MISIOLOGI: MISI REFORMATOR
MISI
REFORMATOR
I.
Pendahuluan
Dibalik adanya ke-Kristenan atau gereja, pasti ada para reformator yang
terlebih dahulu menyampaikan ide-ide mereka dalam melakukan misi mereka
terhadap pemberitaan Injil ke-Kristenan. Para reformator melakukan reformasi
gereja dengan pengetahuan atau wawasan teologi yang mereka miliki. Misi para
reformator ialah Injil ke-Kristenan diberitakan ke segala penjuru dengan
harapan agar semua orang bisa mengenal ke-Kristenan bahkan mereka mau menerima
Injil yang disampaikan. Untuk lebih memperdalam pengetahuan kita akan Misi
Reformator, maka pada saat ini kita akan membahas mengenai Misi Reformator.
Semoga makalah ini dapat menambah wawasan kita semua.
II. Pembahasan
2.1. Pengertian Misi
Kata Misi berasal dari bahasa latin yaitu Missio
yang berarti perutusan. Kata Missio adalah kata substansif dari
kata kerja Mittera (Mitto, Missi, Missum).[1]
Misi adalah kegiatan yang mengandaikan adanya suatu subjek berpribadi.[2]Tekanan
penting “Misi atau pengutusan Allah” berbicara tentang Allah sebagai pengutus,
dimana ia adalah sumber, inisiator, dinamisator, pelaksana, dan penggenap
misi-Nya.[3]
Pengertian ini menyangkut para
missionaris untuk memperkenalkan dan menyebarkan Iman Kristen kepada
orang-orang (dan bangsa-bangsa) yang belum pernah mendengar tentang Injil yakni
kepada orang-orang yang beragama lain atau tidak beragama.[4]
2.2.
Pengertian Reformator
Dalam buku Riwayat
Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam
sejarah Gereja karya
F.D. Wellem dikatakan bahwa reformator adalah orang yang
melakukan reformasi. Reformasi yang dimaksudkan dalam hal ini adalah reformasi
gereja. Reformasi yang ditandai dengan momentum penempelan ke-95 dalil Luther
di depan pintu Gereja Istana Wittenberg, 31 Oktober 1517. Jadi Reformator ialah
Tokoh atau orang yang memimpin adanya suatu perubahan yang disebut reformasi.[5]
2.3.
Para Reformator dan Misi Penginjilan
Jika
teks misi pada periode patristik Yunani adalah Yohanes 3:16 dan teks misi
Katolisisme Abad Pertengahan adalah Lukas 14:23 dan para Reformator mendasarkan
misi nya pada teks Roma1:16, dimana Injil digambarkan sebagai kekuatan Allah
yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, karena di dalam injil kebenaran
Allah dinyatakan dari iman kepada iman: seperti tertulis orang benar akan hidup
oleh iman. Titik tolak teologi para reformator bukanlah apakah yang harus atau
dapat dilakukan orang demi keselamatan dunia, melainkan apa yang sudah
dilakukan Allah di dalam Kristus. Ia mengunjungi bangsa-bangsa dunia dengan
terang-Nya: Ia melanjutkan firman-Nya sehingga firman itu dapat “berlari” dan
“meningkat” sampai hari terakhir menyingsing. Para ahli mengutip metafora
Luther tentang Injil sebagai batu lombang yang melingkar yang bergerak dari
pusat sampai tiba di pantai yang paling jauh. Bagi Luther, iman adalah sesuatu
yang hidup, gelisah yang tidak dapat tinggal diam. Kita tidak diselamatkan oleh
perbuatan, katanya, namun ditambahkannya, “tetapi kalau tidak ada pekerjaan,
tentu ada sesuatu yang salah dengan iman tersebut”. Luther juga menulis bahwa
bila seorang Kristen mendapati dirinya berada di suatu tempat dimana tidak ada
orang Kristen lain, “ia mempunyai kewajiban untuk memberitakan dan mengajarkan
Injil kepada orang-orang kafir yang sesat atau orang-orang non-Kristen karena
itulah tugasnya sebagai saudara meskipun, misalnya, tak seorang pun menyuruhnya
melakukan hal tersebut”.
Luther dan Calvin memisahkan
diri dengan gagasan apapun untuk menggunakan kekerasan untuk mengkristenkan
orang. Kata Luther, pedang kaisar tidak ada hubungannya dengan iman dan tidak
ada satu pasukan pun yang boleh menyerang orang lain dengan panji-panji Kristus,
malah bila paus benar-benar merupakan wakil Kristus di muka bumi, ia akan
memberitakan Injil kepada orang-orang Turki dan bukan menghasut para penguasa
untuk melakukan serangan kekerasan terhadap orang-orang. Kekerasan mempunyai
tempatnya sendiri dalam soal-soal kekuasaan dunia, meski demikian, gereja yang
melayani pemerintahan Allah, tidak boleh memanfaatkannya. Gambaran situasi di
Inggris banyak hal yang berlaku bahwa semua orang Kristen yang dibaptiskan,
dipaksa menjalani hidup yang lebih kurang Kristen di bawah perlindungan pendeta
dan pengawal. Dalam konteks seperti itu “penginjilan” nyaris tak punya arti apa
pun karena semuanya dalam pengertian tertentu sudah menjadi Kristen dan tidak
membutuhkan lebih daripada dijaga agar tidak melakukan kesalahan dalam agama
dan hidup yang kacau.[6]
200 tahun pertama misi reformator protestan sangat sedikit alasannya,
yaitu:
Ø Karena Sebagian besar energi
dan titik perhatian dicurahkan pada ihwal keberlangsungan hidup serta
pembaharuan gereja yaitu membela diri (dengan 95 dalil) serta mengembangkan
jati diri dan doktrinnya.
Ø Negara-negara dimana gereja
reformasi berada pada mulanya rata-rata penduduknya Kristen.[7]
Pada tahun 1555, para
Reformator mengawali upaya misi di Brazil dan pada tahun 1559 diantara
orang-orang Lapp di Skandinavia. Saat itu mereka melakukan kerja sama dengan
penguasa sipil (kekaisaran, pegawai kerajaan).[8] Misi yang dijalankan para
reformator mirip dengan misi gereja Roma Katolik, Pekabaran Injil (PI) berjalan
bersamaan dengan perluasan daerah kekuasaan penguasa yang bersangkutan. Politik
Negara berjalan bersamaan dengan Pekabaran Injil (PI). Nampak bahwa hubungan
gereja dengan negara kental mempengaruhi misi para reformator. Misalnya, misi
di Brazil pada tahun 1555 dipimpin oleh Laksamana Gaspar de Coligny (1519-1572)
adalah memperluas kekuasaan prancis di Brazil sekaligus menyebarkan agama
Kristen Protestan. Tetapi dia gagal karena mati terbunuh oleh pasukan Katolik
pada tanggal 24 Agustus 1572 (Hari perayaan Santo Bartolomeus).[9]
Kemudian, muncullah Philip
Nicolai dimana dia adalah teolog yang mencoba memperbahrui pandangan
Reformator. Dimana ajaran reformator yang dimaksud disini adalah hanya Allah
yang berhak memilih orang-orang yang akan diselamatkan-Nya. Ajaran Predestinasi
dapat melemahkan upaya Pekabaran Injil karena Allah bebas memilih orang-orang
yang mau diselamatkan.[10]
2.4.
Ciri
Teologi Misi Protestan Para Reformatoris
David Bosch dalam buku Teks-teks
Klasik Tentang Misi dan Kekristenan Sedunia mengidentifikasikan lima ciri
teologi misi Protestan yang dimiliki bersama oleh para reformatoris seperti
Lutheran, Calvinis, dan Zwinglian.
1.
Pembenaran oleh iman, yang dimulai bukan dari apa
yang dapat atau harus dilakukan untuk mendapatkan keselamatan, melainkan dengan
apa yang Allah telah lakukan di dalam Kristus.
2.
Kejatuhan manusia ke dalam dosa, yang dimulai bukan
dengan sebuah catatan tentang dosa yang sudah dibuat, melainkan sebaliknya
dengan hakikat keberdosaan umat manusia.
3.
Dimensi keselamatan yang subyektif, yang dimulai
bukan dengan “ilmu yang didebatkan” melainkan dengan pengalaman keagamaan
pribadi.
4.
Imamat Am orang percaya, dan bukan hak-hak istimewa
imamat dari para imam.
5.
Sentralitas Kitab Suci dalam kehidupan gereja,
ketimbang tradisi gereja dan sakramen-sakramennya.[11]
2.5.
Misi dalam Perspektif Martin Luther (1483-1546)
Dalam studi teologinya Martin Luther khususnya ketika dia di biara
Augustinian, Luther telah menanamkan di dalam dirinya keyakinan bahwa ia harus
memuaskan Allah yang murka dengan cara mematikan diri dan melakukan
perbuatan-perbuatan baik yang tidak henti-hentinya. Kemudian bertahun-tahun
Luther menyadari bahwa kebenaran Allah tidak berarti penghukuman dan murka
Allah yang benar, tetapi pemberiannya berupa kasih karunia dan kemurahan, yang
dapat diterima seseorang di dalam iman. Bagi Martin Luther, kerajaan itu akan
datang melalui tindakan Allah melalui Firman, iman dan penyataan terakhir.
Luther juga menafsirkan bahwa Amanat Agung diberikan hanya kepada para rasul
dan sudah mereka genapi. Roma 1:16 digunakan Luther sebagai dorongan dalam
teologisnya. Ia tidak dapat berhenti takjub terhadap kenyataan bahwa Allah
telah menerimanya, manusia yang malang dan celaka. Kata terakhir yang
dituliskan Luther di tempat tidurnya menjelang kematiannya yaitu :Kita Cuma pengemis, Sungguh.[12]
Pada suatu hari, mata Luther terbuka dan dia melihat arti “Kebenaran
Allah itu”: Bukanlah karena kebenaran Ia menghakimi
kita, tetapi karena kebenaran Ia membenarkan
kita oleh Iman. Injil tidak menunjukkan penghukuman dan murka Allah tetapi
penyelamatan dan pembenaran-Nya. Pada tahun 1517 Luther mengeluarkan 95 dalil dan
ditempelkan di pintu gerbang Gereja Istana Wittenberg pada tanggal 31 Oktober
1517. untuk melawan surat-surat penghapusan siksa yang dijual Paus yang pada
saat itu dengan harga yang mahal dimana makna surat itu bahwa jika dengan
membelinya jiwa seseorang yang sudah meninggal dapat dibebaskan dari api
penyucian.[13]
v Karya-karya Martin Luther
Tahun 1520, Luther
menuliskan beberapa karya penting yang membahas perencanaan pembahruannya:
-
An den Christlichen Adel
Deutscher Nation von des Christlichen Standes Besserung (Seruan kepada
pemimpin-pemimpin Jerman).
-
De Captivitate Babylonica
Ecclesiae Pcraeludium (Pembuangan Babel Gereja).
-
Von der Freihei eines
Christenmenschen (Kebebasan Orang Kristen).
-
Di rumah Wartburg, Luther menerjemahkan Alkitab ke
dalam bahasa Jerman. Alkitab Luther
membantu masyarakat Jerman membaca Alkitab sendiri dan mempunyai andil dalam
membentuk bahasa Jerman modern.
-
De Servo Arbitrio (Kehendak yang
Terbelenggu).[14]
2.6.
Misi
dalam Perspektif Ulrich Zwingli (1484-1531)
Zwingli berfokus
pada pengajaran kitab suci. Ia memerintahkan para imamnya yang di kota dan desa
untuk mengajarkan kitab suci. Bahkan ia bersama dengan beberapa imam lainnya
mengirim petisi kepada uskup agar diberi kebebasan untuk mengajarkan Injil.
Namun tidak mendapatkan respon. Sebab menurut uskup soal itu adalah urusan paus atau konsili.[15] Namun ia tetap melakukan dan berfokus pada
pengajaran kitab suci. Pada hari pertama tahun 1519, Zwingli menjadi pastor
pada gereja utama di Zurich. Setibanya di sana, ia mengumumkan bahwa ia akan
berkhotbah dari Injil Matius dan bukan dari teks yang sudah ditentukan. Ia
berpegang dalam menyiarkan Injil dan Kitab Suci sesuai dengan kemampuannya.[16]
Bagi Zwingli,
kitab suci menyangkut terutama dengan hukum Allah, dengan suatu kumpulan aturan
untuk tingkah laku, dengan tuntutan-tuntutan yang dibuat oleh Allah yang
Mahakuasa untuk umat-Nya.[17] Bagi Zwingli siapa yang percaya kepada Injil akan
diselamatkan. Hanya Allah sendiri yang mengampuni dosa melalui Yesus Kristus.
Semuanya adatah pemeliharaan Allah dan campur tangan ilahi.[18] Kristus adalah kepala gereja yang kelihatan dan
yang tidak kelihatan, Ia juga menekankan bahwa firman Allah yang terdapat dalam
kitab suci, terutama Perjanjian Baru adalah satu-satunya petunjuk bagi iman dan
praktik kekristenan.[19]
v
Karya-karya
Ulrich Zwingli
-
67 Dalil.
-
Von Klarheit und Gewissheit
des Wortes Gottes (Kejelasan dan Kepastian Firman Allah) 1522.
-
Von dem Touff, vom
Widertouff und vom Kindertouff (Baptisan, Baptisan Ulang dan Baptisan Anak).
-
Fidei Ratio atau Confession
of Faith (Pengakuan Iman) 1530.[20]
2.7.
Misi
dalam Perspektif William Farrel (1489-1565)
William Farrel adalah seorang pendeta. Farrel bekerjasama dengan Calvin.
Awalnya Calvin tidak mau mengikut kepada Farrel, tetapi Farrel berseru: Dengan
tatkala Nama Allah yang Mahakuasa, aku katakana kepadamu: jikalau engkau tidak
mau menyerahkan dirimu kepada pekerjaan Tuhan ini, Allah akan mengutuki engkau,
karena engkau lebih mencari kehormatan dirimu sendiri daripada kemuliaan
Kristus! Pada tahun 1536, Farrel dan Calvin menganjurkan sebuah rencana
tatagereja kepada dewan kota. Ia mengadakan Perjamuan Kudus, baik dalam ajaran
maupun dalam kelakuan jemaat. Di dalam kebaktian, jemaat harus belajar
menyanyikan mazmur-mazmur, pengajaran agama (Katekisasi), serta dibuat aturan
Nikah.[21]
2.8.
Misi
dalam Perspektif Marthin Bucer (1491-1551)
Strasburg menjadi pusat reformasi penting. Dalam berbagai hal, ini
menjadi contoh bagi yang lain, khususnya pembaharuan dalam pendidikan yang
dirintis oleh Johann Sturm yang dibantu oleh Bucer, dan Bucer memikirkan
pelayanan pastoral. Bucer juga sadar bahwa perlunya disiplin dalam gereja dan
memperkenalkannya di Strasburg.
v
Karya-karya
Marthin Bucer
-
Von den Wahren Seelsorge (Pelayanan Pastoral yang
Sejati).
-
De Regno Christi (Kerajaan Kristus).[22]
2.9.
Misi
dalam Perspektif Philipp Melanchton (1497-1560)
Melanchton dalam misi di era Reformasi yaitu untuk menyelamatkan teologi
dari penyimpangan-penyimpangan filsafat dan memberinya dasar yang kokoh di atas
Alkitab. Melanchton lebih menghargai sumbangan bapa-bapa gereja purba. Alkitab
tetap menjadi tolak ukur yang tidak dapat salah. Pengakuan
Augsburg terdiri dari dua bagian yaitu: Pertama, bagian ini memaparkan
pandangan-pandangan Luther dalam 21 pasal. Ada yang tetap mengikuti ajaran
Katolik tradisional (misalnya mengenai Allah, dosa turunan, baptisan); yang
lain jelas bercorak Lutheran (misalnya mengenai pembenaran, perjamuan kudus,
perbuatan baik). Kedua, bagian ini terdiri dari 7 pasal, membicarakan tentang
kesewenang-wenangan yang telah diperbaik dalam gereja-gereja Lutheran (misalnya
larangan bagi kaum awam untuk minum dari cawan dalam komuni atau larangan
menikah bagi kaum rohaniawan). Pada tahu 1540, Philip menerbitkan Pengakuan
Iman tersebut dalam edisi yang sudah ditinjau kembali. Terbitan 1531 dari
Pengakuan Iman Augburg dan Apologia adalah di antara tulisan-tulisan pengakuan
gereja Lutheran.
v Karya-karya Philip Melanchton
-
Confessio Augustana (Pengakuan Iman Augusburg)
-
Loci Communes Rerum
Theologicarum seu Hypotyposes Theologicae (Masalah-masalah Umum) 1521.[23]
2.10.
Misi
dalam Perspektif Yohanes Calvin (1509-1564)
Pada tahun 1533, Calvin mengalami perubahan hidupnya terjadi
sekonyong-konyongnya. Boleh dikatakan bahwa kita tidak mengetahui bagaimana
kejadian itu. Calvin menuliskan dalam karangannya “Dengan pertobatan yang
tiba-tiba, Allah menaklukkan jiwaku kepada kehendak-Nya”.[24]
Yohanes Calvin setuju bahwa sementara Allah
mengangkat pendeta dan guru pada setiap zaman, Ia mengangkat jabatan-jabatan
luar biasa dari para rasul, nabi dan penginjil hanya pada zaman para rasul.
Yohanes Clavin menekankan kedaulatan Allah dalam teologinya. Dalam sebuah
khotbah tahun 1562 berdasarkan 2 Samuel 5:6-12, Calvin membandingkan nasib
gereja di masa kini dengan Raja Daud yang berusaha memenangkan Yerusalem, yang
sedang dikuasai oleh orang-orang Yebus, musuh-musuh Allah. Pemerintah Allah
akan bertambah, tetapi bukan melalui karya manusia atau usaha gereja. Hal itu
akan terjadi melalui kasih pemilihan Allah.[25] Calvin juga mengutamakan
ajaran predestinasi, yaitu keyakinan
bahwa hal yang kita percaya atau yang tidak percaya itu semata-mata akibat dari
takdir Allah yang kekal.
Pada tahun 1545-1555 tahun-tahun perjuangan Calvin dimana Ia mengumumkan
larangan memasuki rumah minum. Hukuman berat diadakan untuk perbuatan-perbuatan
yang tidak senonoh, umpama berdansa, main kartu, berzinah, bersundal, menghujat
nama Tuhan, kurang taat kepada ibu-bapa. Kemudian pada tahun 1559 Calvin
memajukan persekolahan, Calvin membuka sebuah Akademi atau sekolah tinggi,
Akademi di Jenewa terbagi atas dua bagian yaitu Sekolah Menengah Latin (Gymnasium) dan suatu fakultas teologia.
Calvin mengubah Jenewa, Jenewa disebut sebagai Sekolah Kristus yang paling
sempurna yang pernah ada di atas dunia sejak zaman para rasul.[26]
Karya Calvin untuk mambantu pembuatan undang-undang misalnya melalui
komentarnya atas Ulangan 13:15 dimana Allah memerintahkan umatNya untuk
menghancurkan kota-kota yang telah berpaling kepada penyembahan berhala. Calvin
mengatakan bahwa orang Kristen perlu membenci penyembahan berhala. Oleh sebab
itu para penyembah berhala harus dihukum mati. Tuhan saja yang patut untuk
disembah. Calvin mengusulkan hukuman mati yang paling tepat untuk para
penyembah berhala di Jenewa. Demikian juga dengan anak-anak yang melawan
orangtuanya. Anak-anak itu patut mendapatkan hukuman, misalnya seorang anak
gadis menghina ibunya. Anak gadis itu dipenjara selama 3 hari dan hanya makan
sekeping roti dan minum air saja serta minta maaf di depan umum.[27]
v Karya-karya Yohanes Calvin
-
Acta Sinodi Tridentini cum
Antidoto (Keputusan-keputusan dari siding-sidang awal).
-
Advertissement tresutile du
grand proffit qui reviendroit a la Chrestiente, sil se faisoit inventoire de
tous les corps sainctz et reliques (Peringatan yang Memperlihatkan Keuntungan
bagi Umat Kristen untuk Menginventarisasikan Tubuh dan Peninggalan para Orang
Kudus).
-
Petit Traicte de la Saincte
Cene (Risalah Singkat Mengenai Perjamuan Kudus).
-
Buku tafsiran tentang kitab-kitab Alkitab:
Kejadian-Yosua,Mazmur dan Perjanjian Baru kecuali 1 dan 3 Yohanes, Wahyu.
-
Pengajaran Agama Kristen (Institutio) 1536.[28]
2.11.
Hambatan
Misi Reformasi
1.
Kaum protestan melihat tugas utama mereka adalah
memperbaharui gereja pada zaman mereka. Hal ini menghabiskan semua energi
mereka.
2.
Kaum protestan tidak mempunyai kontak langsung
dengan orang-orang non-Kristen, sementara Spanyol dan Portugal, keduanya bangsa
Katolik, sudah mempunyain kekaisaran kolonial yang luas pada waktu itu.
Satu-satunya orang-orang kafir di Eropa adalah orang-orang Lapp, dan mereka
memang diinjili oleh orang-orang Lutheran Swedia pada abad ke-16.
3.
Gereja-gereja Reformasi terlibat dalam pertempuran
semata-mata untuk bertahan, hanya setelah Perdamaian Westfalen (1648) mereka
mampu mengorganisasikan diri mereka dengan baik.
4.
Dengan meninggalkan monastisisme, para Reformator
telah kehilangan sebuah agen misi yang sangat penting. Baru berabad-abad
kemudian muncul sesuatu yang sama sekali masih jauh dari kecakapan efektivitas
gerakan misi monastik di dalam prostestanisme.
5.
Orang-orang Protestan itu sendiri tercabik-cabik
oleh pertikaian intern dan kehabisan tenaganya dalam semangat yang sia-sia dan
dalam perbedaan pendapat dan pertikaian yang tidak ada habis-habisnya, hanya
sedikit energi yang tersisa untuk berpaling kepada mereka yang berada di luar
kawanan Kristen.[29]
2.12.
Pesan Misioner Gereja
Dalam misi di zaman
reformasi, terdapat pesan missioner gereja, di antaranya:
Ø Beritakanlah Kristus
Ø Jangan Membatasi Injil
Ø Amanat Agung
Ø Tentang Jabatan Para Rasul
·
Pemberitaan
·
Iman
·
Baptisan
Ø
Kerajaan Allah
Ø
Rasul, Nabi dan Penginjil
Ø
Allah harus membangun Gereja-Nya
Ø
Bimbingan Kerasulan tidak berhenti
Ø
Para Nabi dan Rasul telah menjangkau segala bangsa
Ø
Pelayanan yang penuh pengabdian
Ø
Panggilan yang mulia.[30]
2.13.
Maksud dan Tujuan Reformator
Luther yang merupakan seorang Reformator
Gereja (Protestan) yang protes terhadap praktek-praktek yang ada di Gereja
Katolik dimana Gereja melakukan penyimpangan atau melakukan perbuatan yang
tidak sesuai dengan Alkitabiah. Penjualan Surat Idulgensia/ surat penghapusan
dosa, korupsi, Alkitab hanya boleh dibuka oleh para Paus. Luther melakukan
reformasi dengan menempel ke 95 dalilnya di depan pintu gereja Wittenberg yang
intisari dari semuanya adalah “Sola Gratia” hanya karena Anugerah-Nya “Sola
Fide” hanya karena Iman dan “Sola Scriptura” karena Alkitab. Keselamatan hanya
bisa diperoleh hanya dari ketiga sola tersebut bukan dari hasil ciptaan tangan
manusia.[31]
Philip Melanchton juga membantu Ketika
terjadi pertikaian antara Zwingli dan Luther mengenai kehadiran Yesus yang
nyata dalam perjamuan kudus. Melanchton tetap memihak kepada Luther. Bahkan
pada percakapan Marburg pada tahun 1529, Melanchton berlawanan dengan sikap
biasanya tetapi bersikeras untuk tetap menyokong Luther. Namun Occolampidus,
berhasil menyadarkan bahwa bapa-bapa gereja purba tidak semuanya menyokong
pendapat Luther. Ini menyebabkan menjauh dari doktrin Luther tentang kehadiran
nyata.[32]
III.
Kesimpulan
Dari pembahasan
mengenai Misi Reformator dapat disimpulkan bahwa Marthin Luther mencetuskan
reformasi yang bertitik tolak pada pembenaran oleh Iman. Kemudian Calvin
menekankan Allah dalam teologinya, karena menurut Calvin pemerintahan Allah
akan bertambah, tetapi bukan melalui karya manusia tetapi melalui kasih
pemilihan Allah. Terdapat beberapa pesan yang dapat kita ambil dalam misi pada
era Reformasi yaitu beritakanlah Kristus, jangan membatasi Injil dan Amanat
Agung. Tentunya dalam kehidupan kita saat ini masih terdapat beberapa
penyimpangan yang masih terjadi, sehingga kita sebagai orang yang kelak akan
melakukan misi harus mampu meneladani dengan apa yang dilakukan para reformator
khususnya Marthin Luther dan Yohanes Calvin. Kita harus berani memberitakan
kebenaran di tengah-tengah penyimpangan yang terjadi.
Daftar Pustaka
Bevans. Stephen
B., & Roger P. Schroeder, Terus Berubah- Tetap Setia, Dasar, Pola,
Konteks Misi, Maumere: Ledalero, 2006.
Dankbaar, WF., Calvin, Djalan Hidup dan
Karjanja, Djakarta: BPK, 1967.
E., Norman,
Thoman, Teks-teks Klasik Tentang Misi dan
Kekristenan Sedunia, Jakarta: BPK-GM, 2019.
Enklaar, H.,
Berkhof, I.H., Sejarah Gereja,
Jakarta: BPK-GM, 2018.
J. Bosch, David, Transformasi Misi Kristen: Sejarah Teologi
Misi yang Mengubah dan Berubah, Jakarta: BPK-GM, 2018.
Kenneth, A., Curtis, J. Stephen lang
dan Randy Petersen, 100 Peristiwa Penting
dalam Sejarah Kristen, Jakarta: BPK-GM, 2016.
Kirk, J. Andrew, Apa Itu Misi,
Jakarta: BPK-GM, 2012.
Lane, Tony, Runtut Pijar Sejarah
Pemikiran Kristen, Jakarta: BPK-GM, 2012.
McGrath, Alister E., Sejarah
Pemikiran Reformasi, Jakarta: BPK-GM, 2016.
Shimizu, J., Conflict Of Loyalties, Geneva:
Librairie Droz, 1970.
Tomatala, Jacob, Teologi Misi,
Jakarta: YT Leadership Foundation, 2003.
Wellem, F.D., Riwayat
Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam
sejarah Gereja, Jakarta:
BPK-GM,
2015.
Woga, Edmund, Dasar-Dasar
Misiologi, Yogyakarta:
KANISIUS, 2002.
E. Jonathan, Culver, Sejarah Gereja Umum, Bandung: Biji Sesawi, 2013.
[1] Edmund Woga, Dasar-Dasar
Misiologi, Yogyakarta: KANISIUS,
2002, hlm. 13
[2] J. Andrew Kirk, Apa
Itu Misi, Jakarta: BPK-GM,
2018,
hlm. 27
[3] Jacob Tomatala, Teologi
Misi, Jakarta: YT Leadership
Foundation, 2003, hlm. 16
[4] Edmund Woga,
Dasar-Dasar Misiologi, hlm. 14-15
[5] F.D.
Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh
dalam Sejarah Gereja,
Jakarta:
BPK-GM, 2015,
hlm. 126
[6] David J. Bosch, Transformasi
Misi Kristen: Sejarah Teologi Misi yang Mengubah dan Berubah, Jakarta: BPK-GM,
2018, hlm. 372-380
[7] Stephen
B. Bevans & Roger P. Schroeder, Terus Berubah- Tetap Setia, Dasar, Pola,
Konteks Misi, Maumere: Ledalero, 2006, hlm. 333
[8] David J. Bosch, Transformasi
Misi Kristen: Sejarah Teologi Misi yang Mengubah dan Berubah, hlm. 382
[9] J.
Shimizu, Conflict Of Loyalties, Geneva: Librairie Droz, 1970, hlm. 174
[10] David J. Bosch, Transformasi
Misi Kristen: Sejarah Teologi Misi yang Mengubah dan Berubah, hlm. 386-390
[11] Norman
E. Thoman, Teks-teks Klasik Tentang Misi
dan Kekristenan Sedunia, Jakarta: BPK-GM, 2019, hlm. 47
[12] David J. Bosch Transformasi
Misi Kristen: Sejarah Teologi Misi yang Mengubah dan Berubah, hlm. 373
[13] Tony
Lane, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristen, Jakarta:
BPK-GM,
2012, hlm. 132-133
[14] Tony
Lane, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristen, hlm. 134-136
[15]F. D. Willem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh Dalam Sejarah Gereja,
hlm. 200
[16] A. Kenneth Curtis, J.
Stephen lang dan Randy Petersen, 100
Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, Jakarta:BPK-GM, 2016,
hlm. 78
[17] Alister E. McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi, Jakarta:
BPK-GM,
2016, hlm. 157
[18]
Alister E.
McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi, hlm. 159
[19] F. D. Willem,
Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh Dalam Sejarah Gereja,
hlm. 200-201
[20] Tony Lane, Runtut
Pijar Sejarah Pemikiran Kristen, hlm. 144-146
[21] Berkhof dan I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, Jakarta: BPK-GM, 2018, hlm. 160-161
[22] Tony
Lane, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristen, hlm. 147-148
[23] Tony
Lane, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristen, hlm. 139-140
[24] H. Berkhof dan I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, hlm. 158
[25] Norman E. Thoman, Teks-teks
Klasik Tentang Misi dan Kekristenan Sedunia, hlm. 57
[26] H.
Berkhof dan I.H. Enklaar, Sejarah Gereja,
hlm. 168
[27] WF. Dankbaar, Calvin,
Djalan Hidup dan Karjanja, Djakarta: BPK, 1967, hlm. 262.
[28] Tony
Lane, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristen, hlm. 152
[29] David
J. Bosch, Transformasi Misi Kristen:
Sejarah Teologi Misi yang Mengubah dan Berubah, hlm. 381
[30] Norman
E. Thoman, Teks-teks Klasik Tentang Misi
dan Kekristenan Sedunia, hlm. 48-68
[31] Jonathan
E. Culver, Sejarah Gereja Umum, Bandung:
Biji Sesawi, 2013, hlm. 261
[32] Tony Lane, Runtut Pijar Sejarah
Pemikiran Kristen, hlm. 138
Comments
Post a Comment