ALKITAB 1. Apakah Alkitab itu firman Allah?

 

ALKITAB

1.     Apakah Alkitab itu firman Allah?

            Alkitab bukanlah firman Allah tetapi Alkitab menjadi Firman Allah apabila:

1.       Yesus Kristus yang diberitakan di dalamnya

2.      Apabila Roh Kudus yang bekerja di dalamnya[1]

Alkitab sangat penting karena merupakan firman Allah yang tertulis. Dan alasan pertama untuk mempercayai bahwa kitab suci adalah Firman Allah yang tertulis adalah ajaran Alkitab sendiri tentang diri-Nya.[2] Barangkali kita merasa agak bingung, bahwa istilah “Firman Allah” dipergunakan dalam pelbagai arti, yakni: Firman Allah yang diucapkan (seperti yang disampaikan oleh para nabi dan rasul kepada orang-orang di zaman mereka), Firman Allah yang telah menjadi danging/manusia (sebagaimana yang telah muncul di dalam Yesus Kristus), Firman Allah yang dituliskan (Yaitu Alkitab sebagai kesaksian tentang penyataan Allah yang pusatnya ialah Yesus Kristus), dan Firman Allah yang yang diberitakan kini dan disini (yaitu dalam bentuk pemberitaan gereja yang berdasarkan isi Alkitab memberi kesaksian tentang Yesus Kristus). Alkitab adalah pemberitaan tentang sejarah-keselamatan yang pusatnya adalah kedatangan dan pekerjaan Yesus Krisus. Firman Allah yang menurut Yoh. 1:1, 14, adalah Yesus sendiri adalah Firman Allah. Dalam Dia Firman itu telah mengambil rupa manusia: Firman itu telah menjadi “daging”/manusia dan Firman itu adalah Allah.[3] Yesus begitu mengidentifiksikan diri-Nya dengan kitab suci dan begitu ketat menafsirkan pelayanan-Nya dalam terang kitab suci sehingga tidak mungkin melemahkan otoritas yang satu tanpa secara bersamaan melemahkan otoritas yang lain.[4] 

 Otoritas Alkitab

Otoritas Alkitab bukanlah otoritas manusia, seperti Musa, Paulus atau Petrus, melainkan otoritas Allah sendiriyang berdaulat yang ada dibalik setiap pernyataan, ajaran, janji, dan perintah Alkitab. “Allah ... berbicara ... dengan perantaraan para nabi” (Ibr. 1:1). “Apa yang kukatakan kepadamu adalah perintah Tuhan” (1 Kor. 14:37).[5]

            Alkitab adalah pemberitaan tentang sejarah keselamatan yang pusatnya adalah kedatangan dan pekerjaan Yesus Kristus. Disinilah letaknya keesaan dan persesuaian antara kesaksian yang beraneka warna, sebagaimana diberitakan oleh para Nabi dan Rasul. Oleh karena itu kita harus membaca dan menerangkan isi Alkitab itu dengan berpangkalan kesatuan dan persesuaian sebagai kesaksian untuk Yesus Kristus. Kewibawaan Alkitab bukanlah terletak dalam huruf-hurufnya, melainkan berasal dari kuasa Roh Kudus yang mempergunakan isi Alkitab itu sebagai alatNya untuk memperhadapkan kita manusia dengan Kristus, (2 Kor. 3:6). Maka orang beriman memandang kepada Tuhan (Maz. 123) dan berdoa minta pimpinan Allah (Mzm. 119:19). Mengaku bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang berwibawa, berarti: mengaku kepada Roh Kudus yang mau mengajar kita untuk menyambut Yesus Kristus sebagai Kyrios kita.[6]

Firman Yang Diilhamkan

            Roh Kudus menggerakkan para penulis supaya tahu bagaimana menulis. Kepada nabi Yeremia Allah berfirman: “Tuliskanlah segala perkataan yang Kufirmankan kepadamu itu dalam suatu kitab” (Yer. 30:2). Daud berkata, “Roh Tuhan berbicara dengan perantaraku, firman-Nya ada di lidahku” (2 Sam. 23:2). Petrus menunjukkan bahwa nabi Allah berbicara, mengungkapkan kata-kata, sebagaimana mereka digerakkan Roh Kudus (2 Ptr. 1:21).[7] Soal ini juga dapat dijelaskan demikian: dalam 2 Tim. 3:16 disebutkan, bahwa segala Tulisan yang diIlhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Disini disebutkan adanya tulisan yang diIlhamkan Allah yang bermanfaat untuk mengajar. Kata yang diterjemahkan dengan ‘diIlhamkan’ adalah Theopneustos yang secara harafiah berarti: dihembus, dimasuki angin atau nafas Allah. Maka ungkapan “tulisan yang di Ilhamkan” berarti: tulisan yang di dalamnya dihembuskan atau ditiupkan nafas atau Roh Allah. Bagaimana ungkapan ini harus diartikan? Untuk menjelaskan hal itu kita akan berpangkal dari beberapa ayat lain:

a.       Mat. 1:22 mengatakan, bahwa Maria melahirkan Tuhan Yesus supaya genaplah yang di firmankan Tuhan oleh Nabi, yaitu apa yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya dalam Yes. 7:14. Di dalam ayat ini Tuhan Allah berfirman melalui nabi.

b.      2 Ptr. 1:21 juga dikatakan bahwa nubuatan-nubuatan kitab suci itu tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuatan dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.

            Menurut ayat ini para nabi yang dipakai oleh Tuhan Allah untuk menubuatkan kehendakNya itu di dorong oleh Roh Kudus. Di dorong oleh Roh Kudus disini menunjuk kepada suatu tindakan Roh Kudus secara khusus yakni:

(1)      Bahwa Tuhan Allahlah yang berfirman. Maka Dialah yang memiliki gagasan.

(2)     Bahwa manusia (Para Nabi atau Rasul atau orang lain) berkata-kata atau menulis, karena didorong oleh Roh kudus.[8]

2.   Pengkanonisasian Alkitab

            Kata kanon mula-mula adalah “buluh”. Kemudian suatu alat yang dibuat dari buluh, kemudian “ukuran”, kemudian daftar kitab-kitab yang dianggap mempunyai kewibawaan dan oleh karena itu yang diakui sebagai kaidah (norma) hidup. Dengan arti yang terakhir inilah kata “kanon” dipakai kalau dikatakan bahwa “Kitab Suci adalah kanon”. Kitab Suci adalah daftar kitab-kitab yang beribawa, yang menjadi norma atau kaidah hidup kita. Dalam sejarah tidak ada suatu saat atau suatu peristiwa di mana kumpulan kitab-kitab ini ditentukan atau diproklamasikan sebagai kanon. Tidak ada suatu rapat agung, konsili atau sinode, yang menetapkan hal ini. Pada konsili di Karthago tahun 397, konsili yang pertama, yang aktanya tentang kanon masih tersimpan, dinyatakan bahwa “kecuali kitab-kitab yang kanonik, di dalam Gereja tidak boleh ada lain yang dibaca dengan menganggapnya kitab dari Tuhan," dan kemudian ditulis daftar kitab-kitab seperti kita punyai sekarang. Jadi di Karthago kanon tidak ditetapkan, melainkan diakui bahwa kanon sudah ada. Memang sejarah tidak akan dapat memberikan jawaban atas pertanyaan tentang terjadinya kanon. Kita melihat tangan Roh Kudus dengan mata iman kita. Ia memimpin orangorang percaya hingga mereka mengumpulkan kitab-kitab dan kumpulan kitabkitab ini menjadi kanon “supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya" (Yoh. 20:31).[9]

            Syarat-syarat Kanon antara Lain:

(1)      Apabila tulisan-tulisan itu berasal dari Rasul

(2)     Apabila tulisan-tulisan itu mempersaksikan atau memberitakan tentang Yesus Kristus

(3)     Jika tulisan itu menumbuhkan iman kepercyaan kepada Yesus

            Alkitab adalah kanon yang dijadikan tolak ukur apabila dibaca dengan Kristossentris (berpusat kepada Yesus), tujuan dari Alkitab untuk memberitakan Kristus[10]

2.1.     Kanon Perjanjian Lama

Gereja memahami dirinya sebagai Israel baru, dan bagi alasan ini gereja berpegang teguh pada kanon yang sama dengan yang dipunyai orang Yahudi. Gereja purba yakin bahwa jika Perjanjian Lama dipahami secara benar maka ia (Perjanjian Lama) itu pada hakikatnya sebuah kitab Kristen yang di dalamnya Yesus Kristus disaksikan. Paham bahwa Perjanjian Lama adalah milik gereja dan bukan milik orang Yahudi karena adanya praanggapan tertentu dalam penafsiran terhadap teks-teks Perjanjian Lama. Inilah suatu interpretasi yang juga secara berulang-ulang dipakai sebagai bukti kebenaran klaim Kristen terhadap Perjanjian Lama. Tentu saja, bahkan para teolog dari gereja purba itu sadar bahwa Perjanjian Lama tidaklah sekedar suatu kesaksian langsung mengenai Kristus. Namun mereka yakin bahwa Perjanjian Lama tidaklah aus dalam suatu pemahaman yang bersifat harafiah saja terhadapnya. Lebih dari itu, demikian keyakinan para teolog ini, ada makna yang lebih dalam dari teks-teks Perjanjian Lama apabila Perjanjian Lama dibaca dengan bertolak dari titik pandang penggenapannya dalam Yesus Kristus. Ada dua metode dipergunakan dalam gereja purba untuk membuka rahasia pemahaman yang lebih dalam ini dari Alkitab.

Metode pertama disebut interpretasi Alegoris. Ini bukanlah penemuan gereja, tetapi sudah dipakai sebelum kedatangan Kekristenan oleh teolog-teolog Yahudi-Hellenisme di kota Aleksandria. Maksudnya adalah untuk memberikan suatu arti dan makna yang dapat diterima oleh orang-orang Yahudi yang terpelajar terhadap bagian-bagian Perjanjian Lama yang bersifat ofensif. Maksud yang sama juga ditujukan terhadap orang-orang kafir yang mempunyai minat filsafat.  Gereja mengambil-alih metode interpretasi alegoris ini dari Yudaisme-Hellenistik dan kemudian mengembangkannya, setidak-tidaknya sebagian, sebagai milik mereka sendiri. Jenis interpretasi seperti ini hasilnya sering berbeda dengan makna harfiah dari teks-teksnya yang asli bahkan terkadang tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi dengan teksnya.

Metode interpretasi Alkitab kedua yang dipakai gereja sejak permulaan dalam eksegesenya terhadap Perjanjian Lama adalah apa yang disebut interpretasi Tipologi. Ini tidak diambil alih dari orang Yahudi, tetapi dengan mengabaikan tipologi yang sudah terdapat dalam Perjanjian Lama bagi keperluan interpretasi Alkitab dari Yudaisme yang kemudian diciptakan oleh gereja sendiri. Metode interpretasi ini lebih dekat ke makna harfiah dari suatu teks. Tentu saja bukan tidak jarang eksegese tipologis menjadi eksegese-eksegese alegoris. Interpretasi ini dianggap sesuai dengan rencana ilahi terhadap sejarah, yang terentang dari penciptaan sampai ke pengadilan terakhir, mencapai klimaksnya dalam Yesus Kristus. [11]

2.2.    Kanon Perjanjian Baru

Menurut E. Kasemann, kanon Perjanjian Baru dengan keseluruhan kitab-kitabnya bukan suatu kesatuan yang obyektif, melainkan hasil dari suatu perkembangan yang rumit sekali yang pada awalnya terkandung keYahudian Apokalips dianggap suatu ciptaan sinkretitis yang di dalamnya kanon Perjanjian Baru sendiri tidak memberi dasar buat kesatuan gereja, melainkan ikut mendirikan aneka ragam konfensi-konfensi. Bagi Kasemann, kanon dapat mendirikan kesatuan gereja  hanya sepanjang ia mengandung Injil yaitu Injil tentang pembenaran orang-orang berdosa. Pernyataan-pertanyaan Alkitab tidak semua sama bobotnya. Bobotnya harus diukur menurut kedekatannya dengan kanon di dalam kanon” yaitu berita (kerygma) tentang karya penyelamatan Allah di dalam Kristus. Kanon di dalam kanon tersebut menentukan kewibawaan Perjanjian Baru.[12] 

Boleh dikatakan bahwa kanon Perjanjian Baru berkembang dalam perjalanan masa. Sulitlah untuk menentukan pada titik manakah perkembangan ini dimulai. Titik-titik awal tertentu sudah dapat dicatat dalam Parohan pertama abad ke-2 M. Dalam pertengahan abad ke-2 M, proses itu diintensifkan. Penulis surat 2 Petrus, yang mungkin berasal dari tahun 120 hingga 150 M. sudah menyamakan surat-surat Paulus dengan surat-surat lainnya. Orang pertama yang mulai berbicara tentang perjanjian baru adalah Irenaeus dari Lyon. Tetapi harus dicatat bahwa Irenaeus dengan hati-hati membedakan antara kewibawaan Injil-injil dan surat-surat Paulus. Tidak ada satu pun dari 206 kutipan yang diambil Irenaus dari Paulus yang diperkenalkan dengan formula “sudah tertulis”. Walaupun demikian batasan-batasan kanon Perjanjian Baru setidak-tidaknya dalam bentuk pendahuluan telah ditetapkan sekitar 200 M. Tentu saja, kanonitas dari beberapa surat Katolik, demikian pula kitab Wahyu, tetap merupakan pokok yang kontroversial selama waktu-waktu sesudahnya. Kanon Perjanjian Baru pada akhirnya ditetapkan secara tepat pada suatu rangkaian sinode selama Parohan kedua abad ke 4 M.

Kadang-kadang dikatakan oleh Harnack bahwa formasi atau pembentukan kanon Perjanjian Baru secara menentukan dipengaruhi oleh Marcion. Marcion yang mempunyai pertalian dengan ide-ide aliran Gnostik tertentu, menciptakan kanonnya sendiri tidak lama sebelum pertengahan abad ke-2 M. ia membuang Perjanjian Lama, demikian pula banyak tulisan lain yang kemudian oleh gereja dimasukkan dalam kanon Perjanjian Baru. Kanonnya, yang mencakup Injil Lukas dan sepuluh surat pertama Paulus, merupakan kanon Perjanjian Baru yang pertama. Sebelum Marcion, gereja sudah memiliki suatu koleksi tertentu (koleksi-koleksi) tulisan-tulisan Perjanjian Baru yang dipandang sebagai kitab suci. Tidak dapat diragukan bahwa Marcion mempercepat proses penentuan Perjanjian Baru. Dengan penolakan Marcion terhadap Perjanjian Lama dan penghapusan segala sesuatu yang berbau Yahudi dari Perjanjian Baru. Karena gereja, dalam reaksi terhadap Marcion, berpegang teguh pada Perjanjian Lama dan di dalam perkembangan kanon Perjanjian Baru tidak mengikuti Marcion yang dengan sewenang-wenang menghilangkan banyak tulisan dan bagian-bagian tulisan, maka gereja tetap bersikap benar terhadap tradisinya dan selaras dengan makna normatifnya dengan pemberian status kanon pada tulisan-tulisan Perjanjian Baru.[13]

3.   Alkitab, Tradisi dan Konfesi

Konsili di Trente (1546-1563) memutuskan, bahwa kebenaran dan ajaran Kristus sebagian termuat di dalam kita-kitab yang tertulis, dan sebagian termuat di tradisi yang tidak tertulis, yang telah diucapkan oleh Kristus sendiri dan telah diterima oleh para rasul, dan sejak zaman para rasul, oleh karena pengilhaman Roh Kudus, diteruskan dari tangan kepada kita. Tradisi ini dirawat oleh Gereja dalam suatu urut-urutan yang tidak terputus-terputus. Konsili Vatikan II memutuskan, bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang diberikan dengan pengilhaman Roh Kudus, sedang tradisi adalah Firman Allah yang dipercayakan kepada para rasul dan yang diteruskan oleh para rasul kepada pengganti-pengganti mereka dengan cara tidak bercela. [14]

Alkitab dan tradisi tidak dipisahkan satu sama lain. Penulis-penulis Kristen mula-mula yakin bahwa agama Kristen mencakup dalil-dalil iman tertentu dan pola-pola kehidupan tertentu, yang orang Kristen warisi dari para rasul, yang pada hakikatnya berasal dari Yesus Kristus sendiri. Karena itu adalah mungkin untuk mengatakan, bahwa adalah penting sekali untuk mengikuti Allah dan ajaran-ajaran yang disampaikan oleh-Nya. [15]

Kata-kata Tuhan Yesus dibagi menjadi dua

1.         Kata-kata tertulis disebut Alkitab.

2.         Kata-kata Lisan yaitu Tradisi.

 

Gereja Katolik mengakui adanya Tradisi yang melalui Paus yang meneruskan, jika diucapkan Paus maka itu kata-kata Yesus, Protestan hanya mengakui Alkitab Sola Scriptura. Alkitab menjadi norma atau tolak ukur.[16]

Pada abad ke-2 muncul pertanyaan Apa yang harus dijadikan gereja sebagai acuan untuk semua khotbah dan ajaran-ajaran? Maka tiga aliran menjawab:

1.  Montaisme, acuannya adalah bahasa lidah (bahasa Roh) namun ditolak karena diingatkan Rasul Paulus dalam 1 Korintus 12.

2.  Gnostik menekankan bagaimana menyatukan/menembus supaya hikmat kita sampai pada Tuhan.

3.  Marsionisme memandang bahwa ada dua Allah yaitu Allah jahat dan Allah baik.

Aliran inilah yang merusak ajaran gereja. Maka Gereja mengambil Tindakan dengan mencampakkan ketiga bidat sesat tersebut dengan cara gereja membuat satu pengakuan bersama dan bahwa siapa yang tidak mengaku pengakuan iman kita maka ia bukan bagian kita dan harus dibuang. [17]

Pengakuan adalah cetusan kepercayaan secara individu maupun dengan persekutuan. Dari Perjanjian Baru dan sejarah jemaat-jemaat pertama orang-orang Kristen dan gereja tampak sebagai persekutuan yang mengaku. L. Schreiner menyebut bahwa pada saat mengaku serta merta dinyatakan bahwa “keselamatan ada untuk orang-orang yang mendengar pengakuan itu”. Pengakuan itu adalah kesaksian bahwa Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat dan sekaligus memuat proklamasi pengharapan yang hidup yang dengannya dinampakkan pula hubungan kepada Kristus dan terhadap sesama manusia. Pengakuan adalah pertobatan dan pujian, kesaksian dan doa yang tidak hanya diwujudkan dalam kata, melainkan juga diwujudkan dalam perbuatan. Pengakuan diartikan sebagai kesaksian iman yang kongkret dan aktual yang awalnya diformulasikan secara lisan, sebagaimana tampak dalam Perjanjian Baru dan Gereja Purba misalnya pada kitab Matius 16:13-20 Pengakuan Iman Rasuli.  Alkitab adalah norma yang menentukan norma normans dan pengakuan adalah norma yang terbentuk norma normata. Oleh karena itu yang dimaksudkan bukanlah otoritas dari kata-kata pengakuan, melainkan otoritas pengakuan yang diambil dari Firman Allah. Pengakuan adalah suatu cara menerapkan Alkitab, sehingga pengakuan selalu dapat diubah dan diaktualisasikan.[18]

 



[1] Catatan Rekaman Akademik di Kelas II-A, oleh Pdt Pardomuan Munthe, M.Th, STT Abdi Sabda Medan: Selasa/24 Januari 2023

[2] James Montgomery Boice, Dasar-Dasar Iman Kristen, (Surabaya: Momentum, 2015), 28.

[3] G.C. Van Niftrik & B.J. Boland, Dogmatika Masa Kini, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015), 388-399.

[4] James Montgomery Boice, Dasar-Dasar Iman Kristen, (Surabaya: Momentum, 2015), 33.

[5] Edward W.A. Koehler, Inti Sari Ajaran Kristen, (Pematang Siantar: Akademi Lutheran Indonesia, 2010), 10-11.

[6] G.C. Van Niftrik & B.J. Boland, Dogmatika Masa Kini, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015), 399-404.

[7] Edward W.A. Koehler, Inti Sari Ajaran Kristen,(Pematang Siantar: Akademi Lutheran Indonesia, 1010) 7.

[8] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, (Jakatra: BPK Gunung Mulia, 2012), 56-57.

[9] R. Soedarmo, Ikhtisar Dogmatika, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 201), 51-52.

[10] Catatan Rekaman Akademik di Kelas II-A, oleh Pdt Pardomuan Munthe, M.Th, STT Abdi Sabda Medan: Selasa/24 Januari 2023

 

                [11] Bernhard Lohse, Pengantar Sejarah Dogma Kristen Dari Abad Pertama Sampai Dengan Masa Kini (Jakarta: BPK-GM,2015), 30-32. 

                [12] Dieter Becker, Pedoman Dogmatika Suatu Kompendium Singkat, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2019), 49

                [13] Bernhard Lohse, Pengantar Sejarah Dogma Kristen Dari Abad Pertama Sampai Dengan Masa Kini (Jakarta: BPK-GM,2015), 35-36.

                [14] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012), 69

                [15] Bernhard Lohse, Pengantar Sejarah Dogma Kristen : Dari Abad Pertama Sampai Dengan Masa Kini, 38-39.

                [16] Catatan Rekaman Akademik di Kelas II-A, oleh Pdt Pardomuan Munthe, M.Th, STT Abdi Sabda Medan: Selasa/24 Januari 2023

                [17] Catatan Rekaman Akademik di Kelas II-A, oleh Pdt Pardomuan Munthe, M.Th, STT Abdi Sabda Medan: Selasa/24 Januari 2023

                [18] Dieter Becker, Pedoman Dogmatika Suatu Kompendium Singkat, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2019),

Comments

Popular posts from this blog

TAFSIRAN KITAB 1 TESALONIKA 3:1-13 MENGGUNAKAN METODE KANONIKAL

Teologi PL: ARTI DAN MAKNA FORMULASI BERKAT MENURUT KITAB BILANGAN