TAFSIRAN KITAB 1 TESALONIKA 3:1-13 MENGGUNAKAN METODE KANONIKAL

 TAFSIRAN KITAB 1 TESALONIKA 3:1-13 MENGGUNAKAN METODE KANONIKAL

Disusun untuk memenuhi tugas

Mata Kuliah

Kelas

: Hermeneutik PB II

: IIA/ Teologi

Dosen Pengampu

: Dr. Batara Sihombing

I.              Pendahuluan

Alkitab merupakan kumpulan atau gabungan dari dokumen-dokumen baik itu sejarah, surat, dan kesaksian pada Nabi dan Para Rasul yang hidup bersama Allah dan Yesus Kristus. Dokumen-dokumen tersebut disatukan atau dikanonisasi pada tahun 397 M sehingga menjadi sebuah Alkitab masa kini. Di dalam Alkitab terdapat banyak hal yang belum dapat dimengerti atau diterima oleh akal sehat  manusia bahkan para pengikutnya hingga sekarang ini.

Dalam memahami atau mengerti isi atau pesan-pesan yang terdapat dalam Alkitab, maka para ahli merumuskan sebuah metode pendekatan untuk menggali dan mencari tahu pesan-pesan yang terdapat di dalamnya. Metode Kanonikal adalah salah satu metode pendekatan untuk memahami kitab. Metode ini memandang bahwa Alkitab dipandang sebagai suatu kesatuan. Dalam tafsiran ini, penafsir menggunakan metode Kanonikal dalam memahami dan menjelaskan atau menafsirkan kitab 1 Tesalonika 3:1-13.

 

II.           Metode Kanonikal

2.1.       Pengertian Kanonikal

Kanonikal berasal dari bahasa Ibrani “qaneh” yang artinya gelagah atau batang Pepirus sejenis tanaman serai. Gelagah dipakai sebagai tongkat pengukuran atau garis yang lurus, maka kata “kanon” dapat diartikan juga sebagai ukuran atau buluh pengukur (1 Raj. 14:15).[1] Metode Kanonik atau disebut juga Kritik Kanon adalah salah satu pendekatan yang digunakan untuk menafsir teks Alkitab.[2]  Metode ini memperhatikan teks secara menyeluruh dan memandang Alkitab sebagai suatu kesatuan yang utuh.[3]

 

2.2.       Latar Belakang

Penggunaan Kritik Historis (sejarah) dalam menafsirkan Alkitab sudah tidak sesuai dengan budaya-budaya asing di luar Alkitab. Karena kritik Historis terlalu menganalisis dan menggali sejarah-sejarah di belakang kitab tetapi meninggalkan makna dalam kitab tersebut. Sejarah yang digali tidak menggunakan kitab secara keseluruhan tetapi hanya berada dalam kitab tersebut sehingga hal-hal kecil diperhatikan, sedangkan Alkitab secara keseluruhan dihiraukan.[4]

Kritik Kanonikal mulai dikembangkan sebagai metode dalam menafsirkan Alkitab sejak sekitar 1970an oleh Brevard S. Childs. Lahirnya pendekatan baru ini disebabkan karena rasa tidak puas terhadap pendekatan yang dilakukan dengan metode Historis. Hal terpenting yang menjadi prinsip dari metode Kanonikal adalah bahwa firman Allah memiliki hubungan yang mengikat umat-Nya, persekutuan yang dibentuk Allah sendiri dalam sejarah. Melalui Alkitab, Allah menyatakan diri-Nya kepada umat-Nya.[5] Childs menekankan bahwa eksegese teologis harus dikembangkan dalam ruang hermeneutik yang berhubungan secara dialektis yaitu:

1.      Teks yang tinggal dibaca dalam terang kesaksian PL.

2.      PL dibaca dalam terang PB dan PB dibaca dalam terang PL.

3.      PL dibaca dengan terang pernyataan teologinya sendiri dan PB dibaca dengan terang pernyataan teologinya sendiri.

 

2.3.       Tujuan Kanonikal

Metode pendekatan ini ditujukan untuk melakukan penafsiran Alkitab dengan lebih baik. Metode ini berusaha untuk memperoleh dan menggali pesan-pesa dan kebenaran-kebenaran dari Alkitab seperti yang dimaksudkan oleh penulis kitab. Metode ini memandang Alkitab sebagai suatu kesatuan yang saling berhubungan dan melengkapi. Metode ini mencoba untuk menempatkan setiap teks dalam rencana Allah dengan tujuan supaya firman-Nya sampai kepada penjelasan kitab Suci yang sesuai dengan masa sekarang (kontekstualisasi teks).[6]

 

2.4.       Langkah-langkah Pendekatan

Tahapan dalam pendekatan Kanonikal yaitu teks dibaca dengan teks lain dan pembaca menganggap bahwa teks berkaitan dengan masa sekarang dan teks merupakan kesaksian tentang Allah.[7]

 

2.5.       Kelebihan Kanonikal

Adapun kelebihan dari metode pendekatan Kanonikal adalah sebagai berikut:

1.      Alkitab dipandang sebagai firman Allah dan pembentukan sejarahnya sebagai pekerjaan Allah dan karya-Nya melalui umat-Nya, sehingga Alkitab dipandang berhubungan dan berkaitan dengan teks-teks Kitab lain dalam Alkitab.

2.      Teks dapat dilihat secara utuh. Karena dalam menafsir, tidak ada lagi pembatas teks tertentu dalam menemukan makna teks.

 

2.6.       Kekurangan Kanonikal

Adapun kekurangan dari metode pendekatan ini adalah:

1.      Sejarah Kitab tidak diutamakan.

2.      Adanya perbedaan kanon antara kitab Kristen  sehingga metode ini bersifat subyektifitas dan realitas.

 

III.        Pengantar Kitab 1 Tesalonika

3.1.       Pengertian Kitab

Kitab 1 Tesalonika adalah salah satu surat Paulus dari dua surat yang ditujukan ke jemaat di Tesalonika. Alamat surat tersebut digunakan untuk menamai kitab tersebut. Kota Tesalonika adalah kota pelabuhan dan kota Provinsi Makedonia, termasuk wilayah jajahan Romawi. Kota ini pernah dikunjungi oleh Paulus dan Silas dalam misinya yang kedua (Kis. 17:1).[8]

 

3.2.       Latar Belakang Kitab

Orang-orang Kristen di Tesalonika telah begitu baik memenuhi tanggung jawabnya. (1 Tes. 1:1-10). Tetapi ada beberapa masalah di dalam jemaat yaitu adanya serangan oleh orang-orang Yahudi salah satunya adalah Gnostisisme, adanya kasus percabulan, kegagalan menghormati pemimpin-pemimpin jemaat, masalah pemahaman eskatologis dan perasaan ingin tahu bagaimana keadaan orang Kristen yang meninggal.[9] Melihat keadaan ini Paulus menulis guna memberikan mereka semangat menghadapi kesulitan-kesulitan serta bimbingan langsung mengenai masalah-masalah khusus yang ada di Tesalonika ini. Sehingga surat ini tersimpan dalam perjanjian baru sebagai surat 1 Tesalonika.[10]

 

3.3.       Penulis, Waktu dan Tempat Penulisan

Surat ini ditulis tidak lama sesudah Paulus berada di Akhaya pada perjalanan kedua.[11] Surat ini ditulis atas nama Paulus, Silwanus, dan Timotius. Tetapi yang menulis sesungguhnya ialah Paulus, kendati digabungkannya kedua teman-temannya itu dengan dirinya, yang baru turut dengan dia dalam pekerjaan penginjilan di Tesalonika. Surat ini diyakini ditulis kira-kira tahun 52.[12] Jika dipandang dari pandangan Brotosudarmo, satu-satunya petunjuk dalam Alkitab ada pada Kisah Para Rasul 17:2 dan 18:2 yaitu pada peristiwa keluarnya perintah dari Kaisar Claudius untuk mengusir orang Yahudi dari Roma yang terjadi pada 49 M.

Brotosudarmo memuat sebuah simpulan terkait penulisan tahun penulisan surat ini:[13]

a.       Apabila 2 Tesalonika menyusul 1 Tesalonika, tempat dan waktunya adalah sekitar 50 M atau permulaan tahun 51 M.

b.      Apabila 2 Tesalonika bersamaan dengan 1 Tesalonika, berarti: pertama, Paulus terpaksa meninggalkan Tesalonika dalam kesedihan; Kedua, di Berea orang Tesalonika membawa berita, lalu Paulus berminat menulis karena tidak dapat pergi ke Tesalonika; Ketiga, Paulus mendadak meninggalkan Berea menuju Athena. Dari sini ada rencana untuk kembali ke Tesalonika tetapi tidak jadi; Keempat, Timotius disuruh membawa atau mengantarkan surat; Kelima, Silas melayani di Berea.

Dalam perbedaan pandangan penulisan kitab ini, Penafsir mengambil sikap dan menyimpulkan bahwa penulisan kitab 1 Tesalonika ialah pada tahun 49 M. Karena penjelasan lebih rinci dan dasar yang kuat dari Kisah Para Rasul 17:2 dan 18:2 oleh Brotosudarmo.

 

3.4.       Maksud dan Tujuan Penulisan[14]

Adapun maksud dan tujuan ditulisnya Surat Tesalonika adalah:

a.       Untuk menghibur atau menguatkan jemaat dalam kesengsaraannya.

b.      Untuk menjelaskan persoalan yang meragukan tentang kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya.

c.       Menasehati jemaat untuk hidup damai.

 

3.5.       Struktur Kitab[15]

I.

Ucapan Salam

1:1

II.

Keadaan Jemaat

1:2-10

 

Sifat Jemaat

1:3

 

Pemilihan Jemaat

1:4-7

 

Reputasi Jemaat

1:8-10

III.

Hubungan Apostilik dengan Jemaat

2:1-3:13

 

Pembinaan Paulus atas jemaat

2:1-12

 

Penerimaan Paulus oleh jemaat

2:13-16

 

Keprihatinan Paulus bagi jemaat

2:17-3:10

 

Doa Paulus bagi jemaat

3:11-13

IV.

Persoalan di dalam jemaat

4:1-5:11

 

Persoalan marolitas Seksual

4:1-8

 

Persoalan tingkah laku sosial

4:9-12

 

Persoalan tentang kematian

4:13-18

 

Persoalan tentang zaman ke masa

5:1-11

V.

Penutup: Nasihat dan Salam

5:12-28

 

IV.        Sitz Im Leben

4.1.       Ekonomi

Keadaan dunia di abad pertama tidak memiliki banyak perbedaan dengan masa sekarang. Orang kaya, orang miskin, orang baik, orang jahat, majikan dan budak hidup saling berdampingan. Pembagian kelas dalam masyarakat banyak dikendalikan oleh kewajiban hukum agama yang berlaku untuk setiap pengikutnya.[16]

 

4.2.       Budaya

Yudaisme adalah kelompok alim-ulama, yang sebagian besar terdiri dari keluarga para imam dan tokoh para rabi. Masyarakat sama-sama terikat dalam tanggung jawab pada Allah untuk mematuhi hukum-hukum-Nya maka secara moral mereka adalah sederajat.[17]

 

4.3.       Politik

Kota Tesalonika adalah kota pelabuhan dan kota Provinsi Makedonia, termasuk wilayah jajahan Romawi. Kota ini dibangun untuk menghormati istri Cassender yang telah meninggal dunia. Kota ini pada awalnya bernama Tesalonike lalu berubah menjadi Tesaloniki dan akhirnya menjadi Saloniki. Penduduk kota ini berjumlah sekitar 100.000 jiwa termasuk orang Yunani, Yahudi dan Romawi. Pada tahun 146, kota ini adalah kediaman Gubernur Makedonia sehingga dapat dikatakan bahwa kota ini adalah kota yang besar dan ramai penduduknya.[18]

 

4.4.       Agama

Orang Yahudi di Tesalonika mempunyai rumah ibadah sendiri yang disebut dengan sinagoge dan anggota dalam sinagoge tersebut juga ada yang bukan orang Yahudi. Disana juga terdapat kepercayaan atau aliran Gnostisisme yang akan mengguncangkan iman para pengikut Kristus. [19]

 

V.           Analisa Teks

5.1.       Perbandingan Bahasa

Adapun jenis terjemahan teks yang akan diperbandingkan oleh penafsir adalah LAI 2023 (Lembaga Alkitab Indonesia), BDE 2010 (Bibel Dohot Ende), NIV 2011 (New Internasional Version) dan NTG (New Testament Greek).

Ayat 1

LAI

: kami mengambil keputusan

BDE

: denggan do dirohanami (baik dihati kami)

NIV

: we thought (kami pikir)

NTG

: εὐδοκήσαμεν (kami setuju)

Keputusan

: tidak ada yang mendekati NTG.

Ayat 2

LAI

: rekan sekerja

BDE

: naposo ni (pelayan)

NIV

: co-worker (teman sekerja)

NTG

: συνεργὸν (kaki tangan)

Keputusan

: tidak ada yang mendekati NTG.

Ayat 3

LAI

: digoyahkan

BDE

: diunggilhon (dijatuhkan)

NIV

: unsettled (gelisah)

NTG

: σαίνεσθαι (digoyahkan)

Keputusan

: yang mendekati NTG adalah LAI.

Ayat 4

LAI

: kesusahan

BDE

: haporsuhon (kemiskinan)

NIV

: persecuted (dianiaya)

NTG

: θλίβεσθαι (penderitaan)

Keputusan

: tidak ada yang mendekati NTG.

Ayat 5

LAI

: dicobai

BDE

: diunjuni (dicobai)

NIV

: tempted (tergoda)

NTG

: ἐπείρασεν (dicobai)

Keputusan

: yang mendekati NTG adalah LAI dan BDE.

Ayat 6

LAI

: imanmu

BDE

: haporseaonmuna (imanmu)

NIV

: faith (iman)

NTG

: πίστιν (iman)

Keputusan

: yang mendekati NTG adalah NIV.

Ayat 7

LAI

: terhibur

BDE

: tarapul (terhibur)

NIV

: encouraged (termotivasi)

NTG

: παρεκλήθημεν (termotivasi)

Keputusan

: yang mendekati NTG adalah NIV.

Ayat 8

LAI

: hidup kembali

BDE

: mangolu (hidup)

NIV

: live (hidup)

NTG

: ζῶμεν (kita hidup)

Keputusan

: tidak ada yang mendekati NTG.

 

 

Ayat 9

LAI

: persembahkan

BDE

: tarlehon (dapat diberi)

NIV

: thank (syukur)

NTG

: εὐχαριστίαν (persembahkan)

Keputusan

: yang mendekati NTG adalah LAI.

Ayat 10

LAI

: menambahkan

BDE

: patingkosonnami (kami membenarkan)

NIV

: supplay (tambahkan)

NTG

: καταρτίσαι (menambahkan)

Keputusan

: yang mendekati NTG adalah LAI.

Ayat 11

LAI

: jalan

BDE

: langkanami (langkah kami)

NIV

: the way (jalan)

NTG

: ὁδὸν (jalan)

Keputusan

: yang mendekati NTG adalah LAI dan NIV.

Ayat 12

LAI

: berkelimpahan

BDE

: digohi (dipenuhi)

NIV

: overflow (berlimpah)

NTG

: περισσεύσαι (berlimpah)

Keputusan

: yang mendekati NTG adalah NIV.

Ayat 13

LAI

: menguatkan

BDE

: patoguhon (menguatkan)

NIV

: strengthen (memperkuat)

NTG

: στηρίξαι (menguatkan)

Keputusan

: yang mendekati NTG adalah LAI.

 

 

5.2.       Kritik Aparatus

Beberapa naskah memuat kalimat καὶ συνεργὸν τοῦ θεοῦ ἐν τῷ εὐαγγελίῳ τοῦ Χριστοῦ yang artinya “dan mitra Allah dalam Injil Kristus” yaitu kodeks Cantabrigiensis dengan minuskel 33 terjemahan Itala dan beberapa naskah bapa gereja Ambrosius, Pelagius, dan Ps-Jerome. Beberapa naskah memuat kalimat καὶ συνεργὸν ἐν τῷ εὐαγ γελίῳ τοῦ Χριστοῦ yang artinya “dan bermitra dalam sukacita kudus Kristus” yaitu kodeks Vaticanus dengan minuskel 1962. Beberapa naskah memuat kalimat καὶ διάκονον ἐν τῷ εὐαγγελίῳ τοῦ Χριστοῦ yang artinya “dan melayani dalam Injil Kristus” dengan beberapa terjemahan Itala dan naskah bapa gereja Cassiodorus. Beberapa naskah memuat καὶ διάκονον τοῦ θεοῦ ἐν τῷ εὐαγγελίῳ τοῦ Χριστοῦ yang artinya “dan pelayanan Allah dalam Injil Kristus” yaitu kodeks א A P Ψ dengan beberapa minuskel 81 629 1241 1739 1881, beberapa terjemahan di antaranya Itala Vulgata Syria Koptik Gotik Etopia dan beberapa naskah bapa gereja yaitu Basil Pelagius Theodorus dan Etuhalius. Beberapa naskah memuat kalimat διάκονον καὶ συνεργὸν τοῦ θεοῦ ἐν τῷ εὐαγγελίῳ τοῦ Χριστοῦ yang artinya “pelayan dan rekan Allah dalam Injil Kristus” yaitu kodeks G terjemahan Itala. Beberapa naskah memuat kalimat καὶ διάκονον τοῦ θεοῦ καὶ συνεργὸν ἡμῶν ἐν τῷ εὐαγγελίῳ τοῦ Χριστοῦ yang artinya “dan pelayan Allah rekan kami dalam Injil Kristus” yaitu kodeks D K beberapa minuskel yaitu 88 104 181 326 330 436 451 614 629 630 1877 1984 1985 2127 2492 2495 dengan beberapa terjemahan seperti Byzantium Syria dengan beberapa naskah bapa gereja seperti Chrysostom (Theodoret) John-Damascus. Beberapa naskah memuat kalimat καὶ συνεργὸν ἡμῶν καὶ διάκονον αὐτοῦ ἐν τῷ εὐαγγελίῳ τοῦ θεοῦ καὶ συνεργὸν τοῦ Χριστοῦ yang artinya “dan rekan kami dan pelayan-Nya dalam Injil Allah dan rekan Kristus” terjemahan Syria. Beberapa naskah memuat kalimat καὶ συνεργὸν τοῦ εὐαγγελίου τοῦ θεοῦ καὶ πατρὸς τοῦ Χριστοῦ yang artinya “dan rekan Allah dan bapa Kristus terjemahan Armenia”.

Keputusan: Penafsir menerima aparatus yang berbunyi διάκονον καὶ συνεργὸν τοῦ θεοῦ ἐν τῷ εὐαγγελίῳ τοῦ Χριστοῦ yang artinya “pelayan dan rekan Allah dalam Injil Kristus” karena memperjelas teks sehingga memudahkan penafsir dalam memahami makna teks.

 

5.3.       Terjemahan Akhir

Ayat 1

Jadi, karena kami tidak dapat tahan lagi, kami setuju untuk tinggal seorang diri di Atena.

Ayat 2

Lalu kami mengirim Timotius, saudara kita pelayan dan rekan Allah dalam Injil Kristus, untuk menguatkan hatimu dan memberi dorongan demi imanmu,

Ayat 3

Supaya tidak seorang pun digoyahkan oleh kesusahan-kesusahan ini. Kamu sendiri tahun bahwa kita ditentukan untuk itu.

Ayat 4

Sebab, juga waktu kami bersama-sama dengan kamu, telah kami katakan kepada kamu bahwa kita akan mengalami kesusahan. Seperti yang kamu ketahui, hal itu telah terjadi.

Ayat 5

Itulah sebabnya, ketika tidak dapat tahan lagi, aku mengirim dia, supaya aku tahu tentang imanmu, karena aku khawatir kalau-kalau kamu telah dicobai oleh si penggoda dan kalau-kalau usaha kami menjadi sia-sia.

Ayat 6

Tetapi, sekarang, setelah Timotius datang kembali dari kamu dan membawa kabar yang menggembirakan tentang imanmu dan kasihmu, dan bahwa kamu selalu menaruh kenang-kenangan yang baik akan kami dan ingin untuk berjumpa dengan kami, seperti kami juga ingin untuk berjumpa dengan kamu,

Ayat 7

maka kami juga, Saudara-saudara, dalam segala kesusahan dan kesukaran kami menjadi terhibur oleh kamu dan oleh imanmu.

Ayat 8

Sekarang kami hidup kembali, asal saja kamu teguh berdiri di dalam Tuhan.

Ayat 9

Sebab ucapan syukur apakah yang dapat kami persembahkan kepada Allah atas segala sukacita, yang kami peroleh karena kamu, di hadapan Allah kita?

Ayat 10

Siang malam kami berdoa dengan sungguh-sungguh, supaya kita bertemu muka dengan muka dan menambahkan apa yang masih kurang pada imanmu.

Ayat 11

Kiranya Dia, allah dan Bapa kita, dan Yesus, Tuhan kita, membukakan bagi kami jalan kepadamu.

Ayat 12

Kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang, sama seperti kami juga mengasihi kamu.

Ayat 13

Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang Kudus-Nya.

 

 

VI.        Tafsiran

Ayat 1

Kalimat Jadi, karena kami tidak dapat tahan lagi apabila diubah ke dalam suatu kalimat yang komplit yang disertai sebab-akibat, yaitu dengan 1 Tesalonika 2:17-20 akan menjadi Jadi, karena kami sudah tidak tahan lagi atas kerinduan kami bertemu dengan kamu (1 Tes. 2:17). Kalimat ini menunjukkan bahwa Paulus sebagai penulis mengungkapkan perasaan mereka terhadap jemaat di Tesalonika yaitu perasaan yang sangat merindukan.[20] Jemaat di Tesalonika telah membuat hati Paulus terikat dengan mereka karena kesejahteraan yang ada pada mereka dan atas kesetiaan mereka kepada Allah (lih. 1 Tes. 2:14). Paulus tidak sabar untuk mendengar kabar dari Tesalonika tersebut sehingga ia mencari cara untuk itu.[21] Paulus merasa prihatin dan kuatir pada mereka apabila mereka tidak tahan pada cobaan yang menimpa mereka bahkan apabila mereka menolak iman dalam Yesus akibat pencobaan itu.[22] Kalimat kami mengambil keputusan, apabila kalimat ini diubah menjadi suatu kalimat yang komplit menjadi kami sudah membuat banyak pertimbangan mengenai kamu sehingga kami memutuskan. Keputusan ini adalah hasil dari suatu pertimbangan Paulus dan rekan-rekannya akan apa yang akan dilakukan dengan kerinduan dalam hatinya. Kata kami dalam surat ini adalah Paulus, Silwanus dan Timotius (lih. 1 Tes. 1:1). Sehingga muncul ungkapan mengenai apa yang telah dipertimbangkan mereka yaitu untuk tinggal seorang diri di Atena. Ungkapan tersebut dituliskan oleh Paulus untuk menunjukkan bahwa akan ada di antara mereka bertiga yang pergi di utus ke Tesalonika. Apabila ayat ini diterjemahkan ke dalam bahasa yang cukup mudah dipahami maka ayat ini menjadi karena itu kami bertiga berpikir, bahwa aku bersama Silwalus tinggal di Athena.[23]

Ayat 2

Kalimat Lalu kami mengirim Timotius adalah ungkapan Paulus berupa pernyataan atau keterangan mengenai Timotius bahwa Timotius adalah salah satu dari mereka (lih. 1 Tes. 1:1) yang disebut dengan saudara kita. Ungkapan tersebut menyatakan hubungan antara Timotius dan Paulus sangat erat. Di kitab Roma Paulus juga menyebut Timotius sebagai teman sekerja (Rm. 16:21). Ia juga kelak diutus ke Korintus (1 Kor. 4:17; bnd. Flp. 2:19) bersama menyusun surat (2 Kor. 1:1; Flp. 1:1; Kol. 1:1; 2 Tes. 1:1). Bahkan yang lebih meyakinkan lagi bagi jemaat Tesalonika adalah Paulus menyebut juga bahwa Timotius adalah rekan sekerja Allah dalam pemberitaan Injil Kristus.[24] Sebagai saudara dan rekan sekerja Allah, Timotius diutus oleh Paulus untuk menguatkan hati dan menyemangati orang-orang Tesalonika terkait iman jemaat Tesalonika untuk tetap teguh dan setia dalam cobaan yang sedang mereka alami.[25]

Ayat 3

Sejak Paulus dan rekan-rekannya berada di Tesalonika bersama jemaat Tesalonika, Paulus lebih dahulu mengatakan bahwa iman dalam Kristus akan mengalami kesusahan dan penderitaan. Kata goyah dalam konteks ini digunakan untuk menunjuk sifat, karakter atau keadaan. Dalam arti yang sama, kata ini merujuk pada peralihan kepercayaan yang akan menjadi tidak percaya lagi kepada Kristus.[26] Sehingga Paulus berkata Supaya tidak seorang pun digoyahkan. Maksud dari kata kesusahan-kesusahan dapat dilihat yaitu penindasan yang berat (1 Tes. 1:6)  dan penderitaan (1 Tes. 2:14).  Sebagai orang Kristen, Paulus mengetahui bahwa iman yang sejati adalah iman yang mampu untuk mengalami kesusahan. Orang Kristen tidak dapat menjauhi penderitaan dan kesulitan. Iman yang bertumbuh dalam Yesus akan memperoleh jaminan dalam kemuliaan yang akan datang (Kis. 14:22; Rm.8:17-18; 2 Tim. 2:12).[27] Orang Kristen ditentukan untuk itu. Itulah kenapa Paulus mengatakan Kamu sendiri tahu bahwa kita ditentukan untuk itu.

Ayat 4

Sebab, juga waktu kami bersama-sama dengan kamu, telah kami katakan kepada kamu bahwa kita akan mengalami kesusahan. Seperti yang kamu ketahui, hal itu telah terjadi.

Kata telah mengungkapkan bahwa Paulus sudah pernah memberitahukan bahwa mereka akan mengalami peristiwa yang akan membuat mereka semua kesusahan dan menderita bahkan membuat iman mereka goyah. Kata kami mengatakan Paulus, Silas dan Timotius. Sedangkan kata kita ialah Paulus, Silas, Timotius dan para jemaat Tesalonika.[28] Sekarang, apa yang sudah dikatakan oleh Paulus telah nyata bagi jemaat di Tesalonika. Jemaat di Tesalonika mengalami semua itu yang diungkapkan dalam kalimat Seperti yang kamu ketahui, hal itu telah terjadi yaitu godaan, penderitaan dan kesusahan.[29] Paulus mengajarkan apa yang menjadi teladan bagi mereka yaitu Kristus yang mati atas dosa-dosa manusia. Paulus ingin menyampaikan bahwa bukan hanya jemaat Tesalonika sendiri yang mengalami hal yang tersebut. Tetapi juga Tuhan yang disebut Kristus juga mengalami hal yang sama yaitu penderitaan.

Ayat 5

Itulah sebabnya, ketika tidak dapat tahan lagi, aku mengirim dia, supaya aku tahu tentang imanmu, karena aku khawatir kalau-kalau kamu telah dicobai oleh si penggoda dan kalau-kalau usaha kami menjadi sia-sia.

Ayat ini merupakan ungkapan Paulus bahwa ia sudah tidak sabar akan apa dan bagaimana situasi jemaat di Tesalonika. Alasan ini merupakan suatu sikap yang menunjukkan rasa kekwatiran Paulus kepada jemaat di Tesalonika sangat besar. Paulus kuatir apabila jemaat tersebut tidak dapat menghadapi godaan atau penderitaan yang datang pada mereka. Paulus tidak menginginkan mereka jatuh ke dalam dosa dan tidak ingin apa yang diusahakannya ketika ia bekerja keras dalam mendirikan jemaat itu menjadi sia-sia.[30] Kekwatiran tersebut diungkapkannya dalam kalimatnya karena aku khawatir kalau-kalau kamu telah dicobai oleh si penggoda dan kalau-kalau usaha kami menjadi sia-sia. Sebutan yang dikatakan Paulus sebagai si penggoda menunjukkan makhluk yang berusaha membuat manusia untuk melanggar kehendak Allah, yang dalam konteks ini sebutan ini ditujukan pada orang yang berusaha membuat jemaat Tesalonika untuk tidak percaya kepada Tuhan yang diberitakan oleh Paulus kepada mereka.[31] Usaha yang dimaksud Paulus dalam teks ini adalah pekerjaan-pekerjaan yang sudah Paulus dan kawan-kawan lakukan bagi mereka untuk percaya dan yakin kepada Yesus Kristus sebagai sumber satu-satunya jalan keselamatan dan hidup. Kekuatiran Paulus adalah kesia-siaan dari hari kerja kerasnya terhadap jemaat di Tesalonika dalam memberitakan kabar baik. Sia-sia yang dimaksud oleh Paulus adalah tidak berhasil, tidak berbuah, tidak berpengaruh, tidak ampuh, tidak berjalan baik dan tidak bertumbuh. Ia mengungkapkan kekwatirannya bahwa si penggoda berusaha mencobai mereka untuk mengatasi kekuatan iman mereka dengan akibat bahwa segala karyanya di antara mereka akan menjadi sia-sia.[32]

Ayat 6

Tetapi, sekarang, setelah Timotius datang kembali dari kamu dan membawa kabar yang menggembirakan tentang imanmu dan kasihmu, dan bahwa kamu selalu menaruh kenang-kenangan yang baik akan kami dan ingin untuk berjumpa dengan kami, seperti kami juga ingin untuk berjumpa dengan kamu,

Paulus dalam teks ini telah mendapatkan apa yang telah lama dirindukannya. Yaitu kabar mengenai keadaan atau situasi jemaat di Tesalonika yang dibawa oleh Timotius setelah pulang dari Tesalonika. Kata tetapi merupakan kata yang mengalihkan kondisi atau keadaan dalam keadaan gembira dimana sebelumnya Paulus memiliki rasa kuatir yang sangat besar terhadap jemaat itu (lih. 1 Tes. 3:1-5) tetapi setelah Timotius menyampaikan apa yang terjadi di Tesalonika yaitu kabar baik atau kabar yang menggembirakan dari jemaat itu, Paulus senang terhadap iman dan kasih yang ada pada jemaat itu.[33] Hal yang menggembirakan adalah iman dan kasih jemaat itu tidak goyah dalam godaan dan penderitaan yang mereka hadapi dan mereka tetap setia kepada Kristus. Jemaat Tesalonika membuat pengalaman bertemu atau moment pertemuan yang telah mereka alami bersama-sama dengan Paulus dan rekan-rekannya tidak dilupakan. Mereka menjadikan moment tersebut sebagai kenang-kenangan. Mereka mengingat Paulus dan rekan-rekannya sebagai guru mereka.[34] Iman dan kasih yang ditaburkan Paulus kepada mereka tidak goyah. Jemaat dan tim Paulus saling merindukan yang tampak dalam ungkapan ingin untuk berjumpa dengan kami, seperti kami juga ingin untuk berjumpa dengan kamu. Hal ini menjadi suatu penghiburan bagi Paulus atas rasa kekwatirannya yang lama tinggal dalam hatinya mengenai mereka.[35]

 

Ayat 7

maka kami juga, Saudara-saudara, dalam segala kesusahan dan kesukaran kami menjadi terhibur oleh kamu dan oleh imanmu.

Kalimat ini mengungkapkan bahwa Paulus sudah tidak merasa kuatir lagi terhadap mereka. iman mereka kepada Tuhan dan kasih yang ada pada mereka tetapi nyata baik kepada Paulus dan rekan-rekannya dan sesama mereka. Keadaan itu sangat membanggakan bagi hati Paulus sekaligus menjadi suatu penghiburan dan kekuatan bagi Paulus untuk tetap semangat dalam memberitakan Injil.[36]

Ayat 8

Sekarang kami hidup kembali, asal saja kamu teguh berdiri di dalam Tuhan.

Kalimat ini merupakan ungkapan atau bentuk kegembiraan Paulus dengan mengatakan hidup kembali atas kesetiaan jemaat Tesalonika terhadap Kristus. Apabila jemaat Tesalonika gagal dalam mempertahankan iman mereka, kemungkinan Paulus akan mengalami kemarahan terhadap dirinya, kesusahan, merasa gagal dan merasa tidak layak lagi dalam pekerjaannya.  Namun, karena Injil mereka menunjukkan hidup yang layak sebagai orang beriman, Paulus pun bersukacita dalam ungkapannya hidup kembali.[37] Paulus merasa kembali menjadi dirinya sendiri sejak sukacita itu. Kalimat berdiri di dalam Tuhan mengungkapkan bahwa orang Kristen adalah milik Kristus dan harus atau hanya hidup oleh Kristus.[38]

Ayat 9

Sebab ucapan syukur apakah yang dapat kami persembahkan kepada Allah atas segala sukacita, yang kami peroleh karena kamu, di hadapan Allah kita?

Dalam kalimat ini, Paulus menunjukkan betapa bergembiranya ia mendapat kabar dari Tesalonika itu. Ia tidak dapat lagi mau mengekspresikan rasa kegembiraannya dan rasa syukurnya kepada Allah. Ia merasa ucapan syukur tidak cukup untuk ia sampaikan kepada Allah. Rasa sukacita yang diberikan oleh Timotius kepadanya atas kesetiaan Tesalonika membuatnya berterima kasih kepada Allah atas pertolongannya.[39] Tidak ada ucapan terima kasih yang cukup besar dibandingkan dengan besarnya sukacita luar biasa yang dilimpahkan kepadanya.[40] Kalimat di hadapan Allah menyatakan tindakan yang biasanya dalam hal ini dapat dikatakan berdoa yang merupakan hubungan yang dilakukan manusia dengan Allah.[41]

Ayat 10

Siang malam kami berdoa dengan sungguh-sungguh, supaya kita bertemu muka dengan muka dan menambahkan apa yang masih kurang pada imanmu.

Dalam ayat ini, Paulus mengungkapkan apa yang ia harapkan untuk dilakukannya ke jemaat di Tesalonika di kemudian hari. Ia berdoa setiap waktu yang di ungkapkannya pada kalimat siang dan malam supaya kiranya apa yang dia harapkan yaitu bertemu langsung dengan jemaat di Tesalonika muka dengan muka benar-benar nyata. Dalam doa Paulus, ada dua permohonan yang ia sampaikan kepada Tuhan, yaitu pertama agar Tuhan memberikannya kesempatan untuk bertemu dengan jemaat di Tesalonika. Kedua, permohonan supaya Tuhan berkenan untuk mengasihi dan membimbing jemaat Tesalonika. Iman yang ada pada jemaat di Tesalonika masih muda. Paulus berpikir bahwa tidak cukup hanya melalui perantara atau surat dalam membimbing dan mengembangkan iman mereka. Tetapi, Paulus merasa perlu untuk melihat secara langsung supaya ketika ia datang ke sana dan bersekutu kembali dengan mereka, supaya Paulus tahu apa yang menjadi kekurangan atau kelemahan iman jemaat Tesalonika tersebut. Sehingga apabila Paulus bersekutu kembali di sana, ia akan mengajar dan menambahkan iman jemaat itu supaya tambah kuat. Karena menurut Paulus, apabila terjadi cobaan yang lebih kuat datang lagi atas mereka, kemungkinan iman jemaat itu sudah kokoh dan berakar di dalam hati mereka sehingga mereka memiliki dasar dan iman yang kuat untuk melawan para penggoda dan penganiaya tersebut dan untuk supaya mereka tetap setia kepada Kristus.[42]

Ayat 11

Kiranya Dia, Allah dan Bapa kita, dan Yesus, Tuhan kita, membukakan bagi kami jalan kepadamu.

Paulus dalam doanya yakin bahwa segala permintaan yang disampaikan kepada Kristus Tuhan akan dikabulkan. Ia berdoa, supaya Allah saja yang memberikan dia kesempatan untuk bertemu dengan jemaat Tesalonika. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Paulus menyebut tiga subjek yaitu Allah, Bapa dan Yesus. Dalam Bahasa Yunani kalimat ini dapat terjadi ketika tiga subjek itu saling berkaitan yaitu berkaitan dalam tindakan dan perbuatan. Doa ini memperlihatkan bahwa Paulus ingin sekali untuk mengembangkan dan menambahkan iman jemaat di Tesalonika supaya iman jemaat tersebut bertumbuh dan berakar dengan kuat supaya Ketika pencobaan datang dan juga dengan penganiayaan, mereka tetap setia kepada iman yang mereka miliki yaitu Kristus sebagai Juruselamat dan satu-satunya jalan keselamatan dan hidup.[43] Dalam kalimat kiranya Dia yang menunjuk Allah membukakan jalan menjelaskan bahwa Paulus sangat berharap dan sungguh-sungguh dengan doa yang ia panjatkan supaya Tuhan membukakan jalan baginya untuk pergi ke Tesalonika.[44]

Ayat 12

Kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang, sama seperti kami juga mengasihi kamu.

Paulus juga dalam ayat ini memberikan pengharapan bahwa Tuhan juga akan membimbing dan melindungi jemaat dan mereka (Paulus) saling mengasihi untuk semua orang tidak pada orang tertentu. Seperti kami yang dimaksud adalah Paulus dan rekan-rekan mengasihi kamu yang menyebut jemaat Tesalonika.[45] Ungkapan berkelimpahan dalam kasih menyatakan bahwa keharusan dalam menambah rasa kasih adalah tujuan umat Kristen. Orang Kristen harus saling mengasihi satu sama lain.[46] Kasih yang dimaksud adalah bukan untuk orang-orang sesama Kristen saja, tetapi kasih yang universal untuk semua orang, seperti kasih Allah yang telah lebih dahulu mengasihi manusia (1 Yoh. 4:19).

Ayat 13

Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya

Dalam ayat ini, Paulus berdoa untuk jemaat Tesalonika. Ia berharap pada Allah yang akan memberikan mereka kekuatan dan kesetiaan dalam iman mereka dan agar tetap kudus. Menguatkan hatimu tidak mengartikan bahwa menguatkan perasaan saja, tetapi menguatkan hati, seluruh batin, iman, pendirian orang-orang percaya di Tesalonika agar tidak goyah dan setia pada cobaan-cobaan yang akan datang.[47] Sebagai orang-orang Kristen, kita menjadi orang kudus ketika kita menerima keselamatan. Maka ketika orang percaya melakukan apa yang menjadi iman dan kebenaran, maka disaat itu pulalah Roh Kudus menempati dan tinggal dalam kita.[48] Hari kedatangan Yesus kedua kalinya untuk mengangkat orang-orang kudus. Yang menjadi target dalam doa Paulus adalah supaya kebenaran Allah dalam Kristus tinggal di dalam jemaat Tesalonika. Sehingga jemaat Tesalonika akan kudus dan tidak bercacat di hadapan Allah sehingga dengan begitu, jemaat akan siap atas kedatangan sang raja Mulia. Kalimat Tak bercacat dan kudus atau jika diubah ke dalam bahasa yang lebih sederhana adalah suci tak bercela adalah kalimat yang saling melengkapi. Kata kudus untuk bekerja bersama Allah dan untuk Allah.

 

VII.     Pokok-pokok Teologi

Adapun pokok-pokok teologi yang dapat ditemukan dalam tafsiran adalah:

1.      Iman yang menyelamatkan

2.      Allah sumber keselamatan dan hidup

 

VIII.  Skopus

Saling mengasihi sesama manusia dan saling menguatkan dalam iman percaya dalam Kristus mendatangkan sukacita, keselamatan dari maut dan hidup kekal bagi semua orang yang percaya dan yang berpengharapan kepada-Nya yaitu Kristus Yesus.

 

IX.        Refleksi Teologi

Terang tidaklah sulit untuk menerangi kegelapan. Begitulah seharusnya iman yang ada pada kita yaitu sebagai terang bagi kegelapan. Istilah kegelapan sering digunakan untuk mengungkapkan hal-hal yang berbaur dosa,  misalnya perzinahan, pencurian, pembunuhan, penyembahan berhala dan lain sebagainya. Kenikmatan daging membawa diri manusia dari terang ke dalam kegelapan. Banyak kegelapan yang harus di terangi sehingga orang-orang Kristen diharuskan untuk itu semua. Begitulah pekerjaan Paulus di jemaat Tesalonika untuk menerangi kegelapan dan singgah di dalam kegelapan itu untuk menciptakan terang di tengah-tengah mereka. Iman yang ada pada Paulus adalah iman yang menyelamatkan. Keselamatan yang ada Paulus bukanlah untuk keselamatannya sendiri. Tetapi, Allah ingin semua orang diselamatkan dan menjadi milik Allah.

Kebutuhan-kebutuhan untuk bertahan hidup menjadi suatu hal yang dapat menggoyahkan iman kita, terutama ketika kita mengalami yang namanya kelaparan salah satu hal yang paling umum dirasakan oleh semua orang. Kenyang adalah salah satu hal yang menjadi kebutuhan daging. Dengan kelaparan, seseorang akan mencari cara untuk menjadi kenyang atau untuk memperoleh makanan untuk dia makan. Ada banyak cara untuk memperoleh makanan yaitu dengan cara yang baik dan dengan cara yang tidak baik. Ketika perut kita sudah tidak mendapat makanan lagi, perut kita akan memaksa kita untuk memperolehnya. Hal inilah yang membuat seseorang melakukan kejahatan dan jatuh ke dalam kegelapan. Seseorang dipaksa oleh daging untuk makan dan makan sehingga terjadilah pencurian.

Sebagai orang-orang Kristen yang bersekutu yang memiliki satu persekutuan di dalam Kristus, Paulus menekankan bahwa orang-orang percaya harus hidup saling mengasihi, saling memperhatikan dan saling mencukupi. Orang-orang Kristen harus saling mengkawatirkan dan saling menjaga. Hal ini dikatakan oleh Paulus karena Paulus tahu bahwa godaan tidak hanya berasal dari orang lain saja, tetapi dari tubuh pun terjadi pencobaan. Kelaparan, ketidakberdayaan dapat diselesaikan dengan kasih. Orang-orang Kristen harus mengasihi orang lain. Karena Allah sudah lebih dahulu mengasihi kita (1 Yoh. 4:19). Dengan begitu kelaparan dan tidakberdayaan atau kemiskinan dapat dikalahkan oleh iman dan kasih.

Orang-orang Kristen yang disebut sebagai orang-orang kepunyaan Allah tidak seharusnya memiliki ketakutan lagi dalam diri kita. Sebab semuanya itu akan dikuatkan dan akan dibimbing oleh Allah. Orang-orang Kristen tidak takut terhadap kelaparan, tidak takut terhadap pencobaan, tidak takut kepada kematian. Karena semua itu sudah dikalahkan lebih dahulu oleh Kristus yang juruslamat. Paulus menekankan bahwa apabila ketakutan terjadi, berdoa adalah satu-satunya cara untuk lepas dari ketakutan. Meminta agar Tuhan memberikan kekuatan dan meminta supaya Tuhan menjauhkan itu dari atas kita. Perlindungan di dalam Tuhan adalah perlindungan yang paling kuat dari segala perlindungan yang ada di bumi. 

Pertolongan di dalam Tuhan adalah pertolongan yang sejati. Perbuatan yang baik akan diberikan upah yang setimpal. dan semua itu akan diperoleh ketika kita mencari dahulu kerajaan Allah (Mat. 6:33).

 

X.           Kesimpulan

Tafsiran menggunakan Kritik Kanonikal adalah tafsiran yang memandang bahwa seluruh kitab mulai dari Perjanjian Lama hingga pada Perjanjian Baru adalah satu kesatuan yang saling berkaitan dan melengkapi. Seluruh kitab memiliki jawaban atas pertanyaan dalam kitab lain. Dengan menggunakan Kritik Kanonikal, kitab Tesalonika dapat berhubungan dengan kitab Perjanjian Lama yaitu mengenai Allah yang telah mengasihi bangsa-Nya dan membawa bangsa-Nya keluar dari perbudakan. Cerita yang berbeda tetapi miliki maksud yang sama dapat memberikan pemahaman mengenai kitab akan lebih jelas.

Dalam kitab 1 Tesalonika 3:1-13, Paulus bersukacita karena kabar mengenai jemaat Tesalonika adalah kabar yang sungguh baik. Jemaat di Tesalonika tetap setia kepada Allah dan mengasihi Paulus dan rekan-rekannya yaitu Silas dan Timotius. Hidup di dalam Allah memberikan kelegaan dan sukacita yang besar. Ayat tersebut memberikan pemahaman bahwa dalam kasih Allah semua akan memperoleh keselamatan. Saling mengasihi dan saling menguatkan akan mendatangkan sukacita dan keselamatan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Bergant, Dianne. dkk, Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. Yogyakarta: KANISIUS, 2002.

Brotosudarmo, Drie S. Pengantar Perjanjian Baru: Memahami Penulis Tahun Penulisan Maksud dan Tujuan Masing-masing Kitab Dalam Perjanjian Baru. Yogyakarta: ANDI, 2017.

Drane, John. Memahami Perjanjian Baru. Jakarta: BPK-GM,2003.

Drewes, B.F. Tafsir Alkitab Kontekstual-Oikumenis: Surat 1-2 Tesalonika. Jakarta: BPK-GM, 2019.

Duyverman, M. E. Pembimbing Dalam Perjanjian Baru. Jakarta: BPK-GM, 2009.

Jhon H, & Carl, Hollady, Pedoman Menafsir. Jakarta: BPK-GM, 2005.

John  H. & Carl, R. Holladay. Bilblical Exegesis. Atlanta: John Knox Press, 1982.

Kepausan, Komisi Kitab Suci. Penafsiran Alkitab di dalam Gereja. Yogyakarta: Kanisius, 2011.

Krasovec, Jose. Reward, Punishment, and Forgiveness: The Thingking and Belifs of Ancient Israel in Light of Greek and Modern Views. Leiden: Brill, 1999.

Marxsen, Willi. Pengantar Perjanjian Baru: Pendekatan Kritis terhadap Masalah-masalahnya. Jakarta: BPK-GM, 2020.

Sitompul, A.A. & Beyer, Ulrich. Metode Penafsir Kitab. Jakarta: BPK GM, 2006.

Sutabta, Hasan, Hermeneutika. Malang: Literatur Saat, 2007.

Suyoto, Fien. Kupasan Firman Allah: Surat 1 dan 2 Tesalonika. Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 2004.

Tambur. Kareasi H., dkk, Pedoman Penafsiran Alkitab: Surat-surat Paulus kepada Jemaat di Tesalonika. Jakarta: LAI, 2001.

Tenney, Merrill C. Surver Perjanjian Baru. Malang: Gandum Mas, 2006.

 



[1] M. E. Duyverman, Pembimbing Dalam Perjanjian Baru (Jakarta: BPK-GM, 2009), 225.

[2] H. John & R. Holladay Carl, Bilblical Exegesis (Atlanta: John Knox Press, 1982), 154-156.

[3] A.A. Sitompul & Ulrich Beyer, Metode Penafsir Kitab (Jakarta: BPK GM, 2006), 214.

[4] Hasan Sutabta, Hermeneutika (Malang: Literatur Saat, 2007), 204.

[5] Jose Krasovec, Reward, Punishment, and Forgiveness: The Thingking and Belifs of Ancient Israel in Light of Greek and Modern Views (Leiden: Brill, 1999), 8-10.

[6] Komisi Kitab Suci Kepausan, Penafsiran Alkitab di dalam Gereja (Yogyakarta: Kanisius, 2011), 65-66.

[7] Jhon H, & Carl, Hollady, Pedoman Menafsir (Jakarta: BPK-GM, 2005), 150.

[8] Drie S. Brotosudarmo, Pengantar Perjanjian Baru: Memahami Penulis Tahun Penulisan Maksud dan Tujuan Masing-masing Kitab Dalam Perjanjian Baru (Yogyakarta: ANDI, 2017), 234.

[9] John Drane, Memahani Perjanjian Baru (Jakarta: Gunung Mulia, 2003), 336.

[10] Ibid, 336.

[11] M.E. Duyverman, Op.cit, 147.

[12] Ibid, 147.

[13] Drie S. Brotosudarmo, Op.cit, 236.

[14] Ibid, 236.

[15] Merrill C. Tenney, Surver Perjanjian Baru (Malang: Gandum Mas, 2006), 348-349.

[16] Ibid, 59.

[17] Ibid, 60.

[18] Drie S. Brotosudarmo, Pengantar Perjanjian Baru: Memahami Penulis Tahun Penulisan Maksud dan Tujuan Masing-masing Kitab Dalam Perjanjian Baru (Yogyakarta: ANDI, 2017), 234.

[19] Willi Marxsen, Pengantar Perjanjian Baru: Pendekatan Kritis terhadap Masalah-masalahnya (Jakarta: BPK-GM, 2020), 32-34.

[20] Kareasi H. Tambur, dkk, Pedoman Penafsiran Alkitab: Surat-surat Paulus kepada Jemaat di Tesalonika (Jakarta: LAI, 2001), 37.

[21] Dianne Bergant, dkk, Tafsir Alkitab Perjanjian Baru (Yogyakarta: KANISIUS, 2002), 374.

[22] Fien Suyoto, Kupasan Firman Allah: Surat 1 dan 2 Tesalonika (Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 2004), 55.

[23] Kareasi H. Tambur, Op.cit, 37.

[24] B.F. Drewes, Tafsir Alkitab Kontekstual-Oikumenis: Surat 1-2 Tesalonika (Jakarta: BPK-GM, 2019), 67.

[25] Dianne Bergant, Op.cit, 375.

[26] Kareasi H. Tambur, Op.cit, 38.

[27] Fien Suyoto, Op.cit, 56.

[28] Kareasi H. Tambur, Op.cit, 39.

[29] Dianne Bergant,  Op.cit, 375.

[31] Kareasi H. Tambur, Op.cit, 40.

[32] Dianne Bergant, Op.cit, 375.

[33] Kareasi H. Tambur, Op.cit, 41.

[34] B.F. Drewes,Op.cit, 70.

[35] Fien Suyoto, Op.cit, 57-58.

[36] Ibid, 57-58.

[37] Ibid, 57-58.

[38] Kareasi H. Tambur, Op.cit, 43.

[39] Ibid.

[40] F. Drewes, Op.cit, 71.

[41] Kareasi H. Tambur, Op.cit, 44.

[42] Ibid. 45.

[43] Fien Suyoto, Op.cit, 57-59.

[44] Kareasi H. Tambur, Op.cit, 46.

[45] Fien Suyoto, Op.cit, 57-59.

[46] Kareasi H. Tambur, Op.cit, 46.

[47] Ibid, 47.

[48] Fien Suyoto, Op.cit, 57-60.

Comments

Popular posts from this blog

Teologi PL: ARTI DAN MAKNA FORMULASI BERKAT MENURUT KITAB BILANGAN