PAK: HEUTAGOGI
HEUTAGOGI
I.
Pendahuluan
1.1. Latar
Belakang
Pendekatan pendidikan ini dimulai dari
adanya pendidikan kuno yang dilakukan dengan metode pendidikan informal yang
terbatas pada beberapa siswa, keterampilan untuk otot, dan tingkat melek huruf
yang rendah. Kemudian setelah berabad-abad mengalami perkembangan dari
pendidikan informal menjadi pendidikan formal.[1] Pendidikan kuno hanya
dilakukan pada anak laki-laki dari kalangan kerajaan dan bangsawan. Namun dengan pendidikan itu sendiri
menumbuhkan suatu kesadaran baru bahwa pentingnya pendidikan pada semua orang.
Sehingga pendidikan pada anak perempuan diperhatikan. Selanjutnya konsep
pendidikan formal muncul dalam konsep pendidikan di gereja dan dikembangkan
pemimpin-pemimpin gereja.[2]
Pendidikan kuno yang disebut dengan
pendidikan 1.0 berangsur-angsur mengalami perkembangan dari tingkat pendidikan
dasar ke awal pendidikan tinggi, yaitu dihasilkannya pendirian beberapa
universitas tanpa adanya kurikulum, penilaian, dan pengakuan resmi sehingga
pendidikan ini disebut sebagai proses pendidikan yang sangat lemah. Pendidikan
1.0 ini disebut sebagai pendidikan pedagogi.[3] Setelah beribu-ribu tahun
mengalami suatu kemajuan tepatnya ditemukannya mesin cetak pada pertengahan
abad ke-15 mengubah sektor pendidikan dan mengalami peningkatan dalam
pengenalan huruf yang mendorong penyebarluasan buku dengan cepat. Kemajuan ini
menjadi suatu pendorong berubahnya pendidikan ke versi 2.0 dimana penyebaran
ilmu pengetahuan tidak lagi bergantung pada orang lain melainkan sudah dapat di
gali melalui buku-buku cetak.
Masa renaisans menjadi zaman yang
mendorong masyarakat untuk berkembang dengan rasa ingin tahu, ide-ide bari, dan
inovasi.[4] Masa ini menjadi peralihan
pendidikan dari 1.0 ke versi 2.0 yang disebut dengan Andragogi dimana metode
ini memiliki prinsip belajar yang lebih aktif, pengalaman, otentik, relevan,
dan jaringan sosial dibangun ke dalam kelas atau struktur kelas untuk pembelajaran
orang dewasa.
Dengan kemunculan internet dan IT mengubah
bentuk-bentuk belajar dengan berbagai platform untuk lebih mengembangkan dan
lebih membantu peserta untuk lebih leluasa dalam belajar. Perkembangan ini
disebut sebagai masa peralihan pendidikan 2.0 ke versi pendidikan 3.0 berupa
peningkatan eksesibilitas ke perguruan tinggi.
Seiring perkembangan zaman yang sangat
cepat, dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih (Informasi and
Technology), termasuk lahirnya smartphone, media social, dan internet, pendidikan versi 3.0 berkembang
menjadi pendidikan versi 4.0 dimana kegiatan pembelajaran terhubung langsung
dengan peserta didik, berfokus pada peserta didik, didemonstrasikan oleh
peserta didik dan dipimpin oleh pembelajar.
Pendidikan versi 4.0 merupakan metode
pendidikan pembelajar dimana pesertanya sebagai tokoh yang bertanggung jawab
dalam luasnya atau dalamnya suatu
pembahasan dalam kegiatan pembelajaran. Pendidikan pada tahap ini memberikan
kebebasan untuk seluruh peserta memiliki fleksibilitas dan kebebasan dalam
mencapai tujuan pribadi dengan keinginan yang mereka pilih. Versi pendidikan
inilah yang disebut dengan heutagogi dengan penekanan belajar dan mengajar.
II. Pembahasan
2.1. Pengertian
Heutagogi
Secara etimologi, heutagogi terdiri dari
dua kata, yaitu hauto yang berarti “diri” dan agogos yang berarti
“memimpin atau membimbing”. Maka dapat dipahami bahwa heutagogi adalah
pembelajaran orang dewasa yang dilakukan atas keinginan sendiri, kebutuhan
sendiri dengan cara mandiri untuk diri sendiri. Pembelajaran ini dilakukan
dengan pemilihan materi sendiri dan metode pembelajarannya ditentukan sendiri
sesuai keinginan dan kenyamanan pribadi orang dewasa itu sendiri. Heutagogi
merupakan konsep yang diciptakan oleh Stewart dari Southern Cross University,
merupakan studi tentang belajar yang ditentukan oleh diri pembelajar sendiri.
Gagasan ini adalah perluasan dari reinterpretasi andragogi, titik tekan
heutagogi khusus pada perbaikan belajar, cara belajar, dua keluk belajar
(double loop learning), kesempatan belajar universal proses non-linear, dan
arah sejati diri pelajar. Jika andragogi berfokus pada cara terbaik bagi orang
dewasa untuk belajar, heutagogi juga mensyaratkan bahwa inisiatif pendidikan
termasuk peningkatan keterampilan, sebenarnya yang belajar itu adalah orang
yang belajar itu sendiri, mereka belajar cara belajar dan juga belajar mata
pelajaran yang diberikan itu sendiri.
Heutagogi disebut juga dengan istilah self-determined
learning yaitu suatu proses belajar yang ditentukan secara murni oleh
pembelajar (Sulistya, 2019). Murni yang dimaksud di sini adalah adanya tindakan
tanpa adanya unsur lain, baik itu berupa paksaan dari orang lain melainkan
berawal dari lubuk hati dan pikiran sendiri yang kerap disebut dengan inisiatif
sebagai prinsip untuk dilakukan sendiri. Heutagogi menjadi suatu kelanjutan
dari pendekatan Andragogi dimana dalam proses pembelajaran terjadi interaksi pembelajaran
yang berasal dari luar (guru) atau orang lain ke dalam diri pembelajar. Heutagogi
adalah ilmu belajar mandiri (Kenyon, 2010: 165), sebagai aktivitas kompleks
yang membutuhkan perubahan yang meliputi keterampilan dan pengetahuan. Dalam
pendekatan Heutagogi, pembelajar atau peserta didik ditekankan untuk dapat
menciptakan suatu pembelajaran yang aktif, proaktif, dan menyenangkan bagi diri
pembelajaran itu sendiri yang berasal dalam diri peserta (inisiatif). Dapat
dilihat bahwa dalam pendekatan Heutagogi kedua pihak pembelajaran, guru dan
peserta saling mencari dan mengembangkan ilmu yang terjadi sepanjang hidup
tanpa memandang waktu, kondisi, dan umur (Sulistya, 2019).
Inti dari heutagogis adalah bahwa dalam
beberapa pembelajaran situasi, fokusnya harus pada apa dan bagaimana pelajar
ingin belajar, bukan pada apa yang akan diajarkan. Sebagai konsep baru dalam
belajar, heutagogi menawarkan tentang bagaimana orang belajar, menjadi kreatif,
memiliki efektivitas diri tingkat tinggi, dapat menerapkan kompetensi dalam
situasi kehidupan, dan dapat bekerja secara baik dengan orang lain. Oleh karena
itu pendekatan ini sangat berbeda dari yang lebih formal dan cara tradisional 'mengajar'
orang. Dalam heutagogi proses pendidikan perubahan dari menjadi satu di mana
orang terpelajar (guru, tutor, dosen) menuangkan informasi ke kepala pelajar,
ke kepala yang dipilih pelajar apa yang harus dipelajari dan bahkan bagaimana
mereka dapat mempelajarinya. Ini mewakili sebuah perubahan dari pembelajaran
yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa.
Dalam heutagogis, orang yang terpelajar
mengambil lebih banyak peran sebagai fasilitator atau pemandu sebagai bagaimana
pembelajaran yang diinginkan mungkin terjadi, dan jika penilaian formal belajar
diperlukan, maka orang yang 'belajar' membantu dalam menentukan apa yang akan
menjadi sarana penilaian yang tepat. Ada elemen lebih lanjut untuk pendekatan
pembelajaran ini, seperti pertanyaan tentang bagaimana pembelajaran akan
berlangsung, dan bagaimana pembelajar harus dibimbing dalam pembelajaran mereka.
Juga, kita perlu memastikan bahwa pembelajaran yang diinginkan ada di dalam
kemampuan dan tingkat kematangan calon peserta didik. Salah satu manfaat dari
pendekatan heutagogis yang telah ditemukan oleh banyak pelajar adalah bahwa
kemampuan belajar mereka sangat ditingkatkan. Oleh karena itu tantangan untuk
mempelajari sesuatu yang secara konvensional, mungkin dianggap berada di luar
kemampuan mereka, bahkan mungkin berkembang dan meluas kemampuan peserta didik.
Ini memiliki relevansi khusus mengingat penekanan hari ini pada belajar seumur
hidup.
2.2. Konsep
Konsep utama dalam heutagogi adalah
pembelajaran loop ganda (double-loop learning) dan refleksi diri
(self-reflection). Heutagogi menawarkan tentang bagaimana orang belajar,
menjadi kreatif, memiliki efektivitas diri tingkat tinggi, dapat menerapkan
kompetensi dalam situasi kehidupan, dan dapat bekerja secara baik dengan orang
lain sebagai konsep baru dalam belajar. Dibandingkan dengan kompetensi yang
terdiri dari pengetahuan dan keterampilan, kemampuan adalah atribut holistic.
Mengembangkan orang menjadi mampu, membutuhkan pendekatan inovatif untuk
belajar secara konsisten dengan konsep heutagogi, yaitu belajar berbasis kerja.
Belajar dan kontrak belajar adalah dua contoh dari proses yang dirancang untuk
memungkinkan orang menjadi mampu. Fokus proses ini pada “belajar bagaimana
belajar” dan “belajar untuk apa”, bukan berpusat pada guru. Membantu
orang-orang untuk menjadi mampu memerlukan pendekatan baru pada pengelolaan
belajar.
Konsep pembelajaran heutagogi menempatkan
pendidik sebagai fasilitator dalam memberi bimbingan.[5] Sementara peserta didik
memiliki hak sepenuhnya untuk memilih proses pembelajaran, materi yang
dipelajari dan bagaimana cara pembelajarannya (Fauzi, 2021).
2.3. Hakikat
Heutagogi adalah studi tentang
pembelajaran yang ditentukan oleh sendiri.[6] Berdasarkan definisi
diatas mengenai arti heutagogi bahwa fokus pembelajaran harus pada apa dan
bagaimana pelajar ingin belajar, bukan pada apa yang akan diajarkan. Jadi, hal
yang menjadi hakikat pada pembelajaran ini adalah inisiatif dari para peserta
untuk mempelajari cara belajar mereka untuk menghasilkan sikap yang benar-benar
belajar. Dalam arti hakikat pada peserta harus sungguh-sungguh dalam belajar.
2.3.1. Tujuan
Tujuan
heutagogi adalah untuk mengajarkan pembelajaran seumur hidup dan menghasilkan
pembelajar yang siap dengan baik untuk kompleksitas tempat kerja saat ini dan
kelak.
2.3.2. Manfaat
Adapun manfaat dari
pendekatan pembelajaran ini adalah sebagai berikut:
1. Hasil
guru lebih baik.
2. Guru
yang mampu, yang lebih siap untuk kompleksitas dalam lingkungan belajar.
3. Meningkatkan
kepercayaan peserta didik dalam berpresepsi.
4. Melibatkan
pelajar dalam komunitas praktik.
5. Meningkatkan
kemampuan belajar untuk mengidentifikasi ide.
6. Mengembangkan
lebih dalam untuk kemajuan kemampuan pikir pelajar untuk mempertanyakan
interpretasi realitas dari posisi kompetensi pelajar.[7]
Manfaat yang jelas adalah bahwa seorang
individu mempelajari apa yang telah mereka pilih untuk dipelajari, bukan hanya
apa yang ditentukan oleh kurikulum. Sebenarnya kurikulum adalah titik awal,
sebuah batu loncatan. Kepuasan dalam proses ini sangat besar, tidak hanya dari
pembelajaran yang berlangsung, tetapi juga karena pembelajar mengalami
pemberdayaan pribadi mereka untuk bertanggungjawab langsung atas pembelajaran
mereka sebagai pembelajar aktif daripada pembelajar pasif. Dari manfaat inti
ini, pengalaman menunjukkan bahwa manfaat lain biasanya terjadi, dan itu adalah
peningkatan kemampuan pembelajar. Dalam konteks ini, yang kami maksud adalah
pelajar menjadi lebih memahami tentang proses pembelajaran, dan menjadi lebih
mahir dalam belajar untuk diri mereka sendiri.
2.4. Prinsip
Adapun
yang menjadi prinsip-prinsip pendekatan pembelajaran ini adalah:
a. Inisiatif
pendidikan berasal dari masyarakat atau diri pembelajar sendiri, sehingga
pembelajar sendiri yang menentukan apa dan bagaimana belajar itu harus
dilakukan.
b. Setiap
orang memiliki keinginan untuk belajar dan kecenderungan alami untuk
melakukannya sepanjang hidup tanpa perlu berdebat pada konsep pedagogi ataukah
andragogi.
c. Kelukan
atau simpulan belajar ganda (double loop learning) merupakan proses
belajar yang berfokus pada belajar bagaimana belajar dan belajar untuk apa.
Yaitu konsep belajar yang menawarkan tentang bagaimana orang belajar, menjadi
kreatif, memiliki efektivitas diri tingkat tinggi, dapat menerapkan kompetensi
dalam situasi kehidupan dan dapat bekerja secara baik dengan orang lain.
d. Adaptasi
manusia, maksudnya heutagogi menantang cara berpikir pembelajar tentang belajar
dan belajar, mendorong guru berpikir pada proses ketimbang isi, memungkinkan
pembelajar lebih memahami dunia mereka daripada dunia gurunya, memaksa guru
pindah ke dunia pembelajar, serta memungkinkan guru untuk melihat melampaui
disiplin mereka sendiri dan teori-teori favorit.
2.5. Komponen
Menurut
Blaschke & Kenyon (2014) ada empat komponen penting dari pendekatan
pembelajaran heutagogi, yaitu sebagai berikut:
1. Kontrak
belajar yang ditentukan sendiri oleh mahasiswa, hal ini bertujuan untuk
mendukung mahasiswa dalam mendefinisikan dan menentukan peta belajar secara
mandiri.
2. Kurikulum
yang fleksibel, kurikulum menyesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa.
3. Pertanyaan
yang ditentukan sendiri oleh mahasiswa, sebagai pemandu dan berfungsi untuk
membantu memahami isi pembelajaran, memberikan kejelasan dan menunjukkan
refleksi individu dan kelompok.
4. Model
evaluasi yang fleksibel dan dinegosiasikan bersama mahasiswa, mahasiswa
dilibatkan dalam proses evaluasi, termasuk bentuk asesmen dan penilaian, begitu
juga apakah mahasiswa telah mencapai kompetensi yang diinginkan.
2.6. Unsur
Menurut
Hase dan kanyen, dalam pendekatan heutagogi harus memenuhi beberapa unsur,
yaitu sebagai berikut:
1. Approval,
berarti perlunya persetujuan dalam menerapkan kurikulum pada suatu lembaga
pendidikan formal yang menggunakan pendekatan pembelajaran heutagogi. Sementara
lembaga nonformal tidak memerlukan persetujuan.
2. Facilitator,
guru atau dosen bertindak sebagai fasilitator untuk memastikan kesiapan belajar
menggunakan panduan yang sesuai.
3. Choice
atau pilihan, dalam arti bahwa fasilitator memberi kebebasan kepada peserta
didik untuk memilih proses belajar yang sesuai dengan kemampuan, waktu dan
topik atau materi belajar.
4. Agreement,
artinya persetujuan dalam arti bahwa fasilitator atau peserta didik membuat
kesepakatan jadwal kegiatan pembelajaran, metode yang diterapkan dan penilaian
ulasan kemajuan.
5. Review,
fasilitator melakukan evaluasi atau penilaian terkait kemajuan peserta didik
secara berkala.
6. Assessment,
artinya bahwa bentuk penilaian disampaikan sejak awal dan disepakati.
7. Feedback,
artinya perlu adanya hubungan timbal balik antar fasilitator dan peserta didik
yang dapat dilakukan dalam bentuk diskusi secara terbuka dalam bertukar ide dan
pengalaman yang berguna bagi peserta didik (Hase & Kenyon, 2007).
2.7. Ciri-ciri
Adapun yang menjadi
ciri-ciri dari pendekatan heutagogi adalah:
1. Mengetahui
bagaimana belajar harus merupakan keterampilan utama bagi pembelajar.
2. Harus
menciptakan dunia belajar yang nyaman dan menyenangkan.
3. Menghindari
dominasi guru/ dosen yang menciptakan pembelajaran yang berpusat pada guru/
dosen.
4. Guru/
dosen konsentrasi pada proses pembelajaran bukan sekedar berfokus pada materi
pembelajaran berdasarkan kurikulum.
5. Peserta
didik memilih topik berdasarkan pilihan sendiri serta bertanggung jawab sendiri
untuk menguasai topik-topik pembelajaran itu.
6. Peserta
didik mempelajari hal-hal melampaui disiplinnya.
7. Pembelajaran
ditentukan oleh diri sendiri.
2.8. Proses
Proses
pembelajaran dirancang berdasarkan tujuan dan capaian pembelajaran dari dan
oleh mahasiswa sendiri. Tahapan refleksi dalam siklus pembelajaran heutagogi
memungkinkan mahasiswa untuk mengeksplorasi kemampuan yang dimiliki dan
mengembangkan kapasitas diri menuju ke puncak realisasi yang optimal. Melalui
pendekatan heutagogi, mahasiswa merasa yakin dan berdaya melalui motivasi
mereka sendiri (intrinsic motivation), muncul kesediaan untuk berbagi
dan bertukar pengalaman belajar dengan mahasiswa lain. Pendekatan belajar ini
juga memungkinkan mahasiswa memfasilitasi pembelajaran secara mandiri,
mengembangkan kapasitas untuk menunjang kecakapan hidup yang dibutuhkan di masa
akan datang[8].
Penerapan
pendekatan pembelajaran heutagogi di pendidikan tinggi di era revolusi digital
sekarang ini dapat ditunjukkan sebagai berikut:
1. Interdependent
learning yaitu proses pembelajaran saling bergantung antara
dosen dan mahasiswa yang menekankan pada kolaborasi untuk melakukan eksplorasi
bersama-sama tentang hal-hal baru, penemuan pengetahuan baru, keterlibatan
dalam kajian tindak, pengujian hipotesis, dan validasi pengetahuan.
2. Double-and
triple-loop learning yaitu pembelajaran yang menekankan pada
kemampuan mahasiswa untuk menganalisis apa yang akan dipelajari, bagaimana
mendapatkan pengetahuan baru yang memengaruhi nilai dan sistem kepercayaannya,
kemampuan mengidentifikasi pengalaman belajar, penerapan dan pengelaman baru,
kemampuan merespons dan menyelesaikan masalah.
3. Participation
yaitu
bagaimana mahasiswa bergabung dan berpartisipasi secara online, kemudian
dapat pula mengikuti pembelajaran tatap muka langsung, bergabung dalam forum
komunitas belajar lainnya, dan merespons pertanyaan dan masalah di komunitas
belajar (Chompololom, 2020).
2.9. Metode
Metode
heutagogi lebih mengutamakan interaksi antar pihak yang menjalankan aktivitas
tersebut. Baik pembelajar dan juga pengajar berada di posisi setara sehingga
masing-masing dapat memberikan pengalamannya dalam suatu hal yang kemudian
dapat memicu interaksi timbal balik.
Metode heutagogi tidak hanya mengutamakan tindakan timbal balik antara
keduanya, namun juga mencoba untuk mengaplikasikannya kepada masyarakat.
Sehingga tidak lagi menjadi metode pembelajaran yang terjadi pada dua pihak, melainkan melibatkan
pihak ke-tiga sebagai pihak yang diberi dampak. Dikarenakan pengajar dan
pembelajar berada pada posisi yang sama, maka dalam metode ini pengajar tidak
lagi menjadi pihak yang selalu benar, dan pembelajar memiliki peluang untuk
menyampaikan semua hasil eksporasi yang dilakukannya. Hasil dari penerapan
metode heutagogi tidak hanya terjadi pada pengajar namun juga kepada pembelajar
yang pada akhirnya mengalami inovasi dan kreativitas yang membawa dampak pada
revolusi berpikir pihak-pihak yang terlibat (Rijal, Berbagi Ilmu, 2016).

Gambar 1. Metode Heutagogi
Sumber: (Tjandra & Santoso, 2018)
Dalam
metode ini persepsi bahwa pengajar dan pelajar bersama dalam
belajar dan tidak ada pihak yang merasa sangat benar, membagikan peluang yang
sama dalam berinovasi dalam pemecahan masalah, dikarenakan pengajar tidak
memberikan batasan tentang darimana ide tersebut berasal. Ilustrasi tersebut
menjelaskan bahwa metode heutagogi membuka pihak pembelajar atau peserta untuk menggali dan menemukan
cara serta sasarannya sendiri, untuk membuat individu belajar menemukan
kemampuan baru yang menciptakan ilmu baru, yang meliputi cara-cara baru yang
sesuai dengan kekhasan manusia (Tjandra & Santoso, 2018).
2.10. Relevansi
Terhadap Orang Dewasa
Adapun relevansi heutagogi terhadap
kehidupan bermasyarakat adalah sebagai berikut:
a. Peserta
didik bertanggung jawab tidak hanya soal apa yang dipelajari, akan tetapi juga
cara belajar dan bagaimana mengevaluasinya.
b. Peserta
didik bisa secara mandiri menentukan cara belajarnya sendiri sehingga peserta
didik dapat hidup bermasyarakat dengan baik karena adanya pembiasaan dalam
merancang cara belajarnya sendiri dan tidak bergantung pada orang lain.
c. Memacu
keterlibatan dan motivasi mereka.
d. Mendorong
pertumbuhan dan pemberdayaan pribadi.
e. Meningkatkan
kemampuan untuk menyelidiki dan mempertanyakan ide-ide serta menerapkan
pengetahuan dalam situasi praktis.
f.
Mendukung pengembangan ide-ide segar dan
percaya diri.
g. Membuat
lebih cakap dan mampu beradaptasi dengan lingkungan baru.
h. Membantu
mereka mengembangkan keterampilan kerja tim dan manajemen proyek.
2.11. Hubungan
Heutagogi, Andragogi dan Pedagogi
Menurut
Mezirow, hubungan perdagogi, Andragogi dan Heutagogi dalam Lisa Marie Blashhke
(2012), dilihat dari kematangan dan autonomi serta peran dari pendidik, dapat
digambarkan dengan menggunakan pyramid sebagai berikut:

Gambar
2. Perkembangan
Pedagogi, Andragogi, dan Heutagogi.
Berdasarkan gambar
di atas, terlihat
bahwa pendekatan heutagogi terletak pada piramida bagian atas
(level 3). Dari gambar piramida, dapat dilihat bahwa heutagogi
menekankan pada realisasi,
dengan menekankan keterlibatan
peserta didik sebagai
fokus utama yang
memiliki otonomi penuh
dalam pembelajarannya.
Adapun perbedaan antara
andragogi dengan heutagogi (Blaschke Lisa Marie, 2012) yaitu; andragogi atau biasa dikenal dengan
istilah self directed yang
memiliki ciri-ciri yaitu
single-loop learning, pengembangan kompetensi, desain
linier dan pendekatan
pembelajaran, instructor learner directed, dan
membuat peserta didik
belajar konten. Sedangkan
heutagogi memiliki ciri-ciri seperti
double loop learning,
pengembangan kemampuan, desain
non linier dan pendekatan pembelajaran, learner directed, dan membuat peserta
didik memahami bagaimana mereka belajar (menekankan pada proses). Heutagogy
adalah suatu studi
tentang pembelajaran mandiri
yang diakumulasikan dengan beberapa
ide yang disajikan
oleh berbagai pendekatan belajar. Hal
ini juga merupakan
upaya untuk menantang
beberapa ide tentang pengajaran dan pembelajaran
yang masih berlaku di
teacher centered learning. Dalam
hal ini heutagogy melihat ke masa depan dimana mengetahui cara belajar
akan menjadi keterampilan
mendasar mengingat laju
inovasi dan perubahan struktur masyarakat dan kebutuhan
lapangan pekerjaan.
Pendekatan
heutagogical mengakui kebutuhan
untuk bersikap fleksibel dalam belajar
dimana guru menjadi
narasumber kemudian peserta
didik menentukan desain pembelajaran.
Dengan demikian peserta
didik dapat membaca isu-isu kritis
dan menentukan apa yang menarik
dan relevan dengan kondisi mereka. Dalam hal ini,
penilaian dilakukan melalui pengalaman belajar. Sebagai guru kita harus
menyibukkan diri dengan mengembangkan kemampuan peserta didik
dan tidak hanya
menanamkan keterampilan berbasis
disiplin dan pengetahuan.
III. Penutup
3.1. Kesimpulan
Perkembangan teknologi memberikan kepada
manusia suatu kebebasan untuk memperoleh segala hal. Dengan kemudahan-kemudahan
tersebut fungsi teknologi itu sendiri tidak diragukan lagi ditengah kehidupan
umat manusia terlebih dari segi peningkatan ilmu pengetahuan yang dapat
diperoleh tanpa batas. Pendidikan tidak lagi bergantung terhadap apa yang akan
di lakukan yang berasal dari ide orang lain. Namun mengenai seberapa banyak
yang dapat peserta peroleh dalam pendidikan itu. Pendidikan tidak hanya berasal
dari guru sebagai pendidik lagi. Namun juga berasal dari peserta itu sendiri.
Heutagogi yang disebut juga dengan
pendidikan versi 4.0 memberikan peluang kepada pembelajar dalam suatu kebebasan
untuk menggali sendiri pengetahuan-pengetahuan dari segala sesuatu yang ada
didunia ini. Dalam versi ini, peserta juga ditekankan agar mampu berperan
sebagai pengajar dan pelajar. Pendekatan pembelajaran heutagogi adalah
pendekatan dimana pembelajaran berpusat pada para peserta pelajar. Hal ini
memberikan kesempatan antara kedua belah pihak guru dan peserta untuk saling mewujudkan
tujuan pembelajaran. Guru dan peserta memiliki peran yang sama. Peserta bebas
untuk memunculkan dan menyumbangkan ide mereka dalam sebagai perwujudan proses
pembelajaran.
IV. Daftar
Pustaka
Ali, Muhammad, Ilmu dan Aplikasi
Pendidikan: Bagian I Ilmu Pendidikan Teoritis. (Jakarta: PT Imperial Bakti
Utama, 2007).
Danim,
Sudarman, Pedagogi, Andragogi, dan Heutagogi. (Bandung: Alfabeta, 2010).
Dewantara,
Putu Mas, ICT & Pendekatan Heutagogi dalam Pembelajaran Abad ke-21
(Yogyakarta: CV. Budi Utama, 2021).
Freire,
Paulo, Pendidikan Kaum Tertindas. (Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia,
2008).
Pajarianto., Hadi, Hajeni, Galugu, Nur
Siqinah, Ilmu Pendidikan Di Era Disrupsi 4.0. (Bandung: Indonesia Emas
Group, 2022).
Sudira, Putu, TVET ABAD XXI
Filosofi, Teori, Konsep, dan Strategi Pembelajaran Vokasianal. (Yogyakarta:
UNY Press 2016).
W. E, Doll, A Post-Modern
Perspective On Curriculum. (New York: New York Teachers College, 1989).
[1] Paulo Freire, Pendidikan Kaum
Tertindas (Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2008), 1.
[2] Putu sudira, TVET ABAD XXI
Filosofi, Teori, Konsep, dan Strategi Pembelajaran Vokasianal (Yogyakarta:
UNY Press 2016), 109.
[3] Sudarman Danim, Pedagogi,
Andragogi, dan Heutagogi (Bandung: Alfabeta, 2010), 7.
[4] Muhammad Ali, Ilmu dan Aplikasi
Pendidikan: Bagian I Ilmu Pendidikan Teoritis (Jakarta: PT Imperial Bakti
Utama, 2007), 7.
[5] Hadi Pajarianto, Hajeni, Nur
Siqinah Galugu, Ilmu Pendidikan Di Era Disrupsi 4.0 (Bandung: Indonesia
Emas Group, 2022), 68.
[6] Putu
Mas Dewantara, ICT & Pendekatan Heutagogi dalam Pembelajaran Abad ke-21
(Yogyakarta: CV. Budi Utama, 2021), 78.
[7] Doll, W. E, A Post-Modern
Perspective On Curriculum (New York: New York Teachers College,
1989),
53.
[8] Adul Muhid, Heutagogi: Memerdekakan Mahasiswa Belajar Di Era
Revolusi Digital (Malang: PT. Citra Intrans selaras, 2021), 29-30.
Comments
Post a Comment