PELAKSANAAN KHOTBAH a. Sikap Pengkhotbah b. Teknik menyampaikan khotbah 1. Doa 2. Pembacaan teks 3. Penjelasan teks
PELAKSANAAN KHOTBAH
a.
Sikap Pengkhotbah
b.
Teknik menyampaikan khotbah
1.
Doa
2.
Pembacaan teks
3.
Penjelasan teks
I.
Pendahuluan
Setelah
mengetahui langkah-langkah dalam mempersiapkan khotbah yang sudah dijelaskan
oleh kelompok VIII dan IX. Dalam tulisan ini, pengkhotbah akan diperhadapkan
dengan pelaksanaannya dalam mempublikasikan semua yang telah dipersiapkan terkait
khotbah kepada para pendengarnya (jemaat). Sudah menjadi barang tentu bagi pengkhotbah
untuk menunjukkan sikap-sikap yang baik yang meyakinkan jemaat atau para
pendengar agar tidak menimbulkan pertanyaan buruk, melahirkan perasaan tidak
yakin oleh jemaat atau memberikan kesan buruk terhadap jemaat akan kehadiran
pengkhotbah. Karena meskipun semua bahan khotbah sudah dikuasai dan dihafal, apabila
diperhadapkan dengan sikap yang tidak baik maka khotbah yang disampaikan akan
terasa hambar dan hal itu akan membuat khotbah kehilangan makna bagi jemaat. Maka
untuk mencegah hal-hal yang tidak baik tersebut, sajian ini akan memberikan
penjelasan mengenai pelaksanaan khotbah yang seharusnya dipersiapkan juga oleh
pengkhotbah.
II.
Pembahasan
2.1.
Sikap pengkhotbah
Ada dua sikap
yang harus dimiliki oleh seorang pengkhotbah baik sebelum atau sesudah
berkhotbah adalah sebagai berikut: [1]
a.
Secara Rohani
-
Ramah terhadap semua orang.
-
Rendah hati dan tidak sombong.
-
Memiliki hubungan yang baik dengan jemaat.
-
Rileks, tidak tegang, dan memiliki kepercayaan
diri.
-
Menguasai diri, situasi, dan jemaat.
-
Khotbah dengan sungguh dan keyakinan iman yang
teguh.
b.
Secara Lahiriah
-
Rapi.
-
Bersih.
-
Sehat jasmani, mental dan rohani.
-
Pantas.
Dalam
pelaksanaannya, ada beberapa hal yang harus diketahui mengenai sikap seorang
pengkhotbah dan teknik dalam membawakan atau menyampaikan khotbah adalah
sebagai berikut:
a.
Seorang pengkhotbah harus sadar dan mengetahui
bahwa tujuan berkhotbah adalah menyampaikan firman Allah kepada semua pendengar
atau jemaat yang hadir. Maka seorang pengkhotbah harus memiliki suara yang alami,
tidak dibuat-buat, dan menggunakan volume, tempo (kecepatan), dan tekanan suara
yang sedang atau keras sesuai dengan kehadiran jemaat bersamaan dengan
pengucapan yang jelas tidak terburu-buru sehingga khotbah terdengar indah oleh pendengar
dan pendengar yang jaraknya jauh dapat mendengarkan dengan baik dan mengerti isi
khotbah yang dibawakan. Dalam pengucapannya, pengkhotbah harus menggerakkan
mulut dan bibir sesuai dengan vokal atau bunyi dari setiap kata dengan tepat
dan menghindari bentuk suara yang monoton (pengucapan datar) yang membuat para
pendengar menjadi bosan dan mengantuk. Karena walaupun isi dari suatu khotbah
baik tetapi cara penyampaiannya (bahasa) tidak baik maka itu hanya akan menjadi
angin berlalu. Bahasa yang jelas adalah bahasa yang baik (lih. 1Kor.2:3; Ams.
25:11; Ay. 6:15; Ams. 12:10; Ay.35:16).[2]
Begitu juga dengan penggunaan istilah
(kata-kata) yang vulgar dan sensitif perlu dihindari. [3]
b.
Seorang pengkhotbah harus membuat kontak mata
atau memandang kepada semua pendengar atau jemaat dan tidak fokus pada satu titik
saja. Perhatian seorang pengkhotbah dianjurkan untuk tidak terikat dengan
catatan atau tulisan-tulisan. Sikap memperhatikan, memandang sambil memantau
jemaat apakah mereka mendengarkan, mengerti, dan memahami khotbah perlu
diketahui. Sehingga jemaat merasa kehadirannya disapa dan diperhatikan. [4]
c.
Seorang pengkhotbah harus menghindari stereotype
(prasangka) tertentu dalam gerak-gerik atau gerakan khotbah. Gerakan
khotbah harus wajar, spontan, dan tidak dibuat-buat dengan meniru gerakan orang
lain atau bersikap berlebihan dalam berkhotbah. [5]
d.
Seorang pengkhotbah juga harus memperhatikan
gerakan tubuh yang digunakan untuk berkomunikasi kepada jemaat seperti gerakan
tangan. Gunakanlah tangan secukupnya dan sebaik mungkin, tidak kaku, wajar
tidak dibuat-buat, tidak monoton dan juga setiap gerakannya harus menggambarkan
kata-kata yang diucapkan atau disampaikan. Karena pertunjukan gerak yang baik,
tegas, dan tepat akan memberikan kesan bagi jemaat atau pendengar sehingga
pendengar tidak mengantuk, bosan dan lelah.[6]
2.2.
Teknik Penyampaian Khotbah
2.2.1. Doa
Menurut KBBI
Daring doa adalah permohonan
(harapan, permintaan, pujian)
kepada Tuhan.[7]
Doa adalah nafas hidup orang percaya, termasuk pengkhotbah.[8]
Hal ini menandakan bahwa berdoa adalah suatu hal yang sangat penting dan harus
dilakukan terutama dalam hal berkhotbah bahkan hal ini harus dilakukan sebelum
khotbah disusun. Pengkhotbah bukan saja harus berdoa untuk efektivitas
pelayanannya, tetapi juga harus mendoakan dirinya agar sungguh-sungguh
menjalankan apa yang dia ajarkan dari mimbar. Pengkhotbah harus meminta
pertolongan kepada Tuhan dan bersandar kepada-Nya karena Dialah yang menjadikan
khotbahnya sebagai saluran berkat bagi pendengarnya. Dapat dikatakan bahwa dengan
berdoalah pengkhotbah mampu dan mengalami aliran semangat rohani yang baru oleh
kuasa Roh Kudus. Tanpa Roh kudus, khotbah tidak dapat menyentuh dan mengubah
hati manusia (Rm. 3:23; 6:23; 1Kor. 2:14; Mat.26:41; Yud. 19) dan hanya Roh
Kuduslah yang membuat manusia mengerti dan menerima firman Tuhan (Yoh. 16:8;
Tit.3:5; Kis.1:8; 2Ptr. 1:20-21).[9]
Dengan diawali doa, pengkhotbah melangkah naik ke mimbar dan begitu juga untuk
turun harus diawali dengan doa.[10]
Kunci untuk menjadikan suatu khotbah berhasil maka harus diawali dengan berdoa
bersama baik pengkhotbah dan jemaat yang hadir supaya Roh Kudus bekerja dalam
diri setiap orang untuk mengerti dan melakukan firman Allah. Dalam berdoa,
pengkhotbah harus memahami struktur doa yang baik adalah struktur doa yang
diajarkan oleh Yesus Kristus dalam Matius 6:9-13, memilih kata-kata yang
pantas, kudus, indah bagi Tuhan.[11]
2.2.2. Pembacaan
Teks
Secara
tradisional, khotbah selalu diawali dengan membacakan teks.[12]
Pembacaan teks hampir selalu dilakukan sebelum khotbah disampaikan atau yang
dahulu dilakukan sebelum penjelasan teks dilakukan. Cara ini bukanlah suatu hal
yang diharuskan bagi setiap pengkhotbah dalam menyampaikan khotbah. Teks
khotbah dapat dibaca seluruhnya atau hanya sebagian saja. Pengkhotbah bebas
untuk membaca sebagian teks terlebih dahulu, lalu menjelaskan teks secara
keseluruhan selama penyampaian khotbahnya. Misalnya, pengkhotbah mau berkhotbah
tentang hidup raja Asa dan keadaan hatinya, sebab dengan jelas, keadaan hati
Asa dinyatakan dalam 2 Tawarikh 14-16. Pengkhotbah dapat memilih untuk
membacakan bagian besar dari teks (2Taw. 16:1-14), atau hanya membacakan 16:9a.
Teks yang dibacakan tersebut memperkenalkan konsep khotbah, namun isi khotbah
masih bergantung pada prinsip-prinsip yang harus diperhatikan untuk membuat
khotbah alkitabiah, yakni menuruti bagian-bagian teks.
Pengkhotbah
dapat membacakan teks sebelum atau berkhotbah dulu. Begitu juga dengan
penyampaian judul khotbah. Namun, alangkah baiknya apabila judul khotbah
dibacakan lebih awal sehingga para pendengar memperhatikan teks untuk mencari
informasi berkaitan dengan judul tersebut di dalam teks. Secara umum, pembacaan teks dan penjelasan
(khotbah) yang baik akan memberikan hasil yang lebih dalam dan luas bagi
jemaat. Sebenarnya, dengan membaca firman Allah sudah dapat untuk membina
jemaat Tuhan (1Tim. 4:13).
Dalam pembacaan
teks, ada beberapa teknik yang dapat dilakukan:[13]
A.
Puitis
Cara membaca
dengan puitis maksudnya adalah membaca dengan menggunakan nada atau tekanan
yang terdapat dalam karakter kata-kata dalam bacaan teks (Alkitab).
B.
Dramatikal
Dalam teknik
pembacaan ini, nats atau teks Alkitab dibacakan menggunakan nada atau tekanan
yang sama seperti puitis. Perbedaan nada atau tekanan suara puitis dengan
dramatikal terdapat pada karakternya. Dramatikal tergantung pada karakter tokoh
yang terdapat dalam teks atau Alkitab. Pengkhotbah harus membedakan nada atau
tekanan berdasarkan karakter yang berbicara dalam Alkitab.
C.
Teater
Teknik ini sama
seperti Dramatikal. Perbedaannya, teater menggunakan alat peraga ketika
membacakan teks Alkitab. Ketika sang tokoh menggunakan alat peraga maka alat
peraga diekspresikan oleh pengkhotbah dengan gerakan tubuhnya. Perlu dipahami
bahwa sebelum teknik ini dilakukan. pengkhotbah harus menghafal atau melatih
lebih dahulu gerakan dan pembacaannya.
2.2.3. Penjelasan
Teks
Penjelasan teks
adalah usaha untuk menjelaskan isi khotbah yang mencakup aspek-aspek baik
secara gramatika, konteks, dll. Dalam menjelaskan teks diperlukan kekreatifan
dalam mencocokkan konteks dalam teks dengan situasi yang sekarang sehingga teks
khotbah menjadi hidup pada masa sekarang. Tujuannya adalah untuk lebih
meyakinkan jemaat akan kebenaran yang sedang dijelaskan. Bila diperlukan,
penjelasan teks dapat dimulai dengan penjelasan arti atau istilah kata yang
digunakan, frasa, tata bahasa, atau struktur kalimat dalam teks aslinya.
Penjelasan teks juga dapat diperjelas dengan memberikan dukungan terhadap teks
menyangkut dukungan alkitabiah (peristiwa-peristiwa dalam Alkitab), teologis (ayat
referensi), dan dukungan lain diluar Alkitab yang dapat dipertanggungjawabkan
untuk membuat pendengar terkesan akan kebenaran yang terbukti benar.[14]
Selain hal-hal diatas, penjelasan teks juga dapat dilakukan dengan menggunakan sebuah
ilustrasi yang berkesan dan menarik, memperjelas membuktikan, menerjemahkan,
dan mengingatkan kebenaran, meningkatkan kembali kebenaran, menurunkan
ketegangan, dan untuk menyentuh perasaan jemaat yang disesuaikan juga dengan
konteks atau kebutuhan pendengar.
Dalam penjelasan
teks Alkitab, pengkhotbah dapat menggunakan dua bahasa yaitu:[15]
1.
Verbal yaitu penjelasan teks secara lisan dengan
memperhatikan tempo, dinamika (tinggi-rendahnya suara), nada atau lagu suara.
2.
Non-Verbal (Bahasa Tubuh) yaitu menjelaskan
dengan memperhatikan dan menyadari gerakan mata, tangan, leher, dan mimik
wajah.[16]
III.
Kesimpulan
Seorang
pengkhotbah bertanggungjawab dalam menyampaikan firman Allah kepada setiap
pendengar atau jemaat. Tugas ini merupakan tugas yang dilakukan Yesus sendiri
pada waktu di bumi. Artinya bahwa tugas melaksanakan khotbah adalah tugas yang
perutusan dari Yesus itu sendiri. Maka dari itu, seorang pengkhotbah yang
diutus harus menunjukkan sikap yang menjadi teladan dan meyakinkan di hadapan
para pendengar sehingga makna dari khotbah yang disampaikan tidak menjadi
hambar bagi para pendengar. Begitu juga dengan cara atau teknik dalam
menyampaikan khotbah harus disesuaikan dengan keadaan atau kondisi jemaat atau
pendengar khotbah. Sehingga firman Allah sampai kepada hati dan pikiran jemaat.
Jemaat mengerti dan melakukan atau menerapkan firman tersebut dalam kehidupannya.
DAFTAR
PUSTAKA
A.
Buku
Anggraito,
Noor. Menyiapkan Khotbah Biografi Secara Praktis. Yogyakarta: Andi,
2009.
Gintings,
E.P. Homiletika: Dari Teks Sampai Khotbah. Bandung: BMI, 2012.
Gintings,
E.P. Homiletika: Pengkhotbah dan Khotbahnya. Yogyakarta: Andi, 2013.
Said,
Sudarmadji. Manusia Di Mimbar Ilahi: Dasar, Cara, dan Aturan Khotbah di
Mimbar Gereja. Jakarta: BPK-BM, 2017.
Said,
Sudarmadji. Manusia Di Mimbar Ilahi: Dasar, Cara, dan Aturan Khotbah di
Mimbar Gereja. Jakarta: BPK-BM, 2017.
Senduk, H.L. Pengkhotbah
Yang Dinamis. Jakarta: Yayasan Bethel, 2009.
Shipman,
Michael K. Khotbah Alkitabiah Yang Komunikatif dan Berwibawa. Bandung:
YBI, 2004.
Sibarani,
Yosua. Panggilan Berkhotbah. Yogyakarta: Andi, 2021.
Susanto,
Hasan. Homiletik: Prinsip Dan Metode Berkhotbah. Jakarta: BPK-GM, 2004.
B.
Website
https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/doa Diakses pada 13 November 2023 Pukul 15.29.
[1]
Sudarmadji Said, Manusia Di Mimbar Ilahi: Dasar, Cara, dan Aturan Khotbah di
Mimbar Gereja (Jakarta: BPK-BM, 2017), 210-211.
[2]
H.L. Senduk, Pengkhotbah Yang Dinamis (Jakarta: Yayasan Bethel, 2009),
60.
[3]
E.P. Gintings, Homiletika: Dari
Teks Sampai Khotbah (Bandung: BMI, 2012), 204-205.
[4]
E.P. Gintings, Homiletika: Dari
Teks Sampai Khotbah (Bandung: BMI, 2012), 204-205.
[5]
E.P. Gintings, Homiletika: Dari
Teks Sampai Khotbah (Bandung: BMI, 2012), 204-205.
[6]
Noor Anggraito, Menyiapkan Khotbah Biografi Secara Praktis (Yogyakarta:
Andi, 2009), 99.
[7]
https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/doa
Diakses pada 13 November 2023 Pukul 15.29.
[8]
E.P. Gintings, Homiletika: Pengkhotbah dan Khotbahnya (Yogyakarta: Andi,
2013), 172.
[9]
Sudarmadji Said, Manusia Di Mimbar Ilahi: Dasar, Cara, dan Aturan Khotbah di
Mimbar Gereja (Jakarta: BPK-BM, 2017), 74-75.
[10]
Hasan Susanto, Homiletik: Prinsip Dan Metode Berkhotbah (Jakarta:
BPK-GM, 2004), 348.
[11]
(Perbaikan) Penjelasan Dosen Pengampu. Rabu, 15 November 2023.
[12]
Michael K. Shipman, Khotbah Alkitabiah Yang Komunikatif dan Berwibawa (Bandung:
YBI, 2004), 126-127.
[13]
(Perbaikan) Penjelasan Dosen Pengampu. Rabu, 15 November 2023.
[14]
Yosua Sibarani, Panggilan Berkhotbah (Yogyakarta: Andi, 2021), 93, 95.
[15]
(Perbaikan) Penjelasan Dosen Pengampu. Rabu, 15 November 2023.
[16]
Dua bahasa tersebut dijelaskan pada halaman 2 dalam sikap dan teknik oleh
pengkhotbah.
Comments
Post a Comment