PASTORAL: MASALAH-MASALAH EKSTERNAL YANG SERING DIHADAPI DALAM PENGGEMBALAAN
MASALAH-MASALAH EKSTERNAL YANG SERING DIHADAPI DALAM
PENGGEMBALAAN
I.
Pendahuluan
Penggembalaan merupakan suatu tugas
seorang pendeta dalam upaya memperkuat iman para jemaat agar tidak goyah dan
melenceng dari yang Tuhan ajarkan. Penggembalaan menjadi salah satu kehadiran
yang dialami oleh jemaat dari firman yang mereka dengar sendiri. Pemberitaan
Injil adalah penggembalaan teratas untuk orang-orang berdosa. Hal itu pertama
sekali dilakukan oleh Yesus Kristus kepada murid-murid-Nya dan semua orang.
Kristus melakukan kegiatan kunjungan ke berbagai daerah seperti halnya ketika
Yesus mengunjungi satu orang, seorang kepala pemungut cukai (Luk. 19: 1-10). Ia
tidak pergi untuk mengadakan kampanye Injil yang besar dengan ribuan orang
tetapi Kedambaan-Nya adalah memberitakan Injil untuk mendapatkan satu orang,
dan pemberitanaan-Nya adalah penggembalaan. Dan tugas itu diberikan Yesus
Kristus kepada murid-murid-Nya dan masih berlaku di masa sekarang yang disebut
sebagai Pendeta.
Pastinya dalam melakukan tugas-tugas
itu, memiliki masalah eksternal yang menghambati tugas-tugas penggembalaan
tersebut. Maka dalam tulisan ini,
penulis berusaha menemukan hal-hal yang menjadi masalah eksternal yang sering
dihadapi oleh pendeta dalam penggembalaan.
II. Pembahasan
2.1.
Pengertian
2.1.1. Penggembalaan
Kata Penggembalaan berasal dari kata
Gembala yang kerap juga disamakan dengan Pastor. Penggembalaan disebut juga
dengan Pastoral yang berasal dari bahasa Yunani “poimen”.[1] Secara tradisional dalam
kehidupan gerejawi, penggembalaan merupakan merupakan tugas Pendeta yang harus
menjadi gembala bagi jemaat dan domba-domba Allah. Pengistilahan ini
dihubungkan dengan diri Yesus Kristus dan karya-Nya sebagai Pastor sejati dan
Gembala yang baik. Istilah pastor dalam istilah konotasi praktisnya berarti
merawat atau memelihara.[2] Bahkan seorang yang
bersifat pastoral merasa bahwa karya semacam itu adalah keharusan untuk
dilakukan sebagai tanggung jawab dan kewajiban bagi dirinya.[3]
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI), kata pendeta memiliki beberapa
arti yakni: orang pandai, pertapa, pemuka atau pemimpin agama atau jemaah,
rohaniawan, dan guru agama.[4] Pastoral merujuk pada
tindakan penggembalaan. Dalam hal ini penggembalaan dilihat sebagai apa pun
yang dilakukan oleh pastor (gembala). Seorang pastor hendaknya memiliki
motivasi, watak dan kerelaan yang kuat sehingga seluruh tindakan yang
diperbuatnya tidak terlepas dari sikap penuh perhatian dan kasih sayang kepada
seseorang atau sekelompok orang yang dihadapinya. Sikap pastoral berarti suatu
kesediaan dan kesegeraan tampil kalai dibutuhkan.
Penggembalaan ialah mencari,
mengunjungi anggota jemaat, supaya mereka satu per satu dibimbing untuk hidup
sebagai pengikut Kristus. Jelas bahwa penggembalaan pun merupakan suatu bentuk
pemberitaan firman.
2.1.2. Hambatan
Menurut KBBI, hambatan diterjemahkan
sebagai hal, keadaan atau penyebab lain yang menghambat (merintangi, menahan,
menghalangi). Sedangkan pengertian dari hambatan adalah suatu yang dapat
menghalangi kemajuan atau pencapaian suatu hal. Kata hambatan sering dinilai menjadi
suatu nilai yang negatif atau merugikan atas kehadirannya tidak diinginkan
terhadap suatu proses yang sedang dijalankan. Hambatan hadir di mana sebuah
proses sedang berlangsung namun masih berjalan tapi tidak secepat dari yang
telah diperkirakan oleh perencana sebelumnya.
2.2.
Penggembalaan Pendeta
1. Berkhotbah
Khotbah dengan isi yang baik mungkin
saja gagal karena banyak alasan. Mungkin alasan yang umum bahwa khotbah-khotbah
itu di bawahkan tanpa perasaan. Jadi berkhotbah adalah seni untuk membuat
pengkhotbah menyampaikan kehidupannya yang melakukan kebenaran. Jadi yang kita
jumpai dalam mimbar-mimbar kita pada hari minggu adalah pengkhotbah yang
menyampaikan dirinya sendiri. banyak pendeta tidak mempunyai api di dalam tulang-tulang
mereka. Karena itu ada beberapa pendapat dari pendeta tentang berkhotbah yaitu:
a. Michael
Turcker seorang gembala sidang dari Colorado, menulis dalam bukunya tentang
pengkhotbah yang berhasil, “khotbah harus memompa hati seseorang pengkhotbah
sampai ia hidup dan bernapas sesuatu dengan pesa yang akan disampaikannya.
b. George
Whitefield adalah seorang pengkhotbah yang berkhotbah dengan intensitas dan ia
menulis kepada seorang temannya bahwa “berkhotbahlah setiap saat seolah-olah
inilah waktu terakhir Anda”.
c. Walter
Burghardt seorang yang berteologi Yesuit menyesal ketika memberikan nilai
kepada para pelayanan Tuhan yang acuh-tak acuh dalam khotbah-khotbah mereka. Ia
meratapi jemaat sebuah gereja yang dibingungkan oleh sikap-sikap kami yang
menyatakan tentang hal-hal ilahi tetapi tanpa mengoyahkan perasaan atau emosi.
Karena
itu seorang gembala yang dikatakan mencapai keberhasilan dalam berkhotbah
ketika dia meningkatkan cara berkhotbah secara dramatis jika kita mengikuti
aturan yang sederhana dalam menyampaikan firman Tuhan, janganlah kita
berkhotbah di luar pengalaman kita ketika kita membagikan firman Allah yang
telah diilhamkan kepada kita, kita harus mengeti dengan baik sehingga kita
dapat berkonsentrasi dalam isi pesan tersebut lebih dari pada mengkwatirkan
tentang judulnya saja. Hanya cara tersebut kita dapat menyampaikan dengan
otoritas.[5]
2. Konseling
Konseling merupakan suatu percakapan
dari hati ke hati antara konselor dan konseli di mana konselor berusaha
membimbing konseling untuk mengungkapkan segala permasalahan yang sedang
dihadapinya secara terus terang atau terbuka untuk diselesaikan secara tuntas
dihadapan Tuhan.
3. Perkunjungan
Perkunjungan merupakan hal yang
sangat penting di lakukan oleh seorang gembala karena itu merupakan tanda
peduli gembala terhadap jemaatnya. Perkunjungan gembala terhadap anggota
jemaatnya sangat membantu gembala untuk mengetahui kebutuhan dan keadaan anggota
jemaatnya. Karena itu gembala harus melakukan perkunjungan kepada anggota
jemaatnya yang sakit, orang tua jompo dan cacat serta kepada orang berduka.
Sebab perkunjungna ke anggota jemaat itu salah satu pelayanan gembala jemaat
serta majelis gereja yang sangat penting untuk dilaksanakan.
Perkunjungan rumah tangga adalah
pelayanan yang ditugaskan Tuhan kepada gereja. Karena itu yang harus dilakukan
di perkunjungan itu bukanlah hal-hal yang dipikirkan penatua dan bukan juga
hal-hal yang diinginkan oleh keluarga yang dikunjungi. Yang harus dilakukan
dalam kunjungan adalah hal-hal yang berhubungan dengan firman Allah. Di situ
seorang gembala yang berkunjung harus membangun percakapan dengan keluarga itu
baik itu mempercakapkan tentang pekerjaan atau berhubungan dengan kehidupan
rohani jemaat, sehingga disitulah seorang gembala dapa menguatkan hati jemaat,
memberikan motivasi, semangat dan memerikan jalan keluar dari setiap masalah
mereka. Sehingga keluarga tersebut bisa menyelesaikan masalah itu dengan baik.[6]
4. Disiplin
Gereja
Disiplin gereja yaitu teguran atau
hukuman yang dikenakan kepada setiap anggota jemaat yang melakukan kesalahan.
Namun perlu diperhatikan bahwa disiplin yang diberikan kepada anggota yang
bersalah, bukan sebagai pembalasan dendam, melainkan sebagai tanda kasih,
dengan tujuan untuk memimpin orang yang bersalah kepada jalan yang benar.
2.3.
Hambatan Eksternal
Adapun yang menjadi hambatan dari
luar (eksternal) yang dialami oleh Gembala dalam menjalankan tugas
penggembalaan adalah sebagai berikut:
1. Budaya
Okultisme
Masyarakat atau jemaat yang masih
percaya pada kuasa gelap yang mampu memberikan suatu yang lebih baik terhadap
kehidupannya. Sehingga terjadi penolakan kehadiran seorang penggembala di
lingkungannya.
2. Teknologi
dan Jemaat
Masyarakat
sudah lebih memilih mendapatkan pencerahan dari Youtube atau media sosial
lainnya dibanding dengan pencerahan langsung oleh Pendeta atau Gembala. Karena
disana mereka dapat melihat berbagai ajaran yang lebih menarik bagi mereka dan
lebih mudah bagi mereka untuk dimengerti.
3. Cuaca
Cuaca yang buruk yang tidak dapat mendukung
penggembalaan menjadi suatu hal yang memengaruhi pada keberlangsungan kegiatan
Penggembalaan. (mis, Hujan deras bersama petir, angin kencang, lampu mati di
malam hari, dll.)
4. Keluarga
Keluarga
menjadi salah satu hambatan dalam melakukan penggembalaan dikarenakan
keperluan-keperluan baik itu berupa pertemuan, pesta pernikahan, kemalangan,
dan lain sebagainya yang mengharuskan Pendeta sebagai salah satu anggota
keluarga ikut serta dalam merayakannya.
5. Faktor
politik: banyak hamba Tuhan politik untuk mencari nama. Contohnya mencari nama
baik
6. Faktor
penyediaan sarana prasarana: Gereja cenderung tidak memperhatikan fasilitas
yang diperlukan oleh pendeta sehingga menghambat pelayanan pendeta. Contohnya
tidak adanya kendaraan menyebabkan kurangnya pelayanan pendeta terhadap orang
kecil
2.4.
Hasil
Wawancara
a. Pdt.
R. Hutabarat :
Jemaat yang sulit terbuka.
b. Pdt.
P. Nababan : Adat Istiadat, Jemaat Malu dan Tidak jujur
-
Adat istiadat (adat Batak) yang berlaku,
karena jemaat lebih berorientasi kepada tua-tua adat (raja ni Huta) dan
hulahula dalam penyelesaian problematika hidup moral dan sosial jemaat.
-
Budaya malu : jemaat merasa malu jika
datang ke pelayan gereja (pendeta) menyampaikan permasalahan hidup yang dialami
baik secara personal maupaun keluarga.
-
Faktor ketidakjujuran yang bersangkutan
(maupun orang2 disekitarnya termasuk penatua lingkungan/sektor) sehingga
pelaksanaan Tata Penggembalaan tidak dapat diterapkan ditengah-tengah gereja.
c. Pdt
Paulus Tamba S.Th
-
Kurangnya keterbukaan dari yang di
gembalakan, adanya jemaat yang yang tidak terbuka karena factor ekonomi,
pemikiran jemaat ketika Pendeta yang ingin datang menemui mereka, mereka segan
karena mereka tidak mempunyai ekonomi yang ingin diberikan kepada Pendeta.
-
Adanya factor waktu dari jemaat yang tidak
bisa berjumpa.
-
Adanya factor SDM yang kurang, jemaat
tidak mengetahui selain ibadah ada juga tugas pelayanan dalam hal konseling.
-
Adanya juga anggapan jemaat bahwa dalam
kehidupan ini mereka hanya bisa mengandalkan kekuatan ataupun kemampuan mereka
masing-masing.
d. Pdt
Anry Nababan M.Th
-
Masalah waktu, dimana pada sebuah kegiatan
yang sudah ditentukan jam acaranya tetapi adanya jemaat atau yang berperan
dalam acara itu belum semua hadir, sehingga acara belum bisa dimulai, sehingga
acara tidak bisa dilaksnakan sesuai dengan jam yang sudah di tentukan, padahal
pelayanan di tempat lain masi ada, sehingga mengakibatkan pengunduran waktu di
acara yang lain.
-
Menolak iabadah rumah tangga, ini di
akibatkan karena adanya juga factor ekonomi, dimana jemaat ini segan menerima
periabdahan di rumahnya Karena tidak ada uang yang mau di kasi kepada pendeta,
ataupun tidak ada yang bisa di sediakan makanan/miuman pada acara peribadahan
tersebut.
e. Pdt
Deby Panjaitan S.Th
-
Jadwal pelayanan yang ada tabrakan,
sehingga tidak semua kegiatan bisa diikuti terlebih lembaga, pelayanan khusus
yang mewajibkan pelayanan pendetalah yang di ikuti.
-
Waktu, dimana waktu luang jemaat untuk
dikunjungi biasanya malam karena kebanyakan jemaat pekerjaannya mayoritas
petani yang bekerja pagi sampai sore. Sedangkan malam Pendeta melakukan
pelayanan seperti partangiangan, koor dan lain-lain.
-
Beberapa jemaat kurang terbuka untuk
kegiatan pelayanan gereja.
f.
Pdt Ance Simanjuntak S.Th
-
Adanya jemaat yang memang benar benar
tidak mau datang untuk bergereja.
-
Adanya juga jemaat tidak mau atau
mempunyai ketertutupan jika ingin di kunjungi.
-
Factor cuaca juga, dimana saat melakukan
pelayanan ke tempat yang lumayan jauh, tibap-tiba datang hujan, sehingga
menghambat perjalanan. Sehingga waktu nya jadi di undur dan bahkan ada juga
yang di undur.
-
Kurangnya keterbukaan jemaat.
III. Kesimpulan
Hambatan-hambatan yang dialami oleh
Gembala secara eksternal dalam melakukan penggembalaan adalah kurangnya tingkat
ketertarikan para Jemaat dalam menerima pelayanan pendeta, tidak adanya iman
dalam diri jemaat sehingga menolak adanya suatu bimbingan dan ajaran langsung
dan perubahan minat jemaat yang lebih memilih belajar dari hal lain dibanding ajaran langsung
dari gembalanya.
IV. Daftar
Pustaka
Abineno,
J,L, CH, Penatua. (Jakarta: Gunung mulia, 2013).
Depertemen
Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. (Jakarta:
Balai Pustaka, 2007).
Jurnal:
Saputri, Jelitha Pastoral konseling sebagai strategi penggembalaan untuk
menuju gereja yang bertumbuh.
Lutzer, Erwin, Memecahkan Masalah-Masalah
Dalam Pelayanan. (Malang:Gunung mas,1998).
Beek, Van Aart, Konseling Pastoral
Sebuah Buku Pegangan Bagi Para Penolong Di Indonesia. (Satya Wacana:
Semarang, 1987).
Beek, Van Aart, Pendampingan Pastoral. (Jakarta:
Gunung Mulia, 2007).
[1] Jurnal: Jelitha Saputri, Pastoral
konseling sebagai strategi penggembalaan untuk menuju gereja yang bertumbuh.
[2] Aart Van Beek, Pendampingan
Pastoral (Jakarta: Gunung Mulia, 2007), 9-10.
[3] Aart Van Beek, Konseling
Pastoral Sebuah Buku Pegangan Bagi Para Penolong Di Indonesia (Satya
Wacana: Semarang, 1987), 6.
[4] Depertemen Pendidikan Nasional, Kamus
Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), 849.
[5] Erwin Lutzer, Memecahkan
Masalah-Masalah Dalam Pelayanan (Malang:Gunung mas,1998), 49-58.
[6] Abineno, J,L, CH, Penatua
(Jakarta: Gunung mulia, 2013), 39-46.
Comments
Post a Comment