuju untuk tinggal seorang diri di
Atena.
Ayat
2
Lalu
kami mengirim Timotius, saudara kita pelayan dan rekan Allah dalam Injil
Kristus, untuk menguatkan hatimu dan memberi dorongan demi imanmu,
Ayat
3
Supaya
tidak seorang pun digoyahkan oleh kesusahan-kesusahan ini. Kamu sendiri tahun
bahwa kita ditentukan untuk itu.
Ayat
4
Sebab,
juga waktu kami bersama-sama dengan kamu, telah kami katakan kepada kamu bahwa
kita akan mengalami kesusahan. Seperti yang kamu ketahui, hal itu telah
terjadi.
Ayat
5
Itulah
sebabnya, ketika tidak dapat tahan lagi, aku mengirim dia, supaya aku tahu
tentang imanmu, karena aku khawatir kalau-kalau kamu telah dicobai oleh si
penggoda dan kalau-kalau usaha kami menjadi sia-sia.
Ayat
6
Tetapi,
sekarang, setelah Timotius datang kembali dari kamu dan membawa kabar yang
menggembirakan tentang imanmu dan kasihmu, dan bahwa kamu selalu menaruh
kenang-kenangan yang baik akan kami dan ingin untuk berjumpa dengan kami,
seperti kami juga ingin untuk berjumpa dengan kamu,
Ayat
7
maka
kami juga, Saudara-saudara, dalam segala kesusahan dan kesukaran kami menjadi
terhibur oleh kamu dan oleh imanmu.
Ayat
8
Sekarang
kami hidup kembali, asal saja kamu teguh berdiri di dalam Tuhan.
Ayat
9
Sebab
ucapan syukur apakah yang dapat kami persembahkan kepada Allah atas segala
sukacita, yang kami peroleh karena kamu, di hadapan Allah kita?
Ayat
10
Siang
malam kami berdoa dengan sungguh-sungguh, supaya kita bertemu muka dengan muka
dan menambahkan apa yang masih kurang pada imanmu.
Ayat
11
Kiranya
Dia, allah dan Bapa kita, dan Yesus, Tuhan kita, membukakan bagi kami jalan
kepadamu.
Ayat
12
Kiranya
Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang
terhadap yang lain dan terhadap semua orang, sama seperti kami juga mengasihi
kamu.
Ayat
13
Kiranya
Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa
kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang Kudus-Nya.
VI.
Tafsiran
Ayat
1
Kalimat Jadi, karena kami tidak dapat
tahan lagi apabila diubah ke dalam suatu kalimat yang komplit yang disertai
sebab-akibat, yaitu dengan 1 Tesalonika 2:17-20 akan menjadi Jadi, karena
kami sudah tidak tahan lagi atas kerinduan kami bertemu dengan kamu (1 Tes.
2:17). Kalimat ini menunjukkan bahwa Paulus sebagai penulis
mengungkapkan perasaan mereka terhadap jemaat di Tesalonika yaitu perasaan yang
sangat merindukan.[20] Jemaat di Tesalonika
telah membuat hati Paulus terikat dengan mereka karena kesejahteraan yang ada
pada mereka dan atas kesetiaan mereka kepada Allah (lih. 1 Tes. 2:14). Paulus
tidak sabar untuk mendengar kabar dari Tesalonika tersebut sehingga ia mencari
cara untuk itu.[21]
Paulus merasa prihatin dan kuatir pada mereka apabila mereka tidak tahan pada
cobaan yang menimpa mereka bahkan apabila mereka menolak iman dalam Yesus
akibat pencobaan itu.[22] Kalimat kami mengambil
keputusan, apabila kalimat ini diubah menjadi suatu kalimat yang komplit
menjadi kami sudah membuat banyak pertimbangan mengenai kamu sehingga kami
memutuskan. Keputusan ini adalah hasil dari suatu pertimbangan Paulus dan
rekan-rekannya akan apa yang akan dilakukan dengan kerinduan dalam hatinya.
Kata kami dalam surat ini adalah Paulus, Silwanus dan Timotius (lih. 1
Tes. 1:1). Sehingga muncul ungkapan mengenai apa yang telah dipertimbangkan
mereka yaitu untuk tinggal seorang diri di Atena. Ungkapan tersebut
dituliskan oleh Paulus untuk menunjukkan bahwa akan ada di antara mereka
bertiga yang pergi di utus ke Tesalonika. Apabila ayat ini diterjemahkan ke
dalam bahasa yang cukup mudah dipahami maka ayat ini menjadi karena itu kami
bertiga berpikir, bahwa aku bersama Silwalus tinggal di Athena.[23]
Ayat
2
Kalimat Lalu kami mengirim Timotius adalah
ungkapan Paulus berupa pernyataan atau keterangan mengenai Timotius bahwa
Timotius adalah salah satu dari mereka (lih. 1 Tes. 1:1) yang disebut dengan saudara
kita. Ungkapan tersebut menyatakan hubungan antara Timotius dan Paulus
sangat erat. Di kitab Roma Paulus juga menyebut Timotius sebagai teman sekerja
(Rm. 16:21). Ia juga kelak diutus ke Korintus (1 Kor. 4:17; bnd. Flp. 2:19)
bersama menyusun surat (2 Kor. 1:1; Flp. 1:1; Kol. 1:1; 2 Tes. 1:1). Bahkan
yang lebih meyakinkan lagi bagi jemaat Tesalonika adalah Paulus menyebut juga
bahwa Timotius adalah rekan sekerja Allah dalam pemberitaan Injil Kristus.[24] Sebagai saudara
dan rekan sekerja Allah, Timotius diutus oleh Paulus untuk menguatkan
hati dan menyemangati orang-orang Tesalonika terkait iman jemaat
Tesalonika untuk tetap teguh dan setia dalam cobaan yang sedang mereka alami.[25]
Ayat
3
Sejak Paulus dan rekan-rekannya berada di Tesalonika
bersama jemaat Tesalonika, Paulus lebih dahulu mengatakan bahwa iman dalam
Kristus akan mengalami kesusahan dan penderitaan. Kata goyah dalam
konteks ini digunakan untuk menunjuk sifat, karakter atau keadaan. Dalam arti
yang sama, kata ini merujuk pada peralihan kepercayaan yang akan menjadi tidak
percaya lagi kepada Kristus.[26] Sehingga Paulus berkata Supaya
tidak seorang pun digoyahkan. Maksud dari kata kesusahan-kesusahan dapat
dilihat yaitu penindasan yang berat (1 Tes. 1:6) dan penderitaan (1 Tes. 2:14). Sebagai orang Kristen, Paulus mengetahui
bahwa iman yang sejati adalah iman yang mampu untuk mengalami kesusahan. Orang
Kristen tidak dapat menjauhi penderitaan dan kesulitan. Iman yang bertumbuh
dalam Yesus akan memperoleh jaminan dalam kemuliaan yang akan datang (Kis.
14:22; Rm.8:17-18; 2 Tim. 2:12).[27] Orang Kristen ditentukan
untuk itu. Itulah kenapa Paulus mengatakan Kamu sendiri tahu bahwa kita
ditentukan untuk itu.
Ayat
4
Sebab, juga waktu kami bersama-sama dengan
kamu, telah kami katakan kepada kamu bahwa kita akan mengalami kesusahan.
Seperti yang kamu ketahui, hal itu telah terjadi.
Kata
telah mengungkapkan bahwa Paulus sudah pernah memberitahukan bahwa
mereka akan mengalami peristiwa yang akan membuat mereka semua kesusahan dan
menderita bahkan membuat iman mereka goyah. Kata kami mengatakan Paulus,
Silas dan Timotius. Sedangkan kata kita ialah Paulus, Silas, Timotius
dan para jemaat Tesalonika.[28] Sekarang, apa yang sudah
dikatakan oleh Paulus telah nyata bagi jemaat di Tesalonika. Jemaat di
Tesalonika mengalami semua itu yang diungkapkan dalam kalimat Seperti yang
kamu ketahui, hal itu telah terjadi yaitu godaan, penderitaan dan kesusahan.[29] Paulus mengajarkan
apa yang menjadi teladan bagi mereka yaitu Kristus yang mati atas dosa-dosa
manusia. Paulus ingin menyampaikan bahwa bukan hanya jemaat Tesalonika sendiri
yang mengalami hal yang tersebut. Tetapi juga Tuhan yang disebut Kristus juga
mengalami hal yang sama yaitu penderitaan.
Ayat
5
Itulah sebabnya, ketika tidak dapat tahan
lagi, aku mengirim dia, supaya aku tahu tentang imanmu, karena aku khawatir
kalau-kalau kamu telah dicobai oleh si penggoda dan kalau-kalau usaha kami
menjadi sia-sia.
Ayat
ini merupakan ungkapan Paulus bahwa ia sudah tidak sabar akan apa dan bagaimana
situasi jemaat di Tesalonika. Alasan ini merupakan suatu sikap yang menunjukkan
rasa kekwatiran Paulus kepada jemaat di Tesalonika sangat besar. Paulus kuatir
apabila jemaat tersebut tidak dapat menghadapi godaan atau penderitaan yang
datang pada mereka. Paulus tidak menginginkan mereka jatuh ke dalam dosa dan
tidak ingin apa yang diusahakannya ketika ia bekerja keras dalam mendirikan
jemaat itu menjadi sia-sia.[30] Kekwatiran tersebut
diungkapkannya dalam kalimatnya karena aku khawatir kalau-kalau kamu telah
dicobai oleh si penggoda dan kalau-kalau usaha kami menjadi sia-sia. Sebutan
yang dikatakan Paulus sebagai si penggoda menunjukkan makhluk yang
berusaha membuat manusia untuk melanggar kehendak Allah, yang dalam konteks ini
sebutan ini ditujukan pada orang yang berusaha membuat jemaat Tesalonika untuk
tidak percaya kepada Tuhan yang diberitakan oleh Paulus kepada mereka.[31] Usaha yang
dimaksud Paulus dalam teks ini adalah pekerjaan-pekerjaan yang sudah Paulus dan
kawan-kawan lakukan bagi mereka untuk percaya dan yakin kepada Yesus Kristus
sebagai sumber satu-satunya jalan keselamatan dan hidup. Kekuatiran Paulus
adalah kesia-siaan dari hari kerja kerasnya terhadap jemaat di Tesalonika dalam
memberitakan kabar baik. Sia-sia yang dimaksud oleh Paulus adalah tidak
berhasil, tidak berbuah, tidak berpengaruh, tidak ampuh, tidak berjalan baik
dan tidak bertumbuh. Ia mengungkapkan kekwatirannya bahwa si penggoda berusaha
mencobai mereka untuk mengatasi kekuatan iman mereka dengan akibat bahwa segala
karyanya di antara mereka akan menjadi sia-sia.[32]
Ayat
6
Tetapi,
sekarang, setelah Timotius datang kembali dari kamu dan membawa kabar yang
menggembirakan tentang imanmu dan kasihmu, dan bahwa kamu selalu menaruh
kenang-kenangan yang baik akan kami dan ingin untuk berjumpa dengan kami,
seperti kami juga ingin untuk berjumpa dengan kamu,
Paulus
dalam teks ini telah mendapatkan apa yang telah lama dirindukannya. Yaitu kabar
mengenai keadaan atau situasi jemaat di Tesalonika yang dibawa oleh Timotius
setelah pulang dari Tesalonika. Kata tetapi merupakan kata yang
mengalihkan kondisi atau keadaan dalam keadaan gembira dimana sebelumnya Paulus
memiliki rasa kuatir yang sangat besar terhadap jemaat itu (lih. 1 Tes. 3:1-5)
tetapi setelah Timotius menyampaikan apa yang terjadi di Tesalonika yaitu kabar
baik atau kabar yang menggembirakan dari jemaat itu, Paulus senang
terhadap iman dan kasih yang ada pada jemaat itu.[33] Hal yang menggembirakan
adalah iman dan kasih jemaat itu tidak goyah dalam godaan dan penderitaan
yang mereka hadapi dan mereka tetap setia kepada Kristus. Jemaat Tesalonika
membuat pengalaman bertemu atau moment pertemuan yang telah mereka alami
bersama-sama dengan Paulus dan rekan-rekannya tidak dilupakan. Mereka
menjadikan moment tersebut sebagai kenang-kenangan. Mereka mengingat
Paulus dan rekan-rekannya sebagai guru mereka.[34] Iman dan kasih yang
ditaburkan Paulus kepada mereka tidak goyah. Jemaat dan tim Paulus saling
merindukan yang tampak dalam ungkapan ingin untuk berjumpa dengan kami,
seperti kami juga ingin untuk berjumpa dengan kamu. Hal ini menjadi suatu
penghiburan bagi Paulus atas rasa kekwatirannya yang lama tinggal dalam hatinya
mengenai mereka.[35]
Ayat
7
maka
kami juga, Saudara-saudara, dalam segala kesusahan dan kesukaran kami menjadi
terhibur oleh kamu dan oleh imanmu.
Kalimat
ini mengungkapkan bahwa Paulus sudah tidak merasa kuatir lagi terhadap mereka.
iman mereka kepada Tuhan dan kasih yang ada pada mereka tetapi nyata baik
kepada Paulus dan rekan-rekannya dan sesama mereka. Keadaan itu sangat
membanggakan bagi hati Paulus sekaligus menjadi suatu penghiburan dan kekuatan
bagi Paulus untuk tetap semangat dalam memberitakan Injil.[36]
Ayat
8
Sekarang
kami hidup kembali, asal saja kamu teguh berdiri di dalam Tuhan.
Kalimat
ini merupakan ungkapan atau bentuk kegembiraan Paulus dengan mengatakan hidup
kembali atas kesetiaan jemaat Tesalonika terhadap Kristus. Apabila jemaat
Tesalonika gagal dalam mempertahankan iman mereka, kemungkinan Paulus akan
mengalami kemarahan terhadap dirinya, kesusahan, merasa gagal dan merasa tidak
layak lagi dalam pekerjaannya. Namun,
karena Injil mereka menunjukkan hidup yang layak sebagai orang beriman, Paulus
pun bersukacita dalam ungkapannya hidup kembali.[37] Paulus merasa
kembali menjadi dirinya sendiri sejak sukacita itu. Kalimat berdiri di dalam
Tuhan mengungkapkan bahwa orang Kristen adalah milik Kristus dan harus atau
hanya hidup oleh Kristus.[38]
Ayat
9
Sebab
ucapan syukur apakah yang dapat kami persembahkan kepada Allah atas segala
sukacita, yang kami peroleh karena kamu, di hadapan Allah kita?
Dalam
kalimat ini, Paulus menunjukkan betapa bergembiranya ia mendapat kabar dari
Tesalonika itu. Ia tidak dapat lagi mau mengekspresikan rasa kegembiraannya dan
rasa syukurnya kepada Allah. Ia merasa ucapan syukur tidak cukup untuk ia
sampaikan kepada Allah. Rasa sukacita yang diberikan oleh Timotius kepadanya
atas kesetiaan Tesalonika membuatnya berterima kasih kepada Allah atas
pertolongannya.[39]
Tidak ada ucapan terima kasih yang cukup besar dibandingkan dengan besarnya
sukacita luar biasa yang dilimpahkan kepadanya.[40] Kalimat di hadapan
Allah menyatakan tindakan yang biasanya dalam hal ini dapat dikatakan
berdoa yang merupakan hubungan yang dilakukan manusia dengan Allah.[41]
Ayat
10
Siang
malam kami berdoa dengan sungguh-sungguh, supaya kita bertemu muka dengan muka
dan menambahkan apa yang masih kurang pada imanmu.
Dalam
ayat ini, Paulus mengungkapkan apa yang ia harapkan untuk dilakukannya ke jemaat
di Tesalonika di kemudian hari. Ia berdoa setiap waktu yang di ungkapkannya
pada kalimat siang dan malam supaya kiranya apa yang dia harapkan yaitu
bertemu langsung dengan jemaat di Tesalonika muka dengan muka
benar-benar nyata. Dalam doa Paulus, ada dua permohonan yang ia sampaikan
kepada Tuhan, yaitu pertama agar Tuhan memberikannya kesempatan untuk bertemu
dengan jemaat di Tesalonika. Kedua, permohonan supaya Tuhan berkenan untuk
mengasihi dan membimbing jemaat Tesalonika. Iman yang ada pada jemaat di Tesalonika
masih muda. Paulus berpikir bahwa tidak cukup hanya melalui perantara atau
surat dalam membimbing dan mengembangkan iman mereka. Tetapi, Paulus merasa
perlu untuk melihat secara langsung supaya ketika ia datang ke sana dan
bersekutu kembali dengan mereka, supaya Paulus tahu apa yang menjadi kekurangan
atau kelemahan iman jemaat Tesalonika tersebut. Sehingga apabila Paulus bersekutu
kembali di sana, ia akan mengajar dan menambahkan iman jemaat itu supaya
tambah kuat. Karena menurut Paulus, apabila terjadi cobaan yang lebih kuat
datang lagi atas mereka, kemungkinan iman jemaat itu sudah kokoh dan berakar di
dalam hati mereka sehingga mereka memiliki dasar dan iman yang kuat untuk
melawan para penggoda dan penganiaya tersebut dan untuk supaya mereka tetap
setia kepada Kristus.[42]
Ayat
11
Kiranya
Dia, Allah dan Bapa kita, dan Yesus, Tuhan kita, membukakan bagi kami jalan
kepadamu.
Paulus
dalam doanya yakin bahwa
segala permintaan yang disampaikan kepada Kristus Tuhan akan dikabulkan. Ia
berdoa, supaya Allah saja yang memberikan dia kesempatan untuk bertemu dengan
jemaat Tesalonika. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Paulus menyebut tiga subjek
yaitu Allah, Bapa dan Yesus. Dalam Bahasa Yunani kalimat ini dapat
terjadi ketika tiga subjek itu saling berkaitan yaitu berkaitan
dalam tindakan dan perbuatan. Doa ini memperlihatkan bahwa
Paulus ingin sekali untuk mengembangkan dan menambahkan iman jemaat di
Tesalonika supaya iman jemaat tersebut bertumbuh dan berakar dengan kuat supaya
Ketika pencobaan datang dan juga dengan penganiayaan, mereka tetap setia kepada
iman yang mereka miliki yaitu Kristus sebagai Juruselamat dan satu-satunya
jalan keselamatan dan hidup.[43]
Dalam kalimat kiranya Dia yang menunjuk Allah membukakan jalan menjelaskan
bahwa Paulus sangat berharap dan sungguh-sungguh dengan doa yang ia panjatkan
supaya Tuhan membukakan jalan baginya untuk pergi ke Tesalonika.[44]
Ayat
12
Kiranya
Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang
terhadap yang lain dan terhadap semua orang, sama seperti kami juga mengasihi
kamu.
Paulus
juga dalam ayat ini memberikan pengharapan bahwa Tuhan juga akan membimbing dan
melindungi jemaat dan mereka (Paulus) saling mengasihi untuk semua orang tidak
pada orang tertentu. Seperti kami yang dimaksud adalah Paulus dan
rekan-rekan mengasihi kamu yang menyebut jemaat Tesalonika.[45] Ungkapan berkelimpahan
dalam kasih menyatakan bahwa keharusan dalam menambah rasa kasih adalah
tujuan umat Kristen. Orang Kristen harus saling mengasihi satu sama lain.[46] Kasih yang dimaksud
adalah bukan untuk orang-orang sesama Kristen saja, tetapi kasih yang universal
untuk semua orang, seperti kasih Allah yang telah lebih dahulu mengasihi
manusia (1 Yoh. 4:19).
Ayat
13
Kiranya
Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa
kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya
Dalam
ayat ini, Paulus berdoa untuk jemaat Tesalonika. Ia berharap pada Allah yang
akan memberikan mereka kekuatan dan kesetiaan dalam iman mereka dan agar tetap
kudus. Menguatkan hatimu tidak mengartikan bahwa menguatkan perasaan
saja, tetapi menguatkan hati, seluruh batin, iman, pendirian orang-orang
percaya di Tesalonika agar tidak goyah dan setia pada cobaan-cobaan yang akan
datang.[47] Sebagai orang-orang
Kristen, kita menjadi orang kudus ketika kita menerima keselamatan. Maka ketika
orang percaya melakukan apa yang menjadi iman dan kebenaran, maka disaat itu
pulalah Roh Kudus menempati dan tinggal dalam kita.[48] Hari kedatangan Yesus
kedua kalinya untuk mengangkat orang-orang kudus. Yang menjadi target dalam doa
Paulus adalah supaya kebenaran Allah dalam Kristus tinggal di dalam jemaat
Tesalonika. Sehingga jemaat Tesalonika akan kudus dan tidak bercacat di hadapan
Allah sehingga dengan begitu, jemaat akan siap atas kedatangan sang raja Mulia.
Kalimat Tak bercacat dan kudus atau jika diubah ke dalam bahasa yang
lebih sederhana adalah suci tak bercela adalah kalimat yang saling
melengkapi. Kata kudus untuk bekerja bersama Allah dan untuk Allah.
VII.
Pokok-pokok Teologi
Adapun
pokok-pokok teologi yang dapat ditemukan dalam tafsiran adalah:
1.
Iman yang menyelamatkan
2.
Allah sumber keselamatan dan hidup
VIII. Skopus
Saling
mengasihi sesama manusia dan saling menguatkan dalam iman percaya dalam Kristus
mendatangkan sukacita, keselamatan dari maut dan hidup kekal bagi semua orang
yang percaya dan yang berpengharapan kepada-Nya yaitu Kristus Yesus.
IX.
Refleksi Teologi
Terang tidaklah sulit untuk menerangi
kegelapan. Begitulah seharusnya iman yang ada pada kita yaitu sebagai terang
bagi kegelapan. Istilah kegelapan sering digunakan untuk mengungkapkan hal-hal
yang berbaur dosa, misalnya perzinahan,
pencurian, pembunuhan, penyembahan berhala dan lain sebagainya. Kenikmatan
daging membawa diri manusia dari terang ke dalam kegelapan. Banyak kegelapan
yang harus di terangi sehingga orang-orang Kristen diharuskan untuk itu semua.
Begitulah pekerjaan Paulus di jemaat Tesalonika untuk menerangi kegelapan dan
singgah di dalam kegelapan itu untuk menciptakan terang di tengah-tengah
mereka. Iman yang ada pada Paulus adalah iman yang menyelamatkan. Keselamatan
yang ada Paulus bukanlah untuk keselamatannya sendiri. Tetapi, Allah ingin
semua orang diselamatkan dan menjadi milik Allah.
Kebutuhan-kebutuhan untuk bertahan hidup
menjadi suatu hal yang dapat menggoyahkan iman kita, terutama ketika kita
mengalami yang namanya kelaparan salah satu hal yang paling umum dirasakan oleh
semua orang. Kenyang adalah salah satu hal yang menjadi kebutuhan daging.
Dengan kelaparan, seseorang akan mencari cara untuk menjadi kenyang atau untuk
memperoleh makanan untuk dia makan. Ada banyak cara untuk memperoleh makanan
yaitu dengan cara yang baik dan dengan cara yang tidak baik. Ketika perut kita
sudah tidak mendapat makanan lagi, perut kita akan memaksa kita untuk
memperolehnya. Hal inilah yang membuat seseorang melakukan kejahatan dan jatuh
ke dalam kegelapan. Seseorang dipaksa oleh daging untuk makan dan makan
sehingga terjadilah pencurian.
Sebagai orang-orang Kristen yang bersekutu
yang memiliki satu persekutuan di dalam Kristus, Paulus menekankan bahwa
orang-orang percaya harus hidup saling mengasihi, saling memperhatikan dan
saling mencukupi. Orang-orang Kristen harus saling mengkawatirkan dan saling
menjaga. Hal ini dikatakan oleh Paulus karena Paulus tahu bahwa godaan tidak
hanya berasal dari orang lain saja, tetapi dari tubuh pun terjadi pencobaan.
Kelaparan, ketidakberdayaan dapat diselesaikan dengan kasih. Orang-orang
Kristen harus mengasihi orang lain. Karena Allah sudah lebih dahulu mengasihi
kita (1 Yoh. 4:19). Dengan begitu kelaparan dan tidakberdayaan atau kemiskinan
dapat dikalahkan oleh iman dan kasih.
Orang-orang Kristen yang disebut sebagai
orang-orang kepunyaan Allah tidak seharusnya memiliki ketakutan lagi dalam diri
kita. Sebab semuanya itu akan dikuatkan dan akan dibimbing oleh Allah.
Orang-orang Kristen tidak takut terhadap kelaparan, tidak takut terhadap
pencobaan, tidak takut kepada kematian. Karena semua itu sudah dikalahkan lebih
dahulu oleh Kristus yang juruslamat. Paulus menekankan bahwa apabila ketakutan
terjadi, berdoa adalah satu-satunya cara untuk lepas dari ketakutan. Meminta
agar Tuhan memberikan kekuatan dan meminta supaya Tuhan menjauhkan itu dari
atas kita. Perlindungan di dalam Tuhan adalah perlindungan yang paling kuat
dari segala perlindungan yang ada di bumi.
Pertolongan di dalam Tuhan adalah
pertolongan yang sejati. Perbuatan yang baik akan diberikan upah yang setimpal.
dan semua itu akan diperoleh ketika kita mencari dahulu kerajaan Allah (Mat.
6:33).
X.
Kesimpulan
Tafsiran
menggunakan Kritik Kanonikal adalah tafsiran yang memandang bahwa seluruh kitab
mulai dari Perjanjian Lama hingga pada Perjanjian Baru adalah satu kesatuan
yang saling berkaitan dan melengkapi. Seluruh kitab memiliki jawaban atas
pertanyaan dalam kitab lain. Dengan menggunakan Kritik Kanonikal, kitab
Tesalonika dapat berhubungan dengan kitab Perjanjian Lama yaitu mengenai Allah
yang telah mengasihi bangsa-Nya dan membawa bangsa-Nya keluar dari perbudakan.
Cerita yang berbeda tetapi miliki maksud yang sama dapat memberikan pemahaman
mengenai kitab akan lebih jelas.
Dalam
kitab 1 Tesalonika 3:1-13, Paulus bersukacita karena kabar mengenai jemaat
Tesalonika adalah kabar yang sungguh baik. Jemaat di Tesalonika tetap setia
kepada Allah dan mengasihi Paulus dan rekan-rekannya yaitu Silas dan Timotius.
Hidup di dalam Allah memberikan kelegaan dan sukacita yang besar. Ayat tersebut
memberikan pemahaman bahwa dalam kasih Allah semua akan memperoleh keselamatan.
Saling mengasihi dan saling menguatkan akan mendatangkan sukacita dan
keselamatan.
DAFTAR PUSTAKA
Bergant, Dianne. dkk, Tafsir
Alkitab Perjanjian Baru. Yogyakarta: KANISIUS, 2002.
Brotosudarmo, Drie S. Pengantar
Perjanjian Baru: Memahami Penulis Tahun Penulisan Maksud dan Tujuan
Masing-masing Kitab Dalam Perjanjian Baru. Yogyakarta: ANDI, 2017.
Drane, John. Memahami Perjanjian
Baru. Jakarta: BPK-GM,2003.
Drewes, B.F. Tafsir Alkitab
Kontekstual-Oikumenis: Surat 1-2 Tesalonika. Jakarta: BPK-GM, 2019.
Duyverman, M. E. Pembimbing Dalam Perjanjian Baru. Jakarta: BPK-GM, 2009.
Jhon H, & Carl, Hollady, Pedoman
Menafsir. Jakarta: BPK-GM, 2005.
John H. & Carl, R. Holladay. Bilblical Exegesis.
Atlanta: John Knox Press, 1982.
Kepausan, Komisi Kitab Suci. Penafsiran Alkitab di dalam Gereja. Yogyakarta:
Kanisius, 2011.
Krasovec, Jose. Reward,
Punishment, and Forgiveness: The Thingking and Belifs of Ancient Israel in
Light of Greek and Modern Views. Leiden: Brill, 1999.
Marxsen, Willi. Pengantar
Perjanjian Baru: Pendekatan Kritis terhadap Masalah-masalahnya. Jakarta:
BPK-GM, 2020.
Sitompul, A.A. & Beyer, Ulrich. Metode Penafsir Kitab. Jakarta: BPK GM,
2006.
Sutabta, Hasan, Hermeneutika. Malang:
Literatur Saat, 2007.
Suyoto, Fien. Kupasan Firman
Allah: Surat 1 dan 2 Tesalonika. Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 2004.
Tambur. Kareasi H., dkk, Pedoman
Penafsiran Alkitab: Surat-surat Paulus kepada Jemaat di Tesalonika. Jakarta:
LAI, 2001.
Tenney, Merrill C. Surver
Perjanjian Baru. Malang: Gandum Mas, 2006.
[1] M. E. Duyverman, Pembimbing Dalam Perjanjian Baru
(Jakarta: BPK-GM, 2009), 225.
[2] H. John & R. Holladay Carl, Bilblical
Exegesis (Atlanta: John Knox Press, 1982), 154-156.
[3] A.A. Sitompul & Ulrich Beyer, Metode Penafsir Kitab (Jakarta: BPK GM,
2006), 214.
[4] Hasan Sutabta, Hermeneutika
(Malang: Literatur Saat, 2007), 204.
[5] Jose Krasovec, Reward,
Punishment, and Forgiveness: The Thingking and Belifs of Ancient Israel in
Light of Greek and Modern Views (Leiden: Brill, 1999), 8-10.
[6] Komisi Kitab Suci Kepausan, Penafsiran Alkitab di dalam Gereja (Yogyakarta:
Kanisius, 2011), 65-66.
[7] Jhon H, & Carl, Hollady, Pedoman
Menafsir (Jakarta: BPK-GM, 2005), 150.
[8] Drie S. Brotosudarmo, Pengantar
Perjanjian Baru: Memahami Penulis Tahun Penulisan Maksud dan Tujuan
Masing-masing Kitab Dalam Perjanjian Baru (Yogyakarta: ANDI, 2017), 234.
[9] John Drane, Memahani Perjanjian
Baru (Jakarta: Gunung Mulia, 2003), 336.
[10] Ibid, 336.
[11] M.E. Duyverman, Op.cit, 147.
[12] Ibid, 147.
[13] Drie S. Brotosudarmo, Op.cit, 236.
[14] Ibid, 236.
[15] Merrill C. Tenney, Surver
Perjanjian Baru (Malang: Gandum Mas, 2006), 348-349.
[16] Ibid, 59.
[17] Ibid, 60.
[18] Drie S. Brotosudarmo, Pengantar
Perjanjian Baru: Memahami Penulis Tahun Penulisan Maksud dan Tujuan
Masing-masing Kitab Dalam Perjanjian Baru (Yogyakarta: ANDI, 2017), 234.
[19] Willi Marxsen, Pengantar
Perjanjian Baru: Pendekatan Kritis terhadap Masalah-masalahnya (Jakarta:
BPK-GM, 2020), 32-34.
[20] Kareasi H. Tambur, dkk, Pedoman
Penafsiran Alkitab: Surat-surat Paulus kepada Jemaat di Tesalonika (Jakarta:
LAI, 2001), 37.
[21] Dianne Bergant, dkk, Tafsir
Alkitab Perjanjian Baru (Yogyakarta: KANISIUS, 2002), 374.
[22] Fien Suyoto, Kupasan Firman
Allah: Surat 1 dan 2 Tesalonika (Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 2004),
55.
[23] Kareasi H. Tambur, Op.cit, 37.
[24] B.F. Drewes, Tafsir Alkitab
Kontekstual-Oikumenis: Surat 1-2 Tesalonika (Jakarta: BPK-GM, 2019), 67.
[25] Dianne Bergant, Op.cit, 375.
[26] Kareasi H. Tambur, Op.cit, 38.
[27] Fien Suyoto, Op.cit, 56.
[28] Kareasi H. Tambur, Op.cit, 39.
[29] Dianne Bergant, Op.cit, 375.
[31] Kareasi H. Tambur, Op.cit, 40.
[32] Dianne Bergant, Op.cit, 375.
[33] Kareasi H. Tambur, Op.cit, 41.
[34] B.F. Drewes,Op.cit, 70.
[35] Fien Suyoto, Op.cit, 57-58.
[36] Ibid, 57-58.
[37] Ibid, 57-58.
[38] Kareasi H. Tambur, Op.cit, 43.
[39] Ibid.
[40] F. Drewes, Op.cit, 71.
[41] Kareasi H. Tambur, Op.cit, 44.
[42] Ibid. 45.
[43] Fien Suyoto, Op.cit, 57-59.
[44] Kareasi H. Tambur, Op.cit, 46.
[45] Fien Suyoto, Op.cit, 57-59.
[46] Kareasi H. Tambur, Op.cit, 46.
[47] Ibid, 47.
[48] Fien Suyoto, Op.cit, 57-60.
Comments
Post a Comment