SEJARAH GEREJA: GERAKAN PIETISME DAN DAMPAKNYA BAGI GEREJA DAN MASYARAKAT

GERAKAN PIETISME DAN DAMPAKNYA BAGI GEREJA DAN MASYARAKAT

I.                   Pendahuluan

Pada abad ke-17 gereja-gereja Lutheran bergerak kaku, dingin, tidak bergairah, dan telah mengabaikan kesalehan batin. Hal-hal tersebut menjadi suatu anggapan bahwa ada sesuatu yang aneh dalam ajaran gereja-gereja reformasi tersebut. Penyebabnya dikarenakan para tokoh-tokoh reformasi lebih memprioritaskan pembinaan melalui pengajaran dan khotbah agar reformasi berhasil menghadapi kontra reformasi. Sikap-sikap tersebut tidak memperhatikan keadaan para pengikutnya (Lutheran) miskin iman dalam Kristus. Padahal diabad 17 terjadi penderitaan di tengah masyarakat. Jemaat menginginkan gereja sebagai pendamai, spontan dan beriman. Timbullah sebuah kritik dari Philipp Jakob Spener tokoh gerakan Pietisme atau kerap juga disebut bapak Pietis di Jerman yang menyatakan bahwa kekristenan yang sejati tidak hanya mencakup kepercayaan terhadap ajaran tetapi pengalaman akan Roh Kudus dalam pertobatan dan hidup yang baru. Konsentrasi gereja hanya menerima ajaran (ortodoksi) yang dibuat oleh Luther tetapi tidak hidup dengan iman dalam Yesus Kristus. Atas kekurangan dan ketidakpuasan tersebutlah yang menjadi faktor awal terjadinya gerakan Pietisme pada Abad ke-17 hingga abad ke-18.

II.                Pembahasan

2.1. Latar Belakang

Pada abad ke-17 ditemukan bahwa ada sesuatu yang tidak beres di dalam ajaran Lutheran. Pada masa itu terjadilah pembaptisan terhadap semua warga negara di sekitar wilayah Lutheran pada saat masih dalam keadaan bayi, ketika mereka dibaptis mereka telah disebut mengalami yang disebut dengan “lahir kembali”, sehingga dengan anggapan tersebut masyarakat di wilayah Lutheran pun menjadi Kristen.[1] Namun meskipun mereka telah mendapat didikan dari ajaran Luther dengan kata lain telah menjadi anggota gereja Lutheran, iman yang mereka miliki masih tergolong sedikit atau tidak memiliki iman yang kuat. Gereja diperintah  oleh raja-raja sehingga mimbar di gereja digunakan sebagai tempat untuk memberitahukan keinginan raja yang menyebabkan tidak ada fokus atau konsentrasi khusus dalam melayani Allah saja tetapi juga raja-raja penguasa.[2] Akibatnya, Lutheran saat itu kehilangan suara dan tidak bereaksi terhadap kemelaratan umat serta kepincangan-kepincangan sosial.[3]

Untuk menemukan asal usul gerakan Pietisme lebih jelas lagi maka penyaji juga membahas sedikit peristiwa peperangan selama tiga puluh tahun (1618-1648). Peperangan tiga puluh tahun itu adalah perjuangan besar terakhir Eropa atas agama, dengan selesainya perang itu kaum Katolik Roma dan kaum Lutheran bermusuhan, ironisnya mereka justru telah melupakan pokok permasalahan simbolis yang menyebabkan mereka berperang. Para tentara korban perang dijarah dan dihancurkan di Eropa Utara, dan sepuluh juta dari enam belas juta pendidik Jerman itu dibunuh. Seluruh kota dihancurkan, dan hampir tidak ada satu pun yang dibiarkan tanpa cedera, anak-anak yatim piatu menjelajahi hutan dalam gerombolan seperti binatang liar. Kehidupan religius dan intelektual mengalami stagnasi.[4] Inilah sebuah perang yang dilatar belakangi oleh agama, tetapi ternyata menghancurkan semua nilai-nilai agama. Budaya manusia hancur, moral merosot, dan banyak gedung gereja yang ditutup. Perang ini diakhiri dengan Perjanjian Munster sebagai bagian dari perjanjian damai Westphalia pada tahun 1648,[5] tetapi akibat perang itu dalam semua bidang kehidupan ternyata sangat fatal. Banyak desa-desa yang musnah, rumah -rumah dan kebun dibakar. Penyakit merajalela, uang kehilangan nilainya, sadisme ditemukan di mana-mana, mabuk-mabukan dan pelacuran adalah hal yang biasa.[6] Di tengah-tengah kemerosotan moral dan kemelaratan akibat perang tiga puluh Tahun, gereja-gereja Lutheran tidak mempunyai sarana untuk mengisi atau mengatasi keadaan itu. Karena waktu mereka hanya dihabiskan untuk dabat-debat dan polemik menyangkut agama, maka wajar kalau ada semacam kekosongan di kalangan umat, seperti kebutuhan untuk hidup saleh, bermoral, lahir baru, pertobatan dan lain-lain.[7] Pada peristiwa itulah saat-saat lahirnya Pietisme di tengah gereja Lutheran.

Pietisme adalah gerakan yang timbul sekitar tahun 1675 pada gereja-gereja Lutheran. Kata pietis berasal dari kata pietas artinya kesalehan. Kata Pietisme adalah sebutan ejekan kepada orang-orang yang menekankan bahwa iman Kristen harus terlihat dalam kehidupan yang saleh.[8] Pietisme berkembang di Jerman dengan tokohnya Philip Jacob Spener (1705) dan muridnya August Hermann Francke (1727).[9] Gereja-gereja menekankan ajaran gerejawi tetapi kurang memperhatikan kehidupan jemaatnya. Kaum Pietisme ingin ajaran pokok Luther yang dengan rajin diberitakan dari mimbar, harus menjadi nampak dalam tingkah laku yang mencerminkan kelahiran baru. Dalam ajaran Luther kurang ditekankan bahwa percaya tidak hanya berarti memiliki pemahaman yang benar, melainkan juga hati atau sikap yang benar, yang hanya diperoleh melalui pertobatan total.

Dalam “manifesto” Pietisme, tulisan Pia desideria (kehendak saleh) yang diterbitkan Phipipp Jakob Spaner (1635-1705) pada tahun 1675 yang berisikan sebuah program pembaharuan, diusulkan bahwa anggota-anggota gereja rakyat yang sungguh-sungguh mau hidup dari iman dan bersama-sama mau bertumbuh dalam iman melalui penelaahan Alkitab, membentuk kelompok-kelompok, sebagai gereja-gereja kecil yang dibentuk secara sukarela oleh orang-orang percaya, di dalam struktur gereja rakyat (ecclesiolae in ecclesia). Dengan demikian eklesiologi “gereja bebas” dipergunakan untuk membentuk sel-sel kehidupan gerejawi yang aktif, untuk membangkitkan kehidupan gereja rakyat yang telah menjadi suam karena terlalu sibuk dengan hal-hal seperti tata gereja atau teologi ilmiah yang hanya memuaskan akal tetapi tidak menyentuh hati.

Cita-cita Pietisme pada dasarnya tidak lain dari apa yang diharapkan oleh para reformator, yaitu bahwa anggota-anggota gereja rakyat sungguh-sungguh percaya dan hidup dari pengampunan dosa yang telah diperoleh dan secara sukarela melakukan apa yang diperintahkan Allah. Namun dalam usaha Pietisme untuk membenahi gereja rakyat yang terlalu menekankan segi obyektif gereja, segi subyektif mendapat begitu banyak perhatian sehingga cenderung menjadi berat sebelah (seperti terjadi dalam kelompok-kelompok Pietis radikal). Penekanan pada penghayatan iman membawa bahaya bahwa, demi segi emosional iman, segi intelektual diabaikan. Penekanan pada pergumulan dengan dosa, yang dianggap perlu untuk penerimaan sungguh-sungguh pengampunan dan kasih karunia, dapat menyebabkan bahwa cara pertobatan diatur sebagai hukum baru seakan-akan manusia yang telah lahir kembali menentukan segala sesuatu dan bukan Kristus. Jelas bahwa definisi dari program ini adalah gerakan pembaharuan di dalam gereja.

2.2. Corak Pietisme

a.       Pietisme menganggap bahwa tidak cukup hanya dengan menerima, mempercayai dan mengetahui bahkan melengketkan ajaran yang benar dikepala seperti dilengketkan lem Fox. Akan tetapi ajaran ini harus diterima dengan kesalehan dalam hati, dijiwai dengan seluruh kepribadian dan menghasilkan kehidupan saleh. Hal ini berarti bahwa ditekankan pengalaman keselamatan yang bersifat pribadi yang dianggap hasil pekerjaan Roh Kudus.[10] Praxis pietatis (praktek kesalehan) sangat penting untuk Pietisme. Perhatian untuk pengudusan atau penyucian hidup sebagai tindak lanjut untuk pembenaran orang berdosa sangat besar. Ciri praxis pietatis antara lain bahwa orang-orang Pietis cenderung menjauhkan diri dari apa yang digemari oleh orang banyak. Sering kali dikatakan bahkan bahwa mereka melarikan diri dari pergaulan masyarakat, tetapi itu pada umumnya tidak benar. Sambil ikut serta dalam kehidupan masyarakat, bahkan sampai sangat berperan di dalamnya (khusus pendidikan, pekerjaan sosial) mereka hidup sederhana dan menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat mendatangkan dosa.

b.      Tekanan pada pengalaman iman pribadi tidak menyebabkan orang-orang Pietis suka menyendiri, tetapi justru mendorong mereka untuk mencari bentuk-bentuk persekutuan yang dapat menyokong iman pribadi. Dimana-mana mereka membentuk kelompok-kelompok yang terdiri atas orang-orang dengan keinginan dan semangat iman yang sama, yang saling mendukung dalam iman, bersama-sama menelaah Alkitab dan bersama-sama melakukan perbuatan-perbuatan kasih di bidang sosial, pekabaran Injil dan sebagainya. Kelompok-kelompok ini (perkumpulan kecil), yang pada umumnya tidak dimaksudkan sebagai saingan untuk gereja rakyat, tetapi melihat diri sebagai gereja kecil dalam gereja (ecclesiola in ecclesia). Namun terjadi perpecahan-perpecahan, khusus di kalangan Pietisme radikal yang memandang dunia sebagai tempat yang penuh dosa dan derita dan sifatnya sementara, sementara surga merupakan tempat dimana mereka akan terbebas selamanya dari semua dosa dan derita, karena itu mereka sering cenderung menjauhi dunia dan kurang memperhatikan kepentingan-kepentingan jasmani yang sifatnya fana serta mengarahkan pandangan mereka sepenuhnya ke surga baka dengan penekanan pada usaha kesalehan.[11]

c.       Kritik terhadap gereja rakyat bahwa tidak cukup memperhatikan iman pribadi anggota-anggota gereja, yang menjadi nampak dalam kebiasaan untuk membaptis semua anak, tanpa mempedulikan kesalehan orang tua, dan untuk menerima semua orang pada meja Perjamuan yang tidak secara terbuka melanggar disiplin gereja. Lebih lagi gereja-gereja rakyat terlalu sibuk dengan hal-hal formal, seperti tata gereja, rumusan-rumusan ajaran. Juga kehidupan beribadah dalam gereja rakyat terlalu diatur dengan rumusan-rumusan doa dan liturgi yang wajib. Orang-orang Pietis juga berpendapat bahwa gereja rakyat telah menjadi gereja pendeta, yaitu bahwa para pendeta terlalu mendominasikan kehidupan gereja.

2.3. Pietisme di Jerman

Awal Pietisme Lutheran di Jerman biasanya dihubungkan dengan terbitan buku Pia Desideria (Keinginan-keinginan saleh) pada tahun 1675 oleh Philip Jakob Spener (1635-1705). Dalam tulisan ini Spener memberi suatu program untuk memperbaiki keadaan gereja Lutheran di Jerman. Dalam program ini antara lain ditekankan penelaahan Alkitab dalam kelompok-kelompok kesalehan (collegia pietatis). Juga dicita-citakan suatu pembaharuan pendidikan pendeta, supaya para calon pendeta tidak hanya mampu bertengkar tentang ajaran, tetapi juga mampu untuk membina anggota-anggota jemaat dalam praktik iman. Dalam khotbah-khotbahnya Spener membina anggota-anggota jemaatnya dalam kehidupan sesudah kelahiran baru, supaya mereka memperlihatkan tanda-tanda orang Kristen yang telah lahir kembali. Ia juga memikirkan apa yang harus dibuat gereja sebelum kedatangan Kerajaan Allah, yaitu pembaharuan kehidupan masyarakat, penyatuan kembali gereja-gereja Protestan dan pekabaran Injil.

August Hermann Franckle (1663-1727) sangat penting untuk sejarah Pietisme karena ia memberi bentuk nyata kepada program Pietisme yang antara lain digariskan oleh Spener. Dalam kota Halle, yang menjadi salah satu pusat Pietisme Lutheran Jerman, ia mendirikan bermacam-macam lembaga yang melakukan sebagian dari program Pietis, seperti panti asuhan, sekolah, apotik, dan lembaga Alkitab, yang menyebarkan Alkitab dengan harga murah. Fakultas teologi universitas Halle diatur sesuai dengan cita-cita Spener. Lembaga-lembaga yang didirikan Francke dibentuk untuk mempengaruhi seluruh masyarakat negara bagian Prusia dengan Pietisme.

Semua kegiatan sosial yang dilakukan Francke harus dilihat dalam terang pemahaman Pietis tentang tugas gereja menjelang kedatangan Kerajaan Allah, yaitu menciptakan suatu dunia yang lebih baik dan yang lebih mencerminkan kehendak Allah. Berkaitan dengan itu Francke juga melibatkan diri dalam suatu bidang yang sebelumnya kurang diperhatikan oleh gereja-gereja Protestan, yaitu pekabaran Injil. Dari Halle diutus kedua pekabar Injil Pietis yang pertama, yang bekerja di India.

Semangat untuk mengabarkan Injil menjadi corak utama untuk golongan Pietis yang lain di Jerman, yaitu golongan yang berasal dari Nikolaus Ludwig Graf von Zinzendorf (1700-1760) dan pemukimannya, yang diberi nama Herrnhut (Perlindungan Tuhan). Inti pemukiman Herrnhut adalah kelompok saudara-saudara Moravia, yang telah melarikan diri dari Cekoslowakia karena penghambatan. Dalam kesalehan Zinzendorf tidak seperti Spaner dan khususnya Francke mengutamakan pertobatan, tetapi hubungan kasih antara orang percaya dengan Kristus mewarnai juga pekabaran Injil yang dilakukan oleh pengikut-pengikut Zinzendorf. Tujuan pekabaran Injil adalah membawa Kristus, bukan ajaran Kristen.

Semangat untuk mengabarkan Injil membawa Zinzendorf dalam kesulitan dengan gereja setempat tentang tata gereja. Oleh karena itu ia menjadikan kelompok saudara-saudara Moravia induk untuk gereja baru, yang bersikap terbuka terhadap gereja-gereja Protestan yang ada dan yang mengutamakan pekabaran Injil.

Karena propaganda Zinzendorf, juga di gereja-gereja lain mulai timbul keinginan untuk mengabarkan Injil, antara lain di Negeri Belanda. Akhirnya gereja-gereja tidak melibatkan diri, tetapi banyak anggota gereja mulai tertarik untuk memberi sumbangan untuk pekabaran Injil dan mendukung Saudara-saudara Herrnhut dan kemudian juga perhimpunan-perhimpunan untuk pekabaran Injil yang mulai dibentuk pada tahun 90-an abad ke-18.

2.4.Pietisme di Belanda

Gerakan yang disebut Reformasi yang lebih lanjut (Nadere Reformatie) dan yang merupakan gerekan Pietisme di Negeri Belanda, dipengaruhi oleh Puritanisme Inggris. Ditekankan bahwa iman tidak hanya terdiri atas kesediaan untuk menganut ajaran yang benar, tetapi juga atas usaha untuk hidup sesuai kehendak Allah. Dalam tekanan pada kesucian hidup, yang adalah ciri khas Protestanisme Reformed (Calivinis), para tokoh Puritanisme Inggris dan Pietisme Belanda tidak hanya memperhatikan segi lahiriah, yaitu tingkah laku yang diatur menurut perintah-perintah Allah. Juga diberi perhatian kepada segi batiniah, yaitu sikap yang  benar terhadap Allah, singkatnya kesalehan.

Sama seperti Puritanisme di Inggris, Pietisme di Negeri Belanda banyak memakai hukum-hukum Perjanjian Lama sebagai patokan hidup. Walaupun akar untuk itu dapat ditemukan dalam teologi Calvin, yang menganggap hukum Tuhan pedoman untuk cara hidup orang Kristen sesudah pembenaran, dapat dikatakan bahwa kesalehan Puritan dan Pietis Belanda secara khusus diwarnai Hukum Taurat. Hal ini jadi jelas dari cara hari Minggu dirayakan. Di sini petunjuk-petunjuk untuk sabat sangat diperhatikan, umpamanya larangan-larangan untuk melakukan pekerjaan. Juga kehidupan masyarakat menurut kaum Puritan dan Pietis Belanda perlu mencerminkan hukum Taurat.

Kesalehan batin di kalangan-kalangan Pietis di Belanda ikut ditentukan oleh diskusi mengenai predestinasi yang menggoncangkan dunia Calvinisme sejak sekitar tahun 1600. Secara singkat saja, ajaran tentang predestinasi mengatakan bahwa Allah sebelum segala zaman menentukan siapa yang akan diselamatkan dan siapa tidak. Kesalehan Pietis di Belanda dikaitkan dengan ajaran ini. Orang mulai mencari dalam diri sendiri tanda-tanda bahwa mereka dipilih oleh Allah, seperti iman yang sungguh, dan juga tanda-tanda kelahiran baru, seperti pertobatan, hidup yang suci. Dalam kelompok-kelompok orang saling membantu untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah dan memperkuat iman.

Berkaitan dengan pergumulan tentang tanda-tanda keterpilihan muncul kebiasaan untuk tidak ikut serta dalam Perjamuan Kudus. Perjamuan Kudus, menurut orang-orang Pietis, hanya dapat diikuti oleh orang yang sungguh-sungguh yakin bahwa ia terpilih. Jarang orang mencapai kepastian ini. Pemimpin-pemimpin Pietisme menolak kecenderungan untuk menghindari Perjamuan Kudus, tetapi mendorong anggota-anggota gereja untuk memeriksa diri sendiri dengan baik. Ditulis buku-buku untuk membantu mereka dalam pemeriksaan ini, yang menguraikan tanda-tanda kemajuan dalam kehidupan iman.

Pietisme Belanda tidak bersikap kritis terhadap ajaran Calvinis yang berlaku di gereja Reformed Belanda, bahkan ada tokoh-tokoh Reformasi yang lebih lanjut seperti Gisbertus Voetius (1589-1676), yang juga penting sebagai guru besar teologi. Akan tetapi ditekankannya bahwa ajaran benar harus disertai dengan dan menjadi nampak dalam kehidupan saleh. Ajaran Kristen harus mendarat dalam hati, dan menurut Voetius, itu dapat terjadi kalau orang Kristen melatih diri dalam kesalehan.

Tidak semua orang Pietis mempunyai hubungan baik dengan gereja seperti Voetius. Ada pendeta-pendeta yang mengalami kesulitan dengan gereja rakyat karena kritik yang tajam atau juga karena kurang memperdulikan tata gereja. Yang terkenal di antara mereka adalah Jean de Labadie (1619-1674), yang berasal dari Perancis dan sangat berpengaruh pada Pietisme Belanda. Ia akhirnya dipecat dari gereja karena membentuk kelompok-kelompok orang-orang saleh di dalam gereja. Kritiknya terhadap gereja rakyat sangat tajam. Ia menekankan bahwa orang-orang Kristen sejati harus mengumpulkan diri dalam persekutuan-persekutuan yang hidup saleh, terlepas dari jemaat biasa dan dari keramaian dunia. Gereja dalam arti benar, menurut De Labadie, hanya terdiri atas orang-orang yang secara terbukti lahir kembali. Yang terpenting dalam iman adalah bukti-bukti keterpilihan, sedangkan kebaktian, sakramen dan khotbah menjadi kurang penting.

Sumbangan Pietisme Belanda pada gereja rakyat di kemudian hari adalah nyanyian-nyanyian ini hanya dipakai di rumah dan di perkumpulan saleh, sebab dalam ibadah gereja hanya dipakai Mazmur-mazmur. Sejak abad ke-19 nyanyian-nyanyian ini juga dinyanyikan di kebaktian-kebaktian gereja.

2.5. Tokoh-tokoh Pietisme

a.       Philipp Jakob Spener (1635-1705)

Philipp Jakob Spener sebagai tokoh pertama dari Pietisme dilahirkan di Elzas tepatnya pada tahun 1635. Kemudian pada tahun 1666 ia menjadi pendeta senior di Frankfurt dan dari sinilah ia menjadi atau pendiri utama Pietisme. Spener kemudian meninggalkan Frankfurt pada tahun 1686, ketika menjadi pendeta istana di Dresden kemudian pindah ke Berlin serta menjadi pendeta disana pada tahun 1691, kemudian tepat pada tahun 1705 ia meninggal.[12] Spener menetapkan tujuannya dalam sebuah manifesto untuk pembaruan secara pietistis berjudul Pia Desideria (Hasrat Kudus) yang diterbitkan pada tahun 1675. Hasrat Kudus atau cita–cita saleh terdiri dari tiga bagian utama.

Adapun isi dari 3 pokok penting dari Pia Desideria adalah:

1.      Bagian pertama menyangkut kondisi korup di dalam gereja.

Dalam bagian ini Spener mengecam para petinggi masa itu yang menggunakan kekuasaan mereka untuk mengatur dan mengendalikan gereja. Kemudian Spener juga mengecam para pendeta – pendeta Protestan karena semua pelayanan mereka hanya dilaksanakan secara lahiriah dan memiliki makna yang sangat dangkal. Spener menekankan bahwa setiap pelayan Tuhan harus mengalami lahir baru. Terakhir Spener juga mengecam orang banyak atau masyarakat Kristen yang telah kehilangan citra kasih sehingga hanya menjadi batu sandungan bagi orang lain.

2.      Bagian kedua dari Pia Desideria sebenarnya melukiskan tentang harapan perbaikan gereja. Menurutnya keadaan gereja yang rusak pasti bisa dipulihkan kembali dengan bersandar pada janji Allah dan bukan mengandalkan kemampuan manusia. Dan ia memiliki harapan yang besar bahwa gereja mampu bekerja keras untuk bisa ideal seperti jemaat mula-mula.

3.      Bagian ketiga dari Pia Desideria adalah usul-usul pembaharuan yang diajukan oleh Spener yang terdiri dari 6 proposal. Berikut adalah Isi dari 6 proposal tersebut:

a. Suatu penggunaan firman Allah yang lebih luas.

b. Penegakan dan pelatihan secara tekun bagi kependetaan secara spiritual.

c. Kebutuhan untuk mengajar orang-orang bahwa tidak cukup hanya memiliki pengetahuan tentang iman Kristen, karena kekristenan itu lebih kepada praktek.

d. Kita harus berhati-hati bagaimana tingkah laku kita dalam kontroversi-kontroversi keagamaan dengan orang-orang belum percaya dan bidat-bidat.

e. Bahwa kepengurusan pelayanan harus ditempati oleh orang-orang yang di atas rata-rata, mereka adalah Kristen sejati dan memiliki kebijaksanaan ilahi untuk membimbing yang lain ke jalan Tuhan.

f. Khotbah harus disiapkan dengan harapan bahwa semua tujuan mereka (iman dan buahnya) dapat dicapai ketika mendengarkan dengan tingkat persetujuan yang tertinggi.[13]

Maksud Spener menuliskan program pembaharuan ini adalah bukan untuk memisahkan diri dari gereja. Harapan Spener dengan munculnya Collegia Pietatis adalah akan munculnya ecclesiola in ecclesia, yang menjadi sarana dimana gereja dapat menghayati kembali persekutuannya yang mula-mula. Spener sebenarnya tidak bermaksud memisahkan orang Kristen yang benar dan orang Kristen yang lain. Kelompok ini dimaksudkan untuk menjadi salah satu unsur penting dalam “Reformasi yang baru.” Pandangan-pandangan Spener ini sangat dilawan oleh banyak pemimpin gereja, tetapi disetujui dan digemari oleh banyak orang. Oleh karena pengaruh Spener, sekolah tinggi baru di Halle mendapat suatu fakultas teologi yang guru besarnya semua orang Pietis. Pada masa itu, Pietisme yang dikembangkan Spener membawa dampak yang cukup besar bagi orang-orang di berbagai tempat.[14]

b.      August Herman Francke (1663-1727)

Tokoh lain yang terkenal dari gerakan Pietisme secara khusus di universitas Halle adalah August Herman Francke yang lahir di Lubeck pada tahun 1663. Francke menjadi pendeta di Halle sambil merangkap pangkat guru besar atas anjuran Spener. Kehebatan Francke sudah terlihat ketika berusia 24 tahun dimana ia sudah menjadi guru besar di Universitas Leipzig. Namun ia merasa bahwa keberhasilannya itu tidak memberinya kepuasan dan kedamaian, disebabkan iman yang dimilikinya bersifat semu. Kehidupannya berubah total ketika ia mengalami lahir baru atau pertobatan yang sungguh. Karena ketika ia menceritakan pengalaman lahir barunya kepada mahasiswanya, ada sebagian dosen yang merasa tidak senang dan alhasil Francke harus meninggalkan tempat mengajarnya dan pindah ke universitas Halle.[15] Francke membuka sebuah sekolah bagi anak-anak miskin dalam satu bilik dirumahnya sendiri setelah ia mendapatkan empat ringgit dalam peti derma untuk orang miskin, ia menganggap pemberian itu adalah petunjuk dari Tuhan bahwa ia harus mengurus orang miskin. Usahanya ini kemudian mendapat perhatian sehingga dalam waktu singkat pekerjaan sosial itu berkembang menjadi “lembaga-lembaga Halle” yang mahsyur setelah mendapat tunjangan dari luar. Ada empat macam sekolah yang didirikan Francke. Pertama, The Paedagogium, yaitu sekolah khusus bagi anak-anak bangsawan. Kedua, sekolah Latin, sekolah yang menyiapkan anak-anak untuk masuk universitas menjadi pengacara, dokter, teolog dan pedagang. Ketiga, sekolah Jerman, di mana anak-anak dari rakyat biasa dapat belajar di sini. Keempat, sekolah bagi mereka yang miskin dengan biaya gratis. Bagi Francke sendiri, lembaga-lembaga yang didirikannya itu hanya sekedar alat saja, karena tujuan utamanya adalah agar anak-anak tersebut dipersiapkan untuk menjadi penginjil. Selama abad ke-18, sebanyak 60 orang murid Francke menjadi pekabar-pekabar Injil di Asia dan Amerika.[16] Disamping itu Francke juga mendirikan sebuah perkumpulan untuk menyebarkan Alkitab yang dijual dengan harga yang amat murah. Francke menginsafkan anggota-anggota gereja bahwa Tuhan mengutus mereka untuk masuk ke dalam masyarakat umum untuk memberitakan keselamatan kepada segenap rakyat dan untuk mencari yang hilang. Demikianlah Francke menjadi perintis bagi “pekabaran Injil di dalam negeri”.[17] Dalam buku Sejarah Gereja, penulis H. Berkhof juga mencatatkan pengaruh Francke yang lain.

“Juga untuk pekabaran Injil di luar negeri, Halle mempunyai arti yang besar, tatkala raja Denmark membutuhkan utusan-utusan Injil untuk daerah jajahannya di India, yakni Tranquebar di pantai Tenggara, pada tahun 1706, ia dapat memakai tenaga dua orang muda (Ziegenbalg dan Plutschau), yang telah dididik oleh Francke. Pekerjaan itu segera berkembang dan Halle menjadi pangkalan segala usaha Pekabaran Injil Jerman-Denmark di India.

Francke adalah murid dari Philip Jakob Spener, sang pencetus gerakan Pietisme. Karya-karya sosial milik Francke banyak menjadi acuan John Wesley dan kalangan Metodis dalam mengembangkan Kekristenan. Dari Halle, Pietisme menyebar ke seluruh dunia termasuk ke Amerika, sehingga secara langsung juga mempunyai banyak andil dalam Gerakan Kebangunan Rohani.

2.6. Pengaruh Pietisme

Sejak aliran ini muncul, ada berbagai dampak yang muncul dalam sejarah perkembangan gereja. Disatu sisi aliran ini membawa dampak yang positif dan di sisi lain aliran ini membawa dampak yang negatif. Adapun dampak- dampak dari aliran Pietisme ini adalah:

A. Dampak Positifnya, yaitu:

1. Adanya Pekabaran injil yang dilakukan dalam rangka harapan kedatangan kerajaan Allah.

2. Pekabaran injil yang dilakukan bersifat oikumenis, dimana ajaran yang dipegang sesuai dengan Alkitab.

3. Pusat hidup adalah firman Tuhan.

4. Setia kepada Gereja.

5. Pola kesalehan sangat ditanamkan dalam kehidupan kelompok-kelompok Kristen khususnya pada diri sendiri.

B. Dampak negatifnya, yaitu:

1. Berpikir pada manusia yang saleh itu adalah menjadi pusat hidup rohani.

2. Menimbulkan rasa semangat fanatik dan sekte-sekte kecil.

3. Menimbulkan perpisahan-perpisahan jemaat yang berbeda aliran yang dipahami.

4. Terjadinya pertikaian.

Pietisme yang bermula dari Jerman berkembang ke gereja-gereja Barat yang ada di Belanda, Inggris dan Amerika. Perkembangan Pietisme ini tidak terlepas dari tokohnZinzendorf (1700-1760 ) murid dari Francke dan seorang pemimpin jemaat di Herrnhut, yang sangat giat di bidang pekabaran Injil.[18]

Dr. Th. Van den End dalam bukunya “Harta dalam Bejana” menjelaskan bahwa :

“Zinzendorf adalah seorang bangsawan Jerman, yang dididik di lembaga-lembaga Francke di Halle. Pada tahun 1722 ia mengizinkan sekelompok orang Protestan, yang diusir dari Moravia (Cekoslovakia Tengah) oleh pihak Katolik Roma, untuk menetap ditanah miliknya. Jemaat kecil itu diberi nama Herrnhut (Perlindungan Tuhan) dan dibawah pimpinan Zinzendorf menjadi pusat kedua dari Pietisme di Jerman.

Melalui tindakan menanamkan nilai Pietisme yang dilakukan oleh Zinzendorf seperti membentuk kelompok-kelompok kecil dengan tujuan meningkatkan kehidupan rohani di Herrnhut, lewat doa dan diskusi-diskusi ini. Orang yang terharu oleh kasih karunia Allah akan merasa terpanggil memberitakannya kepada orang-orang lain, disinilah adanya hubungan yang erat antara Pietisme dan pekabaran Injil. Bahkan dikatakan setelah kematian Zinzendorf, jemaatnya yang hanya berjumlah beberapa ribu orang itu, telah mengutus 200 orang pekabaran Injil ke seberang lautan. Masih dalam buku yang sama Dr. Th. Van den End menuliskan bagaimana semangat dari jemaat yang dididik dibawah Zinzendorf mengabarkan Injil ke Amerika.

“Mereka ini menjadi betul-betul mempunyai semangat yang sama seperti Xaverius yang hanya mendapat dukungan doa dari jemaat Herrnhut tanpa latihan, tidak mengenal keadaan daerah yang dituju dan tidak menerima gaji, kecuali uang untuk ongkos perjalanan. Mereka mencari lapangan yang sukar untuk bekerja dan mereka bekerja di tengah orang Eskimo di Tanah Hijau yang dingin itu serta mereka bersedia menjadi budak bersama budak-budak di Amerika Selatan (Suriname) untuk dapat mengabarkan Injil kepada mereka.

Semasa hidupnya, Zinzendorf telah banyak mengunjungi Negara-Negara seperti Belanda, Inggris, dan Amerika. Semangat Pietisme dari Zinzendorf sangat kuat dalam hidupnya. Hal ini disebabkan karena Zinzendorf dididik dalam Universitas Halle yang memiliki suasana Pietisme. Di Belanda, Pietisme pun sangat diterima sekali oleh banyak orang. Sehingga atas anjuran dari Dr. Joh. Theodorus van der Kemp, yang telah menyaksikan terbentuknya London Missionary Society di Inggris, maka pada 1797 didirikanlah perhimpunan pekabaran Injil yang pertama di pihak Hervormd (Belanda) yaitu Nederlands Zendeling Genootschap (badan ini yang kemudian meneruskan pekerjaan pekabaran Injil VOC yang telah bubar tahun 1799).[19] Usaha gerakan Pietisme yang dilakukan oleh Zinzendorf juga berpengaruh ke Negara Inggris. Gerakan Pietisme yang dibawa ke Inggris lebih dikenal dengan istilah Revival. Pelopor Revival di Inggris ialah John Wesley (1703-1791). Peristiwa pertobatannya adalah ketika ia hendak berlayar dari Inggris ke Amerika dengan menggunakan kapal yang mengalami peristiwa yang membuat ia sangat takut akan kematian meskipun ia sudah menjadi seorang pendeta yang rajin. Kapal yang ditumpangi oleh John Wesley diserang oleh badai. Dalam kapal itu, ia bertemu dengan penumpang dari Herrnhut. Herrnhut adalah tempat yang sudah dipengaruhi oleh Pietisme oleh Zinzendorf. John Wesley merasa heran dengan orang-orang tersebut, dalam keadaan yang cukup genting, orang-orang tersebut masih bisa menyanyi, berdoa dan bergembira seolah-olah tidak takut akan bahaya badai tersebut. Keadaan kerohanian di Inggris pada waktu itu sangat memprihatinkan. Orang-orang yang mempunyai kedudukan dan yang termasuk dalam kaum cendekiawan dipengaruhi oleh

Pencerahan, sehingga mereka menghina gereja. Dalam keadaan yang seperti ini, pendeta hanya bisa menikmati kedudukannya yang nyaman tanpa memikirkan kaum miskin yang terlantar. Orang-orang miskin di Inggris tidak dipedulikan oleh gereja. Keadaan seperti ini membuat John Wesley cenderung untuk melakukan kegiatan-kegiatan sosial seperti menyediakan rumah sakit, memperhatikan kaum miskin yang terlantar, dan berbagai tindakan sosial lainnya yang mencerminkan semangat Pietisme yang sangat menekankan tindakan praksis dalam kehidupan sehari-hari. Pada saat itu banyak orang yang tidak menyukainya, hal ini menyebabkan ia keluar dari Gereja Anglikan. Akhirnya Wesley hanya berkhotbah ditempat-tempat terbuka dan pergi ke daerah yang belum terjangkau oleh Injil dengan menggunakan seekor kuda. Wesley juga mendirikan sebuah gereja yakni Gereja Methodist yang adalah sebuah ejekan bagi pengikut Wesley. Saat ini, gereja Methodisme berkembang sampai ke Amerika Serikat yang memiliki 8 juta anggota dan menghasilkan orang Methodist yang sangat berjasa dalam pekabaran Injil. Pengaruh Pietisme juga terasa di Amerika. Apalagi Amerika adalah satu daerah koloni yang baru dan merupakan tempat pelarian aliran yang mendapat hambatan di Eropa dengan mencari kebebasan beribadah. Pengaruh Pietisme di Amerika menyebabkan bangkitnya Gerakan Kebangunan Rohani yang penting sebanyak empat kali. Pada akhir abad ke-17 dan permulaan abad ke-18 adalah masa resah dan kecemasan di Amerika, dimana situasi daerah koloni ini sangat kacau dan tak menentu, sebagaimana Leonard Hale dalam bukunya “Jujur Terhadap Pietisme” menuliskan bagaimana situasi Amerika pada saat itu, demikian: “Perang diantara Negara-negara Eropa untuk memperebutkan koloni baru itu terjadi dimana-mana. Sementara itu mereka juga diserang oleh orang-orang Indian yang merasa daerahnya direbut oleh orang-orang kulit putih. Dan keadaan gereja sebelum kebangunan rohani pertama di Amerika sangat tidak menguntungkan. Gereja mengalami kehilangan pegangan.”       

Meskipun dalam keadaan yang tidak menentu ini, di Amerika telah bangkit Gerakan Kebangunan Rohani yang pertama yang di bawakan oleh Jonathan Edwards pada bulan Desember 1734. Gerakan Kebangunan Rohani ini berhasil mempertobatkan banyak orang pada saat itu. Orang-orang merasa menyesal akan dosa yang dilakukannya dan dengan tangisan mereka menjadi percaya. Peristiwa pertobatan ini tidak terlepas dari perasaan yang menekankan pengalaman bersama Allah sebagaimana aliran Pietisme sangat menekankan hal ini. Setelah kebangunan rohani yang pertama, maka di Amerika daerah Timur terjadi kebangunan rohani yang dipimpin oleh kelompok mahasiswa yang beraliran Methodist. Setelah Perang Saudara di Amerika (1861 – 1865) terjadi Gerakan Kebangunan Rohani yang ketiga yang dipimpin oleh D.L. Moody. Sesudah Perang Dunia yang kedua terjadilah Gerakan Kebangunan Rohani yang keempat. Tokoh Gerakan Kebangunan yang penting ini dipimpin oleh Dr. Billy Graham yang memiliki pengaruh yang luar biasa di Amerika.

III.             Kesimpulan

Gerakan Pietisme lahir karena kekosongan dan ketidakmampuan gereja Protestan Lutheran dalam membimbing jemaatnya ke jalan yang benar sesuai dengan firman Allah dalam Alkitab. Dapat dikatakan bahwa Pietismelah yang membongkar ajaran-ajaran Protestan yang terlalu formal yang dilakukan tanpa mementingkan dan tanpa memperhatikan iman para pengikut Lutheran. Gerakan ini menekankan supaya iman orang-orang percaya harus terlihat dalam kehidupan yang benar. Dalam cita-citanya, gerakan ini menekankan bahwa para jemaat harus melakukan perintah Allah. Karena percuma orang-orang mengingat semua ajaran-ajaran ilmiah itu di dalam kepalanya dengan baik tetapi pada akhirnya tidak dilakukan dan di praktikan dalam kehidupan tetapi hanya sebagai ilmu pengetahuan. Maka dari itu gerakan pietisme ini disebut juga sebagai suatu gerakan pembaharuan di dalam gereja Lutheran oleh Philip Jakob Spaner pada tahun 1675. Gerakan ini menjadi sebuah gerakan yang sangat berpengaruh di dalam misi penginjilan gereja hingga ke seluruh dunia termasuk peristiwa penginjilan di Indonesia.

 

IV.             Daftar Pustaka

Berkhof H. & Enklaar, Sejarah Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009).

Curtis, A. Kenneth, 100 Peristiwa Penting Dalam Sejarah (Jakarta: BPK-GM, 2012).

Daun, Paulus, Sejarah Gereja Pasca Reformasi, (Manado: Yayasan Daun Family, 2007).

End, Van den, Harta dalam Bejana: Sejarah gereja ringkas (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995).

Hakim, Mashur Abdul, Bangsa Romawi Dan Perang Akhir Jaman (Jakarta: Pustaka Al-Kaustar, 2017).

Hale, Leonard, Jujur Terhadap Pietisme (Jakarta: BPK-GM, 1994).

https://id.wikipedia.org/wiki/August_Hermann_Francke  diakses pada tanggal 14 Oktober 2022.

https://id.wikipedia.org/wiki/Philip_Jacob_Spener diakses pada tanggal 14 Oktober 2022.

Jonge, Chr. de & Aritonang, Jan S., Apa & Bagaimana Gereja? Pengantar Sejarah Eklesiologi (Jakarta: BPK-GM, 2009).

Jonge, Christiaan de, Gereja Mencari Jawab: Kapita Selekta Sejarah Gereja. Cet.5 (Jakarta: BPK-GM, 2003).

Lane, Tony Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristen (Jakarta: BKP-GM, 1996).

Manschreck, Clyde L. A History of Christianity, The Church from the reformation to the Present (Michigan: Baker Book House Grand Rapids, 1981).

Singgih, Emanuel Gerri, Menguak Isolasi Manjalin Relasi: Teologi Kristen dan Tantangan Dunia Postmodern (Jakarta: BPK-GM, 2009).

Singgih, Emanuel Gerri, Menguak Isolasi Manjalin Relasi: Teologi Kristen dan Tantangan Dunia Postmodern (Jakarta: BPK-GM, 2009).



[1] Tony Lane, Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristen (Jakarta: BKP-GM, 1996), 142.

[2] A. Kenneth Curtis, 100 Peristiwa Penting Dalam Sejarah (Jakarta: BPK-GM, 2012), 97.

[3] Leonard Hale, Jujur Terhadap Pietisme (Jakarta: BPK-GM, 1994), 110-111.

[4] Clyde L. Manschreck, A History of Christianity, The Church from the reformation to the Present (Michigan: Baker Book House Grand Rapids, 1981), 263-264.

[5] Mashur Abdul Hakim, Bangsa Romawi Dan Perang Akhir Jaman (Jakarta: Pustaka Al-Kaustar, 2017), 117.

[6] Hale, Op.Cit,. 5.

[7] Ibid., 7.

[8] Chr. de Jonge & Jan S. Aritonang, Apa & Bagaimana Gereja? Pengantar Sejarah Eklesiologi (Jakarta: BPK-GM, 2009), 46.

[9] Emanuel Gerri Singgih, Menguak Isolasi Manjalin Relasi: Teologi Kristen dan Tantangan Dunia Postmodern (Jakarta: BPK-GM, 2009), 203.

[10] Christiaan de Jonge, Gereja Mencari Jawab: Kapita Selekta Sejarah Gereja. Cet.5 (Jakarta: BPK-GM, 2003), 35.

[11] Christ Hartono, Pietisme di Eropa dan pengaruhnya di Indonesia (Jakarta: BPK-GM, 1974), 51-53.

[12] Lane, Op.cit., 142-143.

[13] Ibid., 332.

[14] https://id.wikipedia.org/wiki/Philip_Jacob_Spener diakses pada tanggal 14 Oktober 2022.

[15] Paulus Daun, Sejarah Gereja Pasca Reformasi, (Manado: Yayasan Daun Family, 2007), 211-212.

[16] https://id.wikipedia.org/wiki/August_Hermann_Francke  diakses pada tanggal 14 Oktober 2022.

[17] Berkhof & Enklaar, Sejarah Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), 247.

[18] Dr. Th. Van den End, Harta dalam Bejana: Sejarah gereja ringkas (Jakarta: BPK Gunung Mulia,

1995), 237.

[19] H. Berkhof & Enklaar, Op.cit, 254. 

Comments