MISIOLOGI: PENGHARAPAN PERJANJIAN LAMA TENTANG MASA DEPAN (ESKATOLOGI) DAN MASA DEPAN MESIANIS
PENGHARAPAN
PERJANJIAN LAMA TENTANG MASA DEPAN (ESKATOLOGI) DAN MASA DEPAN MESIANIS
I.
Pendahuluan
Berharap
adalah perihal masa depan. Hidup kita menjadi sebuah kisah karena kebebasan
kita, yakni proses historis kita yang menciptakan masa depan. Didalam tema-tema
kitab perjanjian lama, pengharapan adalah salah satu tema pokok yang penting.
Hal ini didasarkan pada kehidupan bangsa Israel yang memang selalu hidup
didalam pengharapan. Harapan mereka akan adanya pembebasan dari perbudakan
mesir, harapan mereka untuk memasuki tanah penjanjian dan bahkan hingga harapan
mereka akan datangnya mesias yang pemerintahannya tidak akan berakhir. Melalui
karya tulis ilmiah kali ini kita akan mencoba membahas bagaimana pengharapan
Perjanjian Lama tentang masa depan (eskatologi) dan masa depan mesianis. Manusia
semuanya telah jatuh ke dalam dosa. Manusia telah kehilangan Kemuliaan Allah.
Oleh karena itu manusia berharap untuk mendapat keselamatan. Namun sebelumnya
Allah telah mengatur semuanya itu. Sebelum manusia berharap, Allah telah
menyediakan tanpa disadari manusia. Bagaimana para nabi telah diutus Allah
untuk menyadarkan manusia dan mengarahkan manusia kepada keselamatan. Para nabi
bermisi untuk menyatakan bagaimana masa depan umat Allah dan bagaimana akan ada
seorang Juruselamat yang akan menebus umat manusia. Untuk itu bagaimana
sebenarnya pengarapan umat dalam Perjanjian Lama tentang masa depan
(eskatologi) dan pengharapan tentang masa depan Mesianis akan kita lihat pada
pembahasan di bawah ini.
II.
Pembahasan
2.1.
Pengertian Pengharapan
Pengharapan
adalah jangkauan manusia akan masa depan yang mungkin dipenuhi, diinginkan,
tetapi diluar kemampuan manusia untuk menggapainya. Jangkauan harapan, lain
dengan khayalan, muncul dari lubuk hati terdalam dari hidup manusia. Harapan
adalah jangkauan aktif. Dengan jangkauan ini, kita bergerak menuju masa depan
dengan tabah dan berani.[1] Harapan
atau pengharapan berasal dari bahasa Latin: spes
merupakan salah satu dari tiga kebajikan teologal dalam tradisi Kristen.
Harapan merupakan suatu pengharapan, keinginan kombinasi atau perpaduan dari
hasrat akan sesuatu dan pengharapan untuk menerimanya, kebajikan ini berharap
akan persatuan ilahi dan juga kebahagiaan yang bersifat abadi.[2]
2.2.
Latar Belakang Pengharapan Dalam Perjanjian Lama
Tuhan adalah tujuan, dasar dan isi
pengharapan religius Israel yang menantikan kedatangan Tuhan dalam kemuliaan.
Jadi pengharapan Israel bersifat eskatologis, dengan catatan bahwa kepenuhan
keselamatan diharapkan dari Tuhan semata-mata, sebagai kasih karunia: “Hanya
pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab daripadaNyalah harapanku” (Mzm.
62:6). “Aku ini akan menunggu-nunggu Tuhan, akan mengharapkan Allah yang
menyelamatkan aku” (Mi. 7:7). Jadi dengan menyatakan pengharapannya, umat
Israel sekaligus mengungkapkan kepercayaannya kepada Tuhan. Berharap dengan
tekun dan setia adalah pengakuan iman konkret bagi Israel. Dan “Orang-orang
yang menantikan Tuhan mendapat kekuatan baru; mereka seumpama rajawali yang
naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu,
mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” (Yes. 40:31). Ketika menantikan Tuhan
dalam pengharapan, orang yang menantikan pengharapan tersebut mendapatkan
kekuatan yang memampukan melakukan hal-hal nyata dalam pengharapan. Sehingga
yang hidup dalam pengharapan, tidak hanya berdiam diri namun memperlihatakan
tindakan yang mencerminkan kesetiaan didalam berpengharapan kepada Allah.[3]
Dalam
kitab Yesaya (juga di kitab nabi-nabi yang lain) ada pengharapan akan
kedatangan seorang pemimpin istimewa yang diutus oleh Allah. Israel sudah biasa
mengenal tokoh-tokoh yang tertentu yang akan diutus oleh Allah untuk memenuhi
kebutuhan mereka sebagai bangsa seperti para imam, nabi, hakim, dan raja.
Tetapi Yesaya belum menikmati hidup yang semestinya sebagai umat Allah. Karena
dosa mereka yang mengakibatkan hukuman Allah sehingga mereka tertindas dan
terjajah. Maka mereka senantiasa menanti-nantikan kedatangan seorang yang akan
membawa zaman baru yang disebut Mesias. Nabi melukiskan beberapa tokoh yang
bersifat messianis terutama sekali raja keturunan Daud yang agung mengingat
janji Allah kepad Daud yang akan tetap memegang jabatan raja (2 Sam. 7: 16). Israel
mengharapkan penggenapan janji itu pada masa depan dengan kedatangan raja
keturunan Daud (Yes. 9:6; 11:1-5; Yer. 23:5-6; Yeh. 37: 24-25). Yesaya tahu
bahwa Allah memakai bangsa Asyur untuk menghukum bangsa Israel tetapi Yesaya
juga tahu bahwa kekuasaan Asyur itu juga dibatasi oleh Allah yang sama. Oleh
karena itulah nabi Yesaya mengharapkan dan menanti-nantikan seorang Mesias dari
keturunan Daud (Yes. 7; 9 dan 11).[4]
Pengharapan sebetulnya lebih
tertuju kepada Tuhan daripada kepada keselamatan yang diharapkan dari padaNya.
Pengharapan berarti kepercayaan kepada Tuhan menjamin hidup kita: “Tuhanlah
gembalaku, takkan kekurangan aku” (Mzm. 23:1). Dasarnya ialah sabda Tuhan
sendiri: “Aku akan menuntun kamu keluar dari kesengsaraan di Mesir menuju ke
negri Kanaan, suatu negri yang berlimpah-limpah susu dan madunya” (Kel 3:17).[5]
2.3.
Pengharapan Sebelum Masa Pembuangan Hingga Pasca Pembuangan
Pengharapan
akan kedatangan Mesias sudah ada sejak zaman Hawa ketika masih berada di taman
Eden. Ia akan meremukkan kepala ular (Kej. 3:15). Allah juga telah memberikan pengharapan
akan kedatangan Mesias pada zaman Sem, Abraham, Ishak, dan Yakub.[6] Namun
yang akan dibahas disini hanyalah beberapa nabi diantaranya:
a.
Natan
Setelah
Daud membangun Bait Suci bagi Tuhan, nabi Natan diutus Tuhan untuk menyampaikan
janji Allah kepada Daud bahwa Sang mesias akan datang sebagai salah satu
keturunannya, sebagai raja abadi, seperti dikatakan Tuhan, “Dialah yang akan
mendirikan rumah bagi nama-Ku dan aku akan mengokohkan tahta kerajaan untuk
selama-lamanya” (2 Sam. 7:13). Yesaya mengatakan, “Suatu Tunas akan keluar dari
tunggul Isai (yaitu Ayah Daud), dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan
berbuah”. Daud menuliskan dalam Mazmur 22, menubuatkan apa yang dipikirkan oleh
Yesus di kayu salib.
b. Amos[7]
Nabi
Amos memberikan harapan mengenai kedatangan Mesias yang berasal dari keturunan
Daud.[8] Amos
mengatakan bahwa kerajaan Daud akan kembali besar menguasai Israel yang telah
dipersatukan dan menguasai bangsa-bangsa tetangga termasuk Edom.
c. Hosea
Hosea
memfokuskan bahwa Mesias adalah raja yang datang dari keturunan Daud.[9] Hosea
bernubuat bahwa pada masa akhir nanti Israel akan mencari Daud dan kemudian
bergabung kembali dengan Yehuda dan mengakui Daud sebagai rajanya. Hosea diutus
Tuhan untuk mencintai Gomer, seorang wanita sundal kemudian menebus dia. Ini
seperti gambaran tentang Mesias yang nantinya juga akan menebus umat manusia.[10] Hosea
menubuatkan dalam Hos. 11:1 bahwa Allah memanggil AnakNya yaitu Mesias dari
Mesir. Dan ini telah digenapi dalam Mat. 2:20 Mesias yang lahir di Betlehem
Efrata, keturunan Daud dan lahir dari seorang perawan harus dipanggil dari
Mesir. Ada 5 aspek yang spesifik dari janji Tuhan dikitab Hosea: (1) Mesias
akan datang ketika Israel kembali kepada Tuhan, (2) Mesias berasal dari
keturunan Daud, (3) Ia akan menjadi raja yang besar, (4) Ia akan membuat
bangsa-bangsa tunduk kepada-Nya, (5) Mesias diidentifikasikan dengan Yahweh.
d. Yesaya[11]
Walaupun
Yesaya mengetahui rencana kehancuran Yehuda, tetapi ia tetap berpegang pada
harapan bahwa penguasa masa depan yang akan diurapi akan datang dan akan
berasal dari keturunan Daud. Yesaya menubuatkan bahwa Mesias akan lahir dari
seorang perawan (Yes. 7:14) dan ini digenapi dalam Mat. 1:23. Nubuat ini telah
dinubuatkan oleh Yesaya ± 700 tahun sebelum Yesus lahir. Mesias dinyatakan
dalam Yesaya 7:14 layak mendapat gelar Immanuel (Allah menyertai kita). Dalam
Yes. 9:5 dst anak yang lahir, putera yang diberikan, diuraikan sebagai “Allah
yang perkasa, Bapa yang kekal, Raja Damai.” Dinubuatkan oleh Yesaya bahwa
Mesias akan memerintah atas sisa bangsa yang selamat dengan hukum dan keadilan.
Ia akan dipenuhi oleh Roh Allah (Yes. 7:13-17; 9:5-6; 11:1-9).
e. Mikha
Mikha
memberikan pengharapan bahwa Mesias bukan hanya berkuasa atas Israel dan Yehuda
saja, tetapi pemerintahannya akan sampai keujung bumi (Mi. 5:1-4a). Mikha
menguraikan bahwa anak yang akan lahir itu sebagai seorang “yang permulaannya
sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.” Pernyataan ini merupakan pernyataan
yang kuat tentang keberadaan sang Mesias sebelum ia dilahirkan ke dunia.
Gabungan kesaksian diatas ini dengan kesaksian-kesaksian lainnya memastikan
hanya bila Ia datang, Mesias itu adalah Allah dan manusia didalam satu pribadi.
Mikha menggambarkan bahwa Mesias akan datang sebagai sesosok yang sederhana,
yang lahir di kota kecil Betlehem. Kelahiran sang mesias telah dinubuatkan
lebih kurang 700 tahun sebelumnya.[12] Kota
Betlehem ini digambarkan begitu kecil (kota Benyamin), namun Allah akan
meninggikan Betlehem. Ada pendapat yang mengatakan bahwa kota Betlehem ini
merupakan tempat asal-usul kaum Efrata, yang juga menjadi suku asal-usul Daud.[13] Mikha
melihat bahwa kekuasaan Mesias tidak terbatas pada Israel, tetapi sampai ke seluruh
Dunia.
f. Yeremia
Pengharapan
Mesias dalam kitab Yeremia lebih samar-samar daripada di dalam kitab Yesaya.
Yeremia banyak mengaitkan nubuatnya pada tradisi-tradisi lama tentang
penyelamatan dari mesir, perjanjian di Sinai dan penguasaan Palestina.[14] Ia
juga berbicara tentang Mesias yang akan datang dari keturunan Daud. Yeremia
bukan hanya membahas kehancuran Yehuda, tetapi juga kehancuran bait Allah dan
terhentinya pemujaan dan peribadatan dalam bait Allah. Oleh karena itu ia
mengajukan gagasan bahwa pada kedatangan raja yang akan datang itu ada jabatan
keimamam yang disamping Mesias, menjamin kebangkitan kembali pemujaan dan
peribadatan Israel.
g. Yehezkiel (Pada
masa pembuangan)
Pengharapan
Mesianis dalam Yehezkiel dipandang sebagai salah satu berkat Allah. Mesias ini
bukan mempunyai kekuasaan duniawi tetapi sebagai raja kedamaian. Yang
pekerjaannya dapat dibandingkan dengan pekerjaan gembala. Yehezkiel
membayangkan sebuah negara agama yang akan berdiri setelah masa pembuangan. Ia
sangat meyakini bahwa: (1) Masa kedatangan Mesias akan tiba, (2) Orang-orang
Isrel akan kembali ke tanah yang dijanjikan.
h. Hagai
Hagai
sangat Yakin bahwa jawaban akan pengharapan kedatangan Mesias akan terlaksana
dalam waktu singkat. Hagai yakin bahwa daalam nama Zerubabel, keturunan Daud yang
mempunyai peran besar dalam kembalinya bangsa dan pembangunan bait Allah, akan
wujub penggenapan pengharapan Mesianis bangsa Israel (Hag. 1:1-12; 2:21-24).[15] Karena
melihat pembangunan bait Allah, maka hagai yakin bahwa penggenapan janji dalam
nubuat nabi-nabi dari masa pra-pembangunan (Yeremia, Yehezkiel dan Yesaya) yang
berakar pada nubuat nabi Natan (2 Sam. 7) akan terwujud pada masa hidupnya.
i. Zakharia
Dalam
Zakharia 1-8 dapat dilihat bahwa kitab Zakharia menuju penggenapan. Zakharia
yakin bahwa kerajaan Allah sudah dekat, dimana kekuasaanya diwakili oleh dua
orang yang diurapi. Satu adalah Mesias (Politis), dan satu lagi mewakili
tradisi para imam yang menjadi penasehatnya, sehingga antara keduanya ada
kedamaian. Zakharia menubuatkan bahwa akan ada yang menghianati Mesias. Dan
dalam kitab Mat. 27:9-10, dapat dilihat penggenapannya dari nubuatan Zakharia
11:12, bahwa Yudas Iskariot menghianati Tuhannya dengan harga seorang budak, 30
keping perak (Kel. 21:32).
2.4.
Pengertian Eskatologi
Secara
terminologis, istilah eskatologi dibangun dari dua kata Yunani yaitu eskhatos
yang artinya “akhir” atau “terakhir” dan logos yang artinya “firman”
atau “ajaran”.[16]
Sedangkan secara harafiah kata eskatologi berarti pengetahuan mengenai hal-hal
terakhir.[17]
Dengan demikian jelaslah bahwa eskatologi mempelajari hal-hal yang berkaitan
dengan penggenapan sejarah, penyempurnaan Allah di dunia ini. Ajaran Alkitab
tentang eskatologi (ajaran tentang akhir zaman) tidak hanya memperdulikan nasib
orang secara perseorangan, tetapi juga sejarah manusia. Menurut Alkitab, Allah
tidak hanya menyatakan diri-Nya melalui orang-orang yang mendapat ilham, tetapi
juga dalam dan melalui peristiwa-peristiwa yang membebaskan umat-Nya.
Selanjutnya, isi dari pernyataan ini tidak terbatas pada kebenaran-kebenaran
mengenai sifat dan tujuan Allah, tetapi juga menyangkut tindakan-tindakan pelepasan umat-Nya.[18]
Menurut Russel, ada tiga bentuk penyelamatan yang Allah lakukan,
penciptaan dunia, pengendalian sejarah, dan kedatangan kerajaan-Nya. Hal ini
menimbulkan keyakinan bahwa Allah yang bertindak dalam sejarah adalah Allah
yang sama yang juga akan bertindak pada hari-hari terakhir, dimana Ia akan
menyempurnakan segala sesuatunya pada hari-hari terakhir itu.[19] Inilah
yang diharapkan bangsa Israel, yaitu harapan akan penyelamatan bagi umat-Nya.
2.5.
Pengharapan Dalam Perjanjian Lama
Tentang Masa Depan (Eskatologi)
Eskatologi dalam Perjanjian Lama merupakan keyakinan bahwa sejak
bergerak dengan tujuan tertentu yang ditentukan oleh Allah dan Allah berkarya
dalam sejarah untuk memastikan tujuan tersebut. Para Nabi biasanya menyampaikan
berita Allah kepada bangsa-bangsa. Seringkali mereka menggambarkan hukuman baik
kepada Israel maupun kepada bangsa-bangsa Kafir, kadang-kadang hukuman atas
Israel akan dilaksanakan oleh bangsa Kafir, adakalanya kedengaran berita
hukuman atas bangsa-bangsa akibat sikap mereka terhadap Allah Israel. Motif ini
dihubungkan dengan hukuman maupun dengan janji kepada Israel. Dua-duanya dapat
menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain. Di dalam pemberitaan para nabi selalu
saja ada pengarapan bagi bangsa-bangsa lain untuk ditarik menuju pusat
kehadiran Allah Israel, lalu setelah itu bangsa Israel akan mengaku nama-Nya.
Keselamatan eskatologi dalam
Perjanjian Lama digambarkan dengan datangnya segala bangsa secara arak-arakan
menuju Sion, kearah pesta raya oikumene. Kedatangan merupakan gerakan
sentripental, menuju ke pusat dimana tersedia keselamatan, dimana Yahwe dan Umat-Nya,
pusat kehadirannya, pusat dunia. Dalam Mazmur 87 dikemukakan bahwa Sion
(Yerusalem) selaku pusat dunia. Bangsa-bangsa akan datang kepada Israel dan
Allahnya, sambil mencari:
1. Perjamuan di gunung Sion (Yes. 25:6-8)
2. Rumah Tuhan (Yes. 56:7)
3. Terang Sion (Yes. 60)
4. Kemuliaan Tuhan (Yes. 66:18)
5. Yerusalem (Yes. 66:20, Yer. 3:17, Mik.
7:12)
6. Yahwe Tuhan (Yer. 16:19, Zak. 2:11)
7. Pengadilan oleh Tuhan (Yoel. 3:17)
8. Yahwe Tsebaoth (Tuhan Semesat Alam)
yang ada di Yerusalem (Za 8:22)
9. Hari Raya Pondok Daun (Zak.
14:16-19)
Dalam Perjanjian Lama ayat-ayat mengenai eskatologi itu dinyatakan
dalam Perjanjian antara Allah dengan manusia. Perjanjian merupakan istilah
hukum yang hanya dapat terjadi bila ada dua pihak da nisi perjanjian harus
dilaksanakan oleh kedua pihak.[20]
1.
Perjanjian
Taman Eden
2.
Perjanjian Nuh
3.
Perjanjian Abraham
4.
Perjanjian Musa[21]
2.6.
Mesianis
Secara
etimologi kata Mesias berasal dari bahasa Ibrani yaitu masah yang
artinya “meminyaki” atau “memberi ucapan peminyakan suci”. Dari kata masah ini
juga terbentuk kata mesah, misah yang artinya “sedang meminyaki” dam
bisa masiha serta karena adanya substansi kata makna masah menjadi
masiah yang berbentuk aktif menjadi bentuk pasif yang artinya “yang
diurapi” dan juga bisa berbentuk kata benda yaitu masiah artinya
“diberkati untuk selama-lamanya”. Pengunaan kata masiah merupakan
perisai bagi Saul dan pada umumnya mesiah dipakai untuk melek/Raja
(bnd 2 Sam 3:39, Yes 21:5).[22]
Kata
“mesias” diambil dari bahasa Aram mesyiha, yaitu dialek dari bahasa Ibrani
masyiah, yang berarti “yang diurapi”. Kata Aram mesyiha sama dengan bahasa
ibrani hamasyiah yang dua-duanya diterjemahkan dalam Septuaginta dengan ho
khristos. Pada awalnya, kata ini menunjuk pada raja yang sedang berkuasa di
Kerajaan Israel Raya, terutama yang berasal dari dinasti Daud. Di dalam
Perjanjian Lama, ada kalanya istilah mesias juga digunakan terhadap raja Yehuda
dan Israel (Kerajaan Utara), yang sedang memerintah. Juga untuk raja di luar
Yehuda dan Israel (Utara) kata mesias ini dipergunakan seperti, raja Persia,
yang membawa Yehuda keluar dari pembuangan Babel, yang bernama Koresy, atau
Cyrush (Yes. 45:1; bdn. Dan. 9:25) dan pernah pula dipergunakan untuk seorang Imam
Besar dalam Imammat 4:3,5. Lambat laun, kemudian hari istilah mesias ini
digunakan untuk Raja Keselamatan yang akan datang, sebagai pengharapan bangsa
Israel, yang sering dikumandangkan oleh para nabi. Dan raja yang
dinanti-nantikan tersebut diberitakan dan dinubuatkan sebagai keturunan Raja
Daud (David), yang telah dikumandangkan oleh Nabi Natan dalam 2 Samuel,
terutama 2 Samuel 7:1-17, di mana dalam ayat 16 dikatakan “keluarga dan
Kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya dihadapan-Ku, Takhtamu akan kokoh
selama-lamanya”.
Penantian
dan pengharapan bangsa Israel terhadap seorang Raja Keselamatan dapat kita baca
dari nubuat?pemberitaan para nabi yang melayani di anatara abad ke-9 hingga
ke-5 Sm. Pada masa itu, bangsa Israel telah mengenal pemerintahan dan kekuasaan
raja, sehingga para nabi juga selalu menggambarkan mesias yang dinantikan itu
sebanding dengan raja yang berkuasa pada masaitu. Untuk memahami lebih lanjut
pengharapan mesias bangsa Israel, perlu mendalami peranan raja Israel dan
hubungannya dengan pengharapan dalam Perjanjian Lama.[23]
2.7.
Sifat Umum Nubuatan para Nabi tentang Pengharapan Mesianis
Nubuatan
tentang pengharapan Mesianis cukup jelas, khususnya bila dipandang dari
pernyataan perjanjian baru dimana penggenapannya membantu memberikan keterangan
tentang isi nubuatan didalam perjanjian lama itu. Bagaimanapun juga nubutan
Mesianis ini memiliki masalah-masalah tertentu namun tetap tidak mengurangi
makna mesianis itu sendiri. Adapun sifat-sifat umum dari nubutan pengharapan
mesianis oleh para nabi adalah sebagai berikut:
A. Bahasa
dari nubuatan tentang mesias sering samar-samar.
Tetapi
walau samar-samar, tidak mungkin memiliki dua arti. Seperti yang pernah
dikatakan oleh Milton Terry bahwa “Jika Alkitab memiliki lebih dari satu arti,
itu tidak ada artinya sama sekali”.[24] Tetapi
maksud Allah dalam kesamaran ini ialah untuk menjadikan nubuatan itu dapat
dimengerti oleh orang-orang percaya sejati yang diajar oleh Roh Kudus dan oleh
karena itu dapat membedakan mana bagian-bagian yang merupakan nubuat tentang
Mesias. Banyak diantara bagian-bagian itu tidak dapat ditafsirkan kecuali
diterangi oleh isi Firman Allah.
B). Bahasa dari
nubuatan Mesias sering bersifat kiasan.
Arti
kiasan itu tidak perlu tak berketentuan, karena sering kiasan itu memberikan
maksud yang jelas bahkan walaupun bagian tersebut barangkali perlu ditafsirkan.
Misalnya, ketika kitab suci mengucapkan nubuatan berikut, “Suatu tunas akan
keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan
berbuah” (Yes. 11:1), jelas ayat ini menunjuk kepada Mesias sebagai seorang
yang akan diturunkan dari Isai. Disini meskipun memakai bahasa kiasan, namun
keheranan yang akan dikandungnya sungguh jelas.
C).
Terdapat hubungan typologis antara Daud dan nubuat kedatangan Mesias.[25]
Daud
adalah tipe tentang Kristus sebagai seorang yang mula-mula gembala kemudian
menjadi raja. Arti typologis dari peristiwa-peristiwa ini maupin berbagai
kejadian kecil dalam hidupnya adalah bayang-bayang tentang Kristus. Terlebih
bagi nabi-nabi yang hidup pada masa pra-pembuangan melihat masa keselamatan
sebagai kebangkitan kembali kerajaan Daud yang besar dan Agung.
D). Dalam nubuatan
tentang Mesias masa depan sering dianggap masa lalu atau masa sekarang.
Bahasa Ibrani sering mempergunakan pengertian
“sudah” dalam menulis nubuatan. Nubuat-nubuat agung dari Yesaya 53 umpamanya,
ditulis seakan-akan sudah terjadi. A. B. Davidson mengemukakan, “penggunaan ini
sangar luar biasa dalam bahasa yang muluk-muluk dari para nabi, yang iman dan
imajinasinya demikian jelas memproyeksikan didepan mereka segala peristiwa atau
kejadian yang mereka nubuatkan seperti tampaknya sudah terjadi.” ini bagian
dari maksud Allah, dan oleh karena itu bagi nabi-nabi yang dapat memandangnya
dengan jelas peristiwa-peristiwa tersebut sama seperti sudah terjadi. Gaya
bahasa seperti ini menunjukkan bahwa peristiwa yang diramalkan dalam perjanjian
lama itu pasti digenapi bahkan walaupun akan terjadi dimasa depan.
E). Nubuatan
tentang Mesias sering dilihat secara horisontal dan bukan vertikal.
Dengan
perkataan lain, walaupun urutan peristiwa dalam nubuatan itu pada umumnya
dinyatakan dalam kitab suci, tetapi nubuatan tidak selalu memberikan jarak
waktu yang mestinya ada diantara dua peristiwa besar yang disebutnya. Nubuatan
perjanjian lama bisa saja melompat dari peristiwa penderitaan Kristus langsung
kepada kemuliaan-Nya tanpa menyebutkan jangka waktu yang terbukti dari sejarah
memisahkan kedua peristiwa besar itu. Fakta bahwa nubuatan tentang Mesias tidak
selalu menyebutkan jangka waktu diantara beberapa peristiwa, digambarkan dalam
kutipan Kristus dari Yes. 61:1-2 dan didalam Luk. 4:18-19. Ayat-ayat di Yesaya
menghubungkan kedatangan pertamadan kedua dari Kristus tanpa petunjuk bahwa ada
jangka waktu yang lebar diantara keduanya. Fakta yang penting yang berdiri
teguh diatas yang lain adalah Mesias dari perjanjian lama adalah juga Mesias
dalam perjanjian Baru. Sebab perjanjian lama adalah legitimasi dari kedatangan
Yesus. Ia secara aktif ikut serta membawa keselamatan dalam pengertian yang
paling luas kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya.[26]
2.8.
Pengharapan Dalam Perjanjian Lama
Tentang Masa Depan Mesianis
Ketika orang Israel berada di bawah kekuasaan bangsa lain mereka
menaruh pengharapan besar kepada Tuhan untuk membangkitkan seorang Juruselamat
untuk menyelamatkan mereka. di dalam
pengharapan Israel akan masa depan, pemegang kunci ialah Almasih (Mesias) yang
dijanjikan selaku pembawa keselamatan atau lebih tepat lagi “ia merupakan poros
berkisarnya zaman depan” yang terpenting dalam gambaran tentang zaman yang akan
datang itu ialah pemerintah Tuhan atas Israel dan atas bangsa-bangsa lainnya
dan pemerintahan itu akan didatangkan dan dilaksanakan oleh oknum Mesianis
sebagai penyelamat. Oknum Mesianis disebut “Anak Manusia”. Kadang pengharapan
Mesianis berpaut pada orang yang diurapi Tuhan, baik dia memangku jabatan raja
(Mzm. 2), maupun jabatan Iman (Mzm. 110) atau nabi (Yes. 61). Masa depan
mendekat hanya melalui sengsara. Seperti Hamba Tuhan yang menderita sebagaimana
terdapat dalam nyanyian Deutro Yesaya (Yes. 40-55). Tugas utama bagi hamba
Tuhan yang menderita adalah meneguhkan kembali kaum buangan yang berada di
Babel, sehingga kepercayaan dan rasa tanggung jawab mereka pulih kembali ia
mendirikan Israel, memberikan kepadanya penghiburan dan kekuatan baru, terutama
dengan menimbulkan pengharapan untuk pulang ke tanah airnya (49:5-6). Ia
membuat Israel baru dengan memberikan keadilan, hukum. Bahkan dengan demikian
ia menjadi “perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa”. Keselamatan
yang dikaruniakan Tuhan kepada Israel mempunyai aspek universal, Israel yang
dibaharui oleh karena diberi keadilan oleh Tuhan menjadi pembawa keselamatan
sampai ke ujung bumi. Keselamatan yang dari Allah Israel itu diperuntukkan
sampai ke ujung bumi. Ujung bumi berarti pinggir wilayah penciptaan atau
perbatasan antara terang dan gelap. Dann kepada seluruh bumi diserukan supaya
mereka berpaling kepada Tuhan, sehingga pengharapan Mesias yang mendatangkan
masa depan yang gilang gemilang atas Israel dan segala bangsa.[27] Pengharapan Mesias dalam Perjanjian Lama:
1.
2 Samuel 7
Tentang Mesias itu berada pada janji Nabi Natan. Nubuatan Natan
berkenan dengan kelanjutan dinasti Daud. Hanya Salomo lah yang disebutkan
namanya dalam membangun rumah Tuhan (7:13a) sehingga artinya bahwa untuk masa
depan akan datang seorang Raja yang sesungguhnya “Anak Allah” (7:14).
2.
Amos 9:11-15
Amos melihat bahwa hubungan Allah Israel dan umat-Nya tak akan
putus, walau Israel tidak setia. Tetapi mereka yang tidak mengindahkan
peringatan. Tuhan pasti akan hancur (9:10). Mereka yang berpaling kepada Yahwe
akan diselamatkan dan dibawa ke masa keselamatan (5:6,14-15). Masa keselamatan
itu adalah kerajaan Daud seperti pada masa awal kerajaan. Dinasti Daud yang
telah merosot akan kembali memerintah Efraim dan Yehuda yang bersatu. Jadi pengharapannya
ialah kerajaan Daud yang kemabli besar dan bersatu.
3.
Hosea 3:5 dan
1:11
Hosea menyatakan bahwa Israel akan mencari Daud dan bergabung
dengan Yehuuda. Sehingga menghasilkan bangsa baru yaitu Yizrell. Allah akan
memusnahkan alat-alat perang. Akan ada ikatan baru antara Yahweh Israel dimana
Allah mitra aktif dan melingkupi segala ciptaan-Nya.
4.
Yesaya 7:13-16;
9:5-6 dan 11:1-10)
Nubuat masa depan Yesaya adalah ia mengabarkan keruntuhan Yerusalem
(3:8). Kemudia dengan penuh keyakinan ia mengabarkan bahwa Sion tempat Allah
tinggal (8:18; bnd Mzm 74:2) menyatakan diri-Nya (18:7), menyimpan Api-Nya di
Sion dan dapur perapian di Yerusalem (31:9), tidak akan dikuasai oleh musuh
(29:7 dan 31:5). Maka keselamatan semua yang bertobat akan menjadi warga
kerajaan baru. Bagian terpenting dalam kitab Yesaya tentang Mesias adalah
7:13-17, 9:5-6 dan 11: 1-10. Ada lagi yang menggabungkan 7:14-16; 9:1-16 dan
11:1-10 menjadi nubuatan imanuel. Arti Imanuel adalah Allah bersama dengan
bangsa Israel. Yesaya menunjuk Imanuel ini sebagai Mesias. Mesias akan datang
dan memerintah sisa Israel.
5.
Mikha 5:1-4a
Melihat kehancuran Israel (Utara) pengaharapan Mesias sangat
penting di Yehuda. Situasi politik pada masa Mikha bernubuat sedang gawat.
Tentara Raja Sanherih dari Asyur mengepung Yerusalem dan panglimanya menyerukan
kepada Raja Hizkia untuk menyerah. Ditengah situasi itu ada nubuatan yang
mengatakan bahwa Yerusalem akan menjadi pusat dunia. Nubuatan ini dilengkapi
Mikha dengan penyataan kedatangan Mesias (Mik 5:1-4a). ada empat pokok dalam
nubuatan Mikha yaitu: 1. Raja yang akan datang sudah ada sejak masa sebelum ada
dunia. 2. Yang dimaksud dengan Mesias adalah seorang keturunan Daud. 3. Ia
adalah orang yang datang kembali. 4. Ia lahir bukan di kota besar Yerusalem,
melainkan kota kecil Betlehem.
6.
Yeremia
Yeremia menyatakan bahwa keselamatan itu bukan berarti kembali pada
situasi semata, melainkan tergantung pada rencana Allah. Pengharapan bangsa
Yehuda harus berdasar pada kebaikan, kesetiaan dan keadilan Allah. Nubuatan
keselamatan Yeremia terdapat 4 komponen yaitu: a. dasar dari harapan adalah
keyakinan atas kesetiaan dari Kasih Allah (29:5-9). b. keselamatan eskatologi
itu berlaku bagi para buangan jadi sisa bangsa Yehuda yang dipelihara Allah
(24:5-7, bnd 3:11-13). Kota suci Yerusalem yang hancur akan dibangun kembali
(33:4-9). d. harapan terpenting adalah datangnya raja keselamatan dari bangsa
Daud (23:5). Janji Perjanjian Baru yang akan diikat Yahwe dengan bangsa Israel
(31:31-34, 32:37-41). Dalam Yeremia 23:5-8 mencantumkan: “Aku akan menumbuhkan
Tuhan adil bagi Daud, ia akan memerintah sebagai Raja yang bijaksana dan akan
melakukan kebenaran…” dan inilah nama-Nya yang diberikan orang kepada-Nya
“Tuhan keadilan kita” segenap rakyat akan menyembah raja yang diangkat oleh
Tuhan dari keturunan Daud (Yer 30:4-11).
III.
Kesimpulan
Berdasarkan
pemaparan diatas maka kita dapat mengetahui pengharapan dalam Perjanjian lama
memiliki pengharapan terhadap Mesias. Pengharapan yang dimiliki bangsa Israel
tentunya tidak datang begitu saja melainkan dikarenakan adanya janji yang
datang dari Allah sendiri tentang nubuat kedatangan Mesias. Sehingga dengan
demikian dapat kita katakan bahwa konsep pengharapan didalam Perjanjian lama
memiliki hubungan yang erat dengan janji yang menjadi sumber pengharapan
tersebut. Dalam hal ini tentunya konsep pengharapan didalam dalam Perjanjian
Lama bersifat eskatologis karena mengacu kepada hal yang akan datang. Pengharapan akan masa depan (eskatologi) itu selalu dinantikan umat
manusia. Oleh karena keterbatasan manusia selalu berharap melalui janji-janji
yang telah diikat Allah dengan umat-Nya. Bagaimana umat Israel dan bangsa lain
akan berkumpul di Yerusalem mengikuti satu pusaran dan pengharapan terhadap
sang Juruselamat yaitu sang Mesias itu juga di nantikan. Bagaimana umat Israel
ingin bebas dari penguasaan bangsa lain, sehingga selalu menantikan sang
Mesias. Mesias tidak datang untuk satau bangsa saja, namun semua bangsa yang
berharap kepada-Nya. Keselamatan yang dibawa-Nya bersifat universal. Walau
bangsa Israel adalah umat pilihan Allah, namun bukan berarti keselamatan itu
hanya milik Israel tapi semua bangsa yang berharap pada-Nya.
IV.
Daftar Pustaka
“Eskatologi” dalam
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I A-L, Jakarta:Yayasan Komunikasi Bina
Kasih/OMF, 2007.
Baker, David L,
Mari Mengenal Perjanjian Lama, Jakarta: BPK-GM, 2008.
Farrugia, Gerald
O’ Collins & Edward Kamus Teologi, Karisius: Yogyakarta, 2006.
John, F. Walvoord,
Jesus The King Is Coming, Chicago: Moody Press, 1975.
Kac, Athur Wm, The
Messianic Hope, Michigan: Baker Book House, 1975.
Kaiser,Walter C,
Op.Cit.
Kaiser,Walter C,
The Messiah in the Old Testament, Michigan: Zodervan Publishing House, 1995.
Kuiper, Arie de,
Missiologia, Jakarta: BPK-GM, 2004.
Russel, D. S, Penyingkapan
Ilahi: Pengantar Ke Dalam Apokaliptik Yahudi, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007.
Siahaan, S,
Pengharapan Mesias pada perjanjian Lama, Jakarta: Gunung Mulia, 2008.
Siahaan, S. M,
Pengharapan Mesias Dalam Perjanjian Lama, Jakarta: BPK-GM, 1991.
Sj, Otto Hentz,
Pengharapan Kristen, Yogyakarya: Kanisius, 2004.
Syukur, Nico, Op.Cit.
Syukur, Nico,
Teologi Sistematika 2 “Ekonomi Keselamatan”, Yogyakarya: Kanisius, 2004.
Walvoord, John F,
Yesus Kristus Tuhan Kita, Surabaya: Yakin, 1969.
Welly, Pandensolang,
Eskatologi Biblika, ANDI: Yogyakarta, 2008.
Wongso, Peter, Hermeneutika Eskatologi, Seminar
Alkitab Asia Tenggara, 1989.
[1] Otto Hentz Sj, Pengharapan Kristen, (Yogyakarya: Kanisius, 2004), 25.
[2] Pdt.
Dr S Siahaan, Pengharapan Mesias pada
perjanjian Lama, (Jakarta: Gunung Mulia, 2008), 3.
[3] Nico Syukur, Teologi
Sistematika 2 “Ekonomi Keselamatan”, (Yogyakarya: Kanisius, 2004), 609.
[4] David L. Baker, Mari
Mengenal Perjanjian Lama, (Jakarta: BPK-GM, 2008), 110-111.
[5] Nico Syukur, Op.Cit.,
610
[6] F. Walvoord John, Jesus
The King Is Coming, (Chicago: Moody Press, 1975), 127.
[7] Amos adalah nabi yang
melanjutkan nubuat nabi Natan. Ia terpanggil untuk memperingati bangsa Yehuda
beserta rajanya (Yerobeam II), yang menduduki tahta Efraim, akan keruntuhan
kerajaan tersebut (Am. 7:9-11). Bangsa-bangsa lain juga akan dihukum tetapi
dalam hukuman tersebut masih akan ada bangsa yang selamat (9:8). Masa
keselamatan itu adalah kerajaan Daud pada masa awal kerajaan (Am. 9:11-15).
[8] Walter C. Kaiser, The
Messiah in the Old Testament, (Michigan: Zodervan Publishing House, 1995), 145.
[9] Ibid., 142
[10] Ibid., 143
[11] Kitab Yesaya juga
sering diistilahkan sebagai kitab Messianik karena didalam kitab ini banyak
terdapat nubuatan-nubuatan kedatangan Mesias.
[12] Athur Wm Kac, The Messianic Hope, (Michigan:
Baker Book House, 1975), 34-35.
[13] S.M. Siahaan, Pengharapan
Mesias Dalam Perjanjian Lama, (Jakarta: BPK-GM, 1991), 20.
[14] Ibid., 22
[15] Ini dapat dilihat dari silsilah Yesus di
matius 1 bahwa Zerubabel adalah nenek moyang Yesus.
[16] Welly Pandensolang, Eskatologi
Biblika, (ANDI: Yogyakarta, 2008) 1.
[17] Gerald O’ Collins & Edward Farrugia, Kamus
Teologi, (Karisius: Yogyakarta, 2006) 73.
[18] “Eskatologi”
dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I A-L, (Jakarta:Yayasan Komunikasi
Bina Kasih/OMF, 2007), 286.
[19] D.S. Russel, Penyingkapan
Ilahi: Pengantar Ke Dalam Apokaliptik Yahudi, (Jakarta: BPK Gunung Mulia,
2007), 121-135.
[20] Arie de Kuiper,
Missiologia, (Jakarta: BPK-GM, 2004), 21-23.
[21] Peter Wongso, Hermeneutika Eskatologi, (Seminar
Alkitab Asia Tenggara, 1989), 26-31.
[22]Seybold, Masalah
dalam Theological Dictionary Of The Old Testament Volume IX (Michigan/Cambridge. U.K: William B.
Edrmans Pubishing Company, 1974), 44.
[23] S.M. Siahaan, Pengharapan
Mesias dalam perjanjian Lama, (Jakarta: BPK-GM, 2008), 4.
[24] Walter C. Kaiser, Op.Cit.,
32.
[26] Ibid., 53
Comments
Post a Comment