MISIOLOGI: MISIO ECCLESIAE 100-300

 

MISIO ECCLESIAE 100-300

I.              Pendahuluan

Orang-orang Kristen berada dimana-mana dalam kata lain, telah tersebar ke seluruh dunia. Sampainya Injil ke seluruh dunia bukanlah perkara yang mudah dan berjalan dengan mulus. Hal ini terjadi karena adanya para Misioner yang berjuang untuk itu. Banyak orang-orang yang telah berkorban, bersaksi-mati untuk Injil dari zaman ke zaman. Untuk itu, kita sebagai penganut sekaligus penerus sangat perlu mengetahui sekaligus meneruskan perjuangan-perjuangan untuk Injil yaitu Yesus Kristus. Dengan demikian, Penulis diberikesempatan untuk menyajikan informasi Misi Gereja tahun 100-300. Semoga dalam sajian ini dapat menambah pengetahuan dan iman para pembaca, saudara/i sekalian.

II.           Pembahasan

2.1.       Latar Belakang

Misi telah dimulai oleh para Rasul sejak terjadinya peristiwa pencurahan Roh pada Hari Pentakosta di Yerusalem. Pada masa sesudah rasul-rasul (kira-kira 70  sampai 140 M) terjadi perubahan besar di dalam gereja Kristen yang muda itu, baik secara lahiriah, maupun batiniah.[1] Gereja sangat cepat berkembang kemana-mana. Perkembangan gereja sepesat itu diakibatkan oleh rajinnya semua orang percaya dalam bersaksi tentang Nama Tuhan Yesus Kristus. Melalui Gereja, sebagai agen misi yang menuruti perintah Roh Kudus  sebagai pembina misi, Allah selalu dipermuliakan di seluruh dunia. Gereja Mula-mula berada dalam lingkungan Yunani-Romawi pada 30-600 M di antara wilayah besar Kekaisaran Romawi  dan Kerajaan Partia yang disebut Persia setelah tahun 225 M gereja berada dalam kekaisaran beragama kafir. Misi dilanjutkan oleh orang-orang Kristen pada zaman itu. Gereja hidup di tengah-tengah pemerintahan politik yang kuat, di tengah-tengah agama-agama suku dan budaya yang kuat. Orang-orang Kristen menghadapi berbagai masalah perlawanan dan penyiksaan-penyiksaan dalam bermisi. Orang Kristen ditindas dan diintimidasi namun di dalamnya gereja lahir dan terus bertumbuh.

Ada 2 jenis petobat dari orang Kafir:

1.      The Proselit: orang Yahudi Adopsi, yakni petobat kafir yang diterima penuh menjadi orang Yahudi melalui sunat.

2.      The God-gearer: orang yang takut akan Allah di batasi pada ritus tertentu dan menjadi warga negara kelas dua.

Ada 6 karakteristik kehidupan beragama orang Yahudi di diaspora yang membuat petobat-petobat baru muncul dari kalangan orang-orang kafir:

1.      Adanya Institusi Sinagoge yang bertujuan untuk memelihara ibadah. Sinagoge dibuka bila terdapat 10 kepala keluarga. Sinagoge bukan menjadi pengganti Bait Allah melainkan tetap menjadi institusi pengajaran. Pemimpinnya disebut rabi/guru bukan Imam. Tidak dilakukan upacara korban.

2.      Ibadah hari Sabat. Ini wajib menurut Taurat.

3.      Penterjemahan Kitab Suci kedalam bahasa Gerika atau Yunani karena selama diaspora, banyak orang Yahudi yang mulai lupa bahasa Ibrani. Pada abad ke 3 SM, di Alexandria telah diterjemahkan kitab PL ke dalam bahasa Gerika oleh 70 ahli Taurat yang disebut “Septuaginta” atau LXX. LXX kemudian menjadi alat misi yang ampuh untuk dibaca oleh semua orang. LXX juga dipake oleh Yesus dan murid-muridNya dan dipakai sinagoge di Roma (KPR 15:21).

4.      Konsep Monoteisme

Dunia Roma-Gerika tidak percaya ada monotheisme. Orang Gerika memiliki 30.000 dewa dan kebanyakan Dewa nafsu (Gods Of lust) bahkan dewa mereka bersifat amoral. Waktu zaman Plato pernah dimulai membahas ide penyembahan pada waktu dewa Agung oleh filsuf. Israel diaspora memperkenalkan monotheisme.

5.      Praktek moralitas. Dua dosa besar dunia kafir yaitu penyembahan berhala dan kehidupan yang amoral contohnya perceraian dan pembunuhan anak bayi, pengguguran janin sudah biasa terjadi. Paulus menggambarkan kehidupan amoral tersebut seperti yang tercatat dalam Roma pasal 1.

Agama Yudaisme mempraktekkan kehidupan bermoral antara lain:

a.       Perceraian jarang terjadi.

b.      Anak (bayi) dianggap karunia oleh Allah.

c.       Kehidupan keluarga itu suci.

d.      Orang tua mengajar Taurat kepada keluarganya.

e.       Orang tua mengajar anak-anaknya

f.        Karena perjinahan mendapat hukuman yang berat, maka amoralitas menjadi berkurang.

g.      Orang-orang kafir banyak mengikuti praktek moralitas Yudaisme

 

6.      Janji kedatangan sang juruslamat. Sebelum kekristenan dunia Romawi-Yunani sudah mencari penyelamat. Orang Yunani mencarinya melalui filsuf orang Romawi mencari melalui negarawan tapi semua gagal. Dalam hal itu orang-orang pengikut Yudaisme menantikan Mesias (Nabi, Imam, dan Raja).

 

2.2.       Pengertian Misio Ecclesiae

Kata misi dalam bahasa Latin adalah misio yang berarti pengutusan. Dalam bahasa Inggris/Jerman/Prancis disebut Mission. Dalam bahasa Inggris bentuk tunggal mission berarti karya Allah (God’s Mission) atau tugas yang diberikan oleh Tuhan kepada kita (our mission).[2] Dalam bahasa Yunani ada dua kata yang berkaitan dengan pengutusan (missio), yaitu apostello (mengutus) dan pempo (mengirim).

Berdasarkan Yohanes 20:21, Istilah missio (pengutusan) mempunyai tiga pembedaan, yaitu:

a.       Missio Dei (pengutusan oleh Allah). Allah bertindak sebagai subjek segala pengutusan, terutama pengutusan Anak-Nya. Dialah pengutus yang Agung.

b.      Missio Filii (pengutusan oleh gereja). Yesus Kritus diutus (dalam arti khusus Dia-lah yang disebut Missio Dei), tetapi juga menutus, yaitu para rasul dan gerejaNya.

c.       Missio Ecclesiae (pengutusan oleh gereja). Pengutusan oleh Allah dan Anak dilanjutkan dengan pengutusan oleh gereja.

Meskipun ada tiga pembeda misi, namun sebenarnya memiliki satu kesamaan, yaitu bahwa sumber pengutus utama adalah Allah. Seorang penginjil yang diutus oleh gereja, sebenarnya gereja diutus melalui rasul-rasul oleh Yesus Kristus, dan Yesus sendiri diutus juga (hanya pengutusanNya berbeda dengan pengutusan gereja). Oleh sebab itu, hendaklah kita menghormati Tuhan sebagai pengutus utama, dan dengan demikian Ia melaksanakan rencana penyelamatanNya.[3]

Gereja adalah eklessia berasal dari bahasa Yunani artinya dipanggil dari dunia ini untuk menjadi milikNya dan berada dalam sesuatu yang sungguh-sungguh ada dan terpisa semata-mata karena pemanggilannya oleh Allah.[4] Missio Ecclesiae adalah pengutusan gereja yang merupakan pekerjaan missioner dari jemaat Kristen sepanjang sejarah dunia yang di dalamnya terdapat pengutusan para rasul untuk memberitakan Injil keselamatan kepada segala bangsa (umat manusia).[5] Missio Dei memberitakan kabar baik bahwa Allah adalah Allah untuk manusia. Misi dalam bentuk jamak “Missio Ecclesiae” adalah usaha-usaha misioner keja, mengacu pada bentuk-bentuk khisis, yang berhubungan dengan waktu, tempat, atau kebutuhan tertentu dari partisipasi di dalam missio Dei.[6] Stott mengatakan bahwa, Misi penginjilan yang menjangkau semua orang tersebut merupakan suatu tugas gereja yang sesungguhnya. Matius 28:18-20 yang memberikan judul “Misi Gereja adalah pengijilan kepada semua orang”

2.3.       Lingkungan Gereja

Melihat lingkungan dalam gereja yang telah lahir dan mulai berkembang dalam sejarah gereja ada perubahan yang terjadi yaitu:

1.      Perluasan gereja

2.      Pola pemikiran dalam keKristenan yang muda

3.      Tata gereja dan kebaktian yang berlaku pada zaman itu

Lama kelamaan gereja purba memahami bahwa ketaatan pada hukum taurat tidak boleh dianggap sebagai mutlak untuk keselamatan. Gereja Kristen meluas di tengah dunia orang-orang bukan Yahudi. Jemaat Kristen pertama yang terdiri dari orang Yahudi tetap mengunjungi bait Allah dan menaati hukum taurat dengan setia (Kis. 2:46, 3:1) orang Yahudi lainnya mematangkan pergaulan dan orang kafir karena mereka tidak menaati Taurat akan tetapi penghabatan yang datang sesudah kematian Stefanus membuat mereka lari dari Yerusalem ke daerah orang Samaria dan orang kafir dimana-mana pemberitaan Injil diterima oleh penduduk daerah itu. Petrus tidak mau memasuki rumah orang kafir tetapi roh kudus memaksanya dengan penglihatan (Kis 10).

2.3.1. Perluasan gereja bertolak dari daerah Palestina-Siria

Dari sinilah di bawa Injil kedaerah sebelah barat, timur, dan selatan dalam parohan abad ke-2, agama Kristus sudah tersebar di daerah eropa barat sampai Asia Tengah. Paulus membawa sejumlah orang dan Injil ke daerah barat Palestina (Anthiokia). Disinilah pertama kali timbul jemaat yang terdiri atas orang-orang bukan Yahudi (Kis. 11:20) jemaat ini dipakai Tuhan untuk memberitakan Injil.

Pengaruh agama Kristen yang paling besar yaitu di Asia kecil tahun 112 M. Perluasan di arah Timur tidak semudah di bagian barat disebabkan oleh orang menghadapi rintangan berupa tapal batas antara Kaisar Romawi dan kerajaan Partia. Kedua negara ini sering berperang kebudayaan helenisme tidak berlaku disana karena penginjilan di Timur tidak diselenggarakan oleh orang Kristen yang berbahasa Yunani melainkan oleh orang Yahudi dari Siria dan Palestina.

Pusat keKristenan di Siria Timur dan Mesopotamia adalah Edessa.[7] Selama abad ke-2 kota ini merupakan negara merdeka yang kecil dan menjadi penyangga antara Roma dan Partia. Pada tahun 179 raja Edesa masuk Kristen dan merupakan agama yang pertama. Ada seorang pengabar Injil dari Edessa Addai. Pada tahun 104 ia menahbiskan Uskup Kristen pertama di Mesopotamia Utara. Dari situlah Injil menyebar ke Timur dan Tenggara dan menjadi pusat keKristenan di Asia. Pada tahun 180 M agama Kristen sudah tersebar ke daerah dari Galilea (Perancis) di barat sampai Arabia Selatan dan Persia Timur. Orang Kristen terbanyak terdapat di Mesapotamia, Siria, Asia Kecil dan Afrika Utara (Tumisia Sekarang).

2.3.2.  Konteks dalam lingkungan Kebudayaan dan bahasa.

Pada Abad ke-2 agama Kristen sudah memasuki berbagai lingkungan yang mempengaruhi orang-orang Kristen yang berasal dari padanya. Maka timbullah cara yang berbeda untuk mengungkapkan keselamaCtan yang diberikan oleh Allah di dalam Yesus Kristus yaitu sebagai berikut:

a.       Didakhe (Pengajaran) merupakan kitab yang terkenal sesudah Kisah Para Rasul di tulis di Siria kurang lebih 100 M. Pada pasal yang pertama membahas tentang pilihan antara jalan kehidupan atau jalan maut. Pada yang kedua membahas kebiasaan dalam hal berpuasa, berdoa, mengenai ibadah, sakramen dan menganai tata gereja. Dalam kitab ini yang paling menonjol adalah kebiasaan orang Yahudi dengan cara pemikian yang merupakan inti agama orang Yahudi bertahan.

b.      Surat Ignatius Tahun 110. Uskup Ignatius dari Antiokhia di tangkap oleh pemerintah Romawi dan ia mati syahid. Dalam perjalanannya ia menulis tujuh surat kepada jemaat di Asia kecil dan Jemaat di Roma. Dalam suratnya merupakan suasana moralisme seperti yang terdapat dalam kitab Didakhe tidak ada. Ia memuji Kristus yang menyelamatkan manusia ia meneruskan satu segi dari pemikiran dalam tulisan Paulus dan Yohanes ia menekankan keselamatan adalah kehidupan karya.

c.       Yustinus Martir mati syahid sekitar tahun 165 merupakan seorang filsuf aliran Platonisme. a bersaksi bahwa pada suatu hari ia bertemu seorang tua yang menjelaskan kepadanya bahwa para nabi PL telah mengemukakan Ilahi jauh sebelum para filsuf Yunani termasyur segera dalam jiwa Yustinus timbul semangat rasa cinta kepada para nabi dan kepada orang-orang yang menjadi teman-teman Kristus Yustinus mengimani agama Kristen dengan cara dia sendiri atau bukan secara moralistis maupun mistis melainkan intektualitas. ia mengungkapkan imannya dengan memakai bentuk-bentuk filsafat Yunani. ia memakai cara platonis dengan menekankan dengan cara Allah tidak bisa dikenal, tidak berubah dan bahwa nama yang kita gunakan untuk menunjuk Allah tidak sebenarnya. untuk mengungkap arti Kristus, Yustinus mengunakan filsafat Stoa yaitu mengunakan wawasan logos yang artinya firman, akal, pikiran dan tertip. logos dipandang sebagai kekuatan Ilahi yang mengatur dan menjiwai dunia dan memberi pengertian kepada manusia. Yistinus mempunyai pandangan yang positif mengenai para filsaf dan tentang agama kafir sebeb. menurutnya, Kristrus telah memberi pengajaran tentang pemikir kafir sehingga dalam kekafiran terdapat benih kebenaran. Yustinus Martir disebut sebagai teolog pertama orang kristen yang menjelaskan iman kristen secara alamiah.

d.      Bardaisan tahun 154-122 adalah seorang bangsawan dari Edessa ia masuk kristen pada umur 25 tahun dan di didik di lingkungan agama sinkristme yang tersebar luas di Asia Barat, setelah menjadi Kristen ia bergumul dengan kepercayaan ini. Bagi dia sama seperti bagi orang-orang di sekitarnya ajaran mengenai pengaruh bintang-bintang itu betul-betul bersifat ilmiah. Tetapi bagi seorang Kristen ia tahu betul bahwa manusia bertanggung jawab atas perbuatannya dihadapan Allah.

 

2.4.       Aksi-aksi Misi

1.             Menginjili

Pemberitaan Injil secara langsung kepada orang-orang Yahudi dengan menekankan bahwa Yesus itu Almasih yang dijanjikan dalam Kitab Suci dan Ia telah bangkit. Dan menyatakan bahwa hanya ada satu Allah yaitu Yesus Kristus sang Juruselamat.

2.             Menyembuhkan

Penyembuhan sebagai tanda karya-penyelamatan oleh Juruselamat. Keselamatan meliputi kesehatan lahir dan batin (Mrk 16:18).

3.             Exorcisme

Aksi ini adalah aksi dimana orang-orang percaya melawan kegelapan (setan atau jin-jin). Yesus Kristus selaku Pemenang atas segenap duani roh-roh jahat dan atas kuasa-kuasa kegelapan dan setiap hidup orang.

4.             Berdiakonia

Kasih adalah injil yang nyata dan merupakan pertolongan kepada golongan-golonga yang menderita seperti bersedekah, pemeliharaan janda dan yatim-piatu, pertolongan terhadap orang sakit dan lemah, mengunjungi para tawanan, pemakaman orang miskin, menerima orang-orang budak dalam persekutuan, membantu orang teraniaya dan bencana alam dan membela hak-hak kerja dan menerima para pengembara.[8]

5.             Konsili Yerusalem

Konsili Gereja Ortodoks Yunani yang diadakan di Yerusalem pada tahun 1672. Konsli ini mengesahkan pengakuan iman Dositheus sebagai pengakuan iman gereja ortodoks Yunani. Konsili ini juga menolak ajaran Calvin tentang presdestinasi dan pembenaran oleh iman.[9]

6.             Septuaginta

Terjemahan dalam bahasa Yunani yang dibuat oleh orang-orang Yahudi yang berada di diaspora (Perserakan) di Alexandria. Di dalam Septuaginta ini terdapat kitab-kitab yang kanonik, tetapi juga kitab-kitab Apokrip. Kitab-kitab kanonik ini diterjemahkan kira-kira tahun 250.[10]

 

2.5.       Tantangan-tantangan

1.             Doketisme

Doketisme berasal dari kata dokei yang artinya semu atau melihat. Ajaran ini lebih menekankan keilahian Yesus Kristus. Bidat ini mengatakan bahwa Yesus hanyalah seolah-oleh saja manusia. Kenyataan akan kemanusiaan Yesus Kristus tidak dapat diterima. Hanya tampaknya saja Yesus memiliki tubuh. Orang yang sesungguhnya disalibkan bukanlah Yesus melainkan Simon dari Kirene.[11] Ajaran ini diserang habis-habisan oleh Ignatius dari Anthiokia dan para penulis terkemuka lainnya salah satunya Serapion.

2.             Gnostisisme

Kata Gnostik berasal dari kata Yunani gnosis yang artinya pengetahuan. Aliran ini adalah tantangan yang paling berat bagi gereja Kristen. Secara khusus, istilah ini dipakai sebagai sebutan aliran Valentinus dan aliran Baselides. Aliran ini mengutamakan pengetahuan dan menempatkan pengetahuan lebih tinggi dari pada iman Kristen. Pokok utama dari ajaran ini adalah mengenai asal dunia, tabiat manusia dan persoalan yang paling berarti itu, yaitu kejahatan. Aliran ini mengatakan bahwa keselamatan diperoleh dengan jalan mengingkari tubuh kita (askese) dan memiliki pengetahuan rahasia tentang jalan ke dunia terang dan juga mengatakan bahwa manusia hanya bisa selamat apabila ia dapat melepaskan diri dari dunia ini. Bukan hanya itu saja, dasar-dasar Gnostik berlawanan dengan asas-asas iman Kristen seperti:

a.       Perjanjian Baru dipisahkan dari Perjanjian Lama dan dengan demikian maknanya diputarbalikkan.

b.      Allah Pencipta tidak sama dengan Allah Bapa Yesus Kristus.

c.       Tidak ada kebangkitan daging dan tidak akan ada dunia yang baru, sebab seluruh materi akan binasa kelak.

Salah seorang teolog yang paling keras melawan Gnostik ialah uskup Irenaeus dari Lyon dengan tulisan penyingkapan kedok dan sanggahan terhadap pengetahuan pura-pura.

3.             Montanisme

Gerakan Montanisme ini dipimpin oleh Montanus dari Ardabau. Montanus menganggap dirinya sebagai Parakletos (Roh Kudus) yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus dalam Yohanes 16:7, dan yang membawa pernyataan Allah yang terakhir bagi dunia dan demikian juga pernyataan tertinggi. Bahkan Montanus menyampaikan suatu nubuatan, ia menyampaikannya dalam bentuk “saya adalah bapa yang berfirman....atau “saya adalah Parakletos yang berfirman.” Ia juga mengatakan dan mengkalim: Kristus telah datang kepada saya dalam rupa wanita dengan mengenakan pakaian yang bercahaya. Kristus telah mengatakan kepada saya bahwa tempat ini (desa Pepuza) adalah kudus dan di sinilah Yerusalem akan turun dari surga.

 

2.6.       Senjata-Senjata Gereja

Adapun tindakan Gereja setelah zaman rasul-rasul dalam melawan segala ajaran-ajaran sesat dan menegakkan kebenaran adalah:

1.             Kanon Alkitab

Untuk melawan sekta-sekta di lingkungan gereja, maka dibuatlah kanon (ukuran atau kaidah) untuk menyatakan kitab-kitab yang dinyatakan benar sebagai firman Tuhan dan kebenaran tentang Tuhan termasuk PL dan PB.

2.             Pengakuan Iman

Agar gereja tidak diombang-ambingkan oleh sekta-sekta, maka dibuatlah pengakuan iman yang menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan (1 Kor 12:3) hal ini bertujuan untuk menyatakan penolakan terhadap pandangan-pandangan ajaran-ajarna lain.

3.             Jabatan Uskup

Setelah kedua alat tersebut dibuat, maka dibutuhkanlah orang yang dapat mengganti kerasulan untuk menjaga, melaksanakan, berkuasa dan mempertahankannya. Maka gereja memilih Uskup untuk menjadi seorang yang dapat memutuskan masalah-masalah yang terjadi yang dihadapi oleh gereja.

 

2.7.       Tokoh-tokoh Kristen

1.             Yustinus Martir

Yustinus lahir dalam keluarga Yunani di Palestina pada awal abad ke-2. Ia adalah seorang yang mencari kebenaran. Harapannya adalah langsung bertemu dengan Allah. Ia mengenal Kristus dan Kitab PL dari seorang yang tua yang pernah ia jumpai sebelumnya. Ia terkesan terhadap Kristen yang tidak takut mati demi Injil lalu ia bertobat. Ia adalah seorang filsuf sekaligus seorang percaya. Ia adalah seorang yang tidak takut mati karena imannya akan keselamatan dalam Kristus. Ia melawan penyembahan berhala. Ia menggambarkan Kristus adalah hubungan yang sempurna antara yang tidak sempurna (filsafat), dan antara yang lengkap dengan yang tidak lengkap. Atas pengetahuannya itu ia disebut sebagai seorang pembela iman.

2.             Irenaeus

Irenius adalah orang Yunani yang lahir di Asia Kecil dari keluarga Kristen. Irenius diperngaruhi oleh Yustinus untuk melawan Gnostisisme dengan argumen:

-          Menguraikan sistem Gnostik secara rinci, berusaha menunjukkan betapa banyak kejanggalan pada kepercayaan mereka. Ia mengatakan bahwa “hanya dengan menggambarkannya kita sudah menyangkal dokrin-doktrin itu”.

 

2.8.       Tokoh-tokoh Penganiaya Gereja[12]

1.             Kaisar Trajan (52-117)

Markus Ulpius Trayan dipanggil Trajan lahir di perbatasan Spanyol dan Italia di Sevillo. Ia adalah seorang tentara yang profesional dan seorang ahli dalam bidang politik. Ia menjadi kaisar pada tahun 98-117. Pada tahun 97 M, ia diangkat menjadi anak Nelva dan naik tahta pada tahun 98 M. Awalnya ia menguasai daerah Dacia yaitu Rumania pada saat ini. Pemerintahannya menguasai Armenis, Mesopotania, Asyria, sampai ke sungai Efrat. Trajan membangun jalan raya dan mementingkan pendidikan sehingga menyebabkan agama kristen berkembang pesat. Namun ia adalah termasuk salah satu kaisar yang telah menganiaya Kristen karena tidak menyembah hukum negara dan gambar kaisar. Para misioner yang mati syahid pada masa pemerintaha Kairas Trajan  adalah Ignatius dari Anthiokia dan Simon dari Yerusalem.

Ignatius yang sudah tidak muda lagi dihukum mati dan dikirim ke Roma supaya diterkam binatang buas sebagai tontonan. Dalam perjalanan ke Roma, ia menulis surat-suratnya. Di dalam surat tersebut ia mengatakan bahwa ia diiringi oleh 10 macan, yaitu tentara pengawal, yang semakin diperlakukan dengan sopan semakin jahat tingkah mereka. Hukuman Ignatius disebabkan karena menolak nasihat kaisar untuk mengubah pendiriannya pada saat berdiskusi dengan kaisar. Ignatius di tuntun ke tempat pertunjukan tempat binatang buas yang telah dipersiapkan. Disana ada banyak orang yang berkumpul dan ingin menyaksikan pertunjukan tersebut termasuk orang Kristen di dalamnya. Ignatius meminta agar tidak menghalangi hukuman mati tersebut terhadap orang-orang Kristen karena ia sangat rindu untuk bersatu dengan Kristus. Lalu setelah berlutut dan berdoa, ia di lemparkan ke kandang binatang buas yang belum diberi makan berhari-hari tersebut sehingga binantang buas tersebut melahap daging Ignatius dan meninggalkan tulang-tulangnya. Tulang-tulang tersebut dibungkus dengan kain lenan dan dibawa ke Anthiokia menjadi harta yang mulia bagi jemaat Anthiokia. Perkataan terakhir Ignaitus atas imannya adalah “Aku adalah gandum Kristus. aku akan diremukkan oleh gigi-gigi binatang-binatang buas supaya aku di dapati sebagai roti yang murni.

2.             Kaisar Markus Aurlius Antonius (161-180)

Markus lahir di Roma sebagai terperlajar dan sangat berdisiplin. Ia adalah seorang filsuf Stoikisme dan bermoral tinggi dan menjadi kaisar pada tahun 161-180. Ia menentang Kristen karena ada yang mengadu kepada kaisar bahwa orang Kristen menentang dewa Roma sehingga mendatangkan bencalan alam. Kaisar memerintahkan untuk menangkap orang-orang yang terbukti kesalahannya. Banyak orang-orang Kristen mati syahid dalam peristiwa ini seperti Justin Martir dan Pothinus dari Gaul. Justin Martir ditangkap, disiksa dan di penggal kepalanya bersama enam orang percaya lainnya. Kematiannya disebabkan ketika melakukan suatu perjalanan ke Roma ketika bertemu dengan Cressens merupakan seorang Cynic dengan sikap yang tidak ramah. Pada tahun 165, Justin kembali ke Roma. Cressens mengadukan Justin kepada penguasa dengan tuduhan memfitnah. Sebelum kematiannya, Ia menulis sebuah perkataan yang menyatakan imannya yang kuat, bunyinya “anda dapat membunuh kami, tetapi sesungguhnya tidak dapat mencelakakan kami”.

3.             Kaisar Lucius Septimius Severus (193-211)

Lucius Septimius Severus berasal dari Leptis Magna (sekarang dekat Al-Khums, Libya). Pada tahun 172, ia diangkat sebagai senator oleh Markus Aurelius. Severus naik takhta pada 14 April 193 dan siap bertempu melawan marcus Didius Severus Julianus, tetapi Legiun Julianus menolak bertempur dan Severus dinyatakan sebagai kaisar. Disuatu saat, kaisar menderita sakit. Orang-orang Kristen mendoakannya sehingga kaisar memperoleh kesembuhan. Ketika itu ia mulai simpati terhadap orang Kristen. Namun, Kaisar terpengaruh akan perkataan orang-orang yang mengatakan bahwa orang Kristen tidak menghormati raja dan tidak menyembah gambar raja. Mendengar hal tersebut, kaisar mengeluarkan perintah untuk membunuh mereka yang tidak mau menyembah. Sebelum pemerintahan Septimius, penganiayaan terhadap orang-orang Kristen bersifat sporadis dimana bentuk pengaiayaan di lakukan langsung oleh para rakyat tanpa landasan hukum yang jelas.

Kaisar Septinus Severus menganiaya jemaat Kristen karena adanya faktor politis. Alasan politis antara lain jemaat kristiani dianggap tidak memiliki pietas, dianggap sebagai kelompok bawah tanah (secret society) dan dianggap berbahaya karena berciri trans-nasional. Septimius adalah kaisar pertama yang menganiaya jemaat Kristiani secara sistematis (terkoordinir). Salah satu korban mati syahid pada masa pemerintahan Septinus adalah Leonidas, ayah Origenes dengan dipenjara.

4.             Kaisar Markus Clodius Pupienus Maximinus (235-238)

Kaisar Clodius dikenal sebagai kaisar yang kejam. Ia dulunya seorang perwira yang memberontak dan merebut kedudukan. Ia membenci orang-orang Kristen karena orang Kristen mendapat simpati dari pada Kaisar sebelumnya. Ia membakar gedung dan membunuh pemimpin Kristen dan memaksa orang menyembah berhala. Salah satu korbannya adalah Pontianus seorang Uskup Roma yang diasingkan ke Sardinia karena berkhotbah menentang penyembahan berhala dan dibunuh di sana. Selanjutnya Anteros yang mengusik pemerintah dengan mengumpulkan sejarah para martir.

Setelah Clodius meninggal pada 238, ia digantikan oleh Gordian yang kemudian digantikan oleh Philip. Selama masa pemerintahan kedua orang tersebut, gereja terhindar dari pengaiayaan selama 6-10 tahun. Namun, pada 249 M penganiayaan yang hebat di Aleksandria dikobarkan lagi oleh imam kafir tanpa sepengetahuan kaisar. Salah satunya adalah Metrus seorang penatua Kristen dengan dipukuli dengan pentung, ditusuk dengan jarum, dan dirajam dengan batu sampai mati karena menolak untuk menyembah berhala.

5.             Kaisar Decius Trayanus (249-251)

Trayanus adalah seorang militer yang menganiaya orang-orang Kristen secara besar-besaran pada 250 M. Ia menganggap agama Kristen sebagai organisasi yang tidak dapat dibiarkan. Ia memerintahkan bahwa semua penduduk supaya menyembah berhala. Bagi yang melanggar akan dihukum dengan kepalanya dipenggal. Bahkan lebih sadis lagi berjalan di atas besi yang membara dan duduk diatas kursi paku.

6.             Kaisar Valerin (253-260)

Pada mulanya ia sangat simpati terhadap orang Kristen. Namun pada tahun 258 ia mengumumkan:

a.       Membunuh pemimpin gereja

b.      Menyita harta pejabat yang beragama Kristen. Orang yang tetap percaya dibunuh.

c.       Dalam kalangan istana, orang yang percaya hartanya disita.

Pengumuman tersebut terjadi karena dorongan dari panglima kaisar yang menganut sihir Mesir yang mengatakan bahwa bencana dapat hilang apabila orang Kristen dibasmi. Orang-orang yang terbunuh dalam peristiwa ini adalah Siatus yang ditangkap pada saat mengadakan perjamuan dalam gua dan diadili dan dibunuh. Dan kedua adalah Cyprian yang merupakan seorang uskup dari Khartago di Afrika Utara.

7.             Kaisar Dioclexian (284-305)

Gaius Aurelius Valerius Diocletianus dipanggil Dioclexian lahir di Dalmatia, daerah Salona dan menjadi kaisar pada 284-305 M. Pada masa pemerintahannya negara mencapai kejayaan. Pada tahun 292, ia membagi negara kedalam bagian-bagian. Hal ini menyebabkan pengeluaran negara menjadi sangat besar, tanggungan rakyat serta pajak bertambah pula. Dioclexian ingin gereja juga mendukung kekuasaannya. Namun Calerius, menantu Dioclexian membenci orang Kristen dan mengusulkan untuk membunuh orang-orang Kristen.

Pada tahun 305, kaisar mengeluarkan empat perintah:

a.       Memusnahkan seluruh gedung gereja, Alkitab dan tafsiran-tafsiran.

b.      Memenjarakan semua pimpinan gereja.

c.       Barangsiapa yang mau menyebah gambar raja di dalam penjara akan dilepaskan.

d.      Mengharuskan orang-orang Kristen agar menyembah berhala atau gambar. Mereka yang melanggar akan dihukum mati.

Pada 313, Dioclexian mati karena digigit ular. Sejak itu, gereja masuk dalam masa damai. Tatkala agustin menjadi kaisar, gereja memasuki suatu masa yang baru.

III.        Kesimpulan

Pada tahun 100-300, Misi gereja masih tetap berlangsung. Gereja terus bertumbuh dan berkembang. Misi gereja di lakukan oleh semua orang-orang percaya, orang-orang yang setia dan kuat imannya ini disebut sebagai gerakan kaum awam. Di kehidupan sehari-hari mereka bersaksi (menginjili), menyembuhkan, dan melawan ajaran-ajaran sesat dan berhala-berhala.  Tindakan tersebut membuat Injil semakin menyebar kemana-mana.

2.9.       Penginjilan ke India

Menurut Kisah Para Rasul, Tomas setelah hari Pentakosta kedua belas rasul membuang undi untuk menentukan ke mana setiap orang diutus untuk mengabarkan Injil. Rasul Tomas mendapat tugas ke India, tetapi ia tidak mau pergi ke sana, meskipun Tuhan Yesus menampakkan diri-Nya kepadanya dalam mimpi. Oleh karena itu Tuhan mengatur agar Tomas dijual sebagai budak kepada seorang pedagang ke India, yang bernama Habban, yang datang ke Yerusalem untuk mencari tukang kayu. Di India, Tomas disuruh membangun istana Raja Gudnaphar akan tetapi uang yang diterima untuk pembangunan istana di Surga bagi raja Gudnaphar. Raja itu sangat marah dan memenjarakan Tomas. Akan tetapi sesudah Tomas melakukan beberapa Mujizat, raja sendiri bersama adiknya menerimanya  “tiga materai kekristenan” yaitu urapan minyak, baptisan dan perjamuan kudus. Tomas berjalan jauh untuk mengabarkan Injil, sampai ia ditombak mati di India.[13]

 

IV.        Daftar Pustaka

Ambarita. Darsono, Misi dalam Perjanjian Lama & Perjanjian Baru. Medan: Pelita Kebenaran Press, 2018.

Berkhof. H., Sejarah Gereja. Cet. 34. Jakarta: BPK-GM, 2017.

Blommendal, J, Pengantar Kepada Perjanjian Lama. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008.

Bosch. David J., Transformasi Misi Kristen: Sejarah Teologi Misi Yang Mengubah Dan Berubah. Jakarta: BPK-GM, 2018.

End. van den,  Harta dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas. Cet.13. Jakarta: BPK-GM, 1987.

Kuiper. Arie De, Missiologia: Ilmu Pekabaran Injil. Jakarta: BPK-GM, 2006.

Ruck, Anne, Sejarah Gereja Asia. Jakarta :BPK Gunung Mulia, 2008.

Situmorang. Jonar T.H, sejarah gereja Umum. Yogyakarta: ANDI, 2014.



[1] H. Berkhof, Sejarah Gereja  (Jakarta: BPK-GM, 2017), 10.

[2] Arie De Kuiper, Missiologia: Ilmu Pekabaran Injil (Jakarta: BPK-GM, 2006), 9.

[3] Darsono Ambarita, Misi dalam Perjanjian Lama & Perjanjian Baru (Medan: Pelita Kebenaran Press, 2018), 14.

[4] Ibid, 50.

[5] Kuiper, Op.Cit., 10.

[6] David J. Bosch, Transformasi Misi Kristen: Sejarah Teologi Misi Yang Mengubah Dan Berubah (Jakarta: BPK-GM, 2018). 15.

[7] van den End,  Harta dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas, Cet.13 (Jakarta: BPK-GM, 1987), 18.

[8] Kuiper, Op.Cit., 61-62.

[9] F.D.Wellem, Kamus Sejarah Gereja  (Jakarta: BPK-GM, 2006), 247.

[10] J. Blommendal, Pengantar Kepada Perjanjian Lama (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), 14.

[11] Jonar T.H Situmorang, sejarah gereja Umum (Yogyakarta: ANDI, 2014), 126.

[12] Ibid., 99-110.

[13] Anne Ruck, Sejarah Gereja Asia (Jakarta :BPK Gunung Mulia, 2008), 14.

Comments

Popular posts from this blog

TAFSIRAN KITAB 1 TESALONIKA 3:1-13 MENGGUNAKAN METODE KANONIKAL

Teologi PL: ARTI DAN MAKNA FORMULASI BERKAT MENURUT KITAB BILANGAN