MISIOLOGI: KESAKSIAN SEBAGAI MISI

 

KESAKSIAN SEBAGAI MISI

       I.            Pendahuluan

Secara umum kesaksian adalah keterangan yang diberikan oleh saksi sedangkan, misi merupakan suatu tugas yang gereja tanggapi sebagai amanat atau perintah langsung dari Tuhan Yesus dalam rangka peranannya di dunia ini. Misi bukanlah pilihan yang dapat dipertimbangkan tetapi misi adalah suatu perintah yang harus dilaksanakan. Tujuan dari misi yaitu memulihkan hubungan manusia dengan Allah dan memuliakan Allah. Misi juga merupakan rancangan damai sejahtera dari Allah untuk menyelamatkan dan menyatakan kerajaan-Nya di dunia, yang harus dikerjakan oleh setiap orang percaya lewat pelayanan kepada sesama.

    II.            Pembahasan

2.1  Pengertian Misi

Istilah Missiologia berasal dari kata Latin missio yang artinya pengutusan. Inggris/Jerman/Perancis Mission, Belanda Missie dipergunakan dalam kalangan Gereja Roma Katolik. Dalam bahasa Inggris bentuk tunggal Mission berarti karya Allah atau tugas yang diberikan oleh Tuhan kepada kita, sedangkan bentuk jamak Missions menandakan kenyataan praktis atau pelaksanaan pekerjaan itu.[1]

Kata missio adalah bentuk substantif dari kata kerja mittere yang mempunyai beberapa pengertian dasar yaitu membuang, menembak, membentur, mengutus, mengirim, membiarkan pergi, dan melepaskan pergi. Namun, kalangan gereja pada dasarnya  menggunakan kata mittere dalam pengertian mengutus atau mengirim. Di dalam gereja istilah “misi” digunakan baik untuk menunjuk kegiatan yang lebih luas dan umum yakni menyangkut semua kegiatan gerejawi.[2]

Misi Kristen tidak berarti membangun sesuatu, melainkan memaklumkan sesuatu yang sudah dibangun Allah. Misi gereja berakar di dalam sebuah realitas yang diciptakan dan dikerjakan Allah. Misi bukan suatu kegiatan gereja, melainkan suatu kegiatan Allah. Dunia tidak diselamatkan oleh suatu misi gereja, melainkan oleh suatu misi Allah.[3]

2.2  Pengertian Kesaksian

Sebuah kesaksian adalah kesaksian rohani yang diberikan melalui Roh Kudus. Dasar dari sebuah kesaksian adalah pengetahuan bahwa Bapa Surgawi hidup dan mengasihi kita, bahwa Yesus Kristus hidup, bahwa Dia adalah Putra Allah.[4] Secara umum kesaksian adalah keterangan yang diberikan oleh saksi. Kehadiran saksi adalah untuk memberikan keterangan terhadap apa yang telah dilihatnya melalui kasat mata terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi pada waktu sebelumnya.  Kesaksian sebagai misi. Dalam konteks ini "kesaksian" kedengarannya lebih rendah hati. Idenya adalah misi itu bukan untuk membanggakan tindakan-tindakan besar yang dilakukan gereja, tetapi untuk menyadari karya Allah yang besar. Landasan Alkitab yang biasa dipakai untuk pemahaman ini adalah Kis. 1:8. Di sini para rasul dipanggil bukan memberi kesaksian verbal melainkan menjadikan diri mereka sebagai saksi.[5]

2.3  Misi Dalam Perjanjian Lama

Misi merupakan kepedulian Tuhan atas ciptaan yang telah jatuh. otoritas-Nya adalah cara menyatakan kepeduliaan-Nya. Dalam hal ini umat Israel dipilih sebagai alat-Nya. Israel adalah alat Tuhan yang mempunyai keunikaan status dan peran istimewa bagi bangsa-bangsa di seluruh muka bumi.

1.      Status Israel

Status Israel adalah keturunan Abraham yang memiliki keistimewaan. Istimewanya adalah Tuhan berkenan mengangkat mereka sebagai umat-Nya. Status yang diberikan Tuhan kepada Israel bukan semata-mata karena mereka lebih baik dari bangsa lain akan tetapi Tuhan konsisten dengan apa yang menjadi janji-Nya.[6]

2.      Nilai Misi Israel

Masa perbudakan di Mesir adalah masa-masa persiapan bagi bangsa Israel sebagai umat Tuhan. Keberadaan Israel selama masa perbudakan di Mesir memiliki nilai misi bagi Tuhan. Dengan kata lain keberadaannya yang negatif, bisa berdampak positif karena Tuhan terlibat didalam peristiwa itu. Kebenaran ini juga dapat menjadi pelajaran bagi gereja Tuhan masa kini. Kedaulatan Tuhan tidak akan membiarkan segala sesuatunya menjadi sia-sia. Ada dua nilai misi dalam hal ini.

Yang pertama bersifat internal, dalam arti misi itu lebih diarahkan kepada umat Israel sendiri agar taat dan menyadari bahwa mereka adalah umat Tuhan yang harus memerankan kelayakannya sebagai umat pilihan. Inilah persyaratan yang telah disampaikan kepada Musa di Sinai. Artinya umat Israel sendiri haruslah hidup dengan standar kebenaran dan kekudusan Tuhan. Yang kedua, misi yang bersifat eksternal. Tindakan Tuhan yang bersifat misi, berkenaan dengan menuntun umat-Nya ke tanah perjanjian bukan memperlihatkan kekuatan-Nya atas bangsa-bangsa lain yang memusuhi umat-Nya. Tetapi menyatakan belaskasih-Nya kepada mereka (non Israel) yang bertobat (menyambut) kedatangan Israel.[7]

3.      Masa Gelap Israel

Dalam sejarahnya, bangsa Israel sebagai bangsa pilihan, tidak pernah menikmati berkat-berkat ilahi yang dijanjikan kepada leluhurnya. Diulang kembali oleh Musa dengan ketetapan berkat dan kutuk. Masa pembuangan memang menjadi titik balik sejarah Israel bagaimana mereka secara ketat mentaati hukum Taurat yang dipelopori oleh Ezra dan kepemimpinan Nehemia. Namun, selama masa hampir empat abad setelah Maleakhi bernubuat, bangsa Israel mengalami atau melewati masa-masa yang gelap penuh dengan penderitaan dan ketidakpastian. Masa-masa ketidakpastian dan penindasan oleh bangsa-bangsa lain, menguji mereka. Apakah mereka itu menyadari statusnya dan bagaimana dengan statusnya itu mereka hidup benar sesuai dengan Hukum Taurat.[8]

Misi Allah dalam Perjanjian Lama adalah misi yang universal, artinya misi Allah yang bukan hanya bagi orang-orang Israel saja, melainkan misi Allah yang juga ditujukan bagi bangsa-bangsa lain. Sedikitnya ada tujuh alasan yang menjelaskan hal tersebut yaitu pertama, bahwa Allah memulai sejarah umat manusia secara universal. Kedua, misi bersumber dari Allah. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, Allah mengambil inisiatif untuk mencari mereka. Allah memberikan janji keselamatan. Ketiga, menjadi tujuan akhir perjanjian dengan Abraham (Kej. 12:1-3). Abaraham adalah alat Misi Allah, bukan tujuan. Melalui Abraham dan keturunannya Allah ingin memberkati bangsa-bangsa. Keempat, menjadi tujuan pembebasan dari Mesir. Pemberian tulah kepada bangsa Mesir bukan hanya untuk memberi kebebasan bagi bangsa Israel. Jenis tulah yang diberikan pun bertujuan untuk membuktikan bahwa TUHAN adalah satu-satunya Allah, bukan beragam dewa Mesir. Kelima, menjadi tujuan perjanjian Sinai (Kel. 19-20). Pemilihan Israel tidak berarti penolakan terhadap bangsa-bangsa lain. Pemilihan tersebut justru merupakan sarana untuk keselamatan seluruh bangsa. Israel dibangkitkan untuk menjadi imam bagi bangsa lain. Keenam, munculnya tokoh-tokoh non Israel. Perjanjian Lama secara konsisten menunjukkan individu-individu tertentu yang berada dalam pemeliharaan dan pelayanan Allah. Ketujuh, perhatian Allah terhadap bangsa-bangsa lain. Hukum Musa memberikan perlindungan dan hak khusus bagi bangsa-bangsa non Israel. Contoh yang paling terkenal adalah kemurahan Allah yang besar atas bangsa Niniwe yang begitu jahat (Yun. 4:11). Misi kesaksian Perjanjian Lama yaitu Yun. 4:11, Kej. 12:1-3, Kel. 1:9, Yes. 45:22-23, dan Yes. 49:6.

Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa, misi menurut Perjanjian Lama adalah misi Allah yang universal. Misi Allah bukan hanya bagi umat Israel saja, melainkan misi Allah adalah penggenapan karya keselamatan bagi bumi. Penggenapan keselamatan itu dialami oleh bangsa Israel melalui proses pendidikan/pengajaran yang sangat panjang sejak dari pemanggilan Abraham.[9]

2.4  Misi Dalam Perjanjian Baru

Secara substansial, antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tidak berbeda. Hakikat misi adalah kepedulian Tuhan atas ciptaan-Nya (yang telah jatuh). Perbedaannya hanya terletak dalam cara bagaimana Tuhan menyatakan kepedulian-Nya itu. Kalau pada Perjanjian Lama (PL) Israel secara khusus sebagai misi Tuhan yang orientasinya adalah mencakup segenap kaum di muka bumi. Sementara pada Perjanjian Baru (PB), peran kekhususan Israel itu telah diambil alih oleh gereja Tuhan yang terdiri dari berbagai bangsa. Itu berarti hidup orang percaya (gereja) bernilai bagi misi-Nya.[10]

Matius 28:18-20 menjadi dasar bagi umat Kristen dalam melaksanakan misi bagi orang lain karena pada ayat tersebut tersirat perintah untuk melanjutkan pelayanan Yesus Kristus memberitakan Injil.[11] Ayat ini memuat tiga perintah yang harus dilakukan oleh para murid Yesus untuk melaksanakan pelayanan misi yaitu, pertama menjadikan semua bangsa murid Yesus, kedua membaptis orang-orang yang menerima Yesus Kristus dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, dan yang ketiga mengajarkan mereka segala sesuatu yang telah diajarkan Yesus Kristus. Yesus telah melaksanakan misi Allah, maka murid-murid pun harus melakukan dan melanjutkan misi tersebut. Sebelum Yesus naik ke sorga, Ia telah berkali-kali melakukan pengutusan bagi murid-murid-Nya sebagai cara untuk melatih para murid melaksanakan misi Allah agar mereka tahu dan paham tentang tujuan Yesus datang kedalam dunia ini.

Pengutusan murid-murid kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel untuk memberitakan Kerajaan Sorga sudah dekat dan dalam pengutusan tersebut ada kuasa dan tugas yang diberikan, yaitu menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, dan mengusir setan-setan. Sebab mereka telah menerima dengan cuma-cuma, maka para murid juga harus memberikan dengan cuma-cuma (Mat. 10:5-15). Misi penyembuhan dilakukan oleh seorang yang disembuhkan Yesus dari roh jahat di Gerasa dimana Yesus mengutusnya kembali ke kampungnya untuk memberitakan bagaimana Allah melakukan perbuatan yang besar kepadanya (Mrk. 5:19-20). Pelayanan serupa dilakukan oleh Paulus ketika sudah bertobat dari kejahatannya mengejar dan membunuh pengikut Yesus. Paulus melakukan pemberitaan Injil ke berbagai daerah. Pemanggilan dan pengutusan Paulus terjadi di jalan menuju Damsyik. Allah menyatakan bahwa Paulus adalah alat pilihan-Nya untuk memberitakan Injil kepada orang-orang non Yahudi (Kis. 9:15).

Paulus adalah misionaris yang telah membuat banyak orang bertobat dan menerima Injil dalam pelayanannya. Dalam kitab Kisah Para Rasul 1:8 dikatakan “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Dalam ayat ini ada tiga hal yang ditekankan, yaitu penginjilan merupakan tugas bersaksi tentang Yesus Kristus, penginjilan dijamin dan diteguhkan oleh Roh Kudus serta penginjilan ditujukan kepada semua orang di bumi. Kitab Kisah Para Rasul ini merupakan titik lanjut dari Amanat Agung (Matius 28:16-20) Tuhan Yesus Kristus. Misi kesaksian Perjanjian Baru yaitu Mat. 28:18-20, Mar. 5:19-20, Kis. 9:15, dan Yoh. 20:21.[12]

2.5  Kesaksian Perorangan

Yang dimaksudkan di sini adalah personal Evangelism atau individual witness. Jadi yang dimaksudkan ialah orang Kristen sendiri. Kesaksian tentang pembaharuan kehidupan dan kebahagiaan hatinya tidak dapat diserahkan kepada orang lain saja. Seorang Kristen harus siap siaga bersaksi di dalam pekerjaannya dan di manapun juga. Haruskah ia selalu berbicara, berkhotbah, berkata tentang hal-hal rohani? tidak. Yang penting ialah "penunjukan Roh dan kuasa" karena "Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa" (1 Kor 2:4). Kepercayaan Kristen harus bekerja, sehingga kelihatan di dalam cinta kasih. Kehidupan Kristen boleh menunjuk ke masa depan dan pengharapannya boleh menjadi sumber pelayanan lagi. Dan janganlah dengan terlalu banyak perkataan, sehingga kita membosankan orang lain atau malah sampai menimbulkan kebencian.

Kita boleh memakai strategi yang digariskan oleh Tuhan Yesus sendiri yaitu “cerdik seperti ular dan tulus hati seperti burung merpati” (Matius 10:16). Bukan licik, tetapi kebijaksanaan yang dibimbing oleh cintakasih. Seorang Kristen dapat bersaksi terhadap teman setempat, terhadap orang-orang yang kebetulan dijumpai, terhadap teman-teman sekerja. Tetapi yang lebih penting lagi adalah mencari persekutuan, baik dengan orang Kristen lainnya maupun dengan orang sekerja atau setempat.[13]

2.6  Misi sebagai Kesaksian Bersama

Kesaksian bersama adalah panggilan hakiki Gereja. Di seluruh dunia orang-orang Kristen dan gereja-gereja telah semakin mampu memberikan kesaksian bersama. Roh kudus terus-menerus memperbarui orang-orang Kristen. Pembaharuan ini berpusat pada Kristus dan suatu cara hidup yang baru yang pada hakikatnya adalah suatu persekutuan yang bersaksi. Kesaksian bergerak dari satu keesaan ke keesaan yang lainnya, dari kesaksian anggota-anggota Tubuh Kristus di dalam satu Roh kepada keesaan yang lebih besar di mana segala sesuatu di sorga dan di bumi kelak akan dipersatukan di bawah satu Kepala yaitu Kristus (Ef. 1:10). Pada hakikatnya ini adalah suatu rekonsiliasi (perbuatan memulihkan hubungan) antara manusia dengan Allah dan manusia dengan sesamanya. Ikut serta di dalam kesaksian Kristen juga memperdalam keesaan yang sudah ada di antara orang-orang Kristen. Kesaksian cenderung selalu memperluas persekutuan Roh dan menciptakan persekutuan yang baru. Pada saat yang sama kesaksian ini adalah suatu pertolongan yang hakiki bagi orang-orang Kristen sendiri. Kesaksian ini meningkatkan di dalam diri mereka pertobatan dan pembaruan yang selalu mereka butuhkan. Kesaksian ini dapat memperkuat iman mereka dan membukakan aspek-aspek baru tentang kebenaran Kristus.

Ketika Ia berdoa agar semuanya menjadi satu agar dunia menjadi percaya (Yoh. 17:21) Yesus membuat jelas hubungan antara keesaan Gereja dan penerimaan terhadap Injil. Yang menyedihkan, orang Kristen masih terbagi-bagi di dalam gereja-gereja mereka dan dengan demikian kesaksian yang mereka berikan terhadap Injil dilemahkan. Namun, sekarang ini pun ada banyak tanda tentang permulaan keesaan yang sudah muncul di antara semua pengikut Kristus dan petunjuk-petunjuk bahwa keesaan tersebut sedang berkembang dalam arti yang penting. Apa yang sama-sama ada pada kita, dan pengharapan yang ada pada kita, memampukan kita untuk menjadi berani di dalam memberitakan Injil dan percaya bahwa dunia akan menerimanya. Jadi dapat disimpulkan bahwa, kesaksian bersama adalah panggilan yang hakiki dari Gereja. Kesaksian ini meningkatkan pelayanan kita kepada Firman Allah, memperkuat gereja-gereja baik dalam memberitakan Injil maupun dalam mengusahakan penggenapan keesaan tersebut.[14]

Misi dalam keesaan tidak mungkin tanpa sikap kritis diri, khususnya bila orang Kristen berjumpa dengan orang lain, sesama orang percaya ataupun orang-orang yang tidak percaya yang dengan ukuran-ukuran manusia, seharusnya menjadi musuh mereka. Gereja di dalam misi yang bersatu sangat penting karena menjadi akhir dari pembedaan antara gereja-gereja yang  mengutus  dan yang menerima. Pada akhirnya keesaan dalam misi dan misi dalam keesaan tidak semata-mata melayani gereja melainkan melalui gereja berfungsi untuk melayani umat manusia.[15]

2.7  Tokoh-Tokoh Kesaksian Sebagai Misi

Ada beberapa tokoh yang menjadikan kesaksiannya sebagai pengikut Tuhan Yesus Kristus, yaitu:

1.      Martin Luther

Martin Luther lahir pada 1483 di Eisleben (Jerman Timur). Ia sedang mempersiapkan diri untuk menjadi ahli hukum ketika suatu kejadian nyaris merenggut nyawanya. Peristiwa itu begitu menakutkannya sehingga ia menjadi rahib. Ia bergabung dengan Augustinus di Erfurt dan belajar teologi. Pada waktunya ia menjadi profesor teologi di universitas baru dari Wittenberg. Namun Luther mempunyai persoalan. Kepadanya diajarkan bahwa supaya Allah berkenan dan kita menerima anugerah-Nya, kita harus berusaha sebaik-baiknya. Ini berarti mengasihi Allah di atas segala-galanya. Tetapi Allah yang digambarkan kepada Luther adalah sebagai hakim yang menimbang-nimbang jasa orang. Luther merasa terperangkap. Ia tidak bisa mengasihi Allah yang menghukumnya. Namun ia tidak akan diterima sebelum ia mengasihi Allah.

Secara khusus ada satu ayat yang menyebabkan kesulitan bagi Luther, yakni Roma 1:17: “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah.” Luther benci kepada Allah karena la menghakimi manusia menurut kebenaran, bukan saja menurut Taurat tetapi juga berdasarkan Injil Lalu pada suatu hari matanya terbuka dan ia melihat arti dari kebenaran Allah itu. Bukanlah karena kebenaran la menghakimi kita, tetapi karena kebenaran la membenarkan kita oleh iman. Segera setelah Luther melihat itu ia merasa seperti lahir kembali. Luther mulai berkhotbah dan mengajar tentang pemahaman barunya. Pada 1517 ia mengeluarkan 97 dalil untuk didiskusikan di universitas (sesuatu yang biasa dilakukan). Dalam tulisan ini Luther jelas sekali memperlihatkan pengaruh Augustinus dan ia menolak Semi-Pelagianisme Abad Pertengahan. Luther sangat kecewa karena dalil-dalilnya tidak begitu dipedulikan. Tetapi kemudian Luther menulis dalil-dalil lain dalam tahun itu juga dan ini memang menarik perhatian. Jelas terjadinya penjualan surat penghapusan siksa di Wittenberg.

Dengan membelinya jiwa seorang yang sudah meninggal dapat dibebaskan dari api penyucian, walaupun bukan dari neraka. Seketika uang gemerincing dalam peti, jiwa melompat dari api penyucian. Tetapi rakyat biasa percaya bahwa dosanya bisa diampuni hanya dengan membeli surat itu. Luther marah besar. Luther menulis 95 dalil melawan surat-surat penghapusan siksa tersebut dan ia kirim salinan ke uskupnya dan satu lagi kepada Pangeran Albertus. Namun satu salinan jatuh ke tangan seorang pencetak yang berjiwa dagang dan ia mengeluarkannya dalam bahasa Jerman. Segera dalil-dalil itu laku keras dan Jerman tersentak bangun. Dalil-dalil tersebut relatif konservatif, hanya mengusulkan pembaruan kecil-kecilan dari sistem yang berlaku. Misalnya, Luther tidak mempertanyakan adanya api penyucian, kuasa paus atau adanya keabsahan surat penghapusan siksa. Tetapi dalil itu penting sekali karena menyerang kepausan pada bidang yang peka yaitu keuangan.[16]

2.      Ingwer Ludwig Nommensen

Nommensen adalah seorang tokoh pekabar Injil berkebangsaan Jerman yang terkenal di Indonesia. Hasil dari pekerjaannya adalah berdirinya sebuah gereja terbesar di wilayah suku bangsa Batak Toba. Gereja itu bernama Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Nommensen dilahirkan pada tanggal 6 Februari 1834 di sebuah pulau kecil, Noordstrand, di Jerman Utara. Nommensen sejak kecil sudah hidup di dalam kemiskinan dan penderitaan. Sejak kecil ia sudah mencari nafkah untuk membantu orang tuanya. Ayahnya adalah seorang yang miskin melarat dan selalu sakit-sakitan. Pada umur 8 tahun ia mencari nafkah dengan menggembalakan domba milik orang lain pada musim panas dan pada musim dingin ia bersekolah. Pada umur 10 tahun ia menjadi buruh tani sehingga pekerjaan itu tidak asing lagi baginya. Semuanya ini tampaknya merupakan persiapan bagi pekerjaannya sebagai pekabar Injil di kemudian hari. Pada 1846 Nommensen mengalami kecelakaan yang serius. Pada waktu ia bermain kejar-kejaran dengan temannya, tiba-tiba ia ditabrak oleh kereta berkuda. Kereta kuda itu menggilas kakinya sehingga patah. Terpaksa ia berbaring saja di tempat tidur berbulan-bulan lamanya. Teman-temannya biasanya datang menceritakan pelajaran dan cerita-cerita yang disampaikan guru di sekolah. Cerita-cerita itu adalah tentang pengalaman pendeta-pendeta yang pergi memberitakan Injil kepada banyak orang dan Nommensen sangat tertarik mendengar cerita-cerita itu.

Lukanya makin menjadi parah sehingga dia tidak dapat berjalan sama sekali. Sekalipun sakit, Nommensen belajar merajut kaos, menjahit dan menambal sendiri pakaiannya yang robek. Pada suatu hari ia membaca Yohanes 16:23-26, yaitu tentang kata-kata Tuhan Yesus bahwa siapa yang meminta kepada Bapa di surga maka Bapa akan mengabulkannya. Nommensen bertanya kepada ibunya, apakah perkataan Yesus itu masih berlaku atau tidak. Ibunya meyakinkannya bahwa perkataan itu masih berlaku. Ia meminta ibunya untuk berdoa bersama- sama. Nommensen meminta kesembuhan dan dengan janji, jikalau ia sembuh maka ia akan pergi memberitakan Injil. Dan memang doanya dikabulkan karena beberapa minggu kemudian kakinya sembuh. Setelah sembuh kembalilah Nommensen menggembalakan domba lagi. Janjinya selalu menggodanya untuk segera memenuhinya. Oleh karena itu ia melamar untuk menjadi penginjil pada Lembaga Pekabaran Injil Rhein (RMG). Beberapa tahun lamanya ia belajar sebagai calon pekabar Injil. Tahun 1861 ia ditahbiskan menjadi pendeta. Dan sesudahnya ia berangkat menuju Sumatra dan tiba pada bulan Mei 1862 di Padang. Ia memulai pekerjaannya di Barus. Ia mulai belajar bahasa Batak dan bahasa Melayu yang cepat sekali dapat dikuasainya. Sekarang ia mulai mengadakan kontak-kontak dengan orang-orang Batak, terutama dengan raja-raja. Ia tidak jemu mengadakan perjalanan keliling untuk menciptakan hubungan pergaulan yang baik. Ia memelajari adat-istiadat Batak dan menggunakannya dalam mempererat pergaulan. Nommensen meminta izin untuk masuk ke pedalaman namun dilarang oleh pemerintah, karena sangat berbahaya bagi seorang asing. Namun Nommensen tidak takut. Ia memilih Silindung sebagai tempat tinggalnya yang baru. Ia mendapat gangguan yang hebat di sini, namun ia tidak putus asa. Ia berhasil mengumpulkan jemaatnya yang pertama di Huta Dame (Kampung Damai).

Tahun 1873 ia mendirikan sebuah gedung gereja, sekolah dan rumahnya sendiri di Pearaja. Sampai sekarang Pearaja menjadi pusat HKBP. Pekerjaan Nommensen diberkati Tuhan sehingga Injil makin meluas. Sekali lagi ia memindahkan tempat tinggalnya ke kampung Sigumpar, pada tahun 1891 dan ia tinggal di sini sampai dengan meninggalnya. Nommensen memberitakan Injil di tanah Batak dengan berbagai macam cara. Ia menerjemahkan PB ke dalam bahasa Toba dan menerbitkan cerita-cerita Batak. Ia juga berusaha untuk memerbaiki pertanian, peternakan, meminjamkan modal, menebus hamba-hamba dari tuan-tuannya, dan membuka sekolah-sekolah serta balai-balai pengobatan. Dalam pekerjaan pekabaran Injil ia menyadari perlunya mengikutsertakan orang-orang Batak, sehingga dibukalah sekolah penginjil yang menghasilkan penginjil-penginjil Batak pribumi. Juga untuk kebutuhan guru-guru sekolah, dibukanya pendidikan guru.

Karena kecakapan dan jasa-jasanya dalam pekerjaan penginjilan maka pimpinan RMG mengangkatnya menjadi Ephorus pada tahun 1881. Pada hari ulang tahunnya yang ke-70, Universitas Bonn memberikan gelar Doktor Honoris Causa kepada Nommensen. Nommensen meninggal pada umur yang sangat tua, pada umur 84 tahun. Ia meninggal pada 12 Mei 1918. Nommensen dikuburkan di Sigumpar di tengah-tengah suku bangsa Batak setelah bekerja dalam kalangan suku bangsa ini selama 57 tahun lamanya.[17]

3.      Fransiscus Xaverius

Fransiskus Xaverius digelari oleh Paus Pius X sebagai pelindung misi dan karya pewartaan iman. Ia adalah salah satu misionaris terbesar serta merupakan seorang perunding dan duta terbaik yang pernah ada. Fransiskus Xaverius dilahirkan pada tahun 1506 di Navarre, Spanyol. Bahasa ibunya adalah bahasa Basque. Ia merupakan anak bungsu dari suatu keluarga besar. Pada usia delapan belas tahun ia belajar di Universitas Paris. Ia masuk college St. Barbara dan pada tahun 1528 meraih gelar magisternya (licentiate). Di sinilah ia bertemu dengan Ignatius Loyola (pendiri Serikat Yesus).[18]

4.      Joseph Kam

Joseph Kam berasal dari keluarga Belanda yang bersimpati dengan golongan Herrnhut. Tidaklah mengherankan kalau ia sangat berminat pada pekabaran Injil. Akan tetapi, baru ketika sudah berumur 40 tahun ia bisa mewujudkan hasratnya untuk menjadi seorang pekabar Injil, setelah istrinya dan anaknya meninggal. Setelah menikmati pendidikan sederhana selama beberapa tahun, ia berangkat ke Indonesia, bersama dua orang teman. Cita-citanya ialah untuk mengabarkan Injil kepada orang-orang yang bukan Kristen.[19]

Joseph Kam adalah seorang pekabar Injil yang memberikan darah segar kepada tubuh para jemaat di Maluku yang ditinggalkan terlantar sesudah bubarnya VOC di Indonesia pada tahun 1799. Kam dilahirkan pada September 1769. Ayahnya bernama Joost Kam, seorang tukang pangkas rambut, dan pembuat rambut palsu. Keluarga Kam adalah anggota gereja Hervormd yang setia, tetapi suasana rumah tangga mereka dipengaruhi oleh semangat pietisme Herrnhut. Mereka mempunyai hubungan dengan kelompok Herrnhut di Zeist. Joseph Kam sering mengunjungi kelompok ini sehingga ia sangat dipengaruhi olehnya. Setelah Kam menyelesaikan pendidikan rendahnya, ia tidak melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi. Ia membantu ayahnya dalam usaha perdagangan kulit. Dalam usaha perdagangan kulit inilah, Kam sering mengunjungi Zeist. Akibatnya adalah timbulnya keinginan yang kuat dalam diri Kam untuk memberitakan Injil kepada orang kafir. Namun, keinginannya itu ditahannya bertahun-tahun karena orangtuanya tidak rela untuk melepaskannya. Orangtuanya menginginkan agar Joseph tetap membantu usaha perdagangan kulit itu karena kakaknya, Samuel Kam, sudah menjadi pendeta di Berkel.

Pada tahun 1802 ayah dan ibunya meninggal. Usaha perdagangan kulit merosot, dan pada akhirnya kegiatannya dihentikan. Joseph mencari pekerjaan lain, yaitu menjadi pesuruh pada Mahkamah Nasional. Pada tahun 1804 Joseph menikah, tetapi istrinya itu meninggal pada waktu melahirkan anaknya yang pertama. Beberapa bulan kemudian, anaknya meninggal juga. Sekarang tekadnya untuk menjadi pekabar Injil sudah bulat. Ia melamar ke NZG pada tahun 1807. Ia mempersiapkan diri untuk menjadi pekabar Injil di Denhaag dan Rotterdam pada beberapa orang pendeta. NZG belum memiliki sekolah pekabar Injil sendiri. Pada tahun 1811, pendidikan persiapannya dianggap selesai, namun Joseph belum dapat diberangkatkan sehubungan dengan keadaan perang yang masih berkecamuk. Belanda pada masa ini menjadi negara satelit Perancis, sehingga ia terseret dalam peperangan dengan Inggris. Indonesia sendiri dirampas oleh Inggris dari Belanda. Berhubung Kam belum dapat diberangkatkan, maka NZG meminta kepada kelompok Herrnhut di Zeist untuk memakai tenaga Kam untuk sementara waktu. Di sinilah Kam mendapat latihan yang sangat berguna bagi pekerjaannya kelak di Maluku. Sementara itu, NZG berusaha mencari jalan untuk menyelundupkan Kam ke Inggris. Berkat kerja sama dengan LMS (London Missionary Society), Kam dapat dikirimkan ke Indonesia. Namun, LMS harus mengujinya sekali lagi, dan ternyata Kam lulus dalam ujian tersebut, sehingga ia tidak lagi diharuskan menempuh pendidikan di London.

Pada tahun 1813, Kam ditahbiskan menjadi pendeta di London. Pengangkatan jabatan pendeta merupakan tindakan yang sangat bijaksana karena dengannya, Kam dapat melayani sakramen di Indonesia. Pada tahun 1814, diusia yang ke-33, Kam menuju Maluku, bersama-sama dengan Bruckner dan Supper. Sambil menunggu kapal ke Maluku, Kam bekerja untuk sementara waktu di Gereja Protestan Surabaya. Di gereja tersebut, ia membentuk satu kelompok kecil: Orang-orang Saleh Surabaya. Kelompok ini sangat giat dalam pekerjaan pemberitaan Injil.

Pada tahun 1815, Kam meninggalkan Surabaya dan pergi ke Ambon. Pada bulan Maret 1815, Kam tiba di Maluku. Ia memulai pekerjaannya untuk menghidupkan kekristenan di Ambon yang menyedihkan itu karena sudah terlalu lama diterlantarkan. Ia mengadakan kunjungan-kunjungan ke jemaat-jemaat di Ambon, Haruku, Seram selatan, dan Saparua. Dalam kunjungan itu ia berkhotbah, membaptiskan orang, melayani Perjamuan Kudus, memperdamaikan pertengkaran-pertengkaran yang terjadi. Pada tahun yang sama, Kam melangsungkan pernikahannya dengan seorang gadis Indo-Belanda, Sarah Timmerman, yang dengan setia mendampinginya dalam pekerjaannya di Maluku. Kunjungan diadakan terus-menerus di seluruh kepulauan Maluku, bahkan sampai ke Minahasa, Sangir Talaud dan ke Timor. Perjalanan- perjalanan ini sangat melelahkannya, tetapi semangatnya untuk bekerja bagi Tuhan, menghiburnya. Jemaat-jemaat ini dikuatkan dan dihidupkan oleh pelayanan yang tak kenal lelah oleh Joseph Kam. Berhubungan dengan beratnya pekerjaan, maka Kam segera meminta tenaga pekabar Injil dari NZG, segera setelah Indonesia diserahkan kembali kepada Belanda. Sekarang setelah tenaga-tenaga baru berdatangan, maka Ambon menjadi pusat untuk Indonesia Timur. Semua pekabar Injil untuk Indonesia Timur harus melewati Ambon. Kini Kam bersama istrinya bertindak sebagai pembimbing dari tenaga-tenaga baru ini. Sarah mengajarkan bahasa Melayu dan sementara itu, Kam membawa mereka kepada jemaat-jemaat supaya mereka mengenal pekerjaan secara langsung. Kam terus saja mengadakan perjalanan keliling mengunjungi jemaat- jemaat sampai akhir hidupnya. Kam menderita sakit parah dalam perjalanannya ke Maluku Tenggara, sehingga ia terpaksa kembali ke Ambon. Segala usaha untuk menyelamatkan jiwanya tidak berhasil. Joseph Kam meninggal pada tanggal 18 Juli 1833 setelah berjerih payah selama 20 tahun di Maluku. Kam dikenang sebagai Rasul Maluku sebagaimana ditulis di atas batu nisannya di Ambon. Banyak terdapat dongeng mengenai kuasa doa-doa Kam di Maluku.[20]

5.      William Carey

William Carey adalah seorang tukang sepatu dari Inggris yang bertobat dan menjadi pengkothbah paruh waktu yang sering mengikuti persekutuan doa. Dia sepakat dengan beberapa temannya untuk sungguh-sungguh mendoakan bangsa-bangsa yang belum mendengar Injil. Akhirnya dia berjanji, "Saya bersedia untuk pergi ke tempat orang kafir yang belum beragama dan yang belum mengenal Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, jikalau kalian setia mendoakan saya." Kelima temannya berjanji mendukung Carey dalam doa seumur hidup mereka. Itulah sebabnya Carey pergi ke India dan membawa Injil ke sana. Sesudah itu ia dan timnya di Serampore College menerjemahkan dan membantu/supervisi proses penerjemahan Alkitab ke dalam 36 bahasa. Teman doanya yang paling setia adalah adik perempuannya yang lumpuh yang tidak bisa ke luar dari tempat tidur. Bertahun-tahun dia dengan setia dan berjasa mendoakan kakaknya, sehingga Injil bisa diberitakan di Asia.

6.      Dwight L. Moody

Dwight L. Moody seorang penginjil Amerika datang ke Inggris dan mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) besar-besaran di sana. Banyak mahasiswa yang bertobat. Ada tujuh orang mahasiswa yang sangat pandai bertobat serta dipanggil Tuhan untuk melayani sebagai Misionaris. Mereka bergabung di bawah Yayasan Hudson Taylor di RRC. Salah satu di antara mereka adalah seorang olahragawan yang terkenal di Inggris bernama C.T. Studd. Pertama-tama Studd melayani di RRC, setelah itu di India dan seterusnya dengan yayasannya sendiri ia melayani di negara Afrika.[21]

7.      John Wycliffe

Wycliffe adalah seorang pemberani dan pembicara blak-blakan baik dalam teologi maupun pengetahuan. Tetapi dalam politik ia selalu terjebak dalam pertempuran antara dua pihak. John Wycliffe adalah orang terpelajar yang terkemuka pada zamannya. Seluruh Inggris menghormati kebijakannya. Pendidikan di universitas masih merupakan fenomena baru ketika itu dan peranan Wycliffe sungguhlah besar bagi reputasi Oxford, tempat ia belajar dan mengajar.

Namun, kehidupannya penuh dengan kontroversi. Ia mempunyai kebiasaan berbahaya, yaitu mengatakan apa yang dipikirkannya. Jika apa yang dipelajarinya membuatnya memperta nyakan tentang ajaran Katolik resmi, ia langsung menyuarakannya. Ia mempertanyakan hak Gereja atas kuasa duniawi dan kekayaannya. la mempertanyakan juga penjualan surat-surat pengampunan dan jabatan-jabatan gerejawi, penyembahan para santo dan relikwi yang berbau takhayul, serta kuasa paus. Ia mempertanyakan juga pandangan resmi tentang Ekaristi (doktrin transubstansiasi). Untuk pandangan-pandangan semacam ini dan lainnya, ia selalu harus membela diri di hadapan para uskup dan konsili-konsili.[22]

 III.            Kesimpulan

Istilah Missiologia berasal dari kata Latin missio yang artinya pengutusan. Misi bukan suatu kegiatan gereja, melainkan suatu kegiatan Allah. Dunia tidak diselamatkan oleh suatu misi gereja, melainkan oleh suatu misi Allah. Misi menurut Perjanjian Lama adalah misi Allah yang universal. Misi Allah bukan hanya bagi umat Israel saja, malainkan misi Allah adalah penggenapan karya keselamatan bagi bumi. Penggenapan keselamatan itu dialami oleh bangsa Israel melalui proses pendidikan/pengajaran yang sangat panjang sejak dari pemanggilan Abraham. Misi menurut Perjanjian Baru adalah misi yang berasal dari gereja Tuhan yang terdiri dari berbagai bangsa.

Ada dua jenis kesaksian dalam misi yaitu kesaksian perorangan dan kesaksian bersama. Kesaksian perorangan (personal Evangelism atau individual witness) adalah kesaksian orang Kristen mengenai pembaharuan kehidupan dan kebahagiaan hatinya yang tidak dapat diserahkan kepada orang lain saja namun seorang Kristen harus siap siaga bersaksi di dalam pekerjaannya dan di manapun juga. Orang Kristen boleh memakai strategi yang digariskan oleh Tuhan Yesus sendiri dalam hal bersaksi yaitu “cerdik seperti ular dan tulus hati seperti burung merpati” (Matius 10:16). Bukan licik, tetapi kebijaksanaan yang dibimbing oleh cintakasih. Seorang Kristen dapat bersaksi terhadap teman setempat, terhadap orang-orang yang kebetulan dijumpai, dan terhadap teman-teman sekerja.

Kesaksian bersama adalah panggilan hakiki Gereja. Di seluruh dunia orang-orang Kristen dan gereja-gereja telah semakin mampu memberikan kesaksian bersama. Roh kudus terus-menerus memperbarui orang-orang Kristen dimana pembaharuan ini berpusat pada Kristus dan suatu cara hidup yang baru yang pada hakikatnya adalah suatu persekutuan yang bersaksi. Ada beberapa tokoh yang menjadikan kesaksiannya sebagai pengikut Tuhan Yesus Kristus, yaitu William Carey, Dwight L. Moody dan John Wycliffe.


 

 IV.            Daftar Pustaka

Sumber Buku:

Bosch, David J. Transformasi Misi Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997.

Elbers, Veronika J. Gereja Misioner. Malang: SAAT, 2015.

End, Van den. Harta Dalam Bejana. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986.

Kenneth, Curtis A. 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007.

Kuiper, Arie De. Missiologia. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015.

Lane, Tony. Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007.

Naftallino, A. Misi di Abad Postmodernisme. Bekasi: Gerakan Pelayanan Pemikir Muda, 2007.

Situmorang, Jonar. Strategi Misi Paulus. Yogyakarta: Andi, 2020.

Thomas, Norman E.  Teks-Teks Klasik Tentang Misi dan Kekristenan Sedunia. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001.

Tomatala, Y. Penginjilan Masa Kini. Malang: Gandum Mas, 2004.

Wellem, F.D. Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003.

Woga, Edmund. Dasar-Dasar Misiologi. Yogyakarta: Kanisius, 2002.

Yohan. Pendidikan Agama Kristen Sebagai Misi Gereja. Sulawesi Tengah: CV Muda Sejahtera, 2022.

 

Sumber Lain:

http://digilib.iain-palangkaraya.ac.id, diaskes pada 13 April 2023 pukul 10.00 WIB.

https://123dok.com/article/kesaksian-misi-tokoh-penting-doa-sejarah-misi.ynxendpq, diaskes pada tanggal 15 April 2023 pukul 15.00 WIB.

https://www.churchofjesuschrist.org/study/manual/true-to-the-faith/testimony?lang=ind,  diaskes pada 13 April 2023 pukul 10.00 WIB.

https://smaver.sch.id/blog/quicquid-enima-sapientia-proficiscitur-idconti/, diakses pada tanggal 15 April 2023 pukul 15.00 WIB.

 



[1] Arie De Kuiper, Missiologia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015), 9.

[2] Edmund Woga, Dasar-Dasar Misiologi (Yogyakarta: Kanisius, 2002), 14.

[3] Jonar Situmorang, Strategi Misi Paulus (Yogyakarta: Andi, 2020), 70.

[5] http://digilib.iain-palangkaraya.ac.id, diaskes pada 13 April 2023 pukul 10.00 WIB.

[6] A. Naftallino, Misi di Abad Postmodernisme (Bekasi: Gerakan Pelayanan Pemikir Muda, 2007), 30.

[7] A. Naftallino, Misi di Abad Postmodernisme (Bekasi: Gerakan Pelayanan Pemikir Muda, 2007), 31-33.

[8] A. Naftallino, Misi di Abad Postmodernisme (Bekasi: Gerakan Pelayanan Pemikir Muda, 2007), 37-38.

[9] Yohan, Pendidikan Agama Kristen Sebagai Misi Gereja (Sulawesi Tengah: CV Muda Sejahtera, 2022), 57-59.

[10] A. Naftallino, Misi di Abad Postmodernisme (Bekasi: Gerakan Pelayanan Pemikir Muda, 2007), 44.

[11] Veronika J. Elbers, Gereja Misioner (Malang: SAAT, 2015), 1.

[12] Y. Tomatala, Penginjilan Masa Kini (Malang: Gandum Mas, 2004), 25.

[13] Arie De Kuiper, Missiologia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015), 101-102.

[14] Norman E. Thomas, Teks-Teks Klasik Tentang Misi dan Kekristenan Sedunia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), 339-340.

[15] David J. Bosch, Transformasi Misi Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997), 701 & 716.

[16] Tony Lane, Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007), 130-131.

[17] F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), 198-200.

[18] https://smaver.sch.id/blog/quicquid-enima-sapientia-proficiscitur-idconti/, diakses pada tanggal 15 April 2023 pukul 15.00 WIB.

[19] Van den End, Harta Dalam Bejana (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986), 252.

[20] F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), 155-157.

[22] Curtis A. Kenneth, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007), 66-67.

Comments

Popular posts from this blog

TAFSIRAN KITAB 1 TESALONIKA 3:1-13 MENGGUNAKAN METODE KANONIKAL

Teologi PL: ARTI DAN MAKNA FORMULASI BERKAT MENURUT KITAB BILANGAN