PENCIPTAAN 1. Penciptaan Alam Semesta
PENCIPTAAN
1.
Penciptaan Alam Semesta
Menurut KBBI, arti kata penciptaan
adalah proses, cara, perbuatan. Penciptaan merupakan proses dalam pembuatan
suatu hal baru yang sebelumnya belum pernah ada ataupun yang sudah ada namun
dibuat dengan inovasi lebih baru.[1]
Dalam bahasa Ibrani “Bara” biasa diterjemahkan “menjadikan”
atau “menciptakan”. Tetapi, kata ini dalam Perjanjian Lama di pergunakan untuk
sesuatu yang dikerjakan oleh Allah. Jadi tidak mungkin bisa diperbandingkan
dari segi manapun dengan apa yang dibuat oleh manusia dengan Allah. Kata “bara”
langit dan bumi: itu tidak dapat kita terangkan begitu saja seperti kata
menjadikan, mengadakan, membuat, membikin atau menciptakan. Dengan kata lain,
istilah “bara” sama sekali tidak menjelaskan cara terjadinya dunia.[2]
Istilah “Penciptaan” dalam Alkitab
mengandung dua arti yaitu penciptaan langsung dan tidak langsung. Penciptaan
langsung adalah tindakan bebas Allah Tritunggal
untuk menciptakan segala sesuai Allah untuk kemuliaan-Nya tanpa memakai
dari yang ada sebelum dunia diciptakan. Sedangkan penciptaan tidak langsung
merupakan tindakan- tindakan dari yang sudah ada “ex nihilo” artinya
tindakan-tindakan ini Allah membentuk menyesuaikan menggabungkan atau mengubah
bahan-bahan yang sudah ada.[3]
Semua diciptakan Allah dalam enam hari dan diciptakan kira-kira 4000
tahun sebelum kedatangan Kristus dan mengenai bentuk dan susunan alam semesta,
orang zaman dahulu beranggapan dan berpatokan pada gambar atau isi yang ada
dalam Alkitab : segala-galanya berputar di sekitar bumi yang merupakan dataran
rata dan bertumpu pada tiangnya (Mzm 754:4) di bawahnya terdapat samudera raya
dan di atasnya Surga dan langit yang berbentuk kubah.
Para ahli umumnya berpendapat, bahwa dalam Alkitab tidak kita temui
ajaran tentang "creatio ex nihilo” ( menciptakan dari yang tidak
ada). Bumi belum berbentuk dan kosong: gelap gulita menutupi samudera raya
tetapi Roh Allah melayang-melayang di atas permukaan air. Para ahli teologi
tentang kuasa Allah berpendapat, bahwa Allah telah menciptakan langit dan bumi
dari yang tidak ada. Hal ini mereka dasarkan dari Roma 4:17 dan Ibrani 11.13.
Allah memiliki alasan dalam melakukan penciptaan alam semesta yaitu, yang
pertama Allah merumuskan tujuan dan ketetapannya untuk mempertunjukkan
kemuliaan-Nya. Yang kedua untuk menerima
kemuliaa-Nya karena merupakan hasil karya Allah Setelah Allah menunjukkan
Kemuliaan maka Allah menerima Kemuliaan dengar arti lain kita harus memuliakan
nama Tuhan.
1.1. Ada dua versi penciptaan dalam Alkitab yaitu:
a. Priester (P) dalam Kejadian
1:1-24a
Sumber P di mulai dengan cerita sejarah kejadian mula
dan sejarah purbakala. Di situ diceritakan tahap-tahap kejadian alam semesta
dan isinya, yang semuanya terjadi karena firman Allah yang berkuasa.
Kejadian-mula itu mencapai puncaknya dengan diciptakannya manusia laki-laki dan
perempuan sekaligus. Allah menjadikan
langit dan bumi dalam jangka enam hari, hari pertama: terang; hari kedua:
cakrawala; hari ketiga: laut darat dan tumbuh-tumbuhan; hari ketiga: matahari,
bulan dan bintang-bintang hari kelima ikan-ikan, dan burung-burung; hari
keenam: binatang-binatang di darat dan manusia. Tentang manusia disebut bahwa
Allah menjadikan manusia menurut gambar dan rupa-Nya; dan menjadikan mereka
sebagai laki-laki dan perempuan.
b. Yahwist (Y) dalam Kejadian
2:4b-25
Sumber Y merupakan cerita yang
tertua dalam Pentatehukh, yaswith ini berasal dari Selatan (Yehuda) pada tahun
950SM. Sama seperti sumber cerita pada Priester P, Sumber ini menceritakan
kejadian mula alam semesta (Kej 2:4b-25) dan jatuhnya manusia ke dalam dosa
(Kej 3). Penulis sumber Yahwist berusaha menonjolkan beberapa tujuan theologis.
Pertama-tama penulis menekankan Tuhan adalah Pencipta dan Tuhan atas dunia dan
manusia serta bangsa-bangsa di bumi.[4]
Cerita sumber tentang penciptaan langit
dan bumi menurut versi Y Allah menjadikan manusia lebih dahulu, yaitu Adam,
lalu menyusul tumbuh-tumbuhan dan binatang binatang Akhirnya Allah menjadikan
"Hawa" dari tulang rusuk Adam sebagai isteri bagi Adam dan
menyebutnya Hawa, “manusia perempuan” Menurut versi ini, keduanya bertelanjang,
tetapi tidak merasa malu. Allah membuat bagi mereka taman Eden dan menempatkan
manusia di dalam taman itu dengan tugas untuk "mengusahakan dan
memeliharanya.[5]
Adapun hubungan antara sumber P
dan Y pada versi pertama ada penciptaan, pada versi kedua juga menceritakan
penciptaan, namun mengapa dibedakan menjadi dua versi sementara sama-sama
membahas tentang penciptaan. Versi pertama
merupakan puncaknya artinya puncak dari semua cerita penciptaan
sedangkan yang kedua adalah proses penciptaan. Jadi hubungannya harus diartikan
hubungan penjabaran, yakni versi pertama adalah penjabaran versi kedua. Bisa
juga diumpamakan seperti anggaran dasar dengan anggaran rumah tangga, anggaran
dasar dijelaskan dalam anggaran rumah tangga jadi kesatuan yang utuh. Kedua memang berhubungan menjadi satu
kesatuan yang utuh.
1.2. Dasar Penciptaan
Dunia diciptakan oleh Tuhan Allah hanya dapat diyakini
dalam iman namun tidak ada seorang pun yang dapat membuktikannnya. Pada mulanya
Allah menciptakan langit dan bumi (kej 1:1). Dalam PL dipakai hanya bagi suatu
tindakan yang dilakukan Allah yang ingin dinyatakan atau diungkapkan dengaan
kata tersebut ialah sifat penciptaan itu yang sama sekali susah dan
konsepsi suatu creatio yang terjadi dari
ketiadaan (creatio ex nihilo), sebab kata bara itu tidak pernah terhubung
dengan keterangan akan bahan-bahan tertentu. Allah adalah "pencipta",
bukan "pejuang" yang harus bekerja keras untuk membentuk kosmos dari
khaos yang sudah ditemukan dan bukan suatu "Sumber benih" yang
hasilnya (emanasi) adalah dunia. Dalam perjanjian Baru Yesus juga dimengerti
sebagai Pencipta dunia (1Kor 8:6;Kol 1:16; Yoh 1:3) namun Penciptaan dan
penebusan atau penyelamatan harus dapat dibedakan. Menurut Karl Bart, dasar penciptaan adalah
hasil dari karya Tuhan Allah yang bermaksud untuk menyelamatkan manusia di
dalam Kristus. Agar supaya maksud penyelamatan terlaksana, maka terlebih dahulu
Tuhan Allah harus menjadikan dunia sebagai ruang atau tempat dimana keselamatan
di dalam Kristus dapat terjadi. Jadi penciptaan adalah suatu keharusan Tuhan
Allah harus menciptakan, jadi mungkin Kristus dilahirkan dan disalibkan Tuhan
agar terpenuhi janji Allah . Allah harus menciptakan alam semesta, agar supaya
alam semesta dapat memberi tempat bagi perjanjian kasih karunia Allah dan untuk
Kemuliaan-Nya.
1.3. Urutan Penciptaan
Menurut Alkitab ada tiga tahap penciptaan, yaitu pada
mulanya, enam hari dan hari ketujuh.
Ada 3 masalah di bumi
1. Bumi belum berbentuk dan kosong
2. Gelap gulita menutupi samudera raya ( Bumi berbentuk bulat dipenuhi
dengan air)
3. Roh Allah melayang-layang diatas permukaan air
A. Pada Mulanya ( Kej 1:1)
Ditulis pada mulanya adalah Allah menciptakan langit
dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong dan Roh Allah melayang-layang diatas
permukaan air.
B. Enam hari penciptaan
- Hari pertama (Kej 1:3) Tuhan Allah menjadikan terang Yang dimaksud
dengan terang di sini bukan terang ilahi. Yang dimaksud ialah terang yang
biasa, hasil penciptaan Tuhan Allah yang pertama, tidak lain karena terang itu
adalah syarat mutlak bagi segala yang hidup. Terang kehidupan dimulai karena
yang membantu membuka penciptaan adalah terang
- Hari kedua (Kej 1:6-8) Tuhan Allah menjadikan cakrawala, yang
memisahkan air yang di bawah cakrawala dari air yang di atas cakrawala itu.
Dalam gambaran bumi ini dikelilingi oleh air di segala penjuru alam, di kanan
dan di kiri, di depan dan di belakang, di atas dan di bawah. Cakrawala
memisahkan di atas dan di bawah air di atas di bawah.
- Hari ketiga Tuhan Allah memisahkan air yang di bawah langit
daripada daratan. Selanjutnya Allah menjadikan tumbuh-tumbuhan, yaitu segala
jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis yang menghasilkan buah yang
berbiji. Dibentuk laut dan darat pada hari ketiga dan diperintahkannya daratan
untuk menumbuhkan tumbuhan. (Kej 1:9-12), Allah menamai cakrawala itu langit.
- Hari keempat (Kej 1:14-16) Tuhan Allah menjadikan matahari, bulan,
dan bintang-bintang untuk memisahkan siang dari malam, dan menjadi tanda yang
menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun. Allah
menciptakan matahari. Bumi mengelilingi matahari ada mulanya waktu siang dan
malam atau gelap dan terang.
- Hari yang kelima (Kej 1:20)
Tuhan Allah menjadikan binatang-binatang yang mendiami air, angkasa, dan
daratan.
- Pada hari yang keenam (Kej 1:26-27) Tuhan Allah menjadikan manusia
sebagai makhluk yang tertinggi. Maka segala karya penciptaan Tuhan Allah dalam
Kejadian 1 digambarkan sebagai puncak pada penjadian manusia Penjadian
makhluk-makhluk lainnya digambarkan sebagai karya persiapan, yaitu persiapan
bagi kehidupan manusia. Segala makhluk lainnya, kecuali diberi tempat mereka
masing-masing, juga diberi tugas yang berhubungan erat sekali dengan kehidupan
manusia air dipisahkan dan dibendung, agar supaya bumi dapat didiami manusia.
Tumbuh-tumbuhan tumbuh di dalam dunia untuk diberikan kepada manusia (Kej
1:29). Demikian juga halnya dengan binatang-binatang. Mereka dijadikan juga
agar supaya manusia dapat menguasainya (Kej 1:26).
Dari penciptaan ini kita mengetahui
bagaimana urutan penciptaan, dari penciptaan tumbuh-tumbuhan dan benda-benda
penerang, dalam biologi tumbuhan memperoleh makanan dari fotosintesis dari
matahari. Matahari dan bulan yang mengatur peredaran waktu, mengapa pada hari
pertama sudah ada jadilah pagi dan petang? Dan jadilah terang? Bukankah pagi
dan petang merupakan terbit dan tenggelamnya matahari? Jadi Dari urutan
penciptaan itu bukan matahari jadi awal waktu dalam kehidupan tetapi ketika
Allah berfirman: jadilah terang maka itulah permulaan dari waktu kehidupan dan
kehidupan dimulai di bumi dan sumber waktu dan kehidupan sesungguhnya bukan
terang melainkan bersumber dari yang menjadikan terang itu yaitu Firman Allah
yang hidup (Yoh. 1:9).
C. Hari Ketujuh
Hari yang ke tujuh pasal 2:2-3 menjelaskan tentang
berhenti dan memberkati. Berhenti bukan beristirahat, namun menguduskan,
melihat, memelihara, memerintah dan memberkati ciptaan-Nya itu supaya berjalan
delam keteraturan sesuai dengan yang dikehendaki-Nya. Jadi seluruh ciptaan
harus berjalan dalam kehendak-Nya. . Pada hari ketujuh Allah berhenti melakukan
pernciptaan, tetapi tidak beristirahat. Allah memberkati, menguduskan “Beranak
cuculah dan bertambah banyak” (Kej 1:28). Diberkati maksudnya dimulai proses,
menguduskan maksudnya khusus artinya bekerja berperan sebagai tugasnya.
1.4. Hasil Penciptaan
Hasil penciptaan dalam 6 hari oleh penulis Kej.1
terdapat 8 buah hasil karya penciptaan, yaitu:
1. Terang
2. Cakrawala
3. Daratan/lautan
4. Tumbuhan
5. Matahari, bulan, dan
bintang
6. Burung dan ikan
7. Binatang didaratan
8. Manusia
Penciptaan dalam Kejadian 1 disebar demikian rupa
bahwa ada hubungan atau persesuaian di antara hari pertama dan hari keempat
(terang dan yang memiliki terang), hari kedua dan hari kelima (cakrawala yang
memisahkan air di bewah dan air di atas dan para penghuni langit dan lautan),
hari ketiga dengan hari keenam (daratan dan tumbuh-tumbuhan serta binatang
daratan dan manusia). Selain daripada itu perlu diketahui juga, bahwa karya
Tuhan Allah di dalam tiga sekawan yang pertama saling berhubungan dengan erat
sekali. Semua karya Tuhan Allah di sini mewujudkan pemisahan, yaitu pemisahan
terang dari pada gelap, pemisahan air yang di atas daripada air yang di bawah
dan pemisahan daratan daripada lautan.
2.
Penciptaan Manusia
2.1. Siapakah Manusia itu?
Penciptaan manusia yang di dalam
alkitab kita perhatikan ada keistimewaan dalam manusia yang bukan berarti
harkat/martabat. Tapi keistimewaan itu Allah menjadikan manusia sebagai
hamba-Nya, Ia memberikan tugas atau mandat serta tanggung jawab. Dalam Kejadian
1:26 disebutkan bahwa “berfirmanlah Allah baiklah Kita menjadikan..” ayat ini
berarti adanya suatu perencanaan. Siapakah Kita? Surga ternyata bukan tempat
yang sunyi, sepi surga itu ramai, meriah sekali. Banyak malaikat-malaikat di
surga (Luk. 2:15) turun bala surga, mereka bernyanyi berpaduan suara. Jadi
Allah ingin memberitahukan bahwa Allah ingin menciptakan manusia kepada makhluk
surgawi yang ditempatkan di bumi. Jadi manusia asal-usulnya dari Surga.[6]
Tuhan Allah menciptakan manusia
pada hari yang ke-6, dan Tuhan Allah memberkati serta memberi kuasa pada
manusia; Tuhan Allah membentuk manusia dari debu tanah; Tuhan Allah
menghembuskan nafas hidup ke dalam hidung manusia sehingga manusia menjadi
makhluk yang hidup. Makna teologis dari cerita penciptaan manusia menurut
ajaran Alkitab, adalah: Manusia bukanlah Allah dan manusia beda sekali dengan
Allah; Manusia hanyalah ciptaan Allah, sedangkan Allah adalah sang penciptanya,
sebab itu manusia tidak mengadakan dirinya sendiri; Manusia adalah makhluk
ciptaan Allah yang bergantung sepenuhnya hanya kepada Allah; Manusia diciptakan
Allah sebagai makhluk yang hidup dan memberi kepadanya kuasa atas segala
ciptaan Allah lainnya. Jelas alkitab memberikan pemahaman bahwa manusia adalah
makhluk ciptaan Tuhan Allah, manusia tidak sederajat dengan Allah. Walaupun
status manusia lebih rendah dari Allah, tetapi kepada manusia Allah telah
menganugerahkan kuasa atas hidupnya dan kuasa atas hidupnya dan memberkati
kehidupannya. Akan tetapi, manusia bukan sekedar sebuah ciptaan; ia juga adalah
satu pribadi. Menjadi satu pribadi berarti memiliki suatu bentuk kemandirian
bukan mutlak tetapi relatif. Menjadi satu pribadi berarti mampu membuat
keputusan, menetapkan tujuan, dan bergerak ke arah tujuan-tujuan itu. Berarti
memiliki kebebasan setidaknya dalam arti ia mampu membuat pilihan-pilihannya
sendiri. Singkatnya, manusia adalah satu ciptaan sekaligus satu pribadi; ia
adalah pribadi yang diciptakan. Menjadi ciptaan berarti bergantung sepenuhnya
kepada Allah; menjadi pribadi berarti memiliki kemandirian yang relatif.
Tujuan manusia diciptakan yaitu
tugas dan tanggung jawab dalam Kejadian 1:26, 28 dikatakan berkuasa dan
Kejadian 2:5,15 yaitu menguasai dan memelihara. Untuk melakukan semua itu butuh
alat karya roh kudus (Kis. 1:8). Dalam hal ingin mencapai tujuan tersebat tentu
ada alat kerja yang dibutuhkan Kejadian
2:7 menyatakan bahwa Allah menghembuskan nafas hidup ke dalam hidung manusia
dalam bahasa Ibrani “Nefes”. Nafas hidup yang dimaksud ialah roh Allah
(Kis. 2:7).
Kejadian 1:26 berbunyi “baiklah
kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita”. Menurut dari kata dasar “turut” yang berarti
taat, ikut. Yang buktinya adalah: Allah berinisiatif untuk menjadikan manusia;
Allah menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Allah; Allah menjadikan
manusia menurut jenis kelamin (laki-laki dan perempuan); Allah memberkati
manusia yang dijadikan-Nya dan memberi amanat untuk berkembang biak dan memberi
kuasa kepada mereka. Tentang manusia
dikatakan bahwa ia dijadikan menurut gambar dan rupa Allah. Ada hal-hal yang
dijadikan manusia itu menurut gambar dan rupa Allah, dalam Kejadian 1:26-28
kita menemui tiga keterangan, yaitu: pertama manusia mempunyai hubungan atau
nisbab yang khusus dengan Allah; kedua manusia mempunyai hubungan khusus dengan
sesamanya; ketiga menurut gambar Allah berarti manusia mempunyai hubungan
khusus dengan makhluk-makhluk lain.
Deskripsi menurut gambar Allah
yang pertama bahan dasar yang dipakai ialah Tanah. Tanah adalah tumbuh-tumbuhan
(Kej. 1:11-12), tanah adalah binatang-binatang (Kej. 2:19), tanah adalah
manusia (Kej. 2:7). Kesimpulan semua makhluk hidup (tumbuhan, binatang,
manusia) bahan dasar penciptaannya ialah tanah. Ada beberapa teologi tanah,
yaitu:
Tanah adalah asal mula semua makhluk hidup
Tanah adalah sumber kehidupan dan makanan
makhluk hidup
Tanah sebagai tempat tinggal makhluk hidup
Tanah sebagai tempat akhir makhluk hidup.
Manusia diciptakan Allah bukan
sebagai makhluk tunggal. Tanpa manusia lain, ia tidak lengkap dan tidak
mempunyai arti: tidak ada percakapan dan tidak ada pertemuan. Kepada manusia
itu Allah memberi kuasa untuk memerintah makhluk-makhluk yang lain (Kej. 1:26,28).
Kuasa ini tidak mutlak, sebab sebagai kuasa yang diberi, manusia berkewajiban
memakainya sesuai dengan kehendak Allah, sang pemberi dan bukan secara
sewenang-wenang.
Dalam PB, kita menemukan
penjelasan bahwa Kristus adalah gambar dan rupa Allah yang sempurna dan telah
menjadi tebusan bagi kemuliaan (Rm. 8:29; 2 Kor. 3:10; Ibr. 1:3;2 Kor. 3:2).
Karena kemuliaan Tuhan, orang percaya telah diubah menjadi serupa dengan gambar
Kristus (Tuhan) dalam kemuliaan yang semakin besar. Berdasarkan keterangan
Alkitab di atas, makna teologis dari manusia adalah gambar dari rupa Allah yang
dalam bahasa latin disebut (imago dan similitudo), Ibrani
menyebut (tselem dan demut), Yunani menggunakan (eikon dan
eidos), mengandung arti, antara lain:
Gambar dan rupa Allah yang ada pada manusia
bukan terjadi karena kehendak manusia, melainkan atas dasar inisiatif Allah
yang menciptakan manusia.
Gambar dan rupa Allah, yang ada pada manusia
dimiliki oleh manusia laki-laki dan manusia perempuan.
Gambar dan rupa Allah yang ada pada manusia
menunjukkan kepada persesuaian dalam natur (sifat) ilahi Allah dan bukan pada
perwujudan lahiriah seperti yang
dimiliki manusia.
Gambar dan rupa Allah yang ada pada manusia
dimaksudkan agar manusia wajib menunjukkan kualitas hidup rohani, baik kepada
Allah, sesamanya dan terhadap alam semesta.
Gambar dan rupa Allah yang ada pada manusia
adalah wujud dari kemuliaan Allah yang telah dianugerahkan Allah kepada manusia
sebagai ciptaan-Nya.
Namun pada ayat 27 menunjukkan
bahwa manusia diciptakan menurut “gambar Allah”
saja tidak ada kata “rupa” disitu. Apa makna dari “gambar” dan rupa
ini?”
Menurut GKR “gambar” dan “rupa” adalah berbeda
gambar berhubungan dengan sifat-sifat dan rupa berhubungan dengan fisik.
Protestan menganggap bahwa hubungan kedua kata
itu adalah sebuah yang berbeda menunjuk
pada sifat Allah yang satu. Misalnya kates dan pepaya.
Dalam Kejadian 5:1
dikatakan “menurut rupa”. Jadi gambar dan rupa adalah sama. Hanya kedua
kata tersebut secara bergantian. Hanya dalam Kejadian 1:26 sajalah kedua kata
itu dipakai secara bersamaan. Kata “menurut Gambar Allah” adalah sebuah satu
kesatuan yang tidak bisa diganti-ganti bahasanya tidak boleh dikatakan “manusia
se-gambar dengan Allah itu adalah bahasa yang salah. Mengapa demikian? Sebab jika dikatakan “manusia se-gambar
dengan Allah” hal itu berarti manusia pada hakikatnya sama dengan Allah. Padahal
manusia adalah ciptaan Allah.
2.2. Manusia dan Relasinya dengan alam semesta
2.2.1. Manusia dengan sesama
Manusia tidak dapat hidup
sendirian, tetapi bersama orang lain. Pola dasar hubungan manusia ialah
hubungan antarpribadi. Adam diciptakan bersama Hawa, Kain diciptakan bersama
Habel. Keberadaan manusia dengan sesamanya merupakan sesuatu yang kenyataan yang
tidak dapat disangkal. Untuk kita dan
untuk keselamatan kita, Yesus Kristus telah menjadi manusia. Ia menjadi salah
seorang di antara kita. Ia tidak mau lepas dari kita, secara demikian kita
sendiri kita sendiri tidak akan bisa menjadi satu dengan sesama manusia kita
kepercayaan Kristen tidak bisa merupakan suatu ikhtiar moralitas untuk meniru
Kristus. Akan tetapi dalam memandang kepada Yesus Kristus, kita menemukan bahwa
kesetiaan-Nya kepada manusia tak kunjung berubah, sangkut pautnya dengan kita
manusia tak pernah putus. Maka menjadi jelaslah kepada kita, bahwa menjadi
manusia itu adalah: hidup dalam hubungan dengan sesama manusia. Menjadi manusia
adalah hidup dalam hubungan dengan sesama manusia, dalam berjumpa dengan sesama
manusia. Perjumpaan ini adalah perjumpaan antara dua orang yang masing-masing
menjadi subjek. Perjumpaan dengan sesama manusia adalah suatu perjumpaan antara
dua orang yang masing-masing mempunyai namanya lagi bertanggung-jawab.
Terjadinya perjumpaan antara manusia dengan manusia akan dicirikan empat hal
yaitu:
1. Benar-benar saling berjumpa adalah bahwa dua
saling bertemu “mata dengan mata”. Dalam sungguh-sungguh melihat kepada orang
lain, manusia itu menemukan sesamanya sambil memperhatikan nasib sesamanya.
Persekutuan sejati timbul, di mana dua manusia berdiri hadap-hadapan sebagai
dua pribadi yang merdeka dan bertanggungjawab, yang saling bertemu muka.
2. Benar-benar saling berjumpa adalah bahwa dua
manusia saling berbicara dan saling mendengar satu sama lain. Bagi
perikemanusiaan, telinga itu mempunyai fungsi yang penting.
3. Benar-benar saling berjumpa adalah bahwa orang
saling memberi pertolongan dengan perbuatan. Menjadi manusia adalah bersedia
untuk menolong orang lain dan bersedia untuk ditolong oleh orang lain.
4. Benar-benar saling berjumpa adalah bahwa kedua
belah pihak dengan segenap hatinya suka berbuat apa yang sudah diterangkan
dalam ketiga hal di atas. Menurut hakikatnya yang sedalam-dalamnya,
peri-kemanusiaan itu adalah soal hati. Sesama manusia kita harus mendapat
tempat dalam hati kita. Ukuran ini adalah syarat yang berat, tetapi syarat yang
mutlak.
Selain dari relasi vertikal yaitu
relasi tanggung jawab kepada Allah kita dalam Kejadian 1:26-28, bahwa manusia
juga mempunyai relasi horizontal dengan sesamanya manusia. Manusia bukanlah
makhluk tunggal. Bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri di dunia ini. Ia hidup
bersama-sama dengan manusia lain. Tanpa manusia lain ia tidak lengkap. Dan ia
tidak mempunyai arti. Tidak ada orang menyapanya, tidak ada percakapan, tidak
ada pertemuan, tidak ada pertemuan, dan tidak ada masa depan. Karena itu Allah
menciptakan manusia jamak. Maksud Allah dengan penciptaan-Nya itu ialah supaya
mereka saling melayani, membantu, saling mengisi dan saling melengkapi. Manusia
mempunyai tiga relasi tanggung jawab yaitu: dengan Allah, dengan sesamanya
manusia dan dengan bumi.
2.2.2. Manusia dengan Makhluk lainnya
Manusia memiliki tiga relasi
tanggung jawab, yaitu dengan Allah, dengan sesamanya manusia dan dengan bumi.
Ketiga relasi ini erat berhubungan. Relasi yang pertama yaitu relasi dengan
Allah ini menjadi relasi yang paling penting dan yang paling menentukan.
Sungguh pun demikian tanpa relasi yang baik dengan sesama manusia dan dengan
bumi, tidak mungkin ada relasi yang baik dengan Allah. Relasi yang baik dengan
Allah harus nyata dalam relasi yang baik dengan sesama dengan bumi.
Kepada manusia itu Allah memberi
kuasa untuk memerintah makhluk-makhluk yang lain (Kej. 1:26-28). Hal ini jelas
terkandung tentang tugas yang Allah berikan kepada manusia seperti yang
tertulis dalam Kejadian 2: 15 “Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya
dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu”. Oleh sebab itu,
manusia harus menjalankan tugasnya yang sesuai dengan kuasa yang sudah Allah
berikan, yakni memelihara dan melindungi makhluk-makhluk lain. Oleh sebab itu,
ada 2 hal yang dapat disimpulkan, yaitu:
1. Walaupun manusia itu makhluk paling utama, ia
bukan ilahi melainkan makhluk ciptaan, dan sebagai demikian ia berdiri di pihak
makhluk-makhluk lain yang seluruhnya bergantung kepada Allah , hidupnya
terbatas, kemampuannya, dan pengetahuannya juga terbatas.
2. Walaupun demikian Allah menghubungkan diri
dengan manusia yang fana dan rapuh, ia boleh menjadi partner Allah. Sebagai
partner Allah ia berdiri di pihak Allah dan boleh menjadi kawan sekerja-Nya
untuk memelihara, mengatur, dan juga mengembangkan alam ciptaan.
Berkat tugas yang diberikan oleh
Allah kepada manusia, ia mendapat kesempatan untuk merealisasikan dirinya
sebagai manusia untuk membuktikan dengan perbuatan bahwa ia benar-benar adalah
manusia yang diciptakan menurut gambar Allah, bahwa ia tahu hidup secara
bertanggung jawab, baik kepada Allah maupun kepada sesamanya manusia dan juga
kepada bumi, baik tumbuh-tumbuhan, hewan, udara, laut, seluruh lingkungan
hidup, serta seluruh dunia ekologi.
Dalam seluruh alkitab ditekankan bahwa manusia adalah bagian dari alam
ini. Manusia adalah debu dan diciptakan dari debu tanah (Kej. 2:7). Manusia
sebagai daging adalah lemah dan bergantung pada belas kasihan Allah, seperti
semua makhluk lainnya (Yes. 2:22; 40:6; Mzm 103:15; 104:27-30). Bahkan dalam
memanfaatkan alam untuk melayani kebutuhannya, manusia harus melayani alam ini
harus menjaganya dan mengolahnya untuk mencapai tujuannya.
Alam ini bukanlah suatu kerangka
atau latar belakang manusia. Antara alam dan manusia ada ikatan-ikatan yang
sangat mendalam dan rahasia. Dipihak manusia ada simpati naluriah terhadap alam
(Kej. 2:19) dan manusia harus menjunjung tinggi hukum-hukum alam (Im 19:19; Ul
22:9,10; Ayb 31:38-40). Dan sekalipun
manusia berasal dari debu tanah dan sama seperti ciptaan Allah yang mendiami
bumi ini bersama sama dengan mereka. Kita boleh menjadi wakil-Nya di bumi untuk
berkuasa atas makhluk-makhluk lainnya. Hubungan manusia dengan makhluk-makhluk
yang lain tidak bersifat antithetis.
Meskipun manusia berasal dari bumi
debu tanah dan sama seperti makhluk-makhluk yang lain adalah ciptaan Allah yang
mendiami bumi bersama-sama dengan mereka, akan tetapi manusia menjadi wakil
Allah di bumi untuk berkuasa atas makhluk-makhluk yang lain. Begitu besar kasih
dan perhatian Allah terhadap makhluk-makhluk yang merupakan ciptaan-Nya,
sehingga dalam Thoranya diberikan peraturan-peraturan kepada umatnya
untuk melindungi serta memelihara makhluk-makhluk bukan saja manusia, akan
tetapi juga binatang-binatang, tumbuh-tumbuhan, dan tanah. Dari peraturan
tersebut, jelas mengatakan kepada manusia bahwa, kuasa yang ia peroleh dari
Allah itu bukanlah kuasa yang mutlak..
Dalam hal ini manusia sangat dekat
hubungan dengan tanah. Dijelaskan bahwa Istilah yang dipakai untuk tanah dalam
bahasa Semit adalah “adama”. Kemungkinan dasar katanya berasal
dari “dm” yang mendapat arti “merah”. Tanah dibedakan menjadi batu –
batuan dan semak belukar serta gurun pasir. Adama itu juga berarti
“tanah kering”, namun bisa disiram dengan air sehingga abu yang kering menjadi
subur. Allah menciptakan manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup
ke dalam lubang hidungnya, sehingga ia menjadi makhluk hidup (Kej. 2:7). Allah menciptakan manusia dari debu tanah.
Lalu Allah menghembuskan nafas kehidupan ke hidung manusia, sehingga manusia
menjadi makhluk yang hidup menurut gambar Allah. Di sinilah hubungan manusia
dengan dunia dan alam. Hubungan manusia dengan sekitarnya sangat erat, dari pandangan ekologi tentang manusia dapat
dikatakan bahwa manusia itu bergantung dari alam untuk hakikat (esensi)
keberadaannya.
2.3. Manusia dan kebudayaan
Budaya terambil dari dua kata
yaitu budi (pikir) dan daya (hasil). Jadi segala hasil pikiran ini adalah
budaya manusia. Dalam Kejadian 1:28
terdapat titah Allah kepada manusia. Teks ini dianggap sebagai sumber kebudayaan
manusia. Dinyatakan bahwa alam atau dunia terbuka untuk ditaklukkan, dikuasai,
diolah, diusahakan oleh manusia. Melalui titah kerja Allah, dunia dibudayakan
oleh manusia. Kuasa serta mengusahakan yang diberikan Allah kepada manusia
berada dalam janji firman-Nya. Selama manusia menyadari titah bahwa
kuasa-mengusahakan diberikan Allah kepadanya, maka selama itu juga ia
bertanggungjawab kepada Allah. Kuasa mengusahakan yang diberikan dapat
dilupakan manusia, sehingga ia beranggapan bahwa segala kekuatan dapat timbul
dari diri manusia itu sendiri atau juga dari alam.
Allah mengangkat manusia menguasai alam yang atasnya ia
bertanggungjawab dalam kebebasan yang digerakkan oleh Allah sendiri. Dengan
demikian, unsur-unsur proses modernisasi harus ditujukan kepada titah Allah dan
harus terus terikat kepada keyakinan bahwa titah itu adalah dari Allah sendiri.
Ilmu atau segala sesuatu yang berhubungan dengan teknik harus bisa
bertanggungjawab kepada seluruh umat manusia, bukan hanya ditujukan kepada
kenikmatan atau kesejahteraan sebagian bangsa, tetapi harus secara keseluruhan.
Budaya merupakan cara keberadaan
manusia dalam dunia. Hubungan manusia dengan alam sekitarnya bukan hubungan
yang langsung, melainkan hubungan yang diantarai oleh pola budaya tertentu.
Hampir semua hal yang menyangkut tingkah laku manusia ditentukan oleh budaya.
Secara garis besar dalam kebudayaan terdapat dua segi, yaitu:
a. Melalui budaya manusia menerjemahkan alam
menjadi wawasan. Manusia menampung apa yang dia lihat, dengar, sentuh, ke dalam
jaringan bahasa. Manusia tidak secara langsung memiliki hubungan dengan hal-hal
di luar dirinya, tetapi manusia selalu menafsirkan hal-hal yang di luar
dirinya. Penafsiran yang diberikan manusia pada umumnya tidak disadari oleh
manusia sendiri. Dia sudah biasa memandang lingkungannya dengan cara tertentu
karena pengaruh tradisi yang di dalamnya ia lahir. Meskipun manusia tidak
menyadarinya, cara dia memandang lingkungannya tidak objektif, tidak netral,
tetapi bersifat interpretatif, karena dipengaruhi oleh budaya. Oleh karena itu,
manusia memiliki cara pandang yang berbeda terhadap lingkungannya. Ada
bermacam-macam penafsiran, sama seperti ada bermacam-macam budaya.
b. Melalui kebudayaan, manusia secara aktif
mengerjakan dan mengelola dunia. Dia menemui dunia dalam keadaan yang tertentu,
tetapi bukan untuk membiarkan dunia dalam keadaan itu, melainkan untuk
mengelolanya.
Semua kebudayaan mengandung unsur
bersama. Walaupun manusia ditentukan oleh budaya, tetapi manusia tetaplah
manusia. Umpamanya tiap manusia fana, tiap manusia hidup bersama orang lain.
3.
Pemerintahan dan Pemeliharaan (Providential)
Segala sesuatu
dalam alam, Allahlah yang memerintahnya. “Memerintah” artinya menjuruskan
perkembangan kepada suatu maksud. Tuhan menjadikan segala sesuatu masing-masing
dengan maksudnya sendiri, ada tujuan tertentu yang hendak Tuhan buat akan
tetapi segala sesuatu tidak berjalan sendiri kepada maksudnya (deisme)
melainkan Tuhan yang mengemudikan hingga maksud-Nya tercapai[7].
A.
Pemerintahan Allah Atas
Alam
Kata pemeliharaan
merujuk baik pada penjagaan Allah dan kuasanya atas alam semesta. Banyak Mazmur
yang memuji Allah untuk pemeliharaannya terhadap manusia, binatang dan
tumbuh-tumbuhan[8].
Sesungguhnyalah demikian: kepercayaan bahwa Allah memelihara dunia ini dan
memerintah atasnya dan bahwa Ia juga menuntun hidup Manusia, kepercayaan kepada
providensia itu tidaklah timbul dari sebab melihat kepada dunia dan hidup saya
sendiri, tetapi dari sebab melihat kepada Kristus. Jika Kristus memasuki dan
menguasai hidup kita, maka dengan sukacita kita berseru Allah yang tidak
menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua,
bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita
bersama-sama dengan Dia (Kristus)? (Roma 8:32)[9].
B.
Pemerintahan Allah atas
Manusia
Jadi,
baik dalam pemeliharaan maupun dalam pemerintahan Tuhan berkenan memakai
manusia sebagai alat. Tuhan memberikan perintah-Nya yang terang, umpama kepada
manusia. Ia memerintahkan: "Taklukkanlah itu, dan berkuasalah atas
ikan-ikan" (Kej 1:28) dan manusia ditempatkan dalam taman Eden,
"untuk mengusahakan dan memelihara" (Kej. 2: 15). Manusia harus
memelihara bumi oleh karena kekacauan selalu mengancam akan merusak bumi.
Manusia harus mengusahakan bumi agar bumi selalu berkembang ke arah maksud
Allah. Manusia harus mengkulturkan bumi. Hal ini menjadi lebih terang sesudah
pengaruh dosa masuk ke dalam alam semesta dan dunia manusia. Dosa adalah
anomia, penentang hukum (1 Yoh. 3:4).
Tentu
terang juga, bahwa kedua-duanya, pemeliharaan dan pemerintahan, melayani
kedatangan Kerajaan Allah, pemuliaan nama Allah Sejarah Penyelamatan
menunjukkan dengan tegas hal ini. Sejarah bangsa Israel menuju kepada
kedatangan Sang Mesias. Seperti juga dalam perjanjian baru dinyatakan, bahwa
Kaisar Agustus pun dipakai Tuhan bagi pemenuhan janji-Nya. Dan
perbuatan-perbuatan para penentang Yesus Kristus juga menuju kepada pelaksanaan
kehendak Tuhan (Luk. 2:1-7; Yoh. 18:14,32 dst.). Tetapi Agustus, Kayafas, Yudas
dan lain-lain tetaplah manusia. Mereka tetap bertanggung jawab atas segala
perbuatannya. Memang mereka menujukan perbuatan mereka kepada kemauannya sendiri dan bukan kepada kehendak Allah.
Tetapi Allah memakai perbuatan mereka untuk melayani kedatangan Kerajaan
Kristus[10].
Tuhan memelihara
alam seisinya artinya: Tuhan menghindarkan alam dari tenaga-tenaga yang akan
merusaknya. Manusia di dalam hal ini juga menjadi gambar Tuhan sebab itu diberi
perintah oleh Tuhan supaya Eden dipeliharanya. Selain itu memelihara juga
berarti: bekerja agar hukum-hukum, aturan-aturan yang ada di alam seisinya
tetap berjalan. Maka dari itu pemeliharaan harus dipandang sebagai aktivitas
(tindakan) yang sebetulnya seperti di dalam firman Tuhan dinyatakan antara lain
dalam Mazmur 104:30; Yohanes 5:17; Ibrani 1:3. Manusia menjadi alat Tuhan[11].
Untuk menjaga dan memelihara ciptaan dan alat Tuhan untuk mencapai tujuannya.
Pemeliharaan dapat dibagi menjadi beberapa jenis yaitu secara langsung, tidak
langsung dan tingkat pemeliharaan Allah
A.
Pemeliharaan secara
langsung
Dunia pada umumnya
dan ciptaan pada khususnya tidak bisa mempertahankan hidupnya berdasarkan
kekuatannya sendiri. Kelanjutan keberadaan mereka hanya bergantung pada
kehendak dan kuasa Allah semata yaitu jika tidak, semua akan menuju kebinasaan.
“karena di dalam Dialah telah diciptakan
segala sesuatu, yang ada di sorga dan di bumi, yang kelihatan dan yang tidak
kelihatan, baik singasana maupun kerajaan, baik pemerintah maupun penguasa,
segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” (Kolose 1:16). Sebagaimana
dengan firman-Nya yang penuh kuasa Allah menciptakan segala sesuatu,
demikianlah sekarang Allah dengan kuasa yang sama memelihara keberadaan mereka,
“menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan” (Ibr. 1:3). [12] Allah tidak berdiam, tidak memperhatikan
ciptaan-Nya, tapi Allah tetap memelihara dan memerintah atas segala
ciptaan-Nya.
B.
Pemeliharaan
Tidak Langsung
Allah
memakai ciptaan-Nya untuk mendukung dan menopang antar satu sama yang lain.
Ketika Allah telah menciptakan manusia, ia menyediakan tumbuhan-tumbuhan hijau
di ladang dan buah di pohon untuk dimakan. Firman Tuhan kepada Nuh “segala yang
bergerak, yang hidup, akan menjadi makananmu (Kej. 9:3). Jadi, keberadaan dan
kehidupan kita langsung bergantung kepada Allah (Ke. 17:28), secara tidak
langsung kehidupan kita bergantung pada mata pencarian yang Allah berikan
kepada kita. Allah memberi kita makan setiap hari, namun kita harus bekerja
untuk memperolehnya. Bahkan di taman Eden manusia tidak punya alasan untuk
menghabiskan waktu bermalas-malasan, melainkan harus memelihara dan menjaga
taman itu (Kej. 2:15). Dengan demikian segala ciptaan adalah hasil karya Allah
yang menakjubkan, yang masing-masing saling melayani seutuhnya, saling
mendukung dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka.[13]
C.
Tingkat-tingkat
Pemeliharaan Allah
Mungkin
lebih mudah untuk berpikir tentang aktivitas Allah dalam penciptaan dari segi
tingkatan. Tingkat pertama terdapat ciptaan asli dibuat-Nya untuk menyatakan
kemulian-Nya. Pada tingkat kedua, terdapat apa yang biasa disebut pemeliharaan,
sebagai kelanjutan tingkatan pertama. Yaitu, setelah selesai dengan ciptaan-Nya
yang mula-mula, Allah melanjutkan dengan memelihara ciptaan-Nya melalui
proses-proses kehidupan yang dibangun-Nya. Semuanya dijadikan jelas pada tingkat
ketiga pemeliharaan Allah. Di samping membentuk dan memelihara suatu lingkungan
yang cocok bagi manusia, Allah bertindak langsung untuk mengadakan keselamatan.[14]
Tujuan utama
pemerintahan-Nya yang berdaulat ialah pernyataan kemuliaan-Nya. Karena Ia
memerintah dengan tujuan menunjukkan kesempurnaan-kesempurnaan-Nya:
Kesucian-Nya dan keadilan-Nya, Kuasa-Nya, Hikmat-Nya, Kasih-Nya, dan
kebenaran-Nya, Jadi, [15]
Percaya kepada providensia berarti percaya bahwa Allah memelihara serta
memerintah dunia ini dan juga menuntun hidup kita. providensia tidak timbul
dari akibat melihat kepada dunia dan alam. Tidak ada kuasa yang tertinggi,
ketika kita percaya kepada Allah yang di
dalam Yesus Kristus yang telah mendatangi kita, dengan cara Allah yang membuat
kita mengenal Dia, maka kita mengakui bahwa Dialah yang memelihara serta
memerintah dunia ini dan hidup kita boleh kita percayakan kepada Allah. Kata
providensia mengandung pengakuan yang timbul dari kepercayaan, bukan hasil dari
pemikiran kita ataupun dari pandangan tentang dunia. Kepercayaan kepada
“providensia” Allah, bukan berarti kita dibebaskan dari tanggung jawab untuk
bertindak sendiri, berusaha sendiri, menyelenggarakan sendiri, baik dalam
kehidupan sehari hari maupun terhadap dunia sekitar.[16]
1.1. Bukti
Ajaran Tindakan pemerintahan
·
Allah berkuasa atas alam
fisik yaitu Sinar matahari (Mat. 5:45), angin (Maz. 147:18), kilat (Ayub
38:25,35), hujan (Ayub 38:26; Mat. 5:45), guntur (1 Sam. 7:10), air (Maz.
147:18), hujan es (Maz. 148:8), es (Ayub: 37:10), salju (Ayub 37:6; 38:22),
serta embun beku (Maz. 147:16) semuanya tunduk kepada perintah-Nya.
·
Allah
berkuasa atas tanaman dan hewan yaitu Setiap ciptaan
hidup berada di tangan Allah (Yunus 4:6; Mat. 6:28;30), unggas (Mat 6:26;
10:29), Margasatwa (Mzm. 104:21; 27 :28 147:9) dan ikan (Yunus 1:17; Mat
17:27).
·
Allah
berkuasa atas bangsa-bangsa dimuka bumi ini yaitu Allah yang
memerintah atas bangsa-bangsa (Mzm. 22:29). Ia yang membuat mereka berkembang
dan membinasakan mereka (Ayb 12:23), mengawasi dan menghakimi mereka (Mzm.
66:7;75:8), menetapkan dan menurunkan para penguasa (Dan. 2:37-39; 4:25), tidak
ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintahan-pemerintahan
yang ada, ditetapkan oleh Allah (Rm 13:1).
·
Allah
berkuasa atas seluruh hidup manusia
yaitu Atas kelahiran, karier, dan kematian
manusia. Allah dengan giat terlibat sebelum seseorang dilahirkan (Mzm. 139:16;
Yer. 1:5) dan melaksanakan rencana-Nya dalam kehidupan seseorang (1Sam. 16:1;
Gal. 1:15-16), dan masih banyak lagi ayat yang menunjukkan kuasa Allah atas
hidup manusia[17]
1.2. Bukti
ajaran tindakan pemeliharaan
·
Sifat Allah dan alam
semesta- Karena Allah bukan sekedar oknum yang berkepribadian, tidak terbatas
kebijaksanaan, kemurahan dan kuasa-Nya, tetapi Ia juga pencipta dan oleh
karenanya pemilik alam semesta, maka diharapkan bahwa Ia akan memerintah yang
dimiliki-Nya itu. Sebagai Allah yang mahakuasa dapat dipercayai bahwa Ia mampu
melaksanakan segala sesuatu yang direncanakan-Nya.
·
Ajaran Alkitab- Alkitab
lebih banyak berbicara tentang pekerjaan Allah dalam memelihara penciptaan-Nya
daripada tentang pekerjaan Allah dalam penciptaan. Banyak ayat menunjukkan
bahwa Allah menjalankan pemerintahan yang berdaulat atas segenap alam fisik,
atas dunia margasatwa dan tanaman, atas bangsa-bangsa di bumi, dan atas setiap
orang secara pribadi. [18]
1.3. Sarana-sarana
yang dipakai dalam Providensia
Dalam perkara-perkara lahiriah,
Allah memakai hukum-hukum alam. Melalui hukum-hukum ini Allah telah menetapkan
musim-musim dan memberi kepastian tentang adanya makanan bagi penghidupan kita
(Kej 8:22). Lewat hukum-hukum ini juga, Ia telah memberikan manusia naluri
penyelamatan diri sendiri dan rasa tanggung jawab moral (Roma 1:26; 2:15).Dalam
perkara batiniah Allah memakai berbagai sarana dalam pelaksanaan pemeliharaan
yakni:
1.
Ia memakai Firman-Nya. Manusia sering kali di
suruh membaca Alkitab untuk memperoleh tuntunan dan petunjuk (Yos. 1:7-8; Yes.
8:20; Kol. 3:16).
2.
Allah menghimbau kepada akal manusia dalam hal
menyelesaikan persoalan-persoalan mereka (Kis. 6:2).
3.
Allah memakai himbauan. Ia telah menetapkan
pelayanan hamba-hamba-Nya untuk mengajar dan mengajak umat-Nya untuk
mempercayai kebenaran (Yer. 7:13; 44:4; Za. 7:7; Kis 17:30).
4.
Allah memakai perasaan batin yang mengekang dan
menahan. Paulus sangat peka terhadap petunjuk-petunjuk batin ini yang
menyatakan kehendak Allah (Kis 16:6-7).
5.
Allah memakai keadaan-keadaan yang nampak. Allah
menuntun dengan pintu yang terbuka dan dengan pintu yang tertutup (1Kor. 16:9;
Gal. 4:20).
6.
Allah mencondongkan hati manusia ke satu arah
tertentu dan bukan ke arah yang lainnya (1 Raj. 8:58; Mzm 119:36; Ams. 21:1; 2
Kor. 8:16).
7.
Allah kadang-kadang menuntun manusia dengan
memakai mimpi dan penglihatan. Yusuf (Mat 2:13,19,22) dan Paulus (Kis 16:9-10;
22:17-18) dituntun dengan cara ini
Dalam beberapa tindakan
pemeliharaan, Allah memakai wakil-wakil khusus, yaitu para malaikat dan Roh
Kudus.[19]
2.
Pembebasan/ pemilihan (Preadestinasi)
Istilah ini menunjukkan pada keputusan kekal yang
diambil Allah untuk memberikan keselamatan abadi kepada manusia. Ajaran tentang
predestinasi menjelaskan bahwa manusia hanya diselamatkan karena ia dipilih
oleh Allah untuk menerima keselamatan abadi dan bukan karena jasanya sendiri,
oleh karena itu ajaran predestinasi juga sering disebut dengan ajaran
pemilihan.
Kata ibrani “Yada” dan kata bahasa Yunani “ginosken”,
proginosken dan prognosis, kata “yada” secara harafiah berarti “mengetahui”
atau “mengamati” dari seseorang atau sesuatu atau dapat juga dipakai untuk
menunjukkan satu arti yang lebih dalam yaitu “mengetahui seseorang dengan satu
kasih yang besar” atau juga dapat diartikan sebagai menjadikan seseorang
sebagai obyek kasih atau pilihan kasih.
2.1. Predestinasi
Perjanjian Lama
Dalam Perjanjian Lama, pemilihan
Tuhan Allah adalah karya Allah yang dinyatakan di dalam sejarah Israel. Dapat kita lihat dalam
Ulangan 7:6-8, disebutkan bahwa Tuhan Allah karena kasih-Nya semata-mata telah
memilih Israel dar segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat
kesayangan-Nya. Hal ini bukan karena jumlah Israel yang lebih banyak dari
bangsa mana pun, atau karena jumlahnya yang paling kecil, akan tetapi karena
Tuhan Allah memegang janji-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyang
Israel. Hal ini jelaslah bahwa dalam Pemilihan yang dilakukan Tuhan ketika
Tuhan memanggil Abraham, Ishak Yakub serta Israel. Pemilihan Tuhan bukanlah
suatu teori tetapi suatu kenyataan yang dinyatakan dalam Sejarah. Dalam Yesaya
41:9, Israel adalah hamba Tuhan yang telah dipilih Tuhan Allah sendiri, yang
terbukti dari kehidupan Israel (Yes. 65:9). Firman Tuhan Allah yang demikian
itu memuat gagasan, bahwa Israel dipilih oleh Tuhan untuk menjadi sasaran
kasih-Nya dengan maksud Allah memilih Israel supaya Israel memasyurkan
puji-pujian bagi Tuhan (Ul. 7:6; Yes 43:21).
2.2. Predestinasi
Perjanjian Baru
Dalam Perjanjian baru disebutkan
bahwa pilihan Tuhan Allah yang ditujukan kepada umat-Nya berdasarkan kasih-Nya,
bukan karena kebaikan manusia. Menurut PB, manusia sudah kehilangan kemuliaan
Allah (Rm. 3:23). Manusia dibenarkan karena kasih karunia (Rm. 3:24) dan hanya
karena karya roh Kudus (Rm. 8:1). Jadi keselamatan manusia itu hanya
berdasarkan karya Tuhan Allah saja. Tuhanlah yang menentukannya (Rm. 8:30),
sehingga hanya kasih karunia yang memilih itulah yang patut dipuji.
2.3. Predestinasi
menurut Yohanes Calvin
Bagi Calvin, pembahasan ajaran
tentang predestinasi terutama penting karena ajaran ini menjamin prakarsa Allah
dalam proses penyelamatan manusia dan juga kebebasan Allah untuk mengaruniakan
keselamatan abadi dalam Kristus Yesus atau tidak. Menurut Calvin, Allah sudah
mengambil keputusan abadi untuk memilih orang tertentu untuk menerima
keselamatan abadi dan untuk menolak orang lain sehingga akhirnya mereka binasa
karena hukuman Allah atas dosa-dosa yang mereka lakukan.
2.4. Predestinasi
menurut Agustinus
Menurut Agustinus predestinasi
menyatakan tindakan Allah dalam memberikan anugerah pada setiap orang. Hal ini
berarti keputusan dan tindakan Ilahi yang khusus ketika Allah mengaruniakan
anugerah-Nya kepada orang-orang yang akan diselamatkan
2.5. Perbedaan
Providensia dengan Predestinasi
Berarti dengan perpindahan status
itu, maka keberadaan “tahah” ada dalam bahaya atau “krisis”, sebab
manusia sudah ada di tangan Kuasa lain, yang bertolak belakang dengan Allah.
Maka tidak boleh tidak, Allah harus menyelamatkan keduanya, yakni: (1)
menyelamatkan “tanah”. Arti kata ini mencakup tentang pemeliharaan bumi dan
seisinya supaya tetap berlangsung, dan inilah yang disebut Providentia Dei;
(2) Menyelamatkan manusia. Arti kata ini mencakup tentang upaya Allah memanggil
dan merampas manusia dari kuasa dosa supaya Kembali menjadi milik Allah, dan
inilah yang disebut praedestinasi Dei, keduanya sering dikhotbahkan
Gereja sebagai berkat. Provedentia adalah berkat umum, dan semua makhluk
hidup menerimanya. Sedangkan Praedestinasi adalah berkat khusus, tetapi tidak
semua orang menerimanya .
2.6. Hubungan
Providensia dengan Predestinasi
Dalam praktik hidup sehari-hari
“takdir Allah” sering kali digunakan untuk menyembunyikan ataupun memaafkan
segala kemalasan dan kelambanan manusia (jasmaniah dan rohaniah pada segala
lapangan hidup) pendeknya, dibalik penggunaan ucapan “takdir Allah” itu sering
tersembunyi suatu sikap hidup yang fasik. Apabila secara akal budi dan lepas
dari kepercayaan yang sesungguhnya kita memikirkan arti providensia dan
pradestinasi maka segera kita tergelincir dalam sikap hidup yang digambarkan di
atas tadi. Tetapi syarat mutlak untuk melakukan dogmatika ialah bahwa kita
memikirkan soal-soal itu di dalam percaya dan dari sudut kepercayaan. Ungkapan
“takdir Allah” serta “kadar Allah”, kita tidak mempergunakannya lagi dalam
terjemahan Alkitab, dalam berkhotbah dan dalam berdogmatika. Kata-kata itu
sudah terlampau merosot arti dan isinya tidak mengandung apalagi selain
daripada keluhan “ apa boleh buat” yang bersifat sedih atau acuh tak acuh.
Bertentangan dengan itu haruslah menjadi jelas bagi kita, bahwa maksud pengertian
Providensia dan Pradestinasi adalah justru untuk memberikan kepada kita bahwa
hiburan serta kesukaan yang sesungguhnya.
Praedistinasi dan providential
tidak dapat dipisahkan karena masih termasuk dalam bagian penciptaan. Dalam
tahap penciptaan dibedakan menjadi tiga yaitu, perencanaan, pemilihan dan
keberlanjutan ciptaan. Dalam pemerintahan Allah dibedakan menjadi dua yaitu
sebelum dan sesudah penciptaan. Praedistinasi sebelum penciptaan Allah yaitu
penetapan. Penetapan ini dibedakan menjadi dua yaitu, sebelum manusia jatuh ke
dalam dosa (Kej. 1:2, 28) dan setelah manusia jatuh ke dalam dosa (Ef. 1:4) .
Sedangkan providensial setelah Allah menciptakan.
Sebelum Allah menciptakan langit
dan bumi Allah telah menciptakan manusia. Dalam penciptaan harus ditetapkan
terlebih dahulu siapa yang akan mengawasi memerintah dan memelihara
ciptaan-Nya. Setelah manusia diciptakan maka ditetapkan maka manusia yang akan
memelihara ciptaan. Providensi diserahkan Allah kepada manusia tapi ada
batasannya (Ef. 1:4). Mengapa ada
pembatasan dikarenakan Hukum Eden (buah pengetahuan) dan dosa (ketika manusia
jatuh ke dalam dosa maka manusia sudah milik dosa dan hamba dosa). Dosa bermula
pada manusia tanpa ada paksaan dari iblis, pertimbangan diberikan kepada
manusia dan manusialah yang memilih. Manusia memilih menjadi dosa dan Allah
tidak dapat merampas, tapi Allah memberikan supaya manusia kembali kepada
Allah. Setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa maka timbul masalah baru
mengenai providensia yaitu bagaimana kelanjutan pemeliharaan tersebut apakah
masih diberikan kepada manusia. Karena dosa telah berkuasa atas manusia dan hal
itu Allah tentu tidak ingin hak milik-Nya diambil. Maka, Allah melakukan
rencana penyelamatan (Ef. 1:5). Allah
memulainya dengan memanggil Abraham (Kej. 12:3, Gal. 3:16). Calvin mengunjungi praedestinasi pada
manusia, tapi harusnya sampai kepada Abraham dan Yesus untuk memilih.
Dalam melanjutkan permasalahan
providensia Allah memilih Nuh. Allah menyatakan perjanjian (Kel. 8:21)
tanggung-jawab manusia akan mendapatkan akibat kalau tidak bertanggungjawab.
Dalam ajaran Kristen takdir tidak ada, yang ada hanya nasib (Kej. 8:22) dimana
ini merupakan bagian proses, siapa yang berjuang akan menang, siapa yang
menabur akan menuai. Dalam providensia
menegaskan bahwa manusia diberikan tanggung-jawab dan akibatnya dan selama bumi
masih ada maka proses tidak akan berhenti.
[1] KBBI (2007)
[2] G. C. Van Niftrik,
& B.J. Boland, Dogmatika masa Kini,(
Jakarta: BPK-GM, 2015), 114.
[3] Henry C
Theesen, Theologi Sistematika,
(Malang, Gandum Mas, 1993), 171-172
[4] S. Wismoady Wahono, Di Sini
Kutemukan, (Jakarta BPK Gutung Mulia, 1997), 61-64
[5] J. Blommendaal, Pengantar
kepada Perjanjian Lama, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), 26-27.
[6] Catatan Rekaman Akademik di Kelas II-A, oleh Pdt Pardomuan Munthe, M.Th,
STT Abdi Sabda Medan: Senin, 31 Januari 2023.
[7] R. Soedarno, Ikthisari Dogmatika, (Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 1993), 137
[8] Bill
Berends, Theologi Dasar (Jakarta:
Suara Harapan Bangsa, 2013), 68.
[9] Niftrik
and Boland, Dogmatika Masa Kini, 172.
[10] S
R, Ikhtisar Dogmatika (BPK Gunung
Mulia, 2002), 147 .https://books.google.co.id/books?id=jfN_uDxcFr8C.
[11] R. Soedarno, Ikthisari Dogmatika, (Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 1993), 136
[12] Edward W. A. Koehler, Intisari
Ajaran Iman Kristen (Pematang Siantar, Kolportase Pusat GKPI, 2010) 40
[13] Ibid, 40-41
[14] William Dyrness, Tema-Tema
Dalam Teologi Perjanjian Lama (Gandum Mas, 1992)
[15] Hendry C. Theissen, Teologi sistematika, (Malang: Gandum
Mas, 1993), 194
[16] G. C. Van Niftrik
dan B. J. Boland, Dogmatika Masa Kini, (Jakarta:
BPK GM: 2014), 173-174
[17] Hendry C. Theissen, Teologi sistematika, (Malang: Gandum
Mas, 1993), 189-190
[18]Henry C. Thiessen, Teologi Sistematika, (Malang:Gandum Mas
: 1993), 188-189
[19] Hendry C. Thiessen, Teologi Sistematika, (Malang: Gandum
Mas, 1993), 195-196
Comments
Post a Comment