MAKALAH TAFSIRAN KITAB YEREMIA 7:1-7 DENGAN MENGGUNAKAN METODE FEMINISME
MAKALAH
TAFSIRAN KITAB YEREMIA 7:1-7 DENGAN MENGGUNAKAN METODE FEMINISME
Disusun untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah: Hermeneutik PL II
I.
Pendahuluan
Agama
Kristen adalah agama yang menginjili dan mengajarkan segala sesuatu dengan
berlandaskan Alkitab. Alkitab merupakan Kitab suci yang di dalamnya terdapat
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Masing-masing kitab memiliki tokoh, zaman
dan tradisi yang berbeda-beda namun dalam satu kesatuan. Alkitab Kristen tidak
terlalu banyak membahas ke feminisme dan sering disebut ke Maskulinitas karena
banyaknya tokoh laki-laki dalam Alkitab.
Berkhotbah
adalah metode yang paling umum digunakan oleh orang-orang Kristen dalam mengantarkan
dan menyampaikan firman Allah kepada orang-orang yang percaya (Jemaat) dengan
cara mengutip ayat yang tertulis dari dalam Alkitab baik dari PL dan PB sebagai
dasar khotbah untuk disampaikan dengan cara memahami isinya, memaknainya, lalu
menyampaikannya kepada orang-orang percaya (Jemaat) di Gereja. Cara tersebut
disebut dengan “Menafsir Alkitab”.
Kitab
Yeremia merupakan kitab yang termasuk ke dalam kitab Nabi-nabi besar setelah
Kitab Yesaya dalam Alkitab. Kitab ini menuliskan pelayanan Nabi Yeremia sebagai
seorang Nabi yang dipanggil Allah. Peristiwa pada masa Kenabian Yeremia ini
adalah catatan yang sangat penting dalam sejarah Yehuda. Kitab Yeremia banyak
memuat riwayat hidup Nabi Yeremia, nubuat dan khotbah-khotbahnya.
Maka
dalam tulisan ini, penulis mengangkat tulisan ini untuk melakukan penafsiran
pada kitab Yeremia 7:1-7 dengan menggunakan metode Tafsiran Feminisme. Semoga
dengan selesainya tulisan ini dapat menambah pengetahuan dan memperluas wawasan
para pembaca mengenai kitab Yeremia dan Metode Tafsir Feminisme.
II.
Pembahasan
2.1. Metode
Feminisme
2.1.1. Pengertian
Metode Feminisme
Secara
etimologis, feminis atau feminisme berasal dari bahasa Prancis untuk
wanita, yaitu femme dan isme yang merujuk pada gerakan sosial atau
ideologi politik. Dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi feminine artinya
memiliki sifat-sifat keperempuanan.
Menurut
KBBI, feminisme merupakan gerakan perempuan yang menuntut persamaan hak
sepenuhnya antara kaum perempuan dan laki-laki.[1] Istilah ini merujuk pada
paham keperempuanan yang ingin mengusung isu-isu gender berkaitan dengan nasib
perempuan yang belum mendapatkan perlakuan secara adil di berbagai bidang
kehidupan, baik bidang domestik, politik, sosial, pendidikan maupun ekonomi.[2] Pada dasarnya, pengertian feminisme
adalah sebuah kesadaran tentang adanya ketidakadilan yang sistematis bagi
perempuan di seluruh dunia.
Pada
tahun 1933, kamus Oxford memasukkan kata feminisme yang diberi arti
suatu pandangan dan prinsip-prinsip untuk memperluas pengakuan hak-hak
perempuan.[3] Menurut Paul Procter,
dalam Cambridge Internasional Dicitonary of English sebagaimana dikutip Aya
Susati didefinisikan bahwa feminisme adalah kepercayaan bahwa
perempuan-perempuan harus diizinkan untuk memiliki hak-hak yang sama, kuasa,
dan kesempatan-kesempatan sebagai manusia dan diperlakukan dengan cara yang
sama atau himpunan dari aktivitas yang diharapkan untuk mencapai status itu.[4]
2.1.2. Latar
Belakang Metode Feminisme
Kata
ini pertama kali diciptakan di Prancis pada tahun 1880-an sebagai feminisme,
setelah itu terjadi penyebaran ke negara-negara Eropa pada tahun 1890-an dan ke
Amerika Utara dan Selatan pada tahun 1910. Namun feminisme sosialis telah ada
di Eropa dan didefinisikan sendiri sejak awal 1900.[5]
Sejak
abad ke-2 teologi Kristen secara khusus diajarkan oleh teolog laki-laki saja
dan mencerminkan kepentingan teologi laki-laki itu sendiri sehingga perempuan
tidak terlalu dipandang.[6] Pada abad 19, beberapa
teolog wanita dan mahasiswi seminari di Amerika mengembangkan satu jurusan
teologi baru yang mereka sebut dengan Teologi Feminisme. Teologi feminisme
timbul karena kehidupan tradisional kekristenan pada Alkitab terlalu memihak
kepada kaum maskulin sehingga kebenaran dari pernyataan tersebut digali untuk
disesuaikan dengan kebutuhan dan harapan perempuan yang setara dengan pria
yaitu segambar dengan Allah (Kej 1:27).
Feminisme
alkitabiah lahir dari aktivisme sosial dan keterbukaan terhadap metode teologis
modern dari kaum injili.[7] Feminisme lahir dari
perdebatan makna gender yang berhubungan dengan jenis kelamin. Pada saat itu,
kaum perempuan dianggap sebagai warga Negara kelas dua yang tidak diberikan hak
kebebasan hidup.
Menurut
Mansour Fakih, feminisme adalah suatu gerakan yang meluruskan
pemikiran-pemikiran masyarakat yang memperlakukan para kaum perempuan dengan
tidak adil.[8]
Gerakan feminisme meletakkan penekanan pada tiga isu utama yaitu: penindasan,
patriaki dan perjuangan kesetaraan hak. Pada awal tahun 1970-an, sejumlah
evangelis muda menerapkan metode hermeneutis terhadap isu peran perempuan.[9]
2.1.3. Tokoh-tokoh
1.
Rosemary RadFord Reuther
Ruether
adalah seorang sarjana Feminis yang berpengaruh dan juga seorang teolog. Dia
dianggap sebagai pelopor
dibidang teologi Feminis,
yang karya-karyanya membantu merangsang reevaluasi
utama pemikiran Kristen
dalam terang isu-isu
perempuan. Rosemary Radford
Ruether telah menjadi
perintis teolog feminis
Kristen selama lebih
dari tiga dekade, dan di antara para teolog feminis
yang paling banyak dibaca di Amerika Utara. Bukunya, Sexism and God-Talk,
klasik di bidang
teologi feminis, tetap
satu-satunya pengobatan feminis sistematis simbol Kristen sampai saat
ini. Inti pemikiran Ruether
mengenai Feminisme adalah
ia mempertanyakan Alkitab
yang ditafsir dalam budaya
patriakat. Sehingga menurutnya Alkitab harus
terus menerus dievaluasi ulang khususnya
mengenai kebebasan dan
keselamatan manusia dalam
konteks yang baru.
2.
Letty M. Russell
Pandangan Russel
dalam Feminisme, ia
melihat Alkitab adalah
firman yang memerdekakan (liberating
word). Hal ini
jelas terlihat sejak
peristiwa eksodus yang
dicatat dalam Alkitab sampai zaman para nabi dan kemudian jauh hingga
zaman Tuhan Yesus. Peristiwa eksodus yang dicatat dalam kitab jelas
memperlihatkan karya pembebasan Allah bagi Israel dari penindasan Mesir. Nubuat
yang disampaikan para nabi pun berbicara tentang pembebasan dari penindasan,
seperti yang dicatat dalam Yesaya 61:1-2. Teks ini pulalah yang dikutip oleh
Tuhan Yesus dalam Lukas 4:18 yang
dilanjutkan dengan pernyataan
Tuhan Yesus pada ayat 21, "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu
kamu mendengarnya."
3.
Elisabeth Schussler Fiorenza
Fiorenza berpendapat
bahwa Alkitab tidak
boleh diterima mentah-mentah
karena banyak unsur manusia
(pria) di dalamnya.
Ia mengatakan bahwa
apabila ingin mengubah kedudukan perempuan, ia harus
belajar teologi. Peran perempuan tidak bisa
jauh dari teologi karena di
sanalah ia dibentuk dan dikonstruksi. Teologi menghadirkan perempuan sebagai
mitra Allah bersama dengan laki-laki, namun peran itu semakin terkikis dengan
adanya proses budaya kaum
laki-laki, khususnya di
mana Kitab Suci
ada dan dipelajari.
Maka tidak mengherankan bahwa Fiorenza
mengatakan bahwa kedudukan
perempuan ditentukan oleh
teologi. Seorang perempuan yang
ingin mengubah paradigmanya
tentang perempuan maka
ia harus belajar teologi. Dengan belajar
teologi, ia akan
semakin mengenal dan
membebaskan dirinya melalui suatu
paradigma baru. Ia
mengkonstruksi kembali pandangan-pandangan yang
selama ini dipahami secara
keliru, baik oleh
dirinya sendiri maupun
kaum perempuan lainnya. Dengan demikian, Schussler
Fiorenza menegaskan teologi feminis
kritis tidak hanya
teologi resistensi dan
harapan tetapi juga fokus dan
tugas mereka tak terelakkan kontekstual
dan fundamental politik.
2.1.4. Tujuan
Metode Feminisme
Metode
ini adalah prinsip penafsiran teks Alkitab yang dibuat untuk mempromosikan dan
melegalkan kaum kedua yaitu wanita yang mengalami penindasan dalam kehidupan
sosial tatanan masyarakat yang dikuasai oleh sistem Patriakhal. Tujuan metode ini
adalah untuk membuka pemisah legalitas fungsi sosial yang menindas dan menekan
hak-hak wanita yang dipinggirkan.[10] Cara ini memperbaiki
ketidaksetaraan, ketidakadilan, dan diskriminasi yang dihadapi perempuan karena
jenis kelamin mereka.
2.1.5. Langkah-langkah
tafsir Feminis
1.
Hermeneutik Kecurigaan
Model
tafsir feminisme mendekati teks dan interpretasi kitab suci yang berkembang
dengan sikap curiga. Usaha dilakukan karena untuk menghindari penyalahgunaan
tafsiran kitab suci yang cenderung memperkuat sistem Patriakhal. Tahap ini
berusaha untuk membongkar Androsentrik dan menemukan inspirasi pembebasan yang
tersembunyi dalam teks kitab.
2.
Hermeneutik Penggenangan
Bentuk
ini menggali tradisi dan naskah pada teks tradisi pada teks yang Androsentrik
untuk menemukan peristiwa-peristiwa yang dialami oleh para perempuan baik itu
berupa penderitaan dan perjuangan di masa lampau. Jadi bentuk ini berusaha
menghidupkan kembali penggenapan subversive atau pengenangan akan penderitaan
dan perjuangan perempuan di masa lampu pada masa Patriakhal.
3.
Hermeneutika Proklamasi
Bentuk
ini adalah untuk menemukan nilai dan visi-visi yang menyebar dalam aturan untuk menolong
perempuan keluar dari berbagai tekanan dan alienasi. Dalam melakukan evaluasi
tingkat Androsentris tertulis dalam struktur teks, diperlukan penilaian bidang
sosio-politik yang memutuskan cara teks dibaca dan dipahami di masa sekarang.
4.
Hermeneutik Imajinasi kreatif
Bentuk
ini ditujukan untuk menemukan arti atau makna pembebasan yang tidak didirikan
pada dualisme androsentris dan fungsi patriakhal dari teks sehingga membuat
suatu ruang bagi kaum feminis dalam memasuki teks Alkitab dengan menolong
imajinasi kreatif.[11]
5.
Hermeneutik Pemakluman
Bentuk
ini bertujuan untuk mengungkapkan inspirasi dan relevansi kitab suci sebagai
emansipasi feminisme di konteks sekarang dengan menggali peranan dan pesan teks
bagi kebudayaan modern yang masih dipengaruhi Adrosentrik. Pemakluman berusaha
untuk menyaring kutipan dan amanat yang diajarkan dimasa sekarang dengan tujuan
untuk menandakan bahwa kisah ataupun kutipan yang memuat ajaran yang menyatakan
keberpihakan bukanlah keberpihakan Allah.
6.
Hermeneutik Perwujudan Kreatif
Model
ini bertujuan untuk menemukan peluang peran serta perempuan dalam membangun
kehidupan yang lebih baik dalam lingkungan umat Kristen maupun di lingkungan
masyarakat.[12]
Menyadari
adanya teks-teks Alkitab yang Patriarkal, feminis Kristen mendekati teks
setidak-tidaknya dengan tiga penekanan, yakni:[13]
1. Mencari
teks tentang perempuan untuk menentang teks-teks terkenal yang digunakan untuk
“menindas” perempuan.
2. Menyelidiki
Alkitab secara umum. Bukan hanya teks tentang perempuan untuk membentuk
perspektif teologis yang dapat mengkritik patriarki. Beberapa orang menyebut
perspektif ini sebagai “perspektif pembebasan”.
3. Menyelidiki
teks tentang perempuan untuk belajar dari perjumpaan sejarah dan kisah-kisah
perempuan kuno dan modern yang hidup di dalam kebudayaan patriarkal.
2.1.6. Kelebihan
Adapun
kelebihan dalam penggunaan metode feminisme adalah kemampuannya untuk menarik
perhatian kita kepada perbedaan kesaksian kitab-kitab dalam Alkitab sehubungan
dengan perempuan untuk memulihkan tradisi yang telah dilupakan.
2.1.7. Kekurangan
Adapun
kekurangan dalam penggunaan metode feminisme adalah:
-
Asumsi bahwa ada kebenaran yang abadi di
dalam kitab suci. Padahal semua penulis dan teks gagal memenuhi kebenaran
tersebut, justru asumsi inilah yang mendorong banyak orang memilih pilihan
kedua mereka ingin mengupas bagian-bagian kitab suci yang telah mengalami
kondisi dan kultural untuk menemukan kebenaran abadi itu.
-
Dari dalam gerakan feminisme itu sendiri
adalah tidak semua kaum perempuan merasa ditindas dan tidak ingin terlepas dari
penindasan tersebut, dan juga para laki-laki cenderung menganggap bahwa yang
layak menduduki jabatan masyarakat adalah laki-laki.[14]
2.2. Kitab
Yeremia
2.2.1. Pengertian
Kitab Yeremia
Dalam
Perjanjian Lama Ibrani terdapat tiga bagian kitab, yaitu Taurat, Nabi-nabi dan
Kitab-kitab. Kitab Yeremia adalah kitab yang tergolong dalam kitab nabi-nabi. Kitab
Yeremia ini disebut menurut nama nabi yang dituliskan di dalamnya sekaligus
tokoh utamanya yaitu nabi Yeremia dalam bahasa Ibrani יִרְמְיָהּ
(Yirmeyahu).[15]
Yeremia dipanggil oleh Allah untuk mengabarkan hukuman yang akan datang dari
Allah atas bangsa-Nya dan yang dilaksanakan dengan jatuhnya Yehuda dan
Yerusalem dengan pembuangan ke Babylon.[16] Dalam kitab Perjanjian
Lama kitab ini dimasukkan dalam golongan kitab Nabi-nabi besar. Bentuk
penyampaian nubuat-nubuat yang disampaikan oleh nabi dalam kitab Yeremia kepada
bangsa Yehuda yang melakukan berbagai macam dosa. Kitab ini memiliki puisi dan prosa
dan gaya bahasa di dalamnya untuk memperlihatkan keterampilan dan kekuatan
karyanya dalam menyampaikan pesan perkataan-perkataan Allah melalui mulutnya.
Yeremia merupakan nabi yang tak ada taranya dalam pemahamannya tentang nubuat
dan dalam kemampuannya mengungkapkan nubuat itu. Ia juga menunjukkan bagaimana
seharusnya nabi itu harus hidup. Kitabnya menceritakan kehidupan dan
pemberitaannya dan merupakan teladan dari nubuat yang benar.[17]
2.2.2. Latar
Belakang
Yeremia
lahir di desa Anatot di sebelah utara Yerusalem (Yer 1:1; 11:21,23: 29:27;
32:7-9), anak dari seorang imam namanya Hilkia. Keadaan rumah tangga Yeremia
tidak diketahui, namun pernyataan Ellison disebutkan dalam buku LaSor perlu
diperhatikan bahwa Yeremia sangat mengenal nubuat-nubuat para pendahulunya,
terutama Hosea.[18]
Dengan demikian bahwa keluarganya mungkin termasuk keluarga-keluarga yang
mempertahankan terang nubuat dalam masa kegelapan.
Yosia
dan Yeremia diperkirakan seumuran. Yeremia menyebut dirinya seorang pemuda pada
saat firman Allah datang untuk yang pertama kali kepadanya pada tahun ketiga belas
pemerintahan Yosia yang diperkirakan pada tahun 627 sM (Yer 1:2). Jadi, mungkin
ia lahir segera setelah tahun 650 sM.
Yeremia
dipanggil oleh Allah dan menjadi utusan untuk mengabarkan hukuman yang akan
datang dari Allah atas bangsa-Nya. Bangsa-Nya tidak mendengarkan Allah dan
tidak melakukan perintah-Nya, mereka menyembah berhala (2:5-3:5), melakukan
ketidakadilan (5:20-31) dan menyalahgunakan ibadah (7:8-31). Panggilannya untuk
menjadi seorang nabi terjadi lama sebelum pembaruan Yosia yang diilhami oleh
penemuan kitab Taurat (2 Raj 28:8). Pelayanan Yeremia berlangsung sesudah tahun
586 sM (lebih empat puluh tahun) ketika Yerusalem jatuh ke tangan Nebukadnezar dan
mencakup pemerintahan dari para pengganti Yosia, yaitu empat raja terakhir dari
Yehuda.[19] Nubuat yang Yeremia
sampaikan benar-benar terjadi. Kerajaan Yehuda diserang dan dikalahkan oleh
kerajaan Babilonia.[20]
Penulis
menggali latar belakang kitab Yeremia melalui beberapa buku dan sumber lainnya
untuk memperluas dan memperjelas latar belakang dan hasilnya memang satu
kesatuan seperti yang telah tertulis dalam tulisan ini.
2.2.3. Penulis
dan Waktu Penulisan
Penulis
kitab Yeremia adalah Nabi Yeremia.[21] Termasuk kitab Ratapan
juga ditulis oleh Yeremia.[22] Ini dibuktikan dari
kehidupan Yeremia dan pencantuman namanya sebagai penulis kitab ini.
Sekalipun pernyataan tersebut masih
diragukan karena perbedaan bahasa dan penulisannya. Namun pernyataan Paterson
dalam buku Hotman Parulian menjelaskan perbedaan bahasa dan penulisan tersebut
dengan menyatakan bahwa perbedaan gaya bahasa tersebut disebabkan oleh keadaan
di sekitarnya dan tujuan yang berbeda.[23] Bukti lain juga terdapat
dalam Pasal 36:1-3, Allah memerintahkan secara khusus agar Yeremia menuliskan
perkataan-perkataan yang bersifat teguran, perintah, janji dan nubuat Allah.
Sebenarnya, tulisan pertama yang disebut dengan gulungan kitab yang berisi
nubuat-nubuat sejak tahun 627-604 sM yang dibakar oleh Yoyakim.[24] Penulisan kedua terjadi
sekitar tahun 605 sM pada tahun keempat pemerintahan Yoyakim, setelah Yeremia
melayani selama 20 tahun. Yeremia menunjuk Barukh menjadi sekretarisnya untuk
menulis segala perkataan Yeremia (36:4). Inilah yang memperkuat alasan bahwa
nabi Yeremia adalah penulis kitab Yeremia.
Penafsir
yakin bahwa kitab Yeremia ditulis oleh nabi Yeremia atas perintah Allah karena tulisan
adalah salah satu metode Yeremia dalam menyampaikan nubuat-nubuat dari Allah
sejak tahun 627 sM. Banyak sumber yang mendukung (termasuk kitab itu sendiri
dalam pasal 36:1-3) dan menyatakan bahwa nabi Yeremialah penulisnya tetapi tidak
secara langsung.
2.2.4. Tujuan
Kitab Yeremia
Penulisan
kitab Yeremia dimaksudkan untuk menyampaikan firman Allah yaitu berita
penghukuman atas ketidaktaatan bangsa Yehuda yang telah diterima oleh Yeremia
kepada umat Yehuda agar mereka bertobat dan meninggalkan perbuatan-perbuatan
mereka yang melawan dan menentang Allah dan kembali kepada Allah. Meskipun
banyak tantangan bahkan ancaman yang dialami oleh Yeremia dalam memberitakan
keselamatan bangsa Yehuda, Yeremia tetap melakukan perintah Allah dan merelakan
dirinya untuk firman Allah.
2.2.5. Struktur
Kitab[25]
1.
Pasal 1: Panggilan Yeremia.
2.
Pasal 2-25: Nubuat tentang Masa depan
Bangsa Israel dan Yehuda.
a. Pasal
2-10: Allah mencela kejahatan Bangsa Yehuda.
b. Pasal
11: Penganiayaan terhadap Yeremia di Anatot.
c. Pasal
12: Keluhan Yeremia dan Jawaban Allah.
d. Pasal
13-20: Yeremia memberitakan kejahatan dan dosa bangsa Yehuda.
e. Pasal
21-24: Kehidupan dan kematian
f.
Pasal 25: Pemberitaan tentang pembuangan
Yehuda ke Babilonia.
3.
Pasal 26-45: Penjelasan tentang Pelayanan
Yeremia.
a. Pasal
26-29: Kehancuran Bait Suci dan Hanaya menganiaya Yeremia.
b. Pasal
30-34: Janji Allah tentang pemulihan bangsa Israel dan pembaharuan janji-Nya
dengan umat Israel.
c. Pasal
35: Kesetiaan orang-orang Rekhab.
d. Pasal
36: Raja Yoyakim membakar kitab Nubuat Yeremia.
e. Pasal
37-39: Yeremia dimasukkan ke dalam sumur.
f.
Pasal 40-45: Yeremia terpaksa ikut
mengungsi ke Mesir.
4.
Pasal 46-51: Nubuat tentang masa depan
bangsa-bangsa lain.
a. Pasal
46: Mengenai Mesir.
b. Pasal
47: Mengenai Filistin.
c. Pasal
48: Mengenai Moab.
d. Pasal
49:1-6: Mengenai Bani Amon.
e. Pasal
49:7-22: Mengenai Edom.
f.
Pasal 49:23-27: Mengenai Damsyik.
g. Pasal
49:28-33: mengenai suku bangsa Arab.
h. Pasal
49:34-39: Mengenai Elam.
i.
Pasal 50: Mengenai Babilonia.
j.
Pasal 51: Hukuman Tuhan atas Babilonia.
5.
Pasal 52: Pemberitaan kehancuran Kota Suci
di Yerusalem
Penafsir
memilih untuk menuliskan struktur kitab yang dituliskan oleh LaSor setelah
membandingkannya dengan struktur kitab Yeremia di buku Blommendaal karena
struktur dalam buku LaSor lebih ringkas sehingga lebih mudah dipahami isinya
dari pada buku tulisan Blommendaal.
2.2.6. Tema-tema
Teologi[26]
-
Allah berkuasa dalam Sejarah
-
Allah berkarya dalam Hukuman
-
Taurat Lama dan Taurat Baru
-
Iman yang Kuat
-
Allah pemelihara orang-orang kecil
2.2.7. Situasi
Sosial
Kehidupan sosial Yehuda mengalami
kemerosotan. Penindasan terhadap kaum lemah oleh para elit bangsa semakin
menjadi-jadi dan mencapai puncaknya. Penindasan terhadap orang asing, janda dan
yatim piatu, penumpahan darah, penyembahan berhala, pencurian, perzinahan dan
bahkan pengurbanan anak-anak adalah dosa-dosa yang dilarang namun dilakukan
secara terang-terangan (Yer.7:5-10; 30-31). Penindasan ini diserta dengan
kemewahan yang sama sekali tidak cocok untuk seorang raja Yehuda. Raja
membangun istana berdasarkan ketidakadilan dan anjungnya berdasarkan kelaliman.
Itulah sebabnya Yeremia terus-menerus mengecam berbagai kejahatan sosial bangsa
itu. Yeremia mengumpamakan Yehuda sebagai pohon anggur liar (Yer.2:21).
Kemakmuran hanya dinikmati para orang kaya dan penguasa. Kemakmuran itu pula
yang telah mengubah pola hidup mereka, dari kesederhanaan dan solidaritas yang
tinggi di antara umat telah berubah menjadi masyarakat yang materialistis dan individualistis.
Terjadi perpecahan strata sosial. Orang-orang kaya semakin kaya dan kuat, yang
miskin dan lemah semakin miskin dan lemah.
2.3. Analisa
Teks
2.3.1. Perbandingan
Bahasa
Dalam
melakukan perbandingan bahasa, penafsir menggunakan empat macam bahasa teks
untuk diperbandingkan, yaitu LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) Edisi Tahun 2022, Bibel
Dohot Ende (BDE), New International Version (NIV), dan Teks Masora (TM).
|
Ayat
1 LAI BDE NIV TM Keputusan |
:
Firman :
Hata (kata) :
The word (kata) :
הַדָּבָר (kata) :
Yang mendekati TM adalah BDE dan NIV |
|
Ayat
2 LAI BDE NIV TM Keputusan |
:
Serukanlah :
Dok ma (katakanlah) :
Proclaim (menyatakan) :
וְקָרָאתָ (menyatakan) :
Yang mendekati TM adalah NIV |
|
Ayat
3 LAI BDE NIV TM Keputusan |
:
Diam :
Hupaian (Kutempatkan) :
Live (tinggal) :
וַאֲשַׁכְּנָה (tinggal) :
Yang mendekati TM adalah NIV |
|
Ayat
4 LAI BDE NIV TM
Keputusan |
:
Dusta :
Sipaotooto (penipu) :
Deceptive (penipu) :
הַשֶּׁקֶר (pembohong) :
Tidak ada yang mendekati TM |
|
Ayat
5 LAI BDE NIV TM Keputusan |
:
Keadilan :
Uhum hatigoran (hukum yang lurus) :
Justly (adil) :
מִשְׁפָּט (adil) :
Yang mendekati TM adalah NIV |
|
Ayat
6 LAI BDE NIV TM Keputusan |
:
Menindas :
Dirupa (wajah) :
Oppress (menindas) :
תַֽעֲשֹׁקוּ (menindas) :
Yang mendekati TM adalah LAI dan NIV |
|
Ayat
7 LAI BDE NIV TM Keputusan |
:
Tempat :
Inganan (tempat) :
Place (tempat) :
בַּמָּקוֹם (tempat) :
Semua teks mendekati TM |
2.3.2. Kritik
Aparatus
Ayat
3
Dalam teks Masorah terdapat tulisan Ibrani
וְאֶשְׁכְּנָה אַתְּכֶם yang artinya “dan aku akan tinggal bersamamu”.
Keputusan:
Penafsir menerima kritik aparatus karena memperjelas dalam memahami teks.
Ayat
4
Dalam teks Masorah terdapat Septuaginta tulisan
Yunani ὅτι τὸ παράπαν οὐκ ὠφελήσουσιν ὑμᾶς yang artinya “karena parapan
tidak akan menguntungkan Anda”. Terdapat juga kata אַתֶּם yang artinya “kamu”,
peneliti modern mengusulkan הַמָּקוֹם הַזֶּה yang artinya “tempat ini”.
Keputusan:
Penafsir menolak kritik aparatus karena mempersulit dalam memahami teks.
Ayat
6
Dalam teks Masorah tulisan tangan bahasa
Ibrani terdapat kata אַל yang artinya “ke”.
Keputusan:
Penafsir menolak Kritik aparatus karena mempersulit dalam memahami teks.
Ayat
7
Dalam teks Masorah terdapat kodeks tulisan
tangan bahasa Ibrani וְשָׁכַי yang artinya “dan tutup mulut” dan kata אתּכם yang
artinya kamu.
Keputusan:
Penafsir menolak kritik aparatus karena mempersulit dalam memahami teks.
2.3.3. Terjemahan
Akhir
Ayat
1
Firman
yang datang kepada Yeremia dari pada TUHAN, bunyinya:
Ayat
2
"Berdirilah
di pintu gerbang rumah TUHAN, serukanlah di sana firman ini dan katakanlah:
Dengarlah firman TUHAN, hai sekalian orang Yehuda yang masuk melalui semua
pintu gerbang ini untuk sujud menyembah kepada TUHAN!
Ayat
3
Beginilah
firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Perbaikilah tingkah langkahmu dan
perbuatanmu, dan Aku akan tinggal bersamamu di tempat ini.
Ayat
4
Janganlah
percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi: Ini bait TUHAN, bait TUHAN, bait
TUHAN,
Ayat
5
melainkan
jika kamu sungguh-sungguh memperbaiki tingkah langkahmu dan perbuatanmu, jika
kamu sungguh-sungguh melaksanakan keadilan di antara kamu masing-masing,
Ayat
6
tidak
menindas orang asing, yatim dan janda, tidak menumpahkan darah orang yang tak
bersalah di tempat ini dan tidak mengikuti allah lain, yang menjadi
kemalanganmu sendiri,
Ayat
7
maka
Aku mau diam bersama-sama kamu di tempat ini, di tanah yang telah Kuberikan
kepada nenek moyangmu, dari dahulu kala sampai selama-lamanya.
III.
Tafsiran
Penafsir melakukan penafsiran dengan lebih
dahulu menentukan pihak-pihak dalam teks yaitu sebagai pihak penindas adalah
Laki-laki (Maskulinisme), dan sebagai pihak tertindas adalah Perempuan
(Feminisme) dan pembebas adalah TUHAN.
Ayat
1-2
Yeremia adalah salah satu nabi yang dipanggil
oleh Tuhan untuk mewartakan perkataan Tuhan kepada bangsa-Nya dalam upaya
penyelamatan dan pertobatan. Namun apakah Yeremia dipanggil karena ia bukan
seorang Perempuan? Laki-laki adalah manusia yang paling sering dari perempuan dipakai
Tuhan dalam pekerjaannya dan yang sering muncul pada kitab suci. Namun hal
tersebut bukan berarti Tuhan tidak pernah memakai atau melibatkan Perempuan
dalam pekerjaan-Nya. Tindakan dan sikap Tuhan terhadap panggilan Yeremia
sebagai Laki-laki ini adalah salah satu alat bagi para laki-laki untuk
menunjukkan keutamaan dan kespesialan mereka di pandangan Tuhan tetapi
kebenarannya tidaklah demikian. Hal tersebut menjadi suatu alasan yang
mendukung pernyataan yang menyatakan bahwa perempuan berada di bawah level
laki-laki atau lebih rendah dari laki-laki menurut pandangan para laki-laki
bukan pandangan Tuhan. Lalu bagaimana pandangan Tuhan mengenai perempuan? Untuk
mengetahui siapa Perempuan dan Laki-laki itu, perlu digali kembali bagaimana
awal dari manusia itu ada yaitu pada kitab Kejadian 1:27 “Maka Allah
menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya
dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka”. Dengan begitu jelasnya
awal mula manusia yaitu Laki-laki dan Perempuan di dalam teks disebut “mereka”
itu diciptakan oleh Allah dengan tidak memiliki sesuatu bentuk dan sumber yang
berbeda yaitu gambar Allah dan diciptakan oleh Allah. Teks tersebut menunjukkan
bahwa derajat antara Laki-laki dan Perempuan adalah sama bagi Allah sendiri.
Dengan penjelasan tersebut, diperlihatkan bahwa Yeremia dipilih bukan karena
dia tidak perempuan tetapi Yeremia dipanggil oleh Allah karena Allah yang
memanggilnya dan Allah mengkehendakinya.
Panggilan Yeremia sebagai nabi oleh Allah
di tengah bangsa Yehuda bukanlah karena ketidaklayakan perempuan untuk menjadi
alat Tuhan dalam menyampaikan perkataan-Nya atau bukan karena tidak ada
perempuan yang dapat melakukan perintah Tuhan, melainkan menunjukkan keadilan
yang sebenarnya dan memang hak Allah untuk memilih pilihannya. Pertama harus
diingat dulu bahwa Yeremia sebagai nabi tidak dapat lahir dan menjadi nabi
tanpa pengorbanan dan peran seorang ibu yaitu sebagai perempuan untuk
melahirkan Yeremia. Terlihat jelas bahwa peran perempuan melancarkan rencana
Allah sangat besar yaitu sebagai ibu untuk melahirkan nabi pilihan Allah
(Yer.1:5). Perempuan adalah ciptaan Allah meletakkan kuasanya untuk seorang
nabi sekaligus alat Tuhan dalam rencana-Nya dalam menyelamatkan bangsa-bangsa-Nya.
Hal yang paling menonjol dan paling bersejarah sekali bahkan hal yang paling
besar dalam upaya penyelamatan semua manusia ialah lahirnya juru selamat yaitu
sang Kristus yang dinamai Imanuel yang lahir dari seorang perempuan muda (Yes.7:14)
yaitu Maria seorang perawan yang dikaruniai dan disertai oleh Tuhan (Luk.1:28)
dan dinyatakan langsung oleh malaikat Gabriel bahwa Maria akan melahirkan
seorang anak laki-laki yang akan dinamai Yesus (Luk.1:31). Terlihatlah
bagaimana Allah memakai perempuan sebagai ciptaan Allah dalam karya-Nya. Dengan
hal ini tidak dapat lagi dikatakan bahwa Laki-laki adalah manusia yang paling
tinggi derajatnya dibanding perempuan, tetapi Perempuan dan Laki-laki pada
hakikatnya adalah sama.
Yeremia tidak dipanggil Allah karena ia
adalah laki-laki dan karena laki-laki adalah keturunan dan diturunkan untuk
menjadi pemimpin. Perempuan bukanlah manusia yang diciptakan Allah untuk
sesuatu yang untuk kesenangan dan kenikmatan para Laki-laki atau bukanlah
suru-suruhan laki-laki untuk sesuatu hal. Melainkan seorang penolong yang
sepadan dengan laki-laki (Kej.2:18). Arti penolong dalam teks tersebut jika
dilihat dari KBBI Daring adalah orang yang menolong. Tugas seorang penolong
adalah untuk meringankan beban baik itu penderitaan, kesukaran; membantu supaya
dapat melakukan sesuatu; menyelamatkan; dan dapat meringankan penderitaan yang
ditolong. Terlihat sangat jelas bahwa pertolongan hanya dibutuhkan oleh
seseorang yang lemah, tidak berdaya, dan tidak mampu untuk berbuat. Allah
menyatakan bahwa Laki-laki itu tidak kuat, lemah, sehingga mereka membutuhkan
seorang penolong yang sepadan yaitu perempuan. Arti sepadan dalam teks tersebut
jika dilihat dari KBBI Daring adalah mempunyai nilai, ukuran, arti, efek yang
sama, sebanding, dan seimbang. Pernyataan Allah menyatakan bahwa Laki-laki dan
perempuan adalah satu kesatuan dan saling melengkapi bukan suatu pelengkap. Hal
ini tidak menunjukkan bahwa perempuan tidak bisa menjadi seorang pemimpin di
antara laki-laki atau suatu bangsa. Tetapi menyatakan sebaliknya, bahwa
perempuan mempunyai kemampuan yang sama dengan laki-laki untuk menjadi seorang
pemimpin. Alkitab tidak menyebutkan dan tidak menceritakan bahwa hanya
laki-lakilah yang menjadi rekan sekerja Tuhan dalam berkarya. Pemahaman
tersebut tentu keliru, sangat jelas bahwa ada nabiah (imam perempuan) yang ikut
serta dalam karya Allah yaitu nabiah Debora istri Lapidot yang menjadi seorang
hakim atas orang Israel (Hak 4:4), nabiah Hulda yang sama seperti nabi Yeremia
dalam menyampaikan perkataan Allah (2 Raj 22:14), nabiah Ester sebagai Ratu
untuk menolong dan memelihara umat Allah (Est 4:8-16).
Yesus Kristus tidak pernah menghina atau
merendahkan kaum wanita. Kaum perempuan tidak pernah dijadikan bahan tertawaan
ataupun kritikan bahkan tidak pernah dianggap rendah. Yesus di dalam
khotbah-Nya memakai dua orang tokoh perempuan sebagai analogi untuk menyindir
ketidaksetiaan orang Israel. Yesus mengajarkan keteladanan seorang perempuan
janda Sarfat yang murah hati untuk menegur kaum lelaki di kota Nazaret karena
kepelitannya (Luk.4:25-26). Kedua adalah ratu Sheba yang bijaksana berbeda jauh
dengan para ulama Yahudi dari golongan Farisi yang walaupun mempelajari Taurat
tetapi tidak memahami dan tidak mempercayai Hikmat Ilahi (Luk.11:31).
Ayat
3-7
Tindakan manusia atas ketidaktaatan dan
pengkhianatan dan dosa-dosa mereka kepada Tuhan membuat hati Tuhan hancur dan
terkhianati. Tuhan memperkenankan pertobatan dari mereka dan menginginkan
manusia kembali kepada-Nya dengan cara berbalik dari jalan yang sudah
menyimpang dari kehendak Allah dan kembali kepada Allah. Firman Tuhan yang
disampaikan-Nya kepada Yeremia bukanlah ditujukan kepada Perempuan saja
melainkan untuk semua manusia yaitu laki-laki dan perempuan.
Sering sekali dikatakan bahwa asal dari
perlawanan dan ketidaktaatan dan dosa manusia kepada Allah berawal dari
tindakan Hawa sebagai perempuan pertama di bumi yaitu ketika peristiwa Hawa
memakan buah pohon yang dilarang oleh Allah dan memberikannya kepada Adam
sebagai Laki-laki pertama di bumi (Kej.3:6). Dapat dilihat bahwa perempuan yang
digoda oleh iblis melakukan perlawanan sebagai langkah pencegahan untuk tetap
melakukan firman Allah dan sebagai pendiriannya untuk tidak melakukannya
(Kej.3:3). Tetapi iblis itu meyakinkan perempuan itu terhadap apa yang akan
diperoleh terhadap buah itu dan akhirnya memakannya. Dapat dilihat bahwa
setelah Perempuan memakan buah itu, ia memberikannya kepada Laki-laki itu dan
ia memakannya. Apakah itu karena perempuan? Tentu karena iblis itu. Perempuan
sebagai manusia yang baru, tidak tahu apa-apa dan mereka bersahabat dengan
segala sesuatu yang ada di taman Eden dan masih disebut suci tentu melakukan
apa yang ditawarkan oleh iblis karena belum adanya pikiran kritis yang baik dan
yang jahat. Perempuan itu tidak tahu bahwa ular itu adalah jelmaan iblis begitu
juga dengan laki-laki. Lalu dimana laki-laki pada saat ular itu berbicara
dengan perempuan itu? Apakah laki-laki itu melakukan sesuatu supaya perempuan
itu tidak memakannya sebagai suami dari perempuan itu? Perempuan dan laki-laki
memakan buah itu dan Allah menghukum keduanya bukan Perempuan saja
(Kej.3:16-19). Hal tersebut mengartikan bahwa semua dosa berawal sejak dari
kedua manusia itu bukan karena perempuan saja tetapi juga laki-laki itu.
Hawa sebagai istri bukanlah mengartikan
bahwa Hawa lebih rendah dari Adam. Bahkan nama manusia yang diambil dari rusuk
Adam yaitu perempuan adalah sebutan dari Adam sendiri untuk manusia itu
(Kej.2:23). Pemberian nama tersebut bukanlah pertanda bahwa Laki-lakilah yang
berhak atas perempuan atau derajat laki-laki tidak lebih tinggi dari perempuan
dan sama dengan perempuan. Pada Kejadian 3:16 disebutkan bahwa Firman-Nya
kepada perempuan itu: "Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat
banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan
berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu." Jadi
yang dipersoalkan adalah masalah posisi atau kedudukan sebagai suami dan istri
di mana suami akan berkuasa atas istri. Jadi ini bukan masalah derajat. Terlihat
jelas bahwa tidak ada teks Alkitab yang merendahkan perempuan atau bahkan
mengatakan bahwa laki-laki adalah lebih tinggi derajatnya dari pada perempuan.
Yesus memandang bahwa perempuan dan laki-laki memiliki derajat yang sama dan
tidak ada yang lebih rendah dari yang lainnya. Kaum perempuan sangat dihormati
oleh Yesus. Hal ini seharusnya menjadi pelajaran bagi orang percaya untuk tidak
merendahkannya. Galatia 3:28 menyatakan bahwa “Dalam hal ini tidak ada orang
Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada
laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.”
IV.
Pokok-pokok Teologi
Adapun
pokok-pokok teologi yang penafsir temukan dari hasil tafsiran adalah sebagai
berikut:
-
Perempuan dan Laki-laki adalah gambar dan
rupa Allah.
-
Tuhan berkenan atas Perempuan dan
Laki-laki.
-
Manusia adalah sama dihadapan Tuhan.
-
Kelamin bukanlah penentu kekuatan dan
keberkuasaan manusia sebagai ciptaan tertinggi.
-
Cinta kasih Tuhan adalah untuk semua
ciptaannya.
-
Kekuasaan tidak membuat Tuhan memandangnya
dan memberlakukannya lebih baik.
-
Tuhan berkenanan dan ada bagi orang-orang
lemah.
-
Manusia pendosa tetapi Allah adalah
pengasih dan panjang sabar.
-
Kasih adalah hidup dan damai.
-
Hidup adalah pemberian dan kesempatan
untuk manusia bagi Allah.
-
Kemuliaan Allah ditinggikan oleh
ciptaan-Nya yang begitu baik.
V.
Refleksi
Perempuan adalah ciptaan Allah yang
segambar dengan Allah. Perempuan adalah manusia yang sama seperti kemanusiaan
yang dimiliki oleh Adam sebagai laki-laki suami dari perempuan itu yaitu Hawa.
Allah tidak memisahkan kasih-Nya dan tidak membedakan Perempuan dan Laki-laki.
Tetapi Allah memberikan tugas yang berbeda kepada tiap-tiap manusia agar
manusia itu saling melengkapi. Perempuan tidak dapat melahirkan tanpa laki-laki
dan laki-laki tidak dapat berketurunan tanpa perempuan. Kodrat perempuan
sebagai ibu dari anak dari laki-laki adalah tugas yang diberikan oleh Allah
untuk menggenapi Kejadian 1:28 yaitu beranakcucu dan bertambah banyak. Dan
laki-laki sebagai ayah dari anak tersebut melakukan tugasnya pula terhadap
istrinya perempuan untuk melengkapi segala keperluannya untuk melahirkan dan
bertambah banyak. Dengan peristiwa tersebut, ketika laki-laki dan perempuan
adalah satu dan bersatu maka mereka akan melahirkan juga manusia yang disebut
dengan keturunan. Dan keturunan itu adalah manusia yang meneruskan kemanusiaan
dari perempuan dan laki-laki tersebut.
Allah
tidak menentukan derajat perempuan lebih rendah dari pada laki-laki tetapi
Allah menyatakan bahwa Perempuan dan laki-laki adalah sama-sama manusia. Lalu
apa yang membuat laki-laki menganggap perempuan itu adalah budak? Tentu itu
adalah ide yang buruk dan pandangan yang salah. Apakah karena perempuan itu
melahirkan? Apakah perempuan itu lemah? Tentu tidak. Pekerjaan yang dilakukan
oleh laki-laki tentu dapat dilakukan oleh perempuan dan pekerjaan perempuan
tentu dapat dilakukan oleh laki-laki. Yang tidak bisa dilakukan laki-laki yang
dapat dilakukan oleh perempuan adalah melahirkan seorang anak bagi mereka.
Begitu juga dengan perempuan, yang tidak bisa mereka lakukan yang dapat
dilakukan oleh laki-laki adalah memberikan mereka anak untuk dilahirkan. Terlihat
bahwa itu adalah perbedaan fungsi reproduksi pada manusia. Tetapi Allah
memberikan laki-laki menjadi seorang pemimpin yang bukan untuk berkuasa tetapi
untuk menjadi perwakilan dan pendamping dan sekaligus teman bagi perempuan.
Maka dengan hal ini kita mengetahui bahwa
pandangan yang menyatakan perempuan adalah budak bagi laki-laki adalah salah
dan hal itu bukanlah ajaran dari keKristenan. Kristus tidak datang untuk
laki-laki tetapi bagi semua orang yang dikasih oleh Allah. Mulai dari saat ini,
berhentilah memandang perempuan itu rendah dan menindasnya, jangan memperbudak
perempuan karena saat kita memperbudak mereka kita sedang memperbudak dan
merendahkan Allah yang maha tinggi karena perempuan adalah gambar Allah. Galatia
3:28 menyatakan bahwa “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani,
tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena
kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.”
Katakan
pada diri saudara/i bahwa perempuan adalah saya, dan laki-laki adalah saya dan
bahwa pada mulanya kita adalah satu dan Allah menciptakan kita untuk
kemuliaannya bukan untuk diri kita dan orang lain.
VI.
Kesimpulan
Penafsiran
feminisme adalah pembebasan para perempuan dari tekanan-tekanan, penderitaan,
dan perbudakan yang dibuat oleh laki-laki menjadi suatu aturan dalam kehidupan
sosial. Kitab Yeremia adalah Kitab yang berisi pelayanan Yeremia sebagai nabi
yang dipanggil oleh Allah untuk menobatkan dan membebaskan bangsa-Nya dari
penderitaan. Dengan tafsiran ini, penafsir menemukan bahwa perempuan adalah manusia
seutuhnya sama seperti laki-laki hidup dan berproses di bumi. Perempuan adalah
gambar Allah yang maha tinggi dan ia sama dengan Laki-laki yaitu diciptakan
untuk kemuliaan Allah yang maha tinggi.
VII. Daftar
Pustaka
1.
Buku
Anthony C. Thiselton, New Horizons
in Hermeneutics. Michigan: Zondervan Publ, 1992.
Barth, Chr., &
Barth-Frommel,M.C., Theologia Perjanjian Lama 4. Jakarta: BPK-GM, 2005.
Blankenbaker, Frances Inti Alkitab
Untuk Para Pemula. Jakarta: BPK-GM, 2007.
Blommendaal , J., Pengantar Kepada
Perjanjian Lama. Jakarta: BPK-GM, 2020.
Bullock, C. Hassell, Kitab
Nabi-nabi Perjanjian Lama. Malang: Gandum Mas, 2002.
Cochran, Pamela D. H., Evangelical
Feminism: A History. London: New York University, 2005.
Fakih, Mansour, Menggeser Konsepsi
Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Belajar, 1996.
Freedman, Estelle B., No Turning
Back: The History Of Feminism And The Future Of Women. New York: Ballantine
Books.
Hadiwadoyo, Purwa, Kamus Kitab
Suci Bagi Kaum Awam. Yogyakarta: Kanisius, 2021.
Kristiyanto, Nikolas, Pengantar
Kitab Nabi-nabi Perjanjian Lama. Yogyakarta: Sanata Dharma University
Press, 2022.
LaSor, W.S., et.al., Pengantar
Perjanjian Lama 2: sastra dan Nubuat. Jakarta: BPK-GM, 2019.
Murniati, A. Nukun P., Getar
Gender: Buku Pertama. Magelang: IKAPI, 2004.
Nancy, Febby & Alakaman, Marlen
T., Jurnal: Aku Yang Bisu Telah Bersuara. Ambon: IAKN, 2021.
Ollenburger, Jane C., Sosiologi
Wanita. Jakarta: Rineka Cipta, 1996.
Russell, Letty M. & Blackwell,
Basil, Perempuan dan Tafsir Kitab suci. Yogyakarta: KANASIUS, 1998.
Saragih, Agus Jetron., Kitab
Ilahi: Pengantar Kitab-kitab Perjanjian Lama (Medan: Bina Media Perintis,
2016.
Schafer, Ruth, et.al., Menggugat
Kodrat Mengangkat Harkat: Tafsiran Dengan Perspektif Feminis. Jakarta:
BPK-GM, 2014.
Schussler, Elizabeth Fiorenza, Untuk
Mengenang Perempuan Itu. Jakarta: BPK-GM, 1995.
Simanjuntak, Hotman Parulian, Pemimpim
Siapa Yang Kau Layani, Dapat Apa, Kapan Dan Bagaimana. Panglayungan:
Perkumpulan Rumah Cemerlang Indonesia, 2021.
Susanti, Aya, Feminisme Radikal:
Studi Kritis Alkitabiah. Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2008.
Tedjo, Tony., Anda Bertanya Saya
Menjawab. Yogyakarta: ANDI, 2014.
2.
Lainnya
http://journal.uinsgd.ac.id/index.php/AlBayan/article/download/1671/1421
(diakses, 09 Februari 2023).
https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/feminisme
(diakses, 09 Februari 2023).
[1] https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/feminisme (diakses, 09 Februari 2023).
[2]http://journal.uinsgd.ac.id/index.php/Al-Bayan/article/download/1671/1421 (diakses, 09 Februari 2023).
[3] A. Nukun P. Murniati, Getar
Gender: Buku Pertama (Magelang: IKAPI, 2004), 7.
[4] Aya Susanti, Feminisme Radikal:
Studi Kritis Alkitabiah (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2008), 11.
[5] Estelle B. Freedman, No Turning
Back: The History Of Feminism And The Future Of Women (New York: Ballantine
Books), 24.
[6] Ruth Schafer, et.al., Menggugat
Kodrat Mengangkat Harkat: Tafsiran Dengan Perspektif Feminis (Jakarta:
BPK-GM, 2014), 3.
[7] Pamela D. H. Cochran, Evangelical
Feminism: A History (London: New York University, 2005), 18.
[8] Mansour Fakih, Menggeser
Konsepsi Gender dan Transformasi Sosial (Yogyakarta: Pustaka Belajar,
1996), 13.
[9] Cochran, Evangelical Feminism:
A History, 24.
[10] Anthony C. Thiselton, New
Horizons in Hermeneutics (Michigan: Zondervan Publ, 1992), 430.
[11] Febby Nancy & Marlen T.
Alakaman, Jurnal: Aku Yang Bisu Telah Bersuara (Ambon: IAKN, 2021), 119.
[12] Elizabeth Schussler Fiorenza, Untuk
Mengenang Perempuan Itu (Jakarta: BPK-GM, 1995), 21-23.
[13] Letty M. Russell & Basil
Blackwell, Perempuan dan Tafsir Kitab suci (Yogyakarta: KANASIUS, 1998),
52.
[14] Jane C. Ollenburger, Sosiologi
Wanita (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), 21.
[15] J. Blommendaal, Pengantar
Kepada Perjanjian Lama (Jakarta: BPK-GM, 2020), 9.
[16] Ibid., 116.
[17] W.S. LaSor, et.al., Pengantar
Perjanjian Lama 2: sastra dan Nubuat (Jakarta: BPK-GM, 2019), 305.
[18] Ibid., 306.
[19] Chr. Barth, & M.C.
Barth-Frommel, Theologia Perjanjian Lama 4 (Jakarta: BPK-GM, 2005), 72.
[20] Purwa Hadiwadoyo, Kamus Kitab
Suci Bagi Kaum Awam (Yogyakarta: Kanisius, 2021), 169.
[21] Frances Blankenbaker, Inti
Alkitab Untuk Para Pemula (Jakarta: BPK-GM, 2007), 26.
[22] Tony Tedjo, Anda Bertanya Saya
Menjawab (Yogyakarta: ANDI, 2014), 61.
[23] Hotman Parulian Simanjuntak, Pemimpim
Siapa Yang Kau Layani, Dapat Apa, Kapan Dan Bagaimana (Panglayungan:
Perkumpulan Rumah Cemerlang Indonesia, 2021), 51.
[24] C. Hassell Bullock, Kitab
Nabi-nabi Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 2002), 260.
[25] Nikolas Kristiyanto, Pengantar
Kitab Nabi-nabi Perjanjian Lama (Yogyakarta: Sanata Dharma University
Press, 2022), 255-256.
[26] Agus Jetron Saragih, Kitab
Ilahi: Pengantar Kitab-kitab Perjanjian Lama (Medan: Bina Media Perintis,
2016), 202.
Comments
Post a Comment