PASTORAL: TRANSACTIONAL ANALYSIS
TRANSACTIONAL ANALYSIS
I.
Pendahuluan
Pokok bahasan unit ini adalah analisis
transaksional dan penggunaannya dalam konteks dari konseling dan terapi.
Analisis transaksional adalah psikoanalisis pendekatan yang terinspirasi yang
menghubungkan perilaku bermasalah dengan pengalaman awal.
Transactional Analysis atau Analisis Transaksional adalah salah satu
pendekatan Psichoterapy yang menekankan hubungan interaksional.
Pendekatan ini menganalisa secara mendalam proses, bentuk dan isi dari sebuah
percakapan atau perbincangan. Analisis transaksional sebagai suatu sistem
terapi yang didasarkan pada suatu teori kepribadian yang memusatkan
perhatiannya pada tiga pola perilaku yang berbeda sesuai status ego.
II.
Pembahasan
2.1. Sejarah
Eric Loinard Berne lahir di Montrial pada tahun
1910. Ia belajar di Universitas Mc. Gill, mendapat gelar M.D. pada tahun 1931,
dan gelar C.M pada tahun 1935. Berne masuk warga negara Amerika Serikat pada
masa perang dunia II. Sekitar tahun 1940an ia bekerja di lembaga Psikoanalisis
New York City, dan pada tahun 1947-1956 bekerja di lembaga Psikoanalisis San
Fransisco. Metode analisis Transaksional muncul sekitar pertengahan tahun
1950an. Sejak awal praktik Eric Berne melakukan Action Research atas
praktik konseling/terapi yang dijalankannya sendiri terhadap
konseli-konselinya. Namun sedikit berbeda dengan kebanyakan pendekatan lain
konseling, AT mulai dengan konseling kelompok-transaksi antar pribadi memang
berlangsung dalam kelompok. Pengembangan AT mulai berkembang pesat sejak 1954
ketika Eric Berne mulai menformulasikan, mensistematisasikan, mencetuskan dan
mendiskusikan gagasan-gagasannya sendiri.[1]
Penyajian gagasan AT secara formal dilakukan pertama kali pada 1957 dalam suatu
konferensi profesional di Los Angeles. Seminar tentang Transactional
Analsysis sudah dimulai sejak tahun 1958 dan baru membentuk asosiasinya
pada tahun 1965. Sejak tahun 1958, AT menjadi diskusi banyak pihak profesional.
Tanggal 15 Juli 1971 Berne meninggal dunia di Monterey, rumah sakit California.
Praktik pribadi Berne berlanjut hingga kesehatannya terganggu di California,
Berne menempuh perjalanan 70 mil ke San Fransisco setiap hari Selasa pagi
dengan mengendarai mobil atau terbang dan kembali hari Kamis malam.[2]
.
2.2. Latar Belakang
Analisa Transaksional (Transactional
Analysis) adalah sebuah metode penyembuhan gangguan emosional yang terjadi
ketika berhubungan dengan orang lain. Teori ini merupakan suatu pendekatan
untuk mensistematisasi, menganalisis, dan mengubah saling pengaruh di antara
manusia, yang menekankan interaksi keduanya (antara diri dan manusia lain) dan
kesadaran internal (regulasi diri dan ekspresi diri).[3]
Pendekatan ini banyak digunakan untuk meningkatkan kemampuan seseorang dalam
berhubungan dengan orang lain. Teori ini merupakan teori yang dapat digunakan
pada individual maupun kelompok. Teori ini melibatkan kontrak yang dikembangkan
oleh konseli yang dengan jelas menyebutkan tujuan dan arah dari proses terapi.
Selain itu juga memfokuskan pada pengambilan keputusan di awal yang dilakukan
oleh konseli untuk menekankan pada kapasitas konseli untuk membuat keputusan
baru. Analisis transaksional menekankan pada aspek kognitif, rasional, dan
tingkah laku dari kepribadian. Dengan demikian, analisis transaksional adalah
metode yang digunakan untuk mempelajari interaksi antar individu dan pengaruh
yang bersifat timbal balik yang merupakan gambaran kepribadian seseorang.[4]
2.3. Konsep Dasar
2.3.1. Pemahaman tentang manusia
Menurut Berne, setiap individu
dilahirkan dengan kemampuan untuk mengembangkan potensinya untuk keuntungan
terbaik bagi dirinya dan masyarakat. AT percaya bahwa setiap individu pada
akhirnya bertanggung jawab atas keputusan hidupnya sendiri. Meskipun
pengalaman-pengalaman masa lalu khususnya perkembangan awal, ketika orang tua
memegang peran utama sangat mempengaruhi perilaku manusia pada masanya sekarang
namun manusia mempunyai potensi, kecakapan dan kemampuan untuk mengelola
hidupnya. Ini menyebabkan keadaan manusia untuk sempurna dan otonom, mandiri
bahkan orang yang bermasalah emosional sekalipun (menurut keyakinan AT akan
dapat memiliki kemampuan mengatasi masalah-masalah emosionalnya. Analisis
transaksional percaya bahwa terlepas dari tingkat kesulitan emosional, orang
yang diajak berkonsultasi tidak hanya dapat memperoleh pertolongan tetapi juga
sembuh total.
Semua manusia pada dasarnya memiliki
kemampuan membuat rencana jalan hidup manusia mampu dan memahami kemampuan
membuat pilihan, memilih ulang dan mengambil keputusan, memilih kembali dan
menetapkan tujuan baru untuk berperilaku. Jika pilihan yang salah dan keputusan
yang salah tidak dapat dipertahankan, individu dapat meninjau, mempertanyakan,
memilih, dan membuat keputusan baru.
2.3.2. Status Ego
Analisis transaksioanl sebagai suatu
sistem terapi didasarkan pada suatu teori kepribadian yang memusatkan
perhatiannya pada tiga pola perilaku yang berbeda sesuai status egonya yaitu :
Parent (P), Adult (A), Child (C).
![]()

![]()
![]() |
1. Status ego orang tua (Parent) merupakan
suatu introyeksi dari orang tua dan pengganti orang tua. Dalam ego ini, kita
akan mengalami kembali apa yang kita bayangkan sebagai perasaan orang tua kita
sendiri dalam suatu situasi, atau kita merasa dan bersikap terhadap orang lain,
sama seperti orang merasa dan bereaksi terhadap diri kita sendiri terhadap
status ego itu dalam situasi atau bagaimana kita merasa dan bersikap terhadap
yang lain. Dalam status ego ini, akan terlihat kasih, sayang, nasihat, mengasuh
dan mengkritik . Menurut Jones ( 2011:235 ), status ego orang tua ini dapat
dilihat secara perilaku dalam satu di antara dua bentuk yaitu Orang tua yang mengontrol
atau berprasangka dimanifestasikan sebagai seperangkat aturan yang tampak
sewenang-wenang, biasanya larangan yang mungkin sejalan atau bertentangan
dengan aturan-aturan budaya seseorang. Orang tua yang pengasuhan
dimanifestasikan sebagai simpati dan perhatian terhadap individu lain atau diri. Jadi, Orang tua dapat terlalu
mengontrol dan menghambat atau dukungan dan meningkatkan pertumbuhan.
Terdapat dua jenis ego stage orang tua:[5]
-
Orang tua
yang membimbing yakni empati dan penuh pengertian, peka terhadap perasaan dan
kebutuhan, serta menilai dan memberi batasan benar dan salah yang tegas.
-
Orang tua
pengkritik yang cenderung mengkritik dan menggurui dengan nada suara tinggi dan
keras, sering mengatakan “tidak, jangan” dan dicirikan dengan berbicara sambil
menunjuk.
2. Sementara status ego dewasa merupakan “Pemroses
Data”. Ini merupakan bagian objektif dari seseorang yang mengumpulkan informasi
tentang apa yang terjadi. Status egonya menunjukkan berbagai gambaran sebagai
bagian objektif dari kepribadian. Status egonya memperlihatkan kestabilan,
tidak emosional, tidak menghakimi, rasional, bekerja dengan fakta dan
kenyataan-kenyataan eksternal, selalu berusaha untuk menggunakan informasi yang
tersedia untuk menghasilkan pemecahan yang terbaik dalam pemecahan berbagai
masalah. Dalam status ego dewasa ini
akan selalu berisi hal-hal yang
produktif, objektif, tegas dalam menghadapi kehidupan.
3. Sementara itu status ego anak-anak, merupakan
bagian dari kepribadian yang menunjukkan ketidakstabilan, masih dalam
perkembangan, berubah-ubah, ingin tahu dan sebagainya. Status ego anak terdiri
dari perasaan, dorongan emosi, serta perubahan yang spontan. Kehidupan lebih
banyak merupakan bagian dari permainan. Tindakan-tindakannya banyak bersifat
intuitif, kreatif dan ingin mencoba-coba.
Menurut Jones, status ego anak diperlihatkan oleh perilaku dalam dua
bentuk utama yaitu, anak yang teradaptasikan dimanifestasikan oleh perasaan dan
perilaku yang secara inferensial di bawah pengaruh orang tua, seperti merajuk,
menurut, membangkang, menarik diri dan mengekang diri. Yang kedua adalah anak
natural yang dimanifestasikan oleh ekspresi spontan, seperti memanjakan diri
atau kreativitas. Berne menganggap bahwa anak natural sebagai bahan kepribadian
yang paling berharga. Fungsi semestinya dari anak yang “sehat” adalah
memotivasi dewasa sedemikian rupa untuk mencapai kepuasan sebesar-besarnya bagi
dirinya. Hal ini dilakukan dengan membiarkan dewasa tahu apa yang diinginkan
dan berkonsultasi dengan orang tua tentang kepantasannya.
Dengan status ego ini, maka klien
diajarkan bagaimana mengenali status ego
yang akan berfungsi kalau sedang ada masalah. Dengan jalan demikian klien bisa
membuat keputusan sadar tentang berbagai status ego . Pada saat klien menjadi
sadar di status ego yang mana ia berada, mereka juga akan menjadi lebih sadar
terhadap perilaku menyesuaikan diri. Dengan kesadaran ini, mereka bisa secara
lebih baik menentukan pilihan yang bisa mereka ketahui.
Berdasarkan teori dasar status ego,
maka Corey (dalam Edi, 2013) mengidentifikasi dan menggambarkan empat posisi
utama dalam interaksi individu dengan yang lainnya, menunjukkan sifat-sifat dan
karakteristik kepribadiannya. Secara teoris posisi itu dikonseptualisasikan
sebagai berikut :
a. Saya sehat – kamu sehat
Dalam posisi ini dua orang merasa
seperti pemenang dan bisa menjalin hubungan yang terbuka. Individu yang
memiliki posisi ini akan merasa aman dalam keberadaannya sebagai manusia dan
keberadaan orang lain disekitarnya.
b. Saya sehat – kamu tidak sehat
Posisi ini digunakan oleh orang –
orang yang memproyeksi masalah – masalahnya kepada orang lain dan
mempersalahkan orang lain. Individu yang memiliki posisi ini, mereka adalah
individu – individu yang selalu merasa benar dan orang lain salah.
c. Saya tidak sehat – kamu sehat
Adalah posisi yang mengalami depresi,
yang merasa rendah diri dan cenderung menarik diri atau lebih suka memenuhi
keinginan orang lain ketimbang keinginan sendiri.
d. Saya tidak sehat – kamu tidak sehat
Dalam posisi ini adalah posisi orang –
orang yang putus asa dan menyalahkan diri sendiri, sehingga menyingkirkan semua
harapan, kehilangan minat hidup dan melihat hidup tanpa harapan. Contoh : karena
pengaruh orang tua yang mengetahui anaknya telah cukup umur. Maka orang tua
akan mulai menjauh diri dari anaknya karena orang tua berpikir bahwa anaknya
sudah cukup umur dan bisa memelihara dirinya. Posisi ini yang dipilih oleh
individu, maka dalam kehidupannya individu tersebut akan hanya melewati
hari-hari dan kehidupannya tanpa arti. Dan akan berdampak pada tindakan anak
atau perilaku seperti bunuh diri atau pembunuhan.
2.4. Sumber Masalah
Menolak konsep adanya sakit mental
pada setiap manusia. Perilaku bermasalah hakikatnya terbentuk karena adanya
rasa tidak bertanggung jawab terhadap keputusannya. Individu yang tidak sehat
atau bermasalah ditunjukkan pada tingkah lakunya dengan:
-
Konsep diri
negatif
-
Hubungan
dengan orang lain negatif
-
Posisi dasar
hidupnya “saya sehat – kamu tidak sehat” atau “saya tidak sehat – kamu sehat”
dan “saya tidak sehat – kamu tidak sehat”.
-
Kontaminasi
atau Eksklusi
Kontaminasi
yaitu bercampurnya status ego yang satu dengan lainnya sehingga mengalami
pencemaran. Ekslusi merupakan pengaruh yang kuat dari salah satu sikap atau
lebih terhadap seseorang sehingga orang itu berkurang keseimbangannya.
Misalnya: Pribadi yang tidak mampu menempatkan dirinya dalam lingkungan
masyarakat. Seperti seorang kakek-kakek yang sudah tua menggoda cewek remaja
yang cantik.
2.5. Solusi
Untuk melakukan terapi dengan
pendekatan AT menurut Haris dalam Corey (1988) treatment
individu-individu dalam kelompok adalah memilih analisis-analisis transaksional
menurutnya fase permulaan AT sebagai suatu proses mengajar dan belajar serta
meletakan pada peran didaktik terapis kelompok. Konsep-konsep AT beserta
tekniknya sangat relevan diterapkan pada situasi kelompok, meskipun demikian
penerapan pada individu juga dianggap boleh dilakukan. Beberapa manfaat yang
dapat diperoleh, bila digunakan dengan pendekatan kelompok. Pertama, berbagai
ego Orang Tua mewujudkan dirinya dalam transaksi-transaksi bisa diamati. Kedua,
karakteristik-karakteristik ego anak pada masing-masing individu di kelompok
bisa dialami. Ketiga, individu dapat mengalami dalam suatu lingkungan yang
bersifat alamiah, yang ditandai oleh keterlibatan orang lain. Keempat,
konfrontasi permainan yang timbal-balik dapat muncul secara wajar. Kelima, para
klien bergerak dan membaik lebih cepat dalam treatment kelompok. Eksperimen
Gestalt, dengan kombinasi tersebut hasil yang diperoleh dapat lebih efektif
untuk mencapai kesadaran diri dan otonom. Sedangkan teknik-teknik yang dapat
dipilih dan diterapkan dalam AT, yaitu:
-
Analisis
struktural, para klien akan belajar bagaimana mengenali ketiga perwakilan
egonya, ini dapat membantu klien untuk mengubah pola-pola yang dirasakan dapat
menghambat dan membantu klien untuk menemukan perwakilan ego yang dianggap
sebagai landasan tingkah lakunya, sehingga dapat melihat pilihan-pilihan.
-
Metode-metode
didaktik, AT menekankan pada domain kognitif, prosedur belajar-mengajar menjadi
prosedur dasar dalam terapi ini.
-
Analisis
transaksional, adalah penjabaran dari yang dilakukan orang-orang terhadap satu
sama lain, sesuatu yang terjadi di antara orang-orang melibatkan suatu
transaksi di antara perwakilan ego mereka, dimana saat pesan disampaikan
diharapkan ada respon. Ada tiga tipe transaksi yaitu; komplementer, menyilang,
dan terselubung.[6]
-
Permainan
peran, prosedur-prosedur AT dikombinasikan dengan teknik psikodrama dan
permainan peran. Dalam terapi kelompok, situasi permainan peran dapat
melibatkan para anggota lain. Seseorang anggota kelompok memainkan peran
sebagai perwakilan ego yang menjadi sumber masalah bagi anggota lainnya,
kemudian dia berbicara pada anggota tersebut. Bentuk permainan yang lain adalah
permainan menonjolkan gaya-gaya yang khas dari ego Orang Tua yang konstan.
-
Analisis
upacara, hiburan, dan permainan, AT meliputi pengenalan terhadap upacara
(ritual), hiburan, dan permainan yang digunakan dalam menyusun waktunya.
Penyusunan waktu adalah bahan penting bagi diskusi dan pemeriksaan karena
merefleksikan keputusan tentang bagaimana menjalankan transaksi dengan orang
lain dan memperoleh perhatian.
-
Analisa
skenario, kekurangan otonomi berhubungan dengan keterikatan individu pada
skenario atau rencana hidup yang ditetapkan pada usia dini sebagai alat untuk
memenuhi kebutuhannya di dunia sebagaimana terlihat dari titik yang
menguntungkan menurut posisi hidupnya. Skenario kehidupan, yang didasarkan pada
serangkaian keputusan dan adaptasi sangat mirip dengan pementasan sandiwara.
2.6. Teknik
A. Analisis Struktural
Konselor menjelaskan kepada klien bahwa dalam diri
individu terdapat tiga ego state, dengan penjelasan dari konselor tersebut
seluruh anggota kelompok menjadi lebih sadar tentang status ego mereka (ego
state parent, ego state adult, and ego state child) dan bagaimana status ego
tersebut berfungsi.
B. Analisis Transaksional
Konselor menganalisis pola transaksi yang dipakai oleh
klien terhadap anggota kelompoknya sehingga, konselor dapat melihat ego
stateyang dominan dipakai oleh klien.
C. Analisis Permainan
Pemeriksaan pola-pola perilaku yang berulang kali atau destruktif dan
analisis status ego serta macam transaksi yang terlibat.
D. Analisis Skenario
Analisis skenario digunakan untuk mengenali pola hidup
yang diikuti oleh anggota kelompok, menunjukkan proses yang dijalaninya, dalam
memperoleh skenario dan cara-cara membenarkan tindakan yang tertera dalam scenario.[7]
2.7. Hubungan Konselor dan Konseli
Menurut Jones (2011-259), analisis
transaksional memberikan hubungan yang dukungan dan pengajaran yang kondusif
bagi klien yang memikul tanggung jawab pribadi lebih besar atas hidupnya. Dalam
kerangka kerja bahasa yang sama dan mudah dimengerti, konselor memberikan izin
kepada klien untuk memainkan peranan aktif dalam terapi. Konselor mendukung
klien pada saat mereka mengungkapkan dan menganalisis dirinya secara lebih
lengkap dan menguji pola-pola perasaan, pemikiran dan perilaku yang lebih Adult. Analisis transaksional, menurut formulasi
asli Berne, sebagian besar adalah sebuah proses pendidikan dan oleh sebab itu
hubungan konselor-klien mirip dengan hubungan pengajar-pembelajar yang
demokratis. Pada awal terapi, konselor dan klien menetapkan aturan-aturan dasar
dan menentukan elemen-elemen kontrak kerja dan kontrak belajar mereka. konselor
melatih klien tentang keterampilan menganalisis ego states, transaksi, dan
permainan. Di samping itu, konselor mendorong dan membantu klien untuk
mengidentifikasi opsi-opsi Adult untuk menghadapi berbagai orang,
masalah dan situasi dalam hidupnya.
Ada beberapa implikasi yang menyangkut
hubungan konselor dan klien, yaitu:
1. Tidak ada jurang pengertian yang tidak bisa
dijembatani di antara konselor dan klien. Konselor dan klien berbagi kata-kata
dan konsep-konsep yang sama, dan keduanya memiliki pemahaman yang sama tentang
situasi yang dihadapi.
2. Klien memiliki hak-hak yang sama dan penuh dalam konseling. Berarti klien tidak bisa
dipaksa untuk menyingkapkan hal-hal yang tidak ingin diungkapkannya.
3. Kontrak memperkecil perbedaan status dan
menekankan persamaan di antara konselor dan klien.
III.
Kesimpulan
Analisa Transaksional (Transactional
Analysis) adalah sebuah metode penyembuhan gangguan emosional yang terjadi
ketika berhubungan dengan orang lain. Teori ini merupakan suatu pendekatan
untuk mensistematisasi, menganalisis, dan mengubah saling pengaruh di antara
manusia, yang menekankan interaksi keduanya (antara diri dan manusia lain) dan
kesadaran internal (regulasi diri dan ekspresi diri). Pendekatan ini banyak
digunakan untuk meningkatkan kemampuan seseorang dalam berhubungan dengan orang
lain. Teori ini merupakan teori yang dapat digunakan pada individual maupun
kelompok. Teori ini melibatkan kontrak yang dikembangkan oleh konseli yang dengan
jelas menyebutkan tujuan dan arah dari proses terapi.
IV.
Daftar
Pustaka
4.1. Buku
Naisaban, Ladisiaus. Para Psikolog Terkemuka Dunia: Riwayat Hidup, Pokok
Pikiran, Dan Karya. Jakarta: Grasindo, 1997.
Rahmi, Komunikasi
Interpersonal Dan Hubungannya dalam Konseling. Aceh: Syiah Kuala University
Press, 2019.
Roberts, Albert R. & Greene, Gilbert J. Buku
Pintar Pekerja Sosial. Jakarta: Gunung Mulia, 2008.
Rusmana, Nandang. Bimbingan
Dan Konseling Kelompok Di Sekolah. Bandung: Rizqi Press, 2009.
Sudrajat, Indra
& Fatimah, Euis. Jurnal: Teknik Konseling Analisis Transaksional Pada
Perilaku Anak Nakal. Banten: UPI, 2020.
4.2. Internet
http://maulhusna.spot.com/2013/12/makalah-pendekatan-analisis.html Diakses pada 23 Maret 2023 Pukul 01.00 WIB.
https://www.materikonseling.com/2021/01/pendekatan-konseling-analisis.html Diakses pada 23 Maret 2023 Pukul 00.41 WIB
[1] Siti Rahmi, Komunikasi
Interpersonal Dan Hubungannya dalam Konseling (Aceh: Syiah Kuala University
Press, 2019). 161.
[2] Ladisiaus Naisaban, Para
Psikolog Terkemuka Dunia: Riwayat Hidup, Pokok Pikiran, Dan Karya (Jakarta:
Grasindo, 1997), 46.
[3] Albert R. Roberts &
Gilbert J. Greene, Buku Pintar Pekerja Sosial (Jakarta: Gunung Mulia,
2008), 264.
[4] Indra Sudrajat & Euis
Fatimah, Jurnal: Teknik Konseling Analisis Transaksional Pada Perilaku Anak
Nakal (Banten: UPI, 2020), 20.
[5] http://maulhusna.spot.com/2013/12/makalah-pendekatan-analisis.html Diakses pada 23 Maret 2023 Pukul 01.00 WIB.
[6] https://www.materikonseling.com/2021/01/pendekatan-konseling-analisis.html Diakses pada 23 Maret 2023 Pukul 00.41 WIB.
[7] Nandang Rusmana, Bimbingan
Dan Konseling Kelompok Di Sekolah (Bandung: Rizqi Press, 2009). 63-64.

Comments
Post a Comment