ETIKA: PERKEMBANGAN TEORI ETIKA
PERKEMBANGAN TEORI ETIKA
I. Pendahuluan
Perkembangan etika sangat mempengaruhi kehidupan manusia dalam kehidupan sehari hari. Etika dapat memberikan suatu orientasi kepada manusia untuk menjalani serangkaian tindakan. Hal tersebut berarti bahwa etika dapat membantu untuk mengambil suatu keputusan tentang tindakan yang baik maupun tidak.Singkatnya, etika bisa disebut sebagai suatu ilmu yang memberikan arahan,acuan, dan pijakan kepada tindakan manusia.Teori etika amat penting dilakukan mengingat dalam setiap kehidupan kita senantiasa berkaitan dengan individu dan kelompok lain.Perbedaan-perbedaan dalam sikap,nilai, dan pandangan membawa implikasi pada hubungan sosial yang lebih luas.
II. Pembahasan
2.1Pengertian Etika
Etika berasal dari bahasa Yunani ethos (kata tunggal) yang berarti: tempat tinggal, padang rumput, kandang, kebiasaan, adat, watak, sikap, cara berpikir. Bentuk jamaknya adalah ta, etha, yang berarti adat istiadat.Dalam hal ini, kata etika sama pengertianya dengan moral. Moral berasal dari kata latin: Mos (bentuk tunggal), atau mores (bentuk jamak) yang berarti adat istiadat, kebiasaan, kelakuan, watak, tabiat, akhlak, cara hidup1 Etika adalah sebuah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya.Sebagai cabang filsafat etika sangat menekankan pendekatan kritis dalam melihat dan menggumuli nilai dan norma moral tersebut serta permasalahan-permasalahan yang timbul dalam kaitan dengan nilai dan norma moral itu. Etika bermaksud membantu manusia untuk bertindak secara bebas dan dapat dipertanggungjawabkan,karena setiap tindakannya selalu lahir dari keputusan pribadi yang bebas dengan selalu bersedia untuk mempertanggungjawabkan tindakannya itu karena memang ada alasan-alasan dan pertimbangan-pertimbangan yang kuat.Maka kebebasan dan tanggung jawab adalah kondisi dasar bagi pengambilan keputusan dan tindakan yang etis dengan suara hati memainkan peran yang sangat sentral. 2
2.2 Pengertian Etika
menurut para ahli Menurut Bertens ada dua pengertian etika: sebagai praktis dan sebagai refleksi. Sebagai praktis, etika berarti nilai- nilai dan norma-norma moral yang baik yang dipraktikkan atau justru tidak dipraktikkan,walaupun seharusnya dipraktikkan. Etika sebagai praktis sama artinya dengan moral atau moralitas yaitu apa yang harus dilakukan, tidak boleh dilakukan, pantas dilakukan, dan sebgainya. Etika sebagai refleksi adalah pemikiran moral.3 Adapun menurut Burhanuddin Salam, istilah etika berasal dari kata latin, yakni “ethic, sedangkan dalam bahasa Greek, ethikos yaitu a body of moral principle or value Ethic, arti sebenarnya ialah kebiasaan, habit. Jadi,dalam pengertian aslinya, apa yang disebutkan baik itu adalah yang sesuai dengan kebiasaan masyarakat (pada saat itu). Lambat laun pengertian etika itu berubah dan berkembang sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan manusia. Perkembangan pengertian etika tidak lepas dari substansinya bahwa etika adalah suatu ilmu yang membicarakan masalah perbuatan atau tingkah laku manusia, mana yang dinilai baik dan mana yang jahat.Istilah lain dari etika, yaitu moral, asusila, budi pekerti, akhlak. Etika merupakan ilmu bukan sebuah ajaran. Etika dalam bahasa arab disebut akhlak,merupakan jamak dari kata khuluq yang berarti adat kebiasaan, perangai,tabiat, watak, adab, dan agama4 Menurut Aristoteles merupakan seorang filsuf asal Yunani dan murid dari Plato berpendapat dengan membagi etika menjadi 2 pengertian, yakni Terminius Technicus dan Manner and Cutom. Terminius Technicus merupakan etika sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari problema tingkah laku atau perbuatan individu (manusia), sedangkan Manner and Cutom merupakan pengkajian etika berkaitan dengan tata cara dan adat yang melekat dalam diri individu, serta terkait dengan baik dan buruknya tingkah laku, perbuatan, ataupun perilaku individu tersebut. Menurut W. J. S. Poerwadarminta mengemukakan bahwa etika adalah ilmu pengetahuan terkait perbuatan dan perilaku manusia dilihat dari sisi baik dan sisi buruknya yang ditentukan oleh manusia pula Menurut K. Bertens pengertian etika, yakni: Etika adalah nilai moral dan norma yang menjadi pedoman, baik bagi suatu individu maupun suatu kelompok, dalam mengatur tindakan atau perilaku. Dengan kata lain, pengertian ini disebut juga sebagai sistem nilai di dalam hidup manusia, baik perorangan maupun bermasyarakat.Etika berarti ilmu mengenai baik dan buruknya manusia (moral).Kemudian, etika juga diartikan sebagai kumpulan nilai moral dan asas (kode etik).
2.3. Selintas Sejarah Etika di Yunani
Untuk pertama kalinya etika dikaji secara rasional dan berdasarkan pada ilmu pengetahuan, oleh bangsa Yunani. Ahli –ahli filsafat Yunani kuno tidak banyak memperhatikan etika, tetapi kebanyakan kajiannya mengenai alam sehingga datang Sophisticians(seorang yang bijaksana). Mereka adalah golongan ahli filsafat, dan menjadi guru di beberapa negeri. Buah pikiran dan pendapat mereka berbeda-beda, tetapi tujuan mereka adalah satu, yaitu menyiapkan angkatan muda bangsa Yunani, angar menjadi nasionalis yang tidak lagi merdeka dan mengetahui kewajiban mereka terhadap tanah airnya. Tidak banyak perbedaan yang terdapat pada setiap ajaran para filsuf dalam menentukan sesuatu, baik dan buruknya. Akan tetapi, perbedaan yang terpenting adalah mengenai dorongan jiwa untuk melakukan perbaikan. Menurut ahli filsafat Yunani, pendorong untuk melakukan perbuatan baik adalah pengetahuan atau kebijaksanaan. Sejarah etika Eropa dapat dengan mudah dibagi menjadi tiga periode dengan karakteristik khusus sendiri.Periode Yunani berlangsung dari awal studi etika,dari 500SM,hingga 500M.Periode etika abad pertengahan sekitar tahum 500M-1500M,dan periode modern dari 1500M dan seterusnya.Pada masa Yunani,negara kota Yunani menjadi latar kehidupan moral,dan orang yang menjalankan kewajibannya sebagai warga negara dianggap sebagai orang yang baik. Pada abad pertengahan moralitas didominasi oleh gereja dan secara umum kehidupan yang baik diidentikkan dengan kehidupan suci atau kehidupan religius.Dalam periode modern baik gereja maupun negara tidak begitu penting dalam kehidupan moralitas.Hal ini karena individu memilih kebebasan.Refleksi bebas yang muncul di negara kota-kota Yunani dan tradisi moral orang Yahudi dan Kristen yang diajarkan oleh Gereja Abad Pertengahan.
2.4 Pada Abad pertengahan
Etika bisa dikatakan dianiaya' oleh Gereja. Pada saat itu. Gereja memerangi Filsafat Yunani dan Romawi, dan menentang penyiaran ilmu dan kuno.kebudayaan Gereja berkeyakinan bahwa kenyataan hakikat telah diterima dari wahyu, dan apa yang terkandung dan diajarkan oleh wahyu adalah benar, jadi manusia tidak perlu lagi bersusah bersusah menyeliki tentang kebenaran hakikat, karena semuanya telah diatur oleh Tuhan. Ahli-Ahli Filsafat Etika yang lahir pada masa itu, adalah panduan dari ajaran Yunani dan Ajaran Nasrani. Di antara mereka yang termasyur adalah Abelard (1079-1142 SM). scorang ahli Filsafat Prancis. Dan Thomas Aquinus (1226 1270 SM), seorang ahli Filsafat Agama dari Italia.
2.5 Etika Periode Modern.
Pada akhir abad lima belas, Eropa mulai bangkit. Ahli pengetahuan mulai. menyuburkan Filsafat Kuno. Begitu juga dengan Italia, lalu berkembang ke suluruh Eorpa Pada masa ini,segala sesuatu dikecam dan diselidki, sehingga tegaklah kemerdekaan berfikir. Dan mulai melihat segala sesuatu dengan pandangan baru, dan mempertimbangkanya dengan ukuran yang baru.Discarles, seorang ahli Filsafat Prancis (1596-1650), termasuk pendiri Filsafat baru Untuk ilmu pengetahuan, ia menetapkan dasar-dasar sebagai berikut:
1. Tidak menerima sesuatu yang belum diperiksa akal dan nyata adanya. Dan apa yang tumbuhnya dari adat kebiasaan saja, wajib di tolak.
2. Di dalam penyelikidan harus kita mulai dari yang sekecil-kecilnya, lalu meningkat ke hal-hal yang lebih besar.
3. Jangan menetapkan satu hukum akan kebenaran suatu hal sehingga menyatakan dengan ujian. Namun di antara ahli-ahl ilmu pengetahuan bangsa jerman yang merupakan pengaruh besar dalam akhlak adalah Spnova (1770-1831), Hegel (1770-1831) juga kant(1724- 1831).6
2.7 Teori-Teori Etika
Sistem etika mempunyai banyak uraian khususnya yang berkaitan denga hakikat moralitas serta pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Sejak zaman dulu hingga sekarang,setidaknya ada beberapa sistem etika yang sangat berpengaruh,diantaranya; Hedonisme, Eudemonisme, Utilitarianisme, dan Deontologi. Berikut penjelasan singkat sistem dan teori-teori etika berdasarkan buku Etika karya K. Bertens.
1. HEDONISME
Sepanjang sejarah barangkali belum terdapat sistem filsafat moral yang lebih mudah dimengerti dan akibatnya tersebar lebih luas seperti sistem hedonisme. Apa yang menjadi 6 https://www.academia.edu/30402418/Sejarah_Etika diakses pada tanggal 08/09/22,pukul 11.46 hal yang terbaik bagi manusia? Para hedonis dengan senang hati akan menjawab: kesenangan (hedone dalam bahasa Yunani). Sesuatu yang memuaskan keinginan kita, yang meningkatkan kuantitas kesenangan atau kenikmatan dalam diri kita, itulah hal yang terbaik bagi manusia. Singkatnya, manusia hidup untuk mencari kesenangan, karena pada kodratnya manusia hidup untuk mencari kesenangan dan menghindari ketidaksenangan.
2.EUDEMONISME
Pandangan ini dikemukakan oleh seorang filsuf Yunani yaitu Aristoteles yang hidup pada tahun 384-322 SM. Menurut Aristoteles makna atau tujuan kehidupan yang paling tinggi adalah kebahagiaan. Jika manusia menjalankan fungsinya sebagai manusia dengan baik, maka ia akan mencapai tujuan akhir atau kebahagiaan. 3.UTILITARISME Tokoh pertama aliran utilitarianisme adalah seorang filsuf Inggris yaitu Jeremy Bentham (1748-1832), dengan bukunya Introduction to the Principles of Morals and Legislation (1789). Pokok pikiran Bentham yaitu moral dan hukum dibuat untuk kepentingan manusia, bukan sebaliknya manusia untuk kepentingan moral dan hukum, maksudnya adalah tujuan hukum untuk memajukan kepentingan para warga negara dan bukan memaksakan perintah-perintah ilahi atau melindungi yang disebut hak-hak kodrati.Dari dasar tersebut, Betham mengusulkan agar kejahatan diklasifikasikan berdasarkan berat tidaknya suatu pelanggaran dan berdasarkan efek kesusahan atau penderitaan yang diakibatkan kejahatan tersebut terhadap korbannya danmasyarakat. Dari dasar tersebut Betham berpendapat bahwa suatu pelanggaran yang tidak merugikan orang lain, sebaiknya tidak dianggap sebagai tindakan criminal.
4.DEONTOLOGI
Deontologi berasal dari bahasa Yunani deon yang berarti apa yang harus dilakukan; kewajiban. Deontologi tidak menyoroti tujuan yang dipilih bagi perbuatan atau keputusan manusia, melaikan semata-mata wajib tidaknya perbuatan dan keputusan itu dilakukan. Berbeda dengan teori-teori etika seperti hedonisme, eudemonisme, dan utilitarianisme yang berorientasikan kepada tujuan suatu perbuatan serta mengukur baik dan buruk dari konsekuensi perbuatan, teori deontologi lebih menekankan kepada maksud pelaku dalam melakukan perbuatan tersebut.
7 5. Etika Teleologi
Istilah ”teleologi” berasal dari kata Yunani telos, yang berarti tujuan, dan logos berarti ilmu atau teori. Berbeda dengan etika deontologi, etika teleologi menjawab pertanyaan bagaimana bertindak dalam situasi konkret tertentu dengan melihat tujuan atau akibat dari suatu tindakan. Dengan kata lain, etika teleologi menilai baik-buruk suatu tindakan berdasarkan tujuan atau akibat dari tindakan tersebut. Suatu tindakan dinilai baik kalau bertujuan baik dan mendatangkan akibat baik. Jadi, terhadap pertanyaan, bagaimana harus bertindak dalam situasi konkret tertentu, jawaban etika teleologi adalah pilihlah tindakan yang membawa akibat baik. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa etika teleologi lebih bersifat situasional dan subyektif. Kita bisa bertindak berbeda dalam situasi yang lain tergantung dari penilaian kita tentang akibat dari tindakan tersebut. Demikian pula, suatu tindakan yang jelas-jelas bertentangan dengan norma dan nilai moral bisa dibenarkan oleh etika teleologi hanya karena tindakan itu membawa akibat yang baik. Persoalannya, tujuan yang baik itu untuk siapa? Untuk kita pribadi, untuk pihak yang mengambil keputusan dan yang melaksanakan keputusan atau bagi banyak orang? Apakah tindakan tertentu dinilai baik hanya karena berakibat baik untuk kita, atau baik karena berakibat baik bagi banyak orang? Berdasarkan jawaban atas pertanyaan ini, etika teleologi bisa digolongkan menjadi dua, yaitu egoisme etis dan utilitarianisme. Egoisme etis menilai suatu tindakan sebagai baik karena berakibat baik bagi pelakunya. Persoalan yang dihadapi oleh Bentham dan orang-orang sezamannya adalah bagaimana menilai baik buruk suatu kebijakan sosial, politik, ekonomi dan legal secara moral. Singkatnya, bagaimana menilai sebuah kebijakan publik. Apa kriteria dan dasar obyektif yang dapat dipakai sebagai pegangan untuk mengambil dan menilai sebuah kebijakan publik sebagai benar secara moral? Ini penting terutama karena kebijakan publik sangat mungkin diterima oleh kelompok yang satu, tetapi ditolak oleh kelompok yang lain karena merugikan. Secara lebih rinci, kita dapat merumuskan dasar objektif itu dalam tiga kriteria berikut. Kriteria pertama adalah manfaat, yaitu kebijakan atau tindakan itu mendatangkan manfaat tertentu. Jadi, kebijakan atau tindakan baik adalah kebijakan atau tindakan yang menghasilkan hal baik. Sebaliknya, akan dinilai buruk secara moral kalau mendatangkan kerugian atau hal buruk. Kriteria kedua adalah manfaat terbesar, yaitu kebijakan atau tindakan tersebut mendatangkan manfaat lebih besar atau terbesar dibandingkan dengan kebijakan atau tindakan alternatif lain, atau dalam situasi di mana semua alternatif yang ada ternyata sama-sama mendatangkan kerugian, tindakan yang baik adalah tindakan yang mendatangkan kerugian terkecil. Kriteria ketiga adalah manfaat terbesar bagi sebanyak mungkin orang. Artinya, suatu kebijakan atau tindakan dinilai baik kalau manfaat terbesar yang dihasilkan berguna bagi banyak orang. Semakin banyak orang yang menikmati akibat baik tadi, Semakin baik kebijakan atau tindakan tersebut.
7.6.Etika Keutamaan
Berbeda dengan kedua teori etika yang pertama yaitu etika deontologi dan etika teleologi, maka etika keutamaan (virtue ethics) tidak mempersoalkan akibat suatu tindakan. Juga, tidak mendasarkan penilaian moral pada kewajiban terhadap hukum moral universal. Etika keutamaan lebih mengutamakan pengembangan karakter moral pada diri setiap orang. Dalam kaitan dengan itu, sebagaimana dikatakan Aristoteles, nilai moral ditemukan dan muncul dari pengalaman hidup dalam masyarakat, dari teladan dan contoh hidup yang diperlihatkan oleh tokoh-tokoh besar dalam suatu masyarakat dalam menghadapi dan menyikapi persoalan-persoalan hidup ini. Di sana kita menemukan nilai moral tertentu, dan belajar mengembangkan dan menghayati nilai tersebut. Jadi, nilai moral bukan muncul dalam bentuk adanya aturan berupa larangan dan perintah, melainkan dalam bentuk teladan moral yang nyata dipraktekkan oleh tokoh-tokoh tertentu dalam masyarakat. Dari teladan hidup orang-orang itu kita mengenal dan belajar nilai dan keutamaan moral seperti kesetiaan, saling percaya, kejujuran, ketulusan, kesediaan berkorban bagi orang lain, kasih sayang, kemurahan hati, dan sebagainya. Dengan demikian, etika keutamaan sangat menekankan pentingnya sejarah dan cerita-termasuk cerita dongeng dan wayang. Menurut teori etika keutamaan, orang bermoral tidak pertama-tama ditentukan oleh kenyataan bahwa dia melakukan suatu tindakan bermoral pada kasus tunggal tertentu. Pribadi moral terutama ditentukan oleh kenyataan seluruh hidupnya, yaitu bagaimana dia hidup baik sebagai manusia sepanjang hidupnya. Jadi, bukan tindakan satu per satu yang menentukan akan tetapi, apakah dalam semua situasi yang dihadapi ia mempunyai posisi, kecenderungan, sikap dan perilaku moral yang terpuji serta sikap dan perilakunya tidak pernah berubah. Maka, yang dicari adalah keutamaan, excellence, kepribadian moral yang menonjol. Etika keutamaan sangat menghargai kebebasan dan rasionalitas manusia, karena pesan moral hanya disampaikan melalui cerita dan teladan hidup para tokoh lalu membiarkan setiap orang untuk menangkap sendiri pesan moral itu. Juga, setiap orang dibiarkan untuk menggunakan akal budinya untuk menafsirkan pesan moral itu. Artinya, terbuka kemungkinan setiap orang mengambil pesan moral yang khas bagi dirinya, dan melalui itu kehidupan moral menjadi sangat kaya oleh berbagai penafsiran. Sesungguhnya agama, dengan Kitab-kitab Suci dan tokoh-tokohnya berupa para nabi, melakukan hal yang sama. Melalui cerita dalam Kitab Suci, baik tentang perumpamaan tertentu, kasus tertentu atau tentang perbuatan nabi tertentu, umat diajarkan tentang nilai dan keutamaan moral tertentu dan diharapkan untuk meneladani dan menghayati nilai dan keutamaan moral itu dalam hidupnya. Demikian pula, sepanjang sejarah agama tersebut, muncul orang kudus, martir, dan orang saleh yang melalui teladannya mengajarkan keutamaan, nilai moral, dan hal baik yang harus dilakukan. Sayangnya, etika keutamaan pada setiap agama ini luntur atau bahkan hilang ditelan kecenderungan dogmatisme dan indoktrinasi yang begitu kuat pada agama-agama itu. Akan tetapi, kelemahan etika keutamaan ini adalah, pertama, dalam masyarakat pluralistik, akan muncul berbagai keutamaan moral yang berbeda-beda sesuai dengan sumber budaya dan agama, atau cerita dan sejarah yang diajarkan. Kedua, dalam masyarakat modern di mana cerita apalagi cerita dongeng-tidak diberi tempat, moralitas bisa kehilangan relevansinya. Ketiga, dalam masyarakat di mana sulit ditemukan adanya tokoh publik yang bisa menjadi teladan moral, moralitas akan mudah hilang dari masyarakat tersebut. Ini terutama terjadi dalam masyarakat materialistis seperti sekarang ini.9
2.8 Macam-Macam Etika
Berikut ini merupakan pembahasan mengenai apa saja macam-macam etika berdasarkan jenisnya, cakupannya, lingkungannya, dan sumbernya.Etika Berdasarkan Jenisnya Menurut jenisnya, ada dua jenis-jenis etika di antaranya etika normatif dan etika deskriptif. Berikut penjabarannya secara singkat.
1. Etika Normatif Etika normatif adalah jenis etika yang berusaha menentukan dan menetapkan berbagai perilaku, perbuatan, sikap ideal yang seharusnya dimiliki oleh tiap individu di dalam hidup ini. 2. Etika Deskriptif Etika deskriptif adalah jenis etika yang berusaha memandang perilaku dan sikap individu, serta apa yang individu itu kejar di dalam hidup ini atas perkara yang memiliki nilai. Etika Berdasarkan Lingkungannya Berdasarkan lingkungannya, ada dua jenis etika, yaitu etika individual dan etika sosial.
Berikut penjabarannya secara singkat.
1. Etika Individual Etika individual merupakan etika yang memiliki kaitannya dengan sikap dan kewajiban dari individu atas dirinya sendiri.
2. Etika Sosial Etika sosial merupakan jenis etika yang memiliki kaitannya dengan sikap dan kewajiban, serta perilaku suatu individu sebagai umat manusia. Etika Berdasarkan Sumbernya Menurut sumbernya, ada dua jenis etika, di antaranya etika teologis dan etika filosofis.
Berikut penjabarannya di bawah ini.
1. Etika Teologis Etika teologis adalah jenis etika yang berhubungan dengan agama juga kepercayaan suatu individu, tanpa adanya batasan pada suatu agama tertentu. Ada 9http://repository.ut.ac.id/4320/1/PWKL4302-M1.pdf, Tina Ratnawati dan A. Sonny Keraf. Pengertian dan Teori Etika (Modul) dua hal yang perlu ditekankan dalam etika teologis ini. Pertama, etika teologis tidak dibatasi oleh satu agama saja, hal itu karena mengingatnya banyaknya jumlah agama di dunia ini. Pada hakikatnya, setiap agama pastinya memiliki etika teologisnya masing-masing berbeda dan juga spesifik. Kedua, etika ini merupakan lingkupan dari etika umum yang sebagian besar individu telah menerapkan dan mengetahuinya. Etika umum ini condong luas dan banyak dengan bagian-bagian yang tak terbatas. Sehingga secara tak langsung, seorang individu memahami etika teologis dengan cara mengetahui dan memahami pula dari etika umum, dan sebaliknya.
2. Etika Filosofis Etika filosofis adalah jenis etika yang lahir dari kegiatan berpikir atau berfilsafat yang dilakukan oleh individu dan termasuk dalam bagian dari filosofis (berdasarkan filsafat). Filsafat sebagai suatu bidang ilmu yang salah satunya mempelajari pikiran manusia. Adapun etika filosofis dibagi menjadi dua sifat, yakni empiris dan nonempiris. Empiris merupakan jenis filsafat yang erat kaitannya dengan sesuatu yang nyata, berwujud, atau konkret. Contohnya, apabila suatu individu mengambil salah satu bidang filsafat hukum, akan membahas terkait hukum Kemudian, non-empiris merupakan bagian yang berupaya melebihi suatu yang nyata, berwujud, atau konkret sebelumnya.
2.9 Manfaat Etika
Etika sebagai sesuatu yang melekat pada diri manusia, tentunya memiliki beberapa manfaat di dalam kehidupan bermasyarakat dan bersosial. Berikut ini akan dijabarkan secara singkat manfaat dari etika di kehidupan bermasyarakat.
1. Etika Bermanfaat sebagai Penghubung Antarnilai Etika bisa dikatakan sebagai jembatan antarnilai satu dengan nilai yang lainnya. Sebagai contoh, arti budaya dan nilai agama, dengan adanya etika maka dua hal ini akan bisa jadi suatu kesatuan kebiasaan yang melekat di dalam masyarakat, tanpa ada pihak yang merasa dirugikan sekalipun. Dengan begitu, itu menunjukkan bahwa etika dikatakan mampu sebagai jembatan antarnilai agama dan budaya.
2. Etika Bermanfaat sebagai Pembeda Antara yang Baik dan Buruk Etika yang telah melekat pada diri individu lambat laun akan membuat individu tersebut mengetahui dan memahami secara penuh terhadap hal atau sesuatu yang ada di sekitarnya. Pemahaman yang dimaksud di atas adalah sesuatu yang dianggap baik dan buruk. Apabila individu sudah dapat membedakan yang baik dengan yang buruk dan melakukan segala ‘sesuatu’ sesuai dengan norma atau aturan yang berlaku, etika akan menjadi suatu pedoman di mana individu itu mampu menerapkan ‘sesuatu’ tersebut.
3. Etika Bermanfaat untuk Menjadikan Individu Memiliki Sikap Kritis Etika yang sudah lama tertanam pada diri individu membuat dirinya lebih kritis dalam menghadapi sebuah kondisi dan situasi. Individu tersebut tak hanya pasrah pada keadaan, melainkan ikut memikirkan jalan keluar atau solusi yang tepat. Etika akan membuat individu menjadi pribadi yang tidak mudah terpengaruh karena tentunya dirinya akan mempertimbangkan perasaan dengan pikirannya. Hal yang utama adalah individu tak akan melakukan sesuatu atas keinginannya sendiri atau gegabah.
4. Etika Bermanfaat sebagai Suatu Pendirian dalam Diri Etika bisa dijadikan sebagai pedoman dalam bertindak atau dalam menjalani suatu hal. Individu yang paham betul akan etika tentu akan berperilaku sesuai tata aturan yang berlaku, tanpa dirinya merasa terpaksa. Hal ini bisa dikatakan akan memengaruhi pendirian individu atas pemahaman etika yang ada di dalam masyarakat.
5. Etika Bermanfaat untuk Membuat Sesuatu Sesuai dengan Peraturan Etika akan membuat individu memberlakukan individu lain sesuai dengan kadarnya. Artinya, individu tersebut akan dihukum sesuai dengan kesalahan yang ia lakukan. Apabila ia melakukan kesalahan kecil, hukuman yang diberikan akan ringan. Sebaliknya, apabila dirinya melakukan kesalahan yang besar hingga fatal, hukuman yang diberikan kepadanya cenderung berat.Oleh sebab itu, pentingnya untuk dapat menyesuaikan diri ke dalam lingkungan yang ada. Salah satunya contohnya, untuk menciptakan lingkungan tempat tinggal yang rukun, kamu harus dapat bersosialisasi dengan tetangga. Pada buku Etika Bertetangga oleh Hetti Restianti ini akan dijelaskan betapa pentingnya etika dalam bertetangga. tombol beli buku.
2.10 Klasifikasi Teori Standar Moral 11Klasifikasi teori standar moral adalah teori untuk membagi dan memahami teori-teori moral dalam banyak cara pandang yang berbeda, sehingga perlu dibuat pembagiannya karena sering kali diantara teori standar moral ini memiliki banyak kemiripan sehingga dengan sangat mudah membingungkan. Pertama-tama kita melihat perbedaan antara etika moral absolut dan relative. Etika absolut (mutlak) adalah satu kode moral yang mutlak dan berlaku abadi untuk semua orang yang berlaku juga, di semua kalangan tanpa mengubah pandangan atau perbedaan apapun.Etika relatif menyatakan bahwa standar moral bervariasi dengan keadaan dan situasi yang berbeda, sehingga benar tidaknya suatu kebiasaan atau tindakan ditentukan oleh suatu tempat atau daerah. 12Untuk memahami lebih luas dan lebih jernih lagi kita dapat melihat perbedaan antara makna dan pemahaman antara etika dan etiket, kerap kali kedua istilah ini dianggap sma tetapi sebenarnya memiliki perbedaan yang sangat hakiki, dimana etika yang dimaksud disini adalah moral, sedangkan etiket berarti sopan santun. Jika kita melihat asal usulnya, sebenarnya tidak ada hubungan antara dua istilah ini. Etiket bersifat relatif, yang dianggap sopan dalam satu kebudayaan bisa saja dianggap tidak sopan dalam kebudayaan lain. Contoh yang jelas adalah makan dengan tangan atau bersendawa waktu makan. Lain hal nya dengan etika. Etika jauh lebih absolut misalnya jangan mencuri, jangan berbohong, jangan membunuh merupakan prinsip-prinsip etika yang tidak bisa ditawar-tawar atau mudah diberi dispensasi. Memang benar ada kesulitan cukup besar mengenai keabsolutan. Misalnya di Indonesia sangat pantas untuk masuk ke dalam sebuah rumah dengan membuka alas kaki atau sepatu tetapi berbeda halnya dengan orang Eropa karena lantai dianggap sesuatu yang kotor dan sering memakai alas kaki jika masuk kedalam rumah. Standar absolut dan relatif tidak mengatakan benar atau salah, standart absolut lebih menekankan kepada kebiasaan tertentu yang sudah dianut untuk waktu yang lama sehingga dianggap suatu kebenaran, sementara standar etika relatif adalah suatu standar yang terbuka terhadap perbedaan persepsi atau pandangan. Perbedaan yang terdapat antara etika absolut dan relatif hampir mirip dengan dengan etika objektif dan subjektif. Etika subjektif adalah bentuk etika relatif yang menyatakan bahwa keadaan yang menyebabkan variabilitas (variasi) atau kecenderungan berubah-ubah dalam penilaian 11 William Lillie, An Introduction to Ethnic, 102-112. 12 K. Bertens, ETIKA, PT. Gramedia Pustaka Utama, ( Jakarta:2007) 8-9. moral selalu merupakan keadaan mental orang tertentu, contoh paling umum dari etika subjektif adalah ketika saya menyatakan tindakan orang lain itu benar karena saya juga setuju dengan tindakannya. Ada juga bentuk-bentuk etika relatif yang tidak subjektif, misalnya teori yang menyatakan benar atau salah tindakan poligami tergantung pada kondisi ekonomi akan menjadi objektif namun tidak relative tetapi tentu saja semua standar mutlak dalam etika tentu saja harus objektif. Perbedaan lain juga dapat kita lihat dari teori etika naturalistic dan non naturalistic dan non naturalistic. Naturalistic secara umum menganalisis konsep-konsep etika dalam psikologi. Sebuah teori naturalistik mungkin subjektif jika analisisnya sedemikian rupa sehingga sifat benar atau baik akan berbeda dengan sikap beberapa orang. Sebuah teoriteori naturalistic bagaimana objektif ketika standart tidak berubah dengan sikap setiap orang. Tindakan yang benar adalah tindakan yang menyebabkan lebih banyak kesenangan daripada tindakan yang lain yang mungkin dilakukan.13 Pandangan bahwa moralitas berada secara alamiah dianggap tergolong pandangan naturalistic dalam pengertian standart ini akan bergantung kepada rinciannya. Misalnya sebagian versi dari pandangan bahwa tindakan yang benar adalah yang mengikuti tabiat semesta mengartikan tabiat semesta secara teologis, sehingga tidak akan tergolong. Selain itu ada sejumlah teori etika yang membahas pernyataan tentang apakah kebaikan dan kewajiban moral cocok dengan pandangan dunia naturalistik, dan melihatnya dari perspektif naturalistic III. Kesimpulan Etika merupakan nilai yang sejatinya telah melekat pada diri individu dan sangat dibutuhkan dalam bersosialisasi. Hal itu karena etika akan menjadi jembatan agar terciptanya suatu kondisi yang diinginkan di dalam kehidupan bermasyarakat. Maka dari itu, tanamkan dalam diri etika yang baik agar hubungan antarsesama berlangsung baik pula. 13 David Coop, Handbook Teori Etika Oxford, Nusa Media, ( Bandung: April 2017) 112. Daftar Pustaka Alfan Muhammad, Filsafat Etika Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2011) Bertenz K, Etika, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2007) Coop David, Handbook Teori Etika Oxford, Nusa Media, ( Bandung: April 2017) Nata Abuddin, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia,( Jakarta: Raja Grafindo, 2012) Salam Burhannuddin,Etika social,(Jakarta:PT Rineka Cipta,2002) Sudarminta J,Etika Umum: Kajian tentang Beberapa Masalah Pokok dan Teori Etika Normatif,( Kanisius, Yogyakarta.) William Lillie,An Introduction to Ethnics,(Frome and London,1957
Comments
Post a Comment