MAKALAH TAFSIRAN KITAB YEREMIA 7:1-7 DENGAN MENGGUNAKAN METODE FEMINISME

                                                                      MAKALAH

TAFSIRAN KITAB YEREMIA 7:1-7 DENGAN MENGGUNAKAN METODE FEMINISME

 Disusun untuk memenuhi tugas

Mata Kuliah: Hermeneutik PL II 

I.              Pendahuluan

Agama Kristen adalah agama yang menginjili dan mengajarkan segala sesuatu dengan berlandaskan Alkitab. Alkitab merupakan Kitab suci yang di dalamnya terdapat Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Masing-masing kitab memiliki tokoh, zaman dan tradisi yang berbeda-beda namun dalam satu kesatuan. Alkitab Kristen tidak terlalu banyak membahas ke feminisme dan sering disebut ke Maskulinitas karena banyaknya tokoh laki-laki dalam Alkitab.

Berkhotbah adalah metode yang paling umum digunakan oleh orang-orang Kristen dalam mengantarkan dan menyampaikan firman Allah kepada orang-orang yang percaya (Jemaat) dengan cara mengutip ayat yang tertulis dari dalam Alkitab baik dari PL dan PB sebagai dasar khotbah untuk disampaikan dengan cara memahami isinya, memaknainya, lalu menyampaikannya kepada orang-orang percaya (Jemaat) di Gereja. Cara tersebut disebut dengan “Menafsir Alkitab”.

Kitab Yeremia merupakan kitab yang termasuk ke dalam kitab Nabi-nabi besar setelah Kitab Yesaya dalam Alkitab. Kitab ini menuliskan pelayanan Nabi Yeremia sebagai seorang Nabi yang dipanggil Allah. Peristiwa pada masa Kenabian Yeremia ini adalah catatan yang sangat penting dalam sejarah Yehuda. Kitab Yeremia banyak memuat riwayat hidup Nabi Yeremia, nubuat dan khotbah-khotbahnya.

Maka dalam tulisan ini, penulis mengangkat tulisan ini untuk melakukan penafsiran pada kitab Yeremia 7:1-7 dengan menggunakan metode Tafsiran Feminisme. Semoga dengan selesainya tulisan ini dapat menambah pengetahuan dan memperluas wawasan para pembaca mengenai kitab Yeremia dan Metode Tafsir Feminisme.

II.           Pembahasan

2.1.       Metode Feminisme

2.1.1. Pengertian Metode Feminisme

Secara etimologis, feminis atau feminisme berasal dari bahasa Prancis untuk wanita, yaitu femme dan isme yang merujuk pada gerakan sosial atau ideologi politik. Dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi feminine artinya memiliki sifat-sifat keperempuanan.

Menurut KBBI, feminisme merupakan gerakan perempuan yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum perempuan dan laki-laki.[1] Istilah ini merujuk pada paham keperempuanan yang ingin mengusung isu-isu gender berkaitan dengan nasib perempuan yang belum mendapatkan perlakuan secara adil di berbagai bidang kehidupan, baik bidang domestik, politik, sosial,  pendidikan maupun ekonomi.[2] Pada dasarnya, pengertian feminisme adalah sebuah kesadaran tentang adanya ketidakadilan yang sistematis bagi perempuan di seluruh dunia.

Pada tahun 1933, kamus Oxford memasukkan kata feminisme yang diberi arti suatu pandangan dan prinsip-prinsip untuk memperluas pengakuan hak-hak perempuan.[3] Menurut Paul Procter, dalam Cambridge Internasional Dicitonary of English sebagaimana dikutip Aya Susati didefinisikan bahwa feminisme adalah kepercayaan bahwa perempuan-perempuan harus diizinkan untuk memiliki hak-hak yang sama, kuasa, dan kesempatan-kesempatan sebagai manusia dan diperlakukan dengan cara yang sama atau himpunan dari aktivitas yang diharapkan untuk mencapai status itu.[4]

2.1.2. Latar Belakang Metode Feminisme

Kata ini pertama kali diciptakan di Prancis pada tahun 1880-an sebagai feminisme, setelah itu terjadi penyebaran ke negara-negara Eropa pada tahun 1890-an dan ke Amerika Utara dan Selatan pada tahun 1910. Namun feminisme sosialis telah ada di Eropa dan didefinisikan sendiri sejak awal 1900.[5]

Sejak abad ke-2 teologi Kristen secara khusus diajarkan oleh teolog laki-laki saja dan mencerminkan kepentingan teologi laki-laki itu sendiri sehingga perempuan tidak terlalu dipandang.[6] Pada abad 19, beberapa teolog wanita dan mahasiswi seminari di Amerika mengembangkan satu jurusan teologi baru yang mereka sebut dengan Teologi Feminisme. Teologi feminisme timbul karena kehidupan tradisional kekristenan pada Alkitab terlalu memihak kepada kaum maskulin sehingga kebenaran dari pernyataan tersebut digali untuk disesuaikan dengan kebutuhan dan harapan perempuan yang setara dengan pria yaitu segambar dengan Allah (Kej 1:27).

Feminisme alkitabiah lahir dari aktivisme sosial dan keterbukaan terhadap metode teologis modern dari kaum injili.[7] Feminisme lahir dari perdebatan makna gender yang berhubungan dengan jenis kelamin. Pada saat itu, kaum perempuan dianggap sebagai warga Negara kelas dua yang tidak diberikan hak kebebasan hidup.

Menurut Mansour Fakih, feminisme adalah suatu gerakan yang meluruskan pemikiran-pemikiran masyarakat yang memperlakukan para kaum perempuan dengan tidak adil.[8] Gerakan feminisme meletakkan penekanan pada tiga isu utama yaitu: penindasan, patriaki dan perjuangan kesetaraan hak. Pada awal tahun 1970-an, sejumlah evangelis muda menerapkan metode hermeneutis terhadap isu peran perempuan.[9]

2.1.3. Tokoh-tokoh

1.             Rosemary RadFord Reuther

Ruether adalah seorang sarjana Feminis yang berpengaruh dan juga seorang teolog. Dia dianggap  sebagai  pelopor  dibidang  teologi  Feminis,  yang  karya-karyanya  membantu merangsang  reevaluasi  utama  pemikiran  Kristen  dalam  terang  isu-isu  perempuan. Rosemary Radford  Ruether  telah  menjadi  perintis  teolog  feminis  Kristen  selama  lebih  dari  tiga  dekade, dan di antara para teolog feminis yang paling banyak dibaca di Amerika Utara. Bukunya, Sexism and  God-Talk,  klasik  di  bidang  teologi  feminis,  tetap  satu-satunya  pengobatan  feminis sistematis simbol Kristen sampai saat ini. Inti  pemikiran  Ruether  mengenai  Feminisme  adalah  ia  mempertanyakan  Alkitab  yang ditafsir dalam  budaya patriakat.  Sehingga  menurutnya Alkitab  harus  terus  menerus  dievaluasi ulang  khususnya  mengenai  kebebasan  dan  keselamatan  manusia  dalam  konteks  yang  baru.

2.             Letty M. Russell

Pandangan  Russel  dalam  Feminisme,  ia  melihat  Alkitab  adalah  firman  yang memerdekakan  (liberating  word).  Hal  ini  jelas  terlihat  sejak  peristiwa  eksodus  yang  dicatat dalam Alkitab sampai zaman para nabi dan kemudian jauh hingga zaman Tuhan Yesus. Peristiwa eksodus yang dicatat dalam kitab jelas memperlihatkan karya pembebasan Allah bagi Israel dari penindasan Mesir. Nubuat yang disampaikan para nabi pun berbicara tentang pembebasan dari penindasan, seperti yang dicatat dalam Yesaya 61:1-2. Teks ini pulalah yang dikutip oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 4:18 yang  dilanjutkan dengan pernyataan  Tuhan  Yesus pada ayat 21,  "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya."

3.             Elisabeth Schussler Fiorenza

Fiorenza  berpendapat  bahwa  Alkitab  tidak  boleh  diterima  mentah-mentah  karena banyak  unsur  manusia  (pria)  di  dalamnya.  Ia  mengatakan  bahwa  apabila  ingin  mengubah kedudukan perempuan,  ia harus  belajar  teologi. Peran  perempuan tidak  bisa  jauh dari  teologi karena di sanalah ia dibentuk dan dikonstruksi. Teologi menghadirkan perempuan sebagai mitra Allah bersama dengan laki-laki, namun peran itu semakin terkikis dengan adanya proses budaya kaum  laki-laki,  khususnya  di  mana  Kitab  Suci  ada  dan  dipelajari.  Maka  tidak  mengherankan bahwa  Fiorenza  mengatakan  bahwa  kedudukan  perempuan  ditentukan  oleh  teologi.  Seorang perempuan  yang  ingin  mengubah  paradigmanya  tentang  perempuan  maka  ia  harus  belajar teologi. Dengan  belajar  teologi,  ia  akan  semakin  mengenal  dan  membebaskan  dirinya  melalui suatu  paradigma  baru.  Ia  mengkonstruksi  kembali  pandangan-pandangan  yang  selama  ini dipahami  secara  keliru,  baik  oleh  dirinya  sendiri  maupun  kaum  perempuan  lainnya. Dengan demikian,  Schussler  Fiorenza menegaskan  teologi  feminis  kritis  tidak  hanya  teologi  resistensi dan harapan  tetapi juga  fokus dan  tugas mereka  tak terelakkan  kontekstual  dan  fundamental politik.

2.1.4. Tujuan Metode Feminisme

Metode ini adalah prinsip penafsiran teks Alkitab yang dibuat untuk mempromosikan dan melegalkan kaum kedua yaitu wanita yang mengalami penindasan dalam kehidupan sosial tatanan masyarakat yang dikuasai oleh sistem Patriakhal. Tujuan metode ini adalah untuk membuka pemisah legalitas fungsi sosial yang menindas dan menekan hak-hak wanita yang dipinggirkan.[10] Cara ini memperbaiki ketidaksetaraan, ketidakadilan, dan diskriminasi yang dihadapi perempuan karena jenis kelamin mereka.

2.1.5. Langkah-langkah tafsir Feminis

1.             Hermeneutik Kecurigaan

Model tafsir feminisme mendekati teks dan interpretasi kitab suci yang berkembang dengan sikap curiga. Usaha dilakukan karena untuk menghindari penyalahgunaan tafsiran kitab suci yang cenderung memperkuat sistem Patriakhal. Tahap ini berusaha untuk membongkar Androsentrik dan menemukan inspirasi pembebasan yang tersembunyi dalam teks kitab.

2.             Hermeneutik Penggenangan

Bentuk ini menggali tradisi dan naskah pada teks tradisi pada teks yang Androsentrik untuk menemukan peristiwa-peristiwa yang dialami oleh para perempuan baik itu berupa penderitaan dan perjuangan di masa lampau. Jadi bentuk ini berusaha menghidupkan kembali penggenapan subversive atau pengenangan akan penderitaan dan perjuangan perempuan di masa lampu pada masa Patriakhal.

3.             Hermeneutika Proklamasi

Bentuk ini adalah untuk menemukan nilai dan visi-visi yang  menyebar dalam aturan untuk menolong perempuan keluar dari berbagai tekanan dan alienasi. Dalam melakukan evaluasi tingkat Androsentris tertulis dalam struktur teks, diperlukan penilaian bidang sosio-politik yang memutuskan cara teks dibaca dan dipahami di masa sekarang.

4.             Hermeneutik Imajinasi kreatif

Bentuk ini ditujukan untuk menemukan arti atau makna pembebasan yang tidak didirikan pada dualisme androsentris dan fungsi patriakhal dari teks sehingga membuat suatu ruang bagi kaum feminis dalam memasuki teks Alkitab dengan menolong imajinasi kreatif.[11]

5.             Hermeneutik Pemakluman

Bentuk ini bertujuan untuk mengungkapkan inspirasi dan relevansi kitab suci sebagai emansipasi feminisme di konteks sekarang dengan menggali peranan dan pesan teks bagi kebudayaan modern yang masih dipengaruhi Adrosentrik. Pemakluman berusaha untuk menyaring kutipan dan amanat yang diajarkan dimasa sekarang dengan tujuan untuk menandakan bahwa kisah ataupun kutipan yang memuat ajaran yang menyatakan keberpihakan bukanlah keberpihakan Allah.

6.             Hermeneutik Perwujudan Kreatif

Model ini bertujuan untuk menemukan peluang peran serta perempuan dalam membangun kehidupan yang lebih baik dalam lingkungan umat Kristen maupun di lingkungan masyarakat.[12]

Menyadari adanya teks-teks Alkitab yang Patriarkal, feminis Kristen mendekati teks setidak-tidaknya dengan tiga penekanan, yakni:[13]

1.      Mencari teks tentang perempuan untuk menentang teks-teks terkenal yang digunakan untuk “menindas” perempuan.

2.      Menyelidiki Alkitab secara umum. Bukan hanya teks tentang perempuan untuk membentuk perspektif teologis yang dapat mengkritik patriarki. Beberapa orang menyebut perspektif ini sebagai “perspektif pembebasan”.

3.      Menyelidiki teks tentang perempuan untuk belajar dari perjumpaan sejarah dan kisah-kisah perempuan kuno dan modern yang hidup di dalam kebudayaan patriarkal.

2.1.6. Kelebihan

Adapun kelebihan dalam penggunaan metode feminisme adalah kemampuannya untuk menarik perhatian kita kepada perbedaan kesaksian kitab-kitab dalam Alkitab sehubungan dengan perempuan untuk memulihkan tradisi yang telah dilupakan.

2.1.7. Kekurangan

Adapun kekurangan dalam penggunaan metode feminisme adalah:

-          Asumsi bahwa ada kebenaran yang abadi di dalam kitab suci. Padahal semua penulis dan teks gagal memenuhi kebenaran tersebut, justru asumsi inilah yang mendorong banyak orang memilih pilihan kedua mereka ingin mengupas bagian-bagian kitab suci yang telah mengalami kondisi dan kultural untuk menemukan kebenaran abadi itu.

-          Dari dalam gerakan feminisme itu sendiri adalah tidak semua kaum perempuan merasa ditindas dan tidak ingin terlepas dari penindasan tersebut, dan juga para laki-laki cenderung menganggap bahwa yang layak menduduki jabatan masyarakat adalah laki-laki.[14]

2.2.       Kitab Yeremia

2.2.1. Pengertian Kitab Yeremia

Dalam Perjanjian Lama Ibrani terdapat tiga bagian kitab, yaitu Taurat, Nabi-nabi dan Kitab-kitab. Kitab Yeremia adalah kitab yang tergolong dalam kitab nabi-nabi. Kitab Yeremia ini disebut menurut nama nabi yang dituliskan di dalamnya sekaligus tokoh utamanya yaitu nabi Yeremia dalam bahasa Ibrani יִרְמְיָהּ (Yirmeyahu).[15] Yeremia dipanggil oleh Allah untuk mengabarkan hukuman yang akan datang dari Allah atas bangsa-Nya dan yang dilaksanakan dengan jatuhnya Yehuda dan Yerusalem dengan pembuangan ke Babylon.[16] Dalam kitab Perjanjian Lama kitab ini dimasukkan dalam golongan kitab Nabi-nabi besar. Bentuk penyampaian nubuat-nubuat yang disampaikan oleh nabi dalam kitab Yeremia kepada bangsa Yehuda yang melakukan berbagai macam dosa. Kitab ini memiliki puisi dan prosa dan gaya bahasa di dalamnya untuk memperlihatkan keterampilan dan kekuatan karyanya dalam menyampaikan pesan perkataan-perkataan Allah melalui mulutnya. Yeremia merupakan nabi yang tak ada taranya dalam pemahamannya tentang nubuat dan dalam kemampuannya mengungkapkan nubuat itu. Ia juga menunjukkan bagaimana seharusnya nabi itu harus hidup. Kitabnya menceritakan kehidupan dan pemberitaannya dan merupakan teladan dari nubuat yang benar.[17]

2.2.2. Latar Belakang

Yeremia lahir di desa Anatot di sebelah utara Yerusalem (Yer 1:1; 11:21,23: 29:27; 32:7-9), anak dari seorang imam namanya Hilkia. Keadaan rumah tangga Yeremia tidak diketahui, namun pernyataan Ellison disebutkan dalam buku LaSor perlu diperhatikan bahwa Yeremia sangat mengenal nubuat-nubuat para pendahulunya, terutama Hosea.[18] Dengan demikian bahwa keluarganya mungkin termasuk keluarga-keluarga yang mempertahankan terang nubuat dalam masa kegelapan.

Yosia dan Yeremia diperkirakan seumuran. Yeremia menyebut dirinya seorang pemuda pada saat firman Allah datang untuk yang pertama kali  kepadanya pada tahun ketiga belas pemerintahan Yosia yang diperkirakan pada tahun 627 sM (Yer 1:2). Jadi, mungkin ia lahir segera setelah tahun 650 sM.

Yeremia dipanggil oleh Allah dan menjadi utusan untuk mengabarkan hukuman yang akan datang dari Allah atas bangsa-Nya. Bangsa-Nya tidak mendengarkan Allah dan tidak melakukan perintah-Nya, mereka menyembah berhala (2:5-3:5), melakukan ketidakadilan (5:20-31) dan menyalahgunakan ibadah (7:8-31). Panggilannya untuk menjadi seorang nabi terjadi lama sebelum pembaruan Yosia yang diilhami oleh penemuan kitab Taurat (2 Raj 28:8). Pelayanan Yeremia berlangsung sesudah tahun 586 sM (lebih empat puluh tahun) ketika Yerusalem jatuh ke tangan Nebukadnezar dan mencakup pemerintahan dari para pengganti Yosia, yaitu empat raja terakhir dari Yehuda.[19] Nubuat yang Yeremia sampaikan benar-benar terjadi. Kerajaan Yehuda diserang dan dikalahkan oleh kerajaan Babilonia.[20]

Penulis menggali latar belakang kitab Yeremia melalui beberapa buku dan sumber lainnya untuk memperluas dan memperjelas latar belakang dan hasilnya memang satu kesatuan seperti yang telah tertulis dalam tulisan ini.

2.2.3. Penulis dan Waktu Penulisan

Penulis kitab Yeremia adalah Nabi Yeremia.[21] Termasuk kitab Ratapan juga ditulis oleh Yeremia.[22] Ini dibuktikan dari kehidupan Yeremia dan pencantuman namanya sebagai penulis kitab ini. Sekalipun  pernyataan tersebut masih diragukan karena perbedaan bahasa dan penulisannya. Namun pernyataan Paterson dalam buku Hotman Parulian menjelaskan perbedaan bahasa dan penulisan tersebut dengan menyatakan bahwa perbedaan gaya bahasa tersebut disebabkan oleh keadaan di sekitarnya dan tujuan yang berbeda.[23] Bukti lain juga terdapat dalam Pasal 36:1-3, Allah memerintahkan secara khusus agar Yeremia menuliskan perkataan-perkataan yang bersifat teguran, perintah, janji dan nubuat Allah. Sebenarnya, tulisan pertama yang disebut dengan gulungan kitab yang berisi nubuat-nubuat sejak tahun 627-604 sM yang dibakar oleh Yoyakim.[24] Penulisan kedua terjadi sekitar tahun 605 sM pada tahun keempat pemerintahan Yoyakim, setelah Yeremia melayani selama 20 tahun. Yeremia menunjuk Barukh menjadi sekretarisnya untuk menulis segala perkataan Yeremia (36:4). Inilah yang memperkuat alasan bahwa nabi Yeremia adalah penulis kitab Yeremia.

Penafsir yakin bahwa kitab Yeremia ditulis oleh nabi Yeremia atas perintah Allah karena tulisan adalah salah satu metode Yeremia dalam menyampaikan nubuat-nubuat dari Allah sejak tahun 627 sM. Banyak sumber yang mendukung (termasuk kitab itu sendiri dalam pasal 36:1-3) dan menyatakan bahwa nabi Yeremialah penulisnya tetapi tidak secara langsung.

2.2.4. Tujuan Kitab Yeremia

Penulisan kitab Yeremia dimaksudkan untuk menyampaikan firman Allah yaitu berita penghukuman atas ketidaktaatan bangsa Yehuda yang telah diterima oleh Yeremia kepada umat Yehuda agar mereka bertobat dan meninggalkan perbuatan-perbuatan mereka yang melawan dan menentang Allah dan kembali kepada Allah. Meskipun banyak tantangan bahkan ancaman yang dialami oleh Yeremia dalam memberitakan keselamatan bangsa Yehuda, Yeremia tetap melakukan perintah Allah dan merelakan dirinya untuk firman Allah.

2.2.5. Struktur Kitab[25]

1.             Pasal 1: Panggilan Yeremia.

2.             Pasal 2-25: Nubuat tentang Masa depan Bangsa Israel dan Yehuda.

a.       Pasal 2-10: Allah mencela kejahatan Bangsa Yehuda.

b.      Pasal 11: Penganiayaan terhadap Yeremia di Anatot.

c.       Pasal 12: Keluhan Yeremia dan Jawaban Allah.

d.      Pasal 13-20: Yeremia memberitakan kejahatan dan dosa bangsa Yehuda.

e.       Pasal 21-24: Kehidupan dan kematian

f.        Pasal 25: Pemberitaan tentang pembuangan Yehuda ke Babilonia.

3.             Pasal 26-45: Penjelasan tentang Pelayanan Yeremia.

a.       Pasal 26-29: Kehancuran Bait Suci dan Hanaya menganiaya Yeremia.

b.      Pasal 30-34: Janji Allah tentang pemulihan bangsa Israel dan pembaharuan janji-Nya dengan umat Israel.

c.       Pasal 35: Kesetiaan orang-orang Rekhab.

d.      Pasal 36: Raja Yoyakim membakar kitab Nubuat Yeremia.

e.       Pasal 37-39: Yeremia dimasukkan ke dalam sumur.

f.        Pasal 40-45: Yeremia terpaksa ikut mengungsi ke Mesir.

4.             Pasal 46-51: Nubuat tentang masa depan bangsa-bangsa lain.

a.       Pasal 46: Mengenai Mesir.

b.      Pasal 47: Mengenai Filistin.

c.       Pasal 48: Mengenai Moab.

d.      Pasal 49:1-6: Mengenai Bani Amon.

e.       Pasal 49:7-22: Mengenai Edom.

f.        Pasal 49:23-27: Mengenai Damsyik.

g.      Pasal 49:28-33: mengenai suku bangsa Arab.

h.      Pasal 49:34-39: Mengenai Elam.

i.        Pasal 50: Mengenai Babilonia.

j.        Pasal 51: Hukuman Tuhan atas Babilonia.

5.             Pasal 52: Pemberitaan kehancuran Kota Suci di Yerusalem

Penafsir memilih untuk menuliskan struktur kitab yang dituliskan oleh LaSor setelah membandingkannya dengan struktur kitab Yeremia di buku Blommendaal karena struktur dalam buku LaSor lebih ringkas sehingga lebih mudah dipahami isinya dari pada buku tulisan Blommendaal.

2.2.6. Tema-tema Teologi[26]

-                 Allah berkuasa dalam Sejarah

-                 Allah berkarya dalam Hukuman

-                 Taurat Lama dan Taurat Baru

-                 Iman yang Kuat

-                 Allah pemelihara orang-orang kecil

 

2.2.7. Situasi Sosial

Kehidupan sosial Yehuda mengalami kemerosotan. Penindasan terhadap kaum lemah oleh para elit bangsa semakin menjadi-jadi dan mencapai puncaknya. Penindasan terhadap orang asing, janda dan yatim piatu, penumpahan darah, penyembahan berhala, pencurian, perzinahan dan bahkan pengurbanan anak-anak adalah dosa-dosa yang dilarang namun dilakukan secara terang-terangan (Yer.7:5-10; 30-31). Penindasan ini diserta dengan kemewahan yang sama sekali tidak cocok untuk seorang raja Yehuda. Raja membangun istana berdasarkan ketidakadilan dan anjungnya berdasarkan kelaliman. Itulah sebabnya Yeremia terus-menerus mengecam berbagai kejahatan sosial bangsa itu. Yeremia mengumpamakan Yehuda sebagai pohon anggur liar (Yer.2:21). Kemakmuran hanya dinikmati para orang kaya dan penguasa. Kemakmuran itu pula yang telah mengubah pola hidup mereka, dari kesederhanaan dan solidaritas yang tinggi di antara umat telah berubah menjadi masyarakat yang materialistis dan individualistis. Terjadi perpecahan strata sosial. Orang-orang kaya semakin kaya dan kuat, yang miskin dan lemah semakin miskin dan lemah.

2.3.       Analisa Teks

2.3.1. Perbandingan Bahasa

Dalam melakukan perbandingan bahasa, penafsir menggunakan empat macam bahasa teks untuk diperbandingkan, yaitu LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) Edisi Tahun 2022, Bibel Dohot Ende (BDE), New International Version (NIV), dan Teks Masora (TM).

Ayat 1

LAI

BDE

NIV

TM

Keputusan

 

: Firman

: Hata (kata)

: The word  (kata)

: הַדָּבָר (kata)

: Yang mendekati TM adalah BDE dan NIV

Ayat 2

LAI

BDE

NIV

TM

Keputusan

 

: Serukanlah

: Dok ma (katakanlah)

: Proclaim (menyatakan)

: וְקָרָאתָ (menyatakan)

: Yang mendekati TM adalah NIV

Ayat 3

LAI

BDE

NIV

TM

Keputusan

 

: Diam

: Hupaian (Kutempatkan)

: Live (tinggal)

: וַאֲשַׁכְּנָה (tinggal)

: Yang mendekati TM adalah NIV

Ayat 4

LAI

BDE

NIV

TM Keputusan

 

: Dusta

: Sipaotooto (penipu)

: Deceptive (penipu)

: הַשֶּׁקֶר (pembohong)

: Tidak ada yang mendekati TM

Ayat 5

LAI

BDE

NIV

TM

Keputusan

 

: Keadilan

: Uhum hatigoran (hukum yang lurus)

: Justly (adil)

: מִשְׁפָּט (adil)

: Yang mendekati TM adalah NIV

Ayat 6

LAI

BDE

NIV

TM

Keputusan

 

: Menindas

: Dirupa (wajah)

: Oppress (menindas)

: תַֽעֲשֹׁקוּ (menindas)

: Yang mendekati TM adalah LAI dan NIV

Ayat 7

LAI

BDE

NIV

TM

Keputusan

 

: Tempat

: Inganan (tempat)

: Place (tempat)

: בַּמָּקוֹם (tempat)

: Semua teks mendekati TM

2.3.2. Kritik Aparatus

Ayat 3

Dalam teks Masorah terdapat tulisan Ibrani וְאֶשְׁכְּנָה אַתְּכֶם yang artinya “dan aku akan tinggal bersamamu”.

Keputusan: Penafsir menerima kritik aparatus karena memperjelas dalam memahami teks.

Ayat 4

Dalam teks Masorah terdapat Septuaginta tulisan Yunani ὅτι τὸ παράπαν οὐκ ὠφελήσουσιν ὑμᾶς yang artinya “karena parapan tidak akan menguntungkan Anda”. Terdapat juga kata אַתֶּם yang artinya “kamu”, peneliti modern mengusulkan הַמָּקוֹם הַזֶּה yang artinya “tempat ini”.      

Keputusan: Penafsir menolak kritik aparatus karena mempersulit dalam memahami teks.

Ayat 6

Dalam teks Masorah tulisan tangan bahasa Ibrani terdapat kata אַל yang artinya “ke”.

Keputusan: Penafsir menolak Kritik aparatus karena mempersulit dalam memahami teks.

Ayat 7

Dalam teks Masorah terdapat kodeks tulisan tangan bahasa Ibrani וְשָׁכַי yang artinya “dan tutup mulut” dan kata אתּכם yang artinya kamu.

Keputusan: Penafsir menolak kritik aparatus karena mempersulit dalam memahami teks.  

2.3.3. Terjemahan Akhir

Ayat 1

Firman yang datang kepada Yeremia dari pada TUHAN, bunyinya:

Ayat 2

"Berdirilah di pintu gerbang rumah TUHAN, serukanlah di sana firman ini dan katakanlah: Dengarlah firman TUHAN, hai sekalian orang Yehuda yang masuk melalui semua pintu gerbang ini untuk sujud menyembah kepada TUHAN!

Ayat 3

Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, dan Aku akan tinggal bersamamu di tempat ini.

Ayat 4

Janganlah percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi: Ini bait TUHAN, bait TUHAN, bait TUHAN,

Ayat 5

melainkan jika kamu sungguh-sungguh memperbaiki tingkah langkahmu dan perbuatanmu, jika kamu sungguh-sungguh melaksanakan keadilan di antara kamu masing-masing,

Ayat 6

tidak menindas orang asing, yatim dan janda, tidak menumpahkan darah orang yang tak bersalah di tempat ini dan tidak mengikuti allah lain, yang menjadi kemalanganmu sendiri,

Ayat 7

maka Aku mau diam bersama-sama kamu di tempat ini, di tanah yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu, dari dahulu kala sampai selama-lamanya.

III.        Tafsiran

Penafsir melakukan penafsiran dengan lebih dahulu menentukan pihak-pihak dalam teks yaitu sebagai pihak penindas adalah Laki-laki (Maskulinisme), dan sebagai pihak tertindas adalah Perempuan (Feminisme) dan pembebas adalah TUHAN.

Ayat 1-2

Yeremia adalah salah satu nabi yang dipanggil oleh Tuhan untuk mewartakan perkataan Tuhan kepada bangsa-Nya dalam upaya penyelamatan dan pertobatan. Namun apakah Yeremia dipanggil karena ia bukan seorang Perempuan? Laki-laki adalah manusia yang paling sering dari perempuan dipakai Tuhan dalam pekerjaannya dan yang sering muncul pada kitab suci. Namun hal tersebut bukan berarti Tuhan tidak pernah memakai atau melibatkan Perempuan dalam pekerjaan-Nya. Tindakan dan sikap Tuhan terhadap panggilan Yeremia sebagai Laki-laki ini adalah salah satu alat bagi para laki-laki untuk menunjukkan keutamaan dan kespesialan mereka di pandangan Tuhan tetapi kebenarannya tidaklah demikian. Hal tersebut menjadi suatu alasan yang mendukung pernyataan yang menyatakan bahwa perempuan berada di bawah level laki-laki atau lebih rendah dari laki-laki menurut pandangan para laki-laki bukan pandangan Tuhan. Lalu bagaimana pandangan Tuhan mengenai perempuan? Untuk mengetahui siapa Perempuan dan Laki-laki itu, perlu digali kembali bagaimana awal dari manusia itu ada yaitu pada kitab Kejadian 1:27 “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka”. Dengan begitu jelasnya awal mula manusia yaitu Laki-laki dan Perempuan di dalam teks disebut “mereka” itu diciptakan oleh Allah dengan tidak memiliki sesuatu bentuk dan sumber yang berbeda yaitu gambar Allah dan diciptakan oleh Allah. Teks tersebut menunjukkan bahwa derajat antara Laki-laki dan Perempuan adalah sama bagi Allah sendiri. Dengan penjelasan tersebut, diperlihatkan bahwa Yeremia dipilih bukan karena dia tidak perempuan tetapi Yeremia dipanggil oleh Allah karena Allah yang memanggilnya dan Allah mengkehendakinya.

Panggilan Yeremia sebagai nabi oleh Allah di tengah bangsa Yehuda bukanlah karena ketidaklayakan perempuan untuk menjadi alat Tuhan dalam menyampaikan perkataan-Nya atau bukan karena tidak ada perempuan yang dapat melakukan perintah Tuhan, melainkan menunjukkan keadilan yang sebenarnya dan memang hak Allah untuk memilih pilihannya. Pertama harus diingat dulu bahwa Yeremia sebagai nabi tidak dapat lahir dan menjadi nabi tanpa pengorbanan dan peran seorang ibu yaitu sebagai perempuan untuk melahirkan Yeremia. Terlihat jelas bahwa peran perempuan melancarkan rencana Allah sangat besar yaitu sebagai ibu untuk melahirkan nabi pilihan Allah (Yer.1:5). Perempuan adalah ciptaan Allah meletakkan kuasanya untuk seorang nabi sekaligus alat Tuhan dalam rencana-Nya dalam menyelamatkan bangsa-bangsa-Nya. Hal yang paling menonjol dan paling bersejarah sekali bahkan hal yang paling besar dalam upaya penyelamatan semua manusia ialah lahirnya juru selamat yaitu sang Kristus yang dinamai Imanuel yang lahir dari seorang perempuan muda (Yes.7:14) yaitu Maria seorang perawan yang dikaruniai dan disertai oleh Tuhan (Luk.1:28) dan dinyatakan langsung oleh malaikat Gabriel bahwa Maria akan melahirkan seorang anak laki-laki yang akan dinamai Yesus (Luk.1:31). Terlihatlah bagaimana Allah memakai perempuan sebagai ciptaan Allah dalam karya-Nya. Dengan hal ini tidak dapat lagi dikatakan bahwa Laki-laki adalah manusia yang paling tinggi derajatnya dibanding perempuan, tetapi Perempuan dan Laki-laki pada hakikatnya adalah sama.

Yeremia tidak dipanggil Allah karena ia adalah laki-laki dan karena laki-laki adalah keturunan dan diturunkan untuk menjadi pemimpin. Perempuan bukanlah manusia yang diciptakan Allah untuk sesuatu yang untuk kesenangan dan kenikmatan para Laki-laki atau bukanlah suru-suruhan laki-laki untuk sesuatu hal. Melainkan seorang penolong yang sepadan dengan laki-laki (Kej.2:18). Arti penolong dalam teks tersebut jika dilihat dari KBBI Daring adalah orang yang menolong. Tugas seorang penolong adalah untuk meringankan beban baik itu penderitaan, kesukaran; membantu supaya dapat melakukan sesuatu; menyelamatkan; dan dapat meringankan penderitaan yang ditolong. Terlihat sangat jelas bahwa pertolongan hanya dibutuhkan oleh seseorang yang lemah, tidak berdaya, dan tidak mampu untuk berbuat. Allah menyatakan bahwa Laki-laki itu tidak kuat, lemah, sehingga mereka membutuhkan seorang penolong yang sepadan yaitu perempuan. Arti sepadan dalam teks tersebut jika dilihat dari KBBI Daring adalah mempunyai nilai, ukuran, arti, efek yang sama, sebanding, dan seimbang. Pernyataan Allah menyatakan bahwa Laki-laki dan perempuan adalah satu kesatuan dan saling melengkapi bukan suatu pelengkap. Hal ini tidak menunjukkan bahwa perempuan tidak bisa menjadi seorang pemimpin di antara laki-laki atau suatu bangsa. Tetapi menyatakan sebaliknya, bahwa perempuan mempunyai kemampuan yang sama dengan laki-laki untuk menjadi seorang pemimpin. Alkitab tidak menyebutkan dan tidak menceritakan bahwa hanya laki-lakilah yang menjadi rekan sekerja Tuhan dalam berkarya. Pemahaman tersebut tentu keliru, sangat jelas bahwa ada nabiah (imam perempuan) yang ikut serta dalam karya Allah yaitu nabiah Debora istri Lapidot yang menjadi seorang hakim atas orang Israel (Hak 4:4), nabiah Hulda yang sama seperti nabi Yeremia dalam menyampaikan perkataan Allah (2 Raj 22:14), nabiah Ester sebagai Ratu untuk menolong dan memelihara umat Allah (Est 4:8-16).

Yesus Kristus tidak pernah menghina atau merendahkan kaum wanita. Kaum perempuan tidak pernah dijadikan bahan tertawaan ataupun kritikan bahkan tidak pernah dianggap rendah. Yesus di dalam khotbah-Nya memakai dua orang tokoh perempuan sebagai analogi untuk menyindir ketidaksetiaan orang Israel. Yesus mengajarkan keteladanan seorang perempuan janda Sarfat yang murah hati untuk menegur kaum lelaki di kota Nazaret karena kepelitannya (Luk.4:25-26). Kedua adalah ratu Sheba yang bijaksana berbeda jauh dengan para ulama Yahudi dari golongan Farisi yang walaupun mempelajari Taurat tetapi tidak memahami dan tidak mempercayai Hikmat Ilahi (Luk.11:31).

Ayat 3-7

Tindakan manusia atas ketidaktaatan dan pengkhianatan dan dosa-dosa mereka kepada Tuhan membuat hati Tuhan hancur dan terkhianati. Tuhan memperkenankan pertobatan dari mereka dan menginginkan manusia kembali kepada-Nya dengan cara berbalik dari jalan yang sudah menyimpang dari kehendak Allah dan kembali kepada Allah. Firman Tuhan yang disampaikan-Nya kepada Yeremia bukanlah ditujukan kepada Perempuan saja melainkan untuk semua manusia yaitu laki-laki dan perempuan.

Sering sekali dikatakan bahwa asal dari perlawanan dan ketidaktaatan dan dosa manusia kepada Allah berawal dari tindakan Hawa sebagai perempuan pertama di bumi yaitu ketika peristiwa Hawa memakan buah pohon yang dilarang oleh Allah dan memberikannya kepada Adam sebagai Laki-laki pertama di bumi (Kej.3:6). Dapat dilihat bahwa perempuan yang digoda oleh iblis melakukan perlawanan sebagai langkah pencegahan untuk tetap melakukan firman Allah dan sebagai pendiriannya untuk tidak melakukannya (Kej.3:3). Tetapi iblis itu meyakinkan perempuan itu terhadap apa yang akan diperoleh terhadap buah itu dan akhirnya memakannya. Dapat dilihat bahwa setelah Perempuan memakan buah itu, ia memberikannya kepada Laki-laki itu dan ia memakannya. Apakah itu karena perempuan? Tentu karena iblis itu. Perempuan sebagai manusia yang baru, tidak tahu apa-apa dan mereka bersahabat dengan segala sesuatu yang ada di taman Eden dan masih disebut suci tentu melakukan apa yang ditawarkan oleh iblis karena belum adanya pikiran kritis yang baik dan yang jahat. Perempuan itu tidak tahu bahwa ular itu adalah jelmaan iblis begitu juga dengan laki-laki. Lalu dimana laki-laki pada saat ular itu berbicara dengan perempuan itu? Apakah laki-laki itu melakukan sesuatu supaya perempuan itu tidak memakannya sebagai suami dari perempuan itu? Perempuan dan laki-laki memakan buah itu dan Allah menghukum keduanya bukan Perempuan saja (Kej.3:16-19). Hal tersebut mengartikan bahwa semua dosa berawal sejak dari kedua manusia itu bukan karena perempuan saja tetapi juga laki-laki itu.

Hawa sebagai istri bukanlah mengartikan bahwa Hawa lebih rendah dari Adam. Bahkan nama manusia yang diambil dari rusuk Adam yaitu perempuan adalah sebutan dari Adam sendiri untuk manusia itu (Kej.2:23). Pemberian nama tersebut bukanlah pertanda bahwa Laki-lakilah yang berhak atas perempuan atau derajat laki-laki tidak lebih tinggi dari perempuan dan sama dengan perempuan. Pada Kejadian 3:16 disebutkan bahwa Firman-Nya kepada perempuan itu: "Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu." Jadi yang dipersoalkan adalah masalah posisi atau kedudukan sebagai suami dan istri di mana suami akan berkuasa atas istri. Jadi ini bukan masalah derajat. Terlihat jelas bahwa tidak ada teks Alkitab yang merendahkan perempuan atau bahkan mengatakan bahwa laki-laki adalah lebih tinggi derajatnya dari pada perempuan. Yesus memandang bahwa perempuan dan laki-laki memiliki derajat yang sama dan tidak ada yang lebih rendah dari yang lainnya. Kaum perempuan sangat dihormati oleh Yesus. Hal ini seharusnya menjadi pelajaran bagi orang percaya untuk tidak merendahkannya. Galatia 3:28 menyatakan bahwa “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.”

IV.        Pokok-pokok Teologi

Adapun pokok-pokok teologi yang penafsir temukan dari hasil tafsiran adalah sebagai berikut:

-          Perempuan dan Laki-laki adalah gambar dan rupa Allah.

-          Tuhan berkenan atas Perempuan dan Laki-laki.

-          Manusia adalah sama dihadapan Tuhan.

-          Kelamin bukanlah penentu kekuatan dan keberkuasaan manusia sebagai ciptaan tertinggi.

-          Cinta kasih Tuhan adalah untuk semua ciptaannya.

-          Kekuasaan tidak membuat Tuhan memandangnya dan memberlakukannya lebih baik.

-          Tuhan berkenanan dan ada bagi orang-orang lemah.

-          Manusia pendosa tetapi Allah adalah pengasih dan panjang sabar.

-          Kasih adalah hidup dan damai.

-          Hidup adalah pemberian dan kesempatan untuk manusia bagi Allah.

-          Kemuliaan Allah ditinggikan oleh ciptaan-Nya yang begitu baik.

V.           Refleksi

Perempuan adalah ciptaan Allah yang segambar dengan Allah. Perempuan adalah manusia yang sama seperti kemanusiaan yang dimiliki oleh Adam sebagai laki-laki suami dari perempuan itu yaitu Hawa. Allah tidak memisahkan kasih-Nya dan tidak membedakan Perempuan dan Laki-laki. Tetapi Allah memberikan tugas yang berbeda kepada tiap-tiap manusia agar manusia itu saling melengkapi. Perempuan tidak dapat melahirkan tanpa laki-laki dan laki-laki tidak dapat berketurunan tanpa perempuan. Kodrat perempuan sebagai ibu dari anak dari laki-laki adalah tugas yang diberikan oleh Allah untuk menggenapi Kejadian 1:28 yaitu beranakcucu dan bertambah banyak. Dan laki-laki sebagai ayah dari anak tersebut melakukan tugasnya pula terhadap istrinya perempuan untuk melengkapi segala keperluannya untuk melahirkan dan bertambah banyak. Dengan peristiwa tersebut, ketika laki-laki dan perempuan adalah satu dan bersatu maka mereka akan melahirkan juga manusia yang disebut dengan keturunan. Dan keturunan itu adalah manusia yang meneruskan kemanusiaan dari perempuan dan laki-laki tersebut.

Allah tidak menentukan derajat perempuan lebih rendah dari pada laki-laki tetapi Allah menyatakan bahwa Perempuan dan laki-laki adalah sama-sama manusia. Lalu apa yang membuat laki-laki menganggap perempuan itu adalah budak? Tentu itu adalah ide yang buruk dan pandangan yang salah. Apakah karena perempuan itu melahirkan? Apakah perempuan itu lemah? Tentu tidak. Pekerjaan yang dilakukan oleh laki-laki tentu dapat dilakukan oleh perempuan dan pekerjaan perempuan tentu dapat dilakukan oleh laki-laki. Yang tidak bisa dilakukan laki-laki yang dapat dilakukan oleh perempuan adalah melahirkan seorang anak bagi mereka. Begitu juga dengan perempuan, yang tidak bisa mereka lakukan yang dapat dilakukan oleh laki-laki adalah memberikan mereka anak untuk dilahirkan. Terlihat bahwa itu adalah perbedaan fungsi reproduksi pada manusia. Tetapi Allah memberikan laki-laki menjadi seorang pemimpin yang bukan untuk berkuasa tetapi untuk menjadi perwakilan dan pendamping dan sekaligus teman bagi perempuan.

Maka dengan hal ini kita mengetahui bahwa pandangan yang menyatakan perempuan adalah budak bagi laki-laki adalah salah dan hal itu bukanlah ajaran dari keKristenan. Kristus tidak datang untuk laki-laki tetapi bagi semua orang yang dikasih oleh Allah. Mulai dari saat ini, berhentilah memandang perempuan itu rendah dan menindasnya, jangan memperbudak perempuan karena saat kita memperbudak mereka kita sedang memperbudak dan merendahkan Allah yang maha tinggi karena perempuan adalah gambar Allah. Galatia 3:28 menyatakan bahwa “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.”

Katakan pada diri saudara/i bahwa perempuan adalah saya, dan laki-laki adalah saya dan bahwa pada mulanya kita adalah satu dan Allah menciptakan kita untuk kemuliaannya bukan untuk diri kita dan orang lain.

VI.        Kesimpulan

Penafsiran feminisme adalah pembebasan para perempuan dari tekanan-tekanan, penderitaan, dan perbudakan yang dibuat oleh laki-laki menjadi suatu aturan dalam kehidupan sosial. Kitab Yeremia adalah Kitab yang berisi pelayanan Yeremia sebagai nabi yang dipanggil oleh Allah untuk menobatkan dan membebaskan bangsa-Nya dari penderitaan. Dengan tafsiran ini, penafsir menemukan bahwa perempuan adalah manusia seutuhnya sama seperti laki-laki hidup dan berproses di bumi. Perempuan adalah gambar Allah yang maha tinggi dan ia sama dengan Laki-laki yaitu diciptakan untuk kemuliaan Allah yang maha tinggi.

VII.     Daftar Pustaka

1. Buku

Anthony C. Thiselton, New Horizons in Hermeneutics. Michigan: Zondervan Publ, 1992.

Barth, Chr., & Barth-Frommel,M.C., Theologia Perjanjian Lama 4. Jakarta: BPK-GM, 2005.

Blankenbaker, Frances Inti Alkitab Untuk Para Pemula. Jakarta: BPK-GM, 2007.

Blommendaal , J., Pengantar Kepada Perjanjian Lama. Jakarta: BPK-GM, 2020.

Bullock, C. Hassell, Kitab Nabi-nabi Perjanjian Lama. Malang: Gandum Mas, 2002.

Cochran, Pamela D. H., Evangelical Feminism: A History. London: New York University, 2005.

Fakih, Mansour, Menggeser Konsepsi Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Belajar, 1996.

Freedman, Estelle B., No Turning Back: The History Of Feminism And The Future Of Women. New York: Ballantine Books.

Hadiwadoyo, Purwa, Kamus Kitab Suci Bagi Kaum Awam. Yogyakarta: Kanisius, 2021.

Kristiyanto, Nikolas, Pengantar Kitab Nabi-nabi Perjanjian Lama. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press, 2022.

LaSor, W.S., et.al., Pengantar Perjanjian Lama 2: sastra dan Nubuat. Jakarta: BPK-GM, 2019.

Murniati, A. Nukun P., Getar Gender: Buku Pertama. Magelang: IKAPI, 2004.

Nancy, Febby & Alakaman, Marlen T., Jurnal: Aku Yang Bisu Telah Bersuara. Ambon: IAKN, 2021.

Ollenburger, Jane C., Sosiologi Wanita. Jakarta: Rineka Cipta, 1996.

Russell, Letty M. & Blackwell, Basil, Perempuan dan Tafsir Kitab suci. Yogyakarta: KANASIUS, 1998.

Saragih, Agus Jetron., Kitab Ilahi: Pengantar Kitab-kitab Perjanjian Lama (Medan: Bina Media Perintis, 2016.

Schafer, Ruth, et.al., Menggugat Kodrat Mengangkat Harkat: Tafsiran Dengan Perspektif Feminis. Jakarta: BPK-GM, 2014.

Schussler, Elizabeth Fiorenza, Untuk Mengenang Perempuan Itu. Jakarta: BPK-GM, 1995.

Simanjuntak, Hotman Parulian, Pemimpim Siapa Yang Kau Layani, Dapat Apa, Kapan Dan Bagaimana. Panglayungan: Perkumpulan Rumah Cemerlang Indonesia, 2021.

Susanti, Aya, Feminisme Radikal: Studi Kritis Alkitabiah. Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2008.

Tedjo, Tony., Anda Bertanya Saya Menjawab. Yogyakarta: ANDI, 2014.

 

 

2. Lainnya

http://journal.uinsgd.ac.id/index.php/AlBayan/article/download/1671/1421 (diakses, 09 Februari 2023).

https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/feminisme (diakses, 09 Februari 2023).

 



[1] https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/feminisme (diakses, 09 Februari 2023).

[3] A. Nukun P. Murniati, Getar Gender: Buku Pertama (Magelang: IKAPI, 2004), 7.

[4] Aya Susanti, Feminisme Radikal: Studi Kritis Alkitabiah (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2008), 11.

[5] Estelle B. Freedman, No Turning Back: The History Of Feminism And The Future Of Women (New York: Ballantine Books), 24.

[6] Ruth Schafer, et.al., Menggugat Kodrat Mengangkat Harkat: Tafsiran Dengan Perspektif Feminis (Jakarta: BPK-GM, 2014), 3.

[7] Pamela D. H. Cochran, Evangelical Feminism: A History (London: New York University, 2005), 18.

[8] Mansour Fakih, Menggeser Konsepsi Gender dan Transformasi Sosial (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 1996), 13.

[9] Cochran, Evangelical Feminism: A History, 24.

[10] Anthony C. Thiselton, New Horizons in Hermeneutics (Michigan: Zondervan Publ, 1992), 430.

[11] Febby Nancy & Marlen T. Alakaman, Jurnal: Aku Yang Bisu Telah Bersuara (Ambon: IAKN, 2021), 119.

[12] Elizabeth Schussler Fiorenza, Untuk Mengenang Perempuan Itu (Jakarta: BPK-GM, 1995), 21-23.

[13] Letty M. Russell & Basil Blackwell, Perempuan dan Tafsir Kitab suci (Yogyakarta: KANASIUS, 1998), 52.

[14] Jane C. Ollenburger, Sosiologi Wanita (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), 21.

[15] J. Blommendaal, Pengantar Kepada Perjanjian Lama (Jakarta: BPK-GM, 2020), 9.

[16] Ibid., 116.

[17] W.S. LaSor, et.al., Pengantar Perjanjian Lama 2: sastra dan Nubuat (Jakarta: BPK-GM, 2019), 305.

[18] Ibid., 306.

[19] Chr. Barth, & M.C. Barth-Frommel, Theologia Perjanjian Lama 4 (Jakarta: BPK-GM, 2005), 72.

[20] Purwa Hadiwadoyo, Kamus Kitab Suci Bagi Kaum Awam (Yogyakarta: Kanisius, 2021), 169.

[21] Frances Blankenbaker, Inti Alkitab Untuk Para Pemula (Jakarta: BPK-GM, 2007), 26.

[22] Tony Tedjo, Anda Bertanya Saya Menjawab (Yogyakarta: ANDI, 2014), 61.

[23] Hotman Parulian Simanjuntak, Pemimpim Siapa Yang Kau Layani, Dapat Apa, Kapan Dan Bagaimana (Panglayungan: Perkumpulan Rumah Cemerlang Indonesia, 2021), 51.

[24] C. Hassell Bullock, Kitab Nabi-nabi Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 2002), 260.

[25] Nikolas Kristiyanto, Pengantar Kitab Nabi-nabi Perjanjian Lama (Yogyakarta: Sanata Dharma University Press, 2022), 255-256.

[26] Agus Jetron Saragih, Kitab Ilahi: Pengantar Kitab-kitab Perjanjian Lama (Medan: Bina Media Perintis, 2016), 202.

Comments

Popular posts from this blog

TAFSIRAN KITAB 1 TESALONIKA 3:1-13 MENGGUNAKAN METODE KANONIKAL

Teologi PL: ARTI DAN MAKNA FORMULASI BERKAT MENURUT KITAB BILANGAN