MISIOLOGI: MISI DI ZAMAN KEMAJUAN 1792-1900an

  

MISI DI ZAMAN KEMAJUAN 1792-1900an

       I.            Pendahuluan

Pada pembahasan kali ini kita akan membahas mengenai Misi di zaman kemajuan 1792-1900an yang dimana pada masa perkembangan Protestan dan pada abad yang dikatakan sebagai abad terbesar Misi Protestan. Semoga makalah ini dapat menambah wawasan kita semua. Tuhan Yesus Memberkati.

    II.            Pembahasan

                        2.1.            Pengertian Misi

Istilah misi (mission) berasal dari Bahasa Latin, yaitu dari kata ‘missio’ yang diangkat dari kata ‘mittere’ yang berkaitan dehgan kata ‘missum’ yang berarti ‘to send’ (mengirim atau mengutus). Dalam Kristen dipahami bahwa misi adalah pengutusan, yang dilakukan oleh Allah sendiri melalui para hamba-hamba-Nya. Hal yang paling penting ditekankan dari ‘misi atau pengutusan Allah’ adalah berbicara tentang Allah yang mengutus. Ia adalah sumber atau dapat disebut sebagai inisiator, pelaksana dan penggenapan misi-Nya[1].

                        2.2.            Misi di Zaman Kemajuan

Abad ke-18 (1700-1800) disebut abad pencerahan. Selama abad ini terjadi perubahan dramatis dalam kebudayaan di Eropa. Di Eropa, orang makin percaya terhadap terang cerah akal dan daya pikir. Akal dipandang sebagai terang yang membimbing manusia. Segala tradisi di berbagai bidang kehidupan yang telah berlaku termasuk dalam dunia politik dan ilmu pengetahuan diteliti secara kritis dalam terang akal budi. Pencerahan sangat mempengaruhi kehidupan dalam gereja. Segala tuntutan terhadap kekuasaan dikaji dan diteliti dalam terang akal budi. Dogma-dogma gereja mulai diperiksa secara kritis. Dalam perspektif ini, peran Yesus lebih ditekankan sebagai guru yang mengajarkan moral yang agung; moral yang sebenarnya telah diketahui manusia berdasarkan akalnya. Kalau dalam abad-16 tradisi-tradisi kristen menekankan perbedaan satu dengan yang lain, maka abad ke-17 dan seterusnya, pokok yang utama ialah bagaimana mempertahankan teologi dan iman Kristen umumnya di tengah kecenderungan ilmu pengetahuan yang hanya mengakui otonmi akal. Dalam tahun 1800-1900, realitas penjajahan (kolonialisme) makin menonjol. Pada periode ini pula berlangsung dengan gencar berbagai gerakan zending atau pekabaran injil ke benua-benua lain. Matius 28:19-20, yang dipahami sebagai amanat agung untuk melakukan pekabaran injil. [2]

Banyak Lembaga Pekabaran Injil menyusul dalam tahun-tahun berikut:

-          Scottish Missionary (1796).

-          Religios Tract Society (1799, oleh C.F.A. Steinkopf).

-          Church Missionary Society (CMS, 1799): kalangan Evangelical dari gereja Anglikan. Barulah pada tahun 1841 didukung resmi oleh para uskup. Banyak utusan Jerman dan Swiss dipekerjakan oleh CMS.

-          American Board of Commissioners for Foreign Missions (1812).

-          Wesleyan Methodist Missionary Society (1813).

-          Basler Missions Gesselschaft (1815)

-          Rheinische Misi Gesselleschaft (1828).

Juga lembaga-lembaga Alkitab mulai didirikan sebagai alat pendukung pekabaran Injil

-          British and Foreign Bible Society

-          Nedherlansch Bijbel Genootschap

-          American Bible Society

-          India: Henry Martin bekerja di Serampore (1806-1813). Ia berhasil menerjemahkan atau merevisi Alkitab ke dalam tiga bahasa (Urdu, Persia, Arab). Alexander Duff dari Skotlandia mendirikan sekolah-sekolah untuk anak-anak dari keluarga-keluarga terkemuka.

-          Tiongkok: Pekabar Injil Protestan pertama yang pergi ke Tiongkok adalah Robert Morisson (LMS). Pada tahun 1807, ia tiba di Kanton. Pada tahun 1813 PB selesai disalin ke dalam bahasa Tionghoa, pada tahun 1819 PL juga. Orang pertama yang masuk Kristen adalah di tahun 1814. Seluruhnya hanya 10 orang yang dibaptisnya. Tahun 1813 William Milne datang; dialah yang membaptis Liang A-Fan, Liang kemudian ditahbiskan menjadi pendeta Tionghoa pertama. Tahun 1818 Anglo-Chinese College di Malacca dipindahkan ke Hongkong, Walter Medhurst menyelidiki tulisan-tulisan Tionghoa. Peter parker menjadi perintis jalan “medical mission” (pelayanan injil di bidang kedokteran). Karl Gutzalff (diutus oleh NZG, lantas berdiri sendiri) merencanakan penginjilan seluruh daratan Tiongkok dengan cara kolportase (penyebaran bacaan Kristen), tetapi pelaksanaan rencana itu menipunya. Justru idam idaman semacam itulah yang kemudian diambil alih Hudson Taylor. Perlu disebut pula gerakan Tai-Ping (Damai Besar) yang akhirnya menguasai sebagian besar negeri Tiongkok (1846-1862). Pemimpinnya adalah Hung Hsiu Chuan yang pernah menerima wahyu-wahyu setelah membaca sebuah buku Kristen (karangan Liang A-Fan!). Gerakan Tai-Ping berkembang menjadi kekuasaan militer dan politik yang di dalamnya ada unsur-unsur Kristen.[3]

Pada periode ini, sejarah misi juga diwarnai dengan gerakan pietisme yaitu, kegiatan rohani dari gereja-gereja Protestan untuk mencapai suatu kehidupan yang saleh (pia desiseria) di dunia ini, yang mengutamakan pertobatan pribadi dan keselamatan rohani, dimana benih gerakan ini sesungguhnya telah mucul pada abad ke 16 di Eropa, tetapi mencapai puncak pertumbuhan dan pengaruhnya pada abad ke-17 dan ke-18 baik di Eropa terlebih lagi di Amerika. Pada dasarnya gerakan pietisme yang lahir dari dua denominasi yang ada di Eropa yaitu dari Lutheran dan Calvinis, adalah sebagai kritik atas situasi kehidupan konkret gereja-gereja dan atas realitas sosial kemasyarakatan Eropa pada abad ke16 yang hampir tidak jauh berbeda. Sebagai gerakan rohani dalam gereja-gereja pietisme, di Eropa dan di Amerika, banyak bermunculan badan-badan pekabaran Injil. Badan-badan Zending ini dengan semangat yang besar siap mewartakan Injil ke seluruh dunia dan sembari dengan itu juga menanamkan pengaruhnya di tanah misi.[4]

                        2.3.            Sejarah Misi di Zaman Kemajuan

Pertengahan abad-19 merupakan masa kolonialisme di Asia dan Afrika. Pada masa itu banyak daerah “ditemukan”; kebudayaan dan teknik Barat mau disebarkan ke mana-mana. Ciri khas masa itu adalah optimism-kemajuan yang tak terbatas. Tidak dapat disangkal bahwa usaha PI sering mengikuti jejak perdagangan dan kolonialisme. Juga pekabaran Injil umumnya dipandang sebagai suatu sumbangan kea rah pendidikan dan “peningkatan taraf hidup bangsa biadab”. Dunia Barat merasa terpanggil untuk mendidik dunia luar menurut gambar dan rupanya sendiri”. Jepang baru dimasuki PI tahun 1958. Korea tahun 1882. Nama utusan injil yang termasyur itu adalah John Nevius. Di Filippina, pekerjaan penginjilan protestan barulah dimulai tahun 1898. Juga di Afrika berkatnya tidak sedikit, terutama setelah pelarangan perbudakan di Inggris (1834). Di antara orang-orang Kristen-Afrika, lahirlah banyak kelompok kecil yang menyebabkan banyak perpecahan. Dari tahun 1850-1900, jumlah orang Kristen di India berlipat ganda 10 kali. Di Amerika Serikat pada waktu itu terjadilah The Secound evangelical Awakening yang memengaruhi Eropa juga. Hasilnya antara lain adalah kesadaran baru akan panggilan orang Kristen untuk menyerahkan diri bagi perkabaran Injil.[5] Pada abad ke-19 sampai pada awal abad ke-20, sejarah misi dalam pengertian penyebaran iman Kristen atau pengembangan gereja ke luar daerah, baik yang dilakukan oleh gereja Katolik maupun oleh gereja-gereja Protestan mengalami perkembangan yang sangat pesat. Di kalangan gereja Katolik, hal itu terjadi demikian disebabkan oleh dua hal: Pertama, pada masa ini, baik ordo-ordo gereja seperti Societas Verbi Domini (SVD) maupun beberapa kongregasi hidup membiara seperti Spiritaner, Missionaris Lyon, sangat tergerak untuk mengkhususkan diri berkarya di daerah misi. Kedua, pada abad ke-19 sampai pada awal abad ke-20, juga semarak muncul dalam gereja, organisasi-organisasi baru yang berdiri untuk menunjang pertumbuhan dan kehidupan gereja Katolik di daerah misi. Beberapa dari organisasi tersebut adalah seperti: Opus Sancti Petri, Karya Penyebaran Iman, dan Persekutuan Kanak-Kanak Yesus” dari Takhta Suci, “Opus Sancti Petri” untuk imam-imam pribumi di daerah misi.[6] Sedangkan di kalangan gereja Protestan, semaraknya misi berupa penyebaran iman ke bangsa-bangsa lain, disebabkan karena pada masa abad ke19 sampai dengan awal abad ke-20, bagi para misionaris Protestan, pergi ke seberang lautan merupakan sebuah bentuk ketaatan terhadap perintah Tuhan yang telah memanggil dan mengutus mereka, untuk mewartakan cinta kasih dan khabar keselamatan kepada segala bangsa dalam rangka memenangkan jiwa-jiwa melalui pertobatan pribadi.[7]

Sampai pada menjelang berakhirnya era kolonial, misi gereja-gereja Barat masih menekankan pertobatan individu dan memandang penganut agama lain tidak memiliki kebenaran ilahi. Nilai-nilai positif yang terdapat dalam agama-agama lain tidak dihargai. Pandangan yang demikian ini didasari oleh asumsi teologis bahwa gereja ialah “umat terpilih” yang memperoleh prioritas penting dan superior atas dunia untuk mengemban Amanat Agung Kristus karena misi Allah dalam dunia hanya dipahami lewat gereja saja.[8] Pekerjaan misi oleh gereja-gereja Protestan dari dunia Barat ke dunia non Barat pada periode abad ke-19 sampai awal abad ke-20 juga diwarnai oleh adanya dua kelompok gereja Protestan yang pola pendekatannya dalam cara bermisi pada berbeda. Pada satu pihak, ada kelompok gereja Protestan yang pola pendekatan misinya bersifat ekumenikal, sementara itu ada kelompok gereja Protestan yang pola pendekatan misinya bersifat evangelical.[9] Golongan ekumenikal menitikberatkan segi antropologis dari Injil dan keselamatan yang berdampak sosial dan kemanusiaan secara utuh.Sedangkan golongan evangelikal menekankan segi transendental dengan dimensi spiritual individual dari Injil. Pemahaman misi kaum evangelical didasarkan pada “Amanat Agung” Kristus sebagaimana tertulis dalam Matius 28:19-20. “Amanat Agung” oleh kelompok evangelical dipandang sebagai amanat misi yang paling penting dalam Alkitab, sehingga baginya pertobatan dan kesalehan merupakan kunci keselamatan manusia. Polarisasi misi yang demikian, yang dibawa oleh gereja-gereja Protestan ke ladang misi menjadi fenomena global di lingkungan gereja-gereja Protestan di seluruh dunia.[10]

                        2.4.            Konteks Misi Pada Abad ke-18

1.      Masyarakat gereja di Barat (Gereja Katolik, Protestan, dan Pentakosta) diserbu oleh teologi liberal yang menyebabkan kehidupan rohani mereka merosot tajam. Gereja dipenuhi oleh orang-orang Kristen duniawi.

2.      Allah, iman, Alkitab, dan gereja semakin diabaikan, sementara kecenderungan untuk mengejar kenikmatan daging (dosa) semakin merebak. Hal itu membuat manusia semakin terpuruk dan terjebak di tengah kekacauan (Perang Dunia I dan II meletus pada masa itu.)

3.      Pada era pascamodern, dunia Barat dilanda oleh kehancuran ekonomi yang sangat parah, yang memengaruhi seluruh dunia.

4.      Masyarakat mulai mencari pegangan hidup yang dapat menjawab problem-problem yang dihadapi pada era tersebut.

5.      Muncul kekuatan-kekuatan baru yang menantang modernism yang mengandalkan akal budi:

-          Bangkitnya semangat keagamaan di kalangan nonkristiani yang menentang agama Kristen Barat yang telah tercemar dan budaya liberal.

-          Bangkitnya gerakan Pentakosta yang menekankan perasaan dalam beragama (pengalaman hidup penuh Roh Kudus) sebagai bentuk penolakan terhadap gereja-gereja yang menekankan akal budi.

-          Bangkitnya paham komunis di Asia, Afrika, dan Amerika Latin sebagai bentuk penolakan terhadap sistem ekonomi liberal Barat.

-          Bangkitnya kembali nilai-nilai agama dan kepercayaan lokal.

6.      Masyarakat dunia hidup dengan berbagai macam konsep.

-          Konsep iman, Allah, Alkitab, dan Kristus

-          Konsep agama-agama non-Kristen

-          Konsep liberal dengan hedonismenya.

-          Konsep komunisme yang mengutamakan ekonomi kesejahteraan.

-          Konsep karismatik, gerakan Pentakosta yang mencari kehidupan yang dipenuhi Roh Kudus yang menekankan iman (jika kita percaya, engkau tidak akan mengerti).

-          Konsep okultisme yang mengandalkan kekuatan gaib untuk mendatangkan kesejahteraan.[11]

                        2.5.            Tokoh-tokoh dalam Misi di Zaman Kemajuan

1.      Trio Serampore

·         William Carey (1761-1834)

William Carey lahir pada 17 Agustus 17616 di lingkungan pedesaan di Northamptonshire, Inggris.[12] Sebuah kapal menaikkan layarnya melawan angin bulan April dan bergerak di sungai Thames menuju Terusan Inggris. Kapal ini berlayar menuju India membawa William Carey, seorang tukang sepatu yang menjadi pengkhotbah gigih dan rekan misionarisnya dr. John Thomas. Kedua orang tersebut telah mengumpulkan dana, telah mengepak barang-barang mereka, dan pamit. Sekarang kapal tersebut menyusuri pantai Inggris sebelum menuju laut luas. Impian, doa dan persiapan bertahun-tahun tampaknya akan terkabul dalam kehidupan Carey.

Namun, laut yang ganas dan peperangan yang berbahaya antara Inggris dan Perancis mengakhiri persiapan Carey dan perjalanan dibatalkan. Tanpa dapat dihalangi, Carey yang menyebut dirinya "orang yang lamban" tetapi sesungguhnya adalah visioner yang tak kenal lelah, maju dengan susah payah menembus segala kesulitan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Renungkanlah caranya dibesarkan. Ayahnya seorang penenun yang mengajar di sekolah untuk menghidupi kelima orang anaknya William adalah anak sulung, dan ia gigih belajar membaca dan menulis, membaca cerita-cerita petualangan seperti Robinson Crusoe dan Gulliver's Travels. Kesehatannya tidak pernah baik, tetapi ia berhasil magang pada seorang pengrajin sepatu.

Pada usia tujuh belas tahun, ia memasuki sebuah gereja pembangkang dengan seorang teman dan berjanji kepada Kristus. Ia tinggalkan Gereja Anglikan yang membesarkannya, dengan mengabaikan nasihat ayahnya, dan kian hari kian aktif dengan para pembangkang itu. menikah dan mulai berkhotbah di gereja. Ia berjalan kaki sejauh delapan mil setiap hari Minggu untuk berkhotbah di gereja yang miskin sebuah kota tetangga. Ia mempelajari Perjanjian Baru dan bahasa Yunani dengan tekun serta menyulap sekaligus tiga pekerjaan yaitu tukang sepatu, guru sekolah dan pendeta.

Pada tahun 1800, keluarga Carey pindah ke Serampore, bergabung dengan sekelompok misioaris dari Denmark. Di sana mereka menyaksikan pertobatan yang pertama, sebagian karena hasil usaha anak tertua Carey, Felix, yang sekarang menjadi seorang Kristen. Kemudian sebuah gereja terbentuk dan terjemahan Perjanjian Baru dalam bahasa Bengali pun telah diselesaikan. Kesuksesan misi selama tiga dekade baru berawal Menjelang kematiannya pada tahun 1834, Carey menerjemahkan Alkitab dalam empat puluh empat bahasa atau dialek dan membuka beberapa sekolah. Berbagai pusat misi dengan aktif menginjili India dan sekitarnya, Burma dan Bhutan. Tetapi jauh di atas statistik itu Carey telah mengembangkan filsafat misi yang hidup dan mempraktikkannya.

Kesulitan tetap berlanjut. Keadaan sangat memprihatinkan, kesehatan mereka sangat buruk, Thomas berutang lagi dan tak seorang pun bertobat. Anak mereka yang paling kecil meninggal, dan dua lainnya menjadi liar. la mendahului waktunya, Carey sangat menghormati kebudayaan India dan melihat kebutuhan akan sebuah gereja (dengan adat istiadat setempat) India. Daripada mencela agama Hindu, ia menegaskan kematian dan kebangkitan Kristus.[13] East India Company melarang penginjilan, karenanya Carey beralih pekerjaan, yaitu menjadi pengelola pabrik nila di pedalaman India. Istri Carey tidak tahan hidup di tempat tersebut sehingga ia mengalami gangguan jiwa; dan ini berakibat berat bagi perkembangan anak-anak mereka. Namun, William Carey memakai kesempatan hidup terpencil di perkebunan untuk belajar bahasa Sanskrit dan bahasa Bengali.

Carey menganggap penelitian agama dan kebudayaan India sebagai tugas misi yang tidak boleh diabaikan. Ia menyusun buku tata bahasa Sanskrit. Pakar kesusastraan India menilai Carey sebagai pendiri sastra prosa dalam bahasa Bengali sehari-hari, dibanding dengan puisi yang dikarang sebelumnya dalam bahasa tinggi, yang tidak dapat dimengerti oleh orang biasa. Carey juga menerjemahkan Ramayana ke dalam bahasa Inggris.[14]

Pada tahun 1801 Carey membuka sebuah sekolah untuk mendidik orang-orang pribumi India agar menjadi pendeta di India. Carey mengajar bahasa Sansekerta, begali dan Marati. Ia mengajar selama tiga puluh tahun. Sementara itu Carey terus menerjemahkan Alkitab atau bagian-bagian Alkitab kedalam bahasa Bengali dan bahasa-bahasa lainnya. Terjemahan Alkitab lengkap diterbitkan pada tahun 1809.[15]

·         Joshua Marshman (1768-1837)

Joshua Marshman adalah seorang misionaris Kristen Inggris di Bengal, India. Misinya melibatkan reformasi sosial dan debat intelektual dengan orang-orang Hindu terpelajar seperti Raja Ram Mohan Roy. Joshua Marshman lahir pada tanggal 20 April 1768 di Inggris di Westbury Leigh, Wiltshire. Dari keluarganya sedikit yang diketahui, kecuali bahwa mereka menelusuri keturunan mereka dari seorang perwira di Angkatan Darat Cromwell, salah satu dari kelompok yang, pada Restorasi, melepaskan, demi hati nurani, semua pandangan tentang peningkatan duniawi, dan pensiun ke pedesaan. untuk menghidupi dirinya sendiri dengan industrinya sendiri.

Ayahnya John melewati bagian awal hidupnya di laut dan terlibat dalam Hind, fregat Inggris yang dipimpin oleh Kapten Robert Bond, pada tahun 1759 merebut Quebec. Tak lama setelah itu, dia kembali ke Inggris dan pada 1764 menikah dengan Mary Couzener. Dia adalah keturunan dari keluarga Prancis yang mencari perlindungan di Inggris setelah pencabutan Edict of Nantes; setelah pernikahannya dia tinggal di Westbury Leigh dan berdagang sebagai penenun. Pada tanggal 29 Mei 1799 Marshman, istri dan kedua anaknya berangkat dari Portsmouth menuju India dengan kapal Criterion. Meskipun ada ancaman serangan angkatan laut Prancis, keluarga tersebut mendarat dengan selamat di pemukiman Denmark di Serampore, beberapa mil di utara Kalkuta, pada 13 Oktober 1799.

Seperti Carey dengan siapa dia bekerja, Marshman adalah seorang sarjana yang berbakat dan berbakat. Marshman dan Carey bersama-sama menerjemahkan Alkitab ke banyak Bahasa India serta menerjemahkan banyak sastra klasik India ke dalam bahasa Inggris, yang pertama adalah terjemahan Ramayuna of Valmeeki tahun 1806. Marshman memiliki peran penting dalam perkembangan surat kabar India. Dia adalah pendukung tajam dari perkembangan baru dalam praktik pendidikan dan tertarik untuk mendorong pengajaran sekolah dalam bahasa lokal, meskipun otoritas kolonial lebih suka pelajaran diberikan dalam bahasa Inggris.

Pada tanggal 5 Juli 1818, William Carey, Joshua Marshman dan William Ward (anggota lain dari tim misionaris mereka) mengeluarkan prospektus (ditulis oleh Marshman) untuk usulan "Perguruan Tinggi untuk pengajaran Asiatik, Kristen, dan pemuda lainnya dalam sastra Timur dan ilmu Eropa". Maka lahirlah Serampore College yang masih berlanjut hingga saat ini. Kadang-kadang dana sangat ketat, dan setelah rumor singkat dan palsu yang menuduh penyalahgunaan dana menyebabkan aliran dana yang dikumpulkan oleh Ward di Amerika mengering, tulis Carey.

·         William Ward (1769-1823)

William Ward adalah seorang pencetak dan editor, bertemu dengan William Carey tepat sebelum Carey berlayar ke India. Carey mengundang Ward untuk mendirikan percetakan di sana untuk menerjemahkan Kitab Suci, dan pada tahun 1799 Ward tiba bersama Marshman dan lainnya. Dia kemudian menikah dengan janda sesama misionaris John Fountain. Ward mendirikan pers misi pertama di India Utara. Dia juga menerjemahkan, menulis, dan berkhotbah di setiap kesempatan; beberapa menganggapnya pengkhotbah terbaik Serampore. Dua tahun setelah kedatangannya, dia berkeliling ke pedalaman dengan orang yang pertama kali bertobat, Krishna Pal, berkhotbah dan membagikan Kitab Suci. “Pengetahuannya tentang karakter dan kebiasaan penduduk asli melampaui salah satu rekannya,” tulis seorang pengamat, “dan hanya sedikit orang Eropa yang lebih berhasil dalam berurusan dengan penduduk asli.”

Ward memiliki simpati radikal yang dua kali membawanya ke pengadilan selama masa editorialnya di Inggris. Dia pernah menjadi bagian dari masyarakat politik yang "dipertanyakan" dan "tertanam dalam gagasan demokrasi yang diciptakan oleh Revolusi Prancis". Dia dibebaskan dua kali. Di India, keingintahuan intelektual Ward berkembang pesat. Setelah penelitian selama beberapa tahun, dia menulis A View of the History, Literature, and Mythology of the Hindoos, termasuk deskripsi singkat tentang tata krama dan kebiasaan mereka, dan terjemahan dari karya utama mereka. Dia kemudian bekerja dengan Joshua Marshman dalam memproduksi majalah India. Bagi William Carey, Ward adalah anugerah. Ward berusia 30 tahun ketika dia datang ke Serampore, dan dia menarik perhatian seorang remaja Felix Carey, yang pasti akan mendapat masalah. Felix segera bekerja di pers, dan di bawah pengaruh Ward, dia menjadi seorang Kristen. “Betapa sering dia menopangku,” kata Felix, “ketika kakiku hampir terpeleset! Dia adalah ayah rohani saya.”[16]

2.      James Hudson Taylor

James dilahirkan di Barnsley, Inggris, anak seorang ahli kimia. Pada usia 17 tahun mengalami pertobatan mendalam, yang diikuti oleh panggilan yang hidup untuk pergi ke Tiongkok, yang tertutup bagi misionaris kecuali untuk lima pelabuhan yang termasuk dalam perjanjian. James diutus ke Tiongkok oleh Chinese Evangelization Society (perhimpunan penginjilan Tiongkok). Pada tahun 1854 ia segera bereaksi terhadap pendekatan gabungan misi yang berlaku, sambil mengidentifikasikan diri dengan bangsa Tiongkok dan berusaha menjangkau wilayah pedalaman Tiongkok. Taylor memulai sebuah model misi dengan “misi iman” pada tahun 1865 yang kelak menjadi China Island Mission (misi daratan Tiongkok). Motivasi misinya, dengan fokus pra-milenialnya.

Misi Katolik Roma sudah bekerja di Tiongkok sejak abad ke- 16. Tetapi kegiatan Protestan baru mulai sesudah tahun 1840, dalam keadaan yang tidak begitu menguntungkan. Tiongkok telah menutup diri terhadap pengaruh dari luar berabad-abad lamanya. Orang-orang Yesuit juga hanya dapat bekerja kalau menyesuaikan diri dengan adat-istiadat Tionghoa. Namun pada tahun 1842 Inggris melalui perang memaksa Tiongkok membuka perbatasannya bagi orang-orang Barat memberi kesempatan kepada utusan-utusan Injil untuk masuk. Mereka menyesali peristiwa yang membuka kesempatan bagi mereka itu, tetapi mereka tidak mau melalaikan kesempatan tersebut. Hanya, bagi orang-orang Tionghoa hal itu menimbulkan yang jelek, yaitu bahwa pekabaran Injil merupakan hasil sampingan dari invasi asing.

Setelah 20 tahun ada kira-kira 100 orang utusan Injil bekerja di Tiongkok. Suatu jumlah yang sebenarnya belum berani apa di negeri raksasa itu. Salah seorang diantaranya ialah Hudson Taylor, yang pada tahun 1860, setelah melayani selama 7 tahun, terpaksa pulang karena kesehatannya kurang baik. Sekembalinya ke Inggris, ia tetap merasa gelisah mengingat nasib begitu banyak orang yang belum pernah sampai mendengar Kabar Baik la mendirikan badan baru, yaitu China Inland Mission (CIM, Lembaga PI untuk pedalaman Tiongkok setelah diusir dari Tiongkok oleh rezim kom 1951, namanya diubah menjadi Overseas Mission Fellowship, OMF. Asas utamanya para utusan Injil harus mengenakan pakaian Tionghoa dan harus sebanyak mungkin menyamakan diri dengan orang-orang Tonghoa. Dan mereka tidak boleh bekerja di satu tempat saja, tidak boleh melayankan penggembalaan dan pendidikan, tetapi harus berkelling terus-menerus untuk membawa Injil kepada sebanyak mungkin orang. CIM menjadi lembaga paling besar di Tiongkok dan bekerja sampai ke daerah-daerah paling terpencil.[17]

3.      Jhon R Mott

Mott adalah seorang tokoh besar dalam kegiatan penginjilan di kalangan mahasiswa di berbagai universitas di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20. Dia juga dikenal sebagai seorang tokoh pergerakan oikumene di dunia yang tiada tandingnya. Mott dilahirkan pada 25 Mei 1865 di Postville, Iowa, USA. Ayahnya bernama John Stitt Mott dan ibunya bernama Elmira Dogde. Ayah John Mott bekerja sebagai pedagang kayu dan John Mott biasa membantu ayahnya dalam usaha tersebut. Pada umur 13 tahun John mengalami pertobatan dan dia menggabungkan diri dalam gereja Metodist.

Pada 1881, Mott belajar pada Upper Iowa University selama 4 tahun. Sekolah ini adalah milik gereja Metodis sehingga proses belajar-mengajarnya diwarnai oleh kekristenan. Setelah itu Mott melanjutkan studinya ke Universitas Cornell. Di sinilah Mott memulai kegiatan pekabaran Injil. Sebenarnya Mott ke Cornell agar dia dapat bekerja pada pekerjaan duniawi atau meneruskan usaha ayahnya. Di Cornell, dia segera terpilih menjadi wakil ketua Young Men Christian Association (YMCA) cabang Cornell. Dia giat memberitakan Injil di kalangan mahasiswa dan memimpin kebaktian di penjara-penjara. Pada tahun 1888 dia menyelesaikan studinya di Cornell. Sebenarnya Mott sudah tertarik kepada pekerjaan penginjilan sejak di Fayette. Pada waktu dibukanya cabang YMCA, Mott sudah melibatkan diri dalam organisasi oikumenis ini. Kemudian, dia pindah ke Cornell guna belajar ilmu hukum agar kelak dapat bekerja di lapangan politik. Dia memulai studinya di Cornell tahun 1885. Di Cornell, Mott bergumul tentang cita-citanya dengan panggilan Allah. Pada akhirnya dia tunduk kepada panggilan Allah. Lalu, dia bersahabat dengan D.L. Moody.

Pada musim panas, YMCA mengadakan konferensi mahasiswa internasional yang mana D.L. Moody menjadi ketua konferensinya. Mott menghadiri konferensi ini sebagai wakil dari Cornell. Dalam konferensi ini Mott memutuskan untuk menjadi seorang penginjil bersama dengan 100 mahasiswa lainnya. Inilah permulaan lahirnya Student Volunteer Movement for Foreign Missions (Gerakan Mahasiswa Sukarela untuk Pekabaran Injil ke Luar Negeri). Tahun 1886, Mott menjadi ketua Student Christian Movement di Cornell. Dia bekerja keras untuk menjalankan kegiatan-kegiatan gerakan ini di Cornell. Dari sinilah Mott belajar untuk mengumpulkan mahasiswa dari berbagai denominasi. Sejak semula dia telah berniat untuk mengusahakan kerja sama antara semua gereja. Dia berkata: "Kita harus awas! Jangan kita menyangka bahwa gereja kita sendiri adalah satu-satunya gereja. Kita harus selalu menghormati semua cabang dari gereja yang Kudus dan am."

 Setelah tamat dari Cornell, Mott segera menjadi sekretaris YMCA USA dan Kanada. Dia sekarang mengunjungi seluruh universitas dan perguruan tinggi di Amerika Serikat dan Kanada. Dia juga menjadi ketua dari Student Volunteer Movement for Foreign Missions. Pekerjaannya makin hari makin berat. Tahun 1891, Mott ke Amsterdam untuk menghadiri konferensi YMCA sedunia. Sekarang, dia terdorong untuk membentuk suatu federasi dari seluruh gerakan mahasiswa Kristen sedunia. Dia berkali-kali berkunjung ke Eropa sambil mengutarakan rencana tersebut. Rencananya itu akhirnya berhasil, yaitu dengan terbentuknya Federasi Mahasiswa Kristen sedunia. Dia sendiri terpilih sebagai sekretarisnya. Sebagai sekretaris umum, maka dia mengunjungi banyak negara di dunia. Walaupun John R. Mott hanya tercatat sebagai seorang anggota gereja biasa yang tidak belajar teologi secara formal, akan tetapi, dia sangat berjasa bagi gereja di dunia. Dia orang yang selalu optimis dan dinamis. Semboyannya yang terkenal adalah: "Biarlah mereka maju. Tahun-tahun yang terbaik masih di hadapan kita."[18]

4.      J.H. Oldham

Joseph Houldsworth Oldham (1874 - 1969) yang dikenal sebagai JH Oldham atau Joe Oldham adalah pelayan Gereja Bebas Bersatu dan misionaris berkebangsaan Skotlandia yang juga aktif dalam gerakan ekumenis seperti Dewan Misi Internasional (IMC) dan Hidup dan Karya (Life and Work). Oldham lahir di Bombay, India pada 20 Oktober 1874 sebagai anak tertua dari Kapten George Wingate Oldham dari Royal Engineers. Tahun 1881, keluarga Oldham kembali ke Inggris. Ia menerima pendidikan teologi di Trinity College, Oxford sejak tahun 1892 sampai 1896. Aktivitasnya dalam gerakan ekumenis telah terlihat sejak Konferensi Misi se-Dunia yang diadakan di Edinburgh 1910.  Ia juga diangkat sebagai sekretaris dari Dewan Misi Internasional (IMC) sejak 1921 sampai 1938. Oldham memberi sumbangan besar bagi berdirinya Dewan Gereja-gereja se Dunia dengan visinya mengenai satu badan yang global yang berakar pada gereja -gereja dan mengidentifikasi berbagai elemen yang mengembangkan gerakan ekumenis. Sebuah badan yang menjadi instrumen bagi gereja-gereja. Ia bersama beberapa tokoh ekumenis seperti William Temple, WA Visser 't Hooft, dan Nathan Söderblom, berniat untuk membentuk suatu organisasi yang menaungi gerakan ekumenis sedunia. Pada tahun 1838 dibentuklah panitia persiapan Dewan Gereja-gereja se Dunia yang berhasil diresmikan sepuluh tahun kemudian di Sidang Raya-nya yang pertama di Amsterdam 1948. Oldham meninggal pada 16 Mei 1969 di London.[19]

5.      Kaum Perempuan (1890)

Tahun 1890 kaum perempuan mewakili 60 persen misionaris protestan dari Amerika Serikat. Tahun 1800 Mary Webb mendirikan lembaga perempuan Boston untuk tujuan misi, melaluinya jemaat perempuan dari gereja Kongregasionalis & Babtis menyokong upaya-upaya misi Inggris & Amerika Serikat baik secara fiancial maupun spiritual. Saat itu banyak wannita mau menjadi istri misionaris. Tahun 1837 Mary Lyon mendirikan seminasi wanita Mount Holyoke di South Hadley Massachusetts, guna menyediakan pendidikan tinggi memadai dan lengkap untuk dipersiapkan sebagai tenaga pendidik. Dipengaruhi KOMITMEN Mary Lyon, banyak lulusan Mount Holyoke terlibat secara aktif dalam karya misi dalam dan luar negri.

Di seberang Samudra Atlantik tahun 1834 didirikan lembaga misi Inggris. Untuk memajukan pendidikan perempuan di Timur, mereka mengutus pendidik perempuan ke India. Gereja Methodist Amerika pada tahun 1830-1850an mendukung sejumlah perempuan lajang dalam pekerjaan misi. Lembaga misi asing perempuan (Woman’s Foreign Missionary Society- WFMS) dari gereja Episkopal Methodist. Ini disebut karya perempuan untuk perempuan. Agama kristen membawa kemajuan perempuan dalam perang dunia. Missionaris perempuan yang paling terkenal saat ini adalah Charlotte (Lottie) Moon missionaris perempuan Amerika Utara yang paling terkenal pada waktu ini. Selama 40 tahun di bagian Utara Cina dia tidak hanya mengajar anak-anak tapi menginjili kaum perempuan Cina. Dia mendesak apa perempuan gereja. Babtis Selatan membentuk organisasi missioner mereka sendiri. Mendesak perempuan untuk berangkat ke Cina sebagai missionaris.

Hudson Taylor memberangkatkan missionaris berdua-dua ke China. Pada awal abad ke-20, kaum perempuan melebihi jumlah kaum pria. Pembentukan Aliansi misi injili tahun 1887 merupakan peristiwa bersejarah di Amerika Serikat. Aliansi ini menandakan bahwa kaum perempuan dapat berkarya sebaga seorang penginjil di bawah persyaratan yang sama dengan laki-laki pergi kemana saja Allah memanggil mereka. 19 Desember 1797 J. Th Van De Kemp 939 anggota NZG. 358 adalah wanita sebelum abad ke-20 mereka diutus ke luar negri.[20]

 III.            Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Misi di zaman kemajuan 1792-1900an adalah masa perkembangan Protestan dan pada abad yang dikatakan sebagai abad terbesar Misi Protestan. Masyarakat gereja di Barat (Gereja Katolik, Protestan, dan Pentakosta) diserbu oleh teologi liberal yang menyebabkan kehidupan rohani mereka merosot tajam. Gereja dipenuhi oleh orang-orang Kristen duniawi. Dan adapun tokoh-tokoh missionaris yang dicantumkan di atas mereka memiliki hambatan masing-masing dalam melakukan misi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 IV.            Daftar Pustaka

Sumber Buku

Artanto, Widi, Menjadi Gereja Misioner, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997.

Curtis, A. Kenneth, dkk, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, Jakarta: BPK-GM, 2016.

Drewes, B.F dan Mojau, Julianus, Apa Itu Teologi? Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010.

End, Thomas Van Den, Harta Dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015.

Enos, I. Nyoman, Penuntun Praktis Misiologi Modern, Bandung: Kalam Hidup, 2012.

Hartono, Christ, Pietisme di Eropa dan Pengaruhnya di Indonesia, Jakarta: BPK Gunung Mulia,1974.

Jonge, Christian de & Aritonang, Jan, Apa dan Bagaimana Gereja? Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.

Kuiper, Arie De, Misiologi, Jakarta: Bpk Gunung Mulia, 2022.

Ruck, Anne, Sejarah Gereja Asia, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011.

Siwu, Richard AD, Fenomena modern Gerakan Misi Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997.

Suleeman, Ferdinand, Bergumul Dalam Pengharapan, Jakarta: BPK.Gunung Mulia, 1999.

Tomatala, Yakob, Teologi Misi, Jakarta: Leadership Foundation, 2003.

Verkuyl, J, Injil dan Komunisme di Asia dan Afrika, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1966.

Wellem, F. D., Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja, Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 2009.

 

 

Sumber Lain

https://www.christianitytoday.com/history/issues/issue-36/rest-of-serampore-trio.html diakses pada tanggal 11 Maret 2023, pukul 17:40.

https://misi.sabda.org/john-raleigh-mott diakses pada tanggal 12 Maret 2023, pukul 16:30.

https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/J.H._Oldham diakses pada tanggal 12 Maret 2023, pukul 20:00.

Mehamad Wijaya, Tambahan Dosen, pada tanggal 6 Maret 2023.

 



[1]Yakob Tomatala, Teologi Misi (Jakarta: Leadership Foundation, 2003), 16.

[2] B.F Drewes dan Julianus Mojau, Apa Itu Teologi? (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010), 53-56.

                [3] J.Verkuyl, Injil dan Komunisme di Asia dan Afrika, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1966), 19-21.

                [4] Christian de Jonge & Jan Aritonang, Apa dan Bagaimana Gereja? (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993) 48.

                [5] Arie De Kuiper, Misiologi (Jakarta: Bpk Gunung Mulia, 2022) 84.

                [6] Ferdinand Suleeman, Bergumul Dalam Pengharapan (Jakarta: BPK.Gunung Mulia, 1999) 133.

                [7] Widi Artanto, Menjadi Gereja Misioner (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1997) 179.

                [8] Widi Artanto, Menjadi Gereja Misioner, 179.

                [9] Christ Hartono, Pietisme di Eropa dan Pengaruhnya di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia,1974) 13-39.

                [10] Richard AD Siwu, Fenomena modern Gerakan Misi Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997), 304.

                [11] I. Nyoman Enos, Penuntun Praktis Misiologi Modern (Bandung: Kalam Hidup, 2012) 64-65.

[12] F. D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja (Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 2009), 53. 

[13] A. Kenneth Curtis, dkk, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen (Jakarta: BPK-GM, 2016), 113-115.

[14] Anne Ruck, Sejarah Gereja Asia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), 121-122. 

[15]F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh Sejarah Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), 54.

[17] Thomas Van Den End, Harta Dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015), 322-323.

[18] https://misi.sabda.org/john-raleigh-mott diakses pada tanggal 12 Maret 2023, pukul 16:30.

[19] https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/J.H._Oldham diakses pada tanggal 12 Maret 2023, pukul 20:00.

[20] Mehamad Wijaya, Tambahan Dosen, pada tanggal 6 Maret 2023. 

Comments

Popular posts from this blog

TAFSIRAN KITAB 1 TESALONIKA 3:1-13 MENGGUNAKAN METODE KANONIKAL

Teologi PL: ARTI DAN MAKNA FORMULASI BERKAT MENURUT KITAB BILANGAN