MISIOLOGI: DASAR PEMILIHAN ISRAEL UNTUK PELAYANAN

            

DASAR PEMILIHAN ISRAEL UNTUK PELAYANAN

I.                   Pendahuluan

Konsep mengenai umat Israel sebagai umat pilihan sangat jelas dikemukakan Musa dalam kitab Ulangan 7:8, “Sebab engkaulah umat yang kudus bagi Tuhan, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh Tuhan, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya”. Pemilihan bangsa Israel oleh Allah merupakan gagasan yang mendasari untuk meresapi kitab ulangan. Sumber pemilihan ialah kasih Allah yang bebas dan mahakuasa. Ucapan musa dalam ulangan menekankan hal ini bahwa ketika Allah memilih Israel hati-Nya terpikat oleh mereka.

Hal ini bukanlah karena Israel memilih Dia terlebih dahulu, juga bukan karena israel        layak menerima belas kasihan-Nya. secara nyata, Israel adalah kebalikan dari memikat hati karena jumlahnya tidak besar dan perangainya lalim, lagipula ia lemah, kecil dan pemberontak. Kasih Allah terhadap Israel bersifat sertamerta dan bebas, tidak mempersoalkan kelemahan pihak Israel dan tidak dipacu oleh apapun kecuali doronga hati baik-Nya.

 

II.                Pembahasan

2. 1.  Pengertian Pemilihan

      Predestinasi adalah pemilihan Allah sejak semula. Allah sejak kekekalan bertindak berdasarkan keputusan kehendak-Nya yang paling kudus dan bijaksana menetapkan secara bebas dan tanpa mengubah segala sesuatau yang terjadi. Allah bukan pencipta dosa, kekerasan juga tidak diberikan pada kehendak mahkluk ciptaan-Nya, serta kebebasan atau kemungkinan tentang maksud yang kedua tidak ditiadakan, malah ditegakkan. Predestinasi yang dimaksud adalah predestinasi Allah. Allah yang karena kasih-Nya yang tidak terpahami, mau bersama dengan manusia yang berdosa. Karena kasih-Nya Allah berinisiatif untuk mengambil jalan predestinasi. Predestinasi ialah kehendak Allah yang kekal untuk membuat manusia menjadi “rekan perjanjian-Nya”. Pemilihan Allah terhadap seseorang atau kelompok dalam persekutuan yang lebih besar adalah tujuan atau masa depan yang di tentukan-Nya.

 

2. 2.  Tujuan pemilihan adalah melayani

      Tujuan pemilihan Allah adalah untuk melayani-Nya dalam pemahaman sebagai berikut:

1)      Pelayanan utama umat Israel adalah “penyembahan”.

Menurut Piper, tujuan utama Allah adalah Dia disembah.

2)      Ada implikasi masa kini untuk pelayanan sosial yang “theosentris”

Pelayanan sosial wajib berpusat kepada Allah.

3)      Tugas sebagi bangsa yang terpilih adalah menjadi contoh dalam hal peribadatan (prototype) dan melayani (khusunya orang-orang lewi).

 

2. 3. Kewajiban Bangsa Terpilih

            Supaya bangsa yang terpilih mampu menjadi contoh bagi bangsa lain, mereka harus:

1.      Wajib kudus sebab Allah adalah kudus (Im. 19:2).

Kekudusan ini adalah pokok kehadiran Allah berdiam di tengah-tengah bangsa itu menjadi satu pokok kepercayaan umat Allah itu.

2.      Bangsa Israel wajib untuk hidup sebagi bangsa yang dipilih, yaitu patuh kepada segala perintah dan hukum-hukum Allah serta untuk melayani Allah yang kudus.

Tanda yang menyatakan bahwa Israel  adalah umat pilihan Allah adalah “perjanjian”.  Dalam perjanjian, Allah menghubungkan diri-Nya kepada Israel sebagai pembebas dan Israel diikat dalam tanggung jawab taan kepada-Nya. Israel hanya dapat membuktikan bahwa ia berada dalam “perjanjian berkat Allah” yang diwujudkan dalam tanggung jawab dan ketaatan dalam perjalanan imannya. Israel sebagai umat Allah harus tampak melalui tindakan-Nya dalam sejarah manusia dengan melakukan ketetapan-Nya.

2.      4. Dasar Pemilihan Israel

Dasar pemilihan Allah terhadap Israel :

Ø  Allah memilih tidak berdasarkan kebaikan dalam diri orang yang Dia pilih. Bangsa Israel dipilih  bukan berdasarkan jumlah mereka yang banyak  (Ul. 7:7-8) maupun kesalehan mereka (Ul. 9 :4, 6). Tuhan berkenan untuk mengasihi nenek moyang bangsa Israel dan memilih keturunan mereka ( Ul. 10:15)

Ø  Allah memilih berdasarkan kedaulatan-Nya, bukan pra-pengetahuan-Nya[1].

 

2.      5. Keunikan Status Israel

      Bilamana misi merupakan kepedulian Tuhan atas ciptaan yang telah jatuh. Dengan cara bagaimana ia menyatakan kepedulian-Nya adalah otoritas-Nya. Dalam hal ini adalah umat Israel, dipilih sebagagai alat-Nya. Sebab mereka adalah pewaris janji yang telah lama dinyatakan-Nya kepada leluhurnya (Abraham, Ishak, dan Yakub). Kehendak Tuhan di dalam memulihkan kejatuhan manusia semakin tampak terang dengan panggilan Abraham, kej 12:1-3.

 

2.      6. Status Israel

Bangsa Israel satu-satunya bangsa yang mempunyai status yang berbeda dari antara bangsa-bangsa di bumi. Status itu adalah perta-tama mereka adalah keturunan Abraham, Roma 9:4,5; dari anak perjanjian, dan bukan anak dalam pengertian biasa tetapi ada istimewanya adalah anak yang dilahirkan karena Tuhan sejak semulanya mengikatkan diri-Nya kepada apa yang dijanjikannya. Keistimewaan bangsa Israel yang lain adalah bahwa karena Tuhan berkenan mengangkat mereka sebagai umat-Nya. Kebenaran ini pertama-tama disampaikan Tuhan kepada musa saat masih berada di mesir.[2]

 

 

2.7. Nilai Misi Israel

2 .7. 1. Dari Mesir Sampai Tanah Perjanjian

      Masa perbudakan di mesir adalah masa-masa persiapan bagi bangsa Israel sebagai umat Tuhan. Keberadann Israel selama masa perbudakan di mesir memiliki nilai misi bagi Tuhan. Dengan kata lain keberadaannya yang negatif, bisa berdampak positif karena Tuhan terlibat didalam peristiwa itu.

Pada masa perjalanan ke tanah perjanjian inilah Tuhan nenperlihatkan keagunganNya. Bukan saja bangsa Israel selamat dari ancaman bangsa-bangsa yang memeranginya, tetapi juga pemeliharaan-Nya yang tidak kurang-kurangnya selama 40 tahun di padang gurun.

2 hal yang dapat dikatakan sebagai kriteria misi  Tuhan

Ø  Bersifat internal

Misi itu lebih diarahkan kepada umat Israel sendiri agar taat (belajar beriman), dan menyadari bahwa mereka umat Tuhan  yang harus memerankan kelayakannya  sebagai umat pilihan.

Ø  Bersifat external

Tindakan tuhan yang bersifat misi, berkenaan dengan menuntut umatNya ke tanah perjanjian memperlihatkan kekuatanNya atas bangsa-bangsa lain yang memusuhi umat-Nya. Tetapi menyatakam belaskasihanNya terhadap Israel kepada mereka (non Israel) yang bertobat (menyambut) kedatangan Israel.[3]

2.7.  2.  Masa Yosua sampai Pembuangan

Musa memimpin Bangsa Israel keluar tanah perbudakan dengan membawa sekira 2 juta orang. Di alkitab tertulis, 600 ribu laki-laki tidak termasuk perempuan dan anak-anak. Ditotalkan sekira 2 juta jiwa. Sesudah Musa hamba Tuhan itu mati, berfirmanlah Tuhan kepada Yosua untuk bersiap menyeberangi sungai Yordan dan memimpin bangsa Israel memasuki Tanah Perjanjian yang dijanjikan-Nya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub, dan yang akan diberikan-Nya kepada orang Israel. Yosua dalam memimpin orang Israel menduduki tanah Kanaan. Musa memimpin Bangsa Israel keluar tanah perbudakan dengan membawa sekira 2 juta orang. Di alkitab tertulis, 600 ribu laki-laki tidak termasuk perempuan dan anak-anak. Ditotalkan sekira 2 juta jiwa.

 

2.7.3        Yakub, Rut, Dan 12 Suku

Tuhan memberi nama Israel kepada Yakub, putra Ishak dan cucu laki-laki Abraham dalam Perjanjian Lama (Kej. 32:28; 35:10). Nama Israel dapat merujuk kepada Yakub sendiri, keturunannya, atau pada kerajaan yang dahulu dimiliki keturunan itu pada zaman Perjanjian Lama (2 Sam. 1:24; 23:3). Setelah Musa memimpin anak-anak Israel keluar dari perbudakan di Mesir (Kel. 3 14), mereka diperintah oleh para hakim selama lebih tiga ratus tahun. Berawal dengan Raja Saul, para raja berkuasa atas persekutuan Israel sampai kematian Salomo, ketika sepuluh suku memberontak terhadap Rehabeam untuk membentuk negara yang terpisah. Setelah kerajaan Israel terbagi, suku-suku sebelah utara, sebagai bagian yang lebih besar, mempertahankan nama Israel, sementara kerajaan sebelah selatan disebut Yehuda. Tanah Kanaan juga disebut Israel dewasa ini. Dalam pengertian lain, Israel berarti orang percaya sejati kepada Kristus (Rm. 10:1; 11:7; Gal. 6:16; Ef. 2:12).

Dua belas suku Israel, Cucu laki-laki Abraham, Yakub, namanya diubah menjadi Israel, memiliki dua belas putra. Keturunan mereka menjadi dikenal sebagai dua belas suku Israel atau anak-anak Israel. Inilah dua belas suku tersebut: Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Isakhar, dan Zebulun (putra Yakub dan Lea); Dan dan Naftali (putra Yakub dan Bilha); Gad dan Asyer (putra Yakub dan Zilpa); Yusuf dan Benyamin (putra Yakub dan Rahel) (Kej. 29:32-30:24; 35:16-18). Yakub memberikan masing masing pemimpin suku berkat sebelum kematiannya (Kej. 49:1-28). Untuk informasi lebih lanjut, lihat nama dari masing masing putra Yakub. Ruben, putra sulung dari istri pertama Yakub, Lea, kehilangan berkat hak kesulungan dan bagian ganda warisannya karena amoralitas (Kej. 49:3-4). Hak kesulungan tersebut kemudian jatuh kepada Yusuf, yang adalah putra sulung dari istri kedua Yakub, Rahel (1 Taw. 5:1-2). Lewi, yang sukunya telah Tuhan pilih untuk melayani sebagai pelayan rohani keimamatan-Nya, tidak menerima warisan karena pemanggilan khusus mereka adalah untuk melayani di antara semua suku.

Dalam Perjanjian Lama, wanita Moab menantu Naomi dan Elimelekh, yang adalah orang Israel. Setelah kematian suaminya, Rut menikahi sanak saudara Naomi, Boas. Putra mereka Obed adalah leluhur Daud dan Kristus. Cerita tentang Rut dengan indah mengilustrasikan keinsafan dari seorang yang bukan orang Israel ke dalam kawanan Israel. Rut melepaskan allah dan kehidupannya terdahulu untuk bersatu dengan rumah tangga yang beriman dalam melayani Allah Israel (Rut 1:16).

                 

2. 8. Puncak kegagalan Israel

      Puncak kehidupan Isarel sebagai umat pilihan, berakhir dengan tragis bukan saja mendapat janji berkat, tetapi malah kutuk sub-tema berikut kita akan menyaksikannya.

2.8.1.      Suatu misteri kutuk bagi Israel

      Di dunia ini tidak ada satu suku bangsa yang demikian dramatis penuh tragedi kecuali bangsa Israel bukan saja status nya yang unik, tetapi juga secara etnis (suatu bangsa yang sejak mulanya) tetap sanggup bertahan keetnisannya hingga kini. Baik secara negatif maupun positif keberadaannya tetap memberi pengaruh besar atas sejarah. Inilah suatu misteri sejarah dunia yang tidak dipahami oleh dunia, kecuali orang-orang yang telah dite rangi Roh Kudus.

       Nilai negatif Israel adalah "kebutaan" mereka atas penggenapan janji-yang telah tergenapi didalam diri Yesus. Logika nya, seharusnya mereka sadar akan kondisinya yang hingga kini masih menanti kegenapan janji itu bagaimana mungkin janji Tuhan sejak leluhur mereka Abraham, Ishak, dan Yakub hingga tampilnya nabi Maleakhi menyerukan kesegeraan datangnya Hari Tuhan kini (sejarah telah memasuki milenium ketiga), Mesias (baca hari Tuhan) belum juga terjadi! dari sisi waktu sungguh sudah tidak logis. Belum peristiwa-peristiwa sejarah yang mengikutinya. Dalam konteks waktu ini-Israel mesti sadar mengkaji ulang pengharan mereka.[4]

2.8.2.      Religius Israel yang Khas

        Peristiwa pembebasan bangsa Israel dari pembuangan di tanah Mesir, yang adalah peristiwa historis-politis biasa, menjadi luar biasa karena dialami oleh bangsa Israel sebagai pernyataan diri Allah mirabilia t`Dei kepada Israel. Allah dialami, digumuli, dan ditafsir dalam dan melalui peristiwa historis tersebut sebagai Yahwe vang mempunyai kuasa membebaskan dan menyelamatkan (Kel 15) "Perkaranya bukanlah kejadian-kejadian tersendiri, melainkan penafsiran kejadian-kejadian" Bangsa Israel melihat bahwa di dalam sejarah dunia ada petunjuk-petunjuk, tanda-tanda di mana keselamatan ilahi menjadi sejarah (peristiwa historis).[5]

         Israel terpanggil menjadi hamba Tuhan yang telah menanggung penderitaan mesianis di dunia ini di sepanjang sejarah. Memang ditanggungnya atas kekuatannya sendiri, tetapi ditanggungnya di dalam iman yang bertahan. Dan kerap kali penderitaan itu ditanggungkan ke atasnya dari pihak kekristenan, kata nya, sebagai siksaan atas penyaliban Tuhan Yesus. Tetapi Almasih yang menderita sengsara dan disalibkan tidak dapat diterima oleh umat Yahudi.

         Keistimewaan bangsa Israel tidak terletak dalam peristiwa peristiwa historis-profan yang mereka alami (seperti pembebasan dari Mesir perjalanan mereka yang sulit serta penuh bahaya melalui  padang gurun menuju ke tanah Palestina dan perebutan tanah Palestina) Juga tidak di dalam perayaan-perayaan sekular peringatan pembebasan mereka, sebagaimana biasa dibuat juga oleh bangsa bangsa non-Israel. Mereka (bangsa Israel) membedakan diri dari bangsa-bangsa lain di sekitarnya karena interpretasi religius mengenai peristiwa-peristiwa yang mereka alami di dalam sejarah hidup mereka." Sejarah dunia (sejarah umum atau sejarah profan) - menurut C Groenen - dalam peristiwa-peristiwa tertentu "di lihat oleh bangsa Israel secara jelas (transparan) sebagai sejarah penyelamatan, karena peristiwa tersebut "tertuju kepada dan bersangkutan dengan keselamatan, keutuhan, kebulatan (umat) manusia.

         Perayaan peringatan bangsa Israel akan pembebasan mereka dari Mesir, akan bimbingan dan pemeliharaan dalam perjalanannya menuju ke tanah terjanji, yang diadakan setiap tahun, menjadi perayaan pernyataan Diri Allah (mirabilia Dei) kepada mereka. Perayaan ini diadakan demi pengalaman baru bersama Yahwe dan pembaruan diri mereka sebagai "umat Allah Bangsa-bangsa lain di sekitar Israel juga membuat perayaan yang serupa.[6]

 

III.             Kesimpulan

      Ketidaksetiaan Israel mendatangkan hukuman terhadap mereka. Hukuman Allah terhadap bangsa Israel mempunyai tujuan yang istimewa yaitu keselamatan dan kesejahteraan. Dengan sisa bangsa Israel yang luput dari hukuman, Tuhan mengadakan suatu perjanjian yang baru sambil mengampuni dosa mereka dan mengaruniakan sejahtera yang sempurna umat Allah menjadi perantara berkat TUHAN dapat mengalir kepada sekalian bangsa, bahkan Allah akan mendirikan kerajaanNya di didalam dunia ini dan dengan demikian segala sesuatu diperbaharui dan seluruh dunia menikmati sejahtera TUHAN. Allah sangat mengasihi bangsa Israel dan didalam kasih-Nya, Allah memilih para nabi sebagai penyambung lidah Allah untuk mengabarkan bahwa mereka akan dihukum akibat perbuatan dosa mereka, tetapi jikalau Israel mau bertobat, Allah akan memberi keselamatan kepada mereka.

Tambahan Hasil Diskusi/Pertanyaan Kelas :

Tambahan dari Bapak Dosen : Dasar Pemilihan Israel dan Janji Allah (Ulangan 7:7-8) “ Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa manapun juga, maka hati Tuhan terpikat olehmu dan memilih kamu- bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? Tetapi karena Tuhan mengasihi kamu dan memandang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu,  maka Tuhan telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menembus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun Raja Mesir.

Tobok Tobing: (?) Apakah dasar pemilian Israel masih berlaku hingga saat ini?  “ Jawabannya : Allah memilih tidak berdasarkan kebaikan dalam diri orang yang Dia pilih. Bangsa Israel juga dipilih bukan berdasarkan jumlah mereka yang banyak, maupun kesalehan mereka. Tuhan berkenan untuk mengasihi nenek moyang bangsa Israel dan memilih keturunan mereka. Allah memilih berdasarkan kedaulatanNya bukan pra pengetahuanNya dan sama seperti kita,  kita juga akan dipilih sebagaimana kita akan dijadikan apa oleh Tuhan Allah sendiri. apakah kita mampu menjalankan perintah Allah maka, Kita memiliki kepercayaan untuk menjadi pelayan, tetapi Tuhan lah yang lebih mengerti dan mengetahui apa yang akan terjadi dalam kehidupan kita selanjutnya, karna Tuhan selalu merancangkan damai sejahtera bukan rancangan kecelakaan, Rencana Tuhan lah yang lebih mempimpin keseluruhan hidup kita.

Benghadat Sinaga (?) Pernyataan Allah tentang Mirabilia Dei.  Jawabannya “Mirabilia Dei” adalah bahasa yang berasal dari negara Italia yang artinya tentang peristiwa pembebasan bangsa Israel dari pembuangan di tanah Mesir yang adalah peristiwa historis-politis biasa menjadi luar biasa karena dialami oleh bangsa Israel sebagai pernyataan diri Allah kepada Israel.

Lidia Lingga (?) Apa tiga aspek dari pemilihan bangsa Israel. Jawabannya “ Ada tiga aspek dari pemilihan Israel, yaitu: aspek universalisme, eskatologis, dan Mesianis. Bagi sejarah keselamatan untuk seluruh dunia.

Jani Simanjuntak (?) Pergumulan atau permasalahan apa yang dialami Yosua sejak memimpin bangsa Israel? Jawabannya “Pergumulan atau permasalahan yang dialami Yosua saat memimpin bangsa Israel itu banyak contohnya saat bangsa Israel mengalahkan bangsa Yeriko yang dimana pada saat itu pemimpinnya Yosua di sana banyak permasalahan yang dialami Yosua salah satunya ialah Persoalan yang dihadapi bangsa Israel adalah bangsa Israel diminta memilih untuk menyembah allah lain atau Allah yang menyelamatkan bangsa Israel dari Mesir. Masih ada yang menyembah allah lain di antara mereka. Alasan Yosua meminta bangsa Israel memilih adalah untuk memperbaharui janji kesetiaan mereka pada Allah. Yosua tidak hanya memberikan pilihan, tapi ia juga menentukan pilihannya yang konsisten dan teguh. Yaitu ia dan keluarganya hanya taat dan beribadah kepada Allah saja. Yosua menyuruh 12 imam untuk membawa tabut perjanjian dan berjalan ke dalam air. Seketika para imam itu menginjakkan kaki ke dalam air, air itu terbelah. Orang-orang Israel menyeberangi sungai itu di atas tanah yang kering. Yosua menyuruh orang-orang Israel untuk mengambil 12 batu dari dasar sungai yang kering. Tema dalam kitab Yosua yaitu perebutan tanah sebelah barat sungai Yordan. Berdasarkan tema tersebut, kitab Yosua dibagi menjadi beberapa bagian.  Pertama, perebutan Kanaan . Kedua, pembagian tanah.

I’sak Hutabarat (?) Tujuan pemilihanAllah, siapa yang dilayani? Jawabannya “ Tujuan pemilihan Allah ialah siapa yang dilayani pelayanan utama umat Israel adalah penyembahan, tujuan utama adalah Allah yang disembah wajib Kudus sebab Allah adalah Kudus. Kekudusan ini adalah pokok kehadiran Allah berdiam di tengah-tengah bangsa itu dan menjadi satu pokok kepercayaan umat dari bangsa Allah itu, bangsa Israel wajib juga untuk hidup sebagai bangsa yang dipilih yaitu patuh kepada segala perintah dan hukum-hukum Allah serta untuk melayani Allah yang Kudus.

Feby Sinaga (?) Pelayanan apa yang diberlakukan bangsa Israel. Jawabannya “Membebaskan bangsa Israel dari Mesir, Membelah laut merah untuk menyelamatkan bangsa Israel dari kejaran tentara Mesir, Penghiburan kepada janda.

 

IV.             Daftar Pustaka

Naftallino A,  Misi di Abad Postmodernisme (Jakarta: Tim Publikasi,2007)

Woga Edmund, Dasar-dasar Misiologi(Yogyakarta IKAPI 2002)

GP Harianto, TEOLOGI MISI,Dari MISSIO  DEI Menuju MISSIO ECCLESIA (Yogyakarta : ANDI, 2017 )

 Kuiper Arie de,Misiologia(Jakarta:Gunung Mulia,2007)

 

 

 



[1] Harianto GP, TEOLOGI MISI, Dari MISSIO  DEI Menuju MISSIO ECCLESIA (Yogyakarta : ANDI, 2017 ) 51-54

[2]A Naftallino,  Misi di Abad Postmodernisme (Jakarta: Tim Publikasi,2007) 28-33

[3]ibid

[4] [4]A Naftallino,  Misi di Abad Postmodernisme (Jakarta: Tim Publikasi,2007)42-43

[5]Arie de Kuiper,Misiologia(Jakarta:Gunung Mulia,2007) 80-81

[6]Edmund Woga, Dasar-dasar Misiologi(Yogyakarta IKAPI 2002)60-61

Comments

Popular posts from this blog

TAFSIRAN KITAB 1 TESALONIKA 3:1-13 MENGGUNAKAN METODE KANONIKAL

Teologi PL: ARTI DAN MAKNA FORMULASI BERKAT MENURUT KITAB BILANGAN