PAK: ANDRAGOGI
I.
Pendahuluan
Pendidikan orang dewasa (Andragogi)
berbeda dengan pendidikan anak-anak (Paedagogi). Pendidikan anak-anak
berlangsung dalam bentuk identifikasi dan peniruan, sedangkan pendidikan orang
dewasa berlangsung dalam bentuk pengarahan diri sendiri untuk memecahkan
masalah. Dan pada kesempatan ini, kami dari kelompok I akan membahas mengenai
andragogi, semoga sajian ini dapat menambah wawasan kita.
II.
Pembahasan
2.1.
Pengertian Andragogi
2.1.1. Secara
Etimologi
Secara
etimologi, kata andragogi berasal dari bahasa Yunani yaitu kata andros yang
artinya orang dewasa, dan kata agogus yang artinya membimbing,
mengarahkan dan memimpin orang dewasa.[1] Dalam
kamus besar bahasa Indonesia, andragogi adalah suatu ilmu tentang cara orang
dewasa belajar. Andragogi adalah ilmu yang menuntun/mendidik manusia; aner,
andros: manusia dewasa, Agoo: menuntun, mendidik, atau ilmu yang
membentuk manusia; yaitu membentuk kepribadian seutuhnya, agar ia mandiri
ditengah lingkungan sosialnya.[2]
2.1.2. Secara
Umum
Pendidikan orang dewasa (Andragogi), yaitu proses
belajar yang sistematis dan berkelanjutan pada seseorang yang memiliki status
dewasa (berkelanjutan ciri pokok peran sosialnya) yang bertujuan untuk mencapai
perubahan pengetahuan, sikap, nilai serta keterampilannya.[3]
Yang
dimaksud dengan andragogi yaitu keseluruhan proses yang diorganisasikan, apapun
isi, tingkatan dan metodenya, baik formal maupun non formal, yang melanjutkan
maupun menggantikan pendidikan semula di sekolah , kolese atau universitas
serta latihan kerja, yang membuat orang yang dianggap dewasa oleh masyarakat
mengembangkan kemampuannya, memperkaya pengetahuannya, meningkatkan kualitas
atau profesionalitasnya dan mengakibatkan perubahan pada sikap dan perilakunya
dalam perspektif rangkap perkembangan pribadi secara utuh dan partisipasi dalam
perkembangan social, ekonomi dan budaya yang seimbang dan bebas.[4]
2.2.
Sejarah dan Perkembangan Andragogi
Andragogi
pertama kali digunakan oleh Alexander Kapp tahun 1833, dan penggunaan andragogi
dimulai pada abad ke-18. Perkembangan selanjutnya sejak tahun 1920 pendidikan
orang dewasa (andragogi) telah dirumuskan dan diorganisasikan secara
sistematis. Istilah andragogi pertama kali diperkenalkan di Amerika Serikat
oleh Malcolm Knowles pada awal 1970[5]. Pendidikan
orang dewasa dirumuskan sebagai suatu proses yang menumbuhkan keinginan untuk
bertanya dan belajar secara berkelanjutan sepanjang hidup. Belajar bagi orang
dewasa berhubungan dengan bagaimana mengarahkan diri sendiri untuk bertanya dan
mencari jawabannya. Namun, pakar pendidikan orang dewasa yang mengkaji dan
mengembangkan secara konseptual teoretik andragogi adalah Malcolm Knowles
(1970).
Malcolm
Knowles mendefenisikan “andragogi as the art and science to helping adult a
leaner”. Pendidikan orang dewasa berbeda dengan pendidikan anak-anak
(pedagogi). Hal ini karena pedagogi berlangsung dalam bentuk identifikasi dan
peniruan sedangkan andragogi berlangsung dalam bentuk pengembangan diri sendiri
untuk memecahkan masalah. Jadi, istilah andragogi mulai dirumuskan menjadi
teori baru sejak tahun 1970, oleh Malcolm Knowles. Knowles memperkenalkan
istilah tersebut terutama untuk pembelajaran pada orang dewasa.[6]
2.3.
Andragogi Menurut Para Tokoh
2.3.1. Alexander
Kapp
Alexander
Kapp adalah ahli yang pertama kali menggunakan istilah andragogi yang
membedakan pengertian “Social Pedagogy” yang menyiratkan arti pendidikan
orang dewasa, dengan andragogi. Adapun andragogi, justru lebih merupakan proses
pendidikan bagi seluruh orang dewasa.
2.3.2. Malcolm
Sheperd Knowles (1984)
Andragogi
merupakan suatu usaha untuk mengembangkan teori belajar khusus untuk orang
dewasa yang menekankan bahwa orang dewasa adalah orang yang mandiri dan dapat
bertanggung jawab atas keputusan.[7]
2.3.3. Dugan
Laird (1995)
Dugan
mengatakan bahwa andragogi mempelajari bagaimana orang dewasa belajar. Laird
yakin bahwa orang dewasa belajar dengan cara yang secara signifikan berbeda
dengan cara-cara anak dalam memperoleh tingkah laku baru.
2.3.4. Andi
Mapiare
Dewasa
itu merupakan suatu status dalam perkembangan manusia yang ditandai terutama
dengan arah diri dalam bertindak, tanggung jawab dan adanya kebebasan emosional
dan juga merupakan individu-individu yang telah memiliki kekuatan tubuh secara
maksimal dan siap berproduksi dan telah dapat memiliki kesiapan kognitif,
afektif dan psikomotorik, serta dapat diharapkan memainkan peranannya Bersama
dengan individu-individu lain dalam masyarakat.[8]
2.3.5. Singgih
Gunarsa
Dewasa
adalah mengandung berbagai arti yang meliputi kemampuan untuk berdiri sendiri,
menentukan tindakan sesuai dengan kedewasaan dan menempatkan diri dan
ketergantungan dengan orang lain.[9]
2.3.6. Kartini
Kartono
Andragogi
adalah ilmu yang membentuk manusia; yaitu membentuk kepribadian seutuhnya, agar
mereka mampu mandiri di lingkungan sosialnya. Pada banyak praktik mengajar
orang dewasa dilakukan sama saja dengan anak. Prinsip-prinsip dan asumsi yang
dilakukan yang berlaku bagi pendidikan anak dianggap dapat diberlakukan dalam
kegiatan pembelajaran orang dewasa.[10]
2.3.7. David
Chaney
Seseorang
yang disebut dewasa adalah individu yang telah siap untuk menerima kedudukan
dalam masyarakat. Sedangkan kedewasaan atau kematangan adalah suatu keadaan
bergerak maju ke arah kesempurnaan.[11]
2.3.8. Sudjana
Dalam
bukunya Pendidikan Non-Formal wawasan sejarah perkembangan Filsafat Teori
Pendukung Azas (2005), disebutkan bahwa, andragogi berasal dari bahasa Yunani “andra
dan agogos”. Andra
berarti orang dewasa dan agogos berarti memimpin atau membimbing, sehingga
andragogi dapat diartikan ilmu tentang cara membimbing orang dewasa dalam
proses belajar. Atau sering diartikan sebagai seni dan ilmu yang membantu orang
dewasa untuk belajar (the art and science of helping adult learn).[12]
2.4.
Hakekat Andragogi
Sejak
tahun 1920, hakekat andragogi Pendidikan orang dewasa telah dirumuskan dan
diorganisasikan secara sistematis. Pendidikan dewasa dirumuskan sebagai suatu
proses yang menumbuhkan keinginan untuk bertanya dan belajar secara
berkelanjutan sepanjang hidup. Belajar bagi orang dewasa berhubungan dengan
bagaimana mengarahkan diri sendiri untuk bertanya dan mencari jawabannya.
Pendidikan orang dewasa (andragogy) berbeda dengan pendidikan anak-anak (pedagogy).
Pendidikan anak-anak berlangsung dalam bentuk identifikasi dan peniruan,
sedangkan pendidikan orang dewasa berlangsung dalam bentuk pengarahan diri
sendiri untuk memecahkan masalah.[13]
2.5.
Karakteristik Andragogi
Andragogi memiliki karakteristik yaitu :
1. Memiliki
lebih banyak pengalaman hidup.
2. Memiliki
motivasi yang tinggi untuk belajar.
3. Banyak
peranan dan tanggung jawab yang dimiliki.
4. Kurang
percaya diri atas kemampuan diri yang mereka miliki untuk belajar Kembali.
5. Pengalaman
dan tujuan hidup orang dewasa lebih beragam daripada para pemuda.
6. Makna
belajar bagi orang dewasa.[14]
2.6.
Tujuan Andragogi
Adapun tujuan dari
andragogi antara lain:
1. Menumbuhkan
pengertian yang lebih baik, artinya menumbuhkan kesadaran dan kemauan untuk
belajar dan bukan semata-mata proses pengajaran atau meneruskan ide.
2. Belajar
sampai kepada pengertian yang lebih baik tentang diri sendiri dan situasinya,
berarti tertuju kepada manusia dalam totalitasnya.
3. Penghargaan
yang kritis terhadap diri sendiri dan situasinya.
4. Mengubah
tingkah laku kea rah kesadaran dan keinginan menggunakan berbagai kemungkinan
dalam situasi masyarakat yang ada.[15]
III.
Kesimpulan
Berbicara soal pendidikan orang dewasa
maka tak terlepas dari tujuan dilakukannya proses pendidikan tersebut. Orang
dewasa dalam melakukan pendidikan membutuhan interaksi untuk mendapatkan proses
dan nilai dari andragogi tersebut. Konsep pendidikan orang dewasa dan anak-anak
tentu berbeda. Dalam proses andragogi tentu dibutuhkan Teknik dan metode
tertentu untuk dapat mencapai tujuan dari proses pembelajaran orang dewasa
tersebut. Setiap orang dewasa.
IV.
Daftar Pustaka
Daryanto, Pendidikan
Orang Dewasa, Yogyakarta: PENERBIT GAVA MEDIA, 2017.
Ferry Efendy Nursalam, Pendidikan
dalam Keperawatan, Jakarta: Salemba, 2012.
Gunarsa Singgih, Psikologis
Praktis Anak, Remaja dan Keluarga, Jakarta: BPK-GM, 2004.
Ibrahim R., Ilmu dan
Aplikasi Pendidikan, Bandung: Imperial Bhakti Utama, 2007.
Kristina Nieke Atmadja
Hadinoto, Dialog dan Edukasi, BPK-GM: Jakarta, 1993.
Marpiare Andi, Psikologi
Orang Dewasa, Surabaya: Usaha Nasional, 1983.
Padmowihardjo S., Pendidikan
Orang Dewasa.
S. Knowles Malcolm, The
Adult Learner 8th Edition Malcolm Knowles, New York: Routledge,
2015.
Soejanto Agus, Psikologi
Perkembangan, Jakarta: Rineka Cipta, 2005.
Soemartono, 6 Metode
Pemahaman Alkitab Andragogis, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2014.
Sudjana, Strategi
Pembelajaran, Bandung: Falah Productiont, 2005.
Tim Pengembang Ilmu
Pendidikan FIP-UPI, Ilmu Dan Aplikasi Pendidikan Bagian I : Ilmu Pendidikan
Teoritis.
Tim Pengembang Ilmu
Pendidikan, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, Jakarta: IMTIMA, 2007.
Winarti Agus, Pendidikan
Orang Dewasa (Konsep dan Aplikasi), Bandung: ALFABETA, 2018.
Sumber
Internet:
http://domoagre.blogspot.co.id/2014/09/pengertian-andragogi-menurut-para-ahli.html, diakses pada 2
September 2022 pada pukul 14.00 WIB
[1] Soemartono, 6 Metode Pemahaman
Alkitab Andragogis, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2014), 13.
[2] Nursalam Ferry Efendy, Pendidikan
dalam Keperawatan, (Jakarta: Salemba, 2012), 3-4.
[3] Agus Winarti, Pendidikan Orang
Dewasa (Konsep dan Aplikasi), (Bandung: ALFABETA, 2018), 38.
[4] Sudjana, Strategi Pembelajaran,
(Bandung: Falah Productiont, 2005), 123-127.
[5] Malcolm S. Knowles, The Adult
Learner 8th Edition Malcolm Knowles, (New York: Routledge,
2015), 32.
[6] R. Ibrahim, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, (Bandung:
Imperial Bhakti Utama, 2007), 295.
[7] http://domoagre.blogspot.co.id/2014/09/pengertian-andragogi-menurut-para-ahli.html, diakses pada 2
September 2022 pada pukul 14.00 WIB
[8] Andi Marpiare, Psikologi
Orang Dewasa, (Surabaya: Usaha Nasional, 1983), 17.
[9] Singgih Gunarsa, Psikologis
Praktis Anak, Remaja dan Keluarga, (Jakarta: BPK-GM, 2004), 128.
[10] Tim Pengembang Ilmu
Pendidikan, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, (Jakarta: IMTIMA, 2007), 1.
[11] Agus Soejanto, Psikologi
Perkembangan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), 163.
[12] Tim Pengembang Ilmu
Pendidikan FIP-UPI, Ilmu Dan Aplikasi Pendidikan Bagian I : Ilmu Pendidikan
Teoritis, 287-289
[13] S. Padmowihardjo, Pendidikan
Orang Dewasa, 32.
[14] Daryanto, Pendidikan
Orang Dewasa, (Yogyakarta: PENERBIT GAVA MEDIA, 2017), 23-24.
[15] Nieke Kristina Atmadja
Hadinoto, Dialog dan Edukasi, (BPK-GM: Jakarta, 1993), 282-283
Comments
Post a Comment