Liturgika: Unsur-unsur Liturgi
Unsur Liturgi. Misalnya: Votum, Salam, Introitus, Pengakuan Dosa, dll.
Pada
umumnya tata kebaktian gereja-gereja yang ada di Indonesia adalah warisan dari
para Zending yang berasal dari Gereja-gereja di Eropa. Misalnya, Gereja
Lutheran di Belanda dan Jerman memulai dengan votum dan diikuti dengan
pengakuan dosa, permohonan penganpunan dosa dan juga berita anugerah, dst.
Menurut Abineno,
ada 7 unsur pokok dalam liturgy yaitu: 1) votum (didalamnya salam dan
introitus), 2) pengakuan dosa, pengampunan dosa, petunjuk hidup baru, 3)
Pemberitaan Firman, 4) respon atas
jawaban umat dalam bentuk pengakuan iman, persembahan syukur 5) Doa syafaat 6)
Pengutusan, 7) Berkat.
1)
VOTUM
Votum dan salam merupakan kebiasaan yang berasal
dari gereja Belanda. Misalnya, Calvin dalam pemberitaan Firman memulai dengan
pertolongan kita adalah dalam nama Tuhan yang menjadikan langit dan bumi, Maz
124:8. Kebiasaan itu membuat sinode Dordrecht mewajibkan pemakaian votum dalam
kebaktian.
Votum artinya:
·
Votum adalah pernyataan Allah bahwa Ia ada dan bersedia
menerima kita
· janji yang hikmat, melalui
votum jemaat mendapat sifatnya yang khusus dan di bedakan dengan
pertemuan-pertemuan lain.
· Janji Kristus adalah dimana
dua tiga orang bekumpul dalam namaNya ia hadir.
· Votum bukan doa permulaan
ibadah.
Votum
bertujuan untuk mengundang kehadiranTuhan Allah di tengah umat, sehingga votum
di ucapakan pada permulaan kebaktian. Votum diucapkan pelayan sesudah pelayan
memasuki ibadah. Dalam votum terletak amanat kuasa Allah.
Sesuai keputusan sinode Dordrecht gereja
Nederland dan Indonesia memakai rumus votum “pertolongan kita adalah
dalam nama TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi” (Maz 124:8) atau juga Matius
28:19 sebagai rumus votum,”dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudu.
2)
SALAM
Salam
berasal dari PB,penulis-penulis Pb mengadopsi dari ibadah Yahudi. Salam adalah
“selamat-selamatlah engkau”( 1 sam 25:6; 1 taw 12:18). Dalam abad pertengahan
salam dipakai dalam tiga tempat: sebelum kolekta, sebelum prefasi, sebelum
bubar. Salam adalah:
· tanda persekutuan dimana
pelayan memberi salam kepada jemaat bahwa Allah Bapa dan Yesus Kristus dan Roh
Kudus mengaruniakan anugerah dan sejahtera kapada umat-Nya.
· Usaha mendapatkan kontak,
dimana Tuhan mengadakan persekutuan dengan jemaat (Roma 1:7)”
3)
INTROITUS
Introitus,yaitu terdiri dari nyanyian masuk dengan
atau tanpa nats pendahuluan. Gereja katolik Roma pada saat ini berusaha
memulihkan kembali nyanyian introitus,dengan maksud supaya jemaat turut aktif
menyanyikannya terlebih dahulu. Sebab introitus pengertiannya adalah nyanyian
jemaat. Liturgi gereja lama memulai ibadahnya dengan nyanyian yang disebut
Inressa/officium, yang pada saat ini dikenal dengan nama Introitus. Pada saat
sekarang gereja Katolik Roma berusaha memulihkan pemakaian introitus. Pada prakteknya
pemakaian introitus kurang mendapat perhatian dari jemaat. Sehingga lama
kelamaan menjadi hilang. Gereja gereja Lutheran di Jerman pemakaian Introitus
dengan menyanyikan secara Gregorian oleh paduan suara. Yang terdiri dari
Gregorian besar dan kecil
Leikerker
mengatakan pembedaan antara votum dan salam tidak benar. Bentuk salam yang
paling sederhan “Tuhan kiranya menyertai kamu di jawab oleh jemaat dengan dan
menyertai rohmu”. Introitus tidak bisa di hilangkan karena berhubungan dengan
nas khotbah. Liturgi gereja lama memulai ibadahnya dengan nyanyian yang disebut
Inressa/officium, yang pada saat ini dikenal dengan nama Introitus. Pada saat
sekarang gereja Katolik Roma berusaha memulihkan pemakaian introitus. Pada
prakteknya pemakaian introitus kurang mendapat perhatian dari jemaat. Sehingga
lama kelamaan menjadi hilang. Di beberapa Gereja, Introitus dibaca sebuah nas
seperti:
1. Minggu reminiscere: mengikuti kata pertama dalam
bahaa latin dari Mazmur 25:6 . 26
2. Minggu Okuli : mengikuti kata pertama dalam bahasa
latin dari Mazmur 25: 16
3. Minggu Kantate : mengikuti minggu pertama dalam
bahasa latin dari Mazmur 98 :1a
Setelah dibaca maka disambut jemaat dengan rasa sukacita
jemaat atas kemurahan Tuhan yang telah menerimanya masuk kedalam persekutuan ,
maka setelah pembacaan introitus , jemaat menyambut dengan menyanyikan “
Haleluya, Haleluya, Haleluya.” (bahasa Ibrani, berarti : Pujilah Tuhan).
Nyanyian haleluya ini menumbuhkan sikap memuji Tuhan dari segenap hati, yang
tidak akan pernah berkesudahanGereja gereja Lutheran di Jerman pemakaian Introitus
dengan menyanyikan secara Gregorian oleh paduan suara. Yang terdiri dari
Gregorian besar dan kecil.
4)
Doa Pembuka/Kata Pembuka (Invocation) : doa permohonan kepada Tuhan
yang menghanarkan umat kepada Tuhan. Doa ini berisi permohonan untk pimpinan,
tuntutan, sentuhan dan petunjuk Tuhan. Doa pembuka memuat petunjuk tentang tema
yang berhubungan dengan tahun gereja dan penekanan khusus lainnya. Misalnya,
penekanan akan tema, nas pendahuluan.
5)
PENGAKUAN DOSA,PEMBERITAAN ANUGERAH DAN PETUNJUK HIDUP
BARU
Ketiga unsur ibadah ini ada sejak abad pertengahan.
Pengakuan dosa awalnya adalah doa pribadi para imam dan konfensi yang diucapkan
oleh anggota-anggota jemaat. Pada akhir abad pertengahan ketiga unsur ini mulai
dipakai dalam kebaktian
Setiap orang yang datang beribadah adalah orang
berdosa. Oleh karena itu memerlukan anugerah pengampunan dari Allah. Abad-abad
pertama tata kebaktian reformatoris menempatkan pengakuan dosa sebelum dan
sesudah khotbah. Sejak reformasi dimasukkan pengakuan dosa dan permohonan
pengampunan dalam kebaktian. Pengakuan dosa merupakan bagian yang sangat
penting dari kebaktian dan tidak boleh di tiadakan. Rumus yang digunakan untuk
pengakuan dosa bermacam macam bentuknya ada yang langgsung dikutip dari Alkitab
mis: Mzm 25:21, Yes 59:12-13,63, Roma 7. Dan ada juga yang disusun oleh
gereja sendiri, mis: gereja Calvinis,Lutheran dan Anglikan. Doa
pengakuan dosa dimulai dengan doa pengakuan umat secara pribadi. Setelah umat
melakukan pengakuan dosa maka menyusul pemberitaan anugerah. Rumus pemberitaan
anugerah yang biasa dipakai adalah sebagai hamba Yesus Kristus saya (kami)
memberitakan pengampunan dosa kepda tiap tiap orang yang dengan
tulus ikhlas telah mengaku daosanya di hadapan Allah. Dan diikuti oleh petunjuk
hidup baru yang dipakai dalam ibadah pada abad pertengahan (Kel 20:1-17).
6)
NYANYIAN
PUJIAN
Nyanyian
pujian dipakai sesudah pemberitaan anugerah dan petunjuk hidup baru. Dalam
abad-abad pertama,Ignatius (1150 memulihkan kembali pemakaian responsorial
antara pelayan dan jemaat atau antara anngota paduan suara. Pada abad
pertengahan Paus Gregorius I (± 600)memasukkan cara menyanyi Gregorian kedalam
ibadah jemaat. Dalam abad sebelum reformasi nyanyian jemaat disalah gunakan
oleh gereja,oleh pengaruh Roma nyanyian jemaat diberikan kepada paduan-paduan
suara yang terdiri dari para Imam.pada waktu reformasi para Reformator,terutama
Luther dan Calvin. Sesudah reformasi,nyanyian jemaat terus berkembang.tema dan
isinya tidak tetap. Mula-mula berhubungan dengan perjuangan. DiIndonesia hamper
setiap gereja mempunyai buku nyanyian sendiri,dalam bahasa Indonesia atau
bahasa daerah
Gerakan
liturgia mengatakan bagaimana cara nyanyian yang seharusnya di nyanyikan oleh
jemaat: tiap nyanyian merupakan satu kesatuan.
7)
DOA,PEMBACAAN ALKITAB,KOTBAH
Doa untuk memohon
kedatangan Roh Kudus agar Firman Allah dapat di beritakan dan didengar dengan
baik. Para pemimpin gerakan liturgia menekankan doa sebelum pemberitaan Firman
Allah tidak sama dengan doa syafaat.
Pembacaan alkitab merupakan unsur yang tetap dalam
kebaktian gereja. Ini kita temui dalam kebaktian di Sinagoge. Disana dibacakan
kitab Taurat dan kitab Nabi- nabi. Kebiasaan ini di adopsi pada zaman
Perjanjian Baru. Pada saat ini gereja mengikuti kebiasaan pada abad-abad
pertama dan membacakan baik dari Perjanjian Lama maupun dari Perjanjian Baru.
Dalam abad-abad pertama pembacaan Alkitab dilakukan oleh seorang pembaca
(anagignoskon, lektor). Pembacaan Alkitab biasanya di akhiri dengan
“berbahagilah orang yang mendengar Firman Allah dan yang memeliharanya”.
Haleluya. Haleluya berasal dari ibadah Yahudi. Haleluya biasanya dinyanyikan
pada hari raya paskah. Unsur ini dalam Perjanjian Baru kita temui dalam Wahyu.
Dalam abad pertengahan haleluya banyak sekali dipakai terutama dalam
liturgi-liturgi misa. Pemakaian haleluya juga banyak dipakai setelah pembacaan
surat-surat, nyanyian dan pengakuaan dosa. Tetapi kebanyakan gereja memakaianya
detelah pembacaan Alkitab.
Ibadah Protestan berpusat
pada pemberitaan Firman. Tuhan menyapa umat melalui pemberitaan Firman Tuhan,
Tuhan yang member Firman kepada jemaat.Tuhan hadir dalam ibadah dan bertindak
dalam Firman-Nya, sehingga setiap pemberitaan Firman Tuhan kepada manusia
(Khotbah) adalah penyampaian maksud dan kehendak Tuhan kepada manusia. Kotbah
berisi pesan Firman Tuhan, bukan pesan pengkhotbah. Dalam berkotbah sebaiknya
15-20 menit yang berisi membangun kehidupan dan iman jemaat.
8)
Respon Umat atas
Firman
Tuhan.
a)
PENGAKUAN IMAN
Dalam abad abad pertama pengakuan iman ada
hubungannya ke Baptisan. Orang-orang yang dibaptis menjawab soal-soal yang
ditujukan kepada mereka dengan “Aku percaya” dan sesudah itu mereka diselamkan
kedalam air. Sesudah pelayanan Baptisan, mereka diurapi
dan diberkati dan dipakaikan baju putih. melambangkan
kegembiraan dan kesucian. Dari tempat baptisan mereka masuk kedalam gereja
untuk turut mengambil bagian dengan anggota-anggota jemaat yang lain dalam
perayaan perjamuan kudus. Mulai abad ke 5 pengakuan iman dipakai oleh
gereja-gereja bagian Timur, (Antiokhia dan Konstantinopel). Pada masa
Reformasi, pemakaian pengakuan iman tempatnya tidak tetap, kadang sebelum dan
sesudah khotbah. Luther menempatkanya sebelum khotbah. Sedangkan Calvin
menempatkanya sesudah khotbah. Pengakuan iman yang sering dipakai dalam ibadah
adalah pengkuan iman Rasuli, pengakuan iman Nicea, pengakuan iman Athanasius.
Dan yang sering dipakai oleh gereja adalah Pengakuan Iman Rasuli. Pengakuan Iman
dikrarkan dimana jemaat perlu bangkit berdiri sebagai gtanda
kesediaannya untuk membaktikan diri dalam pelayanan Tuhan.
Pengakuan iman adalah respon umat tentang siapa
Tuhan yang memberi pengampunan dosa dan Firman-Nya serta pernyataan kepercayaan
umat di dalam pergumulannya dengan realitas dunianya dimana Allah adalah sumber pertolongan dan
keselamatan yang tidak meninggalkan umat-Nya dalam pergumulannya. Pengakuan
iman berisi eskhatologis.
b)
Persembahan Syukur
Mengadopsi dari gereja PL. Pada zaman PB
persembahan dianggap “diakoni” jemaat dikumpulkan oleh
diaken-diaken (pelayan-pelayan meja,kis 6:2),lalu pemberian-pemberian itu
dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin. Digereja barat persembahan “korban”
(yang dibawa kemezbah oleh pelayan dan anggota jemaat) dianggap sebagai sesuatu
yang penting.terutama dijemaat-jemaat besar,akta persembahan diiringi dengan
suatu kidung (mazmur). Sekarang ini sebutan persembahan berubah menjadi
kolekte,tetapi Van Der Leeuw tidak menyetujui istilah kolekte,karena
persembahan merupakan hal yang esensial didalam ibadah. Mempersembahkan korban
berarti kita mempersembahkan diri dan hidup kita dalam ibadah
c)
Doa Syafaat
Yustinus Martyr menempatkan doa syafaat
sesudah pemberitaan Firman. Sementara Zwingli menempatkan doa syafaat
untuk orang-orang hidup dan peringatan akan orang-orang mati dalam iabdah
pemberitaan Firman. Calvin menempatkan doa syafaat setelah khotbah. Kebiasaan
Calvin itu terus dipakai sampai sekarang. Doa syafaat (Sofetim: Ibr) adalah doa
umat bagi gereja, dunia serta doa pergumula. Umat memohon pengasihan dan
pemulihan Allah agar dunia yang tercemar dapat dipulihkan, keadilan Allah
ditegakkan, kasih-Nya dinyatakan di tengah-tengah dunia. Teologi doa syafaat
berasal dari kitab Hakim-hakim. Hakim-hakim adalah para juru syafaat yang
mendamaikan manusia dengan Allah dan membebskan umat Allah dari para penindas
bangsa lain. Hakim-hakim adalah orang-orang yang diangkat Allah untuk menjadi
perantara hubungan Tuhan dan Israel yang berdosa.
Menurut Golterman sendiri doa syafaat dan doa bapa
kami harus didahului dengan salam doa dengan rumus ”Tuhan menyertai kamu”.
Gerakan Liturgia sangat menekankan pemakaian formulir doa untuk doa syafaat
sebab para pelayan tidak mempunyai charisma khusus untuk berdoa.
Dalam Perjanjian Baru kita temui dua sikap doa
yaitu berdiri dan berlutut. Berlutut sambil berdoa masih dipertahankan sampai
sekarang yang dipengaruhi oleh kebiasaan Katolik Roma yaitu penyembahan
terhadap tubuh dan darah Kristus dalam hosti. Sikap doa syafaat dapat dilakukan
dengan berdiri dan berlutut,
9)
BERKAT
Berkat telah kita kenal dan ditemui dalam PL. yang
terkenal adalah berkat Harun (Bil 6:22-27). Rumus-rumus yang dipakai umumnya
adalah: BAPA-ANAK-ROH KUDUS . Berkat diucapkan
dengan tangan terulur.
Berkat
adalah pemberian Tuhan yang diberikan kepada jemaat melalui pelayanan (imam)
kepada jemaat. Para pemimpin gerakan Liturgia mengusulkan isi berkat adalah:
·
2 Kor 13;13”kasih karunia Tuhan Yesus kristus dan kasih Allah,dan
persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.
·
Bil. 6: 24-26,” Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau.Tuhan
menyinari enkau dengan dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia.tuahn
menghadapkan wajanNya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera ”. atau
memakai rumus yang diapakai oleh gereja lama “ kiranya Allah yang Maha
kuasa,Bapa,Anak dan Roh Kudus,memberkati kamu “
Berkat
diucapkan dengan tangan yang terulur dan “ telapak tangan mengahdap kebawah “.
Jemaat menerima berkat sambil berdiri, “dengan kepala yang tertunduk “. Sebagai
jawaban atas berkat itu,jemaat mengucapkan Amin! Amin!Amin!
Umat
beribadah telah mengalami perjumpaan dengan realitas anugerah Allah dan juga
Firman Allah, sehingga jemaat diutus untuk bersaksi tentang Tuhan dalam
kehidupan sehari-hari.
Comments
Post a Comment