UAS LITURGIKA: SEJARAH INKULTURASI NATAL DAN SIMBOL-SIMBOL DALAM PERAYAAN NATAL KEKRISTENAN

 

MAKALAH UAS

 

SEJARAH INKULTURASI NATAL DAN SIMBOL-SIMBOL DALAM PERAYAAN NATAL KEKRISTENAN


 

KATA PENGANTAR

 

Salam Sejahtera dan terpujilah Tuhan yang Maha Besar. Atas kasih dan berkat-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Sejarah Inkulturasi Natal Dan Simbol-simbol Perayaan Natal Dalam Kekristenan” dalam memenuhi tugas akhir semester mata kuliah Liturgika I dengan tepat waktu.

Pengangkatan judul ini terjadi karena munculnya pemikiran untuk mencari tahu sejarah adanya perayaan Natal dalam perayaan Liturgi Kristiani. Penulis merasa tertarik untuk menjadikannya judul dalam tugas akhir semester. Dalam hal ini, penulis berusaha semaksimal mungkin untuk menyajikan dan menemukan sumber untuk menemukan teori yang dapat memberikan penjelasan mengenai sejarah perayaan Natal dan simbol-simbolnya.

Penulis sangat berterima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini, baik bantuan moral atau pun materi. Semoga makalah yang kami buat ini bisa berguna dalam pembelajaran Liturgika I, dan menarik untuk dibaca dan diterapkan.

 

Medan, 10 Mei 2023

 

Isa’ak J.M Hutabarat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

SAMPUL.. i

KATA PENGANTAR.. ii

DAFTAR ISI iii

BAB I PENDAHULUAN.. 1

A.    Latar Belakang. 1

B.    Rumusan Masalah. 1

C.    Tujuan. 2

BAB II PEMBAHASAN.. 3

2.1.     Pengertian Natal 3

2.2.     Pengertian Inkulturasi 3

2.3.     Sejarah Hari Natal 4

2.4.     Tanggal Kelahiran Yesus. 5

2.5.     Simbol-simbol Perayaan Natal 7

2.6.     Makna teologis hari Perayaan Natal 8

2.7.     Dampak Perayaan Natal 11

BAB III PENUTUP. 12

DAFTAR PUSTAKA.. 12

 

 

 

 

 

 

 

 


 


BAB I PENDAHULUAN

 

A.                Latar Belakang

Natal adalah salah satu hari raya bagi umat Kristen. Perayaan Natal secara keseluruhan dilakukan dengan serentak pada 25 Desember. Di dalam Alkitab, tidak ada ayat yang ditemukan untuk melakukan perayaan hari raya Natal. Namun, Perayaan ini secara turun-temurun dilakukan sehingga dianggap menjadi suatu kebiasaan atau budaya bagi umat Kristen yang dalam arti sederhana bahwa hari raya Natal adalah hari yang sudah dianggap penting dan sakral bagi iman Kristen. Perayaan ini adalah perayaan yang terbesar dan meriah bagi orang-orang Kristen apabila dibandingkan dengan perayaan hari raya Kristen lainnya seperti Paskah, Pentakosta, Jumat Agung, dll.

Hari raya Natal ini adalah hari raya yang dilakukan pada setiap akhir tahun oleh orang-orang Kristen di seluruh dunia tepatnya pada 25 Desember. Perayaan Natal merupakan salah satu perayaan terbesar yang paling ditungu umat Kristen di Indonesia dan seluruh dunia karena merupakan perayaan kelahiran sang Juru selamat umat Kristen, sehingga banyak persiapan khusus menjelang Natal seperti persiapan berbagai pernak-pernik khas Natal. Perayaan ini biasanya dilakukan dengan melakukan peribadahan dan menghadirkan kemeriahan yang besar. Pada masa perayaan ini, orang-orang Kristen berpesta dan bersenang-senang. Perayaan Natal ini biasanya disimbolkan dengan pohon Natal, Sinterklas, hiasan Lampu dan Lilin. Simbol-simbol tersebut hampir digunakan pada setiap gereja dan rumah-rumah orang Kristen.

Bentuk perayaan hari Natal ini dirayakan berdasarkan keinginan masing-masing orang atau kategorial. Pada dasarnya hari Natal adalah hari kelahiran Yesus Kristus sebagai Juruselamat untuk menyelamatkan dan menebus manusia dari dosa dan maut. Namun, dalam perayaannya ada umat atau orang percaya yang bersukacita, bersyukur kepada Allah, melakukan acara keluarga dan melakukan ibadah. Namun disisi lain, ada juga yang berdukacita dan  melakukan hal-hal yang tidak dapat diterima dan tidak sejalan dengan firman Allah atau melanggar aturan-aturan gereja seperti pesta pora.

 

B.                 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari latar belakang di atas adalah:

1.      Apa pengertian Natal?

2.      Apakah yang dimaksud dengan Inkulturasi?

3.      Bagaimana sejarah adanya hari Natal?

4.      Apakah dasar Alkitab dari perayaan hari Natal?

5.      Apa saja simbol-simbol dan makna simbol-simbol dalam perayaan Natal?

6.      Apa makna teologis hari Natal?

7.      Apa saja dampak dari perayaan Natal?

 

 

C.                Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:

1.      Menjelaskan pengertian dari hari Natal.

2.      Untuk menjelaskan pengertian dari Inkulturasi.

3.      Menjelaskan sejarah adanya perayaan hari Natal.

4.      Menjelaskan dasar Alkitab dari perayaan hari Natal.

5.      Menjelaskan simbol-simbol dan makna simbol-simbol yang digunakan dalam perayaan Natal.

6.      Menjelaskan makna teologis hari Natal.

7.      Menjelaskan dampak dari perayaan Natal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II PEMBAHASAN

 

2.1.            Pengertian Natal

Dalam bahasa Inggris, Natal disebut dengan Chrismast yang artinya Mass of Chirst yang disingkat dengan Christ-Mass yang artinya hari untuk merayakan kelahiran Yesus. Dalam bahasa Latin Natal disebut Dies Natalis yang artinya Hari Lahir. Natal adalah hari raya umat Kristen untuk menyambut yang dalam konteks sekarang disebut memperingati hari kelahiran Yesus Kristus ke dunia. Sebutan Natal bukan lagi hal yang asing untuk didengar di telinga. Menurut KBBI Daring, Natal merupakan kelahiran Isa Almasih (Yesus Kristus). Sebutan Natal pasti merujuk pada 25 Desember dan itu berlaku untuk tanggal perayaan untuk seluruh dunia baik di rumah maupun di gereja. Biasanya pada perayaan hari Natal, gereja dan rumah akan dihiasi dengan simbol-simbol atau aksesoris-aksesoris. Umat yang percaya akan bersukacita dan membuat pesta-pesta perayaan semeriah mungkin baik di rumah dan di gereja.[1] Hal ini bukan hanya berlaku bagi sekelompok orang, tapi berlaku dan dilakukan oleh semua orang Kristen bahkan non-Kristen di seluruh dunia. Tradisi ini bukanlah sekedar perayaan Natal dalam memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Tetapi juga perayaan atas sukacita akan kemerdekaan dan merayakan karya keselamatan yang dijanjikan Allah bagi manusia melalui kelahiran-Nya.[2] Karena hari kelahiran Yesus adalah hari di mana Allah yang Agung dan mulia meninggalkan kemuliaan-Nya dengan menghampakan diri menjadi manusia (Flp. 2:5-7).

 

2.2.            Pengertian Inkulturasi

Inkulturasi adalah sejenis penyesuaian dan adaptasi kepada masyarakat, kelompok umat, kebiasaan, bahasa dan perilaku yang biasa terdapat pada suatu tempat. Inkulturasi menyangkut keseluruhan segi dan dimensi hidup kemanusiaan. Karena itu di dalam prosesnya terkandunglah romantika perjuangan bermacam segi pergumulan.[3] Inkulturasi bukanlah masalah ganti bungkus atau ganti pakaian. Inkulturasi bukanlah hanya liturgi. Masalah inkulturasi adalah masalah usaha mengerti dan menghayati Injil Yesus Kristus, yang menyangkut keprihatinan akan masalah-masalah hidup bersama dalam masyarakat dan dalam kebudayaan yang majemuk. Di situ pula semestinya imam mempunyai fungsi kreatif dan bukan sebaliknya, yaitu sebagai penjaga “tabu-tabu” masalah lalu yang beku.[4] Usaha suatu agama untuk menyesuaikan diri dengan kebudayaan setempat. Artinya masuknya budaya asing yang kemudian mengalami penyisipan dan penyesuaian pada suatu agama dengan suatu budaya.

2.3.            Sejarah Hari Natal

Sejak abad pertama, orang-orang Kristen atau pengikut-pengikut Yesus tidak memiliki tempat untuk berdiri, dikejar-kejar, ditindas dan disiksa oleh para petinggi Romawi dan aliran kepercayaan diluar Kristen. Dibidang kepercayaan, bangsa-bangsa pada masa itu bahkan sebelum itu masih kuat dengan kepercayaan terhadap dewa-dewa (paganisme dan politeisme).[5] Namun pada abad ke-4, pada masa pemerintahan Konstantin, situasi ketegangan dan penindasan terhadap orang-orang Kristen mulai berkurang. Bukan hanya berkurang. Tetapi juga sudah diberikan kebebasan dan hak untuk diakui di tengah-tengah masyarakat. Sehingga orang-orang dahulunya adalah paganisme atau orang-orang yang penyembah berhala ikut mengimani atau beralih ke dalam kepercayaan Kristen atau menjadi Katolik. Kebiasaan-kebiasaan orang pagan yang dibawa masuk ke dalam Kristen ketika menjadi orang-orang Kristen tidak hilang. Sebelum Masehi, Mesir sudah mempercayai bahwa 25 Desember dipercaya sebagai tanggal kelahiran anak dewi langit yang disebut Isis. Sehingga perayaan pada 25 Desember adalah perayaan hari ulang tahun anak dari dewi Isis yaitu Nimrod. Dengan kata lain, upacara-upacara yang menjadi kebiasaan mereka sebelum menjadi Kristen tetap dilakukan hingga sesudah menjadi Kristen yaitu kebiasaan merayakan hari kelahiran dewa-dewa pada 25 Desember dengan bentuk perayaan pesta pora dengan kemeriahan. Bukan hanya itu saja, nyanyian yang paling sering bahkan menjadi hymne Natal yaitu Silent Night atau Holy Night merupakan nyanyian yang pada awalnya dinyanyikan untuk dewi Madonna.  Kebiasaan ini dibawa masuk ke dalam Kristen sehingga sulit untuk menghentikannya.

Kekristenan di Timur pada awalnya sudah menggumuli bagaimana Allah menjadikan diri-Nya dalam rupa manusia. Menurut catatan kuno, suatu aliran Kristen di Timur sudah memiliki hari perayaan yang disebut dengan epipheneia atau Epifani yang berarti perwujudan atau pernyataan ilahi, tetapi kemudian menjadi ta epohania yang artinya pesta yang merujuk pada perayaan hari kelahiran Yesus yang dirayakan pada pertengahan antara 5 dan 6 Januari.[6] Perayaan ini dilakukan dengan pembacaan Alkitab dan nyanyian puji-pujian yang dilakukan di gua tempat kelahiran Yesus di Betlehem. Perayaan ini berkaitan dengan pernyataan Allah di dalam Yesus Kristus kepada seluruh umat manusia.[7] Perayaan di Timur ini biasanya ditandai dengan pemasangan bunga-bunga pada gedung-gedung.[8]

Perayaan hari kelahiran Yesus yang disebut dengan julukan Natal mulai diresmikan sejak 325-354 M oleh Paus Liberius. Sejak abad ini juga, orang Kristen menerima Sunday (Sun artinya matahari dan day artinya hari) yang menyebut nama hari untuk kelahiran dewa matahari diterima sebagai hari kebangkitan Yesus atau hari sabat yang kita sebut hari minggu. Dalam bahasa Indonesia, Sunday disebut hari Minggu. Secara umum, orang Kristen pada awalnya hanya merayakan hari kematian yaitu hari kematian Yesus Kristus. Namun di dalam gereja barat, hari Natal yang pada awalnya adalah Natalis Solis Invicti (kelahiran Sol atau dewa matahari yang tak terkalahkan) baru diterima dan diperbolehkan dirayakan sejak abad ke-4 M tetapi bukan dalam perayaan dewa matahari melainkan untuk peringatan kelahiran Yesus Kristus.[9] Hari perayaan Natal ini berawal dari hari kelahiran dewa matahari diadaptasikan ke dalam Kristen karena tidak ada seseorang pun yang mengetahui tanggal kelahiran Yesus Kristus ke dunia.[10] Begitu juga pada abad ke-4, Sunday bukan lagi menjadi hari kelahiran dewa matahari tetapi sudah menjadi Sun-God yang jatuh pada 25 Desember dan menjadi hari kelahiran Yesus. Pada awalnya tanggal perayaan Natal ini dipermasalahkan karena tanggal tersebut bukan berasal dari tanggal orang Kristen. Namun Kaisar Konstantin menetapkannya pada 25 Desember dan sah sebagai tanggal kelahiran Yesus Kristus di dunia.  Pada tahun 1100, Natal telah menjadi perayaan keagamaan di Eropa hingga pada masa reformasi. Di Indonesia, hari Natal diakui dan dijadikan sebagai hari libur nasional.

2.4.            Tanggal Kelahiran Yesus

Di dalam Alkitab, tidak ada perintah untuk melakukan perayaan Natal baik itu perintah dari Yesus dan perintah para Rasul. Dalam Alkitab juga tidak terdapat informasi mengenai para Rasul melakukan perayaan Natal. Tujuan dari perayaan Natal bagi Katolik adalah untuk memperingati atau merayakan hari kelahiran Yesus Kristus di dunia. Tanggal mengenai kelahiran Yesus tidak secara jelas dituliskan dalam Alkitab. Penanggalan hari kelahiran Yesus menjadi suatu persoalan pada abad ke-4, karena belum ada kejelasan mengenai tanggal lahir Yesus. Para ahli menggali Alkitab untuk menemukan tanggal tersebut dengan melakukan pencarian melalui kitab Matius dan Lukas. Karena hanya kedua kitab inilah yang memberikan informasi mengenai kelahiran Yesus.

1.                  Kitab Matius

Dalam kitab Matius 2:1, terdapat informasi yang dapat digunakan untuk menemukan tahun kelahiran Yesus dari waktu pemerintahan tepatnya pada masa pemerintahan Raja Herodes. Isi dalam ayat kitab tersebut adalah: “Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman Raja Herodes datanglah orang majus dari Timur ke Yerusalem”.

2.                  Kitab Lukas

Dalam Kitab Lukas 2:1-8, terdapat petunjuk yang dapat digunakan untuk menemukan tahun kelahiran Yesus dari masa pemerintahan tepatnya pada masa pemerintahan Kaisar Agustus dan pada masa Kirenius menjabat sebagai Gubernur Siria. Isi dari ayat kitab di atas adalah: “Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria.  Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri. Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya,  yang sedang mengandung. Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan  , karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam”. 

3.                  Kitab Yohanes

Dalam Kitab Yohanes 2:20, terdapat informasi mengenai tahun kelahiran Yesus dari jangka lama selesainya pembangunan Bait Suci. Isi dari ayat kitab di atas adalah: ” Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: "Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?"

Dari informasi-informasi di atas, ada pandangan yang menyatakan bahwa Yesus lahir antara tahun 6 atau 5 SM. Adapun yang menjadi pertimbangan dari pandangan ini adalah:[11]

1.      Herodes meninggal pada tahun 4 SM. Sebelum meninggal dunia, Herodes mengeluarkan perintah untuk membunuh anak laki-laki berumur dua tahun kebawah di Betlehem (lih. Mat. 2:1; 2:16). Dari tahun kematian Herodes dapat ditemukan tahun kelahiran Yesus yaitu dengan memundurkan tahun 4 + 2 (sasaran umur anak-anak yang dibunuh) berarti tahun 6 SM.

2.      Tahun sensus pertama dilakukan pada abad 6 atau 5 SM (lih. Luk. 2:2).

3.      Pembangunan Bait Suci yang sudah 46 tahun pada saat Yesus berumur 30 tahun (Luk. 3:23).

Dapat dilihat bahwa di dalam Alkitab tidak ada informasi mengenai tanggal kelahiran Yesus. Informasi yang terdapat dalam Alkitab adalah tahun kelahiran Yesus yang masih dalam status perkiraan yaitu pada tahun 6 atau 5 SM. Jadi, dapat dilihat bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui kebenaran tanggal kelahiran Yesus bahkan Alkitab sebagai buku yang mencatat mengenai kehidupan Yesus selama di dunia.  

 

2.5.            Simbol-simbol Perayaan Natal

1.                  Pohon Natal

Pohon natal adalah salah satu simbol-simbol dalam perayaan natal, baik di Indonesia dan di luar Indonesia. Ada pandangan yang mengatakan bahwa simbol natal pohon cemara dalam perayaan natal adalah salah satu penyembahan berhala yang dilakukan oleh orang Kristen. Simbol ini berasal dari kepercayaan pagan pada masa sebelum Masehi yaitu kepercayaan kepada Semimaris dewi langit, ibu dari Nimrod dewa Matahari menyebut bahwa Nimrod anaknya, mati dan kemudian berinkarnasi menjadi pohon dewasa yang disebut evergreen. Artinya bahwa anaknya yang bernama Nimrod tidak mati melainkan hidup menjadi sebatang pohon. Pohon ini biasanya dikenal dengan daun jarum seperti pinus dan cemara. Maka dari itu, dewi langit sebagai ratu Babel memerintahkan para rakyatnya untuk merayakan hari ulang tahun kelahiran anaknya Nimrod dengan mengunjungi pohon cemara dengan membawa kado ulang tahun atau berupa bingkisan yang digantung pada ranting-ranting pohon dewasa tersebut.[12]

Berdasarkan tradisi Barat, pohon yang digunakan untuk menjadi pohon natal adalah pohon cemara. Karena pohon  cemara dipandang sebagai pohon yang selalu menghijau tanpa adanya daun berguguran seperti pohon lainnya dimana pada musim kemarau pohon ini tetap memiliki daun yang berwarna hijau. Ciri khas pohon cemara ini dimaknai dengan kelahiran Yesus yang mendatangkan pengharapan dengan jaminan yang kekal yaitu kehidupan yang kekal bagi manusia tanpa adanya kematian lagi.[13]

2.                  Sinterklas

Sinterklas adalah simbol yang paling menonjol setelah pohon natal. Pada saat natal, banyak sekali patung, gambar, dan boneka sinterklas yang digunakan dalam perayaan natal ini baik di gereja dan di rumah-rumah umat. Sinterklas juga disebut Santa Klausa digambarkan dengan seseorang yang sering memberikan kado-kado atau hadiah kepada anak-anak khususnya pada hari natal. Santo Nikolaus adalah seorang uskup yang berasal dari Myra Turki pada abad ke-4. Santo sering disebut sebagai orang yang baik hati yang mau membantu orang-orang yang mengalami kesusahan. Hal ini menjadi alasan kenapa santo ini terkenal. Ada juga yang menyebut bahwa jasad santo Nikolaus ini memiliki kemampuan untuk menyembuhkan, sehingga banyak masyarakat yang ingin mendapatkan jasad dari santo tersebut. Kebaikan-kebaikan yang dilakukan santo tersebut membuat santo tersebut dikenang dalam perayaan Natal.[14]

3.                  Hiasan Lampu dan Lilin

Lampu natal adalah evolusi dari tradisi yang telah lama berlangsung sejak abad ke-18. Pada masa itu, pohon Natal dihiasi dengan lentera lilin yang diletakkan mengitari pohon. Jerman adalah salah satu negara yang dipercaya membawa serta menyebarkan tradisi ini. Cahaya punya peranan penting dalam perayaan Natal. Mereka berharap cahaya dari lilin dan api unggun akan mendorong kehangatan matahari untuk kembali setelah musim dingin yang panjang. Cahaya juga mewakili harapan dan kebaikan yang ada di dunia. Christmas lights juga mengingatkan tentang bagaimana Tuhan dan utusannya membawa titik terang bagi umat Kristiani. Sebagian besar berpendapat lampu Natal adalah pengingat agar umat Kristen tetap berada di jalan Kristus. Cahaya dari lampu yang mengelilingi pohon hingga menuju ke arah bintang yang berada di atas merupakan simbol dari jalan yang diterangi menuju keselamatan. Begitu juga dengan lilin yang  bermakna bahwa dunia membutuhkan terang Tuhan

 

2.6.            Makna teologis hari Perayaan Natal

Hari Natal adalah hari perayaan kelahiran Yesus Kristus di dunia. Esensi Natal adalah peristiwa Allah berinkarnasi menjadi manusia. Perayaan Natal yang dipercaya oleh orang-orang Kristen adalah untuk mengadakan pesta sukacita atas datangnya keselamatan yang sudah dijanjikan oleh Tuhan Allah kepada umat-Nya sejak dalam perjanjian dalam di dalam kitab Yesaya. Di dalam Alkitab kelahiran Yesus ditolak oleh dunia, kelahiran-Nya tidak mendapatkan tempat yang layak sebagai sang penyelamat dunia selayaknya raja. Kelahiran-Nya memperoleh kehinaan, dan disambut dengan penganiayaan. Kelahirannya dipandang terlalu provokatif untuk dunia yang tidak kategorial tetapi total.[15] Allah yang berinkarnasi menjadi manusia dalam wujud Yesus Kristus adalah karya Allah untuk memasuki dunia manusia dan menjangkau manusia itu sendiri. Kehadiran atau kelahiran Yesus memiliki banyak istilah salah  satunya adalah Imanuel yang diartikan dengan penyertaan Allah dalam kehidupan manusia (Mat. 1:23).[16] Hari raya Natal adalah hari yang paling cocok untuk memberitakan Injil pada semua manusia mengenai keselamatan yang dari pada Tuhan yang telah lahir dan mengembalikan hubungan Allah dan manusia membaik.

Kata “merayakan” berarti memuliakan, memperingati, dan memestakan. Merayakan Natal adalah memuliakan Allah Tritunggal yang Maha Besar. Percaya dan menyembah Yesus sama dengan menyembah Allah Tritunggal. Dalam kitab Yohanes 1:1-6 menjelaskan bahwa Yesus adalah firman Allah yang menjadi manusia. Firman yang mulanya bersama dengan Allah dalam kekekalan. Yesuslah yang memperkenalkan dan menyatakan Bapa kepada manusia, sehingga manusia yang melihat Yesus adalah melihat Bapa. Orang-orang yang percaya kepada-Nya adalah orang-orang yang percaya kepada Allah Bapa dan Allah Roh Kudus (Yoh. 10:30).

Natal perdana adalah natal yang penuh keajaiban dan merupakan peristiwa yang menjadi pusat adanya keselamatan terang dan sumber kehidupan.[17] Dalam Yohanes 3:16 dinyatakan bahwa karena kasih Allah yang begitu besar Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Kitab Lukas 2:8-15 menuliskan bahwa Malaikat mewartakan kabar sukacita yang amat besar yaitu kelahiran sang Juruselamat yang dijuluki Kristus kepada seluruh bangsa di bumi. Gembala-gembala yang mendengar kabar sukacita itu pergi ke Belehem untuk melihat apa yang terjadi di sana seperti yang diberitahu oleh Tuhan kepada mereka.

Dari teks tersebut,  ada tiga poin yang menjadi catatan penting bagi pencinta perayaan natal yaitu:[18]

1.      Kesukaan  besar dari  peristiwa  natal  adalah  berita  kelahiran  Kristus.  Puncak  utama yang  menjadi  kesukaan  besar  dari  sebuah  perayaan  natal  adalah  pemberitaan  Firman, bahwa  “hari  ini  telah  lahir  bagimu  Juruselamat,  yaitu  Kristus”.  Perhatikan  makna perkataan ini. Dari realita sejarah bahwa Kristus lahir di Betlehem 2000-an tahun yang lalu, tetapi secara rohaniah kelahirannya bagimu/bagiku/bagi kita terjadi pada masa kini. Karena  itu  maka  makna  inilah  yang menjadi  makna  dan  tujuan  pertama  dalam penyelenggaraan perayaan natal, sama sekali bukan makna embel-embel di atas tadi.

2.      Tiap kali peristiwa kelahiran baru terjadi pada setiap orang -“hari ini telah lahir bagimu Juruselamat,  yaitu  Kristus”-,  maka  terjadilah  di  situ  "Kemuliaan  bagi  Allah  di  tempat Maha Tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya." Tiap kali terjadi pertambahan jumlah anak-anak Tuhan dari peristiwa “kelahiran baru” oleh karena ia berkenan (menerima dan percaya) kepada Kristus sebagai Juruselamatnya, maka  seiring  itu  pula  terjadi  pertambahan  pengakuan  kemuliaan  bagi  Allah.  Dan  satu lagi,  tiap  kali  terjadi  peristiwa  kelahiran  baru  bagi  orang  yang  menyambut  Kristus Juruselamatnya, maka seiring itu pula terjadi damai sejahtera Kristus baginya (bagi yang lahir baru).  Perhatikan bahwa damai sejahtera tidak terbangun dari makanan, undangan, hiburan dan quiz, melainkan dari mendengarperkataan Tuhan (ay. 10-11) lalu melihatdan percaya/mempersaksikan dan mengaku (ay. 12, 15). Itulah yang disebut pada ay 14b,  “berkenan  kepada-Nya”.  Jadi  makna  dan  tujuan  kedua  dari  perayaan  natal  adalah Damai Sejahtera Kristus menjadi bagi kita (bagi yang berkenan kepada-Nya).

3.      “Marilah kita ke Betlehem” adalah ajakan yang disampaikan oleh gembala-gembala yang menerima kunjungan Malaikat ke gembala-gembala lainnya, baik yang ditemui di posko-posko jaga masing-masing atau pun di jalan-jalan menuju Betlehem, ajakan untuk pergi bersama-sama melihat bukti nyata dari pemberitahuan Malaikat. Jadi makna dan tujuan ketiga  adalah  “mengajak  teman”.  Artinya  bahwa  Orang-orang  percaya  mengajak  dan menunjukkan  siapa  “Juruselamat”  kepada  teman/orang  lain  melalui  perayaan  natal  itu.  Tiap-tiap  persekutuan  mengadakan  perayaan  natal,  pasti  direpotkan  dengan  masalah undangan. Seolah-olah marwah perayaan natal itu adalah kehadiran para undangan. Dan sering  kali  kecemasan  soal  ini  diatasi  dengan  menghadirkan  artis-artis,  yang  memiliki daya  tarik  menghadirkan  sebanyakmungkin  orang.  Tapi  apa  jadinya?  Kita  mengajak teman bukan supaya ia melihat Kristus melalui perayaan natal itu, melainkan kesempatan melihat  penampilan  artisnya.  Saya  mengingatkan kita  kepada  prinsip  panitia  persiapan Natal yang telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya, yakni Yohanes pembaptis. Katanya: “Ia (Kristus) harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh. 3:30). Bertolak dari sini, maka  siapapun  yg  terlibat  dalam  kepanitiaan  atau  kepesertaan  dalam  kegiatan  Natal, prinsip  yang  harus  dipegang  adalah:  melihat/memandang  Kristus/Juruselamat  dan membesarkan  (memuliakan)-Nya,  bukan  memandang  dan  memuliakan  panitianya, artisnya, atau bahkan orang-orang di dalamnya.

2.7.            Dampak Perayaan Natal

Adapun dampak positif dari perayaan natal bagi orang-orang Kristen adalah:[19] 

1.      Menyebarkan suasana dan keindahan Natal di segala tempat. Sekaligus memberitakan bahwa Kristus telah lahir untuk menyelamatkan dan menjadi terang bagi dunia. Dalam Protestan, perayaan Natal sudah dilakukan sejak tanggal 1 Desember atau IV minggu sebelum Natal yaitu  minggu Advent I-IV.

2.      Memperkuat harmoni, kasih dan rasa kekeluargaan karena banyaknya pertemuan-pertemuan dan kegiatan-kegiatan kategorial dalam perayaan Natal yang akan diikuti bersama-sama.

3.      Memperkuat iman percaya umat di dalam Kristus Yesus sebagai karya penyelamatan dan penyertaan kasih Allah di bumi.

Adapun dampak negatif dari perayaan Natal bagi orang-orang Kristen adalah:[20]

1.      Banyak tenaga dan dana yang dikeluarkan untuk membuat pesta merayakan Natal semeriah mungkin. Hal ini terjadi karena banyaknya perayaan Natal Kategorial yang dibuat oleh gereja untuk dirayakan.

2.      Banyak umat yang memandang bahwa Natal adalah pesta pora atau pesta hiburan yang harus dilakukan sebesar mungkin atau semeriah mungkin untuk kepuasan lahiriah. Padahal natal itu sendiri adalah ucapan syukur kepada Allah yang telah memberikan anak-Nya yang tunggal untuk menebus manusia dari dosa menghadirkan keselamatan di tengah-tengah dunia. Pandangan-pandangan sesat menghilangkan makna Natal yang sebenarnya menimbulkan rasa kawatir bagi gereja karena tidak lagi berdasarkan hakikatnya. Baik itu kekhawatiran dari segi finansial dan segi spiritualitas umat.

BAB III PENUTUP

 

3.1.            Kesimpulan

Hari raya Natal adalah hari besar yang diakui di seluruh dunia. Di Indonesia hari Natal adalah hari libur Nasional. Dalam bahasa Inggris, Natal disebut dengan Chrismast yang artinya Mass of Chirst yang disingkat dengan Christ-Mass yang artinya hari untuk merayakan kelahiran Yesus. Dalam bahasa Latin Natal disebut Dies Natalis yang artinya Hari Lahir. Natal adalah hari raya umat Kristen untuk menyambut yang dalam konteks sekarang disebut memperingati hari kelahiran Yesus Kristus ke dunia. Hari natal adalah perayaan yang merupakan hasil inkulturasi dari kebudayaan pagan ke dalam iman Kristen. Dimana pada tahun sebelum Masehi, Mesir sudah mempercayai bahwa 25 Desember dipercaya sebagai tanggal kelahiran anak dewi langit yang disebut Isis.

Kekristenan di Timur pada awalnya sudah menggumuli bagaimana Allah menjadikan diri-Nya dalam rupa manusia. Menurut catatan kuno, suatu aliran Kristen di Timur sudah memiliki hari perayaan yang disebut dengan epipheneia atau Epifani yang berarti perwujudan atau pernyataan ilahi, tetapi kemudian menjadi ta epohania yang artinya pesta yang merujuk pada perayaan hari kelahiran Yesus yang dirayakan pada pertengahan antara 5 dan 6 Januari. Namun pada Abad ke-4 Kaisar Konstantin menetapkannya pada 25 Desember dan sah sebagai tanggal kelahiran Yesus Kristus di dunia. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Agung, Panitia Keuskupan. Pendidikan Imam dalam Masyarakat Indoneisa Modern. Jakarta: Yayasan Gembala Utama, 1987.

Armstrong, Herbert W. The Plain Truth About Christmas. California: WCG, 1986.

Basuki, Yusuf Eko. Rayakan Natal Setiap Hari. Yogyakarta: Garudhawaca,2013.

Collins, Gerald O. & Farrugia, Edward G. Kamus Teologi. Yogyakarta: Kanisius, 1996.

Gembala, Sahabat. Majalah Untuk Para Pelayanan Tuhan. Jakarta: Yayasan Kalam Hidup, 2009.

Heuken, dolf. Ensiklopedi Gereja. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Ceraka, 2002.

Ismail, Andar. Selamat Natal: 25 Karangan Tentang natal. Jakarta: BPK-GM, 1981.

Ratch, Christian & Claudia M, Pagan Chirstmas: The Plants, Spirit And Rituals At The Origins Of Yuletide. California: WCG, 2006.

Wardoyo, Tri. Jejak-jejak keselamatan Allah. Yogyakarta: Kanisius, 2021.

Wellem F.D. Kamus Sejarah Gereja Jakarta, BPK-GM, 2006.

White, James F. Pengantar Ibadah Kristen. Jakarta: BPK-GM, 2002.

 

Jurnal

Harahap. Ramli, dkk, “Natal dan Dampaknya dalam kehidupan Bergereja dan Bermasyarakat: Suatu Tinjauan Historis”, Jurnal STT Abdi Sabda Medan, 2022.

Maiaweng, Peniel D. Inkarnasi: Realitas Kemanusiaan Yesus, Jurnal Teologi Jaffray. Vol. 13 Nomor 1. STT jaffray, 2015.

Muthe, Pardomuan. dkk., REFLEKSI NATAL TAHUN 2022;Natal 2022 dan Dampaknya di tengah-tengah Gereja dan Masyarakat dari survey pusat studi Dogmatika-Sistematika STT Abdi Sabda Medan. Jurnal STT Abdi Sabda, Medan, 2022.

Tampilang, Risno. Perayaan Liturgis: Natal Kristus Sebagai Refleksi Iman Kristiani Berdasarkan Sejarah. Vol.2. IAKN Manado, 2022.

 



[1] Michael Keene, Agama-Agama Dunia, (Yogyakarta: Kanisius, 2006), 114.

[2] Marsana Windu, Tuntunan Cepat dan Lengkap Memahami Natal, (Yogyakarta: Tabora Media, 2006), 17.

[3] Anicetus B. Sinaga, Gereja Dan Inkulturasi (Yogyakarta: Kanisius, 1984), 8.

[4] Panitian Keuskupan Agung, Pendidikan Imam dalam Masyarakat Indoneisa Modern (Jakarta: Yayasan Gembala Utama, 1987), 24.

[5] Sahabat Gembala, Majalah Untuk Para Pelayanan Tuhan, (Jakarta: Yayasan Kalam Hidup, 2009), 29.

[6] Gerald O. Collins & Edward G. Farrugia, Kamus Teologi (Yogyakarta: Kanisius, 1996), 70.

[7] James F. White, Pengantar Ibadah Kristen (Jakarta: BPK-GM, 2002), 51.

[8] F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja (Jakarta, BPK-GM, 2006), 96.

[9] Christian Ratch & Claudia M, Pagan Chirstmas: The Plants, Spirit And Rituals At The Origins Of Yuletide (California: WCG, 2006), 14.

[10] Andar Ismail, Selamat Natal (Jakarta: Gunung Mulia, 1985), 27.

[11] Tri Wardoyo, Jejak-jejak keselamatan Allah (Yogyakarta: Kanisius, 2021), 28.

[12] Herbert W. Armstrong, The Plain Truth About Christmas (California: WCG, 1986), 10.

[13] Andar Ismail, Selamat Natal: 25 Karangan Tentang natal (Jakarta: BPK-GM, 1981), 31.

[14] Adolf Heuken, Ensiklopedi Gereja (Jakarta: Yayasan Cipta Loka Ceraka), 35.

[15] Risno Tampilang, Perayaan Liturgis: Natal Kristus Sebagai Refleksi Iman Kristiani Berdasarkan Sejarah. Vol.2 (IAKN Manado, 2022), 16.

[16] Peniel D. Maiaweng, Inkarnasi: Realitas Kemanusiaan Yesus, Jurnal Teologi Jaffray. Vol. 13 Nomor 1 (STT jaffray, 2015), 102-103.

[17] Yusuf Eko Basuki, Rayakan Natal Setiap Hari (Yogyakarta: Garudhawaca,2013), 16.

[18] Pardomuan Muthe, dkk., REFLEKSI NATAL TAHUN 2022;Natal 2022 dan Dampaknya di tengah-tengah Gereja dan Masyarakat dari survey pusat studi Dogmatika-Sistematika STT Abdi Sabda Medan. Jurnal STT Abdi Sabda, Medan, 2022. 11-12.

[19] Harahap. Ramli, dkk, “Natal dan Dampaknya dalam kehidupan Bergereja dan Bermasyarakat: Suatu Tinjauan Historis”, Jurnal STT Abdi Sabda Medan, 2022, 7.

[20] Harahap. Ramli, dkk, “Natal dan Dampaknya dalam kehidupan Bergereja dan Bermasyarakat: Suatu Tinjauan Historis”, Jurnal STT Abdi Sabda Medan, 2022, 8.

 

Comments

Popular posts from this blog

TAFSIRAN KITAB 1 TESALONIKA 3:1-13 MENGGUNAKAN METODE KANONIKAL

Teologi PL: ARTI DAN MAKNA FORMULASI BERKAT MENURUT KITAB BILANGAN