SEJARAH GEREJA INDONESIA: PERJUMPAAN ORANG ASING DAN AGAMANYA DENGAN ORANG INDONESIA
SEJARAH GEREJA INDONESIA: PERJUMPAAN ORANG ASING DAN AGAMANYA DENGAN ORANG INDONESIA
I. Pendahuluan
Indonesia
adalah negara yang dibangun dan berdiri dari pengaruh-pengaruh negara lain
yaitu pendatang dan penjajah. Hal ini terjadi karena negara Indonesia memiliki
kepulauan yang menjadi wilayah perdagangan sekaligus penghasil rempah-rempah
yang banyak manfaatnya bagi bangsa Eropa yang membuatnya ingin dikuasai oleh
bangsa asing. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) mengakui enam agama
untuk diimani dan dipeluk oleh penduduknya berdasarkan UU No.1/Pnps/1965 yaitu Islam,
Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Khonghucu. Hadirnya enam agama tersebut
bukanlah merupakan kelahiran dari tanah air Indonesia itu sendiri melainkan
agama yang datang atau dibawakan dari negeri lain luar Indonesia. Hadirnya
agama tersebut merupakan hasil dari proses perjumpaan orang-orang dari
negara-negara lain tersebut dan diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia. Perjumpaan
penduduk pribumi (agama suku) dengan Eropa (Kristen) memiliki banyak cerita dan
peristiwa yang terjadi. Begitu juga dengan metode pendekatan-pendekatan awal
dari perjumpaan itu dimulai. Maka dengan tulisan ini, penyaji membatasi sajian
yaitu perjumpaan yang dilakukan di tanah batak tepatnya di Tapanuli Tengah
dalam usaha mengkristenkan batak.
II. Pembahasan
2.1. Apa
yang dimaksud dengan perjumpaan dan siapa itu orang asing?
Kata perjumpaan
berasal dari dasar kata jumpa. Arti kata jumpa menurut KBBI Daring adalah
bertemu dengan (seseorang). Dapat dilihat bahwa dari pengertian tersebut
menunjukkan adanya suatu peristiwa perkumpulan atau hadirnya beberapa
pihak-pihak yang menunjukkan relasi, hubungan, sehingga terjalinnya suatu
pengaruh akibat kontak fisik atau hubungan komunikasi antara pihak-pihak
tertentu. Dalam tulisan ini, perjumpaan yang dimaksud adalah perjumpaan orang
asing dengan orang Indonesia yaitu agama Kristen dengan agama suku.
Orang asing
yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah penduduk/orang/individu yang bukan
berasal dari bangsa Indonesia atau orang yang berasal dari luar negeri
Indonesia dan datang memasuki wilayah Indonesia dalam suatu tujuan tertentu (dalam
tulisan ini adalah injil) salah satunya adalah Eropa.
2.2. Indonesia
Indonesia
selain dari kaya akan hasil bumi yaitu rempah-rempah tetapi juga kaya akan
berbagai pikiran atau cara penduduknya dalam menyembah dan berkomunikasi dengan
sang pencipta mereka. Suku-suku yang hadir di Indonesia membawa agama mereka
sendiri. Dalam artian bahwa setiap suku di Indonesia memiliki agama tersendiri
dan itulah yang disebut dengan agama suku. Misalnya suku Batak Toba menyebut
agama atau cara menyembah mereka kepada Debata Mulajadi Nabolon yaitu Ugamo
Malim. Arti dari Ugamo Malim itu sendiri adalah Ugamo berarti cara manusia
menghubungkan dirinya dengan Tuhan. Sedangkan Malim mengandung arti orang-orang
suci atau kesucian. Dapat dilihat bahwa
arti dari Ugamo Malim itu sendiri adalah cara manusia beribadah untuk
menghubungkan dirinya dengan Tuhan berdasarkan prinsip kesucian yang berasal
dari Tuhan. Biasanya agama sekaligus menjadi ada yang harus dilakukan oleh suku
tersebut.
Adat sangat
berpengaruh dalam kehidupan sosial suku karena setiap segi-segi kehidupan di
atur oleh adat itu sendiri yang dipercaya merupakan aturan hidup yang diberikan
oleh nenek moyang suku tersebut. Sehingga orang yang sangat setia dalam
melakukan adat suku tersebut adalah orang yang akan memperoleh keselamatan
dalam hidupnya. Bukan hanya percaya akan nenek moyang, tetapi juga mereka
sangat menganggap sesuatu benda atau makhluk hidup bahkan alam memiliki jiwa di
dalamnya sehingga mereka menghormati dan menyakralkannya dan inilah yang
menjadi alasan kenapa agama suku disebut sebagai dinamisme atau sesat oleh
agama Kristen itu sendiri.
2.3. Agama
dan Negara
Banyak negara
asing yang datang ke Indonesia dalam tujuan tertentu, misalnya berdagang,
mengembara, dan bermigrasi yaitu India dan Cina dan juga dengan tujuan
menguasai yaitu bangsa Eropa. Namun dari cara kedatangan tersebut, agama
diperkenalkan dengan metode-metode yang berbeda.
2.3.1.
Hindu-Buddha
Masuknya agama Hindu-Buddha ke
Indonesia berawal dari perjumpaan yang dilakukan di jalur perdagangan yaitu
para pedagang India sekitar 400 M dan Cina sekitar 500 M dari perjalanan dua
orang pendeta Buddha yaitu Fa-Sein atau Fa Hien dan Gunavarman.[1]
Dalam perjalanan Fa Hien, pada 414 kapal yang ia naiki dengan rute perjalanan
dari Langka ke Cina harus berhenti tepatnya di Jawa dan tinggal di sana selama
15 bulan karena adanya angin ribut yang menghantam kapal tersebut.[2]
India dan Cina merupakan pusat Hindu-Buddha terbesar di Asia. Dengan melakukan
transaksi, relasi dan adaptasi dalam perdagangan, mereka mulai mengajarkan
kepercayaan tersebut kepada penduduk atau orang-orang Indonesia.
Agama Buddha dipeluk oleh kerajaan
Sailendra atau wangsa Sailendra yaitu raja dan rakyatnya. Dapat dikatakan bahwa
agama ini dipeluk oleh orang-orang yang berada di Istana atau para pujangga
yang berhubungan dengan istana. Hal ini dilihat dari adanya candi besar yang
didirikan oleh dinasti Sailendra pada 800 yaitu Candi Borobudur dan Mendut.
Sama seperti agama Buddha, agama Hindu adalah agama yang berkembang di kalangan
orang-orang atas yang memungkinkan hal ini juga tersebar dan dipeluk rakyat.[3]
Menurut para ahli sejarah, hubungan
antara negara India dan Indonesia telah ada sejak ribuan tahun yang lalu.
Pandangan ini ditemukan dari kitab Ramayana yang menjelaskan bahwa Sugriwa yang
mencari Dewi Sinta dengan memerintahkan para wanara (Kera) untuk pergi ke
Jawadwipa (pulau Jawa) dan Swarnadwipa
(pulau Sumatera). Bukan hanya itu saja, adanya bukti-bukti yaitu berupa Yupa
sebuah batu prasasti di Kalimantan Timur dan kerajaan-kerajaan yang bercorak
Hindu yaitu Kerajaan Kutai raja pertama adalah Kudungga di Kalimantan Timur,
Kerajaan Tarumanegara oleh Punawarman di Jawa Barat, Kerajaan Hindu di Jawa
Tengah, Jawa Timur dan Bali. Sedangkan raja pertama di kerajaan Sriwijaya ialah
Dapunta Hyang kerajaan penganut agama Buddha.[4]
Informasi tentang bagaimana proses
kedatangan dan siapa orang pertama yang menginjakkan kaki di Indonesia tidak
dapat ditemukan karena naskah-naskah yang memberikan informasi tersebut tidak ditemukan
di Indonesia. Namun ada beberapa teori yang memberikan informasi terkait
hadirnya agama Hindu-Buddha di Indonesia yaitu:[5]
·
Menurut para ahli, hadirnya Hindu-Buddha berasal
dari pendatang dari luar yang mampir atau tinggal di Indonesia. Dapat dikatakan
penduduk Indonesia hanya sebagai menerima budaya dan agama tersebut. Dalam
teori ini Indonesia berperan pasif dalam kehadiran Hindu-Budha tersebut. Teori
yang mendukung pandangan ini adalah teori Brahmana (pemuka agama) yang
dikemukakan oleh J.C van Leur, Waisya (pedagang) oleh N.J Krom, dan Ksatria
(para Ksatria) oleh C.C. Berg, Mookerji, dan J.L. Moens.
·
Menurut van Faber dalam teorinya Sudra melihat
bahwa hadirnya Hindu-Buddha di Indonesia disebabkan karena bermigrasinya para
(sudra) budak yang menetap di Indonesia.
·
Menurut F.D.K Bosch dalam teorinya Arus Balik
melihat bahwa hadirnya Hindu-Buddha di Indonesia juga merupakan peran aktif
dari orang Indonesia itu sendiri yaitu orang-orang yang tertarik untuk
mempelajari kedua agama ini.
Dalam upaya
menjawab bagaimana kehadiran kedua agama ini di Indonesia. Dibuatlah teori ini
disebabkan karena tidak adanya informasi mengenai kedatangan agama ini pertama
kali di Indonesia sehingga dikemukakan beberapa pandangan yang berhubungan
dengan pertanyaan tersebut.
Dengan masuknya agama Hindu-Buddha di
Indonesia tentunya memberikan dampak atau pengaruh pada masyarakat atau
penduduknya adalah sebagai berikut:
·
Dibidang agama, penduduk Indonesia yang dulunya
adalah penganut agama suku menjadi beralih dan percaya pada agama
Hindhu-Buddha.
·
Dibidang politik, penduduk Indonesia yang
dulunya tidak mengenal kekuasaan menjadi membentuk Kerajaan-kerajaan atau
kekuasaan.
·
Dibidang Bahasa dan Aksara, penduduk Indonesia
menjadi mengenal tulisan yaitu huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta.
2.3.2. Islam
Masuknya agama
Islam ke Indonesia memiliki dua pandangan yaitu pandangan atau teori yang
pertama mengatakan bahwa agama Islam sudah ada sejak abad ke-7 M dan pandangan
ke dua mengatakan bahwa agama Islam baru ada sejak abad ke-13.
·
Abad ke-7[6]
Dalam pandangan
ini, kedatangan agama Islam pada tanggal ini dibawa oleh saudagar (pedagang)
Arab sebagai pemeran utama. Dalam prosesnya yang kemudian oleh orang Persia dan
Gujarat (India Barat). Menurut Hamka seorang ulama sekaligus sastrawan, selain
dari aksi pedagang Arab, orang Indonesia juga tertarik dengan agama Islam
tersebut sehingga mereka belajar ke berbagai negara misalnya Cina, Hindustan,
Laut Merah dan negara lainnya. Menurutnya Sumatera dan Jawa adalah daerah yang
pada waktu bersamaan ditempati pertama oleh Islam. Pandangan ini disebut
sebagai teori Mekah. Sejarah menuliskan pada abad ke-7, Barus kota tua di
Sumatera sudah dikenal oleh para pedagang Eropa, Timur Tengah, India dan
Tiongkok dan para sejarawan menduga Islam sudah hadir disana sejak abad ke-7 M.[7]
·
Abad ke-13[8]
Teori ini
disebut sebagai teori lama, yaitu yang menyatakan bahwa kehadiran Islam ada
sejak abad ke-13 yang berasal dari Gujarat namun misionernya adalah para
pedagang India yang sudah memeluk agama Islam dan teori ini disebut dengan
teori Gujarat. Ada juga yang menyatakan berasal dari Timur Tengah yaitu Mesir
dan Makkah yang disebarkan oleh pedagang Arab. Teori Persia menyatakan bahwa
agama ini berasal dari Persia yang singgah di Gujarat kira-kira abad ke-13.
Teori lain mengatakan bahwa agama Islam di Jawa berasal dari perantau Islam Cina. Pandangan ini diperkuat
dengan bukti bangunan masjid tua yang arsitekturnya berbentuk ke tionghoaan
oleh komunitas Cina di Jawa.
Sebelum
masuknya agama Islam ke Indonesia, tentunya Indonesia sudah memiliki politik
tersendiri yaitu kerajaan tarumanagara. Dikatakan dalam penyebarannya, Islam mulai
masuk melalui bagian Barat Indonesia yaitu pelabuhan Sunda Kelapa dan Banten
dengan tidak melakukan yang namanya agresi militer berupa kekerasan dan
perebutan kekuasaan dan tidak datang sebagai agama (bukan misi) namun sebagai da’i[9]
dan Sufi[10] melalui
jalur perdagangan.[11]
Satu hal yang membuat agama Islam mengalami perkembangan pesat adalah dengan cara
perkawinan dengan wanita lokal dan pergaulan.[12]
Berbeda dengan masuknya Islam di Aceh, dimana Islam sejak abad ke-7 lebih mudah
mengakar disana dikarenakan pengaruh Hindu-Buddha tidak mengakar dan tidak
terlalu diminati oleh penduduknya.[13]
Setelah berakar di Indonesia, Islam menyebarkan agamanya melalui kerajaan
(kesultanan) misalnya samudra pasai, Kesultanan Malaka, Kesultanan Aceh
Darussalam, Palembang, kesultanan Demak, Cirebon, Mataram, dll.
Pengaruh dari masuknya
agama Islam bagi masyarakat Indonesia adalah:
·
Sosial Budaya
Seseorang yang
meninggal dunia termasuk raja tidak lagi dimakamkan di Candi tetapi dimakamkan
secara Islam (dikuburkan), gaya berpakaian dengan rok panjang dan kerudung bagi
perempuan, makanan yang harus Halal.
·
Agama - Cara penyembahan atau ritual penduduk
Indonesia menjadi mayoritas Islam dan berbahasa Arab.
·
Politik
Setelah
masuknya Islam, kerajaan-kerajaan tarumanegara mulai runtuh. Sehingga kerajaan
di Indonesia beralih bercorak Islam seperti Samudra Pasai dengan rajanya yang
bergelar Sultan.
2.3.3.
Kristen
1. Nestorian
Banyak sumber
yang mengatakan bahwa sejarah awal masuknya kekristenan di Indonesia dimulai
sejak abad ke-16 oleh para misionaris Katolik. Namun tidak banyak bukti-bukti
untuk menerima pernyataan mengenai kekristenan yang sudah sampai di Fansur (julukan
kuno kota Barus) sebelum abad ke-16 yang dibawakan oleh kaum Nestorian yang
diperkirakan sekitar abad ke-7 hingga abad ke-12 dengan nama gereja Bunda
Perawan Murni Maria.[14]
Hal ini tidak menjadi suatu keraguan bahwa sejarah menuliskan bahwa Nestorian
pada abad ke-6 sudah meluas ke India,
Sri Lanka, Melayu, Korea, Jepang, Thailand, ke Asia tengah pada abad ke-5 dan
ke Tiongkok pada 635.[15]
Sampainya Nestorian dibeberapa negara adalah bukan hanya mengabarkan Injil
saja. Th. van den End menuliskan bahwa ciri kelompok Nestorian adalah selain
memiliki semangat berdagang yang tinggi, mereka juga memiliki semangat dalam
mengabarkan Injil.[16]
Orang yang berusaha membuktikan sejarah ini adalah Romo Y.Bakker rohaniawan
Ordo Serikat Yesuit.[17]
Dan berdasarkan naskah Nestorian, pada 1503 diutus tiga orang patriakh
Nestorian ke beberapa tempat ...pulau yang berada dalam lautan Jawa, [18]
dengan bermodalkan naskah kitab suci dan tongkat. Namun karena tidak
ditemukannya bukti arkeologi berupa jejak Nestorian tersebut di Barus sehingga
sejarah ini tidak dipercaya dan sejarah ini dikatakan hampir hilang.
2. Katolik
Masuknya GKR di
Indonesia berawal dari niat untuk berdagang dan mencari untung ke Asia Timur
dan juga dikarenakan tertutupnya jalan darat untuk bermisi sehingga ada usaha
untuk mencari jalur lain. Pada tahun 1492, Colombus (Spanyol) menemukan Amerika
pada perjalanannya menuju Asia Timur dan Vasco da Gama (Portugis) pada 1498
tiba di India.[19] Mengetahui pencapaian tersebut, Paus
memberikan izin atau perintah untuk menjajah semua daerah yang ditemukan sekaligus
memerintahkan raja-raja kedua negara tersebut untuk mendirikan dan mengelola
gereja di semua wilayah yang ditemukan (padroado= gereja dilindungi raja). Pada
1494 paus memberi wilayah Asia untuk dikuasai oleh Portugis.[20]
Portugis adalah
negara yang diberi kuasa oleh paus untuk menguasai dan menjajah Asia. Hal ini
mengartikan bahwa Portugislah yang ditugaskan oleh paus juga untuk melakukan
misi pengkabaran Injil. Sampainya Portugis di Indonesia adalah tujuan berdagang
dan menguasai perdangan tersebut. Hal ini tampak dari perang yang terjadi pada
abad ke-16 dengan orang-orang Asia yang memeluk agama Islam. Pada 1511, Alfonso
seorang Portugis dalam tujuannya berhasil merebut Malaka yang merupakan bagian
terpenting dari perdagangan Maluku dan India.[21]
Setelah berhasil merebut Malaka, maka wilayah yang menjadi tujuan mereka adalah
Maluku. Strategi Portugis dalam tujuan adalah dengan menggunakan pemerintahan
setempat. Di Maluku, Portugis diberi izin untuk mendirikan benteng.[22]
Pada kesempatan ini, Portugis dengan cepat memulai misinya yaitu dengan
mengajarkan dasar iman kristen, Doa Bapa kami, salam Maria dan Rosario. Namun
pelaksanaan kegiatan ini tidak miliki kelonggaran dari pihak setempat.
Pemerintah (Sultan Ternate) memberikan batasan-batasan bagi Portugis seperti
hanya pada orang-orang yang tetap memeluk agama suku dan tidak diperbolehkan
menginjili rakyat pemeluk Islam. Pada 1536 Portugis mendapatkan serangan dari para pemberontak sehingga kegiatan misi
pada masa itu tidak berjalan baik. Pemberontakan tersebut disebabkan karena
perilaku Portugis yang tidak manusiawi terhadap pribumi. Dapat ditemukan bahwa
kendala yang dimiliki oleh bangsa Portugis dalam misinya adalah kedangkalan
pengajaran pengetahuan dasar iman kristen dan kekerasan dalam membawakan Injil
tersebut.[23]
Mendengar masalah tersebut, Fransiskus (1506-1552) dan Ignatius (1491-1556)
membentuk Serikat Yesuit dalam upaya mengatasi hal tersebut sekaligus menjadi
suatu lembaga yang memproduksi para misioner dalam menjalankan misi.
3. Protestan
Misi
Protestan muncul sejak adanya gerakan rohani yang disebut dengan Piestisme.
Misi ini bangkit dari tidurnya karena tulisan dari Philip Jakob Spener
(1635-1705) tahun 1675 di Frankfurt. Gerakan ini menekankan pembaharuan seluruh
aliran gereja yang harus berlandaskan Alkitab. Gerakan ini diteruskan kembali
oleh August Hemann Francke (1663-1727). Francke mendirikan Universitas di Halle
sesuai dengan saran dari Spener dan juga karya-karya tulisan teologinya. Tujuan
utama Francke adalah mengabarkan Injil dan membawa Jiwa kepada Tuhan. Dan
akhirnya banyak orang yang tertarik dengan cita-cita itu dan menjadi salah satu
pelaku dari gerakan itu salah satunya adalah William Carey. Misi ini bergerak
di Tranquebar tahun 1707 dan Gereja Moravian (Herrnhut) pada 1732 sehingga pada
abad ke-18 misi ini meledak dan menjadi misi Protestan sedunia.
Dalam
melakukan misi ini, banyak sekali tantangan yang dihadapi oleh para misioner.
Namun, William Carey membuat solusi untuk menghadapi tantangan tersebut yaitu
dengan bermodalkan doktrin salib, tidak takut mati, menyesuaikan hidup dengan
lingkungan untuk bertahan hidup, dan pengusulan pendirian lembaga-lembaga misi.
Tahun 1596
adalah tanggal dimana pihak Belanda sampai di perairan Indonesia.[24]
Belanda adalah negara jajahan GKR yang telah merdeka dari penindasannya,
artinya negara ini merupakan musuh dari negara GKR. Negara ini menganut
kepercayaan Kristen dengan corak Calvinis sejak 1550 yang merupakan bidat bagi
GKR. Hadirnya Protestan di Indonesia tidak lepas dengan perusahaan VOC (Verenigde
Oost-Indische Compagnie) yang dibentuk pada 1602 di Amsterdam yaitu pusat
perdagangan baru di wilayah Protestan.[25]
Dalam misi pekabaran Injil oleh Belanda tidak beda dengan metode misi yang
dilakukan oleh GKR. Misi Protestan ini dibantu oleh pemerintah dan dilindungi.
Hal tersebut merupakan pengakuan iman Belanda pada 1561.[26]
VOC berhasil mendirikan pangkalannya di Ambon sekaligus menguasainya dibawah
pemerintahan Steven van der Hagen pada 1605. Hal ini membuat suatu perjanjian
dengan imam dan frater Portugis untuk tetap tinggal disana yaitu mengakui
kekuasaan Belanda. Karena perjanjian tersebut tidak dilakukan maka, orang
Portugis tersebut diusir dan ibadah berbaur Katolik ditutup dan dihancurkan.
Sehingga kesempatan ini membuat para pengikut katolik beralih menjadi
Protestan.
Pada 1808,
Belanda sudah mengalami kekalahan dalam menghadapi Prancis dalam perang
Napoleon. Hal ini membuat Inggris bergerak untuk menguasai wilayah kekuasaan
VOC. Inggris memberikan pelayanan kepada jemaat-jemaat yang pernah dibentuk
oleh VOC yaitu Jabes Carey anak dari William Carey. Setelah turunnya Napoleon
dari kedudukannya, Belanda mengadakan kesepakatan dengan Inggris.
Pada
1792 dan 1795 lahir lembaga-lembaga misi Inggris yaitu Baptist Missionary
Society, dan London Missionary Society (LMS). Pada 1797, Eropa
mendirikan lembaga misi Belanda NZG (Nederlandsch Zendelinggenootschap)
melalui lembaga LMS. Di Jerman didirikan Misi Elberfeld yang kemudian digabung
dengan Lembaga Misi Barmen yang didirikan pada 1818 sehingga lembaga itu
menjadi RMG (Rheinische Missionsgesellschaft) pada tahun 1828 dan masih
banyak lembaga-lembaga misi lainnya. Lembaga-lembaga misi berbondong-bondong
memberitakan Injil ke Asia. Lembaga-lembaga masuk ke Asia dengan cara kolonial
misalnya ketika pemerintahan Belanda yang menggantikan Inggris di Indonesia.
Para misioner menerjemahkan kitab-kitab ke bahasa lokal, mengajar, bergaul,
hingga mendirikan gedung-gedung gereja sebagai wujud hadirnya Injil. Ludwig
Ingwer Nommensen (1834-1918) yang disebut sebagai “Rasul Orang Batak” utusan
RMG sejak 1862 di Sumatera Utara adalah salah satu dari hasil misi yang
dilakukan oleh para lembaga-lembaga misi Eropa. Misi dimulai dari India hingga
ke seluruh Asia. Joseph Kam (1769-1833) utusan NZG yang disebut sebagai rasul
Maluku.[27]
III. Perbedaan Agama Suku
dengan Agama Kristen[28]
·
Dalam agama suku tidak ada garis pemisah yang
tajam antara Pencipta dengan yang diciptakan. Suku memandang bahwa semua yang
ada di dunia ini adalah tidak bernyawa dan semuanya adalah satu kesatuan.
Sedangkan Kekristenan memiliki garis pemisah yang tajam antara Allah dengan
seluruh ciptaan yaitu Allah adalah penguasa dan hanya ialah yang berhak
memperoleh penghormatan dan pujian dan manusia dapat mengenal kemauan Tuhan dan
bertanggungjawabkan segala perbuatannya dihadapa Allah.
·
Agama suku memandang bahwa segala sesuatu yang
dikehendaki oleh dewa atau nenek moyang dapat dipenuhi oleh manusia apabila
diberi petunjuk. Dalam hal ini, agama suku menganggap kesalahan yang dilakukan
akibat dari ketidaktahuan manusia itu sendiri bukan menjadi masalah sebab adat dapat
membuatnya jadi sempurna. Sedangkan kekristenan memandang bahwa manusia sudah
terasing daripada Allah dan hubungan Allah dengan manusia hanya dapat
dipersatukan hanya oleh karena rahmat-Nya dan bukan dengan ketaatan pada
perintah Allah.
·
Agama suku memiliki adat yang dipercaya sebagai
hukum ilahi untuk manusia dengan otoritas yang mutlak dan menyeluruh dalam suku
tersebut. Sedangkan kekristenan tidak memiliki apa yang disebut dengan adat
oleh agama suku yang secara mutlak harus diikuti demi keselamatan.
·
Agama suku memandang bahwa manusia diluar dari
pada suku itu sendiri adalah musuh dan diperbolehkan dibinasakan tetapi tidak
dengan sesama satu suku itu sendiri. Sedangkan dalam kekristenan, manusia
adalah manusia. Artinya bahwa manusia tidak dapat dibedakan dengan manusia yang
lain tetapi mereka adalah saudara.
·
Agama suku memandang bahwa nilai baik dan jahat
adalah suatu yang dianggap sebagai suatu kesatuan yang saling melengkapi dalam
kehidupan. Artinya bahwa perlakuan jahat
itu dianggap tidak menjadi masalah dalam kehidupan sosial. Sedang
Kekristenan memandang bahwa kejahatan adalah perilaku menjijikkan dihadapan
Allah dan dengan perbuatan salah satu dari keduanya itu harus
dipertanggungjawabkan.
·
Agama suku memandang dan mendasarkan segala
kehidupannya dengan apa yang pada awalnya dilakukan di masa lalu dan harus
tetap diterapkan dari masa ke masa atau bersifat konservatif. Sedangkan
Kekristenan tidak memberlakukan yang demikian, melainkan memandang pada apa
yang disebut hari kesudahan (masa depan).
IV. Perjumpaan Injil di Tanah
Batak[29]
Pada tahun 1820,
tiga misionaris dari Baptist Missionary Society yaitu Nathan Ward, Evans Meers,
dan Richard Burton dikirim ke Bengkulu untuk menemui Thomas Stamford Raffles.
Sebelumnya, mereka bertiga bertugas di Sumatra di tiga tempat berbeda. Ward ditugaskan
di Bengkulu, Burton di Sibolga dan Meers di Padang. Kemudian Raffles
menyarankan supaya mereka pergi ke utara, ke daerah tempat tinggal orang Batak
yang masih belum menganut kristen. Mereka berangkat pada tanggal 30 April 1824
dan melakukan perjalanan di pesisir Tapanuli. Setelah dua jam melewati dataran
rerumputan, mereka tiba di desa Parik Debata mencakup wilayah dari Pagaran
lambung. Pagaran lambung terdiri dari 10-20 desa. Mereka disambut dengan baik
oleh raja setempat dan dipersilakan menginap semalam di rumah kepala desa serta
mendapatkan tanda kehormatan keesokan harinya. Mereka melanjutkan perjalanan
dan menyusuri rute selama 6 jam perjalanan sebelum beristirahat di desa yang
berlokasi di tengah Pagaran Lambung. Selama dua hari perjalanan, mereka
akhirnya melewati Huta Tinggi pada hari senin setelah 4 jam perjalanan dari
tempat peristirahatan sebelumnya. Perjalanan ini merupakan perintah dari
Raffles untuk pergi ke utara, yakni Silindung (wilayah Batak Toba). Mereka
melanjutkan 5 jam perjalanan dari Huta Tinggi dan bermalam di sebuah gubuk
sebelum melanjutkan perjalanan pada Selasa pagi atau tanggal 4 Mei dan tiba di
Silindung.
Pada awalnya,
rencana perjalanan direncanakan hingga Danau Toba, tapi perjalanan terhenti
karena penyakit kolera yang harus ditangani oleh Ward. Ward merupakan seorang
ahli medis yang ditugaskan menyelediki penyakit yang menular di wilayah ini.
Mereka tinggal di Silindung selama seminggu dan meninggalkan Silindung pada jam
7 pagi tanggal 11 Mei. Saat mereka tiba di Silindung, mereka diterima dengan
baik oleh raja setempat, namun perjalanan penginjilan mereka terhenti ketika
terjadi salah paham dengan penduduk. Penduduk salah menafsirkan khotbah
penginjil tersebut yang mengatakan bahwa kerajaan mereka harus menjadi lebih
kecil, seperti anak kecil. Penduduk tidak suka hal ini, karena itu para
penginjil tersebut diusir pada tahun itu juga. Para misionaris tersebut juga
menerjemahkan pasal satu dari Alkitab ke dalam bahasa Batak Toba.
Pada 31 Maret
1861, dua orang Batak pertama dibaptis, yaitu: Jakobus Tampubolon dan Simon
Siregar. Pada tahun yang sama tepatnya pada 7 Oktober 1861, diadakan rapat
empat pendeta di Sipirok, yang diikuti oleh dua pendeta Jerman, yaitu: Pdt.
Heine dan Pdt. Klemmer serta oleh dua pendeta Belanda, yaitu: Pdt. Betz dan
Pdt. Asselt. Mereka melakukan rapat untuk menyerahkan misi penginjilan kepada
Rheinische Missionsgesellschaft. Hari tersebut dianggap menjadi hari berdirinya
Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Kemudian Ludwig Ingwer Nommensen
(1834—1918) tiba di Padang pada tahun 1862. Ia menetap di Barus beberapa saat
untuk mempelajari bahasa dan adat Batak dan Melayu. Ia tiba melalui badan Misi
Rheinische Missionsgesellschaft. Kemudian, pada tahun 1864, ia masuk ke daerah
Silindung, mula-mula di Huta Dame, kemudian di Pearaja (kini menjadi kantor
pusat HKBP).
Dalam
menyampaikan Injil, Ludwig Ingwer Nommensen dibantu oleh Raja Pontas
Lumbantobing (Raja Batak pertama yang dibaptis) untuk mengantarnya dari Barus
ke Silindung dengan catatan tertulis bahwa ia tidak bertanggung jawab atas
keselamatannya. Pada awalnya Nommensen tidak diterima baik oleh penduduk,
karena mereka takut kena bala karena menerima orang lain yang tidak memelihara
adat. Pada satu saat, diadakan pesta nenek moyang Siatas Barita, biasanya
disembelih korban. Saat itu, sesudah kerasukan roh, Sibaso (pengantara
orang-orang halus) menyuruh orang banyak untuk membunuh Nommensen sebagai
korban, yang pada saat itu hadir di situ. Dalam keadaan seperti ini, Nommensen
hadir ke permukaan dan berkata kepada orang banyak: “Roh yang berbicara melalui
orang itu sudah banyak memperdaya kalian. Itu bukan roh Siatas Barita, nenekmu,
melainkan roh jahat. Masakan nenekmu menuntut darah salah satu dari
keturunannya! Segera Sibaso jatuh ke tanah.”
Menghadapi
keadaan yang menekan, Nommensen tetap ramah dan lemah lembut, hingga
lama-kelamaan membuat orang merasa enggan dan malu berbuat tidak baik padanya.
Pada satu malam ketika para raja berada di rumahnya hingga larut malam dan
tertidur lelap, Nommensen mengambil selimut dan menutupi badan mereka, hingga
pagi hari mereka terbangun dan merasa malu, melihat perbuatan baik Nommensen.
Sikap penolakan Raja Batak ini disebabkan kekhwatiran bahwa Nommensen adalah
perintisan dari pihak Belanda.
V. Kesimpulan
Berdirinya
Negara Indonesia tidak lepas dari pengalaman dari peristiwa-peristiwa yang
terjadi di tanah air itu sendiri. Di negara ini, negera dipertemukan dengan
negara, dan agama dipertemukan dengan agama. Kekayaan yang dimiliki oleh tanah
Indonesia membuatnya banyak dicintai oleh bangsa asing terutama rempah-rempah
yang merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi orang-orang Eropa. Sangat
jelas bahwa bagaimana agama hadir di tanah air yang merupakan bukan kelahiran
dari tanah air itu sendiri melainkan agama yang datang dan dibawakan oleh
penduduk asing. Negara yang disebut India membawa agama Hindu dan Buddha, Arab
membawakan agama Islam, Eropa membawakan agama Kristen.
Kehadiran agama
di Indonesia bukan menjadi sesuatu yang membuat negara ini menjadi negara yang
begitu damai sejak masa perjumpaannya. Melainkan dalam perjumpaan negara-negara
tersebut membuat Indonesia mengalami keributan bahkan mengalami kesedihan atas kematian
warga pribumi itu sendiri. Banyaknya politik negara yang bernafsu untuk
menguasai membuat korban jiwa di dalamnya. Namun pada akhirnya, dari
peristiwa-peristiwa yang sudah terjadi, negara ini menjadi negara yang bebas
atau merdeka, baik untuk berdiri dan bebas untuk mempercayai, mengimani,
mempraktikkan, dan menganut agama masing-masing.
DAFTAR
PUSTAKA
A. Buku
Anshoriy,
Nasruddin. Bangsa Gagal Mencari Identitas Kebangsaan. Yogyakarta:
Pelangi Aksara Yogyakarta, 2008.
Culver, Jonathan E. Sejarah Gereja Indonesia. Bandung:
Biji Sesawi, 2014.
Djoened,
Marwati. Sejarah Nasional Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2019.
End, Th. van
den. Harta Dalam Berjana. Jakarta: BPK-GM, 2008.
End, Th. van
den. Ragi Cerita 1. Jakarta: BPK-GM, 1988.
Hadiwijono,
Harun. Agama Hindu Dan Buddha. Jakarta: BPK-GM, 1989.
Helmiati. Sejarah Islam Asia Tenggara. Pekanbaru:
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, 2014.
Hutahaean,
Wendy Sepmady. Sejarah Gereja Asia. Malang:
Ahlimedia Press, 2017.
Reid, Anthony. Menuju Sejarah Sumatera Antara Indonesia
dan Dunia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2011.
Saleh,
Bahrum. Barus Sebagai Titik Nol Peradaban Islam Di Nusantara. Medan:
Perdana Publishing, 2020.
Scheiner, Lothar. Adat dan Injil:
Perjumpaan Adat Dengan Iman Kristen Di Tanah Batak Jakarta: BPK-GM, 2003.
Schumann, Olat. Kekristenan Di Asia Tenggara. Jakarta:
BPK-GM, 2017.
Suryanegara, Ahmad Manyur. Menemukan Sejarah Wacana
Pergerakan Islam Di Indonesia. Bandung: Mizan, 1995.
B. Karya
Ilmiah
Fard, Dede
Mathlubul. Sejarah Islam Di Nusantara. Makalah: STISNU Nusantara
Tangerang, 2017.
Hutabarat, Isa’ak J.M. Laporan Baca SGA: Krisis Misi GKR
Di Asia Abad Ke-18 Dan Misi Protestan Di Asia Pada Abad Ke 19.
Imran, Sejarah
Islam Dan Tradisi Keilmuan Di Aceh. Vol.2. Jurnal: Mudarrisuna.
Mardiani, Nofiah. dkk. Materi Sejarah Masa Hindu-Buddha
dan Penggunaan Sumber Belajar Sejarah dalam Pembelajarannya di SMK. Vol. 7,
Jurnal IAIN, 2019.
[1]
Marwati Djoened, Sejarah Nasional Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka,
2019) 21.
[2]
Harun Hadiwijono, Agama Hindu Dan Buddha (Jakarta: BPK-GM, 1989) 84.
[3] Ibid., 89.
[4]
Th. van den End, Ragi Cerita 1 (Jakarta: BPK-GM, 1988) 20.
[5] Nofiah
Mardiani, dkk., Materi Sejarah Masa Hindu-Buddha dan Penggunaan Sumber
Belajar Sejarah dalam Pembelajarannya di SMK. Vol. 7, Jurnal IAIN, 2019. 333-334.
[6]
Ahmad Manyur Suryanegara, Menemukan Sejarah Wacana Pergerakan Islam Di
Indonesia (Bandung: Mizan, 1995) 86.
[7]
Bahrum Saleh, Barus Sebagai Titik Nol Peradaban Islam Di Nusantara (Medan:
Perdana Publishing, 2020) 1-2.
[8]
Dede Mathlubul Fard, Sejarah Islam Di Nusantara. Makalah: STISNU
Nusantara Tangerang, 2017. 6-10.
[9] da’i
adalah sebutan bagi Islam yang bertugas untuk mengajak, mendorong seseorang
dalam mengamalkan ajaran Islam.
[10]
Para Sufi adalah sebutan individu dalam Islam yang ahli dalam ajaran Islam dan
dibidang penyembuhan/ kebatinan.
[11]
Suryanegara, Menemukan Sejarah Wacana Pergerakan Islam Di Indonesia. 97-98.
[12]
Helmiati, Sejarah Islam Asia Tenggara (Pekanbaru: Lembaga Penelitian dan
Pengabdian kepada Masyarakat, 2014) 8.
[13]
Imran, Sejarah Islam Dan Tradisi Keilmuan Di Aceh. Vol.2. Jurnal:
Mudarrisuna, 196-197.
[14] Jonathan E. Culver, Sejarah
Gereja Indonesia (Bandung: Biji Sesawi, 2014) 20.
[15] Wendy
Sepmady Hutahaean, Sejarah Gereja Asia (Malang: Ahlimedia Press, 2017)
22.
[16] Ibid., 24.
[17] Culver, Sejarah Gereja Indonesia. 18.
[18] Ibid., 21.
[19]
Th. van den End, Harta Dalam Berjana (Jakarta: BPK-GM, 2008) 205.
[20] van den End, Ragi Cerita 1. 29.
[21]
Nasruddin Anshoriy, Bangsa Gagal Mencari Identitas Kebangsaan (Yogyakarta:
Pelangi Aksara Yogyakarta, 2008) 19.
[22]
Olat Schumann, Kekristenan Di Asia Tenggara (Jakarta: BPK-GM, 2017) 18.
[23] Ibid., 22.
[24]
van den End, Ragi
Cerita 1. 218.
[25]
Schuman, Kekristenan Di Asia
Tenggara. 54.
[26] Ibid., 56.
[27]
Isa’ak J.M Hutabarat, Laporan Baca SGA: Krisis Misi GKR Di Asia Abad Ke-18
Dan Misi Protestan Di Asia Pada Abad Ke-19. 2-3.
[28] Th. van den End, Ragi Cerita 1
(Jakarta: BPK-GM, 1988) 15-17.
[29]Lothar
Scheiner, Adat dan Injil: Perjumpaan Adat Dengan Iman Kristen Di Tanah Batak
(Jakarta: BPK-GM, 2003) 7-14.
Comments
Post a Comment