DOGMATIKA: DOKTRIN TRINITATIS
DOKTRIN
TRINITATIS
1. Penghayatan
doktrin Trinitatis oleh teolog2 abad 20
i. Trinitarianisme Monopersonal
ii. Trinitarianisme Sosial
iii.
Trinitarianisme Posisi Tengah
2.
Metodologi Fungsional (kebenaran-kebenaran Alkitabiah): Penghayatan fungsi
Trinitatis berdasarkan kesaksian Alkitab
I.
Pendahuluan
Setelah penghayatan-penghayatan doktrin Trinitas
oleh para bapa-bapa gereja dan para reformator, persoalan tentang Allah
Tritunggal belum selesai. Artinya Trinitas masih tetap di posisi dipertanyakan
dan harus dipertanggungjawabkan hingga masa Abad 20. Semakin banyak ahli-ahli
yang berusaha menjelaskan keTritunggalan Allah itu semakin banyak pula ide-ide
terbaru atau pemikiran-pemikiran terbaru sehingga menciptakan masing-masing
kelompok menurut pemahaman yang mereka percaya. Kelompok tertentu memandang dan
menganut Trinitas itu monopersona yaitu Karl Barth dan Karl Rahner, kelompok
lain memandang dan menganut Trinitas itu sosial yaitu Jurgen Moltmann dan
Wolfhart Pannenberg, dan juga memandang dan menganut di antara keduanya disebut
Trinitarianisme Posisi Tengah yaitu Piet Schoonenberg dan Hans Urs von
Balthasar. Namun, doktrin ini tidak cukup hanya dengan jawaban-jawaban para
ahli. Tetapi juga harus di lengkapi dan diluruskan dengan kesaksian-kesaksian
dalam Alkitab karena Alkitablah sumber dari pembahasan doktrin Trinitas itu
sendiri.
II.
Pembahasan
2.1. Trinitarianisme
Trinitarianisme merupakan suatu pandangan
agamawi umat Kristen yang mengimani Tuhan yang maha esa di dalam pernyataan
hakikat tiga oknum yang memberi pengharapan, yaitu Sang Bapa, Sang Putra, dan
Sang Roh Kudus.[1]
Trinitarianisme ini adalah kepercayaan ortodoks (konservatif) bahwa hanya ada
satu Allah yang hidup dan benar. Allah yang dimaksud adalah kesatuan dari tiga
pribadi, yang satu dalam substansi, kuasa dan kekekalan: Bapa, Anak dan Roh
Kudus.[2]
2.2. Trinitarianisme Mono Personal
Trinitarianisme mono personal dalam bahasa
Latin Tres Subsistensi Mono Persona. Kata Personal dalam paham ini bukan
menunjuk pada jumlah berupa numeric, tetapi tentang zat berpikir, bertindak
dan berkehendak.[3]
Trinitas tidak terjadi atas tiga kehendak melainkan terjadi dari satu kehendak.
Satu kehendak tersebutlah yang dinyatakan dalam tiga cara berada. Jadi,
pandangan ini menyatakan bahwa Allah Tritunggal adalah satu pribadi. Teolog
yang menganut pandangan ini adalah Karl Barth dan Karl Rahner.
1.
Karl Barth
Menurut Karl Barth, Allah tritunggal tidak
dapat terdiri dari tiga pribadi, kepribadian atau subjek. Allah itu Esa, keesaan itu
ditunjukkan dalam “Aku” bukan tiga, Allah memiliki satu kehendak, satu wajah,
satu sabda dan satu karya bukan tiga. Barth berkeyakinan bahwa kata persona yang
ditetapkan oleh gereja tidak mengartikan arti yang sama dengan kata “pribadi”.
Menurutnya, “pribadi” menunjuk pada Allah yang Esa yang merupakan Zat berpikir,
berkehendak dan bertindak dengan kebebasan-Nya yang tak terbatas. Allah itu
satu Pribadi dalam tiga cara berada.[4] Cara berada yang rangkap
tiga itu berkaitan erat dengan pewahyuan diri-Nya yang bercorak trinitas dimana
Allah sendiri adalah sumber pewahyuan-Nya, Ia sebagai Bapa yang personal,
diwahyukan dan keterwahyuan. Ia menjadi makhluk Insani sebagai Yesus Kristus
dan kehadiran-Nya sebagai Roh Kudus dalam hati orang-orang beriman.
2.
Karl Rahner
Menurut Karl Rahner, Allah tritunggal
tidak dapat diartikan dalam artian modern dari arti kata “pribadi” sehingga
membuat Allah menjadi tiga pribadi. Di dalam Allah tidak ada lebih dari satu
yaitu satu subjektivitas, satu pusat kegiatan rohani, satu kebebasan dan satu
kehendak. Satu itu tidak menggunakan kata “Engkau” dan tidak ada cloning (pemberian
diri timbal balik).
Istilah
“pribadi” memiliki referensi dalam kenyataan ilahi yang pada hakikat-Nya Allah
yang Esa itu bergaul kepada pribadi-pribadi non-ilahi. Apa yang tiga di dalam
Allah itu disebut Rahner ialah cara bersubsistensi yang terpilah-pilah dan
ketigaan itu pun bersangkut-paut dengan komunikasi-diri dari Allah kepada
ciptaan-Nya. Akan tetapi, cara bersubsistensi rangkap tiga itu bukan hanya dan
bukan baru terjadi berhubung dengan sejarah keselamatan, tetapi betul-betul
termasuk keberadaan Allah yang imanen.[5] Apabila Allah tidak
mengkomunikasikan diri-Nya sendiri
kepada manusia tetapi hanya tanda-tanda mengacu kepada-Nya atau pekerjaan yang
mengungkapkan-Nya. Padahal yang membuat Injil menjadi suatu kabar yang
menggembirakan terletak dalam berita bahwa memang diri-Nya sendiri yang
diberikan Allah kepada kita manusia. Oleh karena itu, harus ada latar belakang
imanen di dalam Allah bagi pemberian diri itu. Tindakan Allah yang rangkap tiga
itu bersesuaian dengan hakikat Allah yang triganda dan yang memungkinkan seluruh
komunikasi diri Allah itu. Trinitas Ekonomis adalah Trinitas imanen, dan juga
sebaliknya.
Inkarnasi
hanya dapat menunjuk pada satu ara bersubsistensi saja yang tak tergantikan,
yatiu cara sang Putra, seperti juga inhabitasi Allah dalam hati kita melalui
kecenderungan atua dorongan itu hanya kepada Roh Kudus. Sebaliknya, bila Allah
memutuskan untuk memberikan diri-Nya sendiri, maka hanya melalui cara
bersubsistensi-Nya yang kedua Ia dapat
menjelma.
2.3. Trinitarianisme
Sosial
Trinitarianisme sosial dalam bahasa Latin Tres
Persona Una Communio yang artinya tiga pribadi dalam satu persekutuan atau
dalam Allah terdapat persekutuan dari tiga pribadi atau Subjek dalam arti penuh
yaitu sebagai tiga pusat cinta kasih, kehendak, pengetahuan dan tindakan. Trinitas
ini merupakan suatu persekutuan yang harmonis dalam ke-Allahan yaitu Allah yang
merupakan kasih, tentu persekutuan yang dimaksud adalah persekutuan kasih. Di
dalam Allah terdapat persekutuan dari Bapa, Anak dan Roh Kudus sebagai tiga
Pribadi atau Subjek dalam arti penuh, yaitu
sebagai tiga pusat cinta Kasih, kehendak, pengetahuan, dan tindakan
berencana yang terpilah-pilah sedemikian rupa sehingga ketiga Pribadi Ilahi
saling berhubungan. Kasih yang dari pada
Allah adalah kasih yang ramah dan bersifat universal sehingga kasih ini
memerlukan lebih dari satu oknum ke-Allahan.[6] Keesaan Allah bukan
sebagai identitas satu subjek yang tunggal, melainkan sebagai persatuan tiga
pribadi, suatu komunitas dalam arti penuh.[7] Jadi, pandangan ini
menyatakan bahwa Allah adalah tiga pribadi.
1.
Jurger Moltmann
Moltmann memandang keesaan Allah bukan
sebagai identitas satu Subjek yang tunggal, melainkan sebagai persatuan tiga
Pribadi, suatu komunitas dalam arti kata penuh. Moltmann tidak menggunakan
istilah person dalam Trinitas melainkan subjek. Ia menyatakan bahwa sejarah
Trinitas merupakan sejarah tiga Subjek dalam hubungan persekutuan satu sama
lain. Ketiga subjek yang secara intim dan intensif berhubung-hubungan. Akan
tetapi kesatuan Trinitas imanen itu lebih erat. Seperti dalam pandangan
Schoonnenberg, juga dalam teologi Moltmann ada ketegangan antara para Pribadi
ekonomis yang dilukiskan dengan istilah yang cukup modern di satu pihak dan
para Pribadi imannen yang digambarkan dengan cara yang lebih tradisional di
lain pihak. Proses-proses imanen di dalam Trinitas bersifat adi kodrati, kekal,
dan malah niscaya, sedangkan perutusan ekonomis bersifat suka rela, temporal,
dan bebas. Akan tetapi karena bagi Allah keniscayaan dan kebebasan bertindih
tepat, semua term tadi rupanya dapat dijabarkan menjadi spontanitas,
terutama spontanitas cinta kasih. Allah mengasihi dengan sendirinya.
2.
Wolfhart Pannenberg
Pannenberg berpandangan bahwa hubungan
trinitaris antara Bapa, Putra, dan Roh Kudus itu berupa diferensiasi-diri
timbal balik, hubungan itu tidak dapat diartikan sebagai hanya cara berada yang
berlain-lain saja dari satu Subjek Ilahi yang tunggal, tetapi hanya dapat
dimengerti sebagai proses-proses kehidupan dari tiga pusat kegiatan yang
independen. Bapa, Putra dan Roh Kudus digambarkan Panennberg sebagai tiga
penampakan dari satu medan dan kekuatan yang diidentifikasi sebagai cinta
kasih. Daya cintalah yang mendorong para Pribadi untuk keluar dari diri sendiri
begitu rupa sehingga mereka menghayati hidupnya bukan dari diri mereka sendiri
menuju yang lain, melainkan dari yang lain menuju diri mereka sendiri.
Tiap-tiap pribadi menerima diri-Nya sendiri dari yang lain, kepada siapa Ia
telah memberikannya tanpa ingat diri.
Seperti
pribadi insani, Pribadi Ilahi pun mempunyai kodrat yang ekstatis. Maksud
Ekstatis ialah mempunyai diri-Nya dalam Pribadi yang lain. Ini berarti bahwa
dalam memperoleh diri itu kodratnya yang temporal dan fragmentaris kiranya
dapat dilampaui, tetapi juga kalau demikian, apabila konsep diri dialihkan dari
taraf insani ke taraf ilahi, harus ada distinksi antara Aku dengan diri di
dalam Allah juga dalam terminologi trinitaris, antara subjek (pusat kegiatan)
dengan hakikat. Setiap Pribadi sebagai seorang Aku menerima diri-Nya berkat
yang lain. Proses memberi dan menerima ini terjadi di dalam hakikat Allah yang
abadi, namun diteruskan di dalam waktu, di dalam sejarah Allah dengan umat
manusia. Dengan demikian, Diri masing-masing Pribadi dipertaruhkan sampai pada
eskaton. Pannenberg memperkuat gagasan ini dengan mengatakan bahwa Allah
memperoleh sifat-sifatnya melalui tindakan-tindakan-Nya yang dipilih-Nya untuk
dilakukan; hakikat-Nya diperoleh secara historis. Trinitas yang terlibat dalam
suatu proses itu akan diselesaikan secara eskatologis.
2.4. Trinitarianisme
Posisi Tengah
Trinitarianisme posisi tengah berada di
antara Mono Persona dengan istilah Tres Personae, yakni Allah itu
adalah Monopersona secara batiniah tetapi menyingkapkan dirinya secara Tres
Persona dalam sejarah penyelamatan sosial.[8] Atau dengan kata lain,
pribadi Ilahi yang satu itu menjadi antar pribadi dengan bergerak menuju
makhluk-makhluk insani.
1.
Piet Schoonenberg
Memakai paham pribadi dalam arti modern,
yaitu subjek yang mampu akan tindakan dan keputusan serta yang menyadari
dirinya sebagai tak tergantikan. Schoonenberg mengemukakan tesis bahwa Pribadi
Ilahi yang satu itu menjadi antar pribadi dengan bergerak menuju
makhluk-makhluk insani. Pribadi bila diterapkan kepada Allah, berlaku bagi
Allah yang dapat disebut Sang Bapa, sedangkan sang Putra dan Roh hanya secara
ekonomis saja menjadi Pribadi-Pribadi berkat pergerakan diri Allah menuju
manusia maka Putra dan Roh semakin memprofilasikan diri-Nya sendiri (sekaligus
membuat manusia makin lama makin pribadi). Dinamika yang disebut personalisasi
atau hypostasasi ini mempunyai akibat menarik sebagai berikut. Walaupun secara
imanen terdapat satu Pribadi dengan dua pancaran, yakni Sabda dan Roh, namun
secara ekonomis (khususnya sejak inkarnasi) terdapat interpersonalitas yang
sungguh-sungguh. Shoonenberg dapat mengatakan bahwa Putra dan Roh mempribadikan
diri sendiri, tetapi menganggapnya lebih tepat untuk mengatakan bahwa Pribadi
Bapa mempribadikan Sabda-Nya menjadi Putra (dalam Yesus Kristus) dan Roh-Nya
menjadi Roh Putra-Nya. Dengan cara yang demikian Bapa mempribadikan Diri-Nya
sendiri. Proses pergerakan diri Allah menuju manusia itu bersifat abadi dan
dikeendaki-Nya dengan bebas. Proses ini berlangsung di dalam hakikat Allah,
karena Diri Allah sendirilah yang dipribadikan-Nya dalam kontak dengan makhluk
ciptaan-Nya itu.
2.
Hans Urs von Balthasar
Balthasar berusaha membuat pendiriannya
untuk tidak menciptakan kontradiksi antara kedua sudut pandang trinitas. Ia
mengartikan kata pribadi dalam pernyataan bahwa Allah itu satu Pribadi harus
berbeda dengan artinya dalam kalimat bahwa Ia tiga Pribadi. Balthasar
berpandangan bahwa setiap makhluk insani merupakan baik individu yang
dilawankannya dengan kondisi masyarakat maupun subjek menta yang dilawankannya
dengan benda mati dan makhluk yang hidupnya bersifat nabati atau hewani. Tetapi,
seorang insani dapat menjadi seorang pribadi dengan memperoleh suatu derajat
atau martabat yang melebihi individualitas dan subjektivitas mental tadi dan
menghindarinya dari merosot dan jatuh ke dalam individualisme atau
kolektivisme, dalam animalisme atau voluntarisme dan rasionalisme. Martabat ini
dijelaskannya dengan dua cara. Pertama, orang menjadi pribadi berkat
perutusannya. Kristus adalah pribadi karena diutus seluruhnya oleh Bapa,
makhluk-makhluk insani akan menjadi pribadi-pribadi sejauh mereka membiarkan
dengan diutus menjadi seperti Kristus, maka menjadi Kristiani). Kedua, dalam
teologi trinitaris kata pribadi didefinisikan sebagai diri yang secara sempurna
menyangkal diri, terdiri dari kasih murni yang memberikan segala sesuatu kepada
yang lain.
2.5. Penghayatan
fungsi Trinitatis berdasarkan kesaksian Alkitab
Memang istilah Trinitas tidak dapat
ditemukan oleh siapa pun dalam Alkitab. Akan tetapi, hal-hal yang menjadi pokok
pembahasan pada Trinitas ada pada Alkitab dan bersumber dari Alkitab dan harus
berdasarkan Alkitab. Istilah Tritunggal adalah mencakup makna kesatuan dari
tiga oknum Allah yang terdapat dalam PL dan PB. Fungsi Trinitas berhubungan
dengan tindakan atau karya para Pribadi itu opera ad extra (pekerjaan di
luar, yaitu pada penciptaan dan makhluk-mahkluk ciptaan-Nya). Bagi Bapa ini
termasuk pekerjaan memilih (1 Ptr. 1:2), mengasihi isi dunia (Yoh. 3:16), dan
memberikan pemberian yang baik (Yak. 1:17). Bagi Anak, ini menekankan
penderitaan-Nya (Mrk. 8:31), menebus (1 Ptr. 1:18), dan menopang segala sesuatu
(Ibr. 1:3). Bagi Roh kudus ini memfokuskan pada pekerjaan-Nya yang khusus yaitu
melahirkan kembali (Tit, 3:5), memberi kekuatan (Kis. 1:8) dan menguduskan
(Gal. 5:22-23).[9]
Sang Bapa menciptakan oleh Anak (Yoh. 1:3), Roh kudus melayang-layang dengan
perlahan-lahan di atas permukaan bumi selama enam hari penciptaan (Kej.1:2). Sang
Bapa mengutus Anak ke dalam dunia untuk mengadakan penebusan (Yoh. 3:16) dan
Anak itu sendiri dalam pelayanan-Nya pergi dalam kuasa Roh Kudus untuk
menguduskan orang percaya.[10]
Ichwi
G. Indra menguraikan tiga perbuatan besar oleh Allah Tritunggal, yaitu:[11]
1. Menciptakan
adalah aktivitas Bapa (1 Kor. 8:6; Why. 4:11), tetapi Anak pun juga aktif (Yoh.
1:1-3; Kol 1:15-17), demikian juga Roh kudus (Mzm. 33:6; 104:30).
2. Allah
disebut Anak adalah dalam aktivitas kuasa-Nya berfirman untuk menyatakan
kehendak-Nya, hukum-Nya, janji-Nya kepada umat manusia. Anak di sini merupakan
analogi dari kata Firman (Yoh. 1:1, 14). Yesus disebut Firman Allah yang hidup,
dan itulah sebabnya Ia disebut Anak Allah. Sebagai Anak Allah, Yesus taat
kepada Bapa sampai mati di kayu salib (Flp.2:8). Di kayu salib Anak mengerjakan
karya penebusan bagi manusia berdosa. Jadi, menebus adalah aktivitas Anak (Yoh.
1:14; Ibr.10:5), tetapi Bapa pun aktif (Yoh.3:16); Gal.4:4), demikian juga Roh
Kudus (Luk.1:35). Penyelamatan dari sang Anak (Yoh.8:36) tetapi juga dari sang
Bapa (Yoh. 3:16), dan bapadari Roh Kudus (Yoh. 6:33).
3. Allah
disebut Roh Kudus adalah dalam aktivitas kuasa-Nya sebagai pemberi taufik dan
hidayat, yang memimpin setiap orang Kristen kepada kebenaran dan kepada Yesus
Kristus sebagai Firman yang hidup (Rm. 14:17) tetapi juga dari sang Anak (Yoh.
14:26), dan juga dari sang Bapa (Gal.4:6).
III.
Kesimpulan
Persoalan-persoalan mengenai doktrin ini
belum selesai secara fungsional. Doktrin ini adalah doktrin yang masih dalam
tahap diperkuat dan digali agar semua pertanyaan tentang doktrin itu sendiri
terjawab dan tidak menimbulkan pertanyaan lagi. Banyak para ahli yang berusaha
menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, namun tidak ada yang benar-benar menutupi
semua pertanyaan yang muncul. Allah itu Esa (Ul. 6:4) dan akan tetapi menjadi
Esa. Trinitas akan ada selama gereja ada, artinya bahwa Allah yang Esa itu
tidak dapat dijawab oleh manusia terbatas dan Allah yang berada diluar
jangkauan pikiran manusia itu sendiri. Manusia hanya akan kembali pada apa yang
ada dalam Alkitab karena di dalam Alkitab terdapat sejarah tulisan-tulisan
tentang karya Allah, perbuatan Allah, kasih Allah, dan keselamatan dari Allah
itu sendiri bagi manusia dan di dalam Alkitablah Bapa, Anak dan Roh Kudus
diperkenalkan.
IV.
Daftar Pustaka
a.
Buku
Dister, Nico Syukur. Teologi
Sistematika 1. Yogyakarta: Kanisius, 2004.
Doloksaribu, Yohanes V. Latar
Belakang Sejarah Dan Perkembangan Doktrin Trinitas di Gereja Masehi Advent Hari
Ketujuh. Jakarta: Hupasarana Bawana, 2018.
Menzeis, William W. & Horton, Stanley
M. Doktrin-Doktrin Alkitab: Menurut Pandangan Pentakosta. Malang: Gandum
Mas, 2003.
Ryrie, Charles C. Teologi Dasar I:
Panduan Populer untuk memahami kebenaran Alkitab. Yogyakarta: ANDI, 1991.
Situmorang, Jonar T.H. Theologi
Proper: Menjelaskan Pribadi Allah Yang Benar, Hidup dan Absolut. Yogyakarta:
ANDI, 2015.
Tambayong, Yapi. Kamus Isme-isme:
Filsafat, Teologi, Seni, Sosial, Politik, Hukum, Psikologi, Biologi, Medis. Bandung:
Nuansa Cendekia, 2013.
b.
Jurnal
Munthe, Pardomuan, “Mengetahui
Trinitas dan Monotheisme tapi tidak memahami: Ulasan Dogmatis terhadap kondisi
Kritis Pemahaman Teologi Warga Jemaat terhadap Trinitas dan Monotheisme”,
Jurnal STT Abdi Sabda Medan, Edisi II, 2022.
[1] Yapi Tambayong, Kamus
Isme-isme: Filsafat, Teologi, Seni, Sosial, Politik, Hukum, Psikologi, Biologi,
Medis (Bandung: Nuansa Cendekia, 2013), 313.
[2] Yohanes V. Doloksaribu, Latar
Belakang Sejarah Dan Perkembangan Doktrin Trinitas di Gereja Masehi Advent Hari
Ketujuh (Jakarta: Hupasarana Bawana, 2018), 13.
[3] Munthe, Pardomuan, “Mengetahui
Trinitas dan Monotheisme tapi tidak memahami: Ulasan Dogmatis terhadap kondisi
Kritis Pemahaman Teologi Warga Jemaat terhadap Trinitas dan Monotheisme”,
Jurnal STT Abdi Sabda Medan, Edisi II, (2022):14.
[4] Nico Syukur Dister, Teologi
Sistematika 1 (Yogyakarta: Kanisius, 2004), 165.
[5] Ibid., 166.
[6] William W. Menzeis & Stanley
M. Horton, Doktrin-Doktrin Alkitab: Menurut Pandangan Pentakosta (Malang:
Gandum Mas, 2003), 55.
[7] Munthe, Pardomuan, “Mengetahui
Trinitas dan Monotheisme tapi tidak memahami: Ulasan Dogmatis terhadap kondisi
Kritis Pemahaman Teologi Warga Jemaat terhadap Trinitas dan Monotheisme”,
Jurnal STT Abdi Sabda Medan, Edisi II, (2022):14.
[8] Ibid,.
[9] Charles C. Ryrie, Teologi Dasar
I: Panduan Populer untuk memahami kebenaran Alkitab (Yogyakarta: ANDI,
1991), 73.
[10] William W. Menzeis & Stanley
M. Horton, Doktrin-Doktrin Alkitab: Menurut Pandangan Pentakosta (Malang:
Gandum Mas, 2003), 55.
[11] Jonar T.H. Situmorang, Theologi
Proper: Menjelaskan Pribadi Allah Yang Benar, Hidup dan Absolut (Yogyakarta:
ANDI, 2015), 305-306.
Comments
Post a Comment