MISIOLOGI: KESAKSIAN SEBAGAI MISI
KESAKSIAN
SEBAGAI MISI
I.
Pendahuluan
Secara umum kesaksian adalah
keterangan yang diberikan oleh saksi sedangkan, misi
merupakan suatu tugas yang gereja tanggapi sebagai amanat atau perintah
langsung dari Tuhan Yesus dalam rangka peranannya di dunia ini. Misi bukanlah
pilihan yang dapat dipertimbangkan tetapi misi adalah suatu perintah yang harus
dilaksanakan. Tujuan dari misi yaitu memulihkan hubungan manusia dengan Allah
dan memuliakan Allah. Misi juga merupakan rancangan damai sejahtera dari Allah
untuk menyelamatkan dan menyatakan kerajaan-Nya di dunia, yang harus dikerjakan
oleh setiap orang percaya lewat pelayanan kepada sesama.
II.
Pembahasan
2.1 Pengertian
Misi
Istilah Missiologia berasal dari kata
Latin missio yang artinya pengutusan. Inggris/Jerman/Perancis Mission,
Belanda Missie dipergunakan dalam kalangan Gereja Roma Katolik. Dalam
bahasa Inggris bentuk tunggal Mission berarti karya Allah atau tugas
yang diberikan oleh Tuhan kepada kita, sedangkan bentuk jamak Missions
menandakan kenyataan praktis atau pelaksanaan pekerjaan itu.[1]
Kata missio adalah bentuk substantif
dari kata kerja mittere yang mempunyai beberapa pengertian dasar yaitu
membuang, menembak, membentur, mengutus, mengirim, membiarkan pergi, dan
melepaskan pergi. Namun, kalangan gereja pada dasarnya menggunakan kata mittere dalam
pengertian mengutus atau mengirim. Di dalam gereja istilah “misi” digunakan
baik untuk menunjuk kegiatan yang lebih luas dan umum yakni menyangkut semua
kegiatan gerejawi.[2]
Misi Kristen tidak berarti membangun sesuatu,
melainkan memaklumkan sesuatu yang sudah dibangun Allah. Misi gereja berakar di
dalam sebuah realitas yang diciptakan dan dikerjakan Allah. Misi bukan suatu
kegiatan gereja, melainkan suatu kegiatan Allah. Dunia tidak diselamatkan oleh
suatu misi gereja, melainkan oleh suatu misi Allah.[3]
2.2 Pengertian
Kesaksian
Sebuah kesaksian adalah kesaksian rohani yang diberikan
melalui Roh Kudus. Dasar dari sebuah kesaksian adalah pengetahuan bahwa Bapa
Surgawi hidup dan mengasihi kita, bahwa Yesus Kristus hidup, bahwa Dia adalah
Putra Allah.[4] Secara umum kesaksian
adalah keterangan yang diberikan oleh saksi. Kehadiran saksi adalah untuk
memberikan keterangan terhadap apa yang telah dilihatnya melalui kasat mata
terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi pada waktu sebelumnya. Kesaksian sebagai misi. Dalam konteks
ini "kesaksian" kedengarannya lebih rendah hati. Idenya adalah misi
itu bukan untuk membanggakan tindakan-tindakan besar yang dilakukan gereja,
tetapi untuk menyadari karya Allah yang besar. Landasan Alkitab yang biasa
dipakai untuk pemahaman ini adalah Kis. 1:8. Di sini para rasul dipanggil
bukan memberi kesaksian verbal melainkan menjadikan diri mereka sebagai saksi.[5]
2.3 Misi
Dalam Perjanjian Lama
Misi
merupakan kepedulian Tuhan atas ciptaan yang telah jatuh. otoritas-Nya adalah
cara menyatakan kepeduliaan-Nya. Dalam hal ini umat Israel dipilih sebagai
alat-Nya. Israel adalah alat Tuhan yang mempunyai keunikaan status dan peran
istimewa bagi bangsa-bangsa di seluruh muka bumi.
1. Status
Israel
Status
Israel adalah keturunan Abraham yang memiliki keistimewaan. Istimewanya adalah
Tuhan berkenan mengangkat mereka sebagai umat-Nya. Status yang diberikan Tuhan
kepada Israel bukan semata-mata karena mereka lebih baik dari bangsa lain akan
tetapi Tuhan konsisten dengan apa yang menjadi janji-Nya.[6]
2. Nilai
Misi Israel
Masa
perbudakan di Mesir adalah masa-masa persiapan bagi bangsa Israel sebagai umat
Tuhan. Keberadaan Israel selama masa perbudakan di Mesir memiliki nilai misi
bagi Tuhan. Dengan kata lain keberadaannya yang negatif, bisa berdampak positif
karena Tuhan terlibat didalam peristiwa itu. Kebenaran ini juga dapat menjadi
pelajaran bagi gereja Tuhan masa kini. Kedaulatan Tuhan tidak akan membiarkan
segala sesuatunya menjadi sia-sia. Ada dua nilai misi dalam hal ini.
Yang
pertama bersifat internal, dalam arti misi itu lebih diarahkan kepada umat
Israel sendiri agar taat dan menyadari bahwa mereka adalah umat Tuhan yang
harus memerankan kelayakannya sebagai umat pilihan. Inilah persyaratan yang
telah disampaikan kepada Musa di Sinai. Artinya umat Israel sendiri haruslah
hidup dengan standar kebenaran dan kekudusan Tuhan. Yang kedua, misi yang
bersifat eksternal. Tindakan Tuhan yang bersifat misi, berkenaan dengan
menuntun umat-Nya ke tanah perjanjian bukan memperlihatkan kekuatan-Nya atas
bangsa-bangsa lain yang memusuhi umat-Nya. Tetapi menyatakan belaskasih-Nya
kepada mereka (non Israel) yang bertobat (menyambut) kedatangan Israel.[7]
3. Masa
Gelap Israel
Dalam
sejarahnya, bangsa Israel sebagai bangsa pilihan, tidak pernah menikmati
berkat-berkat ilahi yang dijanjikan kepada leluhurnya. Diulang kembali oleh
Musa dengan ketetapan berkat dan kutuk. Masa pembuangan memang menjadi titik
balik sejarah Israel bagaimana mereka secara ketat mentaati hukum Taurat yang
dipelopori oleh Ezra dan kepemimpinan Nehemia. Namun, selama masa hampir empat
abad setelah Maleakhi bernubuat, bangsa Israel mengalami atau melewati
masa-masa yang gelap penuh dengan penderitaan dan ketidakpastian. Masa-masa
ketidakpastian dan penindasan oleh bangsa-bangsa lain, menguji mereka. Apakah
mereka itu menyadari statusnya dan bagaimana dengan statusnya itu mereka hidup
benar sesuai dengan Hukum Taurat.[8]
Misi Allah dalam Perjanjian Lama
adalah misi yang universal, artinya misi Allah yang bukan hanya bagi
orang-orang Israel saja, melainkan misi Allah yang juga ditujukan bagi
bangsa-bangsa lain. Sedikitnya ada tujuh alasan yang menjelaskan hal tersebut
yaitu pertama, bahwa Allah memulai sejarah umat manusia secara universal. Kedua,
misi bersumber dari Allah. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, Allah mengambil
inisiatif untuk mencari mereka. Allah memberikan janji keselamatan. Ketiga, menjadi
tujuan akhir perjanjian dengan Abraham (Kej. 12:1-3). Abaraham adalah alat Misi
Allah, bukan tujuan. Melalui Abraham dan keturunannya Allah ingin memberkati
bangsa-bangsa. Keempat, menjadi tujuan pembebasan dari Mesir. Pemberian tulah
kepada bangsa Mesir bukan hanya untuk memberi kebebasan bagi bangsa Israel.
Jenis tulah yang diberikan pun bertujuan untuk membuktikan bahwa TUHAN adalah
satu-satunya Allah, bukan beragam dewa Mesir. Kelima, menjadi tujuan perjanjian
Sinai (Kel. 19-20). Pemilihan Israel tidak berarti penolakan terhadap
bangsa-bangsa lain. Pemilihan tersebut justru merupakan sarana untuk
keselamatan seluruh bangsa. Israel dibangkitkan untuk menjadi imam bagi bangsa
lain. Keenam, munculnya tokoh-tokoh non Israel. Perjanjian Lama secara
konsisten menunjukkan individu-individu tertentu yang berada dalam pemeliharaan
dan pelayanan Allah. Ketujuh, perhatian Allah terhadap bangsa-bangsa lain.
Hukum Musa memberikan perlindungan dan hak khusus bagi bangsa-bangsa non
Israel. Contoh yang paling terkenal adalah kemurahan Allah yang besar atas
bangsa Niniwe yang begitu jahat (Yun. 4:11). Misi kesaksian Perjanjian Lama
yaitu Yun. 4:11, Kej. 12:1-3, Kel. 1:9, Yes. 45:22-23, dan Yes. 49:6.
Dengan demikian dapat dikemukakan
bahwa, misi menurut Perjanjian Lama adalah misi Allah yang universal. Misi
Allah bukan hanya bagi umat Israel saja, melainkan misi Allah adalah penggenapan
karya keselamatan bagi bumi. Penggenapan keselamatan itu dialami oleh bangsa
Israel melalui proses pendidikan/pengajaran yang sangat panjang sejak dari
pemanggilan Abraham.[9]
2.4 Misi
Dalam Perjanjian Baru
Secara
substansial, antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tidak berbeda. Hakikat
misi adalah kepedulian Tuhan atas ciptaan-Nya (yang telah jatuh). Perbedaannya
hanya terletak dalam cara bagaimana Tuhan menyatakan kepedulian-Nya itu. Kalau
pada Perjanjian Lama (PL) Israel secara khusus sebagai misi Tuhan yang orientasinya
adalah mencakup segenap kaum di muka bumi. Sementara pada Perjanjian Baru (PB),
peran kekhususan Israel itu telah diambil alih oleh gereja Tuhan yang terdiri
dari berbagai bangsa. Itu berarti hidup orang percaya (gereja) bernilai bagi
misi-Nya.[10]
Matius
28:18-20 menjadi dasar bagi umat Kristen dalam melaksanakan misi bagi orang
lain karena pada ayat tersebut tersirat perintah untuk melanjutkan pelayanan
Yesus Kristus memberitakan Injil.[11]
Ayat ini memuat tiga perintah yang harus dilakukan oleh para murid Yesus untuk
melaksanakan pelayanan misi yaitu, pertama menjadikan semua bangsa murid Yesus,
kedua membaptis orang-orang yang menerima Yesus Kristus dalam nama Bapa, Anak
dan Roh Kudus, dan yang ketiga mengajarkan mereka segala sesuatu yang telah
diajarkan Yesus Kristus. Yesus telah melaksanakan misi Allah, maka murid-murid
pun harus melakukan dan melanjutkan misi tersebut. Sebelum Yesus naik ke sorga,
Ia telah berkali-kali melakukan pengutusan bagi murid-murid-Nya sebagai cara
untuk melatih para murid melaksanakan misi Allah agar mereka tahu dan paham
tentang tujuan Yesus datang kedalam dunia ini.
Pengutusan
murid-murid kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel untuk memberitakan
Kerajaan Sorga sudah dekat dan dalam pengutusan tersebut ada kuasa dan tugas
yang diberikan, yaitu menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, dan
mengusir setan-setan. Sebab mereka telah menerima dengan cuma-cuma, maka para
murid juga harus memberikan dengan cuma-cuma (Mat. 10:5-15). Misi penyembuhan dilakukan
oleh seorang yang disembuhkan Yesus dari roh jahat di Gerasa dimana Yesus
mengutusnya kembali ke kampungnya untuk memberitakan bagaimana Allah melakukan
perbuatan yang besar kepadanya (Mrk. 5:19-20). Pelayanan serupa dilakukan oleh
Paulus ketika sudah bertobat dari kejahatannya mengejar dan membunuh pengikut
Yesus. Paulus melakukan pemberitaan Injil ke berbagai daerah. Pemanggilan dan
pengutusan Paulus terjadi di jalan menuju Damsyik. Allah menyatakan bahwa
Paulus adalah alat pilihan-Nya untuk memberitakan Injil kepada orang-orang non Yahudi
(Kis. 9:15).
Paulus
adalah misionaris yang telah membuat banyak orang bertobat dan menerima Injil
dalam pelayanannya. Dalam kitab Kisah Para Rasul 1:8 dikatakan “Tetapi kamu
akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi
saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”
Dalam ayat ini ada tiga hal yang ditekankan, yaitu penginjilan merupakan tugas
bersaksi tentang Yesus Kristus, penginjilan dijamin dan diteguhkan oleh Roh
Kudus serta penginjilan ditujukan kepada semua orang di bumi. Kitab Kisah Para
Rasul ini merupakan titik lanjut dari Amanat Agung (Matius 28:16-20) Tuhan Yesus Kristus. Misi
kesaksian Perjanjian Baru yaitu Mat. 28:18-20, Mar. 5:19-20, Kis. 9:15, dan
Yoh. 20:21.[12]
2.5 Kesaksian
Perorangan
Yang
dimaksudkan di sini adalah personal Evangelism atau individual witness.
Jadi yang dimaksudkan ialah orang Kristen sendiri. Kesaksian tentang
pembaharuan kehidupan dan kebahagiaan hatinya tidak dapat diserahkan kepada
orang lain saja. Seorang Kristen harus siap siaga bersaksi di dalam
pekerjaannya dan di manapun juga. Haruskah ia selalu berbicara, berkhotbah,
berkata tentang hal-hal rohani? tidak. Yang penting ialah "penunjukan Roh
dan kuasa" karena "Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan,
tetapi dari kuasa" (1 Kor 2:4). Kepercayaan Kristen harus bekerja,
sehingga kelihatan di dalam cinta kasih. Kehidupan Kristen boleh menunjuk ke
masa depan dan pengharapannya boleh menjadi sumber pelayanan lagi. Dan janganlah
dengan terlalu banyak perkataan, sehingga kita membosankan orang lain atau
malah sampai menimbulkan kebencian.
Kita
boleh memakai strategi yang digariskan oleh Tuhan Yesus sendiri yaitu “cerdik
seperti ular dan tulus hati seperti burung merpati” (Matius 10:16). Bukan
licik, tetapi kebijaksanaan yang dibimbing oleh cintakasih. Seorang Kristen dapat
bersaksi terhadap teman setempat, terhadap orang-orang yang kebetulan dijumpai,
terhadap teman-teman sekerja. Tetapi yang lebih penting lagi adalah mencari
persekutuan, baik dengan orang Kristen lainnya maupun dengan orang sekerja atau
setempat.[13]
2.6 Misi
sebagai Kesaksian Bersama
Kesaksian
bersama adalah panggilan hakiki Gereja. Di seluruh dunia orang-orang Kristen
dan gereja-gereja telah semakin mampu memberikan kesaksian bersama. Roh kudus terus-menerus
memperbarui orang-orang Kristen. Pembaharuan ini berpusat pada Kristus dan
suatu cara hidup yang baru yang pada hakikatnya adalah suatu persekutuan yang
bersaksi. Kesaksian bergerak dari satu keesaan ke keesaan yang lainnya, dari
kesaksian anggota-anggota Tubuh Kristus di dalam satu Roh kepada keesaan yang
lebih besar di mana segala sesuatu di sorga dan di bumi kelak akan dipersatukan
di bawah satu Kepala yaitu Kristus (Ef. 1:10). Pada hakikatnya ini adalah suatu
rekonsiliasi (perbuatan memulihkan hubungan) antara manusia dengan Allah dan
manusia dengan sesamanya. Ikut serta di dalam kesaksian Kristen juga
memperdalam keesaan yang sudah ada di antara orang-orang Kristen. Kesaksian
cenderung selalu memperluas persekutuan Roh dan menciptakan persekutuan yang
baru. Pada saat yang sama kesaksian ini adalah suatu pertolongan yang hakiki
bagi orang-orang Kristen sendiri. Kesaksian ini meningkatkan di dalam diri
mereka pertobatan dan pembaruan yang selalu mereka butuhkan. Kesaksian ini
dapat memperkuat iman mereka dan membukakan aspek-aspek baru tentang kebenaran
Kristus.
Ketika
Ia berdoa agar semuanya menjadi satu agar dunia menjadi percaya (Yoh. 17:21)
Yesus membuat jelas hubungan antara keesaan Gereja dan penerimaan terhadap
Injil. Yang menyedihkan, orang Kristen masih terbagi-bagi di dalam
gereja-gereja mereka dan dengan demikian kesaksian yang mereka berikan terhadap
Injil dilemahkan. Namun, sekarang ini pun ada banyak tanda tentang permulaan
keesaan yang sudah muncul di antara semua pengikut Kristus dan
petunjuk-petunjuk bahwa keesaan tersebut sedang berkembang dalam arti yang
penting. Apa yang sama-sama ada pada kita, dan pengharapan yang ada pada kita,
memampukan kita untuk menjadi berani di dalam memberitakan Injil dan percaya
bahwa dunia akan menerimanya. Jadi dapat disimpulkan bahwa, kesaksian bersama
adalah panggilan yang hakiki dari Gereja. Kesaksian ini meningkatkan pelayanan
kita kepada Firman Allah, memperkuat gereja-gereja baik dalam memberitakan
Injil maupun dalam mengusahakan penggenapan keesaan tersebut.[14]
Misi
dalam keesaan tidak mungkin tanpa sikap kritis diri, khususnya bila orang
Kristen berjumpa dengan orang lain, sesama orang percaya ataupun orang-orang
yang tidak percaya yang dengan ukuran-ukuran manusia, seharusnya menjadi musuh
mereka. Gereja di dalam misi yang bersatu sangat penting karena menjadi akhir
dari pembedaan antara gereja-gereja yang
mengutus dan yang menerima. Pada
akhirnya keesaan dalam misi dan misi dalam keesaan tidak semata-mata melayani
gereja melainkan melalui gereja berfungsi untuk melayani umat manusia.[15]
2.7 Tokoh-Tokoh
Kesaksian Sebagai Misi
Ada beberapa tokoh yang menjadikan
kesaksiannya sebagai pengikut Tuhan Yesus Kristus, yaitu:
1.
Martin Luther
Martin Luther lahir pada 1483 di Eisleben (Jerman Timur). Ia sedang
mempersiapkan diri untuk menjadi ahli hukum ketika suatu kejadian nyaris
merenggut nyawanya. Peristiwa itu begitu menakutkannya sehingga ia menjadi
rahib. Ia bergabung dengan Augustinus di Erfurt dan belajar teologi. Pada
waktunya ia menjadi profesor teologi di universitas baru dari Wittenberg. Namun
Luther mempunyai persoalan. Kepadanya diajarkan bahwa supaya Allah berkenan dan
kita menerima anugerah-Nya, kita harus berusaha sebaik-baiknya. Ini berarti
mengasihi Allah di atas segala-galanya. Tetapi Allah yang digambarkan kepada
Luther adalah sebagai hakim yang menimbang-nimbang jasa orang. Luther merasa
terperangkap. Ia tidak bisa mengasihi Allah yang menghukumnya. Namun ia tidak
akan diterima sebelum ia mengasihi Allah.
Secara khusus ada satu ayat yang menyebabkan kesulitan bagi Luther,
yakni Roma 1:17: “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah.” Luther benci kepada
Allah karena la menghakimi manusia menurut kebenaran, bukan saja menurut Taurat
tetapi juga berdasarkan Injil Lalu pada suatu hari matanya terbuka dan ia
melihat arti dari kebenaran Allah itu. Bukanlah karena kebenaran la menghakimi
kita, tetapi karena kebenaran la membenarkan kita oleh iman. Segera setelah
Luther melihat itu ia merasa seperti lahir kembali. Luther mulai berkhotbah dan
mengajar tentang pemahaman barunya. Pada 1517 ia mengeluarkan 97 dalil untuk
didiskusikan di universitas (sesuatu yang biasa dilakukan). Dalam tulisan ini
Luther jelas sekali memperlihatkan pengaruh Augustinus dan ia menolak
Semi-Pelagianisme Abad Pertengahan. Luther sangat kecewa karena dalil-dalilnya
tidak begitu dipedulikan. Tetapi kemudian Luther menulis dalil-dalil lain dalam
tahun itu juga dan ini memang menarik perhatian. Jelas terjadinya penjualan surat
penghapusan siksa di Wittenberg.
Dengan membelinya jiwa seorang yang sudah meninggal dapat dibebaskan
dari api penyucian, walaupun bukan dari neraka. Seketika uang gemerincing dalam
peti, jiwa melompat dari api penyucian. Tetapi rakyat biasa percaya bahwa
dosanya bisa diampuni hanya dengan membeli surat itu. Luther marah besar. Luther
menulis 95 dalil melawan surat-surat penghapusan siksa tersebut dan ia kirim
salinan ke uskupnya dan satu lagi kepada Pangeran Albertus. Namun satu salinan
jatuh ke tangan seorang pencetak yang berjiwa dagang dan ia mengeluarkannya
dalam bahasa Jerman. Segera dalil-dalil itu laku keras dan Jerman tersentak
bangun. Dalil-dalil tersebut relatif konservatif, hanya mengusulkan pembaruan
kecil-kecilan dari sistem yang berlaku. Misalnya, Luther tidak mempertanyakan
adanya api penyucian, kuasa paus atau adanya keabsahan surat penghapusan siksa.
Tetapi dalil itu penting sekali karena menyerang kepausan pada bidang yang peka
yaitu keuangan.[16]
2.
Ingwer Ludwig Nommensen
Nommensen adalah seorang tokoh pekabar Injil berkebangsaan Jerman yang
terkenal di Indonesia. Hasil dari pekerjaannya adalah berdirinya sebuah gereja
terbesar di wilayah suku bangsa Batak Toba. Gereja itu bernama Huria Kristen
Batak Protestan (HKBP). Nommensen dilahirkan pada tanggal 6 Februari 1834 di
sebuah pulau kecil, Noordstrand, di Jerman Utara. Nommensen sejak kecil sudah
hidup di dalam kemiskinan dan penderitaan. Sejak kecil ia sudah mencari nafkah
untuk membantu orang tuanya. Ayahnya adalah seorang yang miskin melarat dan
selalu sakit-sakitan. Pada umur 8 tahun ia mencari nafkah dengan menggembalakan
domba milik orang lain pada musim panas dan pada musim dingin ia bersekolah.
Pada umur 10 tahun ia menjadi buruh tani sehingga pekerjaan itu tidak asing
lagi baginya. Semuanya ini tampaknya merupakan persiapan bagi pekerjaannya
sebagai pekabar Injil di kemudian hari. Pada 1846 Nommensen mengalami
kecelakaan yang serius. Pada waktu ia bermain kejar-kejaran dengan temannya,
tiba-tiba ia ditabrak oleh kereta berkuda. Kereta kuda itu menggilas kakinya
sehingga patah. Terpaksa ia berbaring saja di tempat tidur berbulan-bulan
lamanya. Teman-temannya biasanya datang menceritakan pelajaran dan
cerita-cerita yang disampaikan guru di sekolah. Cerita-cerita itu adalah
tentang pengalaman pendeta-pendeta yang pergi memberitakan Injil kepada banyak
orang dan Nommensen sangat tertarik mendengar cerita-cerita itu.
Lukanya makin menjadi parah sehingga dia tidak dapat berjalan sama
sekali. Sekalipun sakit, Nommensen belajar merajut kaos, menjahit dan menambal
sendiri pakaiannya yang robek. Pada suatu hari ia membaca Yohanes 16:23-26,
yaitu tentang kata-kata Tuhan Yesus bahwa siapa yang meminta kepada Bapa di
surga maka Bapa akan mengabulkannya. Nommensen bertanya kepada ibunya, apakah
perkataan Yesus itu masih berlaku atau tidak. Ibunya meyakinkannya bahwa
perkataan itu masih berlaku. Ia meminta ibunya untuk berdoa bersama- sama.
Nommensen meminta kesembuhan dan dengan janji, jikalau ia sembuh maka ia akan
pergi memberitakan Injil. Dan memang doanya dikabulkan karena beberapa minggu
kemudian kakinya sembuh. Setelah sembuh kembalilah Nommensen menggembalakan
domba lagi. Janjinya selalu menggodanya untuk segera memenuhinya. Oleh karena
itu ia melamar untuk menjadi penginjil pada Lembaga Pekabaran Injil Rhein
(RMG). Beberapa tahun lamanya ia belajar sebagai calon pekabar Injil. Tahun
1861 ia ditahbiskan menjadi pendeta. Dan sesudahnya ia berangkat menuju Sumatra
dan tiba pada bulan Mei 1862 di Padang. Ia memulai pekerjaannya di Barus. Ia
mulai belajar bahasa Batak dan bahasa Melayu yang cepat sekali dapat
dikuasainya. Sekarang ia mulai mengadakan kontak-kontak dengan orang-orang
Batak, terutama dengan raja-raja. Ia tidak jemu mengadakan perjalanan keliling
untuk menciptakan hubungan pergaulan yang baik. Ia memelajari adat-istiadat
Batak dan menggunakannya dalam mempererat pergaulan. Nommensen meminta izin
untuk masuk ke pedalaman namun dilarang oleh pemerintah, karena sangat
berbahaya bagi seorang asing. Namun Nommensen tidak takut. Ia memilih Silindung
sebagai tempat tinggalnya yang baru. Ia mendapat gangguan yang hebat di sini,
namun ia tidak putus asa. Ia berhasil mengumpulkan jemaatnya yang pertama di
Huta Dame (Kampung Damai).
Tahun 1873 ia mendirikan sebuah gedung gereja, sekolah dan rumahnya
sendiri di Pearaja. Sampai sekarang Pearaja menjadi pusat HKBP. Pekerjaan
Nommensen diberkati Tuhan sehingga Injil makin meluas. Sekali lagi ia
memindahkan tempat tinggalnya ke kampung Sigumpar, pada tahun 1891 dan ia
tinggal di sini sampai dengan meninggalnya. Nommensen memberitakan Injil di
tanah Batak dengan berbagai macam cara. Ia menerjemahkan PB ke dalam bahasa
Toba dan menerbitkan cerita-cerita Batak. Ia juga berusaha untuk memerbaiki
pertanian, peternakan, meminjamkan modal, menebus hamba-hamba dari
tuan-tuannya, dan membuka sekolah-sekolah serta balai-balai pengobatan. Dalam
pekerjaan pekabaran Injil ia menyadari perlunya mengikutsertakan orang-orang
Batak, sehingga dibukalah sekolah penginjil yang menghasilkan
penginjil-penginjil Batak pribumi. Juga untuk kebutuhan guru-guru sekolah,
dibukanya pendidikan guru.
Karena
kecakapan dan jasa-jasanya dalam pekerjaan penginjilan maka pimpinan RMG
mengangkatnya menjadi Ephorus pada tahun 1881. Pada hari ulang tahunnya yang
ke-70, Universitas Bonn memberikan gelar Doktor Honoris Causa kepada Nommensen.
Nommensen meninggal pada umur yang sangat tua, pada umur 84 tahun. Ia meninggal
pada 12 Mei 1918. Nommensen dikuburkan di Sigumpar di tengah-tengah suku bangsa
Batak setelah bekerja dalam kalangan suku bangsa ini selama 57 tahun lamanya.[17]
3.
Fransiscus Xaverius
Fransiskus Xaverius digelari oleh Paus Pius X sebagai pelindung misi dan
karya pewartaan iman. Ia adalah salah satu misionaris terbesar serta merupakan
seorang perunding dan duta terbaik yang pernah ada. Fransiskus Xaverius
dilahirkan pada tahun 1506 di Navarre, Spanyol. Bahasa ibunya adalah bahasa
Basque. Ia merupakan anak bungsu dari suatu keluarga besar. Pada usia delapan
belas tahun ia belajar di Universitas Paris. Ia masuk college St. Barbara dan
pada tahun 1528 meraih gelar magisternya (licentiate). Di sinilah ia
bertemu dengan Ignatius Loyola (pendiri Serikat Yesus).[18]
4.
Joseph Kam
Joseph Kam berasal dari keluarga Belanda yang bersimpati dengan golongan
Herrnhut. Tidaklah mengherankan kalau ia sangat berminat pada pekabaran Injil.
Akan tetapi, baru ketika sudah berumur 40 tahun ia bisa mewujudkan hasratnya
untuk menjadi seorang pekabar Injil, setelah istrinya dan anaknya meninggal.
Setelah menikmati pendidikan sederhana selama beberapa tahun, ia berangkat ke
Indonesia, bersama dua orang teman. Cita-citanya ialah untuk mengabarkan Injil
kepada orang-orang yang bukan Kristen.[19]
Joseph Kam adalah seorang pekabar Injil yang memberikan darah segar
kepada tubuh para jemaat di Maluku yang ditinggalkan terlantar sesudah bubarnya
VOC di Indonesia pada tahun 1799. Kam dilahirkan pada September 1769. Ayahnya
bernama Joost Kam, seorang tukang pangkas rambut, dan pembuat rambut palsu.
Keluarga Kam adalah anggota gereja Hervormd yang setia, tetapi suasana rumah
tangga mereka dipengaruhi oleh semangat pietisme Herrnhut. Mereka mempunyai
hubungan dengan kelompok Herrnhut di Zeist. Joseph Kam sering mengunjungi
kelompok ini sehingga ia sangat dipengaruhi olehnya. Setelah Kam menyelesaikan
pendidikan rendahnya, ia tidak melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih
tinggi. Ia membantu ayahnya dalam usaha perdagangan kulit. Dalam usaha
perdagangan kulit inilah, Kam sering mengunjungi Zeist. Akibatnya adalah timbulnya
keinginan yang kuat dalam diri Kam untuk memberitakan Injil kepada orang kafir.
Namun, keinginannya itu ditahannya bertahun-tahun karena orangtuanya tidak rela
untuk melepaskannya. Orangtuanya menginginkan agar Joseph tetap membantu usaha
perdagangan kulit itu karena kakaknya, Samuel Kam, sudah menjadi pendeta di
Berkel.
Pada tahun 1802 ayah dan ibunya meninggal. Usaha perdagangan kulit
merosot, dan pada akhirnya kegiatannya dihentikan. Joseph mencari pekerjaan
lain, yaitu menjadi pesuruh pada Mahkamah Nasional. Pada tahun 1804 Joseph
menikah, tetapi istrinya itu meninggal pada waktu melahirkan anaknya yang
pertama. Beberapa bulan kemudian, anaknya meninggal juga. Sekarang tekadnya
untuk menjadi pekabar Injil sudah bulat. Ia melamar ke NZG pada tahun 1807. Ia
mempersiapkan diri untuk menjadi pekabar Injil di Denhaag dan Rotterdam pada
beberapa orang pendeta. NZG belum memiliki sekolah pekabar Injil sendiri. Pada
tahun 1811, pendidikan persiapannya dianggap selesai, namun Joseph belum dapat
diberangkatkan sehubungan dengan keadaan perang yang masih berkecamuk. Belanda
pada masa ini menjadi negara satelit Perancis, sehingga ia terseret dalam
peperangan dengan Inggris. Indonesia sendiri dirampas oleh Inggris dari
Belanda. Berhubung Kam belum dapat diberangkatkan, maka NZG meminta kepada
kelompok Herrnhut di Zeist untuk memakai tenaga Kam untuk sementara waktu. Di
sinilah Kam mendapat latihan yang sangat berguna bagi pekerjaannya kelak di
Maluku. Sementara itu, NZG berusaha mencari jalan untuk menyelundupkan Kam ke
Inggris. Berkat kerja sama dengan LMS (London Missionary Society), Kam dapat
dikirimkan ke Indonesia. Namun, LMS harus mengujinya sekali lagi, dan ternyata
Kam lulus dalam ujian tersebut, sehingga ia tidak lagi diharuskan menempuh
pendidikan di London.
Pada tahun 1813, Kam ditahbiskan menjadi pendeta di London. Pengangkatan
jabatan pendeta merupakan tindakan yang sangat bijaksana karena dengannya, Kam
dapat melayani sakramen di Indonesia. Pada tahun 1814, diusia yang ke-33, Kam
menuju Maluku, bersama-sama dengan Bruckner dan Supper. Sambil menunggu kapal
ke Maluku, Kam bekerja untuk sementara waktu di Gereja Protestan Surabaya. Di
gereja tersebut, ia membentuk satu kelompok kecil: Orang-orang Saleh Surabaya.
Kelompok ini sangat giat dalam pekerjaan pemberitaan Injil.
Pada tahun 1815, Kam meninggalkan Surabaya dan pergi ke Ambon. Pada
bulan Maret 1815, Kam tiba di Maluku. Ia memulai pekerjaannya untuk
menghidupkan kekristenan di Ambon yang menyedihkan itu karena sudah terlalu
lama diterlantarkan. Ia mengadakan kunjungan-kunjungan ke jemaat-jemaat di
Ambon, Haruku, Seram selatan, dan Saparua. Dalam kunjungan itu ia berkhotbah,
membaptiskan orang, melayani Perjamuan Kudus, memperdamaikan
pertengkaran-pertengkaran yang terjadi. Pada tahun yang sama, Kam melangsungkan
pernikahannya dengan seorang gadis Indo-Belanda, Sarah Timmerman, yang dengan
setia mendampinginya dalam pekerjaannya di Maluku. Kunjungan diadakan
terus-menerus di seluruh kepulauan Maluku, bahkan sampai ke Minahasa, Sangir
Talaud dan ke Timor. Perjalanan- perjalanan ini sangat melelahkannya, tetapi
semangatnya untuk bekerja bagi Tuhan, menghiburnya. Jemaat-jemaat ini dikuatkan
dan dihidupkan oleh pelayanan yang tak kenal lelah oleh Joseph Kam. Berhubungan
dengan beratnya pekerjaan, maka Kam segera meminta tenaga pekabar Injil dari
NZG, segera setelah Indonesia diserahkan kembali kepada Belanda. Sekarang
setelah tenaga-tenaga baru berdatangan, maka Ambon menjadi pusat untuk
Indonesia Timur. Semua pekabar Injil untuk Indonesia Timur harus melewati
Ambon. Kini Kam bersama istrinya bertindak sebagai pembimbing dari
tenaga-tenaga baru ini. Sarah mengajarkan bahasa Melayu dan sementara itu, Kam
membawa mereka kepada jemaat-jemaat supaya mereka mengenal pekerjaan secara
langsung. Kam terus saja mengadakan perjalanan keliling mengunjungi jemaat-
jemaat sampai akhir hidupnya. Kam menderita sakit parah dalam perjalanannya ke
Maluku Tenggara, sehingga ia terpaksa kembali ke Ambon. Segala usaha untuk
menyelamatkan jiwanya tidak berhasil. Joseph Kam meninggal pada tanggal 18 Juli
1833 setelah berjerih payah selama 20 tahun di Maluku. Kam dikenang sebagai
Rasul Maluku sebagaimana ditulis di atas batu nisannya di Ambon. Banyak
terdapat dongeng mengenai kuasa doa-doa Kam di Maluku.[20]
5.
William Carey
William Carey adalah seorang tukang sepatu dari Inggris
yang bertobat dan menjadi pengkothbah paruh waktu yang sering mengikuti
persekutuan doa. Dia sepakat dengan beberapa temannya untuk sungguh-sungguh
mendoakan bangsa-bangsa yang belum mendengar Injil. Akhirnya dia berjanji,
"Saya bersedia untuk pergi ke tempat orang kafir yang belum beragama dan
yang belum mengenal Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, jikalau kalian
setia mendoakan saya." Kelima temannya berjanji mendukung Carey dalam doa
seumur hidup mereka. Itulah sebabnya Carey pergi ke India dan membawa Injil ke
sana. Sesudah itu ia dan timnya di Serampore College menerjemahkan dan
membantu/supervisi proses penerjemahan Alkitab ke dalam 36 bahasa. Teman doanya
yang paling setia adalah adik perempuannya yang lumpuh yang tidak bisa ke luar
dari tempat tidur. Bertahun-tahun dia dengan setia dan berjasa mendoakan kakaknya,
sehingga Injil bisa diberitakan di Asia.
6.
Dwight L. Moody
Dwight L. Moody seorang penginjil Amerika datang ke Inggris dan
mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) besar-besaran di sana. Banyak
mahasiswa yang bertobat. Ada tujuh orang mahasiswa yang sangat pandai bertobat
serta dipanggil Tuhan untuk melayani sebagai Misionaris. Mereka bergabung di
bawah Yayasan Hudson Taylor di RRC. Salah satu di antara mereka adalah seorang
olahragawan yang terkenal di Inggris bernama C.T. Studd. Pertama-tama Studd
melayani di RRC, setelah itu di India dan seterusnya dengan yayasannya sendiri
ia melayani di negara Afrika.[21]
7.
John Wycliffe
Wycliffe adalah seorang pemberani dan pembicara blak-blakan baik dalam
teologi maupun pengetahuan. Tetapi dalam politik ia selalu terjebak dalam
pertempuran antara dua pihak. John Wycliffe adalah orang terpelajar yang
terkemuka pada zamannya. Seluruh Inggris menghormati kebijakannya. Pendidikan
di universitas masih merupakan fenomena baru ketika itu dan peranan Wycliffe
sungguhlah besar bagi reputasi Oxford, tempat ia belajar dan mengajar.
Namun, kehidupannya penuh dengan kontroversi. Ia mempunyai kebiasaan
berbahaya, yaitu mengatakan apa yang dipikirkannya. Jika apa yang dipelajarinya
membuatnya memperta nyakan tentang ajaran Katolik resmi, ia langsung
menyuarakannya. Ia mempertanyakan hak Gereja atas kuasa duniawi dan
kekayaannya. la mempertanyakan juga penjualan surat-surat pengampunan dan
jabatan-jabatan gerejawi, penyembahan para santo dan relikwi yang berbau
takhayul, serta kuasa paus. Ia mempertanyakan juga pandangan resmi tentang Ekaristi
(doktrin transubstansiasi). Untuk pandangan-pandangan semacam ini dan lainnya,
ia selalu harus membela diri di hadapan para uskup dan konsili-konsili.[22]
III.
Kesimpulan
Istilah Missiologia
berasal dari kata Latin missio yang artinya pengutusan. Misi bukan suatu
kegiatan gereja, melainkan suatu kegiatan Allah. Dunia tidak diselamatkan oleh
suatu misi gereja, melainkan oleh suatu misi Allah. Misi
menurut Perjanjian Lama adalah misi Allah yang universal. Misi Allah bukan
hanya bagi umat Israel saja, malainkan misi Allah adalah penggenapan karya
keselamatan bagi bumi. Penggenapan keselamatan itu dialami oleh bangsa Israel
melalui proses pendidikan/pengajaran yang sangat panjang sejak dari pemanggilan
Abraham. Misi menurut Perjanjian Baru adalah misi yang berasal dari gereja
Tuhan yang terdiri dari berbagai bangsa.
Ada dua jenis kesaksian dalam misi yaitu
kesaksian perorangan dan kesaksian bersama. Kesaksian perorangan (personal
Evangelism atau individual witness) adalah kesaksian orang Kristen mengenai
pembaharuan kehidupan dan kebahagiaan hatinya yang tidak dapat diserahkan
kepada orang lain saja namun seorang Kristen harus siap siaga bersaksi di dalam
pekerjaannya dan di manapun juga. Orang Kristen boleh memakai strategi yang
digariskan oleh Tuhan Yesus sendiri dalam hal bersaksi yaitu “cerdik seperti
ular dan tulus hati seperti burung merpati” (Matius 10:16). Bukan licik, tetapi
kebijaksanaan yang dibimbing oleh cintakasih. Seorang Kristen dapat bersaksi
terhadap teman setempat, terhadap orang-orang yang kebetulan dijumpai, dan
terhadap teman-teman sekerja.
Kesaksian bersama adalah panggilan hakiki
Gereja. Di seluruh dunia orang-orang Kristen dan gereja-gereja telah semakin
mampu memberikan kesaksian bersama. Roh kudus terus-menerus memperbarui
orang-orang Kristen dimana pembaharuan ini berpusat pada Kristus dan suatu cara
hidup yang baru yang pada hakikatnya adalah suatu persekutuan yang bersaksi. Ada beberapa tokoh yang menjadikan
kesaksiannya sebagai pengikut Tuhan Yesus Kristus, yaitu William Carey, Dwight L. Moody dan John Wycliffe.
IV.
Daftar Pustaka
Sumber
Buku:
Bosch, David J. Transformasi Misi Kristen. Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 1997.
Elbers,
Veronika J. Gereja Misioner. Malang: SAAT, 2015.
End, Van den. Harta Dalam Bejana. Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 1986.
Kenneth,
Curtis A. 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen. Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 2007.
Kuiper, Arie De. Missiologia. Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 2015.
Lane,
Tony. Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani. Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 2007.
Naftallino,
A. Misi di Abad Postmodernisme. Bekasi: Gerakan Pelayanan Pemikir Muda,
2007.
Situmorang,
Jonar. Strategi Misi Paulus. Yogyakarta: Andi, 2020.
Thomas,
Norman E. Teks-Teks Klasik Tentang
Misi dan Kekristenan Sedunia. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001.
Tomatala,
Y. Penginjilan Masa Kini. Malang: Gandum Mas, 2004.
Wellem, F.D. Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja.
Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003.
Woga,
Edmund. Dasar-Dasar Misiologi. Yogyakarta: Kanisius, 2002.
Yohan.
Pendidikan Agama Kristen Sebagai Misi Gereja. Sulawesi Tengah: CV Muda
Sejahtera, 2022.
Sumber
Lain:
http://digilib.iain-palangkaraya.ac.id,
diaskes pada 13 April 2023 pukul 10.00 WIB.
https://123dok.com/article/kesaksian-misi-tokoh-penting-doa-sejarah-misi.ynxendpq,
diaskes pada tanggal 15 April 2023 pukul 15.00 WIB.
https://www.churchofjesuschrist.org/study/manual/true-to-the-faith/testimony?lang=ind, diaskes pada 13 April 2023 pukul 10.00 WIB.
https://smaver.sch.id/blog/quicquid-enima-sapientia-proficiscitur-idconti/,
diakses pada tanggal 15 April 2023 pukul 15.00 WIB.
[1] Arie
De Kuiper, Missiologia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015), 9.
[2] Edmund Woga, Dasar-Dasar
Misiologi (Yogyakarta: Kanisius, 2002), 14.
[3] Jonar Situmorang, Strategi
Misi Paulus (Yogyakarta: Andi, 2020), 70.
[4] https://www.churchofjesuschrist.org/study/manual/true-to-the-faith/testimony?lang=ind, diaskes pada 13 April 2023 pukul 10.00 WIB.
[5] http://digilib.iain-palangkaraya.ac.id, diaskes pada 13 April 2023 pukul
10.00 WIB.
[6] A. Naftallino, Misi
di Abad Postmodernisme (Bekasi: Gerakan Pelayanan Pemikir Muda, 2007), 30.
[7] A. Naftallino, Misi
di Abad Postmodernisme (Bekasi: Gerakan Pelayanan Pemikir Muda, 2007),
31-33.
[8] A. Naftallino, Misi
di Abad Postmodernisme (Bekasi: Gerakan Pelayanan Pemikir Muda, 2007),
37-38.
[9] Yohan, Pendidikan
Agama Kristen Sebagai Misi Gereja (Sulawesi Tengah: CV Muda Sejahtera,
2022), 57-59.
[10] A. Naftallino, Misi
di Abad Postmodernisme (Bekasi: Gerakan Pelayanan Pemikir Muda, 2007), 44.
[11] Veronika J. Elbers, Gereja
Misioner (Malang: SAAT, 2015), 1.
[12] Y. Tomatala, Penginjilan
Masa Kini (Malang: Gandum Mas, 2004), 25.
[13] Arie
De Kuiper, Missiologia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015), 101-102.
[14] Norman E. Thomas, Teks-Teks
Klasik Tentang Misi dan Kekristenan Sedunia (Jakarta: BPK Gunung Mulia,
2001), 339-340.
[15] David
J. Bosch, Transformasi Misi Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997),
701 & 716.
[16] Tony Lane, Runtut
Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007),
130-131.
[17] F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam
Sejarah Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), 198-200.
[18] https://smaver.sch.id/blog/quicquid-enima-sapientia-proficiscitur-idconti/, diakses pada tanggal
15 April 2023 pukul 15.00 WIB.
[19] Van den End, Harta
Dalam Bejana (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986), 252.
[20] F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam
Sejarah Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), 155-157.
[21] https://123dok.com/article/kesaksian-misi-tokoh-penting-doa-sejarah-misi.ynxendpq, diaskes pada tanggal
15 April 2023 pukul 15.00 WIB.
[22] Curtis A. Kenneth, 100
Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007), 66-67.
Comments
Post a Comment