MISIOLOGI: MISIO DEI, MISIO KRISTI, MISIO SPRIRITUS SANCTI, MISIO APOSTOLORUM DAN MISIO ECCLESIAE

 MISIO DEI, MISIO KRISTI, MISIO SPRIRITUS SANCTI, MISIO APOSTOLORUM DAN MISIO ECCLESIAE

I. PENDAHULUAN

Agama Kristen  memiliki misi-misi yang harus dilakukan dan dijalankan oleh para pelayan-pelayan gereja yang telah di wariskan oleh Allah hingga para rasul kepada gereja yaitu memberitakan injil kepada seluruh manusia disegala bangsa-bangsa diseluruh dunia.

II. PEMBAHASAN

II.1.     Pengertian Misi

            Kata misi atau misio dalam bahasa Latin adalah pengutusan, mengirim (to send), act of sending. Persamaannya dalam bahasa Yunani adalah apostello.[1] Dalam bahasa Inggris /Jerman /Perancis beristilahkan “Mission”, di Belanda disebut Missie” di kalangan GKR, di kalangan Gereja Protestan menggunakan istilah Zending.

            Kata misi dipahami dari kata kerja mittere, mitto, missi, dan missum, yang memiliki empat kelompok yang menjadi dasar arti yaitu: (1) membuang dan menembak, (2) mengirim dan mengutus, (3) membiarkan dan melepaskan pergi, (4) mengambil dan menyadap[2].  Menurut Escard Schanebael misi dimasukkan ke dalam dua jenis yaitu misi dalam arti tunggal ialah penjelasan pekerjaan Allah secara konprehensif dimana dalam segi pelaksanaannya mengikut sertakan umat Allah dan misi dalam arti jamak adalah pekerjaan-pekerjaan misionaris, para penginjil, pendiri gereja dan para kaum awam yang menjangkau orang-orang yang belum mengimani Injil Yesus Kristus.[3]

            Jadi Misi adalah keseluruhan tugas atau pekerjaan atau karya Allah atas dunia dalam pengutusan-Nya yang diwujudkan dalam pernyataan diri Allah (self revalation of god) dalam melaksanakan rencana Allah yang kekal dalam karya penyelamatan manusia dari perbudakan dosa.

II.2.     Misi-Misi Dalam Alkitab

            Alkitab merupakan satu-satunya ukuran yang memberikan kesaksian Allah kepada manusia dan Alkitab mempunyai 39 kitab yang tergolong dalam Perjanjian Lama (PL) dan 27 kitab yang tergolong dalam Perjanjian Baru (PB). Masing-masing kitab mempunyai nilai dan keunikan yang konstan tentang dasar teologi, tujuan dan berita yang disampaikan. Berikut ini landasan teologis-alkitab tentang misi:

1.      Allah adalah Allah yang universal, artinya Ia bukanlah Allah untuk satu bangsa saja melainkan Allah semua bangsa (Mazmur 47:8-9).

  1. Allah dalam kasihNya menciptakan dunia dan manusia untuk memuliakan Allah dan karena itu Ia menciptakan segala sesuatunya baik (Mazmur 19:1, 2; Kejadian 1:31).
  2. Dosa adalah penyebab segala sesuatu yang jahat dan pemisah antara Allah dan manusia (Kejadian 3:24; Roma 3:23).
  3. Dosa adalah penyebab segala sesuatu yang jahat dan pemisah antara Allah dan manusia (Kejadian 3:24; Roma 3:23).
  4. Allah dalam kasih dan anugrah-Nya menghendaki agar manusia yang telah jatuh dalam dosa diselamatkan (Yohanes 3:16).
  5. Ia memilih bangsa tertentu dan orang tertentu dalam jaman PL untuk menjadi saksi tentang Allah, dan akhirnya Kristus untuk melaksanakan misi penyelamatan-Nya kepada manusia dan dunia (Kejadian 12:1-3).
  6. Allah melibatkan gereja-Nya dalam misi penyelamatan-Nya dengan menugaskannya untuk mengabarkan berita keselamatan dalam Yesus kepada segala bangsa (Markus 16:15; Matius 28:19; Matius 24:14).

Jadi, misi berarti menyebarkan kabar baik bahwa Allah bekerja dalam upaya penyelamatan manusia, bahwa Yesus Kristus telah mati untuk dosa-dosa manusia dan telah dibangkitkan dari kematian menurut Alkitab, dan bahwa Allah yang memerintah menawarkan pengampunan atas dosa dan menginginkan umatnya kembali kepada-Nya dan Roh Kudus yang membebaskan semua yang bertobat dan percaya.[4]

 

II.2.1.  Misio Dei (Misi Allah)

Allah memiliki misio untuk membawa kembali umatnya kepangkuan-Nya yang dimulai dari peristiwa pemberontakan dan penolakan Adam dan Hawa terhadap Allah. Manusia menolak hukum yang dibuat oleh Allah tetapi menerima hukum dari iblis. Allah dalam murkaNya telah menghukum manusia dengan mengirimkan banjir di zaman Nuh dan mengacaukan bahasa manusia di Babel. Namun demikian dalam belas kasihan ilahiNya, Ia memilih untuk menyelamatkan manusia.

Misi dalam PL ini dapat dilihat secara ringkas dari :

a. Misi Dalam Penciptaan.

Misi Allah dalam penciptaan adalah universal terhadap ciptaanNya dan Allah sendiri menghubungkan dirinya dengan dunia secara universal. Allah yang menciptakan dunia dan isinya serta manusia menjadi puncak ciptaanNya. Kepada manusia Allah memberikan mandat budaya yaitu untuk berkembang dan menaklukan dunia (Kej. 1:26). Hal ini menunjukan bahwa Allah dari mulanya berurusan dengan manusia dalam arti universal yaitu manusia dari segala bangsa dan bukan particular (Israel saja).   

Hari 1-3

Hari 4-6

Hari 1: Penciptaan terang dan pembatasan gelap.

Hari 4: Penciptaan benda-benda penerenga: matahari, bulan, bintang.

Hari 2: Penciptaan cakrawala untuk memisahkan langit dan laut.

Hari 5: penciptaakn binatang air dan binatang udara.

Hari 3: Penciptaan daratan dan laut.

Hari 6: Penciptaan binatang darat dan manusia

 

b. Misi Dalam Protoevangelium.

Rencana misi penyelamatan Allah telah Ia ungkapkan segera setelah manusia jatuh ke dalam dosa. Dalam bentuk janji yang terdapat dalam Kejadian 3:15.

Menurut Y.Y. Tomatala, Kej. 3:15 menjelaskan bahwa Janji keselamatan yang didengungkan pada saat terbukti secara hukum bersalah dan tidak berdaya. Janji keselamatan itu bersifat eskatologis yaitu melihat ke depan, ke masa yang diperkenankan Allah  (Gal. 4:4) dan juga bersifat Messianik karena akan digenapi oleh seorang juruselamat Kristus/ Mesias, sang pendamai, seorang pengantara (mediator) (Mat.1:18-25; Luk. 1:31-35; II Tim 2:5; Yes. 6:14 dan sebagainya).[5]

Dilanjutkan, Misi Dalam Perjanjian Nuh; dalam Kejadian 9:1, 8-9 memuat tentang Perjanjian Allah dengan Nuh, tetapi pernjanjian ini bukan hanya sekedar dengan Nuh saja tetapi dengan anak-anaknya, itu berarti perjanjian tersebut juga untuk semua orang. Karena itu misi sifatnya universal kepada seluruh bangsa dan ras.

c. Misi Dalam Zaman Patriarkh.

Pembentangan misi dalam zaman patriarkh dimulai pada perjanjian Abraham (Kejadian 12:1 – 3). Perjanjian Abraham bukan untuk kepentingan Abraham sendiri, tetapi dalam hubungan dengan dunia sebagai lingkup pandanganNya dan manusia sebagai obyek sasaran. Keuniversalan perjanjian Abraham dilanjutkan kepada dua patriarkh lainnya yaitu Ishak (Kejadian 26:4) dan Yakub (Kejadian 28:14). Tujuan pemilihan Allah terhadap Abraham adalah untuk mendirikan suatu bangsa dan melalui bangsa tersebut nantinya Allah akan menyelamatkan semua bangsa di dunia. Dalam hubungan dengan misi mencakup tiga hal yaitu :

1.    Kewajiban – Israel diciptakan dan dipilih Allah dengan harapan ia menjadi berkat bagi semua bangsa.

2.    Kesempatan – Israel diberi sarana dan kesempatan untuk menunaikan tugasnya menjadi berkat

3.    Response – Israel gagal meresponi perjanjian tersebut.

II.2.2.  Misio Kristi (Misi Kristus)

Misi dalam Perjanjian Baru bersifat sentrifugal (dari pusat ke luar)yang berarti bahwa dari gereja atau dari Israel kabar keselamatan akan disampaikan kepada semua suku-suku bangsa. Dalam kehidupan Tuhan Yesus pada waktu Dia masih tinggal di dunia ini, kita dapat melihat dua cara tersebut digunakan oleh Tuhan Yesus. Sewaktu-waktu Tuhan seolah-olah hanya memikirkan Israel saja, tetapi dalam kesempatan yang lain Dia juga memperhatikan orang-orang bukan Israel. Hal ini dapat dilihat melalui peristiwa-peristiwa yang dicatat oleh Kitab Suci antara lain :

1.      Kelahiran Yesus diberitahukan kepada orang Majus dari Timur, yaitu orang-orang nonYahudi.

2.      Simeon bernubuat bahwa Yesus ditetapkan sebagai sumber keselamatan dan terang bagi segala bangsa (Lukas 2:31-32).

3.      Yohanes Pembaptis menyatakan Yesus sebagai anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yohanes 1:29).

4.      Yesus menyebut dirinya sebagai terang dunia (Yohanes 8:12).

5.      Yesus mempunyai rencana untuk menuntun “domba-domba lain yang bukan dari kandang ini (Yahudi)” sehingga mereka menjadi “satu kawanan” (Yohanes 10:16)

6.      Yesus menyembuhkan anak dari perempuan Kanaan yang percaya (Matius15:21-28).

7.      Yesus menjelaskan bahwa orang dari segala bangsa akan masuk ke dalam Kerajaan Allah (Lukas13:29).

8.      Yesus menugaskan murid-murid-Nya untuk memberitakan Injil sampai ke ujung-ujung bumi (Matius 28:18-20).

Dari beberapa contoh di atas, dapat dilihat bahwa Tuhan Yesus tidak hanya memperhatikan orang Yahudi saja melainkan Ia juga memperhatikan orang-orang non Yahudi atau orang kafir. Konsep Misi Yesus Kristus dalam Matius 28:18-20 adalah pernyataan misi yang keluar dari Yesus Kristus yang dikenal dengan The Great Commision (Amanat Agung). Terlepas dari asal-usul nats tersebut. Dalam Matius 28:18-20 tersebut menggunakan dua kata dalam bentuk partisip yaitumembaptis” dan “mengajar” tercakup dalam kata kerja pokok “(kamu) jadikanlah … murid”. Makna kata kini partisip menujukkan tindakan yang bersamaan waktu dengan pelaksanaan menjadikan murid. Dalam kata tersebut tidak terdapat kata ganti empunya “-Ku”  yang disertakan pada,  seharusnya tidak menggunakan “Ku” pada terjemahan “jadikanlah … murid-Ku”. Tetapi pada konteks ayat sebelumnya ada kata“kepada-Ku”, sehingga Kristus menjadi sentral, bukan pribadi padanan, karena itu pengertian menjadi murid, bukan hanya murid yang memiliki kehidupan mirip Kristus, melainkan juga murid milik Kristus.

Jadi konsep misi dalam Injil Matius adalah konsep Yesus Kristus sendiri yaitu membawa semua bangsa takluk pada kekuasaan Mesias pemilik segala kuasa di bumi dan di sorga. Konsep ini jelas merupakan kelangsungan dari pernyataan-pernyataan Mesianik dalam Perjanjian Lama.

 

II.2.3.  Misio Spriritus Sancti (Misi Roh kudus)

Melalui Roh Kudus, Allah menggerakkan murid-murid untuk mengkomunikasikan Injil. Injil Yohanes mengingatkan kita, bahwa murid-murid diutus sama seperti Bapa mengutus Anak-Nya yang Tunggal yaitu Tuhan Yesus (Yohanes 20:21-23). Murid-murid harus mengidentifikasikan diri dengan Kristus, karena mereka telah diperlengkapi oleh Roh Kudus “terimalah Roh Kudus” (Yohanes 21:22). Sering kali hal ini menjadi perdebatan: Kapan mereka diperlengkapi dengan Roh Kudus? Sebelum Pentakosta (Yohanes 21) atau pada hari Pentakosta ketika Yesus menghembusi mereka dengan Roh Kudus? Dia memberikan Roh Kudus kepada mereka secara terbatas sesuai dengan cara Perjanjian Lama, tetapi pada hari Pentakosta mereka dipenuhi dengan Roh Kudus untuk melaksanakan misi Amanat Agung Tuhan Yesus.

 

II.2.4.  Misio Apostolorum (Misi Para Rasul)

Konsep Misi Rasul Paulus tergambar dalam suratnya yang kedua kepada jemaat di Korintus yaitu 2 Korintus 5:19-21. Misi dalam ayat tersebut berkaitan dengan rancangan Allah untuk “mendamaikan dunia dengan diri-Nya” yang telah dikerjakan melalui penebusan Yesus Kristus. Paulus dalam motivasi misinya; menurut Michael Green ada tiga motif utama yaitu: rasa bersyukur, rasa tanggung jawab dan rasa keprihatinan.[6] Maksudnya ia bersyukur karya Kristus yang mulia, ia merasa bertanggung jawab atas amanat misi untuk menyampaikan kabar baik kepada bangsa yang bukan Yahudi dan ia merasa prihatin kepada yang tertindas baik karena dosa maupun karena tekanan kehidupan yang tidak menguntungkan. Dalam pengertian selanjutnya yang menjadi pokok berita adalah “utusan-utusan” bagi dunia istilah kosmoV (kosmos), “dunia” menunjuk kepada semua ras manusia juga mendapat kesempatan untuk didamaikan dengan Allah Kritus datang “mendamaikan dunia dengan diri-Nya”. Hal itu membuktikan bahwa Allah telah mendisain rencana penyelamatan itu bagi manusia. Paulus mengindentikan diri dari para pembawa berita pendamaian itu sebagai, “seorang tua” atau “”duta” artinya bertindak sebagai seorang duta atau kadang hanya semata-mata pembawa berita. Seorang duta adalah petinggi sebuah kerajaan atau negara yang ditugaskan untuk menjadi wakil di negara lain. Ia diutus untuk mengetahui keinginan negara asing, bernegosiasi tentang perdagangan, perang atau perdamaian. Widi Artanto menulis:

Bagi Paulus tujuan misi bukanlah Gereja itu sendiri, tetapi rekonsiliasi antara Allah dan dunia karena di dalam Kristulah Allah mendamaikan diri-Nya  tidak hanya dengan Gereja tetapi dengan dunia. Kristus dimuliakan oleh Allah dan diberi nama di atas  segala nam supaya dalam nama Yesus  semua lutut bertekuk menyembah Dia. Itulah sebabnya Paulus menyebut ‘semua bangsa’ dalam Roma 1:5 sebagai sasaran paling luas dari misi yang diterimanya dari Kristus. Tugas inilah yang membawa Paulus berkeliling di wilayah Meditererania untuk melaksanaan misi.

 

II.2.5.  Misio Ecclesiae (Misi Gereja)

Misi gereja adalah kegiatan-kegiatan gerejawi yang dilaksanakan
untuk mencapai cita-cita yang dinyatakan oleh Yesus, yaitu “agar tidak
ada kawanan domba yang terhilang, agar semuanya diselamatkan dan
semuanya menjadi satu. Ketika Tuhan Yesus menyelesaikan tugas-Nya di dunia ini, Ia dan
murid-murid beserta pengikut-Nya kemudian berkumpul di suatu bukit
yang disebut bukit Zaitun dan memberikan tugas yang cukup berat kepada
pengikut-pengikut-Nya, “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku, beritakanlah
Injil ke seluruh bumi (band Mat. 28:18-20; Mrk. 16;15; Luk. 24:27-48;
Yoh. 17:18; 20:21; Kis.1:8). Keterpanggilan gereja dalam dunia ini
merupakan tugas atau amanat agung dalam mengemban tugas dan
pelayanan.38 Gereja harus mampu menjalankan visi dan misi dari Allah
kepada dunia. Gereja mewujudkan Injil di antara suku dan bangsa secara
efektif dan menarik perhatian orang serta meyakinkan, mengumpulkan
orang-orang percaya dan membentuk persekutuan atau jemaat, mendidik
atau menuntun ke iman yang kokoh, melatih jemaat dalam hal pekabaran
Injil serta mengajarkan amanat Yesus kepada setiap jemaat supaya siap
untuk diutus menjadi duta-duta Kristus ke seluruh dunia.


1. Marturia (Kesaksian)

Sebagai umat pilihan Allah adalah wajib memberitakan kepada orang
lain segala perbuatan Tuhan yang telah memanggil kita kepada-Nya
(1Ptr.2:9-10). Bersaksi adalah sesuatu yang wajib bagi umat
ketebusan Allah, memberi kesaksian teradap orang lain atas segala
sesuatu yang Tuhan nyatakan dalam kehidupan gereja.[7] Oleh karena
itu dalam mengemban tugas dan tanggung jawab sebagai umat pilihan
sudah seharusnya menampakkan wujud dari panggilan tersebut dalam kehidupan sehari-hari, melalui sikap hidup, tutur kata serta seluruh
aspek kehidupannya. Dengan demikian gereja adalah saksi kristus di
tengah-tengah dunia.


2. Koinonia (Persekutuan)

Dalam kehidupan beriman gereja, tidaklah efektif bila tidak disertai
dengan kehidupan dalam persekutuan, karena dalam bersekutu
hubungan dengan sesama semakin dibangun, hubungan sosial menjadi
baik ketika aktif dalam persekutuan. Umat pilihan yang yang telah
dipersatukan dalam Kristus hendaknya saling memperhatikan satu
sama lain sebagaimana Kristus telah mempersatukan jemaat-Nya.
Saling memperhatikan dalam artian bahwa gereja yang telah
dipersatukan tersebut hendaknya saling mendukung, saling
memberikan motivasi, saling memberikan pengharapan serta saling
meguatkan dalam menjalani kehidupan ini.


3. Diakonia (Pelayanan)

Secara harafia kata “diakonia” berarti memberi pertolongan atau
pelayanan.[8] Kalau diartikan secara luas, diakonia berarti semua
pekerjaan yang dilakukan dalam pelayanan bagi Kristus dalam jemaat,
untuk membangun dan memperluas jemaat oleh mereka yang
dipanggil sebagai pejabat dan oleh anggota jemaat biasa. Serta
diakonia dalam artian yang khusus yaitu memberikan bantuan kepada
semua orang yang mengalami kesulitan dalam kehidupan masyarakat. Sebagaimana yang dikatakan Yesus bahwa “Anak Manusia tidak
datang untuk dilayani melainkan untuk melayani,” begitupun Gereja
hadir di tengah-tengah dunia ini. Artinya bahwa kehadiran gereja di
dunia ini bukan untuk menjadi pengemis atau minta dilayani
melainkan melayani. Gereja harus tanggap melihat realita yang terjadi,
prihatin, dan kepedulian terhadap orang lain yang membutuhkan
bantuan. Tampil dalam pelayanan sebagai wujud pelayanannya dan
wajud iman kepada Tuhan.


4. Pengajaran

Misi pengajaran dengan jelas disampaikan Yesus, bahwa “Ajarlah
mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan
kepadamu” (Mat. 28:20). Misi ini diamanatkan kepada semua orang
tanpa memandang siapapun, diamanatkan untuk mengajarkan ajaran
Yesus. Oleh sebab itu dianjurkan untuk belajar dengan baik agar
mengajarkan yang baik pula.

III.       KESIMPULAN

Misi adalah pekerjaan Allah untuk menyelamatkan umat-Nya dari pengaruh dan manipulasi iblis yang menyesatkan manusia dan membawa manusia ke dalam penderitaan duniawi. Pekerjaan-pekerjaan atau karya Allah dalam upaya penyelamatan tidak selesai pada satu zaman, namun masih berlangsung hingga saat ini. Allah telah menyelesaikan berbagai metode melewati berbagai proses namun tidak ada kepastian bahwa manusia telah kembali sepenuhnya kepada Allah. Manusia selalu berubah-ubah maka Allah pun turut bekerja dalam perubahan yang terjadi itu. Allah mengadakan misi namun tidak dapat memastikan bahwa manusia kembali dan bertobat. Allah melanjutkan misi-Nya dengan mengutus Anak-Nya yang tunggal Yesus Kristus ke dunia untuk menjadi kurban yang harum. Lalu Kristus mengutus Rasul-rasul-Nya untuk memberitakan injil ke seluruh bangsa dibumi dan Rasul-rasul mengutus gereja-gereja untuk melanjutkan misi-misi Allah hingga saat ini.

IV.       DAFTAR PUSTAKA

Bosch, David. J, Tranformasi Misi Kristen. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999).

Kuiper, Arie De Missiologia: Ilmu Pekabaran Injil, (Jakarta: BPK-GM, 2006).

Lele, Jeni Isak, Tesis: LITURGI DALAM MISI DI GMIT (Gereja Masehi Injili di Timor) JEMAAT LAHAIROI TUAK SABU LASIANA BARAT “Studi Misiologi Relevansi Liturgi Dalam Penata layanan Gereja Masa Kini”. Sekolah Tinggi Theologi Apollos Jakarta, 2010.

Noordagraff, A., Orientasi Diakonia Gereja (Jakarta: BKP Gunung Mulia, 2004).

P.H. Nikkijuluw dan Arischtarchus, Sukarto Kepemimpinan di Bumi Baru,  (Jakarta: Lieteratur Perkantas, 2014).

Tanya, Eli, Gereja dan PAK, (Jakarta: Agiamedia, 1999).

Tomatala, Y.Y., Penginjilan Masa Kini 1.(Malang: Gandum Mas, 1995).

Woga, Edmund Dasar-dasar Misiologi, (Yogyakarta: Kanisius, 2002).

 

 

DISKUSI KELAS

1.      Jenita Lumbantoruan : Apa yang dimaksud dengan menaklukkan dunia?

2.      Jacklin Simanjuntak: Bagaimana tanggapan penyaji mengenai Misi gereja yang sudah tidak benar lagi dilakukan oleh pelayan-pelayan gereja?

3.      Jani Simanjuntak: Bagaimana misi gereja yang baik untuk dilakukan dimasa sekarang?

 

 

 

           



[1] Arie De Kuiper, Missiologia: Ilmu Pekabaran Injil (Jakarta: BPK-GM, 2006), 9.

[2] Edmund Woga, Dasar-dasar Misiologi (Yogyakarta: Kanisius, 2002), 15.

[3] P.H. Nikkijuluw Victor dan Sukarto Arischtarchus, Kepemimpinan di Bumi Baru (Jakarta: Lieteratur Perkantas, 2014), 43-44.

[4] Jeni Isak Lele, Tesis: LITURGI DALAM MISI DI GMIT (Gereja Masehi Injili di Timor) JEMAAT LAHAIROI TUAK SABU LASIANA BARAT “Studi Misiologi Relevansi Liturgi Dalam Penatalayanan Gereja Masa Kini”. Sekolah Tinggi Theologi Apollos Jakarta, 2010. Hal. 11 - 12

 

                [5]  Y.Y. Tomatala, Penginjilan Masa Kini 1 (Malang: Gandum Mas, 1995), 8.

                [6]  David. J Bosch, Tranformasi Misi Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999), 208-209.

[7] Eli Tanya, Gereja dan PAK (Jakarta: Agiamedia, 1999), 10.

[8] A. Noordagraff, Orientasi Diakonia Gereja  (Jakarta: BKP Gunung Mulia, 2004), 2.

Comments