PENCIPTAAN 1. Penciptaan Alam Semesta

 

PENCIPTAAN

1.            Penciptaan Alam Semesta

Menurut KBBI, arti kata penciptaan adalah proses, cara, perbuatan. Penciptaan merupakan proses dalam pembuatan suatu hal baru yang sebelumnya belum pernah ada ataupun yang sudah ada namun dibuat dengan inovasi lebih baru.[1]

Dalam bahasa Ibrani “Bara” biasa diterjemahkan “menjadikan” atau “menciptakan”. Tetapi, kata ini dalam Perjanjian Lama di pergunakan untuk sesuatu yang dikerjakan oleh Allah. Jadi tidak mungkin bisa diperbandingkan dari segi manapun dengan apa yang dibuat oleh manusia dengan Allah. Kata “bara” langit dan bumi: itu tidak dapat kita terangkan begitu saja seperti kata menjadikan, mengadakan, membuat, membikin atau menciptakan. Dengan kata lain, istilah “bara” sama sekali tidak menjelaskan cara terjadinya dunia.[2]

Istilah “Penciptaan” dalam Alkitab mengandung dua arti yaitu penciptaan langsung dan tidak langsung. Penciptaan langsung adalah tindakan bebas Allah Tritunggal  untuk menciptakan segala sesuai Allah untuk kemuliaan-Nya tanpa memakai dari yang ada sebelum dunia diciptakan. Sedangkan penciptaan tidak langsung merupakan tindakan- tindakan dari yang sudah ada “ex nihilo” artinya tindakan-tindakan ini Allah membentuk menyesuaikan menggabungkan atau mengubah bahan-bahan yang sudah ada.[3]

Semua diciptakan Allah dalam enam hari dan diciptakan kira-kira 4000 tahun sebelum kedatangan Kristus dan mengenai bentuk dan susunan alam semesta, orang zaman dahulu beranggapan dan berpatokan pada gambar atau isi yang ada dalam Alkitab : segala-galanya berputar di sekitar bumi yang merupakan dataran rata dan bertumpu pada tiangnya (Mzm 754:4) di bawahnya terdapat samudera raya dan di atasnya Surga dan langit yang berbentuk kubah. 

Para ahli umumnya berpendapat, bahwa dalam Alkitab tidak kita temui ajaran tentang "creatio ex nihilo” ( menciptakan dari yang tidak ada). Bumi belum berbentuk dan kosong: gelap gulita menutupi samudera raya tetapi Roh Allah melayang-melayang di atas permukaan air. Para ahli teologi tentang kuasa Allah berpendapat, bahwa Allah telah menciptakan langit dan bumi dari yang tidak ada. Hal ini mereka dasarkan dari Roma 4:17 dan Ibrani 11.13.

Allah memiliki alasan dalam melakukan penciptaan alam semesta yaitu, yang pertama Allah merumuskan tujuan dan ketetapannya untuk mempertunjukkan kemuliaan-Nya. Yang kedua  untuk menerima kemuliaa-Nya karena merupakan hasil karya Allah Setelah Allah menunjukkan Kemuliaan maka Allah menerima Kemuliaan dengar arti lain kita harus memuliakan nama Tuhan.

1.1. Ada dua versi penciptaan dalam Alkitab yaitu:

a.    Priester (P) dalam Kejadian 1:1-24a

Sumber P di mulai dengan cerita sejarah kejadian mula dan sejarah purbakala. Di situ diceritakan tahap-tahap kejadian alam semesta dan isinya, yang semuanya terjadi karena firman Allah yang berkuasa. Kejadian-mula itu mencapai puncaknya dengan diciptakannya manusia laki-laki dan perempuan sekaligus.  Allah menjadikan langit dan bumi dalam jangka enam hari, hari pertama: terang; hari kedua: cakrawala; hari ketiga: laut darat dan tumbuh-tumbuhan; hari ketiga: matahari, bulan dan bintang-bintang hari kelima ikan-ikan, dan burung-burung; hari keenam: binatang-binatang di darat dan manusia. Tentang manusia disebut bahwa Allah menjadikan manusia menurut gambar dan rupa-Nya; dan menjadikan mereka sebagai laki-laki dan perempuan.

b.   Yahwist (Y) dalam Kejadian 2:4b-25

Sumber Y merupakan cerita yang tertua dalam Pentatehukh, yaswith ini berasal dari Selatan (Yehuda) pada tahun 950SM. Sama seperti sumber cerita pada Priester P, Sumber ini menceritakan kejadian mula alam semesta (Kej 2:4b-25) dan jatuhnya manusia ke dalam dosa (Kej 3). Penulis sumber Yahwist berusaha menonjolkan beberapa tujuan theologis. Pertama-tama penulis menekankan Tuhan adalah Pencipta dan Tuhan atas dunia dan manusia serta bangsa-bangsa di bumi.[4] Cerita sumber  tentang penciptaan langit dan bumi menurut versi Y Allah menjadikan manusia lebih dahulu, yaitu Adam, lalu menyusul tumbuh-tumbuhan dan binatang binatang Akhirnya Allah menjadikan "Hawa" dari tulang rusuk Adam sebagai isteri bagi Adam dan menyebutnya Hawa, “manusia perempuan” Menurut versi ini, keduanya bertelanjang, tetapi tidak merasa malu. Allah membuat bagi mereka taman Eden dan menempatkan manusia di dalam taman itu dengan tugas untuk "mengusahakan dan memeliharanya.[5]

Adapun hubungan antara sumber P dan Y pada versi pertama ada penciptaan, pada versi kedua juga menceritakan penciptaan, namun mengapa dibedakan menjadi dua versi sementara sama-sama membahas tentang penciptaan. Versi pertama  merupakan puncaknya artinya puncak dari semua cerita penciptaan sedangkan yang kedua adalah proses penciptaan. Jadi hubungannya harus diartikan hubungan penjabaran, yakni versi pertama adalah penjabaran versi kedua. Bisa juga diumpamakan seperti anggaran dasar dengan anggaran rumah tangga, anggaran dasar dijelaskan dalam anggaran rumah tangga jadi kesatuan yang utuh.  Kedua memang berhubungan menjadi satu kesatuan yang utuh.

1.2. Dasar Penciptaan

Dunia diciptakan oleh Tuhan Allah hanya dapat diyakini dalam iman namun tidak ada seorang pun yang dapat membuktikannnya. Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi (kej 1:1). Dalam PL dipakai hanya bagi suatu tindakan yang dilakukan Allah yang ingin dinyatakan atau diungkapkan dengaan kata tersebut ialah sifat penciptaan itu yang sama sekali susah dan konsepsi  suatu creatio yang terjadi dari ketiadaan (creatio ex nihilo), sebab kata bara itu tidak pernah terhubung dengan keterangan akan bahan-bahan tertentu. Allah adalah "pencipta", bukan "pejuang" yang harus bekerja keras untuk membentuk kosmos dari khaos yang sudah ditemukan dan bukan suatu "Sumber benih" yang hasilnya (emanasi) adalah dunia. Dalam perjanjian Baru Yesus juga dimengerti sebagai Pencipta dunia (1Kor 8:6;Kol 1:16; Yoh 1:3) namun Penciptaan dan penebusan atau penyelamatan harus dapat dibedakan.  Menurut Karl Bart, dasar penciptaan adalah hasil dari karya Tuhan Allah yang bermaksud untuk menyelamatkan manusia di dalam Kristus. Agar supaya maksud penyelamatan terlaksana, maka terlebih dahulu Tuhan Allah harus menjadikan dunia sebagai ruang atau tempat dimana keselamatan di dalam Kristus dapat terjadi. Jadi penciptaan adalah suatu keharusan Tuhan Allah harus menciptakan, jadi mungkin Kristus dilahirkan dan disalibkan Tuhan agar terpenuhi janji Allah . Allah harus menciptakan alam semesta, agar supaya alam semesta dapat memberi tempat bagi perjanjian kasih karunia Allah dan untuk Kemuliaan-Nya. 

1.3. Urutan Penciptaan

Menurut Alkitab ada tiga tahap penciptaan, yaitu pada mulanya, enam hari dan hari ketujuh.

Ada 3 masalah di bumi

1.  Bumi belum berbentuk dan kosong

2.  Gelap gulita menutupi samudera raya ( Bumi berbentuk bulat dipenuhi dengan air)

3.  Roh Allah melayang-layang diatas permukaan air

A.        Pada Mulanya ( Kej 1:1)

Ditulis pada mulanya adalah Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong dan Roh Allah melayang-layang diatas permukaan air.

B.         Enam hari penciptaan

-   Hari pertama (Kej 1:3) Tuhan Allah menjadikan terang Yang dimaksud dengan terang di sini bukan terang ilahi. Yang dimaksud ialah terang yang biasa, hasil penciptaan Tuhan Allah yang pertama, tidak lain karena terang itu adalah syarat mutlak bagi segala yang hidup. Terang kehidupan dimulai karena yang membantu membuka penciptaan adalah terang

-   Hari kedua (Kej 1:6-8) Tuhan Allah menjadikan cakrawala, yang memisahkan air yang di bawah cakrawala dari air yang di atas cakrawala itu. Dalam gambaran bumi ini dikelilingi oleh air di segala penjuru alam, di kanan dan di kiri, di depan dan di belakang, di atas dan di bawah. Cakrawala memisahkan di atas dan di bawah air di atas di bawah.

-   Hari ketiga Tuhan Allah memisahkan air yang di bawah langit daripada daratan. Selanjutnya Allah menjadikan tumbuh-tumbuhan, yaitu segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis yang menghasilkan buah yang berbiji. Dibentuk laut dan darat pada hari ketiga dan diperintahkannya daratan untuk menumbuhkan tumbuhan. (Kej 1:9-12), Allah menamai cakrawala itu langit.

-   Hari keempat (Kej 1:14-16) Tuhan Allah menjadikan matahari, bulan, dan bintang-bintang untuk memisahkan siang dari malam, dan menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun. Allah menciptakan matahari. Bumi mengelilingi matahari ada mulanya waktu siang dan malam atau gelap dan terang.

-   Hari yang kelima (Kej 1:20)  Tuhan Allah menjadikan binatang-binatang yang mendiami air, angkasa, dan daratan.

-   Pada hari yang keenam (Kej 1:26-27) Tuhan Allah menjadikan manusia sebagai makhluk yang tertinggi. Maka segala karya penciptaan Tuhan Allah dalam Kejadian 1 digambarkan sebagai puncak pada penjadian manusia Penjadian makhluk-makhluk lainnya digambarkan sebagai karya persiapan, yaitu persiapan bagi kehidupan manusia. Segala makhluk lainnya, kecuali diberi tempat mereka masing-masing, juga diberi tugas yang berhubungan erat sekali dengan kehidupan manusia air dipisahkan dan dibendung, agar supaya bumi dapat didiami manusia. Tumbuh-tumbuhan tumbuh di dalam dunia untuk diberikan kepada manusia (Kej 1:29). Demikian juga halnya dengan binatang-binatang. Mereka dijadikan juga agar supaya manusia dapat menguasainya (Kej 1:26). 

            Dari penciptaan ini kita mengetahui bagaimana urutan penciptaan, dari penciptaan tumbuh-tumbuhan dan benda-benda penerang, dalam biologi tumbuhan memperoleh makanan dari fotosintesis dari matahari. Matahari dan bulan yang mengatur peredaran waktu, mengapa pada hari pertama sudah ada jadilah pagi dan petang? Dan jadilah terang? Bukankah pagi dan petang merupakan terbit dan tenggelamnya matahari? Jadi Dari urutan penciptaan itu bukan matahari jadi awal waktu dalam kehidupan tetapi ketika Allah berfirman: jadilah terang maka itulah permulaan dari waktu kehidupan dan kehidupan dimulai di bumi dan sumber waktu dan kehidupan sesungguhnya bukan terang melainkan bersumber dari yang menjadikan terang itu yaitu Firman Allah yang hidup (Yoh. 1:9).

C.         Hari Ketujuh

Hari yang ke tujuh pasal 2:2-3 menjelaskan tentang berhenti dan memberkati. Berhenti bukan beristirahat, namun menguduskan, melihat, memelihara, memerintah dan memberkati ciptaan-Nya itu supaya berjalan delam keteraturan sesuai dengan yang dikehendaki-Nya. Jadi seluruh ciptaan harus berjalan dalam kehendak-Nya. . Pada hari ketujuh Allah berhenti melakukan pernciptaan, tetapi tidak beristirahat. Allah memberkati, menguduskan “Beranak cuculah dan bertambah banyak” (Kej 1:28). Diberkati maksudnya dimulai proses, menguduskan maksudnya khusus artinya bekerja berperan sebagai tugasnya.

1.4. Hasil Penciptaan

Hasil penciptaan dalam 6 hari oleh penulis Kej.1 terdapat 8 buah hasil karya penciptaan, yaitu:

1.  Terang

2.  Cakrawala

3.  Daratan/lautan

4.  Tumbuhan

5.  Matahari, bulan, dan bintang

6.  Burung dan ikan

7.  Binatang didaratan

8. Manusia

Penciptaan dalam Kejadian 1 disebar demikian rupa bahwa ada hubungan atau persesuaian di antara hari pertama dan hari keempat (terang dan yang memiliki terang), hari kedua dan hari kelima (cakrawala yang memisahkan air di bewah dan air di atas dan para penghuni langit dan lautan), hari ketiga dengan hari keenam (daratan dan tumbuh-tumbuhan serta binatang daratan dan manusia). Selain daripada itu perlu diketahui juga, bahwa karya Tuhan Allah di dalam tiga sekawan yang pertama saling berhubungan dengan erat sekali. Semua karya Tuhan Allah di sini mewujudkan pemisahan, yaitu pemisahan terang dari pada gelap, pemisahan air yang di atas daripada air yang di bawah dan pemisahan daratan daripada lautan.

2.          Penciptaan Manusia

2.1. Siapakah Manusia itu?

Penciptaan manusia yang di dalam alkitab kita perhatikan ada keistimewaan dalam manusia yang bukan berarti harkat/martabat. Tapi keistimewaan itu Allah menjadikan manusia sebagai hamba-Nya, Ia memberikan tugas atau mandat serta tanggung jawab. Dalam Kejadian 1:26 disebutkan bahwa “berfirmanlah Allah baiklah Kita menjadikan..” ayat ini berarti adanya suatu perencanaan. Siapakah Kita? Surga ternyata bukan tempat yang sunyi, sepi surga itu ramai, meriah sekali. Banyak malaikat-malaikat di surga (Luk. 2:15) turun bala surga, mereka bernyanyi berpaduan suara. Jadi Allah ingin memberitahukan bahwa Allah ingin menciptakan manusia kepada makhluk surgawi yang ditempatkan di bumi. Jadi manusia asal-usulnya dari Surga.[6]

Tuhan Allah menciptakan manusia pada hari yang ke-6, dan Tuhan Allah memberkati serta memberi kuasa pada manusia; Tuhan Allah membentuk manusia dari debu tanah; Tuhan Allah menghembuskan nafas hidup ke dalam hidung manusia sehingga manusia menjadi makhluk yang hidup. Makna teologis dari cerita penciptaan manusia menurut ajaran Alkitab, adalah: Manusia bukanlah Allah dan manusia beda sekali dengan Allah; Manusia hanyalah ciptaan Allah, sedangkan Allah adalah sang penciptanya, sebab itu manusia tidak mengadakan dirinya sendiri; Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang bergantung sepenuhnya hanya kepada Allah; Manusia diciptakan Allah sebagai makhluk yang hidup dan memberi kepadanya kuasa atas segala ciptaan Allah lainnya. Jelas alkitab memberikan pemahaman bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan Allah, manusia tidak sederajat dengan Allah. Walaupun status manusia lebih rendah dari Allah, tetapi kepada manusia Allah telah menganugerahkan kuasa atas hidupnya dan kuasa atas hidupnya dan memberkati kehidupannya. Akan tetapi, manusia bukan sekedar sebuah ciptaan; ia juga adalah satu pribadi. Menjadi satu pribadi berarti memiliki suatu bentuk kemandirian bukan mutlak tetapi relatif. Menjadi satu pribadi berarti mampu membuat keputusan, menetapkan tujuan, dan bergerak ke arah tujuan-tujuan itu. Berarti memiliki kebebasan setidaknya dalam arti ia mampu membuat pilihan-pilihannya sendiri. Singkatnya, manusia adalah satu ciptaan sekaligus satu pribadi; ia adalah pribadi yang diciptakan. Menjadi ciptaan berarti bergantung sepenuhnya kepada Allah; menjadi pribadi berarti memiliki kemandirian yang relatif.

Tujuan manusia diciptakan yaitu tugas dan tanggung jawab dalam Kejadian 1:26, 28 dikatakan berkuasa dan Kejadian 2:5,15 yaitu menguasai dan memelihara. Untuk melakukan semua itu butuh alat karya roh kudus (Kis. 1:8). Dalam hal ingin mencapai tujuan tersebat tentu ada alat kerja yang dibutuhkan  Kejadian 2:7 menyatakan bahwa Allah menghembuskan nafas hidup ke dalam hidung manusia dalam bahasa Ibrani “Nefes”. Nafas hidup yang dimaksud ialah roh Allah (Kis. 2:7).

Kejadian 1:26 berbunyi “baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita”.  Menurut dari kata dasar “turut” yang berarti taat, ikut. Yang buktinya adalah: Allah berinisiatif untuk menjadikan manusia; Allah menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Allah; Allah menjadikan manusia menurut jenis kelamin (laki-laki dan perempuan); Allah memberkati manusia yang dijadikan-Nya dan memberi amanat untuk berkembang biak dan memberi kuasa kepada mereka.  Tentang manusia dikatakan bahwa ia dijadikan menurut gambar dan rupa Allah. Ada hal-hal yang dijadikan manusia itu menurut gambar dan rupa Allah, dalam Kejadian 1:26-28 kita menemui tiga keterangan, yaitu: pertama manusia mempunyai hubungan atau nisbab yang khusus dengan Allah; kedua manusia mempunyai hubungan khusus dengan sesamanya; ketiga menurut gambar Allah berarti manusia mempunyai hubungan khusus dengan makhluk-makhluk lain. 

Deskripsi menurut gambar Allah yang pertama bahan dasar yang dipakai ialah Tanah. Tanah adalah tumbuh-tumbuhan (Kej. 1:11-12), tanah adalah binatang-binatang (Kej. 2:19), tanah adalah manusia (Kej. 2:7). Kesimpulan semua makhluk hidup (tumbuhan, binatang, manusia) bahan dasar penciptaannya ialah tanah. Ada beberapa teologi tanah, yaitu:

 Tanah adalah asal mula semua makhluk hidup

 Tanah adalah sumber kehidupan dan makanan makhluk hidup

 Tanah sebagai tempat tinggal makhluk hidup

 Tanah sebagai tempat akhir makhluk hidup.

Manusia diciptakan Allah bukan sebagai makhluk tunggal. Tanpa manusia lain, ia tidak lengkap dan tidak mempunyai arti: tidak ada percakapan dan tidak ada pertemuan. Kepada manusia itu Allah memberi kuasa untuk memerintah makhluk-makhluk yang lain (Kej. 1:26,28). Kuasa ini tidak mutlak, sebab sebagai kuasa yang diberi, manusia berkewajiban memakainya sesuai dengan kehendak Allah, sang pemberi dan bukan secara sewenang-wenang. 

Dalam PB, kita menemukan penjelasan bahwa Kristus adalah gambar dan rupa Allah yang sempurna dan telah menjadi tebusan bagi kemuliaan (Rm. 8:29; 2 Kor. 3:10; Ibr. 1:3;2 Kor. 3:2). Karena kemuliaan Tuhan, orang percaya telah diubah menjadi serupa dengan gambar Kristus (Tuhan) dalam kemuliaan yang semakin besar. Berdasarkan keterangan Alkitab di atas, makna teologis dari manusia adalah gambar dari rupa Allah yang dalam bahasa latin disebut (imago dan similitudo), Ibrani menyebut (tselem dan demut), Yunani menggunakan (eikon dan eidos), mengandung arti, antara lain:

 Gambar dan rupa Allah yang ada pada manusia bukan terjadi karena kehendak manusia, melainkan atas dasar inisiatif Allah yang menciptakan manusia.

 Gambar dan rupa Allah, yang ada pada manusia dimiliki oleh manusia laki-laki dan manusia perempuan.

 Gambar dan rupa Allah yang ada pada manusia menunjukkan kepada persesuaian dalam natur (sifat) ilahi Allah dan bukan pada perwujudan lahiriah  seperti yang dimiliki manusia.

 Gambar dan rupa Allah yang ada pada manusia dimaksudkan agar manusia wajib menunjukkan kualitas hidup rohani, baik kepada Allah, sesamanya dan terhadap alam semesta.

 Gambar dan rupa Allah yang ada pada manusia adalah wujud dari kemuliaan Allah yang telah dianugerahkan Allah kepada manusia sebagai ciptaan-Nya.

Namun pada ayat 27 menunjukkan bahwa manusia diciptakan menurut “gambar Allah”  saja tidak ada kata “rupa” disitu. Apa makna dari “gambar” dan rupa ini?”

 Menurut GKR “gambar” dan “rupa” adalah berbeda gambar berhubungan dengan sifat-sifat dan rupa berhubungan dengan fisik.

 Protestan menganggap bahwa hubungan kedua kata itu adalah sebuah yang  berbeda menunjuk pada sifat Allah yang satu. Misalnya kates dan pepaya.

Dalam Kejadian 5:1  dikatakan “menurut rupa”. Jadi gambar dan rupa adalah sama. Hanya kedua kata tersebut secara bergantian. Hanya dalam Kejadian 1:26 sajalah kedua kata itu dipakai secara bersamaan. Kata “menurut Gambar Allah” adalah sebuah satu kesatuan yang tidak bisa diganti-ganti bahasanya tidak boleh dikatakan “manusia se-gambar dengan Allah itu adalah bahasa yang salah. Mengapa  demikian? Sebab jika dikatakan “manusia se-gambar dengan Allah” hal itu berarti manusia pada hakikatnya sama dengan Allah. Padahal manusia adalah ciptaan Allah.

2.2. Manusia dan Relasinya dengan alam semesta

2.2.1. Manusia dengan sesama

Manusia tidak dapat hidup sendirian, tetapi bersama orang lain. Pola dasar hubungan manusia ialah hubungan antarpribadi. Adam diciptakan bersama Hawa, Kain diciptakan bersama Habel. Keberadaan manusia dengan sesamanya merupakan sesuatu yang kenyataan yang tidak dapat disangkal.  Untuk kita dan untuk keselamatan kita, Yesus Kristus telah menjadi manusia. Ia menjadi salah seorang di antara kita. Ia tidak mau lepas dari kita, secara demikian kita sendiri kita sendiri tidak akan bisa menjadi satu dengan sesama manusia kita kepercayaan Kristen tidak bisa merupakan suatu ikhtiar moralitas untuk meniru Kristus. Akan tetapi dalam memandang kepada Yesus Kristus, kita menemukan bahwa kesetiaan-Nya kepada manusia tak kunjung berubah, sangkut pautnya dengan kita manusia tak pernah putus. Maka menjadi jelaslah kepada kita, bahwa menjadi manusia itu adalah: hidup dalam hubungan dengan sesama manusia. Menjadi manusia adalah hidup dalam hubungan dengan sesama manusia, dalam berjumpa dengan sesama manusia. Perjumpaan ini adalah perjumpaan antara dua orang yang masing-masing menjadi subjek. Perjumpaan dengan sesama manusia adalah suatu perjumpaan antara dua orang yang masing-masing mempunyai namanya lagi bertanggung-jawab. Terjadinya perjumpaan antara manusia dengan manusia akan dicirikan empat hal yaitu:

1.  Benar-benar saling berjumpa adalah bahwa dua saling bertemu “mata dengan mata”. Dalam sungguh-sungguh melihat kepada orang lain, manusia itu menemukan sesamanya sambil memperhatikan nasib sesamanya. Persekutuan sejati timbul, di mana dua manusia berdiri hadap-hadapan sebagai dua pribadi yang merdeka dan bertanggungjawab, yang saling bertemu muka.

2.  Benar-benar saling berjumpa adalah bahwa dua manusia saling berbicara dan saling mendengar satu sama lain. Bagi perikemanusiaan, telinga itu mempunyai fungsi yang penting.

3.  Benar-benar saling berjumpa adalah bahwa orang saling memberi pertolongan dengan perbuatan. Menjadi manusia adalah bersedia untuk menolong orang lain dan bersedia untuk ditolong oleh orang lain.

4.  Benar-benar saling berjumpa adalah bahwa kedua belah pihak dengan segenap hatinya suka berbuat apa yang sudah diterangkan dalam ketiga hal di atas. Menurut hakikatnya yang sedalam-dalamnya, peri-kemanusiaan itu adalah soal hati. Sesama manusia kita harus mendapat tempat dalam hati kita. Ukuran ini adalah syarat yang berat, tetapi syarat yang mutlak.

Selain dari relasi vertikal yaitu relasi tanggung jawab kepada Allah kita dalam Kejadian 1:26-28, bahwa manusia juga mempunyai relasi horizontal dengan sesamanya manusia. Manusia bukanlah makhluk tunggal. Bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri di dunia ini. Ia hidup bersama-sama dengan manusia lain. Tanpa manusia lain ia tidak lengkap. Dan ia tidak mempunyai arti. Tidak ada orang menyapanya, tidak ada percakapan, tidak ada pertemuan, tidak ada pertemuan, dan tidak ada masa depan. Karena itu Allah menciptakan manusia jamak. Maksud Allah dengan penciptaan-Nya itu ialah supaya mereka saling melayani, membantu, saling mengisi dan saling melengkapi. Manusia mempunyai tiga relasi tanggung jawab yaitu: dengan Allah, dengan sesamanya manusia dan dengan bumi.

2.2.2. Manusia dengan Makhluk lainnya

Manusia memiliki tiga relasi tanggung jawab, yaitu dengan Allah, dengan sesamanya manusia dan dengan bumi. Ketiga relasi ini erat berhubungan. Relasi yang pertama yaitu relasi dengan Allah ini menjadi relasi yang paling penting dan yang paling menentukan. Sungguh pun demikian tanpa relasi yang baik dengan sesama manusia dan dengan bumi, tidak mungkin ada relasi yang baik dengan Allah. Relasi yang baik dengan Allah harus nyata dalam relasi yang baik dengan sesama dengan bumi. 

Kepada manusia itu Allah memberi kuasa untuk memerintah makhluk-makhluk yang lain (Kej. 1:26-28). Hal ini jelas terkandung tentang tugas yang Allah berikan kepada manusia seperti yang tertulis dalam Kejadian 2: 15 “Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu”. Oleh sebab itu, manusia harus menjalankan tugasnya yang sesuai dengan kuasa yang sudah Allah berikan, yakni memelihara dan melindungi makhluk-makhluk lain. Oleh sebab itu, ada 2 hal yang dapat disimpulkan, yaitu:

1.  Walaupun manusia itu makhluk paling utama, ia bukan ilahi melainkan makhluk ciptaan, dan sebagai demikian ia berdiri di pihak makhluk-makhluk lain yang seluruhnya bergantung kepada Allah , hidupnya terbatas, kemampuannya, dan pengetahuannya juga terbatas.

2.  Walaupun demikian Allah menghubungkan diri dengan manusia yang fana dan rapuh, ia boleh menjadi partner Allah. Sebagai partner Allah ia berdiri di pihak Allah dan boleh menjadi kawan sekerja-Nya untuk memelihara, mengatur, dan juga mengembangkan alam ciptaan.

Berkat tugas yang diberikan oleh Allah kepada manusia, ia mendapat kesempatan untuk merealisasikan dirinya sebagai manusia untuk membuktikan dengan perbuatan bahwa ia benar-benar adalah manusia yang diciptakan menurut gambar Allah, bahwa ia tahu hidup secara bertanggung jawab, baik kepada Allah maupun kepada sesamanya manusia dan juga kepada bumi, baik tumbuh-tumbuhan, hewan, udara, laut, seluruh lingkungan hidup, serta seluruh dunia ekologi.  Dalam seluruh alkitab ditekankan bahwa manusia adalah bagian dari alam ini. Manusia adalah debu dan diciptakan dari debu tanah (Kej. 2:7). Manusia sebagai daging adalah lemah dan bergantung pada belas kasihan Allah, seperti semua makhluk lainnya (Yes. 2:22; 40:6; Mzm 103:15; 104:27-30). Bahkan dalam memanfaatkan alam untuk melayani kebutuhannya, manusia harus melayani alam ini harus menjaganya dan mengolahnya untuk mencapai tujuannya.

Alam ini bukanlah suatu kerangka atau latar belakang manusia. Antara alam dan manusia ada ikatan-ikatan yang sangat mendalam dan rahasia. Dipihak manusia ada simpati naluriah terhadap alam (Kej. 2:19) dan manusia harus menjunjung tinggi hukum-hukum alam (Im 19:19; Ul 22:9,10; Ayb 31:38-40).  Dan sekalipun manusia berasal dari debu tanah dan sama seperti ciptaan Allah yang mendiami bumi ini bersama sama dengan mereka. Kita boleh menjadi wakil-Nya di bumi untuk berkuasa atas makhluk-makhluk lainnya. Hubungan manusia dengan makhluk-makhluk yang lain tidak bersifat antithetis. 

Meskipun manusia berasal dari bumi debu tanah dan sama seperti makhluk-makhluk yang lain adalah ciptaan Allah yang mendiami bumi bersama-sama dengan mereka, akan tetapi manusia menjadi wakil Allah di bumi untuk berkuasa atas makhluk-makhluk yang lain. Begitu besar kasih dan perhatian Allah terhadap makhluk-makhluk yang merupakan ciptaan-Nya, sehingga dalam Thoranya diberikan peraturan-peraturan kepada umatnya untuk melindungi serta memelihara makhluk-makhluk bukan saja manusia, akan tetapi juga binatang-binatang, tumbuh-tumbuhan, dan tanah. Dari peraturan tersebut, jelas mengatakan kepada manusia bahwa, kuasa yang ia peroleh dari Allah itu bukanlah kuasa yang mutlak..

Dalam hal ini manusia sangat dekat hubungan dengan tanah. Dijelaskan bahwa Istilah yang dipakai untuk tanah dalam bahasa Semit adalah “adama”. Kemungkinan dasar katanya berasal dari “dm” yang mendapat arti “merah”. Tanah dibedakan menjadi batu – batuan dan semak belukar serta gurun pasir. Adama itu juga berarti “tanah kering”, namun bisa disiram dengan air sehingga abu yang kering menjadi subur. Allah menciptakan manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam lubang hidungnya, sehingga ia menjadi makhluk hidup (Kej. 2:7).  Allah menciptakan manusia dari debu tanah. Lalu Allah menghembuskan nafas kehidupan ke hidung manusia, sehingga manusia menjadi makhluk yang hidup menurut gambar Allah. Di sinilah hubungan manusia dengan dunia dan alam. Hubungan manusia dengan sekitarnya sangat erat,  dari pandangan ekologi tentang manusia dapat dikatakan bahwa manusia itu bergantung dari alam untuk hakikat (esensi) keberadaannya.

2.3. Manusia dan kebudayaan

Budaya terambil dari dua kata yaitu budi (pikir) dan daya (hasil). Jadi segala hasil pikiran ini adalah budaya manusia.  Dalam Kejadian 1:28 terdapat titah Allah kepada manusia. Teks ini dianggap sebagai sumber kebudayaan manusia. Dinyatakan bahwa alam atau dunia terbuka untuk ditaklukkan, dikuasai, diolah, diusahakan oleh manusia. Melalui titah kerja Allah, dunia dibudayakan oleh manusia. Kuasa serta mengusahakan yang diberikan Allah kepada manusia berada dalam janji firman-Nya. Selama manusia menyadari titah bahwa kuasa-mengusahakan diberikan Allah kepadanya, maka selama itu juga ia bertanggungjawab kepada Allah. Kuasa mengusahakan yang diberikan dapat dilupakan manusia, sehingga ia beranggapan bahwa segala kekuatan dapat timbul dari diri manusia itu sendiri atau juga dari alam.

Allah mengangkat manusia menguasai alam yang atasnya ia bertanggungjawab dalam kebebasan yang digerakkan oleh Allah sendiri. Dengan demikian, unsur-unsur proses modernisasi harus ditujukan kepada titah Allah dan harus terus terikat kepada keyakinan bahwa titah itu adalah dari Allah sendiri. Ilmu atau segala sesuatu yang berhubungan dengan teknik harus bisa bertanggungjawab kepada seluruh umat manusia, bukan hanya ditujukan kepada kenikmatan atau kesejahteraan sebagian bangsa, tetapi harus secara keseluruhan.

Budaya merupakan cara keberadaan manusia dalam dunia. Hubungan manusia dengan alam sekitarnya bukan hubungan yang langsung, melainkan hubungan yang diantarai oleh pola budaya tertentu. Hampir semua hal yang menyangkut tingkah laku manusia ditentukan oleh budaya. Secara garis besar dalam kebudayaan terdapat dua segi, yaitu:

a.  Melalui budaya manusia menerjemahkan alam menjadi wawasan. Manusia menampung apa yang dia lihat, dengar, sentuh, ke dalam jaringan bahasa. Manusia tidak secara langsung memiliki hubungan dengan hal-hal di luar dirinya, tetapi manusia selalu menafsirkan hal-hal yang di luar dirinya. Penafsiran yang diberikan manusia pada umumnya tidak disadari oleh manusia sendiri. Dia sudah biasa memandang lingkungannya dengan cara tertentu karena pengaruh tradisi yang di dalamnya ia lahir. Meskipun manusia tidak menyadarinya, cara dia memandang lingkungannya tidak objektif, tidak netral, tetapi bersifat interpretatif, karena dipengaruhi oleh budaya. Oleh karena itu, manusia memiliki cara pandang yang berbeda terhadap lingkungannya. Ada bermacam-macam penafsiran, sama seperti ada bermacam-macam budaya.

b.  Melalui kebudayaan, manusia secara aktif mengerjakan dan mengelola dunia. Dia menemui dunia dalam keadaan yang tertentu, tetapi bukan untuk membiarkan dunia dalam keadaan itu, melainkan untuk mengelolanya.

Semua kebudayaan mengandung unsur bersama. Walaupun manusia ditentukan oleh budaya, tetapi manusia tetaplah manusia. Umpamanya tiap manusia fana, tiap manusia hidup bersama orang lain.

3.          Pemerintahan dan Pemeliharaan (Providential)

Segala sesuatu dalam alam, Allahlah yang memerintahnya. “Memerintah” artinya menjuruskan perkembangan kepada suatu maksud. Tuhan menjadikan segala sesuatu masing-masing dengan maksudnya sendiri, ada tujuan tertentu yang hendak Tuhan buat akan tetapi segala sesuatu tidak berjalan sendiri kepada maksudnya (deisme) melainkan Tuhan yang mengemudikan hingga maksud-Nya tercapai[7].

A.           Pemerintahan Allah Atas Alam

Kata pemeliharaan merujuk baik pada penjagaan Allah dan kuasanya atas alam semesta. Banyak Mazmur yang memuji Allah untuk pemeliharaannya terhadap manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan[8]. Sesungguhnyalah demikian: kepercayaan bahwa Allah memelihara dunia ini dan memerintah atasnya dan bahwa Ia juga menuntun hidup Manusia, kepercayaan kepada providensia itu tidaklah timbul dari sebab melihat kepada dunia dan hidup saya sendiri, tetapi dari sebab melihat kepada Kristus. Jika Kristus memasuki dan menguasai hidup kita, maka dengan sukacita kita berseru Allah yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia (Kristus)? (Roma 8:32)[9].

B.            Pemerintahan Allah atas Manusia

Jadi, baik dalam pemeliharaan maupun dalam pemerintahan Tuhan berkenan memakai manusia sebagai alat. Tuhan memberikan perintah-Nya yang terang, umpama kepada manusia. Ia memerintahkan: "Taklukkanlah itu, dan berkuasalah atas ikan-ikan" (Kej 1:28) dan manusia ditempatkan dalam taman Eden, "untuk mengusahakan dan memelihara" (Kej. 2: 15). Manusia harus memelihara bumi oleh karena kekacauan selalu mengancam akan merusak bumi. Manusia harus mengusahakan bumi agar bumi selalu berkembang ke arah maksud Allah. Manusia harus mengkulturkan bumi. Hal ini menjadi lebih terang sesudah pengaruh dosa masuk ke dalam alam semesta dan dunia manusia. Dosa adalah anomia, penentang hukum (1 Yoh. 3:4).

Tentu terang juga, bahwa kedua-duanya, pemeliharaan dan pemerintahan, melayani kedatangan Kerajaan Allah, pemuliaan nama Allah Sejarah Penyelamatan menunjukkan dengan tegas hal ini. Sejarah bangsa Israel menuju kepada kedatangan Sang Mesias. Seperti juga dalam perjanjian baru dinyatakan, bahwa Kaisar Agustus pun dipakai Tuhan bagi pemenuhan janji-Nya. Dan perbuatan-perbuatan para penentang Yesus Kristus juga menuju kepada pelaksanaan kehendak Tuhan (Luk. 2:1-7; Yoh. 18:14,32 dst.). Tetapi Agustus, Kayafas, Yudas dan lain-lain tetaplah manusia. Mereka tetap bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Memang mereka menujukan perbuatan mereka kepada kemauannya  sendiri dan bukan kepada kehendak Allah. Tetapi Allah memakai perbuatan mereka untuk melayani kedatangan Kerajaan Kristus[10].

Tuhan memelihara alam seisinya artinya: Tuhan menghindarkan alam dari tenaga-tenaga yang akan merusaknya. Manusia di dalam hal ini juga menjadi gambar Tuhan sebab itu diberi perintah oleh Tuhan supaya Eden dipeliharanya. Selain itu memelihara juga berarti: bekerja agar hukum-hukum, aturan-aturan yang ada di alam seisinya tetap berjalan. Maka dari itu pemeliharaan harus dipandang sebagai aktivitas (tindakan) yang sebetulnya seperti di dalam firman Tuhan dinyatakan antara lain dalam Mazmur 104:30; Yohanes 5:17; Ibrani 1:3. Manusia menjadi alat Tuhan[11]. Untuk menjaga dan memelihara ciptaan dan alat Tuhan untuk mencapai tujuannya. Pemeliharaan dapat dibagi menjadi beberapa jenis yaitu secara langsung, tidak langsung dan tingkat pemeliharaan Allah

A.           Pemeliharaan secara langsung

Dunia pada umumnya dan ciptaan pada khususnya tidak bisa mempertahankan hidupnya berdasarkan kekuatannya sendiri. Kelanjutan keberadaan mereka hanya bergantung pada kehendak dan kuasa Allah semata yaitu jika tidak, semua akan menuju kebinasaan. “karena di dalam Dialah  telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singasana maupun kerajaan, baik pemerintah maupun penguasa, segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” (Kolose 1:16). Sebagaimana dengan firman-Nya yang penuh kuasa Allah menciptakan segala sesuatu, demikianlah sekarang Allah dengan kuasa yang sama memelihara keberadaan mereka, “menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan” (Ibr. 1:3). [12]  Allah tidak berdiam, tidak memperhatikan ciptaan-Nya, tapi Allah tetap memelihara dan memerintah atas segala ciptaan-Nya.

B.            Pemeliharaan Tidak Langsung

Allah memakai ciptaan-Nya untuk mendukung dan menopang antar satu sama yang lain. Ketika Allah telah menciptakan manusia, ia menyediakan tumbuhan-tumbuhan hijau di ladang dan buah di pohon untuk dimakan. Firman Tuhan kepada Nuh “segala yang bergerak, yang hidup, akan menjadi makananmu (Kej. 9:3). Jadi, keberadaan dan kehidupan kita langsung bergantung kepada Allah (Ke. 17:28), secara tidak langsung kehidupan kita bergantung pada mata pencarian yang Allah berikan kepada kita. Allah memberi kita makan setiap hari, namun kita harus bekerja untuk memperolehnya. Bahkan di taman Eden manusia tidak punya alasan untuk menghabiskan waktu bermalas-malasan, melainkan harus memelihara dan menjaga taman itu (Kej. 2:15). Dengan demikian segala ciptaan adalah hasil karya Allah yang menakjubkan, yang masing-masing saling melayani seutuhnya, saling mendukung dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka.[13]

C.       Tingkat-tingkat Pemeliharaan Allah

Mungkin lebih mudah untuk berpikir tentang aktivitas Allah dalam penciptaan dari segi tingkatan. Tingkat pertama terdapat ciptaan asli dibuat-Nya untuk menyatakan kemulian-Nya. Pada tingkat kedua, terdapat apa yang biasa disebut pemeliharaan, sebagai kelanjutan tingkatan pertama. Yaitu, setelah selesai dengan ciptaan-Nya yang mula-mula, Allah melanjutkan dengan memelihara ciptaan-Nya melalui proses-proses kehidupan yang dibangun-Nya. Semuanya dijadikan jelas pada tingkat ketiga pemeliharaan Allah. Di samping membentuk dan memelihara suatu lingkungan yang cocok bagi manusia, Allah bertindak langsung untuk mengadakan keselamatan.[14]

 

Tujuan utama pemerintahan-Nya yang berdaulat ialah pernyataan kemuliaan-Nya. Karena Ia memerintah dengan tujuan menunjukkan kesempurnaan-kesempurnaan-Nya: Kesucian-Nya dan keadilan-Nya, Kuasa-Nya, Hikmat-Nya, Kasih-Nya, dan kebenaran-Nya, Jadi, [15] Percaya kepada providensia berarti percaya bahwa Allah memelihara serta memerintah dunia ini dan juga menuntun hidup kita. providensia tidak timbul dari akibat melihat kepada dunia dan alam. Tidak ada kuasa yang tertinggi, ketika kita  percaya kepada Allah yang di dalam Yesus Kristus yang telah mendatangi kita, dengan cara Allah yang membuat kita mengenal Dia, maka kita mengakui bahwa Dialah yang memelihara serta memerintah dunia ini dan hidup kita boleh kita percayakan kepada Allah. Kata providensia mengandung pengakuan yang timbul dari kepercayaan, bukan hasil dari pemikiran kita ataupun dari pandangan tentang dunia. Kepercayaan kepada “providensia” Allah, bukan berarti kita dibebaskan dari tanggung jawab untuk bertindak sendiri, berusaha sendiri, menyelenggarakan sendiri, baik dalam kehidupan sehari hari maupun terhadap dunia sekitar.[16]

1.1.      Bukti Ajaran Tindakan pemerintahan

·         Allah berkuasa atas alam fisik yaitu Sinar matahari (Mat. 5:45), angin (Maz. 147:18), kilat (Ayub 38:25,35), hujan (Ayub 38:26; Mat. 5:45), guntur (1 Sam. 7:10), air (Maz. 147:18), hujan es (Maz. 148:8), es (Ayub: 37:10), salju (Ayub 37:6; 38:22), serta embun beku (Maz. 147:16) semuanya tunduk kepada perintah-Nya.

·         Allah berkuasa atas tanaman dan hewan yaitu Setiap ciptaan hidup berada di tangan Allah (Yunus 4:6; Mat. 6:28;30), unggas (Mat 6:26; 10:29), Margasatwa (Mzm. 104:21; 27 :28 147:9) dan ikan (Yunus 1:17; Mat 17:27).

·         Allah berkuasa atas bangsa-bangsa dimuka bumi ini yaitu Allah yang memerintah atas bangsa-bangsa (Mzm. 22:29). Ia yang membuat mereka berkembang dan membinasakan mereka (Ayb 12:23), mengawasi dan menghakimi mereka (Mzm. 66:7;75:8), menetapkan dan menurunkan para penguasa (Dan. 2:37-39; 4:25), tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintahan-pemerintahan yang ada, ditetapkan oleh Allah (Rm 13:1).

·         Allah berkuasa atas seluruh hidup manusia yaitu Atas kelahiran, karier, dan kematian manusia. Allah dengan giat terlibat sebelum seseorang dilahirkan (Mzm. 139:16; Yer. 1:5) dan melaksanakan rencana-Nya dalam kehidupan seseorang (1Sam. 16:1; Gal. 1:15-16), dan masih banyak lagi ayat yang menunjukkan kuasa Allah atas hidup manusia[17]

1.2.     Bukti ajaran tindakan pemeliharaan

·         Sifat Allah dan alam semesta- Karena Allah bukan sekedar oknum yang berkepribadian, tidak terbatas kebijaksanaan, kemurahan dan kuasa-Nya, tetapi Ia juga pencipta dan oleh karenanya pemilik alam semesta, maka diharapkan bahwa Ia akan memerintah yang dimiliki-Nya itu. Sebagai Allah yang mahakuasa dapat dipercayai bahwa Ia mampu melaksanakan segala sesuatu yang direncanakan-Nya.

·         Ajaran Alkitab- Alkitab lebih banyak berbicara tentang pekerjaan Allah dalam memelihara penciptaan-Nya daripada tentang pekerjaan Allah dalam penciptaan. Banyak ayat menunjukkan bahwa Allah menjalankan pemerintahan yang berdaulat atas segenap alam fisik, atas dunia margasatwa dan tanaman, atas bangsa-bangsa di bumi, dan atas setiap orang secara pribadi. [18]

1.3.     Sarana-sarana yang dipakai dalam Providensia

Dalam perkara-perkara lahiriah, Allah memakai hukum-hukum alam. Melalui hukum-hukum ini Allah telah menetapkan musim-musim dan memberi kepastian tentang adanya makanan bagi penghidupan kita (Kej 8:22). Lewat hukum-hukum ini juga, Ia telah memberikan manusia naluri penyelamatan diri sendiri dan rasa tanggung jawab moral (Roma 1:26; 2:15).Dalam perkara batiniah Allah memakai berbagai sarana dalam pelaksanaan pemeliharaan yakni:

1.         Ia memakai Firman-Nya. Manusia sering kali di suruh membaca Alkitab untuk memperoleh tuntunan dan petunjuk (Yos. 1:7-8; Yes. 8:20; Kol. 3:16).

2.        Allah menghimbau kepada akal manusia dalam hal menyelesaikan persoalan-persoalan mereka (Kis. 6:2).

3.        Allah memakai himbauan. Ia telah menetapkan pelayanan hamba-hamba-Nya untuk mengajar dan mengajak umat-Nya untuk mempercayai kebenaran (Yer. 7:13; 44:4; Za. 7:7; Kis 17:30).

4.   Allah memakai perasaan batin yang mengekang dan menahan. Paulus sangat peka terhadap petunjuk-petunjuk batin ini yang menyatakan kehendak Allah (Kis 16:6-7).

5.   Allah memakai keadaan-keadaan yang nampak. Allah menuntun dengan pintu yang terbuka dan dengan pintu yang tertutup (1Kor. 16:9; Gal. 4:20).

6.   Allah mencondongkan hati manusia ke satu arah tertentu dan bukan ke arah yang lainnya (1 Raj. 8:58; Mzm 119:36; Ams. 21:1; 2 Kor. 8:16).

7.    Allah kadang-kadang menuntun manusia dengan memakai mimpi dan penglihatan. Yusuf (Mat 2:13,19,22) dan Paulus (Kis 16:9-10; 22:17-18) dituntun dengan cara ini

Dalam beberapa tindakan pemeliharaan, Allah memakai wakil-wakil khusus, yaitu para malaikat dan Roh Kudus.[19]

 

2.   Pembebasan/ pemilihan (Preadestinasi)

Istilah ini menunjukkan pada keputusan kekal yang diambil Allah untuk memberikan keselamatan abadi kepada manusia. Ajaran tentang predestinasi menjelaskan bahwa manusia hanya diselamatkan karena ia dipilih oleh Allah untuk menerima keselamatan abadi dan bukan karena jasanya sendiri, oleh karena itu ajaran predestinasi juga sering disebut dengan ajaran pemilihan.

Kata ibrani “Yada” dan kata bahasa Yunani “ginosken”, proginosken dan prognosis, kata “yada” secara harafiah berarti “mengetahui” atau “mengamati” dari seseorang atau sesuatu atau dapat juga dipakai untuk menunjukkan satu arti yang lebih dalam yaitu “mengetahui seseorang dengan satu kasih yang besar” atau juga dapat diartikan sebagai menjadikan seseorang sebagai obyek kasih atau pilihan kasih. 

2.1.     Predestinasi Perjanjian Lama

Dalam Perjanjian Lama, pemilihan Tuhan Allah adalah karya Allah yang dinyatakan di dalam  sejarah Israel. Dapat kita lihat dalam Ulangan 7:6-8, disebutkan bahwa Tuhan Allah karena kasih-Nya semata-mata telah memilih Israel dar segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya. Hal ini bukan karena jumlah Israel yang lebih banyak dari bangsa mana pun, atau karena jumlahnya yang paling kecil, akan tetapi karena Tuhan Allah memegang janji-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyang Israel. Hal ini jelaslah bahwa dalam Pemilihan yang dilakukan Tuhan ketika Tuhan memanggil Abraham, Ishak Yakub serta Israel. Pemilihan Tuhan bukanlah suatu teori tetapi suatu kenyataan yang dinyatakan dalam Sejarah. Dalam Yesaya 41:9, Israel adalah hamba Tuhan yang telah dipilih Tuhan Allah sendiri, yang terbukti dari kehidupan Israel (Yes. 65:9). Firman Tuhan Allah yang demikian itu memuat gagasan, bahwa Israel dipilih oleh Tuhan untuk menjadi sasaran kasih-Nya dengan maksud Allah memilih Israel supaya Israel memasyurkan puji-pujian bagi Tuhan (Ul. 7:6; Yes 43:21).

2.2.    Predestinasi Perjanjian Baru

Dalam Perjanjian baru disebutkan bahwa pilihan Tuhan Allah yang ditujukan kepada umat-Nya berdasarkan kasih-Nya, bukan karena kebaikan manusia. Menurut PB, manusia sudah kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Manusia dibenarkan karena kasih karunia (Rm. 3:24) dan hanya karena karya roh Kudus (Rm. 8:1). Jadi keselamatan manusia itu hanya berdasarkan karya Tuhan Allah saja. Tuhanlah yang menentukannya (Rm. 8:30), sehingga hanya kasih karunia yang memilih itulah yang patut dipuji.

2.3.    Predestinasi menurut Yohanes Calvin

Bagi Calvin, pembahasan ajaran tentang predestinasi terutama penting karena ajaran ini menjamin prakarsa Allah dalam proses penyelamatan manusia dan juga kebebasan Allah untuk mengaruniakan keselamatan abadi dalam Kristus Yesus atau tidak. Menurut Calvin, Allah sudah mengambil keputusan abadi untuk memilih orang tertentu untuk menerima keselamatan abadi dan untuk menolak orang lain sehingga akhirnya mereka binasa karena hukuman Allah atas dosa-dosa yang mereka lakukan. 

2.4.    Predestinasi menurut Agustinus

Menurut Agustinus predestinasi menyatakan tindakan Allah dalam memberikan anugerah pada setiap orang. Hal ini berarti keputusan dan tindakan Ilahi yang khusus ketika Allah mengaruniakan anugerah-Nya kepada orang-orang yang akan diselamatkan

2.5.    Perbedaan Providensia dengan Predestinasi

Berarti dengan perpindahan status itu, maka keberadaan “tahah” ada dalam bahaya atau “krisis”, sebab manusia sudah ada di tangan Kuasa lain, yang bertolak belakang dengan Allah. Maka tidak boleh tidak, Allah harus menyelamatkan keduanya, yakni: (1) menyelamatkan “tanah”. Arti kata ini mencakup tentang pemeliharaan bumi dan seisinya supaya tetap berlangsung, dan inilah yang disebut Providentia Dei; (2) Menyelamatkan manusia. Arti kata ini mencakup tentang upaya Allah memanggil dan merampas manusia dari kuasa dosa supaya Kembali menjadi milik Allah, dan inilah yang disebut praedestinasi Dei, keduanya sering dikhotbahkan Gereja sebagai berkat. Provedentia adalah berkat umum, dan semua makhluk hidup menerimanya. Sedangkan Praedestinasi adalah berkat khusus, tetapi tidak semua orang menerimanya .

2.6.    Hubungan Providensia dengan Predestinasi

Dalam praktik hidup sehari-hari “takdir Allah” sering kali digunakan untuk menyembunyikan ataupun memaafkan segala kemalasan dan kelambanan manusia (jasmaniah dan rohaniah pada segala lapangan hidup) pendeknya, dibalik penggunaan ucapan “takdir Allah” itu sering tersembunyi suatu sikap hidup yang fasik. Apabila secara akal budi dan lepas dari kepercayaan yang sesungguhnya kita memikirkan arti providensia dan pradestinasi maka segera kita tergelincir dalam sikap hidup yang digambarkan di atas tadi. Tetapi syarat mutlak untuk melakukan dogmatika ialah bahwa kita memikirkan soal-soal itu di dalam percaya dan dari sudut kepercayaan. Ungkapan “takdir Allah” serta “kadar Allah”, kita tidak mempergunakannya lagi dalam terjemahan Alkitab, dalam berkhotbah dan dalam berdogmatika. Kata-kata itu sudah terlampau merosot arti dan isinya tidak mengandung apalagi selain daripada keluhan “ apa boleh buat” yang bersifat sedih atau acuh tak acuh. Bertentangan dengan itu haruslah menjadi jelas bagi kita, bahwa maksud pengertian Providensia dan Pradestinasi adalah justru untuk memberikan kepada kita bahwa hiburan serta kesukaan yang sesungguhnya.

Praedistinasi dan providential tidak dapat dipisahkan karena masih termasuk dalam bagian penciptaan. Dalam tahap penciptaan dibedakan menjadi tiga yaitu, perencanaan, pemilihan dan keberlanjutan ciptaan. Dalam pemerintahan Allah dibedakan menjadi dua yaitu sebelum dan sesudah penciptaan. Praedistinasi sebelum penciptaan Allah yaitu penetapan. Penetapan ini dibedakan menjadi dua yaitu, sebelum manusia jatuh ke dalam dosa (Kej. 1:2, 28) dan setelah manusia jatuh ke dalam dosa (Ef. 1:4) . Sedangkan providensial setelah Allah menciptakan.

Sebelum Allah menciptakan langit dan bumi Allah telah menciptakan manusia. Dalam penciptaan harus ditetapkan terlebih dahulu siapa yang akan mengawasi memerintah dan memelihara ciptaan-Nya. Setelah manusia diciptakan maka ditetapkan maka manusia yang akan memelihara ciptaan. Providensi diserahkan Allah kepada manusia tapi ada batasannya (Ef. 1:4).  Mengapa ada pembatasan dikarenakan Hukum Eden (buah pengetahuan) dan dosa (ketika manusia jatuh ke dalam dosa maka manusia sudah milik dosa dan hamba dosa). Dosa bermula pada manusia tanpa ada paksaan dari iblis, pertimbangan diberikan kepada manusia dan manusialah yang memilih. Manusia memilih menjadi dosa dan Allah tidak dapat merampas, tapi Allah memberikan supaya manusia kembali kepada Allah. Setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa maka timbul masalah baru mengenai providensia yaitu bagaimana kelanjutan pemeliharaan tersebut apakah masih diberikan kepada manusia. Karena dosa telah berkuasa atas manusia dan hal itu Allah tentu tidak ingin hak milik-Nya diambil. Maka, Allah melakukan rencana penyelamatan (Ef. 1:5).  Allah memulainya dengan memanggil Abraham (Kej. 12:3, Gal. 3:16).  Calvin mengunjungi praedestinasi pada manusia, tapi harusnya sampai kepada Abraham dan Yesus untuk memilih.

Dalam melanjutkan permasalahan providensia Allah memilih Nuh. Allah menyatakan perjanjian (Kel. 8:21) tanggung-jawab manusia akan mendapatkan akibat kalau tidak bertanggungjawab. Dalam ajaran Kristen takdir tidak ada, yang ada hanya nasib (Kej. 8:22) dimana ini merupakan bagian proses, siapa yang berjuang akan menang, siapa yang menabur akan menuai.  Dalam providensia menegaskan bahwa manusia diberikan tanggung-jawab dan akibatnya dan selama bumi masih ada maka proses tidak akan berhenti.



[1]  KBBI (2007)

[2] G. C. Van Niftrik, & B.J. Boland, Dogmatika masa Kini,( Jakarta: BPK-GM, 2015),  114.

[3] Henry C Theesen, Theologi Sistematika, (Malang, Gandum Mas, 1993), 171-172

[4] S. Wismoady Wahono, Di Sini Kutemukan, (Jakarta BPK Gutung Mulia, 1997), 61-64

[5] J. Blommendaal, Pengantar kepada Perjanjian Lama, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), 26-27.

[6] Catatan Rekaman Akademik di Kelas II-A, oleh Pdt Pardomuan Munthe, M.Th, STT Abdi Sabda Medan: Senin, 31 Januari 2023.

 

[7] R. Soedarno, Ikthisari Dogmatika, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993), 137

[8] Bill Berends, Theologi Dasar (Jakarta: Suara Harapan Bangsa, 2013), 68.

[9] Niftrik and Boland, Dogmatika Masa Kini, 172.

[10] S R, Ikhtisar Dogmatika (BPK Gunung Mulia, 2002), 147 .https://books.google.co.id/books?id=jfN_uDxcFr8C.

[11] R. Soedarno, Ikthisari Dogmatika, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993), 136

[12] Edward W. A. Koehler, Intisari Ajaran Iman Kristen (Pematang Siantar, Kolportase Pusat GKPI, 2010) 40

[13] Ibid, 40-41

[14] William Dyrness, Tema-Tema Dalam Teologi Perjanjian Lama (Gandum Mas, 1992)

[15] Hendry C. Theissen, Teologi sistematika, (Malang: Gandum Mas, 1993), 194

[16] G. C. Van Niftrik dan B. J. Boland, Dogmatika Masa Kini, (Jakarta: BPK GM: 2014), 173-174

[17] Hendry C. Theissen, Teologi sistematika, (Malang: Gandum Mas, 1993), 189-190

[18]Henry C. Thiessen, Teologi Sistematika, (Malang:Gandum Mas : 1993), 188-189

 

[19] Hendry C. Thiessen, Teologi Sistematika, (Malang: Gandum Mas, 1993), 195-196

Comments

Popular posts from this blog

TAFSIRAN KITAB 1 TESALONIKA 3:1-13 MENGGUNAKAN METODE KANONIKAL

Teologi PL: ARTI DAN MAKNA FORMULASI BERKAT MENURUT KITAB BILANGAN