LITURGIKA: ZAMAN PATRISTIK
LITURGI
ZAMAN PATRISTIK
I.
Pendahuluan
Liturgi merupakan ciri khas umat Kristiani.
Dengan berliturgi umat Kristen menyatakan iman yang dipercayainya. Pada awalnya
liturgi telah ada sejak para rasul bahkan sebelumnya. Akan tetapi liturgi yang
dilakukan tidaklah seperti liturgi sekarang yang tersusun. Artinya liturgi atau
ibadah pada masa para rasul bersifat fleksibel. Namun pada saat itu, belum ada
kata liturgi. Kata liturgi ada sejak abad 12. Hal tersebut menunjukkan bahwa
terjadi perkembangan dan perubahan yang dialami oleh orang-orang Kristen pada
masa itu. Perkembangan-perkembangan tersebut terjadi karena dorongan dari dalam
dan dari lingkungan gereja itu sendiri.
Dalam tulisan ini, penulis berusaha
menggali perkembangan yang terjadi pada liturgi Kristen pada zaman Patristik.
Dengan berfokus kepada liturgi yang dilakukan setiap hari (harian), mingguan,
dan tahunan. Dengan ciri khas setiap peribadahan tersebut. Penulis berharap
dengan tulisan ini, pembaca dapat menambah pemahaman mengenai liturgi di zaman
Patristik.
II.
Pembahasan
2.1.
Pengertian
Zaman Patristik
Zaman Patristik disebut juga zaman
pertengahan. Istilah Patristik berasal dari kata Latin patres yang
berarti bapak-bapak gereja atau para pemimpin gereja[1]. Zaman ini adalah zaman
para Bapa Gereja. Para pemimpin gereja ini dipilih dari golongan atas atau yang
ahli dalam ilmu keagamaan atau teologi. Istilah Patristik ini pertama kali
digunakan oleh Bapa-bapa gereja setelah zaman para Rasul hingga abad ke-4.
2.2. Latar Belakang
Dalam sejarah ibadah jemaat abad pertama
pada zaman sesudah para rasul-rasul biasanya dianggap sebagai abad-abad yang
paling penting. Sumber-sumber yang timbul dalam abad-abad ini kadang-kadang
dinilai begitu tinggi, sehingga ada ahli yang menggunakannya sebagai alat utama
untuk menyusun kembali apa yang mereka sebut liturgia Perjanjian Baru.
Sumber-sumber yang terdapat pada akhir abad ke-1 dan abad ke-2 adalah Didache
(ajaran keduabelas Rasul) yang ditulis kira-kira pada tahun 100 M dan
dimaksudkan sebagai katekismus untuk jemaat dan pengikut-pengikutnya yang
berasal dari lingkungan orang-orang Kristen-Yahudi.[2] Pada Gereja Mula-mula,
liturgi dibentuk berdasarkan Kisah Para Rasul 2:41-42 dan mengadakannya menurut
budaya setempat tanpa terikat pada buku-buku liturgi, tata liturgi (baku),
formula liturgi, dan aturan-aturan liturgi lain. Bisa dikatakan bahwa liturgi
gereja mula-mula masih dilakukan berdasarkan cara dan sikap mereka hidup, bukan
melalui cara liturgi dilayankan.[3]
Setelah zaman para rasul atau gereja
mula-mula, posisi agama sebagai suatu pandangan hidup terus diperkuat dan
diperdalam termasuk liturginya dan akhirnya agama menempatkan diri sebagai
pusat pembicaraan serta menjadi titik tolak bagi pembicaraan di bidang
filsafat. Jika sebelumnya agama hanya mempengaruhi dan sebagai pembanding bagi
pembahasan filsafat maka sekarang menjadi legitimasi filsafat dan tujuan
pembahasan filsafat maka pada konteks zaman Patristik agama menjadi pengakuan
filsafat dan tujuan pembahasan filsafat itu sendiri, yaitu untuk melegitimasi
agama. Sejarah menceritakan suatu tantangan yang menentukan agama baru ini
untuk hidup atau mati. Dimana-mana keKristenan ditentang baik oleh para
pemerintah maupun para ahli pikir pada waktu itu. Terjadinya pertentangan itu
juga melahirkan ahli-ahli pikir orang Kristen (para Bapa Gereja) sehingga agama
Kristen memperoleh pembelaan secara filofofis yang berlandaskan Alkitab sebagai
pedoman utama kekristenan yang berotoritas. Zaman inilah yang disebut dengan
zaman Patristik mulai dari abad pertama hingga kira-kira awal abad ke-4 M.[4] Bapa-bapa gereja pada
zaman ini dikenal dengan banyaknya hasil karya, seperti menghasilkan
tulisan-tulisan yang berguna dan penting bagi kekristenan. Selain itu,
Bapa-bapa gereja ini juga sangat kuat mempertahankan kebenaran iman Kristen
dalam menghadapi bidah-bidah atau ajaran sesat yang melanda kekristenan pada
masa itu termasuk di dalamnya masalah-masalah liturgi kekristenan.
2.3.
Jenis-jenis
Liturgi
2.3.1. Harian
Ibadah harian sudah dipraktikkan oleh
jemaat mula-mula dengan mengambil kebiasaan agama Yahudi. Sebagaimana
masing-masing aliran (mazhab) dalam agama Yahudi, tidak semua tempat
menggunakan waktu dan praktik yang serentak untuk ibadah harian sejak gereja
awal. Ibadah yang paling umum dilakukan adalah dua kali sehari (ibadah shema)
secara pribadi (bnd Mrk. 1:35; 6:24-47) dengan mengucapkan “Dengarlah hai orang
Israel: Tuhan itu esa” (Ul. 6:4). Umumnya dilakukan pada saat matahari terbit (laudes,
pujian) dan matahari terbenam (vesperas, senja atau bintang barat).
Cyprianus (200-258) mengemukakan doa pada pagi hari sebab mengingat bahwa Tuhan
telah bangkit.
Ada yang tiga kali sehari secara komunal,
yaitu pada pukul 09.00, pukul 12.00, pukul 15.00. Menurut Hippolytus (215),
ketiga waktu itu mengingatkan waktu Tuhan mendapat siksaan, sewaktu penyaliban
berlangsung langit menjadi gelap, dan Tuhan mati. Ketiga waktu doa ini pun
lazim dalam kehidupan manusia, bahwa setiap sekitar 3 hingga 4 jam orang
berhenti bekerja. Maksud disiplin ini adalah agar umat tetap memelihara
hubungan dengan Tuhan. Umat selalu mengingat Tuhan selagi kerja dan di dalam
hidup sehari-hari. Oleh karena itu, doa tiga kali sehari ini disebut tephilla
(doa).
Ada yang lima atau enam kali dengan
menggabungkan ibadah komunial dan pribadi tersebut, namun secara pribadi. Ada
pula yang menambahkannya menjadi tujuh kali sehari sebagaimana informasi Mazmur
92:3 (pagi dan malam); 119:55(malam); 134:1 (malam). Tradisi Gereja Roma zaman
Patristik melakukan ibadah pada tengah malam atau pukul 21.00 (matutium, yang
artinya supaya berjaga-jaga), dan sekitar pukul 03.00 (officium lectionis, ibadah
bacaan atau disebut juga doa menjelang ayam berkokok).
Hippolytus (215) memperlihatkan waktu
berdoa menjadi tujuh kali sehari (Mzm. 199:164).[5]
1. Doa
Pagi dilakukan sebangun tidur, setelah mencuci tangan, mencuci muka dan
bersihkan diri (berwudu), sebelum bekerja.
2. doa
jam ke-3 dilakukan di rumah dengan berdoa dan bernyanyi. Jika sedang berada di
luar rumah, berdoalah di dalam hati, pada waktu ini Kristus dipaku di salib.
3. Doa
jam ke-6. Pada waktu penyaliban itu, siang berhenti dan langit menjadi gelap.
Maka berdoalah dengan kuasa yang besar.
4. Doa
jam ke-9. Air dan darah mengucur dari tubuh Kristus.
5. Doa
senja dilakukan sebelum tidur pada waktu petang.
6. Doa
tengah Malam dilakukan pada sekitar pukul 20.00 setelah mencuci tangan dan
muka. Juka istri adalah Kristen, berdoalah bersama-sama. Jika istri bukan
Kristen, berdoalah di ruang lain. Pada waktu ini, seluruh alam dan makhluk
berhenti memuji. Maka, orang Kristen memuji dan berdoa. Doa ini dimaksudkan
agar berjaga-jaga sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya (Mat.
25:13)
7. Doa
Ayam Berkokok dilakukan untuk mengingat Petrus menyangkal Yesus (Mrk. 14:30;
66-72).
Biara dan beberapa gereja tetap
melaksanakan ibadah harian sampai kini, bahkan ada yang melakukannya lebih
daripada tujuh kali dan tetap bekerja.[6]
2.3.2. Mingguan
1.
Hari Sabad
Pada zaman Patristik, hari Sabat digunakan
sebagai hari kebaktian oleh gereja. Hal ini masih berlangsung hingga abad ke-4.
Yesus merayakan hari Sabat. Paulus juga beribadah di Sinagoge pada hari Sabat.
Dalam agama Yahudi perayaan hari Sabat dimulai sejak Jumat petang, yakni
setelah matahari terbenam. Perayaan hari Sabat dimulai dengan Kiddusy, yakni
berkat untuk hari yang akan datang, berkat cahaya, doa, pembacaan, meditasi,
dan pengungkapan pengharapan yang kuat akan datangnya Mesias. Ibadah ini diciri
khaskan dengan berdoa, meditasi dan mengungkapkan pengharapan yang dilakukan
pada hari ketujuh.
2.
Hari Minggu
Hari minggu berasal dari bahasa Portugis Dominggo
yang artinya hari Tuhan. Hari minggu adalah hari yang istimewa. Hari minggu
ditetapkan secara resmi menjadi hari libur bagi para pegawai yang pada awalnya
merupakan hari kerja biasa para pegawai kekaisaran pada Maret 321 oleh
Konstatinus Agung (274-337). Namun, Reformator tidak setuju dengan pernyataan
yang menyatakan bahwa hari minggu adalah hari libur legalistis tetapi adalah hari Tuhan
yaitu hari kebangkitan Yesus Kristus. Dasar beribadah pada hari pertama dari
satu pekan berasal dari kesaksian para
penulis Injil atas kebangkitan Yesus Kristus (Mat. 28:1; Mrk. 16:9; Luk. 24:1;
Yoh 20). Dan kesaksian ini diteruskan setiap Minggunya (Luk. 24:35; Yoh.
20:26-27; Kis. 20:7-11; Why. 1:10), yang disebut pula hari kedelapan sebagai
hari kebaktian. Yang dimaksud dengan hari kedelapan adalah hari pertama yang
berikutnya, muncul mendukung pemahaman ciptaan baru (Yoh. 20:26 delapan hari
kemudian setelah hari kebangkitan Tuhan). Para Bapa Gereja menetapkan ibadah
hari Minggu untuk mengenang peristiwa kebangkitan Tuhan. Di beberapa gereja,
ibadah Minggu diadakan dengan perjamuan kudus karena mengingat pada peristiwa kebangkitan
Tuhan (1 Kor. 11:17-34), Paskah dan Pentakosta dirayakan pada hari Minggu.
Tata Liturgi:
-
Tulisan dari para rasul atau para nabi
dibacakan.
-
Setelah pemimpin atau lektor selesai
membacanya, pelayan liturgi menasihatkan kita untuk mempraktikkan segala hal
yang telah kita dengar.
-
Kemudian kitab berdiri dan berkata
“sebagaimana telah dikatakan tadi” selesai berdoa, maka roti, anggur, dan air
diletakkan di atas meja.
-
Pelayan liturgi berdoa dan mengucap syukur
dan umat menjawab, AMIN!
-
Lalu persembahan syukur diberikan dan
dibagi-bagikan, juga diberikan kepada mereka yang tidak hadir.
-
Orang-orang kaya yang sadar memberi
sumbangan serelanya, lalu hasil kolektenya itu disimpankan kepada pelayan
liturgi untuk diberikan kepada yatim piatu dan janda-janda, yang tidak hadir
karena sakit atau alasan lain, orang-orang di dalam penjara, dan orang-orang
asing. Para diakon menjaga dan mengatur persembahan tersebut.
Menurut
Yustinus Martir (± tahun 150) urutan Liturgi dalam Apologia I adalah:
a. Tata
liturgi Sinaksis:
-
Pembacaan Alkitab, terdiri dari Taurat,
Nabi-nabi, Surat Rasuli, dan Injil .
-
Menyanyikan Mazmur-mazmur dan pujian.
-
Pembacaan Injil.
-
Homilia, yaitu pengajaran dan penjelasan
Kitab Suci.
-
Berdoa (termasuk doa syafaat).
b. Tata
Liturgi Ekaristi:
-
Cium salam atau xium damami.
-
Anaphora, yaitu
pengumpulan persembahan dalam bentuk makanan dan minuman hasil bumi, dan
membawa masuk roti dan anggur yang tercampur air. Umat mempersembahkan
pemberian-pemberian kepada uskup.
-
Uskup menaikkan doa syukur atas ciptaan
dan pemeliharaan (providentia) Allah di dalam nama Anak dan Roh Kudus.
-
Pemecahan roti, lalu uskup memanggil
diakon untuk membagikannya kepada umat.
-
Komuni.
3.
Rabu-Jumat
Hari Rabu dipahami sebagai waktu Yudas
bersepakat mengkhianati Yesus dengan sejumlah uang. Jumat sebagai hari kematian
Yesus Kristus di salib. Hari Rabu – Jumat ditetapkan sebagai waktu berpuasa
bagi orang Kristen. Namun puasa gereja tidak memaksakan segi ritualisme atau
karena kebiasaan, melainkan untuk melakukan keadilan (sedekah) dengan jalan
zakat.
2.3.3.
Tahunan
Tahun liturgi berporos pada penderitaan,
kematian, dan kebangkitan Kristus. Ada dua (bahkan tiga) ibadah tahunan atau temporale
yang dirayakan oleh gereja di sekitar zaman Patristik, yaitu Paskah dan
Pentakosta (dan Pondok Daun).[7] Ketiga perayaan ini
langsung berakar pada tradisi Yahudi dan dirayakan pada hari minggu.
Lambat-laun terjadi perkembangan.
1.
Paskah
Paskah dalam bahasa Ibrani disebut Pesakh
dalam bahasa Yunani disebut Pascha yang artinya melewatkan. Dalam
Perj Paskah tidak hanya dilakukan atau dirayakan pada satu hari tetapi
menjadi Trihari Paskah. Lalu menjadi empat puluh hari sebelumnya yang disebut
dengan Prapaskah (sebelum Paskah atau menjelang Paskah) dan empat puluh hari
setelah paskah yang disebut dengan Minggu-minggu Paskah. Paskah adalah pusat
dari tahun liturgi. Peristiwa Kristus dirayakan berdasarkan kebangkitan-Nya dan
mewarnai seluruh ibadah gereja sepanjang tahun. Hingga pada akhir masa
Patristik, Paskah dirayakan dengan meriah dan istimewa. Merayakan sakramen pada
hari Paskah sebagai puncak perayaan akan penebusan yang Allah berikan. Tanda
sukacita disimbolkan dengan baptisan dan perjamuan. Itulah sebabnya kita
merayakan perjamuan kudus hanya pada Jumat Agung. Perkembangan Paskah menjadi
Jumat Agung dan Paskah ini bermaksud untuk mempertegas bahwa kesengsaraan dan
kematian Kristus dikenang secara istimewa hanya pada Jumat Agung dengan tujuan
untuk memberikan tempat pada gereja dan jumat percyaa akan segi-segi manusiawi
secara utuh, tulus dan jujur. Orang Kristen
tidak selalu mesti bergembira, bersukaria, berhaleluya, bersorak-sorai.. Yesus
adalah teladan bagi manusia untuk merasakan penderitaan dunia dan tata
masyarakat. Gereja mengucapkan syukur pada hari Paskah, setelah menghayati
sengsara Kristus pada Jumat Agung. Ciri utama dari perayaan Paskah adalah
perjamuan keluarga di rumah masing-masing yang dilakukan setelah senja.
2.
Pentakosta
Hari pentakosta dilanjutkan dengan hari
raya Kenaikan Tuhan ke Sorga yaitu hari setelah Paskah. Pentakosta di gabungkan
ke dalam masa perayaan Paskah. Dengan demikian, masa perayaan Paskah
berlangsung sekitar seratus hari atau sembilan puluh sembilan hari karena
Pentakosta jatuh pada hari Minggu yaitu dari Rabu Abu hingga Pentakosta.
3.
Natal
Hari Natal berasal dari tradisi Romawi
sebagai perayaan hari kelahiran Dewa Matahari yang tak terkalahkan pada 25
Desember 274 dan dirayakan Gereja Roma pada tahun 336.
4.
Pondok Daun
Hari raya pondok daun dirayakan sekitar
bulan September-Oktober. Perayaan ini adalah suatu pesta panen. Panen adalah
gambaran buah dan juga merupakan suatu perayaan Mesiasnis. Sambil hidup di
jalan dan berjalan melalui padang gurun. Umat Kristen merayakan pesta ini
sebagai oasis yang mengingatkan kita dan juga menuntun kita untuk
mengantisipasi tanah perjanjian. Pondok adalah tempat untuk bermalam bagi
penjelajah, karena hari esok perjalanan akan dilanjutkan sehingga perayaan ini
pun jatuh pada musim kemarau.
Ada dua hari raya lain dalam Yudaisme yang
berhubungan dengan hari raya Gereja, yaitu: [8]
-
Hari raya Succoth yang disebut hari raya
Pondok Daun (hari ke-15 Tisri) yang dirayakan selama tujuh hari (Im. 23:33-36)
pada pertengahan Oktober atau November.
-
Dua bulan setelah Tisri yakni tanggal 25
Kislew (sekitar awal Desember atau masa Adven di gereja yakni bulan kesembilan
dalam kalender Ibrani) Yudaisme merayakan Hanukkah yang merupakan perayaan
nasionalisme bangsa Yahudi menang atas penjajahan Yunani.
Kemungkinan kedua hari raya Yahudi
tersebut mengilhami Minggu-minggu Adven dan hari raya Natal dengan dekorasi
kandang yang lebih menyerupai pondok itu, daun, dan lilin-lilin pada Adven.
III.
Kesimpulan
Zaman Patristik adalah zaman sesudah para
Rasul. Zaman ini adalah zaman para Bapa-bapa gereja bekerja mempertahankan
ajaran-ajaran Kristen dan membenarkannya. Liturgi harian pada zaman Patristik
dilakukan tujuh kali berdoa menurut Hippolytus namun ada juga yang bersifat
pribadi dan komunal dengan ciri khas bekerja dan berdoa. Ibadah mingguan pada
zaman Patristik ialah hari Sabad, hari Minggu, dan Rabu-Jumat. Liturgi tahunan
pada zaman Patristik adalah Paskah, Pentakosta, Natal, dan Pondok Daun.
IV.
Daftar
Pustaka
a.
Buku
Abineno, Ch. J.L.,
Ibadah Jemaat dalam Abad-Abad Pertama. Jakarta: BPK-GM, 1985.
Faqihsutan, Nurasiah, Filsafat
Hukum Bara Dan Alirannya. Medan: CV. Pusdikra Mitra Jaya, 2021.
Prasetyo, Ari, Filsafat Ekonomi:
Menjawab Tantangan Peradaban. Siduarjo: Zifatama Jawara, 2021.
Rachman, Rasid, Hari raya Liturgi: Sejarah dan pesan Pastoral
Gereja. Jakarta: BPK-GM, 2005.
Rachman, Rasid, Pembimbing ke
dalam sejarah liturgi. Jakarta: BPK-GM, 2015.
b.
Lainnya
http://pappimuskanan.blogspot.com/2015/03/liturgi-kristen.html
diakses pada 21 Februari 2023, Pukul 09:36 WIB.
[1] Ari Prasetyo, Filsafat Ekonomi:
Menjawab Tantangan Peradaban (Siduarjo: Zifatama Jawara, 2021), 70.
[2] J.L. Ch. Abineno, Ibadah Jemaat
dalam Abad-Abad Pertama (Jakarta: BPK-GM, 1985), 7.
[3] Rasid Rachman, Pembimbing ke
dalam sejarah liturgi (Jakarta: BPK-GM, 2015), 7.
[4] Nurasiah Faqihsutan, Filsafat
Hukum Bara Dan Alirannya (Medan: CV. Pusdikra Mitra Jaya, 2021), 78.
[5] Rachman, Pembimbing kedalam
sejarah liturgi, 25.
[6] Rasid Rachman, Hari raya Liturgi: Sejarah dan pesan Pastoral
Gereja (Jakarta: BPK-GM, 2005), 42.
[7] Rachman Op.Cit., 47.
[8] http://pappimuskanan.blogspot.com/2015/03/liturgi-kristen.html diakses pada 21 Februari 2023,
Pukul 09:36 WIB.
Comments
Post a Comment