MAKALAH TAFSIRAN KITAB AYUB 31:1-6 DENGAN MENGGUNAKAN METODE HISTORIS KRITIS
MAKALAH
TAFSIRAN KITAB AYUB 31:1-6
Disusun Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Hermeneutika PL II
I. Pendahuluan
Kitab Ayub merupakan suatu kitab yang disebut sebagai kitab sastra karena mengandung sastra dan juga makna-makna penting yang tersirat untuk diungkapkan. Maka untuk menggali makna dan juga kandungan dari ayat tersebyt dilakukan tafsiran. Menafsir adalah suatu kegiatan untuk mencari suatu makna dalam ayat dengan tujuan agar pembaca dapat mengerti dan memahami suatu pesan maupun makna yang hendak disampaikan oleh penulis suatu kitab atau ayat. Dalam ayat terdapat beberapa hal yang harus dipaparkan naknanya agar mudah dipahami sehingga dengan mengerti ayat tersebut pembaca tidak memiliki kebingungan dalam menggali makna ayat tersebut. Dalam penafsiran dapat dipakai beberapa meteode, seperti yang penafsir lakukan dalam tafsiran kali ini adalah menggunakan metode Historis Kritis yaitu suatu tafsiran yang menggali makna dengan memperhatikan suatu rangkaian sejarah yang terkandung dalam ayat tersebut.
II. Pembahasan
2.1 Pengertian Tafsiran Metode Historis Kristis
A. Pengertian Metode Historis Kritis
Historis Kritis merupakan salah satu penafsiran Alkitab yang menggunakan perspektif sejarah sebagai alat utama untuk menemukan makna yang terkandung dalam sebuah teks Alkitab.
1. Historis Kritis merupakan sebuah metode yang sangat diperlukan untuk menggali kebenaran Alkitab tersebut segi sejarahnya. Historis Kritis juga sering disebut Kritisme tinggi yang mempertanyakan tentang penulisan dan waktu penulisannya, kategori-kategori sastranya dan lainnya sebagainya.
2. Oleh karena itu metode Historis Kritis memperhitungkan semua bukti-bukti Historis Kritis atau sejumlah periode sejarah yang didalamnya teks itu sendiri, yaitu bagaimana yang mempengaruhinya, pemeliharaannya, dan perluasannya.
B. Tujuan Historis Kritis
Tujuan Metode Historis Kritis ada 3 yaitu rekontruksi sejarah teks, rekontruksi sejarah belakang teks, dan mencari makna asli dari teks. Tujuan metode penafsiran Historis Kritis adalah menemukan arti makna sebuah teks dengan mengutamakan dari segi segi kesejahteraannya secara kritis dan sistematis dan menjaga agar penafsir-penafsir tidak memaksakan teks dari kebudayaan yang asing atau masa-masa yang lebih awal dari kebudayaan seseorang ke dalam horijon pengertian masa kini.
Tiga asumsi dasar dalam pendekatan Historis Kritis:
1. Alkitab sebagai buku sejarah yang perlu diselidiki kebenarannya.
2. Penelitian ilmiah terhadap Alkitab gharus terle[as dari lingkungan.
3. Fungsi analisa tidak hanya menyangkut keputusan terakhir tetapi harus menyangkut teks buku-buku Alkitabiah
2.2 Pengantar Kitab
A. Pengertian Kitab Ayub
Nama Ayub (Ibr. iyyov), yang ditafsirkan oleh Albright sebagai “Di manakah Bapa(ku)?”, terdapat dalam surat-surat Amarna (kira-kira 1350SM) dan dalam naskah-naskah Kutukan daro Mesir (Kira-kira 2000 SM). Dalam kedua tulisan ini, nama tersebut adalah nama pemimpin suku di Palestina dan sekitarnya. Kitab Ayub termasuk salah satu dari kelompok kitab hikmat. Disebut sebagai kitab hikmat, karena kitab ini berisi filsafat-filsafat hidup yang membimbing manusia kepada keberhasilan hidup. Itulah yang ditunjukkan oleh kitab Ayub yang menunjukkan salah satu usaha memaknai kehidupan berdasarkan kenyataan hidup manusia.
B. Penulis
Penulis kitab Ayub tidak diketahui. Namun ada yang be rpendapat dan mengemukan penulisnya adalah Ayub sendiri, Elihu, Musa, Salomo, Yesaya,dan Hizkia, tetapi tidak ada bukti sama sekali. Menurut tradisi Yahudi, Musa adalah penulisnya, tetapi tidak ada dukungan konkrit terhadap pendapat ini. Ada juga yang berpendapat bahwa penulisnya adalah seorang Israel yang mendukung pandangan monoteisme yang murni dan memiliki iman yang tak tergoyahkan kepada Allah Maha Kuasa.
C. Waktu dan Tempat Penulisan
Waktu penulisan kitab Ayub tidak dapat dipastikan. Pendapat umum mengatakan bahwa kitab ini merupakan kitab paling tertua di Perjanjian Lama. Kitab ini kemungkinan ditulis kurang lebih pada masa Abraham atau sedikit lebih awal (2000-1800 SM). Ada tiga pandangan utama mengenai tanggal kitab ini ditulis. Kitab ini disusun yaitu:
1. Selama zaman para leluhur (sekitar 2000 SM) tidak lama sesudah semua peristiwa ini terjadi dan mungkin ditulis oleh Ayub sendiri.
2. Selama zaman Salomo atau tidak lama sesudah itu (sekitar 950-900 SM), karena bentuk dan gaya penulisannya mirip dengan kitab sastra hikmat masa itu.
3. Selama masa pembuangan (sekitar 586-538 SM), ketika umat Allah sedang bergumul mencari arti teologis dari bencana mereka.
D. Struktur Isi Kitab
Kitab Ayub memiliki makna yang dalam termasuk dari susunan kata dan kalimat yang membentuknya. Bentuk sastranya adalah A-B-A-A (Prosa-puisi-prosa). Struktur ceritanya adalah:
• Ps 1-2 Kehormatan Allah dipertaruhkan (Prosa)
Latar adalah kota Us. Ayub hidup dengan makmur, jujur dan saleh. Ayub sangat memahami latar tempat tetapi satu hal yang tidak pernah diketahui adalah tentang ujian sorgawi yang akan dihadapinya. Allah
hendak mempertaruhkan kehormatanNya melalui iman Ayub kepada Iblis. Iblis boleh berbuat dalam batas-batas tertentu oleh kekuasaan Allah. Ketegangan cerita ini juga Nampak dari kehadiran sahabatnya dengan pandangan teologi yang menyalahkan Ayub. Pada akhirnya Ayub dilihat sebagai tokoh yang sangat setia.
• Ps 3 Menderita tanpa Teman (Puisi)
Ayub putus-asa dan Allah sepertinya diam. Ayub mengutuki kelahirannya (3:1-10) dan melontarkan keluhannya (3:11-26). Ada perbedaan yang tajam dengan pembukaan. Hal ini disengaja untuk mengundang pembaca agar menyelidiki cerita. Dengan gaya cerita yang membesar-besarkan (hiperbola) si pengarang menyingkapkan kemanusiaan Ayub. Multi factor sumber penderitaan Ayub; bencana- keadaan penyakitnya-Allah sumber berkat diam. Ayub adalah seorang yang kesunyian diterpa bencana; Ayub hidup tanpa masyarakat, tanpa Allah, dan tanpa keselamatan.
• Ps 4-27 Penghiburan yang Mendukakan (Puisi)
Penghiburan lebih menyakitkan daripada celaan. Temanb-teman Ayub datang dan memberi dukungan penghiburan: Elifas yang lembut, Bildad yang kuat, Zofar yang dogmatis datang menghibur Ayub.
• Ps 28 Dimanakan Penolongku (Puisi)
Ada perkembangan dimana Ayub ingin mencari pertolongan dari luar dirinya. Temannya bukan pilihan yang tepat. Sastra hikmat selalu menuntun pembaca mencari hikmat yang abadi dari Allah.
• Ps 29-31 Pembelaan yang sia-sia
Penderitaan yang tragis dan kesetiaan Ayub ingin memperpanjang ketegangan cerita. Ayub kembali membela diri: Ia menuturkan kesetiaanya kepada Allah, ia siap dihukum jika bersalah. Ayub berupaya membela diri namun keputusan tetap pada Allah. Membela diri di hadapan Allah adalah sesuatu yang sia-sia sebab Dia mengetahui hidup kita melampaui pengetahuan kita.
• Ps 32-37 Hikmah Dibalik Celaka (Puisi)
Elihu dengan hikmatnya mencoba menguatkan bahwa penderitaan itu ada hikmatnya. Pendekatannya itu belum teologi. Akhirnya kita diundang mendengarkan jawaban Allah atas semua pergumulan ini. Ketidakmampuan dunia untuk mengerti rahasia sorgawi 34:12-15,
37:24).
• Ps 38:1-42:6 Kemenangan Allah (Puisi)
Allah menyatakan kemuliaanNya yang dahsyat, hanya Dia yang dapat menyelesaikan persoalan Ayub. Allah hadir memecahkab keheningan di tanah Us. Allah mengajak Ayub melihat tindakan Allah. Ayub sadar dan berkata aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu (42:6). Kesadaran Ayub adalah karena kurang mengenal Allah jadi bukan penyesalan atas dosanya.
• Ps 42:7-17 Pemurnian Iman (Prosa)
Ayub diajak merenungkan tentang perbedaan besar antara hikmat dunia dengan hikmat sorgawi. Iman Ayub diteguhkan dan dimurnikan seperti emas. Akhirnya emas itu dibiarkan berkilauan.
E. Tema-Tema Teologi
• Kebebasan Allah
Allah bebas menyatakan rencana, kuasa dan kasih setiaNya dari waktu dan tempat. Ayub dan teman-temannya tidak mampu memahami arti yang sedang terjadi. Manusia mampu menemukan kebebasan jika kebebasan jika mereka mengenal kebebasan Allah. Jangan coba-coba membatasi dan mengikat kebebasan Allah dengan aturan-aturan yang ada.
• Kemenangan Allah atau Iblis
Iblis boleh memasuki ruang kekuasaan Allah namun tetap tunduk di bawah kekuasaan Allah. Iblis darimana? Dia ciptaan Allah namun melawan kehendak Allah (Mat 4:1-11, Luk 4:1-13) Ia berusaha menggoda manusia secara jasmani dan rohani (2 Kor 12:7, 2 Kor 11:14), Iblis telah dikalahkan Kristus (Why 20:2, 7. 10)
• Kuat dalam Penderitaan
Setiap orang pasti pernah dan mungkin akan mengalami penderitaan. Kisah ini menolong kita untuk tetap tahan dalam menghadapinya. Pentingnya persahabatan namun persahabatan yang abadi ada di dalam Tuhan.
• Iman yang murni
Kesetiaan yang teruji adalah kesetiaan yang teguh meski waktu benyak musuh atau ketika Allah seperti diam. Iman yang murni akan semakin murni dalam cobaan.
2.3 Kritik Historis
A. Kritik Sastra
Kitab Ayub termasuk Sastra Hikmat, karena itu kitab ini tidak tidak memiliki hubungan dengan sejarah Israel. Raja-raja Israel dan peristiwa-peristiwa sejarah Israel tidak disebutkan disini. Bahkan mungkin kitab Ayub pada mulanya bukanlah sebuah kitab dari Israel, melainkan agakanya kitab ini berasal dari Edom, sebab bahasa yang dipakai dalam kitab ini dipengaruhi oleh bahasa Semitis Selatan. Juga terasa pengaruh bahasa Arab dan Aram di dalamnya. Justru kitab ini dipengaruhi pula oleh bahasa Aram, jadi kitab ini berasal dari masa sesudah masa pembungan di Babylon.
B. Kritik Tradisi
Menurut tradisi Yahudi terletak di sebelah tenggara Laut Mati dan menurut Tradisi Muslim di leher Gunung Lebanon. Orang itu bernama Ayub. Nama ini digunakan banyak orang di Timur tengah kuno, namun ia diberikan arti yang berlainan dalam tiga budaya: di Babel kuno artinya “Dimana Bapa, Allah”, dalam bahasa Ibrani, “Dia yang dimusuhi” entah oleh Allah atau oleh manusia dan dalam bahasa Arab, “Dia yang berbalik, bertobat”. Kita akan melihat bahwa ketiga makna itu menunjukkan segi tertentu dari pengalaman Ayub.
2.4 Sitz Im Leben
A. Konteks Sosial
Ayub memiliki hubungan erat dengan Allah. Hal itu Nampak dari perkataan-perkataannya. Ia begitu dekat dengan Allah dan memperlakukan-Nya sebagai Allah yang hidup. Ia tetap memelihara hubungan dengan Allah yang hidup. Sekalipun menderita sengsara, tidak pernah mengutuki Allah, sebagaimana diyakini Iblis, ia tidak pernah mengecilkan Allah dengan pola pikirnya sendiri.
B. Konteks Budaya
Besarnya kesalahan mereka terlihat dari besarnya kurban bakaran yang di tuntut Allah tujuh ekor domba jantan. Dengan kurban bakaran sebesar itu, Allah ingin mereka menyadari betapa berat dosa yang mereka alami.
C. Konteks Agama
Dan Allah mengabulkan permohonan Ayub, Rahmat Allah menang. Sahabat-Sahabat Ayub tidak dihuku, mereka hanya bisa menundukkan tengkuk yang tegar, kepala yang dipenuhi penalaran manusiawi. Mereka telah bertobat dari teologi yang sesat, yang selama ini menggambarkan Allah sesuai dengan nalar mereka sendiri dan karena itu hati dan jiwa mereka tertutup bagi Allah.
D. Konteks Politik
Begitu yakin ketiga orang itu atas kebenaran pendapat mereka tentang Allah, sehingga mereka bahu-membahu menentang Ayub yang menuduh Allah telah bertindak tidak adil. Mereka saling menguatkan perkataan masing-masing, sebaliknya, Ayub bertahan pada pendapatnya. Tapi ternyata, Allah membenarkan Ayub, sebaliknya murka terhadap Elifas dan kedua temannya.
E. Konteks Ekonomi
Ayub kembali memperoleh harta miliknya, bahkan jumlahnya tambah dua kali lipat. Ia juga mendapat keluarga yang baru yaitu memiliki tujuh anak laki-laki dan tiga perempuan sama seperti semula.
2.5 Analisa Teks
A. Perbandingan Bahasa
Ayat 1
• LAI : Memperhatikan
• NIV : To Look (Melihat)
• BDE : Mamereng (Melihat)
(Lihat (א ֶ֝ תְ ּבֹונ ֵ֗ ן : TM•
Yang mendekati TM adalah NIV dan BDE
Ayat 2
• LAI : Pusaka
• NIV : Heritage (warisan)
• BDE : Partalian (Berhubungan)
(Kepunyaan (וְְֽ נַחֲלַ ַ֥ת : TM•
Yang mendekati TM adalah NIV
Ayat 3
• LAI : Curang
• NIV : Wicked (Jahat)
• BDE : Pargeduk (Penjahat)
(Jahat (: לְעַו ָּ֑ל : TM•
Yang mendekati TM adalah NIV dan BDE
Ayat 4
• LAI : Menghitung
• NIV : Count (Menghitung)
• BDE : Dibilangi (Menghitung)
(Menghitung (: יִסְ פְֽ ֹו : TM•
Semua mendekati TM
Ayat 5
• LAI : Bergaul
• NIV : Walked (Berjalan)
• BDE : Marpangansi (Berbohong)
(Berjalan (ה לַ ַ֥כְ תִ י : TM•
Yang mendekati TM adalah NIV
Ayat 6
• LAI : Ditimbang
• NIV : Weigh (Menimbang)
• BDE : Mandasing (Mengukur)
(Menimbang (יִשְ קְ ל ַ֥נִי : TM•
Yang mendekati TM adalah NIV dan BDE
B. Aparatus
Di dalam Teks Masorah terdapat kata ן ֵ֗ ונֹבּ ְת ֶ֝ א ה ָ֥ ומּ yang artinya lalu mengapa aku harus melihat, namun hal itu telah diusulkan oleh peneliti modern dengan menggunakan kata ׳ ְת בֺט מ yang artinya dari rumah. Dalam kritik aparatus ini ingin mengusulkan kalimat tambahan lalu mengapa aku harus melihat menjadi lalu mengapa aku harus melihat dari rumah.
Keputusan: Penafsir menolak kritik aparatus yang diusulkan oleh peneliti
modern, karena usulan kritik aparatus tersebut memperkabur makna teks.
C. Terjemahan Akhir
Ayat 1. Aku telah menetapkan syarat bagi mataku, masakan aku melihat anak dara?
Ayat 2. Karena bagian apakah yang ditentukan Allah dari atas, warisan apakah yang ditetapkan Yang Mahakuasa dari tempat yang tinggi?
Ayat 3. Bukankah kebinasaan bagi orang yang penjahat dan kemalangan bagi yang melakukan kejahatan?
Ayat 4. Bukankah Allah yang mengamat-amati jalanku dan menghitung segala langkahku?
Ayat 5. Jikalau aku berjalan dengan dusta, atau kakiku cepat melangkah ke tipu daya,
Ayat 6. biarlah aku ditimbang di atas neraca yang teliti, maka Allah akan mengetahui, bahwa aku tidak bersalah.
2.6 Tafsiran
Ayat 1
Ayub meninjau integritas rohaninya yang teguh melalui kesetiannya kepada Allah serta kebaikannya kepada orang lain. Ayub mengikat suatu perjanjian dengan matanya untuk mengelakkan pandangan dari keinginan penuh gaira yang datang dari memandang seorang gadis cantik. Di dalam ayat yang pertama jelas dikatakan bahwa Ayub sudah membuat suatu syarat bagi dirinya untuk tidak melirik perempuan dan tidak menimbulkan hawa nafsu sehingga membuatnya tercela di hadapan Allah. Anak Dara yang dimaksudkan di ayat ini merujuk kepada seorang wanita yang dalam pandangan Ayub untuk dihindari dari pandangan yang dalam arti suatu pandangan yang menimbulkan suatu nafsu. Ayat pertama ini menegaskan suatu komitmen Ayub dalam menjaga kekudusan dirinya.
Ayat 2
Ps ini memberikan pengertian yang sangat hebat tentang perangai orang ini. Gagasan-gagasannya bukanlah murahan dan tanpa ambisi, tapi berbobot dan pergumulan batin.19Ayub mempertanyakan suatu tentang apa yang harus diterima manusia atas apa yang diberikan Allah bagi dirinya. Ayub dalam ayat ini seakan-akan hendak menekankan suatu pertanyaan perihal apakah yang sedang diberikan atau ditimpakan pada manusia soal ganjaran. Mengingat apa yang ditimpakan pada Ayub, yang membuat dirinya mengalami penderitaan. Ayub di ayat ini berkaca pada dirinya soal apa yang diberi Allah padanya sebab dia sat itu menderita dalam hidupnya. Pusaka yang dimaskud disini adalah suatu pemberian atau hal yang ditimpakan Allah bagi seseorang.
Ayat 3
Kebinasaan yang pada umumnya menurut pandangan Ayub biasanya ditimpakan kepada orang yang memiliki perilaku yang curang atau penipus. Ayat ini menceritakan keluh kesah Ayub atas deritanya. Ayub bukanlah orang yang melakukan hal curang atau penipu tetapi mengapa dia harus mengalami suatu penderitaan. Ayub berada dalam suatu kebingungan dalam dirinya. Juga Ayub menanyakan bukankah kemalangan ditimpakan kepada mereka yang melakukan kejahatan, sementara Ayub tidaklah melakukan hal yang tercela atau jahat di mata Tuhan, sehingga Ia harus mendapat derita itu.
Ayat 4
Ayub melontarkan suatu perkataan yang menanyakan suatu hal bahwa apakah Allah mengamati jalannya dalam hidupnya sehingga dalam hal perjalanan hidupnya apakah Allah menemui suatu cela dalam diri Ayub. Seperti yang dalam pandangan Ayub bahwa Allah tidak akan pernah lalai dalam mengamati suatu perilaku dan jalan hidup seseorang. Ayat ini juga menjelaskan bahwa Allah pun mengamati jalan setiap manusia yang berarti apapun yang diperbuat manusia dalam hidupnya selalu dalam perhatian Allah dan langkah manusia diketahui oleh Allah.
Ayat 5
Disini Ayub mengucapkan ketidaksalahannya dengan menggunakan bentuk kutukan atas diri sendiri: “Jikalau aku berbuat begini, biarlah hal itu terjadi padaku”. Jika Ayub bersalah, Allah hendaknya memberi kutukan; jika tidak bersalah, kutukan tidak akan terjadi dan nama Ayub akan dijernihkan secara resmi. Ini adalah usaha dari keputusan untuk memaksa tanggan Allah. Ayat 5 ini memberi kesan bahwa Ayub menyangkal dirinya melakukan tindakan berdusta dan ini adalah suatu pembelaan dirinya atas perkara yang sedang diterimanya. Ayub memposisikan dirinya sebagai sesorang yang tidak melakukan kejahatan tetapi mendapat suatu penderitaan dalam hidupnya. Ayat ini mengandaikan diri Ayub bila ia melakukan kejahatan atau hal tercela di hadapan Allah maka ia bersedia untuk dinyatakan bersalah di mata Allah.
Ayat 6
Ayub pertama kali mempersilakan Allah meletakkan dirinya pada timbangan keadilan, yaitu dengan neraca yang benar. Neraca palsu umumnya tidak dibenarkan dalam Perjanjian Lama. Gambaran pengadilan Allah sebagai timbangan mungkin diambil dari Mesir, di sana jantung orang yang sudah meninggal ditimbang dengan bulu kebenaran. Ayub kemudian mulai dengan “pengakuan negatif”: Bila kamu mempersalahkan aku melakukan itu, aku mengatakan bahwa aku tak bersalah!” ia kemudian menyajikan ringkasan moral yang menantang. Tetapi, jumlah masalah yang dibicarakan tidaklah jelas. Teksnya kadang-kadang tidak jelas. Ayub melontarkan pernyataan yang mengatakan bahwa dirinya siap untuk ditimbang perbuatannya. Ditimbang di atas neraca merujuk pada diri Ayub yang siap untuk diselidiki hidupnya dengan adil oleh Allah sendiri. Ditimbang mengarah pada penyelidikan atas perkara Ayub. Dalam ayat ini Ayub juga percaya bahwa Allah mampu mengetahui perihal dirinya bersalah atau tidak.
2.7 Skopus
“Tuhan menimbang jalan hidup manusia”
2.8 Refleksi
Penderitaan yang dialami oleh Ayub kehendak Allah, membuat Ayub berkaca kebelakamg perihal tingkah lakunya. Ayub membuat komitmen untuk tetap menjaga perilakunya dengan hidup dengan benar. Walau dalam penderitaan hidupnya tetap berada dalam kebenaran. Saat manusia pada unmumnya mengalamai penderitaan tentu saja yang muncul dalam benaknhya adalah perasaan untuk menghakimi Allah atas apa yang dialaminya, tetapi seharusnya bisa belajar dafri perilaku Ayub saat mendapat penderitaan. Ayub dalam kesehariannya tidak lalai dalam menjalin kedekatan dengan Allahnya walau dalam kesakitan yang ditimpakan kepadanya. Beberapa orang beranggapan bahwa penderitaan itu hanya dialami oleh orang yang curang dan berdusta, sehingga dengan mudah sekali menghakimi mereka yang mendapat pencobaan dengan mengatakan bahwa mereka sedang dikutuk oleh Allah atas dosanya. Padahal nyata, orang benar dan orang jahat pun bisa saja mengalami penderitaan. Tetapi tentu keduanya memiliki perbedaan respon atas apa yang diterimanya. Orang benar akan berusaha memperbaiki dir dan tidak mengutuki Allah atas penderitaannya, melainkan melakukan hal yang lebih baik lagi sebab semua penderitaan itu adalah cara Tuhan untuk menguji dan memberi kesempatan untuk dirinya mendapatkan suatu pusaka yang lebih baik dari semula. Sebaliknya orang jahat akan mudah menghakimi dan mengutuk Allah atas penderitaannya , bukannya datang pada Allah untuk berserah. Apa yang dilakukan oleh Ayub ini seperti mewakili perasaan umat beriman bila mengalami pencobaan. Ayub menjadi teladan untuk tetap berharap pada Tuhan dengan menjaga dirinya jauh dari ketidaksalehan hidup. Umat beriman seharunya mengambil sikap saleh dan tetap menjaga diri tidak berjalan dan hidup dalam dusta, tetapi semata-mata mengambil komitmen hidup benar di mata Tuhan. Sehingga dalam penderitaan pun tetap merasakan Tuhan. Ayub disini berserah diri pada pengadilan Allah, sebab Ayub yakin Allah dapat menimbang dan mengukur segala perkara dengan baik dan tidak mungkin keliru dalam memperhatikan sikap hidup manusia. Sebagai umat beriman, berserah kepada keadilan Tuhan membuat iman kita menjadi semakin teguh dan itu adalah suluh agar kita bisa belajar untuk tetap hidup benar di mata Allah walaupun di tengah penderitaan.
III. Kesimpulan
Kitab Ayub termasuk Sastra Hikmat, karena itu kitab ini memiliki beberapa ayat yang mengandung suatu hikmat yang memberi pedoman. Dalam Kitab ini penulis hendak menyampaikan bahwa orang benar hidupnya tidaklah selalu dalam kesenangan, adakalanya mereka orang benar hidupnya diijinkan Tuhan untuk mengalami suatu penderitaan. Atas dasar bahasa yang dipakai dalam kitab Ayub, beberapa ahli menyimpulkan bahwa Kitab Ini ditulis antara tahun 400-300 SM dengan mempertimbangkan situasi masyarakat yang dilukiskan dalam kitab ini. Dengan membaca Kitab Ayub dan menggali maknanya dengan tafsiran, pembaca dapat mengerti suatu pesan hikmat yang terkandung di dalamnya.
IV. Daftar Pustaka
Bergan, Dianne & Robert J. Karris. Tafsir Alkitab Perjanjian Lama. Yogyakarta:
Kanisius, 2002.
Bijl, C. Ayub Sang Kolongmerat. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2000.
Blommendaal, J. Pengantar Kepada Perjanjian Lama. Jakarta: Gunung Mulia, 2001.
Borton, Jhon. The Cambridge Companion To Biblical Interpretation. UK: Cambridge
University Press, 2000.
Browning, W.R.F. Kamus Alkitab. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007.
Bullock, C. Hassel. Kitab-kita Puisi Dalam Perjanjian Lama. Malang: Gandum Mas,
2014.
Horton, Stanley M, dkk. Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan. Malang: Gandum
Mas, 2000.
Heavenor, C.S.P. Tafsiran Alkitab Masa Kini 2. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina
Kasih, 2012.
Grant, Robert M. dan David Tracy. Sejarah Singkat Penafsiran Alkitab. Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 2000.
Lasor, W.S, D.A. Hubbard & F.W. Bush. Pengantar Perjanjian Lama 2. Jakarta:
Gunung Mulia, 2016.
Ludji, Barnabas. Pemahaman Dasar Perjanjian Lama 2. Bandung: Bina Media
Informasi, 2009.
Marie dkk, Ayub, Bergumul Dengan Penderitaan, Bergumul Dengan Allah. Jakarta:
Gunung Mulia, 2016.
Saragih, Agus Jetron. Eksegese Naratif. Medan: P3M STT AS, 2006.
Saragih, Agus Jetron. Kitab Ilahi Pengantar Kitab-kitab Perjanjian Lama. Medan:
Penerbit Bina Media Perintis, 2016.
Situmorang, Jonar. Mengenal Dunia Perjanjian Lama. Yogyakarta: Andi, 2019.
Comments
Post a Comment